Anda di halaman 1dari 112

PEMOTONGAN & PEMUNGUTAN

PAJAK
BENDAHARA PENGELUARAN
(WITHOLDING TAX SYSTEM)
Nama : M. BAHRUN NAWAWI

Kantor : BALAI DIKLAT KEUANGAN MALANG

Riwayat Tugas:
PUSDIKLAT PAJAK JAKARTA
KPP P JKT KEBAYORAN BARU I
KPP PRATAMA BANJARBARU
KANWIL DJP JAWA TIMUR I
KPP SURABAYA GUBENG
KPP SURABAYA TEGALSARI

No. Telp. : 08123100862 (Call)


082257482852 (SMS / WA only)

E-mail : bahrun.nawawi@gmail.com
syarat
Peserta Diklat
BERPENDAPAT
I
FLEKSIBEL
STANDAR KOMPETENSI

Mampu melakukan pemotongan dan pemungutan


pajak atas pembayaran tagihan atas belanja negara
dengan benar
KOMPETENSI DASAR

1. Menjelaskan pengertian dan ruang lingkup


pemotongan dan pemungutan pajak oleh
Bendahara;
2. Memungut dan memotong pajak penghasilan;
3. Memungut Pajak Pertambahan Nilai Barang dan
Jasa dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPN
dan PPn BM); dan
4. Mengenakan bea materai.
PPN

METERAI PASAL 21

AGENDA

PASAL 4(2) PASAL 22

PASAL 23
==TUNTUTAN ==

.....bila petugas auditor (pemeriksa) dari BPK menemukan


Bendaharawan yang lalai atau tidak melaksanakan
tugasnya, maka hal tersebut menimbulkan timbulnya
masalah hukum pada bendaharawan yang bersangkutan.
KONDISI
KEWAJIBAN PEMOTONG/PEMUNGUT PAJAK

MENDAF MEMO MEMBU AT


TARKAN TONG/ BUKTI POT MENYE MELAPOR
DIRI MEMU ONG/ TOR
NGUT PUNGUT
PEMOTONGAN / PEMUNGUTAN PAJAK
BENDAHARA PENGELUARAN

PPh
PEMBAYARAN
BENDAHARA
PENGELUARAN
PEMBAYARAN OLEH BENDAHARA PENGELUARAN

GAJI
PPh PASAL 21
TUNJANGAN
APBN /
APBD
NON GAJI PPh PASAL 21
OP
(HONOR) PPh PASAL 21 FINAL

NON T/B PPh PASAL 22 + PPN


BENDAHARA BARANG
TNH/BANG PPh PASAL 4(2) + PPN
NON KONSTRUKSI PPh PASAL 23 + PPN
JASA
KONSTRUKSI PPh PASAL 4(2)+PPN

NON TNH / BANG PPh PASAL 23 + PPN


SEWA
TANAH / BANGUN PPh PASAL 4(2)+PPN
KODE AKUN DAN JENIS SETORAN PAJAK
NO JENIS PAJAK KODE AKUN KODE JENIS SETORAN
1 PPh Pasal 21 411121 100, 402
2 PPh Pasal 22 411122 910
3 PPh Pasal 23 411124 100 ( Non Js) 104 (Js)
403 (sewa T/B) , 409 Js
4 PPh Pasal 4(2)
411128 Konstruksi
5 PPN dan PPnBM 411211 910

NO JENIS PAJAK SSP atas Nama Penyetor


1 PPh Pasal 21 Bendahara Bendahara
2 PPh Pasal 22 Penyedia Barang Bendahara
3 PPh Pasal 23 Bendahara Bendahara
4 PPh Pasal 4(2) Bendahara Bendahara
5 PPN dan PPnBM Penyedia Brg / Jasa Bendahara
SAAT JATUH TEMPO PENYETORAN & PELAPORAN
JATUH TEMPO JATUH TEMPO
NO JENIS PAJAK
PENYETORAN PELAPORAN
Paling lama tanggal 10 paling lama 20 (dua
1 PPh Pasal 21/26 bulan berikutnya setelah puluh) hari setelah Masa
Masa Pajak berakhir Pajak berakhir
Tujuh hari setelah tanggal paling lama 14 (dua
2 PPh Pasal 22 pelaksanaan pembayaran puluh) hari setelah Masa
atas penyediaan barang Pajak berakhir
Paling lama tanggal 10 paling lama 20 (dua
3 PPh Pasal 23/26 bulan berikutnya setelah puluh) hari setelah Masa
Masa Pajak berakhir Pajak berakhir
Paling lama tanggal 10 paling lama 20 (dua
4 PPh Pasal 4(2) bulan berikutnya setelah puluh) hari setelah Masa
Masa Pajak berakhir Pajak berakhir
Tujuh hari setelah tanggal
pelaksanaan pembayaran Akhir bulan berikutnya
5 PPN dan PPnBM
atas penyediaan barang / setelah masa pajak
Jasa berakhir
SURAT PEMBERITAHUAN MASA
SPT MASA

PPh PASAL 21/26 UNTUK MELAPORKAN PEMOTONGAN PPh PASAL 21 / 26


SETIAP BULAN WAJIB DILAPORKAN MESKIPUN TIDAK ADA
PEMOTONGAN PAJAK

UNTUK MELAPORKAN PEMUNGUTAN PPh PASAL 22


PPh PASAL 22 LAPORAN DISAMPAIKAN APABILA TERJADI PEMUNGUTAN SAJA

UNTUK MELAPORKAN PEMOTONGAN PPh PASAL 23 / 26


PPh PASAL 23/26 LAPORAN DISAMPAIKAN APABILA TERJADI PEMOTONGAN SAJA

PPh PASAL 4(2) UNTUK MELAPORKAN PEMOTONGAN PPh PASAL 4(2)


LAPORAN DISAMPAIKAN APABILA TERJADI PEMOTONGAN SAJA

PPN dan PPnBM UNTUK MELAPORKAN PEMUNGUTAN PPN DAN PPnBM


SETIAP BULAN WAJIB DILAPORKAN MESKIPUN TIDAK ADA
PEMUNGUTAN PPN DAN PPnBM
PEMUNGUTAN PPN DAN ATAU PPnBM
OBJEK PPN
Ps. 4 ay. (1) huruf a
PPN Ps. 4 ay. (1) huruf e
PENYER. BKP DI DLM DAERAH PEMANFAATAN JKP DR LUAR DAE-
PAB. YG DILAKUKAN PENGUSAHA D RAH PAB. DI DLM DAERAH PABEAN
I
Ps. 4 ay. (1) huruf b Ps. 4 ay. (1) huruf f
IMPOR BKP
K EKSPOR BKP BERWUJUD
E OLEH PKP
Ps. 4 ay. (1) huruf c N Ps. 4 ay. (1) huruf g
PENYER. JKP DI DLM DAERAH
PAB. YG DILAKUKAN PENGUSAHA A EKSPOR BKP TDK
BERWUJUD OLEH PKP
K
Ps. 4 ay. (1) huruf d
PEMANFAATAN. BKP TDK A
Ps. 4 ay. (1) huruf h
BERWUJUD DARI LUAR N EKSPOR JKP OLEH PKP
DI DLM DAERAH PABEAN ATAS
Ps. MEMBANGUN SENDIRI YG DILAKUKAN TIDAK DALAM
16C KEGIATAN USH/PEK. OLEH ORANG PRIBADI/BADAN
PENYER. BKP BERUPA AKTIVA YG MENRT TUJUAN SEMULA Ps.
TDK UTK DIPERJUALBELIKAN OLEH PKP, KECUALI PM-NYA TDK
16D
DPT DIKREDITKAN BERDASARKAN Ps 9 AY. (8) HURUF b & c 21
BARANG KENA PAJAK (BKP)
1. BARANG HASIL PERTAMBANGAN ATAU PENGEBORAN YANG DIAMBIL
LANGSUNG DARI SUMBERNYA

Minyak mentah (crude oil)

Gas bumi, tidak termasuk gas bumi seperti elpiji yang siap dikonsumsi langsung
oleh masyarakat

Panas bumi

Asbes, batu tulis, batu setengah permata, batu kapur, batu apung, batu permata,
bentonit, dolomit, felspar(feldspar), garam batu (halite), Grafit/andesit, gips,
kalsit, kaolin, leusit. magnesit, mika, marmer, nitrat, opsidien, oker, pasir dan
kerikil, pasir kuarsa, perlit, fosfat (phospat), talk, tanah serap (fullers earth),
tanah diatome, tanah liat, tawas (alum), tras, yarosif, zeolit, basal, dan trakkit.

Batubara sebelum diproses menjadi briket batubara; dan

Bijih besi, bijih timah, bijih emas, bijih tembaga, bijih nikel, bijih perak, serta
bijih bauksit
2. BARANG KEBUTUHAN POKOK YANG DIBUTUHKAN RAKYAT BANYAK

Beras, gabah, jagung, sagu, kedelai, garam

Daging, yaitu daging segar tanpa diolah tetapi telah melalui proses disembelih,
dikuliti, dipotong, didinginkan, dibekukan, dikemas atau tidak, digarami,
dikapur, diasamkan, diawetkan dengan cara lain, dan/atau direbus.

Telur, yaitu telur yang tdk diolah termasuk telur yang telah dibersihkan,
diasinkan atau dikemas
Susu, yaitu susu perah baik yg telah melalui proses didinginkan maupun
dipanaskan, tidak mengandung tambahan gula atau bahan lainnya, dan/atau
dikemas atau tidak
Buah-buahan, yaitu buah-buahan segar yg dipetik, baik yg telah melalui
proses dicuci, disortasi, dikupas, dipotong, diiris, di-grading, dan/atau dikemas
atau tidak dikemas.
Sayur-sayuran, yaitu sayuran segar yang dipetik, dicuci, ditiriskan, dan/atau
disimpan pada suhu rendah, termasuk sayuran segar yang dicacah
3. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran,
rumah makan, warung, dan sejenisnya, meliputi makanan
dan minuman baik yang dikonsumsi di tempat maupun
tidak, termasuk makanan dan minuman yang diserahkan
oleh usaha jasa boga atau katering

Ketentuan ini dimaksudkan untuk menghindari pengenaan pajak berganda


karena sudah merupakan objek pengenaan Pajak Daerah.

4. Uang, emas batangan, dan surat berharga

25
JASA KENA PAJAK (JKP)

Pasal 4A (3) UU PPN


JENIS JASA YG TIDAK KENA PAJAK (non JKP)
a jasa pelayanan kesehatan medis k jasa tenaga kerja
b Jasa pelayanan sosial l jasa perhotelan
c Jasa pengiriman surat dengan
perangko m jasa jasa yang disediakan
d oleh pemerintah dalam
Jasa keuangan
rangka menjalankan
e Jasa asuransi pemerintahan secara umum

f Jasa keagamaan n jasa penyediaan tempat parkir

g Jasa pendidikan o jasa telepon umum dengan


menggunakan uang logam
h Jasa kesenian & hiburan p jasa pengiriman uang dengan
wesel pos
Jasa penyiaran yang tidak bersifat
i
iklan q
jasa boga atau katering
jasa angkutan umum di darat dan di air serta jasa
j angkutan udara dalam negeri yang menjadi bagian
yang tidak terpisahkan dari jasa angkutan udara luar
negeri
Pasal 4A ayat (3) 27
PENGHITUNGAN PPN TERUTANG

PPN = Tarif X Dasar Pengenaan Pajak


10 % X JML PEMBAYARAN

Pajak Pertambahan Nilai yang terutang dihitung dengan cara mengalikan


tarif dengan Dasar Pengenaan Pajak
Pasal 10 & 11 Rumus Penghitungan PPN
Kontrak atau PPN ditulis terpisah
Perjanjian
Jika Dianggap sudah
ATAU Tidak termasuk PPN
Harga sudah
termasuk PPN
ATAU PPN = 10 . x harga/pembayaran
110
Harga termasuk Untuk penyerahan yang terutang PPN
PPN & PPnBM

PPN = 10 . x harga/pembayaran
110 PPN = 10 . x harga/pembayaran
110 + t
t = Tarif PPnBM
PPnBM = t . x harga/pembayaran
110 + t

29
OBJEK PEMUNGUTAN
setiap pembayaran atas penyerahan BKP dan/atau JKP
kecuali
1. Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp1 juta, dan tidak
merupakan jumlah yang terpecah-pecah
2. Pembayaran untuk pembebasan tanah
3. Pembayaran atas penyerahan BKP/JKP yang mendapat fasilitas
PPN tidak dipungut / dibebaskan dari pengenaan PPN
4. Pembayaran untuk penyerahan BBM dan bukan BBM oleh
Pertamina
5. Pembayaran atas rekening telepon
6. Pembayaran untuk jasa angkutan udara yang diserahkan oleh
perusahaan penerbangan
7. Pembayaran lain yang menurut ketentuan tidak terutang PPN 30
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas
Barang Mewah yang terutang sehubungan dengan
pembayaran yang jumlahnya paling banyak
Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah), dipungut dan
disetor oleh Pengusaha Kena Pajak Rekanan
Pemerintah sesuai dengan ketentuan yang berlaku
umum

31
Mekanisme Pemungutan
Faktur Pajak PKP Rekanan wajib membuat Faktur Pajak dan
& SSP SSP pada saat menyampaikan tagihan

Pemungutan PPN dilakukan pada saat pembayaran


Pemungutan dengan cara pemotongan secara langsung dari tagihan

Pelaporan dilaporkan dalam SPT Masa PPN pada masa sesuai


PKP dengan tanggal Faktur Pajak

paling lama 7 (tujuh) hari setelah tanggal pelaksanaan


Peyetoran pembayaran kepada Pengusaha Kena Pajak Rekanan

Pelaporan paling lama akhir bulan berikutnya setelah masa


Bend. pajak berakhir.
32
PEMOTONGAN PAJAK
PEMBAYARAN GAJI DAN TUNJANGAN
PPh PASAL 21 PEGAWAI TETAP

Penghasilan Bruto
Gaji, Tunjangan, Pembulatan angka

Dikurangi Dengan
1. Biaya Jabatan, 5% dari pengh. Bruto maks. Rp 6.000.000 per tahun
atau Rp 500.000 per bulan
2. Iuran pensiun (4,75% x (gaji + tunj. Klg))

PENGHASILAN NETO (SETAHUN/DISETAHUNKAN)

Dikurangi: PTKP

Penghasilan Kena Pajak


Dikenakan Tarif Pasal 17
PPh PASAL 21 YANG DIPOTONG SETIAP BULAN

MASA PAJAK
KECUALI MASA PAJAK TERAKHIR
MASA PAJAK TERAKHIR

DIHITUNG
DARI

Perkiraan Penghasilan neto Selisih antara PPh yang


yang akan diperoleh selama terutang atas seluruh
setahun penghasilan kena pajak
selama setahun dengan yang
Penghasilan teratur telah dipotong masa-masa
sebulan dikali 12 sebelumnya.
Contoh : Penghitungan PPh Pasal 21 bagi PNS yang Bekerja dari Januari
sampai dengan Desember.
Agus Sumantri, Pegawai Negeri Sipil Golongan III/c, menduduki
eselon IV.a status kawin, mempunyai 3 orang tanggungan, telah
memiliki NPWP, bekerja di Kantor Pelayanan Pemerintahan A
(KPP A), menerima penghasilan tetap dan teratur setiap bulan
sebagai berikut:
a Gaji Pokok Rp 3,244,500
b Tunjangan Istri (10%) Rp 324,450
c Tunjangan Anak (2 x 2% ) Rp 129,780
d Tunjangan Jabatan Rp 3,000,000
e Tunjangan Beras Rp 198,000
f Pembulatan Rp 43
Jumlah Penghasilan Bruto Rp 6,896,773

Perhitungan PPh Pasal 21 bulanan untuk bulan Januari s.d


November adalah sbb:
Jan-16
No Uraian
K/3
1Penghasilan Bruto Sebulan
a Gaji Pokok 3,244,500
b Tunjangan Istri (10%) 324,450
c Tunjangan Anak (2 x 2% ) 129,780
d Tunjangan Jabatan 3,000,000
e Tunjangan Beras 198,000
f Pembulatan 43
Jumlah Penghasilan Bruto 6,896,773

Pengurangan:
a Biaya Jabatan (5% x Ph. Bruto ) 344,839
b Iuran Pensiun 175,690
(4,75% x Rp. 3.698.730 )
Jumlah 520,528
3Penghasilan Netto Sebulan 6,376,245
4Penghasilan Netto setahun (x12) 76,514,936
5PTKP (K/3) 72,000,000
6Penghasilan Kena Pajak (PKP) 4,514,000
7PPh Pasal 21 Setahun 225,700
8PPh Pasal 21 Sebulan 18,808
PEMOTONGAN PAJAK
PEMBAYARAN NON GAJI
( HONORARIUM )

PNS Non PNS


PEMBAYARAN OLEH BENDAHARA PENGELUARAN

PEMBAYARAN
HONOR GOL I DAN II 0% X Ph. BRUTO
GOL III 5% X Ph. BRUTO
GOL IV 15% X Ph. BRUTO
PNS
PPh PASAL 21
PEG. TDK TETAP 5% X (Ph BRUTO 450.000 )

NON PEGAWAI 5% X 50% X Ph BRUTO


Non PNS
PESERTA KEGIATAN 5% X Ph BRUTO
BUKAN PEGAWAI
1) Tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari pengacara,
akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris;
2) Pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang
sinetron, bintang iklan, sutradara, kru film, foto model, peragawan/
peragawati, pemain drama, penari, pemahat, pelukis, dan seniman lainnya;
3) Olahragawan;
4) Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator;
5) Pengarang, peneliti, dan penerjemah;
6) Pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik, komputer dan sistem
aplikasinya, telekomunikasi, elektronika, fotografi, ekonomi, dan sosial serta
pemberi jasa kepada suatu kepanitiaan;
7) Agen iklan;
8) pengawas atau pengelola proyek;
9) pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang menjadi
perantara;
10) petugas penjaja barang dagangan;
11) petugas dinas luar asuransi;
12) distributor perusahaan multilevel marketing atau direct selling dan kegiatan
sejenis lainnya;
PESERTA KEGIATAN

1. Peserta perlombaan dalam segala bidang, antara lain


perlombaan olah raga, seni, ketangkasan, ilmu
pengetahuan, teknologi dan perlombaan lainnya;
2. Peserta rapat, konferensi, sidang, pertemuan, atau
kunjungan kerja;
3. Peserta atau anggota dalam suatu kepanitiaan
sebagai penyelenggara kegiatan tertentu;
4. Peserta pendidikan dan pelatihan;
5. Peserta kegiatan lainnya.
PEGAWAI TIDAK TETAP (HARIAN / BORONGAN)

PESERTA
BUKAN PEGAWAI
KEGIATAN

PEGAWAI TDK
TETAP ( HARIAN
/ BORONGAN )
CONTOH 01 ( PNS )
Nurul Fitriani adalah PNS golongan IV/a, pada bulan Maret 2016 menerima
honorarium sebagai nara sumber sebuah seminar yang dilaksanakan Kantor
Pelayanan Pemerintah sebesar Rp. 5.000.000,00.
Honorarium yang dibayarkan oleh Bendahara Pemerintah/Bendahara
Pengeluaran kepada PNS dikenakan PPh Pasal 21 yang bersifat final. Tarif
yang diterapkan adalah 15% sesuai dengan pangkat/golongan Nurul Fitriani.

Perhitungan PPh Pasal 21 terutang:


15% x Rp. 5.000.000,00 = Rp. 750.000,00

Catatan:
PPh Pasal 21 atas honorarium sebagai nara sumber tidak ditanggung pemerintah dan
pemotongannya bersifat final.
Bendahara pemerintah yang membayarkan honorarium wajib:
memotong PPh Pasal 21 Final dan menyetorkannya ke bank persepsi atau Kantor Pos;
membuat bukti pemotongan PPh Pasal Pasal 21 Final paling lama akhir bulan
dilakukan pembayaran;
melaporkan pemotongan PPh Pasal 21 Final melalui penyampaian SPT Masa PPh
Pasal 21. Lihat contoh Hal : 26
CONTOH 02 (PNS)

Juju Juhairiah, PNS Golongan II/d, pada tanggal 21 Maret 2016


menerima honorarium sebagai anggota Tim Kerja sebesar Rp.
1.500.000,00, selama 6 bulan.
Pembayaran honorarium kepada PNS golongan II/d dikenakan PPh
Pasal 21 yang bersifat final

PPh Pasal Final yang terutang:


0% x Rp. 1.500.000,00 = Rp. 0,00

Catatan:
Walaupun PPh Pasal 21 Final yang dipotong Rp 0,00, Bendahara
pemerintah wajib membuat bukti pemotongan PPh Pasal 21 Final
paling lama akhir bulan Maret 2011.

Lihat contoh Hal : 26


CONTOH 03 (PNS)

Bersamaan dengan Juju Juhairiah (contoh 3.2) Bendahara


Pengeluaran membayar honorarium sebesar Rp 1.500.000,00 kepada
Sersan Kepala Widiyanto, sebagai instruktur pada Pelatihan
Kesamaptaan.
Atas honorarium yang diterima oleh Serka Widyanto dikenakan PPh
Pasal 21 yang bersifat final. Pangkat Sersan Kepala termasuk dalam
jenjang Bintara, maka tarif PPh Pasal 21 yang diterapkan adalah 0%.

Perhitungan PPh Pasal 21 atas honorarium yang diterima Serka


Widiyanto adalah:

0% x Rp. 1.500.000,00 = Rp. 0,00


CONTOH 04 (UPAH HARIAN)
Nurcahyo dengan status belum menikah pada bulan Januari 2016
bekerja sebagai buruh harian Satker X untuk melakukan pengecatan
gedung. Ia bekerja selama 10 hari dan menerima upah harian sebesar Rp
450.000,00

Penghitungan PPh Pasal 21


Upah Sehari Rp 450,000
Dikurangi:
Batas Upah harian tidak dilakukan pemotongan PPh Rp 450,000
Rp -
PPh Pasal 21 dipotong atas upah sehari Rp -
CONTOH 02 DENGAN UPAH HARIAN
Nanang Hermawan (belum menikah) pada bulan Maret 2016 bekerja
pada Satker A untuk membersihkan taman dan menerima upah
sebesar Rp 650.000,00 per hari.
Penghitungan PPh Pasal 21
Upah sehari Rp 650.000,00
Upah sehari di atas Rp 450.000,00 adalah:
(Rp 650.000,00 - Rp 450.000,00) Rp 200.000,00

PPh Pasal 21 = 5% x Rp 200.000,00 = Rp 10.000,00 (harian)


CONTOH 03 DENGAN UPAH BORONGAN
Mawan mengerjakan dekorasi sebuah aula gedung satker Z dengan
upah borongan sebesar Rp 1.000.000,00, pekerjaan diselesaikan dalam 2
hari.

Upah borongan sehari ( Rp. 1.000.000 / 2 ) Rp 500,000


Upah sehari di atas Rp. 450.000
Rp. 500.000 - Rp. 450.000 Rp 50,000
Upah borongan terutang pajak
2 x Rp. 50.000 Rp 100,000
PPh Pasal 21
5% x Rp. 100.000 Rp 5,000
PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 ATAS
PENGHASILAN YANG DITERIMA OLEH
BUKAN PEGAWAI
BUKAN PEGAWAI

BERKESINAMBUNGAN, berNPWP, 1 SP
50% X (Ph Bruto) - PTKP bulanan
Kumulatif

BERKESINAMBUNGAN, tdk ber NPWP/>1 SP

50% X Ph Bruto Kumulatif

TIDAK BERKESINAMBUNGAN

50 % x Ph Bruto
CONTOH 01
CONTOH PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 ATAS PENGHASILAN YANG DITERIMA OLEH
BUKAN PEGAWAI YANG MENERIMA PENGHASILAN YANG TIDAK BERSIFAT
BERKESINAMBUNGAN.

Agus Berlianto melakukan jasa perbaikan komputer kepada Satker


Kementerian K dengan fee sebesar Rp5.000,000,00.

Besarnya PPh Pasal 21 yang terutang adalah sebesar:


5% x 50% Rp5.000.000,00 = Rp 125.000,00

Dalam hal Nashrun Barlianto tidak memiliki NPWP maka besarnya


PPh Pasal 21 yang terutang menjadi sebesar: 5% x 120% x 50%
Rp5.000.000,00 = Rp 150.000,00
CONTOH 02
Contoh 3.4: Penghitungan PPh Pasal 21 atas Pembayaran kepada Nara
Sumber.
Nashrun Berlianto Pegawai pada Kantor Akuntan Publik B menerima
honorarium sebagai nara sumber pada seminar yang dilaksanakan oleh Kantor
Instansi Pemerintah A sebesar Rp 5.000,000,00.
Nasrun Berlianto berdasarkan ketentuan di atas termasuk bukan pegawai
yang menerima imbalan tidak bersiffat berkesinambungan, maka
penghitungan PPh Pasal 21 atas imbalan yang diterima tersebut adalah sebagai
berikut.

Dasar Pengenaan PPh pasal 21 :


50% x Rp 5.000.000,00 = Rp 2.500.000,00

PPh Pasal 21
5% x Rp2.500.000,00 = Rp125.000,00

Apabila Nashrun Barlianto tidak memiliki NPWP maka besarnya PPh Pasal 21
yang terutang menjadi sebesar:
(5% x 120%) x Rp 2.500.000,00 = Rp150.000,00
CONTOH 03
Ir. Mudrofi adalah seorang arsitek, pada bulan Agustus 2015 menerima
honorarium sebesar Rp 110.000.000,00 dari Kantor Instansi Pemerintah sebagai
Instruktur pada beberapa kegiatan lokakarya. Penghitungan PPh pasal 21
terutang adalah sbb.:
Dasar Pengenaan PPh Pasal 21:
50% x Rp110 juta = Rp 55 juta

Penghitungan PPh Pasal 21 :


>> dalam hal memiliki NPWP:
5% x Rp50juta = Rp 2.500.000,00
15% x Rp5 juta = Rp 750.000,00
Rp 3.250.000,00

>> dalam hal tidak memiliki NPWP:


120% x Rp3.250 ribu = Rp3.900.000,00

Kepada Ir. Mudrofi diberikan Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 saat dilakukan
pemotongan. Selanjutnya dilaporkan dalam SPT Masa PPh Pasal 21 bulan
Agustus 2015.
CONTOH 04 Penghitungan PPh Pasal 21 atas Imbalan kepada
Bukan Pegawai yang hanya menerima penghasilan hanya dari satu
Pemberi Kerja dan bersifat Berkesinambungan.
Kantor Instansi Pemerintah A mengadakan kontrak selama setahun (dimulai
sejak Januari 2016 - Desember 2016) dengan dr. Sukamdani (memiliki NPWP) ,
spesialis penyakit dalam, (status K/0) sebagai dokter kesehatan di Poliklinik.
Imbalan per bulan dengan kehadiran empat kali dalam seminggu dibayar
sebesar Rp 20juta. Dr. Sukamdani hanya menerima penghasilan dari KIP A.

Dalam hal ini, dr. Sukamdani termasuk Bukan Pegawai yang menerima
penghasilan (berdasarkan perikatan) bersifat berkesinambungan dan hanya
menerima penghasilan dari satu pemberi kerja, maka penghitungan PPh Pasal
21 terutang adalah sebagai berikut:

DPP PPh Pasal 21 per bulan = 50% x Rp 20.000.000,00 PTKP sebulan


= Rp 10.000.000,00 - (Rp 58.500.000,00 : 12)
= Rp 10.000.000,00 Rp 4.875.000,00
= Rp 5.125.000,00
BULAN DPP DPP KUMULATIF TARIF PPh PASAL 21
Rp Rp Rp
1 5,125,000 5,125,000 5% 256,250
2 5,125,000 10,250,000 5% 256,250
3 5,125,000 15,375,000 5% 256,250
4 5,125,000 20,500,000 5% 256,250
5 5,125,000 25,625,000 5% 256,250
6 5,125,000 30,750,000 5% 256,250
7 5,125,000 35,875,000 5% 256,250
8 5,125,000 41,000,000 5% 256,250
9 5,125,000 46,125,000 5% 256,250
10 3,875,000 50,000,000 5% 193,750
1,250,000 51,250,000 15% 187,500
11 5,125,000 56,375,000 15% 768,750
12 5,125,000 61,500,000 15% 768,750
CONTOH 05 Penghitungan PPh Pasal 21 atas Imbalan kepada
Bukan Pegawai yang menerima penghasilan lebih dari satu Pemberi
Kerja dan bersifat Berkesinambungan

Kantor Instansi Pemerintah B mengadakan kontrak selama setahun


(dimulai sejak Januari 2016 - Desember 2016) dengan dr. Sukmajadi
(memiliki NPWP) , spesialis penyakit dalam, (status K/2) sebagai dokter
kesehatan di Poliklinik. Imbalan per bulan dengan kehadiran tiga kali
dalam seminggu dibayar sebesar Rp 14juta.
Dalam hal ini, dr. Sukmajadi termasuk Bukan Pegawai yang menerima
penghasilan (berdasarkan perikatan) bersifat berkesinambungan. maka
penghitungan PPh Pasal 21 terutang setiap bulan adalah sebagai
berikut:
DPP PPh Pasal 21 per bulan = 50% x Rp 14.000.000,00
= Rp 7.000.000,00
PEMOTONGAN PPH PASAL 21
ATAS PENGHASILAN YANG
DITERIMA PESERTA KEGIATAN.
CONTOH 01

Taufik Aprianto adalah seorang pemain bulutangkis


profesional yang bertempat tinggal di Indonesia. Ia menjuarai
turnamen Indonesia Open dan memperoleh hadiah sebesar Rp
100.000.000,00

PPh Pasal 21 yang terutang atas hadiah turnamen Indonesia


Terbuka tersebut adalah: 5% x Rp 100.000.000,00 = Rp
5.000.000,00
CONTOH 02

Mirna Muna adalah seorang PNS golongan III/a pada Kantor Instansi
Pemerintah A, pada bulan Agustus 2014 menerima hadiah sebagai
pemenang hadiah perlombaan penulisan karya tulis ilmiah.
Bendahara Pengeluaran membayar hadiah tersebut sebesar Rp
12.000.000,00.
Penghitungan PPh Pasal 21 terutang adalah sebagai berikut:
Mirna Muna adalah seorang PNS golongan III/a, pengenaan PPh
Pasal 21 yang terutang atas hadiah tersebut dberlaku ketentuan PP
No. 80 Tahun 2010. Dengan demikian PPh pasal 21 terutang adalah:

5% x Rp 12.000.000,00 = Rp 600.000,00
PEMUNGUTAN PAJAK
PEMBAYARAN BELANJA BARANG

1.5% X Jml. PEMBY


PPh. Pasal 22
( ex. PPN )

PPN 10% X Jml. PEMBY


BELANJA
BARANG Non Tnh / Bang

PPh Pasal 4(2) 2,5% X Jml. PEMBY

Tnh / Bang
DIKECUALIKAN DARI PEMUNGUTAN PPh PASAL 22
BENDAHARA PEMERINTAH
1. Penyerahan barang yang berdasarkan per-UU tidak terutang
Pajak Penghasilan;
2. pembayaran yang dilakukan oleh pemungut pajak yang
jumlahnya paling banyak Rp 2.000.000,00 (dua juta rupiah)
dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah;
3. pembayaran untuk:
a) pembelian bahan bakar minyak, bahan bakar gas, pelumas,
benda-benda pos;
b) pemakaian air dan listrik.
4. Pembayaran untuk pembelian barang sehubungan dengan
penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
5. WP dengan peredaran usaha kurang dari 4,8 M

Pengecualian pada Angka 1,5 Dengan SKB

Pengecualian pada Angka 2,3,4 Tanpa SKB


CONTOH 01

Bendahara Kantor Pelayanan Pemerintah membayar tagihan CV


Manda Stationary atas pembelian alat tulis kantor dengan harga
pembelian Rp 5.500.000,00 termasuk PPN 10%.

Perhitungan PPh Pasal 22 atas transaksi tersebut sbb.:


Harga Pembelian = Rp 5.500.000,00
Dikurangi PPN 10% = 10/110 x Rp 5.500.000,00 = Rp 500.000.00

Harga Barang = Rp 5.000.000,00


PPh Pasal 22 terutang : 1,5% x Rp 5.000.000,00 = Rp 75.000,00
CONTOH 02

Bendahara KPP A membayar tunai pembelian ATK dari toko


Bahagia (tidak memiliki NPWP) sebesar Rp 2.200.000,00
Rekanan Pemerintah yang tidak memiliki NPWP dikenakan tarif lebih
tinggi 100 %.
Toko bahagia tidak memiliki NPWP, maka sudah dapat dipastikan
bahwa Toko Bahagia bukan PKP, maka penghitungan PPh Pasal 22
adalah sbb:
Tarif lebih tinggi 100% dikenakan kepada toko Bahagia sehinggga
besarnya PPh pasal 22 adalah 3%.

PPh Pasal 21 terutang : 3% x Rp 2.200.000,00= Rp 66.000,00


PENGALIHAN TANAH/BANGUNAN

Pengalihan hak atas tanah dan/atau adalah:


a. penjualan, tukar-menukar, perjanjian pemindahan hak,
pelepasan hak, penyerahan hak, lelang, hibah, atau cara
lain yang disepakati dengan pihak lain selain pemerintah;
b. penjualan, tukar-menukar, pelepasan hak, penyerahan
hak, atau cara lain yang disepakati dengan pemerintah
guna pelaksanaan pembangunan, termasuk pembangunan
untuk kepentingan umum yang tidak memerlukan
persyaratan khusus;
c. penjualan, tukar-menukar, pelepasan hak, penyerahan
hak, atau cara lain kepada pemerintah guna pelaksanaan
pembangunan untuk kepentingan umum yang
Memerlukan persyaratan khusus.
TARIF

Besarnya Pajak Penghasilan :

1. sebesar 5% (lima persen) dari jumlah bruto nilai pengalihan


hak atas tanah dan/atau bangunan (sd 06 September 2016)

2. sebesar 2,5% (Dua koma lima persen) dari jumlah bruto nilai
pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan (stl 06
September 2016)

3. Sebesar 1 % (satu persen) dari jumlah bruto nilai pengalihan


atas pengalihan hak atas Rumah Sederhana dan Rumah
Susun Sederhana yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang
usaha pokoknya melakukan pengalihan hak atas tanah
dan/atau bangunan.
Nilai pengalihan hak adalah nilai yang tertinggi antara nilai
berdasarkan Akta Pengalihan Hak dengan Nilai Jual Objek Pajak
tanah dan/atau bangunan menurut UU PBB.

kecuali:

1) Dalam hal pengalihan hak kepada pemerintah adalah nilai


berdasarkan keputusan pejabat yang bersangkutan;

2) Dalam hal pengalihan hak sesuai dengan peraturan lelang


(Staatsblad Tahun 1908 Nomor 189 dengan segala perubahannya)
adalah nilai menurut risalah lelang tersebut.
DIKECUALIKAN

1) orang pribadi yang mempunyai penghasilan di bawah PTKP yang


melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dengan
jumlah bruto pengalihannya kurang dari Rp60.000.000,00 dan
bukan merupakan jumlah yang dipecah-pecah

2) orang pribadi atau badan yang menerima atau memperoleh


penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan
kepada pemerintah yang memerlukan persyaratan khusus
PEMUNGUTAN PAJAK
PEMBAYARAN BELANJA JASA
2 % X Jml. PEMBY
PPh. Pasal 23
( ex. PPN )
Non
KONSTRUKSI PPN 10% X Jml. PEMBY
BELANJA
JASA Js. Non Konst
PPN 10% X Jml. PEMBY
KONSTRUKSI
Tarif % X Jml. PEMBY
PPh Pasal 4(2) ( ex. PPN )
Js. Konstruksi
Pelaksanaan 2%, 3%, 4%
Perencanaan 4%, 6%
Pengawasan 4%, 6%
JASA

imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen,


jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang
telah dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana
dimaksuddalam Pasal 21 dipotong Pajak Penghasilan oleh
pihak yang wajib membayarkan sebesar 2% (dua persen)
dari jumlah bruto tidak termasuk Pajak Pertambahan
Nilai.
Jasa teknik merupakan pemberian jasa dalam bentuk pemberian
informasi yang berkenaan dengan pengalaman dalam bidang
industri, perdagangan dan ilmu pengetahuan yang dapat meliputi :
a. pemberian informasi dalam pelaksanaan suatu proyek tertentu,
seperti pemetaan dan/atau pencarian dengan bantuan
gelombang seismik;
b. pemberian informasi dalam pembuatan suatu jenis produk
tertentu, seperti pemberian informasi dalam bentuk gambar-
gambar, petunjuk produksi, perhitungan-perhitungan dan
sebagainya; atau
c. pemberian informasi yang berkaitan dengan pengalaman di
bidang manajemen, seperti pemberian informasi melalui
pelatihan atau seminar dengan peserta dan materi yang telah
ditentukan oleh pengguna jasa.
Jasa manajemen merupakan pemberian jasa dengan ikut serta
secara langsung dalam pelaksanaan atau pengelolaan
manajemen.

Jasa konsultan merupakan pemberian advice (petunjuk,


pertimbangan, atau nasihat) profesional dalam suatu bidang
usaha, kegiatan, atau pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga
ahli atau perkumpulan tenaga ahli, yang tidak disertai dengan
keterlibatan langsung para tenaga ahli tersebut dalam
pelaksanaannya.
PMK NOMOR 141/PMK.03/2015 TENTANG JENIS JASA LAIN
SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 23 AYAT (1) HURUF C
ANGKA 2 UNDANG-UNDANG PPh

Imbalan sehubungan dengan jasa lain selain jasa yang telah


dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 21, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1)
huruf c angka 2 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983
tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa
kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36
Tahun 2008, , dipotong Pajak Penghasilan sebesar 2% (dua
persen) dari jumlah bruto tidak termasuk Pajak
Pertambahan Nilai.

24 November 2017
PMK NOMOR 141/PMK.03/2015 TENTANG JENIS JASA LAIN
SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 23 AYAT (1) HURUF C
ANGKA 2 UNDANG-UNDANG PPh
Jenis jasa lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari:
a. Jasa penilai (appraisal);
b. Jasa aktuaris;
c. Jasa akuntansi, pembukuan, dan atestasi laporan keuangan;
d. Jasa hukum;
e. Jasa arsitektur;
f. Jasa perencanaan kota dan arsitektur landscape;
g. Jasa perancang (design);
h. Jasa pengeboran (drilling) di bidang penambangan minyak dan gas bumi (migas),
kecuali yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap;
i. Jasa penunjang di bidang usaha panas bumi dan penambangan minyak dan gas
bumi (migas);
j. Jasa penambangan dan jasa penunjang selain di bidang usaha panas bumi dan
penambangan minyak dan gas bumi (migas);
k. Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara;
l. Jasa penebangan hutan;
m. Jasa pengolahan limbah;
n. Jasa penyedia tenaga kerja dan/atau tenaga ahli (outsourcing services);
o. Jasa perantara dan/atau keagenan;
24 November 2017
PMK NOMOR 141/PMK.03/2015 TENTANG JENIS JASA LAIN
SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 23 AYAT (1) HURUF C
ANGKA 2 UNDANG-UNDANG PPh
Jenis jasa lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari:
p. Jasa di bidang perdagangan surat-surat berharga, kecuali yang dilakukan oleh Bursa
Efek, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia
(KPEI);
q. Jasa kustodian/penyimpanan/penitipan, kecuali yang dilakukan oleh Kustodian
Sentral Efek Indonesia (KSEI);
r. Jasa pengisian suara (dubbing) dan/atau sulih suara;
s. Jasa mixing film;
t. Jasa pembuatan saranan promosi film, iklan, poster, photo, slide, klise, banner,
pamphlet, baliho dan folder;
u. Jasa sehubungan dengan software atau hardware atau sistem komputer, termasuk
perawatan, pemeliharaan dan perbaikan;
v. Jasa pembuatan dan/atau pengelolaan website;
w. Jasa internet termasuk sambungannya;
x. Jasa penyimpanan, pengolahan, dan/atau penyaluran data, informasi, dan/atau
program;
y. Jasa instalasi/pemasangan mesin, peralatan, listrik, telepon, air, gas, AC, dan/atau TV
kabel, selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang lingkupnya di bidang
konstruksi dan mempunyai izin dan/atau sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi;
24 November 2017
PMK NOMOR 141/PMK.03/2015 TENTANG JENIS JASA LAIN
SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 23 AYAT (1) HURUF C
ANGKA 2 UNDANG-UNDANG PPh
Jenis jasa lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari:
z. Jasa perawatan/perbaikan/pemeliharaan mesin, peralatan, listrik, telepon, air, gas, AC,
TV kabel, dan/atau bangunan, selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang
lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau sertifikasi sebagai
pengusaha konstruksi;
aa. Jasa perawatan kendaraan dan/atau alat transportasi darat, laut dan udara;
ab. Jasa maklon;
ac. Jasa penyelidikan dan keamanan;
ad. Jasa penyelenggara kegiatan atau event organizer;
ae. Jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam media masa, media luar ruang
atau media lain untuk penyampaian informasi, dan/atau jasa periklanan;
af. Jasa pembasmian hama;
ag. Jasa kebersihan atau cleaning service;
ah. Jasa sedot septic tank;
ai. Jasa pemeliharaan kolam;
aj. Jasa katering atau tata boga;
ak. Jasa freight forwarding;
al. Jasa logistik;
am. Jasa pengurusan dokumen;
an. Jasa pengepakan; 24 November 2017
PMK NOMOR 141/PMK.03/2015 TENTANG JENIS JASA LAIN
SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 23 AYAT (1) HURUF C
ANGKA 2 UNDANG-UNDANG PPh
Jenis jasa lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari:
ao. Jasa loading dan unloading;
ap. Jasa laboratorium dan/atau pengujian kecuali yang dilakukan oleh lembaga
atau insitusi pendidikan dalam rangka penelitian akademis;
aq. Jasa pengelolaan parkir;
ar. Jasa penyondiran tanah;
as. Jasa penyiapan dan/atau pengolahan lahan;
at. Jasa pembibitan dan/atau penanaman bibit;
au. Jasa pemeliharaan tanaman;
av. Jasa pemanenan;
aw. Jasa pengolahan hasil pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan/atau
perhutanan;
ax. Jasa dekorasi;
ay. Jasa pencetakan/penerbitan;
az. Jasa penerjemahan;
ba. Jasa pengangkutan/ekspedisi kecuali yang telah diatur dalam Pasal 15 Undang-
Undang Pajak Penghasilan;
bb. Jasa pelayanan kepelabuhanan;
bc. Jasa pengangkutan melalui jalur pipa;
24 November 2017
PMK NOMOR 141/PMK.03/2015 TENTANG JENIS JASA LAIN
SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 23 AYAT (1) HURUF C
ANGKA 2 UNDANG-UNDANG PPh
Jenis jasa lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari:
bd. Jasa pengelolaan penitipan anak;
be. Jasa pelatihan dan/atau kursus;
bf. Jasa pengiriman dan pengisian uang ke ATM;
bg. Jasa sertifikasi;
bh. Jasa survey;
bi. Jasa tester, dan
bj. Jasa selain jasa-jasa tersebut di atas yang pembayarannya
dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

24 November 2017
PAJAK PENGHASILAN FINAL
JASA KONSTRUKSI
PENGERTIAN

1. Jasa konstruksi adalah layanan jasa konsultansi perencanaan


pekerjaan konstruksi, layanan jasa pelaksanaan pekerjaan
konstruksi, dan layanan jasa konsultansi pengawasan
pekerjaan konstruksi.

2. Pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian


rangkaian kegiatan perencanaan dan/atau pelaksanaan
beserta pengawasan yang mencakup pekerjaan arsitektural,
sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan masing-
masing beserta kelengkapannya untuk mewujudkan suatu
bangunan atau bentuk fisik lain.
PENGERTIAN....
3. Perencanaan Konstruksi adalah pemberian jasa oleh orang pribadi
atau badan yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang
perencanaan jasa konstruksi yang mampu mewujudkan pekerjaan
dalam bentuk dokumen perencanaan bangunan fisik lain.

4. Pelaksanaan Konstruksi adalah pemberian jasa oleh orang pribadi


atau badan yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang
pelaksanaan jasa konstruksi yang mampu menyelenggarakan
kegiatannya untuk mewujudkan suatu hasil perencanaan menjadi
bentuk bangunan atau bentuk fisik lain, termasuk di dalamnya
pekerjaan konstruksi terintegrasi yaitu penggabungan fungsi layanan
dalam model penggabungan perencanaan, pengadaan, dan
pembangunan (engineering, procurement and construction) serta
model penggabungan perencanaan dan pembangunan (design and
build).
PENGERTIAN....

5. Pengawasan konstruksi adalah pemberian jasa oleh orang pribadi


atau badan yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang
pengawasan jasa konstruksi, yang mampu melaksanakan
pekerjaan pengawasan sejak awal pelaksanaan pekerjaan
konstruksi sampai selesai dan diserahterimakan.

6. Pengguna Jasa adalah orang pribadi atau badan termasuk


bentuk usaha tetap yang memerlukan layanan jasa konstruksi.

7. Penyedia Jasa adalah orang pribadi atau badan termasuk bentuk


usaha tetap, yang kegiatan usahanya menyediakan layanan jasa
konstruksi baik sebagai perencana konstruksi, pelaksana
konstruksi dan pengawas konstruksi maupun sub-subnya.
TARIF DAN DASAR PENGENAAN PAJAK
IMBALAN JASA
KONSTRUKSI

FINAL

JASA JASA
PERENCANAAN
PELAKSANAAN & PENGAWASAN

YG MEMILIKI YG MEMILIKI YG TIDAK MEMILIKI YG MEMILIKI YG TIDAK MEMILIKI


KUALIFIKASI KUALIFIKASI USAHA KUALIFIKASI KUALIFIKASI KUALIFIKASI
USAHA KECIL MENENGAH ATAU USAHA USAHA USAHA
KUALIFIKASI BESAR

2% 3% 4% 4% 6%

DARI JUMLAH PEMBAYARAN ATAU JUMLAH PENERIMAAN YG


MERUPAKAN BAGIAN NILAI KONTRAK TIDAK TERMASUK PPN
TATA CARA PEMOTONGAN, PENYETORAN, PELAPORAN

a. Dipotong oleh Pengguna Jasa pada saat pembayaran,


dalam hal Pengguna Jasa merupakan pemotong pajak;
PPh Final yang dipotong oleh Pengguna Jasa disetor ke kas negara
melalui Kantor Pos atau bank yang ditunjuk paling lama tanggal 10
(sepuluh) bulan berikutnya setelah dilakukan pemotongan pajak.

b. Pengguna Jasa atau Penyedia, wajib menyampaikan Surat


Pemberitahuan Masa paling lama 20 (dua puluh) hari setelah
bulan dilakukan pemotongan pajak atau penerimaan
pembayaran.

Dalam hal tanggal jatuh tempo penyampian Surat Pemberitahuan


Masa bertepatan dengan hari libur termasuk hari sabtu atau hari
libur nasional, maka saat penyampaian Surat Pemberitahuan Masa
dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.
CONTOH 01
Bendahara Pengeluaran membayar tagihan CV Bangun Jaya
(pemborong pekerjaan konstruksi,bersertifikat, memiliki NPWP dan
sebagai PKP) atas pekerjaan rehabilitasi gedung kantor dengan nilai
kontrak sebesar Rp 484.000.000,00 dengan rincian:

Pekerjaan Konstruksi Rp 440.000.000,00


PPN 10% Rp 44.000.000,00
Jumlah Rp 484.000.000,00

CV Bangun Jaya adalah pengusaha jasa konstruksi kategori


pengusaha kecil dan telah memiliki sertifikat dari LPJK.
Berdasarkan data diatas, maka atas tagihan tersebut Bendahara
Pengeluaran memotong PPh Pasal 4 ayat (2) sebesar 2% x Rp
440.000.000,00 = Rp 880.000,00.
sehingga jumlah yang dibayarkan kepada CV Bangun Jaya hanya
sebesasr Rp 439.120.000.00.
PPh Pasal 4 ayat (2) dan PPN masing-masing disetor sebesar Rp
880.000. dan Rp 44.000.000,00
PEMUNGUTAN PAJAK
PEMBAYARAN BELANJA SEWA

2 % X Jml. PEMBY
PPh. Pasal 23
( ex. PPN )
Non T/B

Sewa PPN 10% X Jml. PEMBY


BELANJA non T/B
SEWA
10 % X Jml. PEMBY
PPh. Pasal 4(2)
( ex. PPN )
T/B
Sewa T/B PPN 10% X Jml. PEMBY
PAJAK PENGHASILAN FINAL
PERSEWAAN TANAH DAN ATAU
BANGUNAN
Sewa tanah dan atau bangunan:
tanah, rumah, rusun, apartemen, kondominium,
Objek Gd perkantoran, pertokoan, pertemuan dan
bagiannya, rumah kantor, toko, rumah toko,
gudang dan bangunan industri.

Tarif 10 % Final

Jumlah Bruto:
semua jumlah yang dibayar atau terutang
DPP dengan nama dan dalam bentuk apapun Dlm
perjanjian terpisah atau disatukan
CONTOH 01

Bendahara Pengeluaran membayar tunai kepada PT Unggul Estate


(memiliki NPWP) sebesar Rp 55 juta (termasuk PPN)untuk sewa
ruangan dalam rangka mengikuti pameran Produksi Nusantara
2014 yang dilaksanakan di gedung convention hall milik PT Unggul
Estate.

Atas pembayaran kepada PT Unggul Estate dipotong PPh Pasal 4


ayat (2) sebesar 10% x Rp 50.000.000,00 = Rp 5.000.000,00.

Jumlah yang dibayarkan kepada PT Unggul Estate sebesar Rp


45.000.000,00 dan PPh yang disetorkan sebesar Rp 5.000.000,00
TATA CARA PEMOTONGAN, PENYETORAN DAN PELAPORAN

Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dari penyewa yang


bertindak atau ditunjuk sebagai Pemotong Pajak, wajib dipotong
Pajak Penghasilan oleh penyewa.

Pemotong pajak:
Penyewa, dalam hal penyewa adalah Badan Pemerintah, subjek
pajak badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha
tetap, kerjasama operasi, perwakilan perusahaan luar negeri
lainnya, dan orang pribadi yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak.

PP No. 5 Tahun 2002 juncto Keputusan Dirjen Pajak No. KEP-227/PJ./2002


SEWA HARTA

TANAH-BANGUNAN HARTA LAINNYA

PPh Final PPh Psl 23


10% x Bruto 2% x Bruto
UU RI NO. 13 TAHUN 1985
BEA METERAI?
BEA MATERAI?
OBJEK BM: DOKUMEN
Ps 1 angka (1) UU BM

Dokumen adalah kertas yang berisikan tulisan


yang mengandung arti dan maksud tentang
perbuatan, keadaan atau kenyataan bagi
seseorang dan/atau pihak-pihak yang
berkepentingan;

Ps 1 angka (2) UU BM
OBJEK BEA METERAI
DOKUMEN PERDATA

PUBLIK: SIM, STNK, KTP, KK,


PASPOR, IMB, BUKU NIKAH DLL
LARANGAN BAGI PEJABAT
PEJABAT PEMERINTAH, HAKIM, PANITERA,
JURUSITA, NOTARIS DAN PEJABAT UMUM
LAINNYA PS. 11
Menerima, mempertimbangkan atau menyimpan
dokumen,
Melekatkan dokumen,
Membuat salinan, tembusan, rangkapan atau
petikan dari dokumen
Memberikan keterangan atau catatan pada
dokumen
Yang bea meterainya tidak atau kurang dibayar sesuai
dengan tarif bea meterai.
DOKUMEN YANG DIKENAI BEA METERAI
1. Surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan
tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai
perbuatan, kenyataan atau keadaan yang bersifat perdata;
2. akta-akta notaris termasuk salinannya;
3. akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta
Tanah termasuk rangkap-rangkapnya;
4. surat yang yang memuat jumlah uang lebih dari
Rp.1.000.000,- (satu juta rupiah) :
a) yang menyebutkan penerimaan uang;
b) yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan
uang dalam rekening di bank;
c) yang berisi pemberitahuan saldo rekening di bank;
d) yang berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya
atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan;
5. surat berharga seperti wesel, promes, aksep, dan cek yang
harga nominalnya lebih dari Rp.1.000.000,- (satu juta
rupiah);
6. efek dengan nama dan dalam bentuk apapun, sepanjang
harga nominalnya lebih dari Rp.1.000.000,- (satu juta
rupiah).
7. Dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian
di muka Pengadilan:
a) surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan;
b) surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai
berdasarkan tujuannya, jika digunakan untuk tujuan
lain atau digunakan oleh orang lain, lain dari maksud
semula;

Ps 2 Ayat (1) dan (3) UU BM


PP NO. 24 TAHUN 2000
(SEJAK 1 MEI 2000)
JENIS 1
JENIS 2
SEMUA Rp 6.000

JENIS 3
JENIS 4, 5 s/d 250 rb tdk
> 250 rb s/d 1 jt 3 rb
cek, b. giro 3 rb
JENIS 6 Efek s/d 1 jt 3 rb
JENIS 7
TIDAK DIKENAKAN BEA METERAI
a. Dokumen yang berupa :
1) surat penyimpanan barang;
2) konosemen;
3) surat angkutan penumpang dan barang;
4) keterangan pemindahan yang dituliskan di atas dokumen
sebagaimana dimaksud dlm angka 1), angka 2), dan
angka 3);
5) bukti untuk pengiriman dan penerimaan barang;
6) Surat pengiriman barang untuk dijual atas tanggungan
pengirim;
7) surat-surat lainnya yang dapat disamakan dengan surat-
surat sebagaimana dimaksud dalam angka 1) sampai
angka 6).
b. segala bentuk Ijazah;
Ps 4 UU BM
c. tanda terima gaji, uang tunggu, pensiun, uang tunjangan,
dan Pembayaran lainnya yang ada kaitannya dengan
hubungan kerja serta surat-surat yang diserahkan untuk
mendapatkan pembayaran itu;
d. tanda bukti penerimaan uang Negara dari kas Negara, Kas
Pemerintah Daerah, dan bank;
e. kuitansi untuk semua jenis pajak dan untuk penerimaan
lainnya yang dapat disamakan dengan itu dari Kas Negara,
Kas Pemerintahan Daerah dan bank;
f. tanda penerimaan uang yang dibuat untuk keperluan intern
organisasi;
g. dokumen yang menyebutkan tabungan, pembayaran uang
tabungan kepada penabung oleh bank, koperasi, dan
badan-badan lainnya yang bergerak di bidang tersebut;
h. surat gadai yang diberikan oleh Perusahaan Jawatan Pegadaian;
i. tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek,
dengan nama dan dalam bentuk apapun.
SAAT TERHUTANG
PS. 5

saat dokumen diserahkan dan diterima oleh


pihak untuk siapa dokumen itu dibuat (TNDA
TANGAN SATU PIHAK)
saat selesainya dokumen dibuat, yang ditutup
dengan pembubuhan tanda tangan dari yang
bersangkutan (BANYAK PIHAK)
CAP JEMPOL?
saat digunakan di Indonesia
PERLU DITAMBAHKAN
Dokumen sebagai barang bukti di pengadilan?
CARA PELUNASAN
PASAL 7

BENDA METERAI
meterai tempel
kertas meterai s/d tgl 31 Maret 2010
CARA LAIN
Mesin teraan meterai
Teknologi percetakan
Sistem komputerisasi
PMK 65/PMK.03/2014 21 APRIL 2014
Tentang Bentuk, Ukuran dan Warna Benda Meterai
Terhitung 17 Agustus 2014 diberlakukan Meterai Tempel Desain Tahun 2014 sebagai alat
pelunasan bea meterai yang berlaku di wilayah Negara RI
Meterai tempel desain 2009 Masih dapat dipergunakan s/d 31 Maret 2015
PASAL 7
5/6/2006
5/6/2006
5/6/2006

(Heru Supriyanto)
(Heru Supriyanto)

5/6/2006
5/6/2006 5/6/2006

5/6/2006
(Heru Supriyanto)
(Heru Supriyanto)
MASIH DIINGAT........?

GAJI PPh PASAL 21


TUNJANGAN PPh PASAL 21 FINAL
APBN /
APBD
NON GAJI PPh PASAL 21
OP
TUNJANGAN PPh PASAL 21 FINAL

NON T/B PPh PASAL 22 + PPN


BENDAHARA BARANG
TNH/BANG PPh PASAL 4(2) + PPN
NON KONSTRUKSI PPh PASAL 23 + PPN
JASA
KONSTRUKSI PPh PASAL 4(2)+PPN

NON TNH / BANG PPh PASAL 23 + PPN


SEWA
TANAH / BANGUN PPh PASAL 4(2)+PPN
TERIMA KASIH
PEMBAYARAN OLEH BENDAHARA PENGELUARAN

PEMBAYARAN
HONOR GOL I DAN II 0% X Ph. BRUTO
PNS GOL III 5% X Ph. BRUTO
GOL IV 15% X Ph. BRUTO
PPh PASAL 21
PEG. TDK TETAP 5% X (Ph BRUTO 450.000 )

Non PNS NON PEGAWAI 5% X 50% X Ph BRUTO

PESERTA KEGIATAN 5% X Ph BRUTO


PEMBAYARAN OLEH BENDAHARA PENGELUARAN

1.5% X Jml. PEMBY


PPh. Pasal 22
( ex. PPN )
Non T/B
PPN 10% X Jml. PEMBY
BELANJA
BARANG

T/B PPh Pasal 4(2) 2,5% X Jml. PEMBY


PEMBAYARAN OLEH BENDAHARA PENGELUARAN

2 % X Jml. PEMBY
PPh. Pasal 23
( ex. PPN )
Non
KONSTRUKSI PPN 10% X Jml. PEMBY
BELANJA
JASA
PPN 10% X Jml. PEMBY
KONSTRUKSI
Tarif % X Jml. PEMBY
PPh Pasal 4(2) ( ex. PPN )

Pelaksanaan 2%, 3%, 4%


Perencanaan 4%, 6%
Pengawasan 4%, 6%
PEMBAYARAN OLEH BENDAHARA PENGELUARAN

2 % X Jml. PEMBY
PPh. Pasal 23
( ex. PPN )
Non T/B
PPN 10% X Jml. PEMBY
BELANJA
SEWA
10 % X Jml. PEMBY
PPh. Pasal 4(2)
( ex. PPN )
T/B
PPN 10% X Jml. PEMBY