Anda di halaman 1dari 99

Tutorial Semester II

Hemato Onkologi
2017

Anemia Hemolitik

Edwin Darmawan
Moderator: Dr. dr. Hani Susanti Sp.PK (K)
Pendahuluan
Hemolisis / Kelainan Hemolitik

Meningkatkan kecepatan destruksi (lisis)
eritrosit
(life span berkurang, normal 120 hari)
Anemia
Penurunan Jumlah Eritrosit Hemolitik

Terjadi ketika
Oksigenasi Jaringan

kecepatan
Produksi Eritropoietin oleh Ginjal destruksi
melebihi
Stimulasi Pertumbuhan Eritroid peningkatan
kecepataan
Pelepasan Retikulosit dari Sum-sum Tulang produksi eritrosit
90% terjadi secara
Ekstravaskuler
(macrophage-mediated)
Hemolisis
Intravaskuler
Hemolytic Anemia

IMMUNE NON-IMMUNE
Immune
Hemolytic Anemia
Immune Hemolytic Anemia

Antibody-mediated Immunity
Berikatan dengan determinan atau
faktor yang terdapat di membran
eritrosit.

Antibodi ini dapat muncul secara


spontan atau diinduksi oleh agen
eksogen seperti obat-obatan atau
senyawa kimia lainnya.
7
Kasper DL, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, Loscalzo
8 J.
Harrison's Principles of Internal Medicine. 19 ed: McGraw-Hill
Immune Hemolytic Anemia

Autoantibody (self RBC antigen)


Alloantibody/Isohemagglutinin
(RBC antigen of another person)
Antibody against drug
AUTOANTIBODY

Warm Autoimmune Hemolytic Anemia


Cold Agglutinin Disease
Mixed-type Autoimmune Hemolytic
Anemia
Paroxysimal Cold Hemoglobinuria
Warm Antibody
Immunohemolytic Anemia
Disebabkan oleh high-affinity IgG atau IgA
(sangat jarang) yang aktif pada suhu 37C.

Idopatik/primer (60%) dan sekunder akibat


penyakit imun lainnya (seperti pada SLE)
atau diinduksi oleh obat-obatan,dan dapat
juga disebabkan oleh keganasan
(neoplasma sel B) maupun infeksi virus
11
Cold Antibody
Immunohemolytic Anemia
Paling banyak usia 50 years. Disebut juga cold
hemagglutinin disease (CHAD)
Disebabkan oleh low-affinity IgM berikatan pada
membran eritrosit pada suhu dibawah 30C.
Komplemen terfiksasi eritrosit pada suhu 0C - 4C
Aglutinasi dan hemolisis terjadi pada suhu sampai
30C.
Kadang terjadi di daerah distal tubuh. (telinga, jari-jari
tangan, atau kaki) pada musim dingin.
Ikatan IgM-eritrosit akan memfiksasi
protein komplemen, namun
langkah pada kaskade komplemen
akan tidak berlangsung/kurang
efisien pada suhu dibawah 37C.

kebanyakan sel yang berikatan
dengan IgM akan berikatan
dengan C3b tidak mengalami lisis
secara intravaskular.

13
Saat sel berpindah ke area yang lebih hangat,

Ikatan lemah IgM ini akan lepas, namun tetap
diopsonisasi oleh C3b

Fagositosis oleh makrofag, terutama di lien dan
hepar (RES), hemolisis ekstravaskular.

Ikatannya dengan IgM, juga dapat menyebabkan


ikatan dengan eritrosit lain dan nantinya akan
terjadi clumping (aglutinasi)
14
Pengendapan darah di kapiler akibat aglutinasi
akan menyebabkan Raynaud phenomenon.

15
Kasper DL, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, Loscalzo J. Harrison's 16
Principles of Internal Medicine. 19 ed: McGraw-Hill Education; 2015.
Mixed-Type AHA

Secara simultan membentuk


IgG autoantibody yang aktif pada 37
C (WAIHA)

IgM autoantibody patologis bereaksi


optimal pada 0 C to 10 C namun
dapat bereaksi juga sampai 30 C (CAD)
Paroxysimal Cold Hemoglobinuria

Hemolitik anemia imun yang jarang, terjadi paling


banyak pada anak-anak
Bisa dipicu oleh infeksi virus, self-limited, dan
diakibatkan oleh Donath-Landsteiner antibody

In Vitro, antibodi ini spesifik terhadap protein P, Anti P.


Berikatan pada eritrosit pada suhu rendah, (optimal
pada 4C) dan lisis terjadi akibat aktivasi komplemet
pada saat suhu meningkat sampai 37C.

Terlihat pada In Vivo, akan terjadi hemolisis


intravaskuler menyebabkan hemoglobinuria.
Paroxysimal Cold
Hemoglobinuria
Diagnosis sulit dibedakan dengan penyakit
hemoglobinuria lain, dan hanya bisa dideteksi
pada pemeriksan Donath-Landsteiner antibody

19
Autoantibody
Alloantibody

Hemolytic Transfusion Reaction


Hemolytic Disease of The Fetus
and Newborn (HDN)
Hemolytic Transfusion Reaction
ACUTE DELAYED
Menit sampai jam paska Hari sampai minggu paska
transfusi tranfusi, seiring titer Ab
Lebih sering diakibatkan meningkat
karenan kelalaian Biasanya pasien sudah
transfusi donor yang mengenali Ag pada saat
inkomptibel terhadap kehamilan maupun
resipien riwayat transfusi dahulu,
namun saat tersebut
titernya masih dibawah
Diperantarai complement
kadar deteksi serologis
intravascular hemolysis
Paparan kedua
peningkatan titer
HDN
IgG aloantibodi dari
ibu melalui plasenta
ke sirkulasi fetal
berikatan dengan
eritrosit janin yang
positif terhadap
antigen

Makrofag
(Extravascular
Hemolysis)

Severe hydrops
fetalis
DRUG INDUCED HEMOLYTIC ANEMIA
DRUG-DEPENDENT IMMUNE
Terjadi ikatan antara drug-dependent antibody
dengan molekul obat dan membran sel eritrosit
secara bersamaan sehingga terjadi destruksi
eritrosit karena mekanisme lisi komplemen dan
hemolisis ekstravaskuler.
Apabila pemakaian obat dihentikan, respon
tersebut akan menurun.
Obat yang dapat menimbulkan rekasi tersebut,
antara lain:
quinine, quinidine, rifampicin, chlorpropamide,
hydrochlorothiazide, nomifensine, phenacetin.
DRUG INDUCED HEMOLYTIC ANEMIA
DRUG INDUCED AUTOIMMUNE
Anti-red cell autoantibody yang terbentuk
menunjukkan kesamaan secara serologis dengan
autoantibodi pada idiophatic warm-type AIHA.
Autoantibodi yang terbentuk bereaksi dengan
eritrosit pada saat obat sudah tidak dikonsumsi.
Obat yang dapat menimbulkan rekasi tersebut,
antara lain:
-methyldopa, L-dopa,chlordiazepoxide, asam
mefenamat, asam flufenamic, dan indomethicin.
Non-Immune
Hemolytic Anemia

Hereditary Acquired
Hereditary
Hemolytic Anemia
28
Sferositosis Herediter (HS)
Sferositosis herediter disebabkan adanya
gangguan bawaan yang melibatkan skeleton
membran, sebuah jaringan yang terbentuk dari
protein-protein, pada sel darah merah yang
menjaga kestabilan bilayer lipid eritrosit.

Penyakiti ini tidak selalu dalam bentuk autosomal


dominant; beberapa kondisi yang berat
diketahui disebabkan oleh bentuk autosomal
recessive (with the patient being homozygous).

29
Protein skeletan membran utama adalah spectrin, sebuah heterodimer yang
panjang dan fleksibel yang ujung pertama berikatan satu sama lain, dan
ujung lain berikatan dengan filamen actin.

Hubungan ini menciptakan sebuah jaringan dua-dimensi yang nantinya akan


terhubung dengan protein transmembran band 3 dan glycophorin di lapisan
bilayer lipid melalui ankryn, band 4.2 dan band 4.1

30
Mutasi yang terlibat paling sering terjadi melibatkan
ankyrin, band 3, atau spectrin.

Fitur yang paling umum terlihat pada akibat mutasi ini


adalah melemahnya interaksi vertikal antara skeletol
membran dan membran protein intrinsik eritrosit.

Defek ini yang akan mengganggu stabilisasi bilayer lipid


yang akan menyebabkan terbentuknya
vesikel/mikrovesikal ke sirkulasi.

Sedikit demi sedikit, sitoplasma akan berkurang


menyebabkan rasio permukaan-isi berkurang secara
progresif yang kemudian hal ini menyebabkan sel
menjadi sferikal.

31
Normal organization of the major
red cell membrane skeleton
proteins.

Mutations in -spectrin, -
spectrin, ankyrin, band 4.2, and
band 3 that weaken the
association of the membrane
skeleton with the overlying
plasma membrane cause red
cells to shed membrane vesicles
and transform into spherocytes

32
33
Eliptositosis Herediter
Pola pewarisan Autosomal dominan

Patofisiologi Defek pada protein membrane skeletal :


Spectrin, protein 4.1
mempengaruhi deformabilitas eritrosit dan
menunjukkan kegagalan eritrosit untuk
kembali ke bentuk normal disc shape
setelah terjadi perubahan bentuk oleh shear
forces dalam mikrosirkulasi.

Manifestasi - Hemolysis ringan hingga berat atau hemolisis


kronis
- Elliptosit pada EHDT
- Osmotic fragility normal/

34
Stomatositosis Herediter

Pola Pewarisan Autosomal dominan

Patofisiologi Defisiensi protein membran integral protein:


stomatin atau band 7.2 perubahan
permeabilitas Na+ pada membran eritrosit
peningkatan natrium dalam sel RBC swell,
penurunan densitas dan lebih stomatositik

Manifestasi - Hemolysis ringan hingga berat


- MCV
- 5%-50% stomatosit, & makrosit pada EHDT
- Osmotic fragility

35
Xerositosis Herediter
Pola Pewarisan Autosomal dominan

Patofisiologi Etiologi tidak diketahui


Defek permeabilitas membran eritrosit
terjadi kehilangan K+
eritrosit mengalami dehidrasi

Manifestasi - Hemolisis sedang hingga berat


- MCHC
- Stomatosit , makrosit, target cells, spiculated
eritrosit pada EHDT
- Osmotic fragility

36
Spherocytes Elliptocyte

37
Inherited Diseases of the
Red Cell Membrane-Cyto skeleton Complex

38
Akantosis
Pola Pewarisan Autosomal resesif: terkait abetalipoproteinemia

Patofisiologi Sphingomyelin membran eritrosit &


phosphatidylcholine
Fluiditas lipid pada membran eritrosit
Perubahan bentuk eritrosit

Manifestasi - Hemolysis ringan


- Indeks eritrosit normal
- Acanthosit pada EHDT

39
DEFISIENSI G6PD
Pola pewarisan X-linked resesif (band X q28)

Patofisiologi Penurunan aktivitas G6PD tidak cukup untuk


menghasilkan NADPH tidak dapat
mempertahankan kadar glutathione (GSH)
dalam menghadapi stres oksidatif half life
eritrosit lebih pendek hemolisis.

Manifestasi - Seringkali asimptomatik


- Hemolysis akut selama oxidative stress akibat
pemakaian obat (e.g. Primaquine,
nitrofurantoin, etc) dan penyebab lain
- Hemolytic crisis: anemia sedang hingga berat
- Heinz-bodies , bite cells pada EHDT
- Aktivitas G6PD pada eritrosit

40
As the splenic macrophages pluck out these inclusions,
bite cells similar to the one in this smear are produced.
41
Kasper DL, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, Loscalzo J. 42
Harrison's Principles of Internal Medicine. 19 ed: McGraw-Hill Education;
DEFISIENSI G6PD

Heinz-bodies Bite cell

43
DEFISIENSI PIRUVAT KINASE
Pola pewarisan Autosomal resesif

Patofisiologi Eritrosit tidak mampu membentuk adenosine


triphosphate (ATP) dari adenosine diphosphate
(ADP) eritrosit menjadi rigid dan tidak fleksibel
terserap oleh lien dan dihemolisis

Manifestasi - Spektrum klinisnya luas:


Neonatus: anemia berat
Dewasa: anemia terkompensasi penuh
- Sedikit abnormalitas pada EHDT: polychromasi
dan beberapa eritrosit berinti.

44
45
PNH
Etiologi Mutasi somatik klonik pada phosphatidylinositol
glycan class A (PIG-A)
Tidak adanya glycosyl phosphatidylinositol (GPI)-
linked proteins pada permukaan sel
susceptibilitas terhadap complement

Manifestasi - Anemia ringan hingga berat


- reticulocytosis ringan hingga sedang
- Nocturnal hemoglobinemia
hemoglobinuria/hemosiderinuria
- Bone marrow: normocellular dengan hyperplasia
eritroid and M:E ratio
- Thrombosis
- Sucrose hemolysis & Ham test (+)
- Immunophenotyping: CD16, CD48, CD55, and
CD59
- PNH dapat berkembang menjadi AML pada 1-3%
pasien, terutama dalam 5 tahun pertama.
46
47

Kasper DL, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, Loscalzo J.
Harrison's Principles of Internal Medicine. 19 ed: McGraw-Hill Education;
Acquired
Hemolytic Anemia
Mikroangipatik: TTP
Makroangiopatik: Traumatic Cardiac
(defect cardiac valves)
Infeksi
Obat-obatan, senyawa kimia
Thermal Injury

49
TTP
Patofisiologi Defisiensi ADAMTS13 (specific vWF-cleaving
metalloproteinase)
Akumulasi dari vWF multimers
Platelet aggregation and clumping
Deposit fibrin pada epithelium dan dinding
vaskuler yang mengalami kerusakan
Fragmentasi eritrosit yang melewati deposit fibrin.

- Pentad TTP : anemia hemolytik with RBC


Manifestasi fragmentation, thrombocytopenia, neurologic
dysfunction, fever, progressive renal failure
- Leukocytosis shift to the left
- SADT: Helmet cells, microspherocytes, nucleated
RBCs, basophilic stippling
- Bone marrow: erythroid hyperplasia

50
HUS
Etiologi Sindroma dimana terjadi trombus pembuluh darah
kecil ginjal, hemolisis mikroangiopati, dan
trombositopenia yang terjadi setelah gejala
prodromal diare hemoragik (enteropathogenic
Escherichia coli serotype O157:H7 & Shigella
dysenteriae)

Patofisiologi Enteric bacteria (e.g. Shigella dysenteriae,


Campylobacter jejuni ) melepaskan toksin

Manifestasi - Menyerupai TTP, ditemukan pada anak-anak dan


terjadinya gagal ginjal lebih berat
- Leukocytosis
- Abdominal pain disertai vomiting
- Hipertensi pada >50% pasien
- Pemanjangan PT & PTT
- Proteinuria, hematuria, dan silinder eritrosit. 51
TRAUMATIC CARDIAC
Patofisiologi Artificial prosthetic valve pada pasien dengan
gangguan katup
Turbulensi dan robekan
Destruksi eritrosit

Manifestasi - Anemia dengan derajat yang bervariasi,


seringkali suatu hemolisis ringan yang
terkompensasi.
- Reticulocytosis
- Helmet cells, microspherocytes dan tipe lain
dari fragmented eritrosit pada EHDT
- Serum LDH and bilirubin Serum haptoglobin

52
INTRACELLULAR: Malaria

Kumar V, Abbas AK, Aster JC. Robbins Basic53


Pathology. 10 ed: Elsevier Health Sciences; 2017.
Infeksi Intraseluler: Malaria
Manifestasi - Keluhan tersering:
demam, chills,
sweating, headache,
muscle pain, dan
kelemahan
- 25% pasien:
hemolytic anemia
- Jaundice
- Splenomegali dan
hepatomegali
- Reticulocytosis
- Leukocytosis
- SADT: Spherocytosis,
malaria parasit

54
Infeksi Clostridium perfringens

Patofisiologi Infeksi oleh Clostridium prefringens


-toxin dari C. Perfringens: lechitinase
bereaksi dengan kompleks lipoprotein pada
permukaan sel eritrosit
Dilepaskannya lysolecithins (potent
hemolytic substances)
Intravascular hemolysis

Manifestasi - Sering terjadi pada septic abortion


- Hemolisis berat dan seringkali fatal
- Reticulocytosis
- Leukocytosis shift to the left
- Prominent microspherocytosis
- Hemoglobinuria dan hemosiderinuria
55
Drugs, Chemical & Venom

Patofisiologi Drugs (e.g dapsone) & chemical agents (e.g.


naphthalene)
Denaturasi oksidatif pada hemoglobin

Venom (e.g. brown recluse spider, cobra, pit


viper)
enzim, activator dan inactivators
complement yang terkandung dalam venom
bereaksi secara langsung dengan membran
Manifestasi eritrosit.

- Anemia dengan berbagai derajat


- Reticulocytosis
- Bone marrow: eryhtroid hyperplasia
- Heinz bodies, spherocytes pada EHDT
- Serum bilirubin 56
Thermal injury

Patofisiologi In Vtiro, normal eritrosit pada suhu 49 C akan


menginduksi fragmentasi.

Combustio derajat 3 (>20% of body area)


Kerusakan thermal secara langsung terhadap
eritrosit di sirkulasi pada area kulit dan jaringan
Manifestasi yang terlibat
Hemolysis

- Anemia hemolitik akut dan bera


- Microspherocytes, budding (blistering) pada
EHDT
- Osmotic fragility Hemosiderinuria
57
Pemeriksaan
Laboratorium
Anemia Hemolitik
Indikator Peningkatan Indikator
Pemeriksaan Spesifik
Kecepatan Destruksi Peningkatan
Pada Anemia Hemolitik
Eritrosit Eritropoiesis
Complete blood Complete blood Peripheral blood smear
count count Direct antiglobulin test
Serum bilirubin Peripheral blood (Coombs test)
Lactate smear Osmotic fragility test
dehydrogenase Reticulocyte count Autohemolysis
Serum haptoglobin Bone marrow Sucrose hemolysis test
Urine examination Ham test
urobilinogen/hemoglo RBC enzyme studies
binuria/ hemosiderin Immunophenotyping

59
Indikator Peningkatan Kecepatan Destruksi Eritrosit

Specimen Test Result


Hb/Hct/RBC
Whole blood
Glycosylated Hb

Serum Total & indirect bilirubin


Direct bilirubin
n
Lactate dehydrogenase

Haptoglobin

Urine Urobilinogen/hb
Hemosiderin

61
Indikator Peningkatan Eritropoiesis

Specimen
Test Result
Whole MCV
blood Reticulocyte count
Peripheral blood Polychromasia/nucl
smear eated RBCs

Bone Bone marrow Erythroid


marrow examination hyperplasia

62
Reticulocyte Count
Indikator yang penting dalam menilai kemampuan sum-sum tulang
dalam melihat responnya, yaitu peningkatan produksi eritrosit,
terhadap anemia. Retikulosit merupakan eritrosit muda yang tidak
memiliki nukleus namun memiliki residu RNA
Normalnya, retikulosit berada di sirkulasi hanya 1 hari sampai sel
tersebut menajdi eritrosit yang matang.
Nilai rujukan dewasa: 0.5% - 2.5% (persentase dari total eritrosit)
Nilai rujukan bayi baru lahir: 1.5% - 6.0% beberapa minggu setelah
lahir, nilai rujukannya akan mendakati pada niali rujukan dewasa
Perbandingan Hasil Laboratorium pada Hemolisis
yang Terjadi Intra- dan Ekstravaskular
Pemeriksaan Spesifik
Pada Anemia Hemolitik
Morfologi Kelainan Eritrosit dan Penyakit/Kondisi yang Berhubungan
Morfologi: Inklusi Eritrosit
Laboratory Tests to Determine Specific
Hemolytic Processes

Direct Antiglobulin Test


Osmotic Fragility Test
Sucrose Hemolysis Test
HAM Test
DIRECT ANTIGLOBULIN TEST
Untuk mendeteksi adanya sensitisasi, antibodi dan
komponen komplemen yang melapisi permukaan eritrosit.
Tujuan
membedakan immune dan non-immune hemolytic
anemia

- Whole blood (EDTA)


Spesimen &
- Test tubes, Pasteur pipettes, incubator & centrifuge
peralatan
- 0.9% saline, Antihuman-globulin reagent

Interpretasi Agglutination = (+)

- Immune hemolytic anemia


hasil (+) - Transfusion reactions
- Hemolytic disease of the newborn 72
DIRECT ANTIGLOBULIN TEST

73
Osmotic fragility TEST

untuk mengukur resistensi eritrosis terhadap hemolysis


melalui osmotic stress (diekspose terhadap berbagai kadar
Tujuan dilute saline solutions)
mendeteksi spherocytes, tetapi tidak untuk
membedakan penyebab

- Whole blood (Heparin atau EDTA)


Spesimen &
- Test tubes, pipettes, centrifuge, spectrophotometer
peralatan
- Stock solution of buffered NaCl

- Hereditary spherocytosis
hasil
- Immune hemolytic anemia

74
OSMOTIC FRAGILITY TEST
Prosedur
1. Disiapkan dilusi buffered NaCl (9.0, 7.5, 6.5, 6.0,
5.5, 5.0, 4.0, 3.5, 3.0, 2.0 dan 1.0 g/l)

2. Dimasukkan 5.0 ml dari masing-masing


konsentrasi solusio saline ke dalam tabung tes.
Ditambahkan 5.0 ml air pada tabung ke-12.

3. Ditambahkan 0.05 ml whole blood ke tiap


tabung dan campur setiap tabung tes secara
cepat.

75
4. Inkubasi tabung dalam suhu ruangan
selama 30 menit dan kocok tabung
dan disentrifuse selama 5 pada 2500
RPM

5. Buang supernatan dan ukur


absorban dalam tabung
menggunakan spectrophotometer
pada 540 nm. Tabung tes ke-12 = 100%
hemolysis
OSMOTIC FRAGILITY TEST

Interpretation

% hemolysis:
Abs. of the test supernatant
x 100
Abs. of the 100% hemolysis

77
SUCROSE HEMOLYSIS TEST

Tujuan Untuk Screening PNH

Washed RBC diinkubasi dalam suatu larutan sucrose


isotonik yang mengandung serum normal ABO compatible
Prinsip
pada kadar ionik eritrosit yang rendah, eritrosit akan
mengabsobsi komponen komplemen dari serum.

Sel PNH memiliki sensitivitas tinggi akan lisis, sedangkan


eritrosit normal tidak mengalami lisis.
Interpretasi
Didapatakan 580% lisis
Hasil harus dikorelasikan dengan tes Ham

78
SUCROSE HEMOLYSIS TEST

Alat Dan Bahan


1. Sucrose solution (isotonic).
2. Cyanmethemoglobin reagent. ( drabkins
reagent)
3. Tabung Tes
4. ABO compatible serum (or serum from type
AB blood) from a normal donor.
5. Sodium chloride, 0.85% w/v .
6. Pipets, Spectrophotometer. 540 nm.
specimen must be fresh.

79
SUCROSE HEMOLYSIS TEST
Prosedur
Persiapan Washed Cell
1. 1 mL darah pasien.
2. Ditambahkan normal saline
3. Mix , sentrifugasi dengan kecepatan tinggi
(kurang lebih 30.000rpm), selama 5 menit, lalu
buang supernatan dengan hati-hati.
4. Ulangi langkah2,3

Persiapan Washed Cell 50% Solution


1. Tambahkan 3 tetes W.C dengan 3 tets NS, lalu dicampur.

80
SUCROSE HEMOLYSIS TEST
Persiapan Tabung Blood-Sucrose dan Blanko

Reagent Blood-sucrose Blank1

1. Larutan sukrosa 1.7 ml 1.7 ml


2. ABO Compatible serum. 0.1ml 0.1ml
3. 50% W.C 0.2ml

4. Campurkan dengan
cara inversi
5. Inkubasi temperatur
ruangan selama 30
menit.

81
SUCROSE HEMOLYSIS TEST, Mohammed A. Jaber
SUCROSE HEMOLYSIS TEST
Persiapan Tabung Blood-Sucrose dan Blanko

Reagent Total Blank Test


1. Drabkins 4750 l 4750 l 4750 l
2. Setelah inkubasi 30 min
250 l, mix
dari tabung blood
incubation
sucrose
10 min.
----- -----
3. Setelah inkubasi 30 min 250 l, mix
dari tabung blanko incubation
----- 10 min. -----
4. Setelah sentrifugasi 5 250 l, mix
menit, sisa dari tabung incubation
blood-sucrose dari 10 min.
suopernatan
----- -----
82
SUCROSE HEMOLYSIS TEST
Procedure Pembacaan
Pindahkan ke kuvet dan dibaca dengan
spektrofotometer pada panjang gelombang 540
nm. Buat blanko menjadi 0.0 dan catat
pembacaan OD pada sampel.
OD Test
OD
Persentase Hemolisis = Total x 100%

Negatif : 5%
Borderline : 6-10%
Positif : > 10%

83
HAM TEST

Tujuan Untuk konfirmasi diagnosis PNH

eritrosit pasien diekspose pada suhu 37oC terhadap serum


Prinsip normal atau serum pasien yang diasamkan menjadi pH
optimum untuk lysis (pH 6.57.0)

Bila sel tes berasal dari pasien PNH, eritrosit akan


Interpretasi mengalami lisis
seringkali didapatkan 1050% lysis

84
HAM TEST
Prosedur

1. Dimasukkan 0.5 ml sampel dari fresh normal serum,


group ABO-compatible dengan darah pasien, ke
dalam 3 pasang tabung tes.
2. Diletakkan 2 tabung pada suhu 56oC selama 1030
untuk menginaktivasi complement
3. Diletakkan 2 pasang tabung lainnya pada suhu
ruang dan tambahkan ke dalam sepasang tabung
serum (0.05 ml) HCl 0.2 mol/l
4. Tambahkan HCl dengan volume yang sama pada
sampel serum inaktif
5. Diletakkan semua tabung dalam waterbath
dengan suhu 37oC 85
HAM TEST

6.Sampel eritrosit pasien dan kontrol eritrosit


normal dicuci 2x dalam saline dan disiapkan
50% suspensi dalam saline.
7.Tambahkan 1/10 volume dari masing-masing
suspensi sel (0.05 ml) ke dalam masing-
masing tabung yang berisi: unacidified fresh
serum, acidified fresh serum dan acidified
inactivated serum
8.Suspensi dicampur dan diinkubasi pada
37OC selama 1 jam kemudian disentrifus.
86
HAM TEST
9. Untuk pengukuran lysis:
Masukkan 0.3 ml supernatant tes, seri kontrol dari
suspensi selserum, serum blanko dan lysed cell
suspensi (equivalent 0% dan 100% lysis) ke dalam 5
ml ammonia 0.4 ml/l
10. Ukur lysis dengan photo-electric colorimeter
menggunakan spectrometer pada 540 nm.

87
REFERENCES

1. Rodak BF, Fritsma GA, Doig K, editors. Hematology:


Clinical Principles and Applications, 4th ed. Missouri:
Saunders Elsevier. 2016.
2. Ciesla B, editor. Hematology in Practice.
Philadelphia: FA Davis. 2012.
3. Kasper DL, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson
JL, Loscalzo J. Harrison's Principles of Internal
Medicine. 19 ed: McGraw-Hill Education; 2015.
4. Kumar V, Abbas AK, Aster JC. Robbins Basic
Pathology. 10 ed: Elsevier Health Sciences; 2017.

88
TERIMA KASIH
.

Classical Complement Pathway


The complex activates C2
and C4 to form the C4bC2a
complex (C3 convertase) on
the membrane.

The complex converts C3 to


many C3b molecules on the
membrane.
90% terjadi
secara
ekstravaskuler
(macrophage-
Hemoglobin
mediated)

Degraded to Heme & Globin Released

Fe2+ Released Biliverdin

Converted to Unconjugated Bilirubin

Unconjugated Bilirubin Binds To Albumin

Unconjugated Bilirubin

Conjugated Bilirubin
Conjugated
bilirubin

Bacteria Conjugated Bilirubin


Urobilinogen

Fecal
Urobilinogen

Urine
Urobilinogen
Intravascular
Hemolysis
Eritrosit berikatan dengan antibodi atau
Komplemen akan melalui hemolisis secara
extravascularly by macrophages
intravascularly by complement
97
Drug DrugRBC RBC
Adsorption Immunogenic Autoantibody
Induction
Complex
IgG
Berikatan IgM and/or IgG IgG warm-
dengan antibody that reactive
eritrosit tanpa autoantibodie
aktivasi binds to the s against RBC
komplemen complex on the selfantigens.
Ikatan sangat RBCs, and react at 37 C
kuat dengn complement is indistinguishab
strongly fully activated le from those in
attached to WAIHA.
the RBCs via acute
the drug intravascular extravascular
hemolysis by
extravascular hemolysis. splenic
hemolysis by macrophages
splenic
macrophages