Anda di halaman 1dari 29

Electro or Cryogulation

Cervix
Oleh : Mohamad Nuramin bin Masrom
Pembimbing Residen : dr. Muliati Arif
Supervisor Pembimbing : dr. Darma Syanti, Sp.OG
Latar Belakang

Kanker serviks adalah keganasan yang terjadi pada bagian terendah


dari rahim yang menonjol ke puncak liang senggama (vagina).

Kanker serviks menempati urutan kedua dengan incidence rate 16 per


100.000 perempuan.

Berdasarkan data WHO tahun 2012 diperkirakan 20.928 kasus kanser


serviks terdiagnosis dan kenker ini menduduki peringkat kedua
penyebab kanker pada wanita di Indonesia
DATA STATISTIK
Berdasarkan data WHO tahun 2012 diperkirakan 20.928 kasus kanser
serviks terdiagnosis dan kanker ini menduduki peringkat kedua
penyebab kanker pada wanita di Indonesia.
Berdasarkan data WHO yang dipublikasikan pada tahun 2013
dilaporkan bahwa kanker serviks diperkirakan membunuh 275.000
perempuan setiap tahun dan sekitar 500.000 kasus baru dilaporkan di
seluruh dunia.
Kanker serviks merupakan pembunuh terbesar kedua pada wanita di
negara berkembang.
Berdasarkan data ini didapatkan bahwa Indonesia menduduki
peringkat ke-6 dngan jumlah kematian 7493 jiwa.
DATA STATISTIK
528.000
kanker
266.000
serviks
terdiagnos wanita mati
is akibat kanker
serviks
WHO WHO
85 %
2012 terjadi di 2012
negara yg 231.000
masih daripadanya
berkemb tergolong
ang
dalam golong
berpendapatan
Pembunuh ke- rendah-
sederhana
2 terbesar
Kanker
Seviks
pada negara
berkembang
Skreening Kanker Serviks
Tujuan penapisan untuk menemukan prakanker 1,3.
Beberapa metode skreening :
Inspeksi Visual dengan Aplikasi Asam Asetat (IVA)
Pemeriksaan Sitologi (Papanicolaou/ tes Pap).
Pada lesi dengan displasia ringan sebagian besar lesi dapat sembuh
sendiri atau regresi spontan, sedangkan untuk displasia sedang dan
berat dapat dilakukan beberapa alternatif pengobatan, di antaranya
adalah krioterapi serviks.1-5
Definisi Kriogulasi/Krioterapi
Krioterapi (berasal dari Greek-kryos, berarti beku dan therapeia, berarti
pengobatan) adalah bentuk pengobatan beku dalam dunia medis
dengan menggunakan suhu di bawah 0'C.
Kriokoagulasi adalah bentuk krioterapi lokal yang melibatkan
perusakan dangkal jaringan yang tidak penting (lesi) tanpa merusak
integritas jaringan akibat pembekuan
Kriokoagulasi adalah terapi tanpa nyeri dan tanpa perdarahan.6-9 .
Temperatur yang digunakan pada lesi lokal adalah temperatur rendah (
mulai dari 0'C sampai - 21'C).
Mekanisme Kerja Krioterapi
Biokimia, dan fenomena fisik bersatu untuk membeku membentuk
formasi kristal es.

Proses pendinginan yang terjadi pada jaringan (mulai 15C hingga -


5C) menyebabkan pembentukan kristal es di lingkungan ekstraseluler.

Peningkatan konsentrasi elektrolit mengubah gradien konsentrasi


antara lingkungan ekstrasel dan intrasel.

Hal ini menyebabkan sel mengalami dehidrasi dan kontraksi.


Lingkungan hipertonik di dalam sel membantu proses transisi dari
komponen sel untuk keluar dari membran sel.
Dehidrasi juga menyebabkan terjadinya disintegrasi pada lisosom
Adanya kristal-kristal es di dalam sel menyebabkan kerusakan dari
mitokondria dan retikulum endoplasma.
Dari semua gangguan yang terjadi, berakibat pada terhambatnya
sintesis DNA.
Agen Yang Digunakan Dalam Krioterapi/
Kriokoagulasi
Agen pembekuan, juga disebut liquid cryogenic digunakan dalam
perlengkapan cryosurgical.
Agen-agen ini aman digunakan, tidak menginflamasi, dan tidak
menggunakan proses kimiawi.
Agen yang biasa digunakan yaitu sebagai berikut.
Nitrogen cair (mendidih pada 195,8C)
Nitrogen oxide (mendidih pada 88,7C)
Carbon dioxide (mendidih pada 78,9C)
Teknik Yang Digunakan Dalam
Krioterapi/ Kriokoagulasi
Deep steak :
Pembekuan dengan menggunakan tampon nitrogen. Metode ini hanya
dapat diaplikasikan pada lesi jinak dan dangkal.
Metode ini adalah menggunakan swab yang dicelupkan pada nitrogen
yang selanjutnya swab tersebut akan mengisi sela-sela pembuluh
darah pada daerah yang di lakukan
Spot freeze :
Metode semprot yang menggunakan nitrogen atau NO cair sebagai
agen pembeku. Metode ini terutanma digunakan untuk terapi titik
fokal dengan diameter maximal 2 cm.
Contact method
Contact method juga disebut sebagai metode aplikasi, metode ini
menggunakan kontak krioaplikasi dan NO sebagai agen pembeku.
Berdasarkan tip yang digunakan pada metode ini, metode ini dapat
digunakan untuk mengobati berbagai lesi berbeda.
Loop Electrosurgical Excicion Procedure (LEEP)

Loop Electrosurgical Excicion Procedure (LEEP)


juga direkomendasikan sebagai pilihan terapi
pada pasien rawat jalan.
Meskipun krioterapi adalah terapi termudah
dan sangat ringan biayanya, LEEP juga perlu
dipertimbangkan penggunannya.
LEEP digunakan ketika lesi pada serviks cukup
besar atau lesinya melibatkan kanalis
endoserviks, atau ketika sampel pemeriksaan
histologi diperlukan setelah terapi
Indikasi & Kriteria Krioterapi
Indikasi Kriteria ekslusi

Sceening testnya positif Dicurigai adanya penyakit displasia


sebagai cervical precancer glandular
Lesinya cukup kecil dan Lesinya lebih dari 2 mm
tidak lebih dari 2mm Pasien hamil
Lesinya dapat dilihat secara PID(hingga dapat ditangani)
keseluruhan dan tidak meluas Sedang menstruasi
hingga ke endoserviks atau
ke dinding vagina.
World Health Organization. Comprehensive Cervical Cancer Control: A Guide to Essential Practice
PELAKSANAAN
KRIOTERAPI DI
INDONESIA
(MENURUT MENTRI
KESEHATAN RI)
Siapa yang Memenuhi Syarat untuk
Krioterapi/Kriokoagulasi
Tindakan pengobatan dengan cara krioterapi dapat diberikan pada
pasien di Puskesmas dan unit pelayanannya dengan kriteria sebagai
berikut :

1. Lesi acetowhite yang menutupi serviks kurang dari 75%, tidak lebih
dari 2 mm di luar diameter kriotip.

2. Lesi yang tidak meluas sampai dinding vagina

3. Tidak dicurigai kanker


Cara Melakukan Tindakan Krioterapi/
Kriokoagulasi
Peralatan dan Perlengkapan :
Unit krioterapi/kriokoagulasi tersebut terdiri dari
Regulator dengan penunjuk tekanan dan dudukan penyemprot gas
(cryogun)
Selang fleksibel yang menghubungkan regulator dengan penyemprot;
Penyemprot dengan pegangan dan tombol freeze (beku)/defrost (cair)
Probe
Kriotip metal/besi
Gambar unit cryoterapi
Prosedur Tindakan
video
Gunakan teknik freeze clear freeze. Setelah 15 detik dilakukan
freeze, tekan tombol defrost tidak lebih dari 1 detik. Segera tekan
tombol freeze kembali
Tugas Pasca Krioterapi /kriokoagulasi
1) Bersihkan lampu/senter dengan kain/kasa yang telah dibasahi larutan dibasahi
larutan klorin 0,5% untuk menghindari kontaminasi silang antar ibu/pasien.
2) Celupkan kedua tangan yang masih memakai sarung tangan ke dalam larutan
klorin 0,5%. Lepaskan sarung
3) Cuci tangan dengan sabun dan air kemudian keringkan dengan kain yang bersih
dan kering, atau dianginkan.
4) Pastikan ibu/perempuan tidak mengalami kram atau flashing sebelum duduk,
turun dari meja periksa dan berpakaian. Jika masih terasa sangat kram setelah 5
10 menit, berikan analgesik oral (acetaminophen atau ibuprofen).
5) Beri anjuran mengenai asuhan pasca pengobatan, tanda-tanda peringatan dan
jadwal tindak lanjut.
6) Catat hasil pengobatan dan jadwal kunjungan berikutnya pada status pasie
7) Amati pasien minimal selama 15 menit , tanyakan bagaimana keadaannya
sebelum mengijinkannya pulang
8) Bersihkan unit krioterapi sesuai instruksi dalam lampiran
Konseling Pasca Krioterapi/Kriokoagulasi
Beritahu ibu bahwa dia mungkin akan mengalami kram dan
mengeluarkan cairan bening (atau sedikit bercampur darah) yang
biasanya berlangsung selama 4 sampai 6 minggu.
Bicarakan mengenai jadwal tindak lanjut dan tanda - tanda peringatan
yang mengharuskan dia untuk kembali ke fasilitas untuk mendapat
perawatan, yaitu:
Demam selama lebih dari 2 hari.
Nyeri pada abdomen yang amat sangat khususnya jika dibarengi dengan
demam.
perdarahan selama lebih dari 2 hari yang lebih banyakdari menstruasi
terbanyak.
Perdarahan disertai gumpalan
Rujukan
Dokter umum harus merujuk pasien yang mengalami kondisi-kondisi di
bawah ini ke tingkat fasilitas perawatan yang lebih tinggi :
Lesi acetowhite lebih dari 75% dari permukaan leher rahim, lesi
acetowhite meluas sampai dinding vagina atau lebih dari 2 mm tepi
luar probe kriotherapi
Lesi acetowhite positif, tetapi pasien meminta pengobatan lain selain
kriotherapi atau meminta tes diagnosa lain
Dicurigai kanker
Kontraindikasi Dan Efek Samping Krioterapi
/Kriokoagulasi
vulvitis, vaginitis, cervicitis and/or pelvic inflammatory disease (PID)
Ca serviks
intracervical exposure to diethylstilbestrol (DES)
Menstruasi
Koloscopy yang tidak memuaskan
Post kuret
CIN persisten setelah kriokoagulasi sebelumnya
High CIN lesion
Lesinya lebih besar daripada dua kuadran pada permukaan ektoserviks
Lesinya meluas melebihi 5 mm dari diameter kanalis serviks
Efek Samping Pasca Tindakan
Efek Samping Penatalaksanaan

1. Kram Beritahu pasien sebelum tindakan bahwa dia akan mengalami

kram pada saat tindakan dan setelahnya.

Kurangi kram dengan menekan ringan pada serviksdengan

menggunakan krioterapi probe.

Jika sangat kram berikan parasetamol atau aspirin.


2. Discharge Beritahu pasien bahwa ia akan mengalami keluhan keluar cairan dari vagina /

vagina yang discharge selama sekitar 4 minggu.

berlebihan Beritahu pasien bahwa akan terjadi perubahan warna discharge dari merah

muda menjadi bening atau agak kekuningan.

Beritahu pasien untuk kembali jika discharge berubah menjadi bau tak sedap,

gatal, atau berwarna seperti nanah (dan obati sesuai panduan standar IMS).

Anjurkan agar tidak berhubungan selama 4 minggu.

Jika tidak mampu menghindari hubungan seksual, anjurkan untuk memakai

kondom minimal selama 4 minggu.


3. Bercak/ menstruasi Beritahu pasien bahwa dia akan mengalami

ringan perdarahan/ bercak selama satu atau dua minggu.

Beritahu pasien agar kembali untuk dievaluasi jika

terjadi perdarahan berat.


Komplikasi
1. Nyeri dan kontraksi uretra (paling sering)

2. Sering mengalami keputihan yang berlebihan hingga 2-3 minggu


setelah terapi (20%)

3. perdarahan spotting hingga 2 minggu setelah terapi

4. Terjadinya stenosis pada kanalis serviks.(sangat jarang).


Referensi
1. Kemenkes RI. Pedoman teknis pengendalian kanker payu dara dan kanker
leher rahim. Jakarta Dirjen PP dan Pl.2013.h.47-61
2. WHO. Comprehensive Cervical Cancer Control: A Guide to Essential
Practice.WHO.2014.h127-142
3. Szkodziak P, Woniak S, Czuczwar P. Krioterapi in gynecology in the light of
current scientific reports. EJMT 3(4) 2014.h.29-35.
4. Baust JG, Gage AA, Bjerklund Johansen TE, BaustJM. Mechanisms of
cryoablation: Clinical consequences on malignant tumors. Cryobiology
[Internet]. 2014 Feb [cited 2014 Mar 15];68(1):111.
5. Farah Z, Yajrashi S, Shaheen. A study on the effect of Krioterapi and LEEP in
cervical dysplasia. Biomed Res- India 2012; 23 (4): 533-535.