Anda di halaman 1dari 80

Aduh Makin Tambun Saja

Pemicu 1
Endokrin
Maxi
Learning Objective
1. MM fisiologi lapar.
2. MM sindrom metabolik.
3. MM obesitas.
MM fisiologi lapar.

LO 1
Hipotalamus

Lateral Ventromedial
hipotalamus hipotalamus
Rangsangan

Rasa lapar Rasa kenyang


Fisiologi Lapar dan Kenyang
Hipotalamus merupakan pengatur sinyal
Ada 2 bentuk
Anorexigenic
Meliputi POMC dan CART
POMC merupakan stimulus MSH yang berikatan dengan reseptor
MC3 dan MC4 di hipotalamus yang berfungsi untuk mengurangi
nafsu makan
Orexigenic
NPY dan AgRP
NPY : stimulus poten untuk makan, berikatan dengan G-protein
(YI-Y6)
AgRP mengantagonis efek MSH food intake bertambah
Fisiologi Lapar dan Kenyang
Mekanisme neurohumoral yang mengatur
keseimbangan energi :
Sistem perifer/aferen meneruskan sinyal dari berbagai
tempat. Komponen utamanya:
Leptin dan adiponectin sel lemak
Ghrelin lambung
Peptide ileum dan kolon
Insulin pankreas
Proses inti di hipotalamus dan sinyal perifer neurohumoral
dan diteruskan sinyal eferen
Sistem eferen membawa sinyal dari hipotalamus neuron
untuk mengendalikan asupan makanan dan penggunaan
energi
Fisiologi Lapar dan Kenyang
Nukleus arkuatus, bagian dari sistem sentral
pengontrol nafsu makan melalui :
Inisiasi perilaku makan
Neuropeptida Y (NPY)
Neuron Agouti gene-related peptide (AgRP)
Berproyeksi ke area nukleus paraventrikularis (PVN)
Mengurangi nafsu makan
Pro-opiomelanokortin (POMC)
Neuron cocain and amphetamine regulated transcript (CART)
Berproyeksi ke hipotalamus lateral (LHA)
Fisiologi Lapar dan Kenyang
Hipotesis penyebab lapar:
Hipotesis Lipostatik
Leptin mengukur persentase lemak dalam sel lemak
Jumlah lemak rendah hipotalamus menstimulasi kita untuk merasa
lapar dan makan.
Hipotesis Hormon Peptida pada Organ Pencernaan
Makanan yang ada di GIT merangsang munculnya satu atau lebih
peptida, contohnya kolesitokinin.
Apabila jumlah kolesitokinin rendah hipotalamus menstimulasi
untuk memulai pemasukan makanan ke dalam tubuh.
Hipotesis Glukostatik
Rasa lapar karena kurangnya glukosa dalam darah.
Fisiologi Lapar dan Kenyang
Hipotesis Termostatik
Suhu dingin atau di bawah set point hipotalamus
meningkatkan nafsu makan.
Neurotransmitter
Berpengaruh terhadap nafsu makan.
NE dan neuropeptida Y konsumsi KH
Dopamine dan serotonine tidak mengkonsumsi KH
Pengukuran makanan oleh reseptor-reseptor hipotalamus
Seperti mengunyah, saliva, menelan, dan mengecap, dan
setelah jumlah tertentu lewat pusat makan hipotalamus
menjadi terhambat.
MM sindrom metabolik.

LO 2
Sindrom Metabolik
Sindrom metabolik (sindrom x, sindrom
resistensi insulin) adalah kondisi dimana
seseorang memiliki tekanan darah tinggi,
kegemukan, kadar gula darah tinggi, dan kadar
lemak darah tidak normal.
Berhubungan dengan abnormalitas
mikroalbuminuria, fibrinolisis dan koagulasi.
Epidemiologi
Prevalensi sindroma metabolik (SM)
diperkirakan akan meningkat dalam beberapa
waktu belakangan ini. Hal tersebut sangat
terkait dengan perubahan pola hidup di
masyarakat.
SM pada populasi yang berusia 20 25 tahun
keatas di India sekitar 8%, dan di Amerika
Serikat sebanyak 24% (Atul dkk, 2006).
Sindrom Metabolik
Kriteria (3 dari 5 kriteria ini untuk Titik potong
sindroam metabolic)

Peningkatan lingkar pinggang (obesitas 102 cm pada lakilaki atau 88 cm


sentral) pada perempuan
Peningkatan nilai trigliserida 150 mg/dl atau sedang mendapat
terapi
< 40 mg/dl pada lakilaki
Nilai HDLkholesterol yang rendah
< 50 mg/dl pada perempuan
atau sedang mendapat terapi
130 mm Hg untuk tekanan darah
Peningkatan tekanan darah
sistolik atau 85 mmHg untuk tekanan
darah diastolic atau sedang mendapat
terapi
100 mg/dl atau sedang mendapat
Peningkatan gula darah puasa
terapi
Kriteria Diagnosis Sindrom Metabolik
Unsur Sindrom WHO NCEP ATP III EGIR ACE IDF
Metabolik

HT Dalam pengobatan Dalam pengobatan TD sistolik >= 140 TD > 130/85 mmHg TD sistolik >= 130
antiHT dan/atau TD > antiHT / TD > 130/85 mmHg, dan/atau TD mmHg atau TD
140/90 mmHg mmHg diastolik >=90 diastolik >85 mmHg,
mmHg, dan/atau atau dalam
dalam pengobatan pengobatan antiHT
antiHT

Dislipidemia Plasma TG > 150 Plasma TG > 150 Plasma TG > 180 Plasma TG > 150 Plasma TG > 150
mg/dL dan/atau HDL- mg/dL mg/dL mg/dL mg/dL, atau dalam
C HDL-C HDL-C <40 mg/dL HDL-C pengobatan
L < 35 mg/dL L < 40 mg/dL dan/atau dalam L < 40 mg/dL dislipidemia
P < 40 mg/dL P < 50 mg/dL pengobatan P < 50 mg/dL HDL-C
dislipidemia L < 40 mg/dL
P < 50 mg/dL, atau
dalam pengobatan
dislipidemia

Obesitas IMT > 30 kg/m^2 Lingkar perut Lingkar perut Obesitas sentral
dan/atau rasio perut- L > 102 cm >94 cm (lingkar perut)
pinggul P > 88 cm >=80 cm Asia :
L > 0. 90 L > 90 cm
P > 0. 85 P > 80 cm (nilai
tergantung etnis)

Gangguan DM tipe 2 / TGT GDP > 110 mg/dL GDP >=110 mg/dL GDP 110-125 mg/dL GDP >=100 mg/dL
metabolisme glukosa 2 jam PP 140-200 atau didiagnosis DM
mg/dL tipe 2
Kriteria Diagnosis Sindrom Metabolik

Unsur Sindrom WHO NCEP ATP III EGIR ACE IDF


Metabolik

Lain-lain Mikroalbuminuria Hiperinsulinemia


> 20 ug/menit (30 (konsentrasi
mg/g Cr) insulin puasa >
kuartil atas
populasi non-
diabetes)

Kriteria diagnosis DM tipe 2 / TGT Minimal 3 DM tipe 2 atau Obesitas sentral +


dan 2 kriteria di kriteria TGT dan 2 kriteria 2 kriteria di atas
atas. Jika toleransi di atas. Jika
glukosa normal, toleransi glukosa
diperlukan 2 normal, perlu 3
kriteria kriteria
Sindrom Metabolik
Hubungan Obesitas Sentral dengan DM & Dislipidemia
Resistensi insulin pada obesitas sentral diduga merupakan
penyebab sindrom metabolik
Insulin berperan penting dalam penyimpanan lemak
maupun sintesis lemak dalam jaringan adiposa
Insulin merangsang lipogenesis pada jaringan arterial &
jaringan adiposa melalui peningkatan produksi acetyl-CoA,
peningkatan TG dan glukosa
Dislipidemia yang ditandai dengan peningkatan konsentrasi
trigliserid & penurunan kolesterol HDL merupakan akibat
dari pengaruh insulin terhadap kolesterol transfer protein
(CETP) yang memperlancar transfer kolesterol ester (CE)
dari HDL ke VLDL (TG) katabolisme dari Apo A,
komponen HDL
Resistensi insulin dapat disebabkan oleh banyak faktor
salah satunya adalah Obesitas
Sindrom Metabolik
Hipertensi
Terjadi karena peningkatan plasma darah .
Pada orang yang obesitas meningkat sebanyak 10-20% .
Penyumbatan oleh lemak sehingga jantung memompa
darah dengan cepat dapat terjadi hipertensi.
Tekanan darah tinggi atau di atas 140/90 mm Hg,
umumnya terdapat pada lebih dari sepertiga orang
obesitas.
Sindrom Metabolik
Penyakit Jantung Koroner
Obesitas dapat menyebabkan penyakit jantung koroner
melalui berbagai cara, yaitu dengan cara perubahan lipid
darah, yaitu
pe kadar kolesterol darah
kadar LDL
pe kadar HDL-kolesterol
hipertensi
Stroke
Seiring dengan me tekanan darah, gula dan lemak darah,
maka orang obesitas sangat mudah terserang stroke
karena adanya sumbatan pada pembuluh darah yang
disebabkan oleh lemak yang mengendap di pembuluh
darah hipertensi kalau lama dibiarkan akan
mengakibatkan kerusakan pembuluh darah dan menjadi
pendarahan.
Tatalaksana
Perubahan gaya hidup.
Pengawasan teratur tentang tekanan darah,
kolesterol, dan gula darah.
Olahraga.
Kurangi konsumsi lemak jenuh, kolesterol, dan
asupan garam.
Tingkatkan makanan yang mengandung serat
tinggi seperti sayur, biji-bijian dan buah-buahan.
Obat-obatan.
MM obesitas.

LO 3
Definisi
Peningkatan berat badan melebihi batas kebutuhan skeletal
dan fisik sebagai akibat akumulasi lemak berlebihan dalam
tubuh (Dorland).
Suatu kelainan yang ditandai dengan penimbunan jaringan
lemak tubuh secara berlebihan (WHO,2000; Syarif, 2002,
2003).
Suatu kondisi medis akibat akumulasi lemak tubuh yang
berlebih, yang dapat berefek kepada kondisi kesehatan
yang mengakibatkan menurunnya tingkat hidup seseorang
(Haslam DW, James WP, 2005 ).
Obesitas dikatakan terjadi kalau terdapat kelebihan berat
badan 20% karena lemak para pria dan 25% pada wanita
(Ganong,2002).
Epidemiologi
Menurut WHO, obesitas merupakan salah satu dari 10
kondisi yang berisiko di seluruh dunia dan salah satu dari 5
kondisi yang berisiko di negara-negara berkembang.
Pada tahun 2000, di Indonesia penduduk yang mengalami
overweight diperkirakan melebihi 76.7juta (17.5%) dan
pasien obesitas melebihi 9.8 juta (4.7%).
Penelitian di Indonesia menunjukkan prevalensi obesitas
pada anak-anak usia sekolah sebesar 5%, dimana Sjarif dkk
(2005) menunjukkan prevalensi terbesar terdapat di Jakarta
(25%), Semarang (24,3%) Medan (17,7%) dan Palembang
(13,2%).
Menurut RISKESDAS (2007) prevalensi obesitas di Indonesia
adalah 19.1% dengan wanita 23.8% dan pria 13.9%.
Etiologi
Faktor Resiko
Usia
Seiring bertambahnya usia, massa otot akan berkurang dan
lemak akan bertambah. Dengan bertambahnya usia,
metabolisme tubuh melambat kalori yang dibutuhkan lebih
sedikit.
Jenis kelamin
Laki-laki memiliki massa otot yang lebih besar daripada wanita
otot membakar kalori lebih besar daripada jaringan lain
pada laki-laki kalori yang digunakan lebih besar daripada wanita,
bahkan saat istirahat.
Genetik
Obesitas parental insiden obesitas pada anak < 10 tahun
meningkat 2x.
Keaadaan Psikologi
Keadaan depresi, putus asa, bosan makan banyak
Faktor Resiko
Faktor Lingkungan
Gaya hidup overeating dan sedentari
Faktor Kesehatan
Hipotiroidisme
Sindroma Cushing
Sindroma Prader-Willi
Polycystic ovarian syndrome
Beberapa kelainan saraf yang bisa menyebabkan seseorang
banyak makan
Faktor Perkembangan
Penambahan ukuran dan atau jumlah sel-sel lemak
menyebabkan bertambahnya jumlah lemak yang disimpan
dalam tubuh
Faktor Resiko
Aktivitas Fisik
Seseorang yang mengkonsumsi makanan lemak dan tidak
melakukan aktivitas fisik yang seimbang akan mengalami
obesitas.
Kehamilan
Saat hamil, berat badan wanita bertambah. Setelah melahirkan,
biasanya wanita lebih sulit untuk menurunkan berat badannya.
Kurang Tidur
Tidur yang < 7 jam/hari perubahan hormon menambah
nafsu makan.
Obat
antidepressants, obat anti kejang, obat anti diabetes,
antipsychotic, steroids, beta blockers, pil pengontrol kehamilan.
Ringan

1 Sedang

Berat

a. Primer dan sekunder

Klasifikasi
2 b. Android dan ginekoid
Obesitas

c. Kondisi sel

3 Asia pasifik

4 IMTWHO
Klasifikasi Obesitas
Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-
40%
Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-
100%
Obesitas berat : kelebihan berat badan >100%
(Obesitas berat ditemukan sebanyak 5% dari
antara orang-orang yang gemuk).
Klasifikasi Obesitas
Obesitas primer :
Masukan makanan berlebih dibanding dengan
kebutuhan energi yang diperlukan
Obesitas sekunder :
Disebabkan adanya penyakit/kelainan kongenital
atau kondisi lain
Tipe Android Apple Tipe Genoid Pear
Tempat Bagian tubuh sebelah bawah,
Bagian tubuh sebelah atas (dada,
penumpukan yaitu sekitar perut, pinggul, paha,
pundak, leher, dan muka)
Lemak dan pantat
Sering Pria dan wanita yang sudah
Wanita
ditemukan mengalami menopouse
Lemak jenuh yang mengandung Lemak tidak jenuh serta sel
Jenis lemak
sel-sel besar banyak menumpuk lemak kecil dan lembek
Lebih tinggi penyakit yang
berhubungan dengan metabolisme
lemak dan glukosa seperti penyakit
Resiko
gula, jantung koroner, stroke,
pendarahan otak, dan tekanan darah
tinggi, dan kanker payudara

Lebih sukar menurunkan


Lebih mudah menurunkan berat Kelebihan berat tubuh pada tipe
tubuh ini karena lemak-lemak tersebut
lebih sukar mengalami proses
metabolisme
Pengukuran Apel-Pear
Suatu cara untuk menentukan apakah seseorang
berbentuk seperti buah apel atau seperti buah pir, yaitu
dengan menghitung rasio pinggang dengan pinggul.
Pinggang diukur pada titik yang tersempit, sedangkan
pinggul diukur pada titik yang terlebar; lalu ukuran
pinggang dibagi dengan ukuran pinggul.
Rasio pinggang pinggul = ukuran pinggang / ukuran
pinggul
( LP wanita > 80 cm, pria > 90 cm) obesitas
Obesitas Menurut Kondisi Sel
Tipe Hiperlastik
Jumlah sel lemak lebih banyak dibandingkan
dengan kondisi normal. Tetapi , ukuran sel lemak
tersebut masih sesuai dengan ukuran sel yang
normal.
Biasanya sejak masa anak-anak dan sulit untuk
diturunkan ke berat badan normal.
Bila terjadi penurunan berat tubuh sifatnya hanya
sementara dan kondisi tubuh akan mudah kembali
ke keadaan semula.
Obesitas Menurut Kondisi Sel
Tipe Hipertropik
Jumlah sel yang normal, tetapi ukuran sel lebih besar dari
ukuran normal.
Biasanya pada orang dewasa dan relatif lebih mudah
menurunkan berat tubuh dibanding tipe hiperlastik.
Mempunyai risiko lebih mudah terserang penyakit gula dan
tekanan darah tinggi.
Tipe Hiperlastik-Hipertropik
Jumlah maupun ukuran sel yang terdapat pada tubuh seseorang
melebihi ukuran normal.
Proses kegemukan dimulai sejak masa anak-anak dan
berlangsung terus hingga dewasa.
Tipe ini paling sulit menurunkan berat tubuh. Sehingga paling
mudah terserang berbagai penyakit degeneratif.
Asia-Pasifik
Klasifikasi berat badan lebih dan obesitas bersadasrkan IMT dan Lingkar
perut menurut kriteria asia pasifik
Risiko ko-morbiditas
Lingkar perut
Klasifikasi IMT(kg/m2) <90 cm (laki2) 90 cm(laki2)
<80 cm (perempuan) 80 cm(
perempuan)
Berat badan <18,5 Rendah(risiko meningkat Sedang
kurang pada masalah klinis lain)

Kisaran normal 18,5- 22,9 Sedang Meningkat


BB lebih 23,0
Beresiko 23,0-24,9 Meningkat Moderat
Obes I 25,0-29,9 Moderat Berat
Obes II 30,0 Berat Sangat berat
Sumber : WHO WPR/IASO/IOTF dalam The Asia Pasific Perspective : redefining
Obesity And Its Treatment (2000)
Patogenesis Obesitas
Peningkatan asupan energi/penurunan
keluaran energi memicu kerentanan
genetik & metabolisme
Faktor perilaku : sedentari, nonton TV,
kesukaan terhadap makanan tinggi
karbohidrat
Faktor keluarga : obesitas parenteral
Obesitas pada remaja self esteem rendah
gangguan maturasi perkembangan sosial
Patogenesis Obesitas
Hukum termodinamik: asupan vs keluaran energi
tidak seimbang (intake & energy expenditure
imbalance) kelebihan energi disimpan dalam
bentuk jaringan lemak

Obesitas idiopatik Obesitas endogen


(90% kasus) (10% kasus)
Perawakan tinggi Perawakan pendek
Riwayat obesitas keluarga (+) Riwayat obesitas keluarga (-)
Fungsi mental pdu dbN Fungsi mental sering retardasi
Usia tulang N Usia tulang terlambat
36
Kriteria Diagnosis
Seseorang yang memiliki berat badan 20%
lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat
badannya yang normal dianggap mengalami
obesitas.
Diagnosis
Anamnesis :
Saat mulai timbul obesitas : prenatal, early adiposity
rebound, remaja
Riwayat tumbuh kembang (mendukung obesitas
endogenous)
Adanya keluhan : ngorok (snoring), restless sleep, nyeri
pinggul
Riwayat gaya hidup :
Pola makan/kebiasaan makan
Pola aktifitas fisik : sering menonton televisi
Riwayat keluarga dengan obesitas (faktor genetik), yang
disertai dengan resiko seperti penyakit kardiovaskuler di
usia muda, hiperkolesterolemia, hipertensi dan diabetes
melitus tipe II
Diagnosis
Pemeriksaan penunjang
Jangka kulit (skin fold), ketebalan lipatan kulit di beberapa
bagian tubuh diukur dengan jangka
Bioelectric impedance analysis, penderita berdiri diatas
skala khusus dan sejumlah arus listrik yang tidak
berbahaya dialirkan ke seluruh tubuh lalu dianalisa.
Underwater weight, pengukuran berat badan dilakukan di
dalam air dan kemudian lemak tubuh dihitung berdasarkan
jumlah air yang tersisa.
BOP POD, merupakan ruang berbentuk telur yang telah
dikomputerisasi. Setelah seseorang memasuki BOD POD,
jumlah udara yang tersisa digunakan untuk mengukur
lemak tubuh.
BOP POD

JANGKA KULIT

Bioelectric Impedance Analysis


Diagnosis
Pemeriksaan Lab
Trigliserida > 150 mg/dl
HDL < 50 mg/dl pada pria dan < 40 mg/dl pada
wanita
GDS > 126 mg/dl
Tekanan darah > 135/85 mmHg
Diagnosis
1. Berat Badan Ideal (BBI) bayi (anak 0-12
bulan)
BBI = (umur (bln) / 2 ) + 4
2. BBI untuk anak (1-10 tahun)
BBI = (umur (thn) x 2 ) + 8
3. Remaja dan dewasa
BBI = (TB 100) (TB 100) x 10%
atau
BBI = (TB 100) x 90%
Komorbiditas Obesitas
Komorbiditas Evaluasi Pemeriksaan
Asma Nafas pendek, wheezing, Tes faal paru
batuk, exercise intolerance
Insulin resisten Achantosis nigrican, poliuri, Gula darah, HbA1c,
DM tipe2 polidipsi, BB, genetik kadar insulin, c-peptide,
TTGO
Dislipidemia Xanthoma, genetik Chol total, LDL, HDL, TG
Batu empedu Nyeri abdomen, muntah, USG
ikterus
Hipertensi Pe TD Tes serial urin, elektrolit,
urea darah, kreatinin,
nitrogen
Muskuloskeletal Nyeri punggung, sendi, X-ray
sprain
Komorbiditas Evaluasi Pemeriksaan
NAFL, NASH Hepatomegali, nyeri AST, ALT, USG, CT-Scan,
abdomen MRI
Obstructive Snoring, gangguan tidur, Polysomnografi, hipoksia
Sleep Apneu somnolen
POS Dysmenorrhea, acne, USG pelvis, testosteron,
acanthosis, rambut rontok, LH, FSH
obes sentral
Behaviour Gangguan makan, depresi, Tes psikologis
prestasi , rendah diri
Slipped capital Nyeri pinggul, pincang X-ray
femoral
apiphysis
Blount disease Nyeri lutut, pincang, bowing X-ray
legs
Pseudotumor Sakit kepala, pusing, CSF, CT-Scan, MRI
cerebri diplopia
Tatalaksana
Sasaran Penatalaksanaan Obesitas
Penurunan BB 5-10% dalam 6-8 bulan
Mencegah peningkatan kembali BB dan sindrom
yoyo
Memperbaiki penyakit penyerta
Menurunkan prevalensi obesitas
Memperbaiki kualitas hidup
Terapi Diet
Defisit 500-1000 kkal/hari
Pengukuran energi dapat menggunakan rumus
Harris Benedict :
laki-laki : BEE = 66,5 + (13,75xkg) + (5,003xcm)
(6,775xage)
Wanita : BEE = 65,1 + (9,563xkg) + (1,85xcm)
(4,676xage)
Kebutuhan kalori total = BEE x jumlah faktor stres
& aktivitas (1,2 2)
Total lemak < 30% dari total kalori
Pengurangan lemak jenuh
Terapi intensif
Ditujukan pada obesitas morbid/superobes
Diet berkalori sangat rendah (BB>140% Bbi)
Formula protein sparing modified fast (PSMF) 600-
800 kal/hari, protein 1,5-2,5 g/kg Bbi
Maks 12 minggu dibawah pengawasan dokter
Medikamentosa
Sibutramin, orlistat, leptin, ocreotide, metformin
Tiroksin, amfetamin tidak dianjurkan
Terapi invasif (BB>200% BBI)
Gastric binding & vertical banded gastroplasty
Gastric bypass
Olahraga

63
Komponen Olahraga
Terdiri dari 3 pilar utama :
1. Warming up / pemanasan
2. Main exercise / olahraga inti
3. Cooling down / pendinginan
Pemanasan
Dilakukan selama 5 menit
Tujuannya :
Otot, jantung, dan paru-paru siap melakukan kerja
yang lebih berat
Mempersiapkan metabolisme dalam tubuh agar
dapat bekerja lebih baik
Mengurangi kemungkinan terjadinya cedera
Main Exercise
Terbagi menjadi 3 hal :
Jenis olahraga
Aerobik
Anaerobik
Intensitas olahraga
60% - 80% kapasitas aerobik maksimal
72% - 87% frekuensi jantung maksimal (Training Zone)
Lama olahraga
15-25 menit/hari (dalam training zone)
3x / minggu
Pendinginan
Dilakukan selama 5 menit
Tujuan :
Mengembalikan semua fungsi tubuh ke keadaan
normal
Persiapan :
Melakukan gerakan / latihan yang intensitasnya
diturunkan secara graduil / bertahap
Terapi Farmakologi
Sibutramin
Menurunkan berat badan sebanyak 10%
Menghambat reuptake Serotonin dan
Norepinefrin
Menurunkan nafsu makan
Meningkatkan energy expenditure
Dosis awal 10 mg/hari. Bila penurunan BB tidak
adekuat dalam 4 minggu, dosis ditingkatkan
menjadi 15 mg/hari
Terapi Farmakologi
Sibutramin
Farmakokinetik
Oral absorpsinya cepat
Melalui metab. Lintas I di hati
Dimetabolisme oleh CYPA34
Eliminasi terutama oleh ginjal
Efektivitas
BB akan turun 7-10%, maksimal dalam 6 bulan
Bertahan selama minum obat
E.S : takikardia, mulut kering, konstipasi, insomnia,
peningkatan tekanan darah.
KI : peny. Jantung, peny. Serebrovaskuler, hipertensi tidak
terkontrol
Terapi Farmakologi
Orlistat
Menghambat lipase pankreas menghambat absorpsi
lemak di pencernaan
Dosis 3 x 120 mg sehari
Farmakokinetil
Oral absorpsi minimal
C plasma rendah (<10g/L)
Th/ jangka panjang tidak ditimbun dalam plasma
Eliminasi terutama di feses
Efektivitas
Menurunkan BB sampai 10%, setelah minum sampai 2
tahun, kombinasi dg diet rendah kalori
Terapi Pembedahan
Kriteria dilakukan operasi :
Obesitas berat, BMI > 40
BMI 35-39.9, disertai komplikasi (misal : DM,
hipertensi)
Gastric bypass surgery.
Laparoscopic adjustable gastric banding
(LAGB).
Biliopancreatic diversion with duodenal
switch.
Komplikasi Obesitas
Obesitas pada Anak
Predisposisi
Obesitas bayi 26,5% obesitas remaja
Obesitas anak 50% obesitas remaja
Obesitas anak 33,3% obesitas dewasa
Obesitas remaja 80% obesitas dewasa
Risiko genetik
Kedua ortu obesitas 80% anak obesitas
Salah satu ortu obesitas 40% anak obesitas
Ortu tidak obesitas 14% anak obesitas
Kategori Berdasarkan IMT
Kategori Terminologi Lama Terminologi yang
IMT direkomendasikan
< P5 Underweight Underweight
P5 84 Healthy weight Healthy weight
P85 94 At risk of Overweight
overweight
> P95 Overweight / Obesitas
obesitas
Manifestasi Klinis Obesitas pada Anak
Adipositas di aderah dada laki-laki sering berkesan
tumbuh payudara.
Abdomen menggantung, ada strie putih atau merah
lembayung.
Genitalia eksterna anak laki-laki tampak kecil, penis
sering terbungkus lemak pubis.
Pubertas dapat terjadi lebih awal.
Ekstremitas biasanya lebih besar di lengan atas dan
paha.
Tangan relatif kecil dan jari sedikit demi sedikit
mengecil.
Sering ada lutut bengkok (genu valgum).
Gangguan psikologis.
Tanda dan Gejala Obesitas pada Anak
Wajah bulat dengan pipi tembem dan dagu rangkap.
Leher relatif pendek.
Dada membusung dengan payudara membesar.
Perut membuncit.
Pada anak laki-laki : penis tersembunyi, pembesaran
payudara.
Pubertas dini.
Genu valgum (tungkai berbentuk X) dengan kedua
pangkal paha bagian dalam saling menempel dan
bergesekan yang dapat menyebabkan laserasi kulit.
Tahapan Tatalaksana menurut American
Academy of Pediatric
Tahapan Keterangan
Tahap 1 (pencegahan Anak dan keluarga diarahkan pada pola
plus) makan yang sehat dan kebiasaan aktifitas
dasar yang sehat perbaikan status IMT
Tahap 2 (structured Target perilaku lebih sedikit dan lebih banyak
weight management) pada dukungan dan struktur yg diarahkan
untuk mencapai target perilaku tsb
Tahap 3 Ditingkatkan intensitas perubahan perilaku,
(comprehensive frekuensi kunjungan dan spesialis yang
multidisciplinary terlibat untuk mengoptimalkan dukungan
intervention)
Tahap 4 (tertiary care Ditujukan pada remaja yang mengalami
intervention) obesitas berat
STRATEGI TATALAKSANA OBESITAS
Umur < 7 tahun Umur > 7 tahun

IMT P85-95 IMT > P95


Komorbid (+) Komorbid (-) Komorbid (-) Komorbid (+)

MEMPERTAHANKAN BERAT BADAN

MENURUNKAN BERAT BADAN


AAP. Pediatrics. 2003;112-424-430
Daftar Pustaka
Fauci AS, Braunwald E, Kasper DL, Hauser SL,
Longo DL, Jameson JL, et al, editors. Harrisons
Principles of Internal Medicine. 17th edition.
USA: McGraw-Hills Medical, 2008.
Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M,
Setiadi S, et al, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Edisi ke-4. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu
Penyakit Dalam FKUI, 2006.
Sherwood L. Human Physiology. 5th ed. Belmont:
Thomson Learning, 2004.
Terima Kasih