Anda di halaman 1dari 15

PRINCIPLES LAW ENFORCEMENT DALAM

KEWENANGAN BARU BAWASLU BERDASARKAN UU


NOMOR 7 TAHUN 2017

Ratna Dewi Pettalolo


DIVISI PENINDAKAN
BAWASLU RI
PRINSIP NEGARA HUKUM

1. Perlindungan HAM.
2. Pemisahan/ pembagian
kekuasaan
3. Pemerintahan
berdasarkan UU (Due Process of Law)
4. Peradilan Administrasi
PRINSIP KEPASTIAN HUKUM (Legal Certainty)

Makna Kepastian Hukum


Tindakan harussesuaidenganaturanhukumsertakonsistensipenerapannorma-
normahukumyangberadadalamaturanhukum(UUPemilu/Pemilihan,Perbawaslu,danPKPU).

Contoh-Contoh Kepastian Hukum dalamPemilu


Nebis in idem Kepastian Waktu Penanganan Pelanggaran
Perkarayangsamatidakbolehdiprosesberula ApabilaPengawasPemiluhanyadiberiwaktu7 +
7hariuntukmenerimasampaidenganmemutuskand
ngkalibaikpadatingkatanyangsamaatauting ugaanpelanggaran,makaPengawasPemilu/Pemilih
katanyangberbedadenganobjekdugaanpel antidakbolehmelampauiwaktudimaksud.(Bisa
anggaranyangsama. cacat Prosedur, penanganan tidaksah)
PRINSIP KEADILAN

Jgn tanya apa itu


adil?
Recognition
injustice
Siapa yang
Adil? menderita/ rugi
Internal Notion of dari ketidakadilan
Justice
Persamaan:
Justice and
equality Syarat sama &
kondisi sama
TidakadatindakpidanajikabelumadaUUPida
nayangmengaturlebihdahulu
NulumDelictumNoelaP SeseorangtidakdapatdipidanajikaUndang-
Undangtidakmengaturnya
oenaSinePraeviaLegeP
oenali

Seseorangtidakbolehdianggapbersala
hsebelumadaputusanhakim
yangmenyatakanbersangkutanbersala
Praesumptionofinocen h.
ASAS PEMBUKTIAN

Unus Testis Nulus Testis mempunyai makna:


Satu saksi bukan saksi: Hakim tidak boleh menjatuhkan
pidana kepada seseorang kecuali dengan sekurang-
kurangnya dua alat bukti yang sah. (Pasal 183 KUHAP).
Berpijak pada asas tersebut, Pengawas Pemilu dalam
melakukan penanganan dugaan pelanggaran pemilu
membutuhkan sekurang-kurangnya 2 alat bukti (barang
bukti).

Pembuktian Bebas Terbatas : Bebas terbatas ialah alat-alat


bukti yg dapat digunakan dalam pembuktian suatu
perkara telah ditentukan secara limitatif dalam suatu
ketentuan.
ASASLITIS
DOMINI(Keaktifan
Hakim)

Pengawas Pemilu wajib membimbing/


memberi arahan kpd pelapor utk
melengkapi syarat-syarat laporan

Aktif menggali fakta-fakta konkrit dari


pelapor, terlapor, saksi, pihak terkait,
dan ahli, memperoleh/ mendapatkan
barang bukti
ASAS TERBUKA UNTUK
UMUM

Ciri-ciri:
- Disampaikan pada kegiatan pemeriksaan atau sidang
- Pintu ruangan tidak dikunci
- Ruangan dapat dimasuki oleh setiap orang secara tertib.
- Proses dapat diketahui oleh pelapor atau telapor.
Asas Erga Omnes
Keputusan atau putusan Pengawas Pemilu berlaku untuk
umum, karena penanganan pelanggaran pemilu
merupakan penyelesaian perkara dalam lapangan
hukum publik
Keputusan atau putusan akan menimbulkan konsekuensi
mengikat umum dan mengikat terhadap yang
mengandung persamaan yang mungkin timbul pada
masa sekarang atau masa yang akan datang.

Keputusan atau putusan Pengawas Pemilu tidak hanya


mengikat pelapor dan terlapor, tetapi juga pihak lain
diluar pihak pelapor dan terlapor yang tidak terlibat
tetapi memiliki sifat yang sama.
ASAS KEABSAHAN

1. Wewenang Pengawas Pemilu adalah hak yang dimiliki


Pengawas Pemilu untuk mengambil keputusan dan/atau
tindakan dalam pengawasan pemilu atau penanganan
pelanggaran pemilu (Lihat Pasal 1 angka 5 UU No. 30
Tahun 2014).
Wewenang dibatasi oleh:
a. masa atau tenggang waktu Wewenang;
b. wilayah atau daerah berlakunya Wewenang; dan
c. cakupan bidang atau materi Wewenang. (Pasal 15 ayat
(1) UU. 30
2014)
2. Prosedur:
berkaitan dengan tata cara dan waktu yang diatur dalam
peraturan perundang-undangan dalam melakukan
penanganan pelanggaran. Prosedur penanganan
pelanggaran menyangkut tata cara dan waktu mulai
penerimaan laporan, pemberkasan laporan, pengkajian
laporan sampai dengan pegambilan keputusan.

3. Substansi/ Materi:
berkaitan dengan materi muatan suatu keputusan yang
dapat bersifat konstitutif atau bersifat deklaratif.
Substansi dipengaruhi atau ditentukan pula lingkup
wewenang serta bentuk suatu keputusan atau putusan.
ASAS UMUM PEMERINTAHAN YANG BAIK

Prinsip yang digunakan sebagai acuan


penggunaan Wewenang bagi Pejabat
Pemerintahan dalam mengeluarkan
Keputusan dan/atau Tindakan dalam
penyelenggaraan pemerintahan. (Pasal 1
angka 17 UU. No. 30 Tahun 2014)
JENIS-JENIS
Ketidakberpihakan Keterbukaan
AUPB

Kepentingan
Kepastian Hukum Kecermatan
Umum

Tdk
Pelayanan Yg
Kemanfaatan Menyalahgunakan
Baik
Wewenang
AsasMengalahkan (Asas Preferensi)

Lex Superior derogat Lex Specialist derogat Lex Posteriori derogat


Legi Inferiori Legi Generali Legi Priori

(Aturan Yg Lebih Tinggi (Aturan Yg Khusus AturanYg Baru


Mengesampingkan Mengesampingkan Mengesampingkan
Aturan Yg Lebih Aturan Yg Umum) + Aturan Yg Lama
Rendah) (Aturan Yg Sederajat) (Aturan Yg Sederajat)
(UU Mengesampingkan
PKPU/ PERBAWASLU)