Anda di halaman 1dari 11

KAJIAN PUISI JAWA

Wiwien Widyawati Rahayu


+6281227508848
wiwien.widyawati@gmail.com
wiwien.fib@ugm.ac.id
PUISI JAWA MODERN
DEFINISI/PENGERTIAN

Puisi Jawa adalah karya yang ditulis dalam bentuk puisi dengan media
bahasa Jawa atau wacana puisi yang menggunakan bahasa Jawa sebagai
bentuk pengujarannya.

Batasan bahasa Jawa: secara tradisional ada tiga jenis bahasa Jawa, yaitu
Kuna, Tengahan, dan Baru, hanya yang perlu diingat dalam penelitian puisi
Jawa ini adalah bahwa bahasa Jawa yang menjadi media ungkap tersebut
masing-masing memiliki ciri dan kaidah yang berbeda sesuai dengan
jamannya

Jadi, Puisi Jawa Modern (PJM) adalah bentuk puisi yang menggunakan
bahasa Jawa baru sebagai sarana bentuk pengujarannya. Kemunculan
PJM merupakan cermin berkembangnya budaya tulis, sedangkan puisi
Jawa tradisional merupakan cermin budaya lisan.
Proses Kelahiran
Konsep awal penciptaan sebuah karya sastra bentuk puisi berupa
komunikasi. Komunikasi merupakan kata kunci dalam penciptaan karya
sastra termasuk, puisi:

Pengirim ------- pesan ------- penerima

Penulis/ TEKS pembaca,


Pengarang/ = penikmat,
Pencipta KS pendengar, dll.
Konsep Komunikasi (Roman Jakobson), menyebut ada
enam komponen pembangunnya, yaitu:

1. penyair,dengan fungsi emotifnya;


komponen yang mengarah pada sikap atau tata nilai yang
dituangkan
atau diwujudkan dalam karya puisinya, dan inilah yang
nantinya melahirkan apa yang disebut dengan nada puisi.
2. amanat/isi, dengan fungsi puitiknya;
pemfungsian wacana untuk mengisinya dengan
amanat/pesan
3. penerima/khalayak, dengan fungsi konotatifnya;
fungsi ini muncul pada saat terjadi proses penyambutan
oleh pembaca atau penikmat.
lanjutan...
4. kontak, dengan fungsi fatiknya;
fungsi ini merupakan bentuk fungsi estetis yang
dipadukan dengan perwujudan yang berdaya guna dan
berhasil guna.
5. konteks, dengan fungsi referensialnya;
fungsi persentuhan tidak selalu dalam situasi yang
hampa, melainkan selalu berhubungan dengan asosiasi
tentang kehidupan.
6. kode, dengan fungsi kode bahasa dan budayanya.
Fungsi metalingual sebagai sarana pembatas bagi
pencipta. Jadi kebebasan penciptaan dinaungi oleh
fungsi ini dalam rangka tujuan pembenaran.
Konsep-konsep di atas (6 konsep
Jakobson) inilah yang menandai proses
kelahiran sebuah puisi sampai pada
proses penciptaan berbagai teori untuk
membahas karya puisi, maka lahirlah
istilah-istilah ekspresif (proses
penciptaan), objektif (karya/otonom), dan
pragmatik (tujuan yang dicapai penikmat).
Khusus mengenai proses kelahiran puisi
Jawa modern tidak bisa dipisahkan dari
proses sejarah dan kehidupan puisi
tersebut selanjutnya. Maka kelahiran puisi
Jawa modern selalu dihubungkan dengan
proses penyebaran dan penerimaan
terhadapnya, proses ini pun selalu juga
dihubungkan dengan kehidupan media
yang memuat karya pada masa itu.
Penamaan
puisi Jawa modern

puisi Jawa baru

geguritan : majalah Jawa parikesit

guritan : majalah Kajawen, Darma Nyata, Jayabaya,

Menurut kamus Baoesastra Djawa, Poerwadarminta ada kata dasar


gurit, kemudian muncul variasi anggurit dan ngggegurit. Bentuk
gegurit, gugurit adalah dwipurwa (bentuk ulang suku kata awal),
maka bentuk praktis dari itu adalah guritan, bukan geguritan.===
dilihat dari asal kata!

Dilihat dari arti kata, guritan = kidung, tembang, rerepen


(Poerwadarminta, 1939: 157)
Media Publikasi Perkembangan Puisi Jawa Modern
A. Majalah

a.Panji Pustaka (1923) ada rubrik puisi Jawa


tahun 1943 dg penyair populernya: Soebagijo
I.N., Wida Aminah, P. Atmodiharjo
b. Kejawen (1926) sejak tahun kedua sdh ada
rubrik puisi Jawa, tokohnya Pak Djaja, Ki Kolot,
Nyi Darmawicitra
c. Penyebar Semangat (1933) dengan tokoh R.
Intojo, Sr. Soemantha
d. Jaya Baya (1945) di Kediri
e. Api Merdeka(1945) di Yogyakarta
lanjutan...
f. Waspada (1952) di Yogyakarta
g. Crita Cekak (1955) di Surabaya
h. Kekasihku (1956) di Surabaya
i. Mekarsari (1957) di Yogyakarta
j. Dekade tahun 1960-an: Candrakirana, Gotong
Royong, Kembang Brayan, Merdika.
k. Dekade 1970-an: Dharma Kanda, Kunthi,
Dharma Nyata, Djoko Lodang, Parikesit,
Kumandang, dll.
l. Dekade 1980-an: Pustaka Candra,
Baluwarti, Rara Jonggrang, dll.
B. Penerbitan/buku:

a.Geguritan: Antologi Sajak-sajak Jawi


(1975) ed. Iesmaniasita

b. Guritan Karbon Ireng (1982) Ct.


Indrasta

c. Langite Isih Biru (1975) Susilomurti, dll.