Anda di halaman 1dari 102

REKAYASA PENGOLAHAN

AIR LIMBAH &


PEMBUANGANNYA
(BAB V)
Materi
1. Dasar-dasar pengolahan air limbah
2. Pengolahan air limbah domestik
3. Pengolahan air limbah industri
4. Pengolahan air limbah limpasan
DASAR-DASAR PENGOLAHAN
AIR LIMBAH
(Hal V-4 s/d V=10)
Pendahuluan
Air lmbah adalah air bekas hasil kegiatan manusia
sehari-hari yang tidak terpakai lagi untuk dibuang
ke alam (tanah & badan air)
Apabila air limbah jumlah air limbah berlebihan,
melebihi kemampuan alam untuk menyerapnya
maka terjadi pencemaran & kerusakan lingkungan
Rekayasa pengolahan air limbah diperlukan agar
agar proses pengolahan dapat berlangsung dalam
waktu yang lebih cepat, lebih cepat daripada
pengolahan air limbah secara alami
Proses & Tujuan
Proses pengolahan air limbah merupakan
gabungan dari proses fisikika, kimia, dan
biologi

Tujuannya dalah untuk menurunkan kadar


zat organik, padatan tersuspensi, senyawa
nitrogen dan phosfor, kadar bahan kimia
yang beracun dan berbahaya, dan
membunuh bakteri pathogen.
Jenis Air Limbah
1) Air limbah domestik
Air buangan (kamar mandi, WC/tinja, dapur & cucian)
yang berasal dari kegiatan hunian (rumah tinggal,
hotel, sekolah, perkantoran, pertokoan, pasar, tempat
rekreasi, dll)
2) Air limbah industri
Berasal dari kegiatan industri/pabrik seperti industri
logam, tekstil, kulit, pangan (makanan & minuman),
industri kimia, dll
3) Air limbah limpasan & rembesan hujan
Air limbah yang melimpas di atas permukaan tanah
dan meresap ke dalam tanah sebagai air hujan
Sistem Penanganan Air Limbah
Sistem Individual/Setempat (On Site)
Sistem dimana penghasil limbah mengolah air
limbahnya secara individu
Sistem individual mengandalkan proses sedimentasi
di bak kontrol/tangki septik
Sistem Penanganan Air Limbah
Sistem Komunal/Terpusat (Off Site)
Air limbah disalurkan melalui sewer (saluran pengumpul
air limbah) ke IPAL terpusat
SANITASI TERPUSAT (SEWERAGE AND WASTEWATER TREATMENT
PLANT /IPAL)

SANITASI SETEMPAT
Kelebihan & Kekurangan Sistem
Setempat
Kelebihan & Kekurangan
SistemTerpusat
PENGOLAHAN
AIR LIMBAH DOMESTIK
PENGERTIAN & JENIS

AIR LIMBAH DOMESTIK/RUMAH TANGGA


AIR LIMBAH YANG BERASAL DARI KEGIATAN
HUNIAN. SEPERTI RUMAH TINGGAL, HOTEL,
SEKOLAH, KAMPUS, PERKANTORAN,
PERTOKOAN, PASAR, TEMPAT REKREASI
DAN FASILITAS PELAYANAN UMUM YANG
LAIN.

AIR LIMBAH DOMESTIK/RT DIKELOMPOKKAN:


AIR BUANGAN KAMAR MANDI
AIR BUANGAN WC: AIR KOTOR DAN TINJA
AIR BUANGAN DAPUR DAN CUCIAN
AIR LIMBAH DOMESTIK
Karakteristik air limbah yang berasal dari
perumahaan, menurut Winnerberger, 1969

Greywater: Air cucian yang berasal dari dapur,


kamar mandi, laundry, dan lain-lain tanpa faeces
dan urin
Blackwater: Air yang berasal dari pembilasan
toilet (faeces dan urin dengan
pembilasan/penyiraman)
Yellowwater: urin yang berasal dari pemisahan
toilet dan urinals (dengan atau tanpa air untuk
pembilasan)
Baku Mutu Air Limbah Domestik
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup,
Nomor : 112 Tahun 2003 Tanggal : 10 Juli 2003

Parameter Satuan Kadar

pH - 6-9
BOD (Biological Oxigen mg/L 100 (max)
Demand)
TSS (Total Suspended mg/L 100 (max)
Solid)
Minyak dan Lemak mg/L 10 (max)
Komposisi Air Limbah Domestik
Komposisi Air Limbah Domestik
PENGOLAHAN
AIR LIMBAH DOMESTIK
DENGAN TANGKI SEPTIK
Tangki septik (septic tank)

Merupakan ruangan kedap air yang terdiri


dari kompartemen/ruang untuk mengolah
limbah dengan kecepatan alir yang sangat
lambat sehingga terjadi pengendapan
terhadap benda-benda padat & dekomposisi
bahan-bahan organik oleh mikroba.
Proses ini berjalan secara alamiah yang
sehingga memisahkan antara padatan
berupa lumpur yang lebih stabil dan cairan.
Tangki septik (septic tank)

Cairan yang terolah akan keluar dari tangki


septik sebagai efluen & gas yang terbentuk
akan dilepas melalui pipa ventilasi.
Lumpur yang telah matang (stabil) akan
mengendap didasar tangki dan harus dikuras
secara berkala setiap 2-5 tahun.
Tangki septik (septic tank)
Tangki septik (septic tank)
Tipikal Sumur
Sumur Resapan bisa
Resapan dibiarkan kosong
atau diisi dengan
batu dan kerikil
kasar
Kedalaman sumur
resapan 1,5 - 4 meter
dengan diameter 1,0
3,5 meter.
Sumur ini harus
diletakkan lebih
rendah dan paling
tidak 15 meter dari
sumber air minum
dan sumur.
Konstruksi Tangki Septik
Ukuran tangki septik:
1) Terdiri atas 2 ruang:
a) ruang pengendapan lumpur ( 70% dari
keseluruhan tangki);
b) ruang pengendapan bagi padatan yang tidak
terendapkan pada ruang pertama
c) panjang ruangan pertama = 2/3 x panjang
keseluruhan, dan panjangnya > 1 m
2) Kedalaman tangki antara 1,0 1,5 m.
3) Celah udara antara permukaan air dengan tutup
tangki (free board) antara 0,3 - 0,5 m .
Tangki septik harus dilengkapi dengan lubang
ventilasi untuk pelepasan gas & dan lubang
pemeriksaan kedalaman lumpur & pengurasan.
Sumur Resapan
Sumur Resapan bisa dibiarkan kosong atau diisi
dengan batu dan kerikil kasar sebagai penopang
dinding agar tidak runtuh, tapi dapat dilalui air limbah.
Kedalaman sumur resapan 1,5 - 4 meter dengan
diameter 1,0 3,5 meter.
Sumur ini harus diletakkan lebih rendah dan paling
tidak 15 meter dari sumber air minum dan sumur.
Kapasitas minimum sumur resapan haraus mampu
menampung semua air limbah yang dihasilkan dari
satu kegiatan mencuci atau dalam satu hari, volume
manapun yang paling besar.
Perhitungan Ukuran Tangki Septik
Volume penampungan = A + B
Dimana: A = Volume penampungan lumpur
B = Volume penampungan cairan
Perhitungan Ukuran Tangki Septik

Volume penampungan lumpur (A)


Perhitungan Ukuran Tangki Septik

Volume penampungan cairan (B)


Contoh perhitungan tangki septik
komunal
Hitunglah ukuran tangki septik jika diketahui:
Jumlah penduduk yang dilayani : 50 orang
Waktu pengurasan direncanakan setiap (N) =
2 tahun
Rata-rata Lumpur terkumpul l/orang/tahun
(S) = 40 lt,
Air limbah yang dihasilkan tiap orang/hari =
10 l/orang/hari (tangki septik hanya untuk
menampung limbah kakus)
Perhitungan:
Perhitungan:
PR Pengolahan air limbah
No. 1
Hitunglah ukuran tangki septik jika diketahui:
Jumlah penduduk yang dilayani : 8X orang
Waktu pengurasan direncanakan setiap (N) =
2,YX tahun
Rata-rata Lumpur terkumpul l/orang/tahun
(S) = 2Y,X lt,
Air limbah yang dihasilkan tiap orang/hari =
1X,Y l/orang/hari (tangki septik hanya untuk
menampung limbah kakus)
Tangki septik bio
PENGOLAHAN LIMBAH
INDUSTRI
(Hal V-14 s/d V-57)
Sumber air limbah industri
Tahapan Pengolahan
Pengolahan pendahuluan (pre treatment)
Pengolahan pertama (primary treatment)
Pengolahan kedua (secondary treatment)
Pengolahan ketiga/lanjutan
(tertiary/advanced treatment)
Pengolahan lumpur (sludge handling)
Tahapan pengolahan
Pengolahan pendahuluan
1. Penyaringan (Hal V-14)
2. Pemerataan aliran (Hal V-16)
3. Pre Aerasi (Hal V-17)
Pengolahan pertama
1. Netralisasi (Hal V-18)
2. Koagulasi & flokulasi (Hal V-19)
3. Sedimentasi (Hal V-23)
4. Flotasi (Hal V-27)
Pengolahan kedua
1. Aerasi (Hal V 29)
2. Activated sludge (Hal V 33)
3. Filter tetesan (Hal V 42)
4. Piringan biologis berputar (Hal V 48)
5. Kolam stabilisasi (Hal V 49)
Skema pengolahan limbah
Tujuan tiap tahapan
Jenis pengolahan
Pengolahan secara Fisika
Pengolahan secara Kimia
Pengolahan secara Biologi
Pengolahan secara Fisika - Kimia
Pengolahan secara Biologi
Tangki sedimentasi pada pengolahan pertama
Activated Sludge (Lumpur Aktif)
Pada Pengolahan Kedua (Hal V 33)
Merupakan kolam aerasi
dan berpengaduk, yang
memungkinkan
dekomposisi material
organik oleh
mikroorganisme yang
diflokulasikan sehingga
dapat mengendap.
Pada Tahap ini mikroorganisme Bakteri dalam activated
memproses dg merubah bahan sludge diresirkulasi secara
kontinu ke kolam aerasi
organik dari non-settleable
untuk meningkatkan laju
solids menjadi settleable solids.
dekomposisi organik.
Diagram pengolaham limbah dengan
lumpur aktif
DASAR-DASAR PENGENDALIAN
LUMPUR AKTIF
Contoh Soal (Hal V 57)

Instalasi pengolah limbah perkotaan


didesain untuk memproses aliran rata-rata
sebesar 5.000 m3/hari dengan aliran puncak
tertinggi 12.000 m3/hari. Hitunglah dimensi
tangki pengendapan pertama untuk
menurunkan kira-kira 60% suspended solids
dari aliran rata-rata!
Penyelesaian
Grafik hubungan
% removal dengan overflow rate
PR Pengolahan air limbah
No. 2
Instalasi pengolah limbah perkotaan
didesain untuk memproses aliran rata-rata
sebesar 6.XY0 m3/hari dengan aliran puncak
tertinggi 12.YX0 m3/hari. Hitunglah dimensi
tangki pengendapan pertama untuk
menurunkan kira-kira 6X,Y% suspended
solids dari aliran rata-rata!
PENGUMUMAN
Pada kuliah yang
akan datang
mahasiswa WAJIB
membawa buku
Rekayasa
Lingkungan (Jilid II)
PENGELOLAAN AIR
LIMBAH LIMPASAN

Ir. Sunarto, MT
Bencana banjir
Bencana kekeringan
Limpasan (Run-off) di Desa &
Kota
Green Infrastructure
SALURAN STANDAR
SALURAN STANDAR (2)
Dry swale
Wet Swale
Vegetated Swales (simple & inexpensive)
Vegetated Swale (Enhanced)
Vegetated Filter
Strip
Kolam Retensi
Retention Ponds

Falkirk Stadium Retention Pond (Undeveloped catchment)


Retention Ponds / Wetlands

Lidl Distribution Centre, Livingston - Retention Pond (Loading bay, Carpark runoff)
Sistem Bioretensi
Struktur berupa cekungan pada suatu
area seperti tempat parkir, perumahan,
dan lain-lain yang menerima limpasan air
hujan
Parit Infiltrasi
Infiltration Berms
Biopori
Sumur Resapan
Sumur Resapan Jalan
SUMUR RESAPAN
Latar Belakang
Perkembangan Kota

Pertambahan Jumlah Peningkatan


Penduduk Kebutuhan Lahan

Perubahan Pola Guna Lahan dan


Fungsi hidrologis lahan

Peningkatan Kebutuhan Air Peningkatan Limpasan

Resiko Banjir/Kering Imbuhan Air Berkurang Beban Saluran Drainase


Bertambah Bertambah

Perda PemKot Ancaman keberlanjutan input sumber air


14/1998/123

Penerapan SISTEM DRAINASE BERWAWASAN LINGKUNGAN


Konsep Sistem Drainase Konvensional

IMPLIKASI :

Imbuhan Air Tanah MINIM

Keberlanjutan Sumber Air Terancam

Limpasan Semakin Besar

Beban Sistem Drainase Bertambah

Resiko Banjir Meningkat

Drainage =
mengalirkan, membuang, Daerah Terbangun Semakin Meningkat
menguras, mengalihkan air
(Suripin, 2004) ??
Konsep Sistem Drainase Berwawasan Lingkungan

Mempertahankan/Mengembalikan Fungsi Hidrologis Lahan dengan


maksimalisasi konservasi sehingga limpasan terminimasi

Imbuhan Air Tanah Bertambah


Beban Limpasan Saluran Drainase Makro Berkurang
Resiko Banjir Berkurang
Metode SNI (1990)
D.i. At D.k. As
H
As D.K .L
D i At

Keterangan :
i = Intensitas hujan (m/jam)
At = Luas tadah hujan (m2),berupa atap
atau permukaan tanah yang diperkeras
K = Permeabilitas (m/jam)
H L As L = Keliling Penampang sumur (m)
As = Luas penampang sumur (m2)
D = Durasi hujan (jam)
H = Kedalaman Sumur (m)
K
Metode Sunjoto (1991)
Q FKT

H 1 e R
2

CxIxA F .K

Q
H = tinggi muka air dalam sumur (m)
F = faktor geometrik (m)
Q = debit air masuk (m3/dtk)
H T = waktu pengaliran (detik)
K = koefisien permeabilitas tanah (m/dtk)
R L R = jari-jari sumur (m)
F
K
Debit Rencana (Q)
Paramater dalam formula Sunjoto
Faktor Geometrik (F)
Faktor Geometrik (F)
Faktor Geometrik (F)
Faktor Geometrik (F)
Contoh Perhitungan
Hitunglah kedalaman sumur resapan yang
diperlukan pada suatu rumah tinggal dengan
metode Sunjoto (1991), jika diketahui:
i = Intensitas hujan = 87,0 mm/jam
A = Luas atap = 100 m2
k = Permeabilitas = 8,5 cm/jam
T = Durasi hujan = 3 jam
= Diameter Sumur = 90 cm
Bentuk sumur -> 3a
PR Pengolahan air limbah
No. 3
Hitunglah kedalaman sumur resapan yang
diperlukan pada suatu rumah tinggal, jika diketahui:

i = Intensitas hujan = 6X,Y mm/jam


A = Luas tadah hujan = 1YX m2
k = Permeabilitas = 4,XY cm/jam
T = Durasi hujan = 2,YX jam
= Diameter Sumur = 10Y,X cm
Bentuk sumur -> 3a (NIM Ganjil), 3b (NIM Genap)
Gambarlah hasil perencanaan sumur resapan
tersebut.