Anda di halaman 1dari 13

EVIDENCE BASED PRACTICE DALAM ASUHAN

KEBIDANAN PADA IBU NIFAS


KELOMPOK 2 :

ANNISA SEPTRIANI
AQIDAH NURZAMA
ELFI DIANI
GEMA HARESYA
MERY ZANIARTI
NUR ILMI
RANITA FITRI
SUCI WULANDARI
UTARI MEDIANA
VIVI OKNALIA
WIRA YUANA OKTAVIA DOSEN PEMBIMBING: DEWI SUSANTI, S.SiT, M.Keb
YULFA HENIM RUMITA
Konsep dasar masa nifas

A. Pengertian masa nifas


Ialah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan
yang lamanya 6 minggu.kejadian yang terpenting dalam masa nifas adalah involusi
dan laktasi.

B. Tujuan asuhan masa nifas


Mendeteksi adanya perdarahan masa nifas.
Menjaga kesehatan ibu dan bayinya
Melaksanakan skrining secara komprehensif
Evidence Based practice
A. Pengertian
Ditinjau dari pemenggalan kata evidence adalah bukti atau fakta dan Based adalah
Dasar. Evidence base adalah praktik berdasarkan bukti
Menurut Sackett, Evidence-based (EB) adalah suatu pendekatan medik yang
didasarkan pada bukti-bukti ilmiah terkini untuk kepentingan pelayanan kesehatan
penderita
Gambril (2000) mendefinisikan EBP sebagai suatu proses yang melibatkan
pembelajaran atas arahan diri sendiri yang mengharuskan pekerja profesional bisa
mengakses informasi
Manfaat Evidence Based
Keamanan bagi nakes karena intervensi yang dilakukan berdasarkan bukti ilmiah
Meningkatkan kompetensi (kognitif)
Memenuhi tuntutan dan kewajiban sebagi professional dalam memberikan asuhan
yang bermutu
Memenuhi kepuasan pelanggan yang mana dalam asuhan kebidanan klien
mengharapkan asuhan yang benar, seseuai dengan bukti dan teori serta
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Karakteristik Evidence Based
Timmermans dan Angell (2001) menunjukkan bahwa pertimbangan klinis
berbasis bukti memiliki lima ciri penting:
Terdiri atas bukti penelitian dan pengalaman klinis.
Ada keterampilan yang dilibatkan dalam membaca literatur yang
memerlukan kemampuan untuk mensintesakan informasi dan membuat
pertimbangan mengenai kualitas bukti-bukti yang ada.
Cara penggunaan informasi merupakan fungsi tingkat otoritas praktisi di suatu
organisasi dan tingkat keyakinannya terhadap keefektifan informasi yang
digunakan.
Bagian dari penggunaan EBP adalah kemampuan mengevaluasi secara
mandiri informasi yang digunakan dan menguji validitasnya dalam konteks
praktik masing-masing.
Pertimbangan klinis berbasis bukti didasarkan pada gagasan tentang perilaku
dan peran profesional dan terutama dipedomani oleh suatu sistem nilai
bersama.
Perkembangan Evidence Base dalam praktik
Kebidanan postnatal care
Tampon Vagina: Tampon vagina menyerap darah tetapi tidak
menghentikan perdarahan, bahkan perdarahan tetap terjadi dan
dapat menyebabkan infeksi
Gurita atau sejenisnya: Selama 2 jam pertama atau selanjutnya
penggunaan gurita akan menyebabkan kesulitan pemantauan
involusio rahim
Memisahkan ibu dan bayi: Bayi benar-benar siaga selama 2 jam
pertama setelah kelahiran. Ini merupakan waktu yang tepat untuk
melakukan kontak kulit ke kulit untuk mempererat bonding
attachment serta keberhasilan pemberian ASI
Proses eksplorasi
1. Penerapan evidence based medicine-practice dimulai dari pasien, masalah klinis
atau pertanyaan yang timbul terkait perawatan yang diberikan pada klien
2. Merumuskan pertanyaan klinis (rumusan masalah) yang mungkin, termasuk
pertanyaan kritis dari kasus/ masalah ke dalam kategori, misal: desain studi dan
tingkatan evidence
3. Melacak/ mencari sumber bukti terbaik yang tersedia secara sistematis untuk
menjawab pertanyaan
4. Penilaian kritis (critical appraisal) akan bukti ilmiah yang telah didapat untuk validitas
internal/ kebenaran bukti, (meliputi: kesalahan sistematis, aspek kuantitatif dari
diagnosis dan pengobatan, ukuran efek dan aspek presis, hasil klinis, validitas
eksternal atau generalisasi), dan kegunaan dalam praktik klinis.
5. Penerapan hasil dalam praktek pada klien, dengan membuat keputusan untuk
menggunakan atau tidak menggunakan hasil studi tersebut, atau mengintegrasikan
bukti tersebut dengan pengalaman klinis dan faktor pasien/ klien dalam menentukan
keputusan tersebut.
6. Evaluasi kinerja, yaitu melakukan evaluasi atas tindakan yang telah dilakukan pada
klien.
Etika Pemanfaatan EBP (Evidence Based Practice)
Etika riset dilandaskan dalam prosedur yang terdiri dari
penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia,
penghormatan terhadap privasi dan kerahasiaan subyek
penelitian, keadilan dan inklusivitas, serta memperhitungkan
manfaat dan kerugian yang ditimbulkan penelitian.
1) Semua keputusan praktis harus dibuat berdasarkan studi
penelitian, dipilih dan ditafsirkan menurut beberapa
karakteristik norma tertentu (penelitian kuantitatif),
2) Diperlukan keahlian klinis dari tenaga kesehatan,
3) Dalam bingkai sistem pelayanan kesehatan yang berlaku,
4) Dilaksanakan berdasarkan pilihan klien/ pasien.
Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas dengan
Memanfaatkan EBP
1. Ibu sehat dan bayi baru lahir harus menerima perawatan di fasilitas selama
minimal 24 jam setelah lahir.
2. Waktu untuk kontak postnatal pertama antara ibu dan bayi yaitu harus sedini
mungkin dalam 24 jam setelah kelahiran. Tiga kontak postnatal tambahan
yang direkomendasikan untuk semua ibu dan bayi yang baru lahir, pada hari
ke 3 (48-72 jam), antara hari 7-14 setelah kelahiran, dan enam minggu setelah
melahirkan.
3. Kunjungan ke rumah pada minggu pertama setelah lahir dianjurkan untuk
perawatan ibu dan bayi baru lahir.
4. Semua bayi harus mendapat ASI eksklusif sejak lahir sampai usia 6 bulan.
5. Penilaian bayi
Lanjutan
Tanda-tanda berikut harus dinilai selama setiap kontak postnatal dan bayi
baru lahir harus dirujuk untuk evaluasi lebih lanjut jika ditemui tanda-tanda
antara lain :
Berhenti makan dengan baik
sejarah kejang
cepat pernapasan (tingkat pernapasan 60 per menit), dada yang parahh
tidak ada gerakan spontan
demam (suhu 37.5 C), suhu tubuh rendah (suhu <35,5 C)
setiap penyakit kuning pada 24 jam pertama hidup, atau kuning telapak
tangan dan kaki pada usia berapa pun.
Keluarga harus didorong untuk mencari perawatan kesehatan dini jika
mengidentifikasi salah satu dari tanda bahaya kunjungan perawatan
postnatal.
6. Perawatan tali pusat
Aplikasi untuk perawatan tali pusat selama minggu pertama kehidupan
direkomendasikan untuk bayi baru lahir yang lahir di rumah. Mengingat kasus
kematian neonatal yang tinggi (30 atau lebih banyak kematian neonatal per 1000
kelahiran hidup).

7. Perawatan postnatal lain untuk bayi baru lahir antara lain:


Mandi harus ditunda sampai 24 jam setelah lahir
1-2 lapis pakaian lebih banyak dari orang dewasa
Menggunakan tutup kepala
Ibu dan bayi tidak harus dipisak, bahkan harus tinggal diruangang yang sam 24 jam sehari
Komunikasi dan bermain dengan bayi yang baru lahir harus didoron
Imunisasi harus dipromosikan sesuai pedoman WHO yang ada
Prematur dan bayi berat badan rendah harus diidentifikasi segera setelah lahir
dan harus disediakan perawatan khusus sesuai pedoman WHO yang ada
8. Penilaian ibu 24 jam pertama setelah lahir
penilaian rutin perdarahan vagina, rahim kontraksi, tinggi fundus, suhu dan denyut
jantung (nadi) secara rutin selama 24 jam pertama dimulai dari jam pertama
setelah lahir, Kekosongan urine harus didokumentasikan dalam waktu enam jam.
Melampaui 24 jam setelah lahir
berkemih dan inkontinensia urin, fungsi usus, penyembuhan setiap luka perineum,
sakit kepala, kelelahan, nyeri punggung, nyeri perineum dan kebersihan perineal,
nyeri payudara, kelembutan rahim dan lokia
Kemajuan menyusui harus dinilai pada setiap kontak postnatal
Pada 10-14 hari setelah lahir, semua wanita harus ditanya tentang resolusi ringan,
depresi sementara postpartum ( "Mother Blues")
9. Semua perempuan harus diberikan informasi tentang proses fisiologis pemulihan
setelah kelahiran, dan mengatakan bahwa terdapat beberapa masalah
kesehatan yang umum terjadi
10. Besi dan suplemen asam folat harus disediakan untuk setidaknya tiga bulan
setelah persalinan