Anda di halaman 1dari 31

Oleh :

Kelompok 3
Anggota kelompok

SITTI DINIARSYI (1511216013)
ERA AFRIANI (1511216065)
DINA HANIFAH (1611211014)
NURUL HANIFA (1611211032)
LATHIFAH NISA (1611211046)
LIDYA SARI (1611211054)
MERLA RAMADONA (1611211058)
Pengertian

Filariasis (penyakit kaki gajah) atau juga dikenal
dengan elephantiasis adalah suatu infeksi sistemik
yang disebabkan oleh cacing filaria yang hidup
dalam saluran limfe dan kelenjar limfe manusia yang
ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini bersifat
menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan
pengobatan akan menimbulkan cacat menetap
berupa pembesaran kaki, lengan, dan alat kelamin
baik perempuan maupun laki-laki.
Cacing filaria berasal dari kelas Secernentea,
filum Nematoda. Tiga spesies filaria yang

menimbulkan infeksi pada manusia
adalah Wuchereria bancrofti, Brugia malayi,
dan Brugia timori (Elmer R. Noble & Glenn A.
Noble, 1989). Parasit filaria ditularkan melalui
gigitan berbagai spesies nyamuk, memiliki
stadium larva, dan siklus hidup yang kompleks.
Anak dari cacing dewasa disebut mikrofilaria
GEJALA KLINIS

Gejala klinis filariasis terdiri dari gejala klinis akut
dan kronis.Pada dasarnya gejala klinis filariasis yang
disebabkan oleh infeksi Wucheriabancrofti, Brugia
malayi dan Brugia timori adalah sama, tetapi gejala
klinis akut tampak lebih jelas dan lebih berat pada
infeksi oleh B.malayi dan B.timori.
infeksiW. Bancrofti dapat menyebabkan kelainan
pada saluran kemih dan alat kelamin, tetapi infeksi
oleh B.malayi dan B. timori tidak menimbulkan
kelainan pada saluran kemih dan alat kelamin
(DepkesRI,2008).
1. Gejala Klinis Akut
Gejala klinis akut berupa limfa denitis,limfangitis,adeno


limfangitis yang disertai demam, sakit kepala, rasa
lemah dan dapat pula terjadi abses. Abses dapat pecah
yang kemudian mengalami penyembuhan dengan
menimbulkan parut,terutama di daerah lipat paha dan
ketiak.Parut lebih sering terjadi pada infeksi B.malayi
dan B.timori dibandingkan dengan infeksiW
.brancofti,demikian juga dengan timbulnya limfangitis
dan limfadenitis. Sebaliknya, pada infeksi W. Brancofti
sering terjadi peradangan buah pelir,peradangan
epididimis dan peradangan funikulus spermatikus
(DepkesRI,2008).
2. Gejala Klinis Kronis
a. Limfedema

Pada infeksi W. brancofti terjadi pembengkakan seluruh
kaki, seluruh lengan, skrotum, penis, vulva, vagina, dan
payudara, sedangkan pada infeksi Brugia, terjadi
pembengkakan kaki di bawah lutut, lengan di bawah
siku dimana siku dan lutut masih normal (Depkes
RI,2008).
b. Lymph Scrotum
Lymphscrotum pelebaran saluran limfe superfisial pada

kulit scrotum, kadang kadang pada kulit penis,sehingga
saluran limfe tersebut mudah pecah dan cairan limfe
mengalir keluar dan membasahi pakaian. Ditemukan
juga lepuh (vesicles)besardankecilpadakulit,yang dapat
pecah danmembasahi pakaian, halini mempunyai risiko
tinggi terjadinya infeksi ulang oleh bakteri dan jamur,
serangan akut berulang dan dapat berkembang menjadi
limfedemaskrotum. Ukuran skrotum kadang-kadang
normal kadang-kadang membesar (Notoatmodjo,1997)
c. Kiluria
Kiluria adalah kebocoran atau pecahnya saluran limfe


dan pembuluh darah diginjal (pelvisrenal) oleh cacing
filaria dewasa spesies W. brancofti, sehingga cairan limfe
dan darah masuk kedalam saluran kemih.Gejala yang
timbul pada kiluria adalah air kencing seperti susu,
karena banyak mengandung lemak dan kadang-kadang
disertai darah(haematuria), sukar kencing,kelelahan
tubuh, kehilangan berat badan (DepkesRI, 2008).
d. Hidrokel
Hidrokel adalah pembengkakan kantung buah pelir
karena terkumpulnya cairan limfe didalam tunica

vaginalis testis.Hidrokel dapat terjadi pada satu atau
dua kantung buah pelir,dengan gambaran klinis dan
epidemiologis sebagai berikut:
1. Ukuran skrotum kadang-kadang normal tetapi kadang-
kadang sangat besar sekali, sehingga penis tertarik dan
tersembunyi.
2. Kulit pada skrotum normal, lunak dan halus.
3. Akumulasi cairan limfe disertai dengan komplikasi yaitu
Chyle (Chylocele), darah(haematocele) atau nanah (pyocele).
Uji transiluminasi dapat digunakan untuk membedakan
hidrokel dengan komplikasi dan hidrokel tanpa
komplikasi.Uji transiluminasi ini dapat dikerjakan oleh
dokter Puskesmas yang sudah dilatih.
DIAGNOSIS

Diagnosis pasti ditegakkan dengan ditemukannya
mikrofilaria dalam darah tepi,kiluria,
eksudat,variseslimpe dan cairan limpe dan cairan
hidrokel atau ditemukannya cacing dewasa pada
biopsi kelenjar limfe atau pada penyinaran
didapatkan cacing yang sedang mengadakan
kalsifikasi.Sebagai diagnosis pembantu pemeriksaan
darah menunjukkan adanya eosinofili antara 5-15%.
Juga tes intradermal dan tes fiksasikomplemen dapat
membantu menegakkan diagnosis.
PATOGENESIS

Perkembangan klinis filariasis dipengaruhi oleh
faktor kerentanan individu terhadap parasit,
seringnya mendapat tusukan nyamuk, banyaknya
larva infektif yang masuk ke dalam tubuh dan adanya
infeksi sekunder oleh bakteri atau jamur. Secara umum
perkembangan klinis filariasis dapat dibagi menjadi
fase dini dan fase lanjut.
FAKTOR-FAKTOR RISIKO
KEJADIAN
FILARIASIS

1. Faktor Agent
Filariasis di Indonesia disebabkan oleh tiga
spesies cacing filaria, yaitu W. bancrofti, B. malayi, B.
timori. Cacing filaria (Nematoda:Filarioidea) baik limfatik
maupun non limfatik.
Daerah endemis filariasis pada umumnya adalah
daerah dataran rendah, terutama di pedesaan, pantai,
pedalaman, persawahan, rawa-rawa dan hutan. Secara
umum, filariasis W. bancrofti tersebar di Sumatera,
Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku
dan Papua.

Secara epidemiologi cacing filaria dibagi menjadi 6 tipe,
yaitu :
a. Wuchereria bancrofti tipe perkotaan (urban)
b. Wuchereria bancrofti tipe pedesaan (rural)
c. Brugia malayi tipe periodik nokturna
d. Brugia malayi tipe subperiodik nokturna
e. Brugia malayi tipe non periodik
f. Brugia timori tipe periodik nokturna

Secara umum daur hidup spesies cacing tersebut tidak
berbeda. Daur hidup parasit terjadi di dalam tubuh
manusia dan tubuh nyamuk. Cacing dewasa
(makrofilaria) hidup di saluran dan kelenjar limfe,
sedangkan anaknya (mikrofilaria) ada di dalam sistem
peredaran darah
2. Faktor Manusia dan Nyamuk (Host)
a. Manusia
1) Karakteristik Individu

Karakteristik individu merupakan ciri-ciri yang dimiliki
oleh seseorang yang berhubungan dengan semua aspek
kehidupan dengan lingkungannya. Karakteristik tersebut
terbentuk oleh faktor-faktor biologis dan sosiopsikologis.

2) Faktor Perilaku
Terdiri dari beberapa faktor :
a) Pengetahuan
b) Sikap
c) Tindakan

b. Nyamuk
Di Indonesia hingga saat ini telah teridentifikasi
23 spesies nyamuk dari 5 genus yaitu : Mansonia,
Anopheles, Culex, Aedes dan Armigeres. Nyamuk
termasuk serangga yang melangsungkan siklus
kehidupan di air. Kelangsungan hidup nyamuk akan
terputus apabila tidak ada air. Nyamuk dewasa sekali
bertelur sebanyak 100-300 butir, besar telur sekitar 0,5
mm. Setelah 1-2 hari menetas menjadi jentik, 8-10 hari
menjadi kepompong (pupa), dan 1-2 hari menjadi
nyamuk dewasa (Depkes RI, 2008).

3. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan dapat menunjang kelangsungan
hidup hospes. Hospes reservoir dan vektor filariasis
yang ada di suatu daerah endemis dapat diduga
jenisnya dengan melihat keadaan lingkungan. Untuk
pencegahan filariasis hingga sekarang hanya dilakukan
dengan menghindari gigitan nyamuk.

Secara umum lingkungan dapat dibedakan menjadi
lingkungan fisik, lingkungan biologik dan lingkungan
sosial, ekonomi dan budaya (Depkes RI, 2008)
a. Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik mencakup antara lain keadaan
iklim, keadaan geografis, struktur geologi, suhu,
kelembaban dan sebagainya.
b. Lingkungan Biologik
Lingkungan biologik dapat mempengaruhi populasi

baik larva maupun nyamuk dewasa. Lingkungan biologik
yang dimaksud seperti biota air baik tumbuh-tumbuhan
maupun hewan di dalam tempat perindukan. Cx.
quinquefasciatus menyukai tempat-tempat yang ada sinar
matahari sebagai tempat perkembangbiakan. Contoh
lingkungan biologik yang mendukung keberadaan
nyamuk Cx. quinquefasciatus adalah keberadaan semak-
semak dan tanaman air Adanya berbagai jenis ikan
pemakan larva seperti ikan kepala timah (Panchax spp),
gambusia, nila, mujair dan lain-lain akan mempengaruhi
populasi nyamuk di suatu daerah.
c. Lingkungan Kimia
Dari lingkungan

ini yang baru diketahui
pengaruhnya adalah kadar garam dari tempat
perkembangbiakan. Sebagai contoh An. sundaicus
tumbuh optimal pada air payau yang kadar garamnya
berkisar antara 12 18% dan tidak dapat berkembang biak
pada kadar garam 40% ke atas, meskipun dibeberapa
tempat di Sumatera Utara An. sundaicus sudah ditemukan
pula dalam air tawar. An. letifer dapat hidup ditempat
yang asam.
d. Lingkungan Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Lingkungan sosial, ekonomi dan kultur adalah
lingkungan yang timbul sebagai akibat adanya interaksi
antar manusia, termasuk perilaku, adat istiadat, budaya,
kebiasaan dan tradisi penduduk. Kebiasaan bekerja di
kebun pada malam hari atau kebiasaan keluar pada
malam hari, atau kebiasaan tidur perlu diperhatikan
karena berkaitan dengan intensitas kontak vektor (bila
vektornya menggigit pada malam hari).
MEKANISME
TERJADINYA
FILARIASIS

Seseorang dapat tertular atau terinfeksi filariasis
apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu
nyamuk yang mengandung larva stadium III (L3). Nyamuk
tersebut mendapatkan mikrofilaria sewaktu menghisap
darah penderita atau binatang reservoar yang mengandung
mikrofilaria. Siklus penularan filariasis ini melalui dua tahap
yaitu mosquito satges atau tahap perkembangan dalam
tubuh nyamuk (vektor) dan human stages atau tahap
perkembangan dalam tubuh manusia (hospes) atau binatang
(hospes reservoar).


Di dalam tubuh nyamuk, mikrofilaria berselubung
(yang didapatkannya ketika menggigit penderita
filariasis), akan melepaskan selubung tubuhnya yang
kemudian bergerak menembus perut tengah lalu
berpindah tempat menuju otot dada nyamuk. Larva
ini disebut larva stadium I (L1).
L1 kemudian berkembang hingga menjadi L3 yang
membutuhkan waktu 12 14 hari.

L3 kemudian bergerak menuju probisis nyamuk.
Ketika nyamuk yang mengandung L3 tersebut
menggigit manusia, maka terjadi infeksi mikrofilaria
dalam tubuh .
Setelah tertular L3, pada tahap selanjutnya di dalam
tubuh manusia, L3 memasuki pembuluh limfe
dimana L3 akan tumbuh menjadi cacing dewasa,
dan berkembangbiak menghasilkan mikrofilaria
baru sehingga bertambah banyak
UPAYA PENCEGAHAN
FILARIASIS

Pencegahan filariasis dapat dilakukan dengan menghindari
gigitan nyamuk (mengurangi kontak dengan vektor) misalnya
menggunakan kelambu sewaktu tidur, menutup ventilasi dengan kasa
nyamuk, menggunakan obat nyamuk, mengoleskan kulit dengan obat
anti nyamuk, menggunakan pakaian panjang yang menutupi kulit,
tidak memakai pakaian berwarna gelap karena dapat menarik
nyamuk, dan memberikan obat anti-filariasis (DEC dan Albendazol)
secara berkala pada kelompok beresiko tinggi terutama di daerah
endemis. Dari semua cara diatas, pencegahan yang paling efektif tentu
saja dengan memberantas nyamuk itu sendiri dengan cara 3M.
UPAYA PENGOBATAN
FILARIASIS

Pengobatan filariasis harus dilakukan secara
masal dan pada daerah endemis dengan menggunakan
obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC). DEC dapat
membunuh mikrofilaria dan cacing dewasa pada
pengobatan jangka panjang. Hingga saat ini, DEC
adalah satu-satunya obat yang efektif, aman, dan relatif
murah. Untuk filariasis akibat Wuchereria bankrofti,
dosis yang dianjurkan 6 mg/kg berat badan/hari
selama 12 hari. Sedangkan untuk filariasis akibat
Brugia malayi dan Brugia timori, dosis yang dianjurkan
5 mg/kg berat badan/hari selama 10 hari.

Obat lain yang juga dipakai adalah ivermektin.
Ivermektin adalah antibiotik semisintetik dari golongan
makrolid yang mempunyai aktivitas luas terhadap
nematoda dan ektoparasit. Obat ini hanya membunuh
mikrofilaria. Efek samping yang ditimbulkan lebih
ringan dibanding DEC. Terapi suportif berupa
pemijatan juga dapat dilakukan di samping pemberian
DEC dan antibiotika, khususnya pada kasus yang
kronis. Pada kasus-kasus tertentu dapat juga dilakukan
pembedahan.
UPAYA
REHABILITASI

FILARIASIS
Penderita filariasis yang telah menjalani
pengobatan dapat sembuh total. Namun, kondisi
mereka tidak bisa pulih seperti sebelumnya. Artinya,
beberapa bagian tubuh yang membesar tidak bisa
kembali normal seperti sedia kala. Rehabilitasi tubuh
yang membesar tersebut dapat dilakukan dengan jalan
operasi.
Gambar penderita filariasis