Anda di halaman 1dari 22

PEMERIKSAAN AKUNTANSI 1

Nama Kelompok 1:
Herni Yulia (0814190100)
Putri Dwi Jayanti (0814190125)
Marety Yanty Sukmadewi (0814190180)
Nurbaity (0814190216)
Sudomo Silaban (0814190359)
M. Taufan Samudera (0714190357)
PENDAHULUAN
Setiap akuntan publik pada umumnya harus
mengenal, mengetahui & memiliki suatu etika dan
independensi yang profesional.
Karena kebutuhan akan etika dalam masyarakat
cukup penting, sehingga banyak etika yang umum
dimasukkan ke dalam undang-undang dengan
tujuan akuntan publik dapat menerapkan etika-etika
profesionalnya dalam kemasyarakatan
Etika dan independensi serta persyaratan etis
lain untuk akuntan publik disesuaikan dengan Kode
Perilaku Profesional dari AICPA/IAI, karena dengan
adanya kode perilaku tersebut maka diharapkan
seorang akuntan publik dapat memiliki dan
menerapkan nilai-nilai etika profesional.
ETIKA PROFESIONAL
Apakah Etika itu ?

Etika (ethics) sebagai serangkaian prinsip atau nilai moral.


Berikut ini adalah enam nilai inti etis mengenai perilaku etis menurut
Josephson Institute :
1. Dapat dipercaya mencakup kejujuran, integritas, reliabilitas dan loyalitas
2. Penghargaan mencakup gagasan seperti kehormatan, kesopansantunn.
3. Pertanggungjawaban berarti bertanggung jawab atas tindakan seseorang.
4. Kelayakan mencakup isu-isu tentang kesamaan penilaian, stkap tidak
memihak.
5. Perhatian berarti sunguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan pihak
lain.
6. Kewarganegaraan termasuk kepatuhan terhadap undang-undang.

Ada dua alasan utama mengapa seseorang bertindak tidak etis :


1. Standar etika seseorang berbeda dengan masyarakat umum.
2. Orang memilih untuk bertindak mementingkan diri sendiri.
DILEMA ETIKA

Dilema etika situasi yang dihadapi oleh seseorang dimana ia


harus mengambil keputusan tentang perilaku yang tepat.

Ada cara-cara alternatif untuk menyelesaikan dilema etika, tetapi kita harus hati-hati untuk
menghindari metode yang merasionalkan perilaku etis.
Berikut ini adalah metode-metode rasionalisasi yang sering digunakan, yang dengan mudah dapat
mengakibatkan tindakan tidak etis:

1. Setiap orang melakukannya


2. Jika sah menurut hukum, hal itu etis
3. Kemungkinan Penemuan dan Konsekuensinya

Berikut pendekatan-pendekatan untuk menyelesaikan suatu dilema etika :

1. Memperoleh fakta yang relefan.


2. Mengidentifikasi isu-isu etis berdasarkan fakta tersebut.
3. Menentukan siapa yang akan terpengaruh oleh akibat dari dilema tersebut
dan bagaimana setiap orang atau kelompok itu terpengaruhi.
4. Mengidentifikasi berbagai alternatif
5. Mengidentifikasi konsekuensi yang mungkin terjadi dari setiap alternatif.
6. Memutuskan tindakan yang tepat
KEBUTUHAN KHUSUS AKAN PERILAKU ETIS
DALAM PROFESI
Seorang profesional diharapkan dapat berprilaku pada tingkat yang
lebih tinggi dari yang dilakukan oleh sebagian besar anggota
masyarakat lain.

Arti istilah profesional adalah tanggung jawab untuk bertindak lebih


dari sekedar memenuhi tanggung jawab diri sendiri maupun ketentuan
hukum dan peraturan masyarakat.

Alasan utama mengharapkan tingkat perilaku yang tinggi oleh setiap


profesional yang tinggi oleh setiap profesi adalah kebutuhan akan
kepercayaan publik atas kualitas jasa yang diberikan oleh profesi,
tanpa memandang individu yang menyediakan jasa tersebut.

Kantor Akuntan Publik (KAP) memiliki hubungan khusus dengan para


pemakai laporan keuangan yang berbeda dengan bentuk hubungan
antara profesional lain dengan para pemakai jasanya.
Gambar 4-2. Cara-cara profesi dan masyarakat mendorong akuntan publik berprilaku pada tingkat
yang tinggi.
GAAS dan
interprestasi
Persyaratan
Ujian CPA pendidikan yang
berkelanjutan

Pengendalian Kewajiban
mutu Perilaku hukum
personil
KAP

Peer review seksi praktik


AICPA

PCAOB dan Kode Perilaku


SEC Profesional

Dua faktor yang paling berpengaruh ditunjukan pada warna orange.


Kode Perilaku Profesional berarti memberikan standar prilaku kepada semua anggota AICPA.
PCAOB berwenang untuk menetapkan standar etika dan independensi bagi auditor perusahaan
publik, dan SEC juga memainkan peran yang penting dalam menetapkan standar independensi bagi
auditor perusahaan publik.
KODE PERILAKU PROFESIONAL
kode etik ini terdiri dari empat bagian :
1. Prinsip-prinsip Etis :
a. tanggung jawab
b. kepentingan publik
c. integritas
d. objektifitas dan independensi
e. keseksamaan
f. ruang lingkup dan sifat jasa

2. Peraturan Prilaku
mencakup peraturan khusus yang harus dipatuhi oleh setiap akuntan publik
dalam praktik akuntansi publik. Perbedaaan antara standar perilaku yang tersusun dalam
peraturan perilaku, apabila para praktisi berprilaku pada tingkat minimum maka hal itu tidak
menyiratkan perilaku yang tidak memuaskan. Profesi telah menyusun standar yang cukup
tinggi agar standar prilaku yang minimum pun dapat memuaskan.

3. Interprestasi Peraturan Prilaku


kebutuhan akan interprestasi peraturan perilaku yang dipublikasikan timbul ketika beragam
pertanyaan dari para praktisi tentang peraturan yang spesifik.

4. Kaidah Etika
kaidah penjelasan oleh komite eksekutif dari divisi etika profesional tentang situasi
faktual khusus. Sejumlah besar kaidah etika dipublikasikan dalam versi yang diperluas dari
Kode Perilaku Profesional AICPA.
INDEPENDENSI
Independensi adalah peraturan perilaku yang pertama.
Nilai auditing sangat bergantung pada persepsi publik atas independensi auditor.
Independensi dalam audit berarti mengambil sudut pandang yang tidak bias. Auditor tidak
hanya harus independen dalam fakta, tetapi juga harus independen dalam penampilan.
Independensi dalam fakta ada bila auditor benar-benar mampu mempertahankan sikap
yang tidak bias sepanjang audit, sedangkan independensi dalam penampilan adalah hasil
dari interprestasi lain atas independensi ini. Bila auditor independen dalam fakta tetapi
pemakai yakin bahwa mereka menjadi penasehat untuk klien, sebagian besar nilai dari
fungsi audit telah hilang.
1. Jasa Nonaudit
Banyak dari jasa ini dilarang menurut aturan independensi SEC. Aturan baru ini
menjelaskan banyak larangan yang ada dan memperluas situasi dimana jasa tersebut tidak
diperkenankan. Berikut adalah sembilan jasa yang tidak diperkenankan :
1. Jasa pembukuan dan akuntansi lain.
2. Perancangan dan implementasi sistem informasi keuangan.
3. Jasa penaksiran atau penilaian.
4. Jasa aktuarial.
5. Outsourcing audit internal.
6. Fungsi manajemen dan sumber daya manusia
7. Jasa pialang atau dealer atau penasihat investasi atau bankir investasi
8. Jasa hukum dan pakar yang tidak berkaitan dengan audit.
9. Semua jasa lain yang ditentukan oleh peraturan PCAOB sebagai tidak diperkenankan.
2. Komite Audit
adalah sejumlah angota dewan direksi perusahaan yang tanggung jawabnya termasuk
membantu auditor agar tetap independen dari manajemen.

3. Konflik yang timbul dari hubungan personalia


Penerimaan karyawan dari mantan anggota tim audit pada sebuah klien meningkatkan
masalah independensi. Kantor akuntan publik tidak dapat terus mengaudit klien tersebut jika
auditor menerima posisi itu dan telah berpartisipasi dalam setiap kapasitas audit selama satu
tahun sebelum dimulainya audit. Kantor akuntan publik bisa terus melaksanakan audit jika
mantan auditor menerima posisi seperti asisten kontroler atau akuntan tanpa tanggung jawab
utama di bidang akuntansi.

4. Rotasi Patner
Seperti yang disaratkan oleh Sarbanes-Oxley Act, aturan independensi SEC menharuskan
pimpinan dan patner audit merotasi penugasan audit sesudah lima tahun (patner yang sama
tidak akan terlibat dengan kinerja aktual audit tertentu dan kemudian kembali terlibat dengan
review pekerjaan sesudah penyelesaian audit tersebut).

5. Kepentingan Kepemilikan
Aturan SEC tentang hubungan keuangan berfokus pada perspektif penugasan dan melarang
kepemilikan pada klien audit bagi orang-orang yang dapat mempengaruhi audit. Aturan itu
melarang setiap kepemilikan oleh orang-orang yang terlibat dalam audit dan keluarga dekat
mereka.
Independence Standar Board (ISB)
ISB adalah sebuah badan sektor swasta, dibentuk tahun 1997 guna memberikan
kerangka kerja konseptual bagi masalah independensi yang berhubungan dengan audit
perusahaan publik. ISB dibubarkan pada tahun 2001 setelah mengadopsi aturan
independensi auditor SEC yang baru atau direvisi, karena telah memenuhi sebagian
misinya. Namun pengumuman dan interprestasi ISB yang ada tetap berlaku kecuali
bertentangan dengan aturan independensi yang dibuat oleh SEC.

Belanja Prinsip Akuntansi


SAS 50 (AU 625) merencanakan persyaratan yang harus diikuti ketika sebuah
kantor akuntan publik diminta untuk memberikan pendapat secara tertulis atau lisan
menyangkut penerapan prinsip akuntansi atau jenis pendapat audit yang akan
dikeluarkan atas transaksi khusus atau hipotesis dari klien audit kantor akuntan publik
lain. Tujuan dari persyaratan ini adalah untuk meminimalkan kemungkinan manajemen
mdngikuti praktik yang umumnya disebut belanja pendapat (opinion shopping) dan
ancaman potensial atas independensi, seperti yang telah dijelaskan.
Peraturan Perilaku dan Interpretasi
Independensi
Peraturan 101-Independensi
Semua anggota yang berpraktik untuk perusahaan publik harus
independen dalam pelaksanaan jasa profesionalnya sebagaimana
disyaratkan oleh standar yang dirumuskan lembaga yang dibentuk oleh
dewan.

Interpretasi peraturan 101 melarang anggota yang terlibat untuk


memiliki saham atau investasi langsung lainnya dalam klien audit karena
hal itu berpontensi merusak independensi audit aktual (independensi
dalam fakta), dan pasti akan mempengaruhi persepsi pemakai atas
independensi auditor
Peraturan 101 berlaku untuk anggota yang terlibat yang dapat mempengaruhi
penugasan atestasi. Anggota yang tercakup meliputi :
Orang-orang pada tim penugasan atestasi
Orang-orang yang dapat mempengaruhi penugasan atestasi, seperti
orang yang yang mengawasi / mengevaluasi partner penugasan.
Partner / manajer yang memberikan jasa nonatestasi kepada klien
Kantor akuntan dan program tunjangan karyawannya
Entitas yang dapat dikendalikan oleh setiap anggota yang terlibat tsb
diatas.

Walaupun independensi penting sekali bagi kepercayaan publik atas


akuntan publik, juga penting bahwa auditor mematuhi peraturan
perilaku lainnya

Peraturan 102 Integritas & Objektivitas


Dalam pelaksanaan setiap jasa profesional, seorang anggota harus dapat
mempertahankan objektivitas dan integritas, harus bebas dari konflik
kepentingan, dan tidak boleh dengan sengaja membuat kesalahan
penyajian atas fakta atau menyerahkan penilaiannya kepada orang lain
Peraturan Perilaku Lainnya
Ketiga Kode Standar berikutnya berhubungan dengan kepatuhan auditor pada
persyaratan standar teknis. Berikut ini adalah persyaratan dari standar teknis :
Peraturan 201-standar umum
Seseorang harus mematuhi standar berikut dan interpretasinya yang ditetapkan
oleh lembaga yang ditunjuk oleh dewan.
A. Kompetensi Profesional. Hanya mengerjakan jasa profesional dimana anggota
atau kantor anggota menganggap secara wajar dapat diselesaikan dengan
kompetensi profesional
B. Keseksamaan Profesional (due profesional care). Menggunakan kemahiran
profesional dalam pelaksanaan jasa profesional.
C. Perencanaan dan supervisi. Merencanakan dan mengawasi secara mencukupi
pelaksanaan jasa profesional.
D. Data relevan yang mencukupi. Memperoleh data relevan yang mencukupi
sebagai dasar yang layak untuk membuat kesimpulan
Peraturan 202 Ketaatan pada standar
Seorang anggota yang melaksanakan jasa audit, review, kompilasi, konsultasi
manajemen, perpajakan atau jasa profesional lainnya harus mematuhi standar
yang ditetapkan oleh lembaga yang ditunjuk oleh dewan.

Peraturan 203 Prinsip-prinsip akuntansi


Seorang anggota tidak boleh
1. Memberikan pendapat / menyatakan secara tegas bahwa laporan
keuangan / data keuangan lainnya milik suatu entitas telah disajikan
sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum atau,
2. Menyatakan bahwa ia tidak menyadari adanya modifikasi yang
material yang harus dibuat pada laporan/data tsb agar sesuai dengan
prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum, jika laporan / data
tersebut mengandung penyimpangan dari prinsip akuntansi yang
dirumuskan oleh badan yang ditunjuk oleh Dewan untuk menetapkan
prinsip semacam itu, yang mempunyai dampak material terhadap
laporan / data yang diambil secara keseluruhan. Namun, jika laporan
/ data tsb mengandung penyimpangan dan anggota dapat
memperlihatkan bahwa akibat keadaan yang tidak biasa maka tanpa
penyimpangan tsb, laporan keuangan / data itu justru akan
menyesatkan, anggota dapat mematuhi peraturan dengan menjelaskan
penyimpangannya, dampaknya bila dapat diperkirakan, dan alasan
mengapa kepatuhan terhadap prinsip-prinsip tersebut diatas akan
menghasilkan laporan yang menyesatkan.
Tujuan utama persyaratan dari Peraturan 201 hingga 203 adalah untuk
memberikan dukungan kepada ASB, PCAOB, FASB, dan badan penyusun-standar
teknis lainnya
Para praktisi dilarang keras mengungkapkan informasi rahasia yang
diperoleh dari setiap jenis penugasan tanpa persetujuan klien.
Persyaratan spesifik dari Perturan 301 yang berkaitan dengan informasi
rahasia klien (confidential client information) adalah sbb :

Peraturan 301 Informasi Rahasia Klien


Seorang anggota dalam praktik publik tidak boleh mengungkapkan setiap informasi
rahasia klien tanpa persetujuan klien. Peraturan ini tidak boleh diartikan :
1. Untuk membebaskan seorang anggota dari kewajiban profesionalnya menurut
Peraturan 202 & 203,
2. Untuk mempengaruhi dengan cara apapun kewajiban anggota memenuhi panggilan
pengadilan yang dibuat secara sah dan dapat diberlakukan,
3. Untuk menghambat review atak praktik profesional anggota menurut AICPA /
perkumpulan akuntan publik negara bagian/otorisasi Dewan Akuntansi, atau
4. Untuk menghalangi seseorang anggota mengajukan keluhan dengan, atau
menanggapi suatu penyelidikan yang dilakukan oleh, divisi etika profesional atau
dewan pengadilan institut atau badan investigatif atau disipliner dari
perkumpulan akuntan publik negara bagian atau Dewan Akuntansi.
Ada 4 pengecualian atas persyaratan kerahasiaan. Keempat pengecualian
itu berkenaan dengan tanggung jawab yang lebih penting ketimbang
mempertahankan hubungan rahasia dengan klien . .
1. Kewajiban yang berhubungan dengan standar teknis
2. Panggilan pengadilan dan ketaatan pada hukum serta peraturan.
3. Peer Review
4. Respons terhadap divisi etika.

Guna membantu akuntan publik mempertahankan objektivitas dalam melaksanakan


audit/jasa atestasi lainnya, dilarang mendasarkan fee pada hasil penugasan.
Persyaratan Peraturan 302 yang berhubungan dengan fee kontinjen diperlihatkan
berikut ini :
Peraturan 302 Fee Kontinjen.
Seorang anggota dalam praktik publik tidak boleh . .
(1). Melaksanakan jasa profesional apapun dengan fee kontinjen, atau menerima fee
semacam itu, dari klien dimana anggota/kantor akuntan anggota melakukan :
a. Audit/review atas laporan keuangan, atau
b. Kompilasi laporan keuangan ketika anggota menduga, atau secara wajar dapat
menduga bahwa pihak ketiga akan menggunakan laporan keu. Itu dan lap. kompilasi
anggota tidak mengungkapkan kurangnya independensi ; atau
c. Pemeriksaan atas informasi keuangan prospektif.
atau
(2) Menyiapkan SPT pajak yang asli atau yang telah diperbaiki/klaim atas restitusi pajak
agar mendapatkan fee kontinjen dari klien
Karena kebutuhan khusus bagi kantor akuntan untuk berperilaku
dengan cara yang profesional, Kode etika mempunyai aturan khusus yang
melarang tindakan yang dapat didiskreditkan bagi profesi

Peraturan 501 Tindakan yang Dapat Didiskreditkan


Seorang anggota tidak boleh melakukan tindakan yang dapat didiskreditkan
bagi profesinya.

Meskipun tindakan yang dapat didiskreditkan belum didefinisikan


dengan baik dalam peraturan interpretasi, berikut ini adalah beberapa dari
persyaratan tersebut :
1. Penahanan catatan klien
2. Diskriminasi dan gangguan dalam praktik karyawan.
3. Standar tentang audit pemerintah dan persyaratan badan serta agen
pemerintah.
4. Kelalaian dalam penyiapan laporan atau catatan keuangan.
5. Kelalaian mengikuti persyaratan dari badan pemerintah, komisi atau
lembaga pengatur lainnya.
6. Permohonan / pengungkapan pertanyaan dan jawaban ujian akuntan publik.
7. Kelalaian mengisi SPT pajak atau membayar kewajiban pajak.
Untuk mendorong akuntan publik berperilaku secara profesional, peraturan ini
juga melarang iklan atau permohonan yang palsu, menyesatkan, atau menipu.

Peraturan 502 Iklan dan Bentuk Permohonan Lainnya.


Seorang anggota dalam praktik publik tidak boleh berusaha memperoleh klien
dengan iklan atau bentuk permohonan lainnya dengan cara yang palsu,
meyesatkan, atau menipu. Permohonan dengan menggunakan paksaan,
melampaui batas, atau mengganggu sangat dilarang.

- KOMISI Adalah kompensasi yang dibayarkan untuk merekomendasikan /


mereferensikan produk atau jasa pihak ketiga kepada klien atau sebaliknya.

Peraturan 503 Komisi dan Fee Referal


A. Komisi yang dilarang . Seorang anggota dalam praktik publik tidak
boleh menerima komisi untuk merekomendasikan / mereferensikan
produk / jasa kepada klien, atau yang dipasok oleh klien. atau menerima
komisi apabila anggota / kantor anggota tersebut juga melakukan untuk
klien tsb. :
a) Audit/review atas laporan keuangan, atau
b) Kompilasi laporan keuangan ketika anggota menduga, atau secara
wajar dapat menduga bahwa pihak ketiga akan menggunakan laporan
keu. Itu dan lap. kompilasi anggota tidak mengungkapkan kurangnya
independensi ; atau
c) Pemeriksaan atas informasi keuangan prospektif
Larangan ini berlaku selama periode dimana anggota ditugaskan untuk
melaksanakan setiap jasa diatas dan periode yang tercakup oleh laporan
keuangan historis yang terlibat dalam jasa tersebut diatas.
B. Pengungkapan komisi yang diizinkan. Anggota dalam praktik publik yang
tidak dilarang oleh peraturan ini untuk melaksanakan jasa atau menerima
komisi dan bayaran, atau berharap mendapat komisi, harus
mengungkapkan fakta tsb kepada orang/entitas dimana anggota itu
merekomendasikan/mereferensikan suatu produk/jasa yang berkaitan
dengan komisi ini.
C. Fee Referal. Setiap anggota yang menerima fee referal untuk
merekomendasikan jasa akuntan publik kepada orang/entitas atau yang
membayar fee referal untuk memperoleh klien harus mengungkapkan
penerimaan/pembayaran semacam itu kepada klien.
Peraturan505 mengizinkanparapraktisiuntukmembentukorganisasisesuai
dengansalahsatudarienambentuk ini, sepanjanghalitudiizinkanolehhukum
negarabagian:
1. Perusahaan perorangan, 2. persekutuanumum, 3. Korporasiumum (general
corporation), 4. Korporasiprofesional, 5. Perusahaan dengankewajibanterbatas.
6. Pesekutuandengankewajibanterbatas
Peraturan 505 Bentuk dan Nama Organisasi
Anggota dapat berpraktik dalam bidang akuntansi publik hanya dalam
bentuk organisasi yang diizinkan oleh hukum atau peraturan negara bagian
yang karakteristiknya sesuai dengan resolusi Dewan.
Seorang anggota tidak boleh berpraktik dalam bidang akuntansi publik
dengan nama kantor yang menyesatkan. Nama dari satu atau lebih pemilik
lama bisa disertakan dalam nama kantor organisasi penerus.
Sebuah kantor akuntan tidak boleh menunjuk dirinya sendiri sebagai
Anggota dari AICPA kecuali semua pemilik kantor akuntan publiknya adalah
anggota dari institute itu.
Kepemilikan KAP oleh bukan akuntan publik sekarang diizinkan menurut kondisi
berikut :

Akuntan publik harus mempunyai mayoritas kepentingan keuangan


dan hak pengambilan suara pada kantor itu.
Seorang akuntan publik harus mempunyai tanggung jawab akhir
atas semua atestasi laporan keuangan, kompilasi, dan jasa lainnya
yang diberikan oleh kantor itu
Pemilik harus selalu mempunyai ekuitas dalam hak mereka sendiri.
Peraturan berikut berlaku bagi semua pemilik yang bukan akuntan
publik :
1. Mereka secara aktif harus memberikan jasa kepada klien
kantor akuntan sbg pekerjaan utamanya.
2. Mereka tidak dapat menyebutkan dirinya sebagai akuntan
publik tetapi dapat menggunakan gelar yang diizinkan oleh
hukum negara bagian seperti ketua, pemilik, pejabat, anggota,
atau pemegang saham.
3. Mereka tidak dapat memikul tanggung jawab akhir atas setiap
atestasi laporan keuangan / penugasan kompilasi
4. Mereka tidak memenuhi syarat dalam keanggotaan AICPA
tetapi harus memenuhi Kode Perilaku Profesional AICPA.
KESIMPULAN
Aktivitas profesional akuntan publik diatur oleh Kode
Perilaku Profesional AICPA, dan para auditor perusahaan
publik juga mendapat pengawasan dari PCAOB sera SEC. Hal
terpenting dari semua tanggung jawab etis akuntan publik
adalah kebutuhan akan independensi.
Peraturan perilaku dan interpretasinya memberikan
pedoman tentang kepentingan keuangan yang diizinkan dan
kepentingan lainnya guna membantu akuntan publik
mempertahankan independensi
Peraturan perilaku lainnya juga dirancang untuk
mempertahankan kepercayaan publik atas profesi akuntan
publik. Tanggung jawab etis akuntan publik diberlakukan oleh
AICPA untuk para anggotanya dan oleh dewan akuntansi
negara bagian bagi akuntan publik yang memiliki lisensi.