Anda di halaman 1dari 55

Definisi

Tujuan

Langkah Menetukan Kebutuhan


Promosi Kesehatan

Fase Precede-Proceed
PRECEDE
Fase 5 Fase 4
Fase 3 Fase 2
Diagnosis Diagnosis Fase 1
Diagnosis Perilaku Diagnosis
Kebijakan dan Pendidikan dan Diagnosis Sosial
dan Lingkungan Epidemiologi
Administrasi Organisasi

PROMOSI
KESEHATAN Perilaku dan
Faktor Kebiasaan
Predisposisi
Pendidikan
Kesehatan

Faktor Penguat Kualitas


Kesehatan Hidup

Kebijakan Faktor
Lingkungan
Regulasi dan Kemungkinan
Organisasi

Fase 6 Fase 7 Fase 8 Fase 9


Implementasi Evaluasi Proses Evaluasi Dampak Evaluasi Hasil

PROCED
PRECEDE-PROCEED

Dikembangkan oleh Green dan Kauter pada


tahun 1980

Terdiri dari sembilan langkah

PRECEDE (Predisposing, Reinforcing and


Enabling Causes in Educational Diagnosis and
Evaluation)
PRECEDE merupakan kerangka untuk membantu perencanaan mengenal masalah,
mulai dari kebutuhan pendidikan sampai pengembangan program

Pada tahun 1991, model ini disempurnakan menjadi model PRECEDE-PROCEEDE.


PROCEEDE merupakan singkatan dari Policy, Regulatory, and Organizational
Contructs in Educational and environmental Development

Tujuan PRECEDE pada fase diagnosis masalah, menetapkan prioritas masalah dan
diagnosis program

PRECED untuk diagnosa dan perencanaan memimpin edukator kesehatan untuk


berpikir secara deduktif, untuk memulai dengan konsekuensi final dan bekerja
kembali ke penyebab asli
Kerangka PRECEDE didirikan pada
persyaratan dari empat disiplin:

Ilmu pengetahuan
Epidemiologi sosial dan tindakan
(behaviour)

Administrasi Edukasi
penerapan PRECEDE terdapat dua proporsi dasar, yakni:

kesehatan dan tindakan kesehatan disebabkan


oleh faktor-faktor ganda
1

karena kesehatan dan tindakan kesehatan


ditentukan oleh faktor-faktor ganda, upaya-
upaya edukasi kesehatan untuk mempengaruhi
2 tindakan harus multidimensional
digunakan pada fase diagnosis masalah,
penetapan prioritas masalah,
PRECEDE penetapan prioritas masalah,
tujuan program

digunakan untuk menetapkan sasaran dan kriteria


kebijakan, serta implementasi dan evaluasi
PROCEED
Fase 1 (Diagnosis sosial)

Diagnosis sosial adalah proses menetukan


persepsi masyarakat terhadap
kebutuhannya dan aspirasi masyarakat
untuk meningkatkan kualitas hidupnya

penilaian dapat dilakukan atas dasar:


data sensus
vital statistik yang ada, atau pengumpulan
data secara langsung ke masyarakat
Fase ini secara subjektif
berupaya mendefinisikan
kualitas hidup dalam masyarakat

Tahap ini membutuhkan perencana program


untuk mendapatkan pengertian dari
permasalahan sosial yang mempengaruhi
kehidupan pasien, konsumen, siswa, atau
komunitas, sebagaimana mereka memandang
permasalahan tersebut.
Pada promosi kesehatan menangani kasus diare
ialah Sebagian besar wilayah merupakan daerah
rawa-rawa dan sebagian besar sumber air yang
digunakan adalah sumur gali karena belum ada
suplai air bersih oleh PAM ke darerah tersebut,
sumber air lainnya berasal dari mata air yang tidak
terlindungi misalnya penampungan air hujan.
Cakupan jamban keluarga sebesar 75% tidak
memenuhi syarat.
Terdapat 2 sekolah dengan lingkungan yang tidak
sehat, seperti kurangnya tempat sampah sehingga
sampah dibuang di sembarang tempat.
Terdapat pasar dengan lingkungan yang kotor.
Terdapat industri yang limbahnya dapat
menyebabkan pencemaran lingkungan.
Fase 2 (Diagnosis epidemiologi)

Dalam tahap ini dilihat bagaimana pengaruh


atau akibat dari masalah-masalah kesehatan
tersebut dengan mengacu pada mortalitas,
morbiditas, tanda dan gejala yang ditimbulkan.

Dari tahap inilah perencana menetapkan


suatu prioritas masalah yang nantinya akan
dibuat suatu perencanaan yang sistematis
Pada fase ini, siapa atau kelompok mana yang
terkena masalah kesehatan (umur, jenis kelamin,
lokasi, dan suku) diidentifikasi.

Di samping itu, dicari pula bagaimana pengaruh


atau akibat dari masalah kesehatan tersebut
(mortalitas, morbiditas, disabilitas, tanda dan
gejala yang timbul) dan cara menanggulangi
masalah tersebut (imunisasi, perawatan atau
pengobatan, modifikasi lingkungan atau
perilaku).
Informasi ini sangat penting untuk menetapkan
prioritas masalah, yang didasarkan
pertimbangan besarnya masalah dan akibat
yang ditimbulkan, serta kemungkingan untuk
diubah.

Prioritas masalah harus tergambar pada tujuan


program dengan ciri who eill benefit how
much of what outcome by when.
Statistik vital
Usia rentan meninggal
Kecacatan
Angka kejadian
Morbiditas
Mortalitas
DIARE adalah banyaknya penduduk terutama
balita dan anak-anak yang menderita diare dan
angka kematian anak akibat diare cukup tinggi.
Fase 3 (Diagnosis perilaku dan lingkungan)

Diagnosis perilaku adalah analisis hubungan


perilaku dengan tujuan atau masalah yang
diidentifikasi dalam diagnosis epidemiologi
atau sosial.
Diagnosis Lingkungan adalah analisis paralel
dari faktor lingkungan sosial dan fisik daripada
tindakan khusus yang dapat dikaitkan dengan
perilaku.
Predisposisi Genetik
Umur
Jenis Kelamin
Penyait Yang Diderita
Iklim
Tempat Kerja
Ketersediaan Fasilitas Kesehatan Yang Adekuat
Dan Lain-lain.
Indikator masalah perilaku yang memengaruhi
status kesehatan seseorang adalah
pemanfaatan pelayanan kesehatan
(utilization)
upaya pencegahan (prevention action)
pola konsumsi makanan (consumption
pattern)
kepatuhan (compliance)
upaya pemeliharaan kesehatan sendiri
(self care)
Dimensi perilaku yang digunakan adalah
Earliness
Quality
Persistence
Frequency
Range

Indikator lingkungan yang digunakan adalah


Keadaan Sosial
Ekonomi
Fisik
Pelayanan Kesehatan
Dimensi yang digunakan terdiri atas
Keterjangkauan
Kemampuan
Pemerataan
Fase 4 (Diagnosis pendidikan dan
organisasi)

Tahap diagnosis pendidikan dan


organisasional model Precede memberi
penekanan pada faktor-faktor
predisposisi, pendukung, dan penguat.
Faktor predisposisi (predisposing factors)
Faktor yang mempermudah atau mendasari untuk
terjadinya perilaku tertentu.
Faktor pemungkin (enabling factors)
Faktor yang memungkinkan untuk terjadinya perilaku
tertentu atau memungkinkan suatu motivasi
direalisasikan.
Faktor penguat (reinforcing factors)
Faktor yang memperkuat (atau kadang-kadang justru
dapat memperlunak) untuk terjadinya perilaku
tersebut.
Reinforcing factor
Sejauh mana ketidakadannya akan berarti kehilangan
dukungan untuk tindakan dari individu atau kelompok.
Contoh diagnosis pendidikan dan
organinasional:
Predisposing factors
Kurangnya pengetahuan tentang cara hidup bersih dan sehat
Kebiasaan MCK di sungai
Penggunaan air sungai sebagai sumber air minum dan masak
Kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan dan setelah BAB
Kurangnya pengetahuan tentang diare
Enabling factors
Terbatasnya sumber/fasilitas air bersih
Terbatasnya fasilitas jamban
Terbatasnya daya jangkau ke pusat kesehatan
Kegiatan PKK dan karang taruna yang tidak terlaksana dengan baik
Reinforcing factors
Perilaku tokoh masyarakat yang juga tidak memberikan contoh
yang baik
Fase 5 (Diagnosis administrasi dan
kebijakan)
PRECEDE digunakan untuk meyakinkan bahwa
program akan sesuai dengan kebutuhan dan
keadaan individu atau masyarakat sasaran.
PROCEED untuk meyakinkan bahwa program akan
tersedia, dapat dijangkau, dapat diterima dan
dapat dipertanggungjawabkan kepada penentu
kebijakan, administrator, konsumen atau klien,
dan stakeholder terkait.
Hal ini dilakukan untuk menilai kesesuaian program
dengan standar yang telah ditetapkan.
Dokumen yang ada
Langsung dari masyarakat, di mana kita
bisa mendapatkan data mengenai status
kesehatan masyarakat, perilaku
kesehatan dan determinan dari perilaku
tersebut,
Petugas kesehatan di lapangan
Tokoh masyarakat
Key informant approach
Informasi yang diperoleh dari informan kunci melalui wawancara mendalam
atau Focus Group Discussion(FGD) sangat menolong untuk memahami
masalah yang ada
Community forum approach
Forum diskusi yakni health promotor bersama-sama masyarakat
mendiskusikan masyarakat yang ada
Sample survey appproach
Cara pengumpulan data kebutuhan masyarakat yang paling valid dan akurat,
karena estimasi kesalahan bisa diseleksi. Namun demikian cara ini merupakan
cara yang paling mahal. Metode yang dapat digunakan adalah wawancara dan
observasi (terutama bila ingin melihat keterampilan atau skill).
Fase 6 (Implementasi)
Pada tahap ini, merencanakan suatu intervensi (secara
besar pada fase-fase sebelumnya), berdasarkan
analisis. Sekarang, yang harus kita lakukan adalah
menjalankannya.
Fase ini hanya berupa pengaturan dan
pengimplementasian intervensi yang telah
direncanakan sebelumnya.
Pada fase ini, intervensi yang telah disusun pada fase
kelima diterapkan secara langsung pada masyarakat.
Contoh implementasi yang dapat dilakukan dalam
penanggulangan masalah diare

Penyuluhan tentang diare, penanganan awal, dan pencegahan


Promosi dalam bentuk penyuluhan mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Promosi penggunaan WC ideal dan sehat bagi keluarga
Menyebar informasi melalui media cetak mengenai diare dan pencegahaannya

Promotif Menyebar informasi melalui media cetak mengenai cara pembuatan oralit
Bekerja sama dengan pemuka masyarakat dan kader desa untuk menanggulangi
diare

Memperbaiki higienitas
Memperbaiki sanitasi
Pengolahan air bersih
Preventif
1. Rencana Terapi A (Terapi diare tanpa
Kuratif dehidrasi di rumah)
2. Rencana Terapi B (Terapi diare dengan
dehidrasi ringan/sedang)
3. Rencana Terapi C (untuk diare dengan
dehidrasi berat):

Rehabilitasi Rujuk ke Rumah Sakit


Fase 7 (Evaluasi proses)

Fase ini bukanlah mengenai hasil,


tetapi mengenai prosedur.

Evaluasi disini berarti apakah


kita sedang melakukan apa yang
telah kita rencanakan
sebelumnya
Contoh??
penawaran pelayanan kesehatan diare tiga hari dalam
sepekan pada daerah pedesaan, apakah dalam
kenyataannya kita benar-benar melakukan pelayanan
kesehatan tersebut.

lalu menetapkan memberikan penyuluhan


1. senin dan kamis penyuluhan tentang diare dan
penanganannya di puskesmas berdekatan
2. selasa dan rabu melakukan penyuluhan ke sekolah-
sekolah
apakah kita benar- benar melaksanakan sesuai yang
direncanakan.
Fase 8 (Evaluasi dampak)

1. fase ini mulai melakukan evaluasi terhadap


sukses awal dari upaya kita.

Apakah intervensi tersebut menghasilkan


efek yang kita inginkan pada faktor
perilaku atau lingkungan yang kita
harapkan untuk berubah.
Fase 8 (Evaluasi dampak)

2. Mengukur efektifitas program dari sudut


dampak menengah dan perubahan-perubahan
pada faktor :
Predisposing
enabling
reinforcing
Faktor-faktor yang
mempengaruhi:
Faktor predisposisi (Predisposing
factor)
- pengetahuan
- sikap
- tradisi dan kepercayaan
- sistem nilai yang dianut
- tingkat pendidikan
- tingkat sosial ekonomi mengenai kesehatan
Faktor-faktor pemungkin (Enabling
factors)
- ketersedian sarana dan prasarana atau
fasilitas kesehatan bagi masyarakat
Contoh : air bersih, tempat pembuangan
sampah, WC, tersedianya makanan yang
bergizi, fasilitas pelayanan kesehatan seperti
puskesmas, rumah sakit,
Faktor-faktor penguat (Reinforcing
factors)
- faktor sikap dan perilaku tokoh
masyarakat, agama dan para petugas
kesehatan,
- peraturan-peraturan baik dari
pusatmaupun daerah
Fase 9 (Evaluasi hasil)

Mengukur perubahan dari keseluruhan objek


dan perubahan dalam kesehatan dan
keuntungan sosial atau kualitas kehidupan
(outcome
Perubahan gaya hidup yang dilakukan oleh
remaja untuk mencegah penyakit jantung dan
stroke, biasanya tidak terlihat dalam
kesehatan mereka hingga mereka berusia
pertengahan. Bila outcome tidak terlihat
dalam jangka waktu yang lama, maka kita
harus bersabar dan tetap mengawasi proses
dan dampak dari intervensi kita, dengan
keyakinan bahwa outcome tersebut akan
terlihat dengan nyata nantinya.
Menentukan status kesehatan masyarakat.
Menentukan pola pelayanan kesehatan
msyarakat yang ada.
Menentukan hubungan antara status
kesehatan dan pelayanan kesehatan di
masyarakat
Menentukan determinan masalah kesehatan
masyarakat (meliputi tingkat pendidikan,
umur, jenis kelamin, ras, letak geografis,
kebiasaan atau perilaku dan kepercayaan yang
dianut).
Kecamatan Randu memiliki wilayah kerja 7.700 m2, dan memiliki 6 puskesmas
pembantu, 14 posyandu, 8 bidan praktek swata yang ber penduduk sekitar 95.000 KK.
setiap Puskesmas pada kecamatan Randu memiliki sarana dan prasarana yang lengkap.
Sistim rujukan kesehatanpun dapat ditempuh hanya dalam waktu 2 jam dari
kecamatan ini. Kerjasama dengan lintas sektoral dalam tingkat kecamatan pun sangat
baik.
Meskipun Penduduk dalam wilayah kerja Puskemas Randu mayoritas adalah petani
cengkeh dan kopi yang memiliki tingkat pendidikan setingkat SMP namun tingkat
religious nya tinggi dan mereka sangat memegang nilai nilai tradisional. Kecamatan
Randu juga memiliki 16 SD, 7 SMP, 4 SMA dan 1 Madrasah Ibtidaiah.
Sistem pembuangan sampah di Kecamatan Randu belum dikelola dengan baik,
pembuangan sampah sembarang tempat. Sebagian besar diwilayah kecamatan Randu
ini seringkali mengalami banjir bila musim hujan yang dikarenakan aliran air dari
kecamatan ke sungai yang terdapat di tengah kecamatan itu tidak lancar. Kesadaran
masyarakat untuk masalah ini sangat kurang.
Pada setiap sekolah memiliki sistem pembuangan sampah yang belum sempurna juga,
masih banyak sampah yang dibiarkan bertumpuk di pinggir sekolah, dan banyak
jajanan yang dijual dipinggir jalan di setiap sekolah.
Dalam laporan akhir tahun kepada Dinkes, wilayah Kecamatan Randu mempunyai angka
kejadian diare yang tinggi yaitu 11-15% pertahun, terutama pada anak usia 5-9 tahun.
Kecamatan Randu sering banjir saat musim
hujan
Pekerjaan sebagian penduduk adalah petani
cengkeh dan kopi
Anak anak sering terserang diare
Diagnosis Epidemiologi

Wilayah Kec. Randu mempunyai angka kejadian


diare yang tinggi, yaitu 11-15% pertahun,
terutama pada anak usia 5-9 tahun
Perilaku :
Kebiasaan penduduk untuk membuang sampah pada
tempatnya yang rendah
Tidak membiasakan diri mencuci tangan sebelum makan.
Masih banyak sampah yang dibiarkan bertumpuk di
pinggir sekolah dan banyak jajanan yang dijual dipinggir
jalan di setiap sekolah.
Kurangnya pengetahuan penduduk mengenai cara
pengolahan dan penyajian makanan yang sehat

Lingkungan :
Aliran air dari kecamatan ke sungai yang terdapat di tengah
kecamatan tidak lancar akibat sampah
Banjir sering terjadi akibat drainase yang tidak lancar
1. Predisposing factor
2. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai penyakit diare dan
cara penatalaksanaannya.
3. Enabling factor
4. Kurangnya fasilitas tempat sampah di tempat umum.
5. Tidak berjalannya sistem pengolahan sampah secara benar.
Tidak tersedianya tempat cuci tangan di sekolah-sekolah, terutama sekolah
dasar.
Sistem drainase yang tidak baik
6. Reinforcing factor
7. Himbauan yang kurang dari tokoh masyarakat untuk menjaga
kebersihan lingkungan.
8. Kebiasaan membuang sampah sembarangan pada warga yang turut
dicontoh oleh anak-anak.
Belum adanya kebijakan pemerintah setempat
untuk memberikan sanksi bagi yang membuang
sampah sembarangan.
Belum berjalannya penyuluhan mengenai diare dan
cara penatalaksanaannya.
Prioritas Masalah
kurangnya kesadaran masyarakat terutama anak-anak tentang
kebersihan perseorangan serta kurangnya pengetahuan dan
pemahaman masyarakat tentang penyakit diare dan cara
pencegahannya
Tujuan Promosi Kesehatan
Tujuan umum
Menurunkan angka kejadian diare di Kecamatan Randu
Tujuan khusus
Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai
pengolahan sampah dan kebersihan perseorangan.
Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penyakit diare dan
cara pencegahannya
Tujuan khusus
Meningkatkan pengetahuan masyarakat akan
kebersihan penyajian makanan terutama
terhadap anak-anak.
Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam
kegiatan puskesmas dan posyandu
Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam
menjaga kebersihan lingkungan dengan
gotong royong.
Sasaran Promosi Kesehatan
Kepala desa dan pemuka masyarakat di Kecamatan Randu
SDM Kesehatan di Kecamatan Randu
Seluruh masyarakat di Kecamatan Randu

Isi Promosi Kesehatan


Penjelasan cara pengolahan sampah dan dampak akibat sampah yang
menumpuk
Pengertian penyakit diare dan bagaimana menangani serta mencegahnya.
Mengajak masyarakat untuk hidup sehat dan berpartisipasi untuk
kebersihan lingkungan dengan gotong royong membersihkan wilayahnya
Menjelaskan metode penyajian dan pengolahan makanan yang bersih
kepada orang tua dan pedagang yang berjualan di sekolah sekolah
Metode Promosi
Kesehatan
Penyuluhan mengenai penyakit diare dan
pencegahannya.
Penyuluhan mengenai pengolahan sampah
Penyuluhan mengenai penyajian dan pengolahan
makanan yang bersih dan sehat.
Melakukan gerakan cuci tangan terhadap anak-
anak SD
Pemasangan poster mengenai makanan sehat
bergizi dan seimbang
Pemasangan poster mengenai pentingnya menjaga
kebersihan lingkungan dengan mengolah sampah dan
membersihkan lingkungan agar tidak banjir
Melakukan pelatihan penyajian dan pengolahan
kepada orang tua dan pedagang yang berjualan di
sekolah-sekolah
Menjaring dan melatih SDM Kesehatan dan kader dari
masyarakat untuk bisa memberikan penyuluhan ke
rumah-rumah penduduk mengenai pola makan yang
sehat, bergizi dan seimbang serta peran kebersihan
lingkungan dalam menunjang masyarakat yang sehat
dan merubah perilaku masyarakat.
Media Promosi
Kesehatan

Poster
Pamflet
Evaluasi Output:
Dilaksanakan sebelum berakhirnya acara,
dengan cara memberikan angket/kuesioner yang
berisi pertanyaan sejauh mana peserta memahami
materi yang telah disampaikan.
Evaluasi Outcome:
Evaluasi dilaksanakan 1 bulan sekali
berdasarkan persentasi angka kejadian diare di
Kecamatan Randu
Menurunnya angka kejadian diare
Meningkatnya pengetahuan SDM Kesehatan dan
masyarakat mengenai diare, kebersihan perorangan
dan lingkungan baik pengolahan sampah, cara
penyajian dan pengolahan makanan.
Peningkatan kesadaran masyarakat untuk mengikuti
program yang dilaksanakan puskesmas
Menilai perilaku masyarakat akan menjaga kebersihan
Menilai kebiasaan cuci tangan anak-anak sebelum
makan
Berkurangnya angka kejadian diare di
Kecamatan Randu