Anda di halaman 1dari 31

Keahlian yang diperlukan

Bidang-bidang yang diperlukan dalam fraud


auditing:
Finansial
Pengetahuan mengenai kecurangan
Pengetahuan dan pemahaman realitas bisnis
Mekanisme kerja sistem hukum
Fraud Triangle
Pressure (Tekanan)
Opportunity(Peluang/Kesempatan)
Rationalization(Pembenaran)

Menurut Priantara (2013:44-47)


Faktor Tekanan
Masalah keuangan
Terlibat perbuatan kejahatan atau tidak sesuai
dengan norma
Tekanan yang berhubungan dengan pekerjaan
Tekanan-tekanan lain

Menurut Priantara (2013:44-47)


Faktor Peluang
Sistem Pengendalian Internal yang lemah
Tata kelola organisasi buruk

Menurut Priantara (2013:44-47)


Faktor Rationalization
Rationalization terjadi karena seseorang
mencari pembenaran atas aktifitasnya yang
mengandung fraud. Para pelaku fraud
meyakini bahwa tindakannya bukan
merupakan suatu tindakan fraud tetapi adalah
suatu yang memang merupakan
haknya,bahkan kadang pelaku merasa telah
berjasa untuk organisasi.
Menurut Priantara (2013:44-47)
Red Flags
Red Flags merupakan suatu kondisi yang
janggal atau berbeda dengan keadaan normal.
Dengan kata lain, red flags adalah petunjuk
atau indikasi akan adanya sesuatu yang tidak
biasa dan memerlukan penyidikan lebih
lanjut. Red flags tidak mutlak menunjukan
apakah seseorang bersalah atau tidak tetapi
merupakan tanda-tanda peringatan bahwa
fraud terjadi.
Peranan Fraud Auditor
Preventing Fraud

Detecting Fraud

Investigating Fraud
Preventing Fraud
MEMBANGUN BUDAYA JUJUR, TERBUKA DAN
PEMBERIAN BANTUAN
Penerimaan pegawai yang jujur
Menciptakan suasana kerja yang positif
Penerapan Aturan Perilaku dan Kode Etik
Pemberian Program bantuan bagi pegawai yang
membutuhkan

MEMBANGUN SISTEM PENGENDALIAN INTERN


Mendeteksi Fraud
1. Anomali Dokumentasi Bukti Transaksi
2. Anomali Akuntansi
3. Kelemahan Struktur Pengendalian Internal Baik
Level Transaksi maupun Level Entitas
4. Anomali Prosedur Analitis
5. Gaya Hidup Mewah
6. Perilaku yang tidak biasa
7. Pengaduan dan Komplain
Menurut Priantara (2013:211-212)
Investigating Fraud
Investigasi merupakan penerapan kecerdasan,
pertimbangan yang sehat dan pengalaman, selain
juga pemahaman terhadap ketentuan perundangan
dan prinsip-prinsip investigasi guna pemecahan
permasalahan yang dihadapi.
Ada 3 Tahap :
Perencanaan
Pelaksanaan (pengumpulan dan evaluasi bukti)
Pelaporan
Perencanaan Audit Investigatif
Kecukupan informasi untuk menjawab
pertanyaan tentang apa, siapa,dimana,bilamana,
dan bagaimana, terkait dengan adanya dugaan
penyimpangan/kecurangan.
SMEAC sistem merupakan model perencanaan
dng pendekatan terstruktur dan dapat digunakan
sebagai kerangka kerja utk mengembangkan
rencana lebih detil sesuai keadaan.
SMEAC = Situation, Mission, Execution,
Admistration & Logistic, Communication.
Situation
Memuat tentang apa yg telah terjadi dan
bagaimana keadaannya saat itu.
Dikaitkan dengan Audit Investigasi, situasi
disini menggambarkan substansi
pengaduan/penyimpangan yang akan
dibuktikan melalui audit investigasi.
Mission
Suatu pernyataan yang secara ringkas
menggambarkan hasil yang diharapkan akan
dicapai dalam pelaksanaan investigasi
Execution
Memuat komponen-komponen perencanaan
yang menggambarkan secara rinci peran dan
tanggungjawab setiap individu,yaitu:

Penyusunan Program Audit Investigasi.


Penentuan komposisi Tim Audit Investigasi.
Jangka Waktu dan Anggaran Biaya Audit
Investigasi.
ADMINISTRATION AND LOGISTICS
Memuat beberapa hal antara lain uraian rinci
mengenai nama, jabatan, dan lokasi dari
semua individu yg terlibat dalam kegiatan
audit investigasi, termasuk uraian mengenai
pendelegasian, pemisahan tugas dan
wewenang
COMMUNICATION
Diperlukan matrik komunikasi, yang
menguraikan secara rinci dari arus informasi
(siapa melapor kepada siapa), waktu pelaporan
serta kepada siapa laporan harus diserahkan.
Pelaksanaan (Pengumpulan dan
Evaluasi Bukti)
Jenis bukti
Alat Bukti
Barang Bukti
Metode Pengumpulan Bukti
Evaluasi Bukti
Kualitas Bukti
JENIS BUKTI AUDIT
Pengujian Fisik (Physical Examination)
Konfirmasi (Confirmation)
Dokumentasi (Documentation)
Observasi (Observation)
Tanya Jawab dengan Auditan (Inquires of the
Client)
Pelaksanaan Ulang (Reperformance)
Prosedur Aanalitis (Analytical Procedures)
Alat Bukti
Alat bukti diperlukan untuk membuktikan
adanya unsur tindak pidana. Pengertian alat
bukti yang sah menurut pasal 184 ayat (1)
KUHAP adalah :
Keterangan saksi
Keterangan ahli
Surat
Petunjuk
Keterangan terdakwa
Barang Bukti
Barang bukti adalah barang yang mempunyai
kaitan langsung dengan tindak pidana, dapat
berupa :
Alat untuk melakukan tindak pidana
Hasil perbuatan tindak pidana
Obyek tindak pidana
Metode Pengumpulan Bukti
Membangun circumstantial case melalui
interview saksi yg kooperatif dan dokumen yg
tersedia.
Menggunakan circumstantial evidence utk
mengidentifikasi dan beralih ke saksi internal yg
dpt memberi bukti langsung ttg pihak2 yg
terlibat.
Seal and Case, identifikasi dan tanggapi bantahan
pihak terlibat dan buktikan adanya kesengajaan
pelaku kecurangan melalui pemeriksaan
(examination) subyek atau sasaran
Evaluasi Bukti
Perlu dilakukan analisis utk menilai kesesuaian
bukti (relevansi) dgn hipoteis yg diperlukan
sbg landasan perlu tidaknya pengembangan
bukti lebih lanjut.

Dalam malakukan evaluasi bukti perlu menilai


kualitas bukti dan kuantitas bukti yang
diperoleh.
Kualitas Bukti
Relevansi
Materialitas
Kompetensi
RELEVANSI

Bukti dianggap cukup relevan jika bukti tersebut


merupakan salah satu bagian dari rangkaian bukti-
bukti yang menggambarkan suatu proses kejadian
atau jika bukti tersebut secara tidak langsung
menunjukkan kenyataan dilakukan atau tidak
dilakukannya suatu perbuatan.

Suatu bukti mungkin awalnya dianggap tidak relevan


namun berdasarkan pengembangan lebih lanjut
ditemui relevansi bukti tersebut dalam kasus yang
ditangani.
25
MATERIALITAS

Materialitas dalam audit investigasi.


Menekankan pada hubungan bukti terhadap
sangkaan yang diindikasikan dan tidak melihat
besaran dari nilai yang terkandung dalam
bukti tersebut, karena tidak seluruh bukti
menunjukkan nilai suatu transaksi.

26
KOMPETENSI

Dalam audit investigasi, kompetensi suatu bukti tidak


hanya didasarkan pada proses pembuatannya, tetapi
juga proses perolehan bukti tersebut oleh auditor.
Bukti yang diperoleh secara illegal, tidak diterima
menurut hukum. Disamping itu, kompetensi juga
menyangkut kewenanangan auditor untuk
memperoleh bukti. Bukti-bukti yang secara hukum
bersifat rahasia, umumnya tidak kompeten, kecuali
didukung dng bukti lain yang secara hukum dapat
diterima.

27
KUANTITAS BUKTI

Dalam audit investigasi, kuantitas bukti yang


diperoleh dianggap cukup apabila bukti
tersebut dapat menggambarkan apa, siapa,
dimana, bilamana, dan bagaimana suatu
kejadian / tindak pidana dilakukan.

28
PELAPORAN

Pengungkapan atas arti penting


Kegunaan informasi dan ketepatan waktu
Obyektifitas informasi yg disajikan
Tingkat keyakinan penyajian
Ringkas, sederhana namun jelas dan lengkap

29
Dasar Hukum
KUHP
Pasal 378 KUHP, yang berbunyi sebagai berikut:
"Barang siapa dengan maksud untuk
menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan
melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau
martabat palsu, dengan tipu muslihat ataupun
dengan rangkaian kebohongan menggerakkan
orang lain untuk menyerahkan sesuatu benda
kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun
menghapuskan piutang, diancam karena penipuan
dengan pidana penjara paling lama 4 tahun."