Anda di halaman 1dari 11

KASUS CONFIDENTIALITY

OLEH KELOMPOK 1
NAMA ANGGOTA
1. ADISTY FERIANI
2. ARENA IRAWAN
3. ADELA NOVITA
4. DIAN RESTUTI
5. DELVI SUSANTI
6. GHAIRATUL ANNISA
7. FADHILLAH ELKHUSNA
8. HESTI WULANDARI
9. LEDYS AMELIA
10. RANI PUTRI ANDESCO
11. SHAFIRA HASANAH
12. SUCI WAHYU BUSTA
A. PENGETIAN KODE ETIK
Kode etik merupakan persyaratan profesi yang memberikan
penentuan dalam mempertahankan dan meningkatkan standar
profesi. Kode etik menunjukan bahwa tanggung jawab terhadap
kepercayaan masyarakat telah diterima oleh profesi(Kelly, 1987).
Menurut Efendy(2009) jika anggota profesi melakukan suatu
pelanggaran terhadap kode etik tersebut, maka pihak organisasi
berhak memberikan sanksi bahkan bisa mengeluarkan pihak tersebut
dari organisasi tersebut. Dalam keperawatan kode etik tersebut
bertujuan sebagai penghubung antara perawat dengan tenaga medis,
klien, dan tenaga kesehatan lainnya, sehingga tercipta kolaborasi yang
maksimal.
B. KODE ETIK DALAM KEPERAWATAN
Menurut Barbara.R(2003) Dalam ilmu keperawatan terdapat
suatu standar yang akan menjadi pedoman bagi perawat dalam
melakukan tindakan atau praktik keperawatan profesional. Standar
tersebut adalah kode etik keperawatan. Dengan kode etik tersebut,
perawat dapat bertindak sesuai hukum atau aspek legal perawat.
Selain itu, kode etik juga dapat membantu perawat ketika mengalami
masalah yang tidak adil. Karena kode etik adalah pernyataan standar
profesional yang digunakan sebagai pedoman perilaku yang menjadi
kerangka kerja dalam membuat keputusan. Kode Etik juga
memberikan pemahaman kepada perawat untuk melakukan tindakan
sesuai etika dan moral serta akan menghindarkan dari tindakan
kelalaian yang akan menyebabkan klien tidak nyaman atau bahkan
menyebabkan nyawa klien terancam.
C. FUNGSI KODE ETIK KEPERAWATAN
Menurut Hegner(2003) kode etik perawat yang berlaku saat ini
berfungsi sebagai landasan atau pedoman bagi status perawat profesional
yaitu dengan cara:
1. Menunjukkan kepada masyarakat bahwa perawat diharuskan
memahami dan menerima kepercayaan dan tanggungjawab yang
diberikan kepada perawat oleh masyarakat
2. Menjadi pedoman bagi perawat dalam berperilaku dan menjalin
hubungan keprofesian sebagai landasan dalam penerapan praktek
etika
3. Menetapkan hubungan-hubungan profesional yang harus dipatuhi
yaitu hubungan perawat dengan pasien/klien sebagai advokator,
perawat dengan tenaga profesional kesehatan lain sebagai teman
sejawat, dengan profesi keperawatan sebagai seorang kontributor
dan dengan masyarakat sebagai perwakilan dari asuhan kesehatan
4. Memberikan sarana pengaturan diri sebagai profesi
D. CONFIDENTIALITY (KERAHASIAAN)

Menurut Ismani(2001) aturan dalam prinsip kerahasiaan


adalah informasi tentang klien harus dijaga privasi klien.
Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan
kesehatan klien hanya boleh dibaca dalam rangka pengobatan
klien. Tidak ada seorangpun dapat memperoleh informasi
tersebut kecuali jika diijinkan oleh klien dengan bukti
persetujuan. Diskusi tentang klien diluar area pelayanan,
menyampaikan pada teman atau keluarga tentang klien
dengan tenaga kesehatan lain harus dihindari.
Lanjutan...

Sedangkan menurut Aiken(2003) confidentiality yaitu


melindungi informasi yang bersifat pribadi, prinsip bahwa
perawat menghargai semua informsi tentang pasien dan
perawat menyadari bahwa pasien mempunyai hak istimewa
dan semua yang berhubungan dengan informasi pasien tidak
untuk disebarluaskan secara tidak tepat. Contoh: Perawat
tidak boleh menceritakan rahasia klien pada orang lain,
kecuali seijin klien atau seijin keluarga demi kepentingan
hukum.
E. CONTOH KASUS
KASUS 1
Perawat X merawat pasien yang merupakan tetangga di depan
rumahnya. Ternyata tetangga perawat X tersebut mengidap penyakit HIV/AIDS.
Perawat X terkejut mengetahui pasien yang dirawatnya merupakan tetangga
yang tidak disukainya. Akhirnya perawat X tanpa sengaja telah menceritakan
penyakit pasien kepada tetangga dan kerabatnya yang lain. Sehingga
tetangganya yang lain tidak mau membezuk dia kerena takut tertular. Perawat
X mengatakan walaupun pasien telah keluar dari rumah sakit dia tidak akan
sembuh total dan bisa menularkan penyakitnya kepada orang terdekatnya.
Lanjutan...
KASUS 2
Tn X ( 36 tahun ) seorang sopir dibawa ke RS dengan
alasan diare sudah kurang lebih 1 bulan ini tidak kunjung
sembuh. Sebelum diperiksa pasien meminta agar diberitahu apa
penyakit yang dideritanya. Setelah diperiksa ternyata Tn. X
didiagnosis positif HIV. Tetapi keluarga menganjurkan kepada
perawat untuk tidak memberitahukan kepada pasien tentang
penyakitnya dengan alasan khawatir kondisi psikisnya
terganggu, dank lien menjadi putus asa/ frustasi.
F. PENYELESAIAN KASUS 1 DAN KASUS 2
KASUS 1
Dalam kasus diatas perawat tersebut telah melanggar
etik karena peawat tersebut melanggar privasi pasien.
Perawat tersebut telah membocorkan tentang data penyakit
pasien ke tetangga yang lainnya
Lanjutan...
KASUS 2
Kasus diatas tentusaja menjadi dilema bagi dokter dan perawat. Disatu sisi pasien berhak mengetahui
kondisi yang ia alami (diatur dalam UU Kesehatan No 36 tahun 2009 pasal 7 yang menyatakan bahwa setiap
orang berhak untuk mendapatkan informasi dan edukasi tentang kesehatannya seimbang dan bertanggung
jawab), disisi lain demi keselamatan pasien/ klien, dokter dan perawat dituntut untuk merahasiakannya
kepada orang lain (pasal 322 KUHP yang berisikan tentang kewajiban dokter untuk merahasiakan kondisi
pasien)[2]. Dan apabila dokter dan perawat menginformasikan kepada orang lain terkecuali atas permintaan
pengadilan sehingga dapat merugikan orang lain, seperti klien akan dikucilkan atau klien akan kehilangan
pekerjaannya, maka dasar hukum yang mengatur adalah UU Kesehatan No 36 Tahun 2009 pasal 1 menyatakan
bahwa setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang, tenaga kesehatan, dan/ atau
penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahannya atau kelalaian dalam pelayanan
yang diterimanya. Pasal 2 tuntutan ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi tenaga
kesehatan yang melakukan tindakan penyelamatan nyawa atau pencegahan kecacatan seseorang dalam
keadaan darurat. Dasar hukum perdata pasal 1365 KUH perdata menyatakan bahwa : barang siapa yang
berbuat salah sehingga menimbulkan kerugian bagi orang lain wajib mengganti kerugiannya. Dengan demikian
seorang perawat harus berhati- hati dalam memberikan informasi tentang penyakit pasien. Harus
dipertimbangkan dan diperhatikan bahwa tindakan yang dilakukan perawat tidak melanggar HAM dan
menjaga privasi klien. Namun demikian perawat mempunyai kewajiban memberikan informasi kepada klien
mengenai penyakit dan penularannya tersebut guna melindungi keluarga pasien dan masyarakat.