Anda di halaman 1dari 40

TEMPERATUR

Indah Yolanda
Poppi Vamella Putri
5 EGB
Perbedaan Temperatur

Perbedaan temperature adalah driving force


dimana panas di pindahkan dari sumber penerima.
Hanya temperature inlet dan outlet dari fluida panas
dan dingin yang diketahui atau dapat di ukur, dan ini
dinyatakan sebagai temperatur proses.
Koefisien Perpindahan Panas
Overall
Koefisien Perpindahan Panas
Overall
Dengan cara ini diantara beberapa temperature umum T fluida panas dan
beberapa temperature umum t fluida dingin, juga perlu menghitung seluruh
tahanan diantara kedua temperature.
Pada dua pipa konsentris, pipa bagian dalam sangat tipis, tahanan yang
dijumpai adalah tahan film fluida. Karena Q sama dengan t / R seperti
sebelumnya.

Dimana
adalah tahanan overall.
Biasanya menggantikan I/U untuk dimana U adalah koefisen
perpindahan panas overall.
Koefisien Perpindahan Panas
Overall
Karena pipa sesungguhnya mempunyai area perliner
foot yang berbeda pada permukaan dalam dan luar,
h1 dan h0 harus dinyatakan untuk area aliran panas
yang sama atau mereka akan tidak tepat per satuan
panjangnya.
Jika area luar inner pipa (pipa dalam A digunakan,
maka h1 harus dikalikan dengan A1/A untuk
memberikan harga h1 yang jika semula dihitung pada
basis area area A yang lebih besar diganti dengan A1.
Koefisien Perpindahan Panas
Overall
Untuk pipa dengan dinding yang tebal persamaan menjadi :

(2)
Modifikasi persamaan umum Fourier keadaan steadi yang di integrase
dapat di tulis
Q = U A t (3)
Dimana t adalah perbedaan temperature antara dua stream untuk seluruh
pernukaan A.
Koefisien Perpindahan Panas
Overall
Menggunakan penyederhanaan dengan mengabaikan tahanan dinding pipa
logam yang tipis

(4)
Dalam eksperimen yang melibatkan perpindahan panas sensibel diantara
dua fluida, pers. (2) dan (4) dapat digunakan untuk mendapatkan koefisien
film individu dari koefisien film overall U hanya jika ada beberapa cara
tambahan, untuk koefisien film lainnya.
Untungnya, kondensasi steam dapat memberikan pengabaian tahanan,
sehingga hi dan ho biasanya dapat ditentukan secara individu dengan
keakuratan yang sesuai dari eksperimen yang menggunakan salah satu dari
fluida dan steam.
Koefisien Perpindahan Panas
Overall
Kemudian persamaan (3) digunakan untuk
menghitung area total atau panjang jalur yang
diperlukan bila Q diberikan dan t dihitung dari
temperatur proses.
Bila temperatur proses dari kedua stream ditentukan,
total perpindahan panas Q Btu/jam juga ditentukan,
dengan :
Q = wc (t2 t1) = WC(T2 T1).
Koefisien Film Pengontrol

Bila tahan logam pipa kecil dibandingkan jumlah


tahanan kedua koefisien film, dan biasanya dapat
diabaikan. Bila satu koefisien film lebih kecil dan
lainnya sangat besar, koefisien yang kecil memberikan
tahanan utama dan koefisien yang kecil memberikan
tahanan utama dan koefisien perpindahan panas
overall untuk peralatan sangat hampir berbanding
terbalik dengan tahanan utama.
Koefisien Film Pengontrol
Andaikata
h1 (A1/A) = 10
h0 = 1000 Btu/(jam)(ft2)(oF),
R1 = 1/10 = 0 ,1
R0 = 1/1000 = 0,001
= 0,01.
Perubahan 50% pada Ro pengaruhnya tidak besar, karena harga h0 =
500 akan merubah hanya dari 0,101 ke 0,102.
Bila perbedaan yang ada berarti, koefisien yang lebih kecil adalah
koefisien film pengontrol.
Logaritma Rata- Rata Perbedaan
Temperatur : Counterflow
Pada persamaan : dQ = U (T t) adL (1)
dimana a adalah ft2 permukaan per ft panjang pipa
atau
adL = Da
Dari diferensial neraca panas
dQ = WCdT = wcdt (2)
dimana Q adalah batas selama dQ bervariasi dari 0 ke
Q.
Logaritma Rata- Rata Perbedaan
Temperatur : Counterflow
Pada sebuah titik dalam pipa dari kiri ke kanan panas
yang dicapai oleh fluida dingin sama dengan panas yang
diberikan oleh fluida panas. Menetapkan neraca dari L
= 0 ke L = X.
WC ( T T2 ) = wc ( t t1) (3)
Dimana

T = T2 + ( t t1 )

Logaritma Rata- Rata Perbedaan
Temperatur : Counterflow
Dari persamaan (11) dan (2) disubtitusikan untuk T,

dQ = wcdt = U, [ T2 + ( t t1 ) t ] adL

t dan L hanya variavel. Pengumpulan suku-suku t dan L

=
+{ ]
Logaritma Rata- Rata Perbedaan
Temperatur : Counterflow
Walaupun perpindahan panas kedua fluida dalam peralatan pipa konsentris dengan
aliran paralel atau counterflow, arah relatif kedua fluida mempengaruhi harga
perbedaan tempratur. Masalah ini tidak dapat lebih ditegaskan : pola aliran yang
dibentuk oleh dua fluida harus diinterifikasi dengan perbedaan temperaturnya yang
unik. Untuk penurunan perbedaan temperatur diantara dua fluida pada gambar
dalam counterflow, harus dibuat asumsi-asumsi berikut :
Koefisien perpindahan panas overall U konstan diseluruh panjang pipa.
Pound per jam aliran fluida adalah konstan, yang mematuhi syarat keadaan steadi.
Panas spesifik adalh konstan diseluruh pola aliran yang panjang.
Tidak terdapat perubahan sebagian fasa dalam system yaitu penguapan atau kondensasi.
Penurunan dapat digunakan untuk panas sensible yang berubah dan bila penguapan atau
kondensasi adalah isothermal disepanjang aliran.
Panas yang hilang diabaikan.
Logaritma Rata- Rata Perbedaan
Temperatur : Counterflow
1
1+1 = 1 + 1
1
Integral diantara Q dan L serta diantara t1 dan t2

1 1+ 1 2
= ln
1 1+ 1 1

Untuk penyerdehanaan seperti ini subtitusikan T2 dari


persamaan (3)
1 12
= ln
1 21

Logaritma Rata- Rata Perbedaan
Temperatur : Counterflow
Gantikan wc/WC dari persamaan (3)

= ln



= ln


Karena wc (t2-t1) = 0 dan gantikan t2 dan t1 untuk
perbedaan temperature terminal panas dan dingin T1 - t2 dan
T1 t1, maka

Q = UA (4)
( )

Logaritma Rata- Rata Perbedaan
Temperatur : Counterflow
Jika perbedaan diantara kedua terminal t2 t1 ditulis agar positif
maka rasio kedua terminal diambil dengan orde nama yang secara
numeric lebih besar dari satu dan kebingungan akibat tanda
negative menjadi hilang. Ekspresi dalam tanda kurung persamaan
(4) juga adalah logaritma rata rata atau log mean temperature
difference dan disingkat dengan LMTD.
Persamaan (4) untuk counterflow
Q = U A = UA X LMTD (4a)
Dan
()
= LMTD = =
()/( ) ( )

Logaritma Rata- Rata Perbedaan
Temperatur : Counterflow
Aliran Paralel
Berdasarkan gambar 2 untuk kasus dimana kedua fluida mengalir dengan arah yang sama,
persamaan dasar pada dasarnya sama. Untuk keadaan steadi
dQ = U (T t)adt
tetapi
dQ = WCdT = -wcdt
karena t mengecil dengan arah pertambahan harga T. Menetapkan neraca panas diantara X dan
sebelah kiri,
WC (T T2) = wc (t2 t1)
Kemudian menganggap perbedaan terminal panas 2 = T1 t1 sebagai perbedaan
temperature yang lebih besar dan 1 = 2 2 sebagai perbedaan temperature yang lebih
kecil, hasilnya adalah
()
Q = UA = UA
()/( )
Hubungan Antara Aliran Paralel
dan Counterflow
Ini dapat terlihat dari bentuk akhir penurunan untuk kedua
susunan aliran sehingga sedikit memilih diantra keduanya.
Contoh berikut mendemonstrasikan bahwa kecuali satu
fluida adalah isothermal (seperti kondensasi steam) terdapat
suatu kerugian termal yang nyata untuk penggunaan aliran
parallel.
Soal :
Fluida panas masuk peralatan pipa konsentris pada temperature 300
0F dengan fluida dingin yang masuk pada 100 0F dan di panaskan
ke 150 0F. Apakah mereka dapat di lakukan dalam aliran parallel
atau counterflow ?
Hubungan Antara Aliran Paralel
dan Counterflow
Penyelesaian :
Ini cocok untuk menulis temperature dalam bentuk yang digunakan disini dan untuk
mendapatkan log rata rata selalu agak kecil dari arimatik rata- rata (2 /1 ) / 2
Counterflow
Fluida panas - Fluida dingin
T1 300 - 150 t2 = 150 2
T2 200 - 100 t1 = 100 1
50 (2 1)
2 1
LMTD =
2,3 log 2 / 1

50
= = 123,5 0F
2,3 log 150 / 100
Hubungan Antara Aliran Paralel
dan Counterflow
Aliran parallel
Fluida panas - Fluida dingin
T1 300 - 100 t2 = 200 2
T2 200 - 150 t1 = 50 1
150 (2 1)
2 1
LMTD = 2,3 log 2 / 1
50
= = 108 0F
2,3 log 200 / 50
LMTD untuk temperature proses yang sama pada aliran parallel lebih kecil dari
pada untuk counterflow.
Hubungan Antara Aliran Paralel
dan Counterflow
Contoh Perhitungan LMTD dengan temperature outlet yang sama.
Fluida panas masuk peralatan pipa konsentris pada temperature 300 0F dan didinginkan ke 200
0F dengan fluida dingin masuk pada 150 0F dan dipanaskan ke 200 0F.

Penyelesaian :
Counterflow
Fluida panas - Fluida dingin
T1 300 - 200 t2 = 100 2
T2 200 - 150 t1 = 50 1
50 (2 1)
2 1
LMTD =
2,3 log 2 / 1
50
= = 72 0F
2,3 log 100 / 50
Hubungan Antara Aliran Paralel
dan Counterflow
Aliran parallel
Fluida panas - Fluida dingin
T1 300 - 150 t2 = 150 2
T2 200 - 200 t1 = 0 1
150 (2 1)
2 1
LMTD = 2,3 log 2 / 1
50
= =0
2,3 log 150 / 0
Hubungan Antara Aliran Paralel
dan Counterflow
Dalam aliran parallel temperature yang paling kecil yang secara teoritis
dapat dicapai oleh fluida panas adalah temperature outlet fluida dingin t2.
Jika temperature ini dicapai, LMTD akan menjadi nol. Dalam persamaan
Fourier Q = UA , karena Q dan U tertentu, permukaan perpindahan
panas A akan menjadi tak terhingga.
Ketidakmampuan aliran panas pada aliran parallel untuk turun dibawah
temperature outlet fluida dingin ada ditandai dengan kemampuan peralatan
aliran parallel untuk merecover panas. Andaikata ingin mendapatkan panas
sebanyak mungkin dari fluida panas dalam contoh 1 dengan menggunakan
jumlah fluida panas dan dingin yang sama seperti sebelumnya tetapi dengan
mengasumsi bahwa permukaan perpindahan panas yang ada lebih besar
Namun, aliran parallel dapat digunakan untuk fluida yang viskos (kental)
karena susunannya memungkinkan harga U yang diperoleh lebih tinggi.
Recovery Panas Dalam
Counterflow
Peralatan counterflow yang sering kali ada mempunyai pajang L tertentu dan
permukaan A yang tetap. Dua stream proses yang ada dengan temperature inlet
T1. T1 dan laju aliran serta panas spesifik W, C dan w, c.
1 2 (2 1 )
Wc (t2 t1) = UA
ln 1 2 /(2 1 )

Disusun

1 2 1 2
Ln = 1 (1)
(2 1 ) (2 1 )

Karena WC( 1 2 = wc (2 1 ) , wc/WC = 1 2 / (2 1 ) ini


berarti bahwa rasio range temperatur dapat ditetapkan tanpa bantuan temparatur
kerja sesungguhnya. Rasio unik ini disebut dengan R tanpa subscript.
Recovery Panas Dalam
Counterflow
1 2
R= =
(2 1 )

Substitusikan dalam pers. (1) dan menghilangkan logarithm,


1 2
= e (UA/wc) (R-1) (2)
(2 1 )

Untuk mendapatkan ekspresi T2 sendiri


1 2
t2 = t1 +

substitusikan dalam pers. (2) dan menyelesaikan,


1
1 1 +1[ ]
T2 = (3)
1 1
Recovery Panas Dalam
Counterflow
Untuk aliran parallel menjadi


+1 +1
+ 1 +[ 1]1
T2 = (4)
+1 +1

T2 dapat diperoleh dari T2 dengan menggunakan neraca


panas.
WC(T1 - T2) = wc(t2- t1)
Temperature Kalorik Atau Fluida
Rata-rata

Untuk LMTD, yang pertama adalah subjek untuk deviasi yang


paling besar yaitu koefisien perpindahan panas overall U.
Dalam pertukaran panas fluida-fluida, fluida panas mempunyai
viskositas masuk menjadi lebih besar selama pendinginan fluida.
Fluida dingin counterflow masuk dengan viskositas yang
mengecil selama fluida tersebut dipanaskan.
Ini adalah terminal panas (T1 - T2) dan terminal dingin (t2 t1),
dan harga ho dan hi (Aj /A) bervariasi sepanjang pipa akan
menghasilkan U yang lebih besar pada terminal panas dari pada
terminal dingin.
Temperature Kalorik Atau Fluida
Rata-rata

Asumsi :
Variasi U ditentukan dengan ekspresi U = a(1 + bt)
Aliran berat konstan
Panas spesifik konstan
Tidak ada perubahan sebagian fase.

Pada perpindahan keseluruhan


Q = wc(t2- t1) = WC(T1 - T2)
Karena R = wc/WC = (T1 - T2) /(t2- t1) atau disamakan seperti pada gambar 5.1,
T1 2
R=
(t21 )
Temperature Kalorik Atau Fluida
Rata-rata

Karena panas untuk diferensial area dA ditentukan


dengan
dQ = U (T-t)dA = wcdt
dimana U adalah harga rata-rata untuk pertambahannya

atau =
()
Temperature Kalorik Atau Fluida
Rata-rata

karena U = a (1 + bt), substitusi untuk U.



=
(1+ )()
Dari neraca panas didapatkan ekspresi T dalam suku t dan
memisahkan menjadi bagian-bagian
1 2 1
= (1)
(1 ) 1 2 1 + 1 1+

Pengintegrasian,
1 + 1 1+ 2
(1 2 +1 )
2 1+ 1 2 1+ = (2)
2 1 1 1
Temperature Kalorik Atau Fluida
Rata-rata

U1=a(1+bt1) U2=a(1+bt2)
Seperti sebelumnya,
t1=T2-t1 t1=T1-t2

Dan memfaktorkan pers. (2)

2 1 1 2
= (3)
1 2 2 1 2 1
Menggabungkan dengan Q = wc(t2-t1),
1 2 2 1
= (4)
ln 1 2 /1 2
Temperature Dinding Pipa

Temperature dinding pipa dapat dihitung dari temperature kalorik


bila h1 dan h0 diketahui. Berdasarkan gambar 5.3 ini biasanya
mengabaikan perbedaan temperature yang melintasi logam pipa tw-
tp dan menganggap seluruh pipa temperature permukaan luar
dinding tw. jika temperature kalorik bagian luar adalah Tc dan
temperature kalorik bagian dalam tc serta 1/Ri0= hi0= h1(A1/A) =
h1 x (ID/OD), dalam subscript 10 menyatakan harga koefisien
pipa bagian dalam yang menunjukkan permukaan luar pipa.


Q= = = (1)
0 +0 0
Temperature Dinding Pipa

Menggantikan tahanan dalam dua suku terakhir dengan koefisien film


1 = 1/0
(2)
+1/0
0

Menyelesaikan untuk tw
0
tw = tc + ( ) (3)
0 +0

Dan
0
tw = tc - ( ) (4)
0 +0
Temperature Dinding Pipa

bila fluida panas dibagian dalam pipa, menjadi



tw = tc + ( ) (5)
0 +0

dan
0
tw = Tc + ( ) (6)
0 +0
Gambaran Pemanasan dan
Pendinginan Isothermal

Pada aliran streamline bila mengalir secara isothermal,


distribusi kecepatan dianggap parabolic. Bila sejumlah
liquid tertentu dipanaskan secara mengalir disepanjang
pipa, viskositas di dekat dinding pipa lebih kecil dari
pada bagian terbesar fluida. Fluida dekat dinding
mengalir dengan kecepatan yang lebih tinggi dari pada
fluida yang mengalir dalam aliran isothermal dan
membatasi distribusi kecepatan parabolic.
Gambaran Pemanasan dan
Pendinginan Isothermal

Jika liquid didinginkan, terjadi kebalikan : fluida dekat


dinding mengalir dengan kecepatan lebih rendah dari
pada dalam aliran isothermal, menghasilkan distribusi
kecepatan yang ditujukan untuk pendinginan. Untuk
liquid yang mengalir lebih cepat pada dinding selama
pemanasan sebaagian besar liquid dekat sumbu pusat
pipa harus mengalir kea rah dinding untuk menjaga
petambahan kecepatan.
Gambaran Pemanasan dan
Pendinginan Isothermal

Ini adalah komponen kecepatan radial yang sebenarnya membatasi sifat


aliran streamline. Jika pemanasan oil dalam suatu range temperature
tertentu diplotkan seperti pada gambar 3.10 bersama dengan data untuk
pendinginan oil dalam range temperature yang sama, diperoleh dua titik
family.
Gambaran Pemanasan dan
Pendinginan Isothermal

Data pada pemanasan memberikan koefisien perpindahan panas


yang lebih besar dari pada pendinginan. Colburn melakukan
perubahan data pemanasan dan pendinginan untuk garis
isothermal tunggal.
aliran stream:

tf = tav + (tw-tav) (1)

aliran turbulen:
tf = tav + 1/2 (tw-tav) (2)