Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN KASUS

KARSINOMA
KOLON
Oleh:
Chrisna A. Futunanembun (NIM: 0100840193)

Pembimbing:
dr. Sony Gunawan Sp.B, KBD.
Epidemiologi

Jepang mempunyai insiden tertinggi, sedangkan Amerika Selatan dan China


mempunyai angka kejadian yang relatif rendah.
Afrikan Amerikan mempunyai resiko mengidap kanker.
Di Amerika, lelaki lebih banyak mengidap kanker kolon dibandingkan wanita.
Insiden kanker ini meningkat dengan bertambahnya usia, mulai dari umur 50 tahun.
Diperkirakan 150.000 kasus baru kanker kolorektal didiagnosis dan 57.000 orang
meninggal karena penyakit ini di Amerika Serikat setiap tahun.
Estimasi Persentase Kasus
Baru Dan Kematian Akibat
Kanker Pada Penduduk Laki-
laki Dan Perempuan Di Dunia
Pada Tahun 2012
Estimasi Jumlah Kasus
Baru Dan Jumlah
Kematian Akibat
Kanker Di RS Kanker
Dharmais 2010-2013
Anatomi
Anatomi
Fisiologi
Pertukaran air dan elektrolit
Asam lemak rantai pendek
Mikroflora kolon dan gas intestinal
Motilitas
Defekasi
Patogenesis
Polip jinak pada kolon atau rektum
|
menjadi ganas
|
menyusup serta merusak jaringan normal kolon
|
meluas ke dalam struktur sekitarnya
|
bermetastatis dan dapat terlepas dari tumor primer menyebar ke bagian tubuh yang
lain dengan cara :
Limfogen ke kelenjar parailiaka, mesenterium dan paraaorta
Hematogen terutama ke hati
Perkontinuitatum (menembus ke jaringan sekitar atau organ sekitarnya) misalnya :
ureter, buli-buli, uterus, vagina, atau prostat dan dapat mengakibatkan peritonitis
karsinomatosa.
Patofisiologi
Definisi

Kanker kolon adalah suatu bentuk keganasan dari masa


abnormal/neoplasma yang muncul dari jaringan epithelial colon. Kanker
kolon atau usus besar adalah tumbuhnya sel kanker yang ganas di dalam
permukaan usus besar atau rektum.
Faktor resiko

Idiopathic Inflammatory Bowel Disease


Polip
Faktor genetic
Diet
Gaya hidup
Usia
Diagnosis
1. Anamnesa

Tanda dan gejala dari kanker kolon sangat bervariasi dan tidak spesifik.

Perubahan pola BAB


Hematochezia
Obstruksi (parsial total)
Anemia
Nyeri Abdomen
Gejala invasif
2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan abdomen dimulai dari inspeksi yaitu melihat adanya bekas operasi,
penonjolan massa.
Palpasi dilakukan untuk meraba adanya massa, pembesaran hepar, asites atau nyeri
tekan pada abdomen. Bila teraba massa disebutkan lokasi, diameter, mobilitas atau
melekat pada jaringan, konsistensi, batas jelas atau tidak.
Perkusi normal pada abdomen ialah timpani. Bila terdapat masssa maka perubahan
suara menjadi redup.
Pada auskultasi didengarkan bising usus.
RT (rectaltoucher)
3. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan LAB
Carcinoembryonic antigen (CEA)
CEA tidak dapat digunakan sebagai prosedur screening tetapi akurat sebagai
diagnosis CEA residif
Pemeriksaan radiologi (enema barium).
Colonoscopy
Kolonoskopi sekarang ini merupakan metode yang akurat dan paling baik digunakan
dalam pemeriksaan usus besar.
Rigid Proctoscopy
Flexible Sigmoidoscopy
CT Colonography (CTC)
Staging
T Tumor primer
Tx: Tumor primer tidak dapat dinilai
T0: Tidak ada tumor primer
Tis: Karsinoma insitu, invasi lamina
propia atau intraepitelial
T1: Invasi tumor di lapisan sub-mukosa
T2: Invasi tumor di lapisan otot propria
T3: Invasi tumor melewati otot propria
ke subserosa atau masuk ke perikolik
yang tidak dilapisi peritoneum atau
perirektal
T4: Invasi tumor terhadap
organ/struktur sekitarnya dan/atau
peritoneum viseral.
N Kelenjar limfe regional M Metastase jauh
Nx: Kelenjar limfe regional tidak Mx: Metastase jauh tidak dapat
dapat dinilai dinilai
N0: Tidak didapatkan kelenjar limfe M0: Tidak ada metastase jauh
regional M1: Terdapat metastase jauh6
N1: Metastase di 1 3 kelenjar limfe
perikolik atau perirektal
N2: Metastase di 4 atau lebih
kelenjar limfe perikolik atau perirektal
N3: Metastase pada kelenjar limfe
sesuai nama pembuluh darah dan
atau pada kelenjar apikal (bila diberi
tanda oleh ahli bedah).
Stadium dan Prognosis Kanker Kolorektal

Stadium Deskripsi Bertahan


Dukes TNM Derajat histopatologis 5 tahun
(%)
A T1 N 0 M 0 I Kanker terbatas pada >90
mukosa/submukosa

B1 T2 N 0 M 0 I Kanker mencapai 85
muskularis
B1 T3 N 0 M 0 II Kanker cenderung 70-80
masuk atau melewati
lapisan serosa
C TxN1M0 III Metastasis 35-65
D TxNxM1 IV 5
Tatalaksana pada kanker kolon
Reseksi kolorektal
Reseksi
Emergensi reseksi
Reseksi laparoskopik
Anastomosis
End to end
End to side
Side to end
Side to side
Colostomy
Sistemik kemoterapi
Terapi radiasi
BAB III
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. FT
Umur : 34 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Kristen Protestan
Suku : Serui
Pendidikan : SMA
Alamat : Entrop
Pekerjaan : PNS
Status Marital : Menikah
Tanggal masuk : 12 September 2017
Anamnesis
Keluhan Utama
Pasien datang dengan keluhan buang air besar berwarna hitam.

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang dengan keluhan BAB bercampur darah berwarna merah gelap sejak 2,5
tahun yang lalu. Konsistensi padat, bercampur lendir, frekuensi BAB 6 kali per hari,
disertai nyeri saat buang air besar, dan kadang-kadang disertai mencret. Pasien mengeluh
nyeri perut terutama jika terlalu banyak makan, dan nyeri ini semakin bertambah sejak 1
bulan terakhir SMRS, hilang selera makan, serta sering merasa perut kembung, mual, dan
juga lemas. Muntah disangkal. Buang air kecil lancar, 3-4 kali sehari, warna kuning jernih,
tidak berdarah, dan tidak nyeri saat berkemih.
Pasien tidak memiliki riwayat alergi terhadap obat-obatan dan makanan tertentu,
riwayat hipertensi, diabetes, maag, penyakit jantung dan asma. Pasien pernah
Riw. Penyakit menderita Pneumonia pada umur 8 tahun.
duhulu

Tidak ada riwayat diabetes, darah tinggi, penyakit jantung, asma dan kanker dalam
Riw. keluarga.
keluarga

Pasien sudah menikah dan memiliki anak. Pasien mengaku mempunyai kebiasaan mengkonsumsi
minuman beralkohol sejak SMA dan juga merokok aktif. Pola makan pasien baik, dengan menu
Riw. Pribadi makanan yang bervariasi seperti nasi, papeda, ikan. Pasien mengatakan bahwa kurang
dan Kebiasaan mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran.
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : Tampak Lemas Kesadaran : E4V5M6(CM)
Tekanan Darah : 100/60 mmHg Nadi : 90 x/menit
Respirasi : 20 x/menit Suhu tubuh: 36,0C

Status Generalis
Kepala: Mata : anemis (+/+), ikterus -/-, isokor (3mm/3mm)
Thorax: Jantung : S1S2 tunggal, reguler, murmur (-)
Pulmo : Vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-
Abdomen : Tampak datar, BU (+) N, NT + + +
+ + +
- - -

Ekstremitas : Akral hangat, CRT<2, edema - -


- -
Laboratorium
Darah lengkap Kimia Darah
Hb : 6,5 g/dL GDS : 110 mg.Dl
Leukosit : 6,020/uL BUN : 13, 9
Eritrosit : 3,33 juta/uL Creatinin : 0,80 mg/dl
Trombosit : 753, 000/Ul Natrium : 136 meq/L
HCT : 21,6 % Kalium : 4,58 meq/L
MCV : 64,9 Fl Klorida : 99,0 meq/L
MCH : 19,5 pg
MCHC : 30,1 gr/dL
Masa perdarahan : 2 00
Masa Pembekuan : 10 30
DIAGNOSIS KERJA

Carsinoma Colon
RENCANA PENGELOLAAN

Non medika mentosa


Diet cair
Pemeriksaan darah lengkap dan kimia darah
Pantau keadaan umum dan tanda vital
Transfusi PRC jika Hb rendah.
Pembedahan
Telah dilakukan Laparoscopy Subtotal Kolektomi pada 28 September 2017.
Laporan operasi:
Pasien posisi supine dalam general anestesi
Dilakukan tindakan asepsis dan antisepsis pada lapangan operasi.
Insersi trocar 11 mm 2 buah x 5 mm 2 buah
Didapatkan tumor colon transversum flexura lienalis flexura hepatica
Dilakukan diseksi kolon ascendens sampai dengan descendens.
Dilakukan subtotal kolektomi
Insisi mediana 4cm
Dilakukan anastomosis ekstra corporeal ileo-colonic
Luka operasi ditutup. Operasi selesai.
Medikamentosa
IVFD RL ; D5 = 2:2
Inj. Merophenem 3 x 1 gr
Inj. Omeprazole 2 x 40 mg
Inj. Tramadol 3 x 1 amp
Drips Paracetamol 3 x 500 mg
Anjuran untuk menjalani terapi kemoterapi.

Edukasi
Makan banyak buah-buahan dan sayuran, kurangi makanan berlemak dan daging merah
Mengurangkan berat badan, olahraga secara regular, berhenti merokok dan minum minuman keras
PEMBAHASAN I
Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pasien ini didiagnosa Carcinoma Kolon
Dari anamnesa didapatkan pasien datang dengan keluhan:
BAB bercampur darah berwarna merah gelap Konsistensi padat, bercampur lendir, frekuensi BAB 6 kali per hari
nyeri saat buang air besar kadang2 mencret
nyeri perut terutama jika terlalu banyak makan,
hilang selera makan,
merasa perut kembung mual
Lemas.
BAK lancar, berdarah (-), nyeri berkemih (-)
PEMBAHASAN I

Teori
Kolon kanan memiliki kaliber yang besar, tipis dan dinding distensi serta isi fecal ialah air. Karena
fitur anatomisnya, karsinoma kolon kanan dapat tumbuh besar sebelum terdiagnosa. Pasien
sering mengeluh lemah karena anemia. Darah makroskopis sering tidak tampak pada feses tetapi
dapat mendeteksi tes darah samar. Pasien dapat mengeluh ketidaknyamanan pada kuadran kanan
perut setelah makan dan sering salah diagnosa dengan penyakit gastrointestinal dan kandung
empedu. Jarang sekali terjadi obstruksi dan gangguan berkemih.
PEMBAHASAN I

Kolon kiri memiliki lumen yang lebih kecil dari yang kanan dan konsistensi feses ialah
semisolid. Tumor dari kolon kiri dapat secara gradual mengoklusi lumen yang
menyebabkan gangguan pola defekasi yaitu konstipasi atau peningkatan frekuensi BAB.
Pendarahan dari anus sering namun jarang yang masif. Feses dapat diliputi atau
tercampur dengan darah merah atau hitam. Serta sering keluar mukus bersamaan
dengan gumpalan darah atau feses.
PEMBAHASAN II

Dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang didapatkan :


Lemas, Conjungtiva anemis (+/+)
Pada pemeriksaan abdomen didapatkan tampak datar, namun tidak teraba massa,
hepar tidak teraba, nyeri tekan ada terutama pada kuadran kiri dan kanan atas
abdomen.
Perkusi didapatkan redup pada regio epigastrium dan regio umbilikal.
PEMBAHASAN II

Teori, pemeriksaan fisik penting menentukanlokasi penyakit, mengidentifikasi metastase & mendeteksi sistem
organ lain yang turut berperan dalam pengobatan.
Pemeriksaan abdomen
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
PEMBAHASAN II

Dari pemeriksaan penunjang: hasil laboratorium Menurut teori, keberadaan kanker kolon dapat
dikenali dari beberapa tanda seperti:
menunjukkan:
anemia mikrositik,
adanya penurunan nilai hemoglobin dari nilai hematoskezia,
normal 6,5 mg/dL (nilai normal 10
nyeri perut,
mg/dL),
berat badan turun atau perubahan defekasi.
Nilai MCV 64,9 fl (Nilai normal 84,0-96,0). Pemeriksaan penunjang lainnya endoskopi atau
radiologi.
Nilai hemoglobin dan MCV menunjukkan bahwa
pasien mengalami anemia mikrositik. Temuan darah samar di feses memperkuat dugaan
neoplasia.
PEMBAHASAN III
Tatalaksana pada Pasien:
Laparoscopy Subtotal Kolektomi. Pada saat operasi didapatkan tumor colon transversum
flexura lienalis flexura hepatica, dilakukan diseksi kolon ascendens sampai dengan
descendens. Kemudian dilakukan anastomosis ekstra corporeal ileo-colonic.
PEMBAHASAN III

Teori
Pada prosedur Colectomy total dan subtotal, pembuluh darah ileocolica, colica
dextra, colica media, dan colica sinistra diligasi dan dipisahkan. Pembuluh darah
rectalis superior dipertahankan. Jika diperlukan untuk mempertahankan colon
sigmoideum, maka pembuluh darah sigmoid distal dipertahankan dan
anastomosis dibuat antara ileum dan colon sigmoideum distal (subtotal
colectomy dengan anastomosis ileosigmoid).
Kesimpulan

Karsinoma kolon suatu bentuk keganasan dari masa abnormal/neoplasma yang muncul dari jaringan
epithelial colon.
Karsinoma Kolon didiagnosa berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Anamnesa : mengeluh lemah karena anemia, ketidaknyamanan pada kuadran kanan perut setelah makan,
gangguan pola defekasi, bercampur dengan darah merah atau hitam, disertai mucus.
Pemeriksaan fisik penting dalam menentukan penyakit lokal, mengidentifikasi metastase dan mendeteksi
sistem organ lain yang turut berperan dalam pengobatan.
Tata laksana untuk karsinoma kolon yakni pembedahan berupa reseksi kolon, anastomosis, colostomy
serta terapi tambahan seperti terapi dengan menggunakan agen biologis, terapi radiasi, dan vaksin.
TERIMA KASIH
LAMPIRAN