Anda di halaman 1dari 31

Pendahuluan

Pajak Penghasilan
Index
PERKEMBANGAN PPH
Definisi Pajak
Definisi PPh
Karakteristik PPh
Ketentuan PPh dari Waktu ke Waktu
Latar Belakang Perubahan UU PPh
Undang-Undang PPh
Ketentuan Formil dan Materiil
Sistematika Undang-Undang PPh
Latihan
Definisi Pajak
Kansil
Iuran kepada negara yang terutang oleh yang wajib membayarnya (wajib
pajak) berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapat prestasi (balas
jasa) kembali yang langsung.

Dr. Soeparman Soemahamidjaja


dalam disertasinya yang berjudul Pajak berdasarkan Asas Gotong Royong
Universitas Padjadjaran bandung 1964; Pajak adalah iuran wajib, berupa
uang atau barang yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma-norma
hukum, guna menutup biaya produksi barang-barang dan jasa-jasa kolektif
dalam mencapai kesejahteraan umum
Definisi Pajak Lanjutan

Prof. Rochmat Soemitro SH


iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan Undang-Undang (yang dapat
dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang
langsung dapat ditujukan dan digunakan untuk membayar pengeluaran
Umum.

Unsur-unsur pajak
1. Iuran rakyat kepada negara,yang berhak memungut pajak adalah
negara, iuran berupa uang bukan barang.
2. Berdasarkan undang-undang, pajak dipungut berdasarkan atau dengan
kekuatan undang-undang serta aturan pelaksanaannya.
3. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari negara secara langsung dapat
ditunjuk, dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya
kontraprestasi individual oleh pemerintah.
4. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, yakni pengeluaran
yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Definisi Pajak Lanjutan

Undang-Undang KUP
kontribusi wajib kepada negara
yang terutang oleh orang pribadi atau badan
yang bersifat memaksa
berdasarkan Undang-Undang,
dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan
digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.
PEMBAGIAN PAJAK

1. Berdasarkan 2. Wewenang 3. Berdasakan


Golongan Pemungutannya Sifat
a. Pajak Langsung a. Pajak Pusat a. Pajak Subjektif
b. Pajak tidak Langsung b. Pajak Daerah b. Pajak Objektif

PPh
MASIH INGAT???

Rumus Pendapatan

Y=C+I+S Y = Pendapatan
C = Konsumsi
I = Investasi
S = Tabungan

Objek PPh
Peta Konsep Pajak Penghasilan
Definisi PPh
Pajak yang dikenakan terhadap Subjek Pajak atas Penghasilan yang
diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak.

- Subjek pajak tersebut dikenai pajak apabila menerima atau


memperoleh penghasilan
- Subjek pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan, dalam
Undang-Undang ini disebut Wajib Pajak
- Wajib Pajak dikenai pajak atas penghasilan yang diterima atau
diperolehnya selama satu tahun pajak atau dapat pula dikenai pajak
untuk penghasilan dalam bagian tahun pajak apabila kewajiban pajak
subjektifnya dimulai atau berakhir dalam tahun pajak
- Yang dimaksud dengan tahun pajak dalam Undang-Undang ini
adalah tahun kalender, tetapi Wajib Pajak dapat menggunakan tahun
buku yang tidak sama dengan tahun kalender, sepanjang tahun buku
tersebut meliputi jangka waktu 12 (dua belas) bulan.
Karakteristik PPh
1. Pajak Subjektif
2. Pajak Langsung
3. Pajak Pusat
4. Broad-based Taxation
5. Sistem Self Assessment dan Withholding
6. Periode pemajakan dalam satu tahun pajak
7. Bersifat Progresif
Karakteristik PPh

1. Pajak Subjektif
- Subjek berarti pihak yang terhadapnya dikenakan kewajiban atau
kepadanya beroleh hak yang diatur dengan ketentuan hukum
- Subjek Pajak adalah pihak-pihak yang secara hukum pajak mempunyai
kewajiban melaksanakan kewajiban perpajakan dan memiliki hak-hak
dibidang perpajakan yang dijamin oleh undang-undang perpajakan
- pengenaan pajak penghasilan dititikberatkan pada keadaan dan kondisi
subjek pajak
- kondisi subjek pajak yang menjadi pertimbangan adalah kemampuan dalam
menjalankan kewajiban perpajakan yang dikenakan atas dirinya
- erat kaitannya dengan teori gaya pikul, yaitu pengenaan pajak tergantung
pada besarnya kemampuan membayar dari subjek pajak tersebut
- Besarnya kemampuan membayar pajak tidak hanya ditentukan oleh faktor
penghasilan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya, seperti
jumlah tanggungan wajib pajak
Karakteristik PPh

2. Pajak Langsung
- Pajak yang dibayarkan langsung oleh penanggung pajak kepada
Pemerintah dengan tidak menggeser beban pajak tersebut kepada pihak
lain.
- Ciri-cirinya, Subjek Pajak merupakan:
1. Penanggung pajak secara yuridis formal,
yaitu pihak yang ditunjuk untuk memenuhi kewajiban perpajakan
2. Penanggung pajak secara ekonomis,
yaitu pihak yang secara ekonomis menanggung beban pembayaran pajak
3. Destinataris pajak atau tujuan akhir pengenaan pajak
yaitu pemikul beban pajak terakhir.

3. Pajak Pusat
Tanggung Jawab Pemungutannya berada di Pemerintah Pusat
Karakteristik PPh

4. Broad-Based Taxation
- Penetapan Objek Secara luas
- Dalam Penentuan objek pajak, Undang-undang pajak penghasilan tidak
menetapkan secara definitif objek-objek yang dikenakan pajak, baik dari
segi bentuk, nama, sumber dan asal-usul penghasilan, serta tujuan
penggunaan penghasilan tersebut

5. Sistem Self Assessment dan Withholding


- Self Assessmet: wajib pajak wajib menghitung, memperhitungkan,
membayar, dan melaporkan pajaknya sendiri, tidak perlu menunggu
ketetapan pajak dari fiskus

- Withholding: Pihak ketiga diwajibkan untuk memotong/ memungut PPh


atas penghasilan yang diterima/diperoleh oleh wajib pajak
Karakteristik PPh

6. Periode pemajakan satu tahun pajak


- Wajib Pajak dikenai pajak atas penghasilan yang diterima atau
diperolehnya selama satu tahun pajak
- dapat pula dikenai pajak untuk penghasilan dalam bagian tahun pajak
apabila kewajiban pajak subjektifnya dimulai atau berakhir dalam tahun
pajak.

7. Bersifat Progresif
- semakin besar penghasilan wajib pajak akan dikenakan PPh yang
semakin besar pula
- Tarif umum PPh bagi wajib pajak badan menggunakan tarif
proporsional, sedangkan bagi wajib pajak orang pribadi berlaku tarif
progresif
Ketentuan PPh dari Waktu ke Waktu

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan


Berlaku sejak 1 Januari 1984 (Tax Reform)
Latar Belakang Perubahan UU PPh
Tujuan:

mencapai pertumbuhan penerimaan pajak


yang sejalan dengan pertumbuhan
ekonomi dengan Undang-undang pajak yang
berlaku

Hal tersebut tidak mungkin dapat dilakukan dengan menggunakan sistem


official assessment, sehubungan dengan keterbatasan sumber daya
manusia aparat pajak, sarana dan prasarana untuk menetapkan jumlah
pajak yang terutang mengingat jumlah wajib pajak yang makin bertambah
sesuai dengan perkembangan ekonomi
Latar Belakang Perubahan UU PPh
Lanjutan
Sebelum Tax Reform

- Sistem Pemungutannya bersifat Official Assessment


wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang sepenuhnya berada pada
fiskus

- Sarana menetapkan jumlah pajak yang terutang dilakukan melalui penerbitan


Surat Ketetapan Pajak
- Ketentuan formil maupun ketentuan materiil dalam pemenuhan kewajiban
perpajakannya diatur dalam satu Undang-undang,
Ordonansi Pajak Pendapatan 1944 untuk orang pribadi dan Ordonansi Pajak
Perseroan 1925 untuk badan
Latar Belakang Perubahan UU PPh
Lanjutan
Sebelum Tax Reform

Sebelum berlakunya Undangundang nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan


di Indonesia diterapkan pajak-pajak yang berbasis pada penghasilan sebagai berikut:
Ordonansi Pajak Perseroan 1925, yang mengatur mengenai materi pengenaan dan tata cara
pengenaan pajak atas penghasilan dari badan-badan.
Ordonansi Pajak Pendapatan 1944, yang mengatur mengenai materi pengenaan dan tata cara
pengenaan pajak atas penghasilan dari orang-orang pribadi. Dalam ordonansi ini juga diatur
pemotongan pajak oleh pemberi kerja atas penghasilan dari pegawai atau karyawan dari
pemberi kerja tersebut.
Undang-undang Pajak atas Bunga, Dividen dan Royalty 1970, yang mengatur mengenai
materi pengenaan dan tata cara pengenaan pajak atas penghasilan berupa bunga, dividen dan
royalty, yang wajib dipotong oleh orang-orang dan badan-badan yang membayarkan bunga,
dividen dan royalty yang bersangkutan.
Undang-undang Nomor 8 Tahun 1967 juncto Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 1967,
yang mengatur mengenai tata cara pengenaan pajak atas penghasilan, terutama berupa laba
usaha, sepanjang mengenai tata cara pemungutan oleh pihak lain (MPO) dan pembayaran
oleh Wajib Pajak sendiri (MPS-Masa) dalam tahun berjalan serta perhitungan pada akhir
tahun (MPS-Akhir).
Latar Belakang Perubahan UU PPh
Lanjutan

Setelah Tax Reform

- Dilakukan Pemisahan Peraturan mengenai ketentuan formil dan materiil:


UU KUP : Ketentuan Formil
UU PPh : Ketentuan Materiil

- Pengenaan Pajak Penghasilan tidak lagi berdasarkan azas sumber atau laba tetapi
didasarkan pada penghasilan dalam arti yang luas (broad-based taxation)
- Ruang lingkup Pengenaan Pajak Penghasilan:
WP dalam Negeri : World Wide Income
WP Luar Negeri : Penghasilan dari Indonesia saja

- Sistem Pemungutannya bersifat Self Assessment & Withholding


Syarat Pengenaan
PPh
harus
jelas

Subjek Pajak U
U

Objek Pajak P
P
Tarif Pajak h

Prosedur UU PPh
&
Perpajakannya UU KUP
Ketentuan Formil dan Materiil
Ketentuan Formil Undang-Undang KUP

Hukum pajak formal (formil) ialah hukum pajak yang memuat ketentuan-ketentuan
mengenai tata cara agar pajak yang terutang menjadi kenyataan sehingga sampai
masuk ke kas negara.
Hukum pajak formal memuat ketentuan tentang tata cara, hak, dan kewajiban wajib
pajak serta sanksi jika kewajiban tersebut tidak dijalankan sebagaimana mestinya.
Disebut Juga Hukum Acara.

Contoh:
- Cara mendaftarkan diri untuk diterbitkan NPWP
- Cara membayar pajak
- Cara melaporkan penghitungan dan pembayaran pajak
- Sanksi-sanksi jika kewajiban tersebut tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya
Ketentuan Formil dan Materiil
Lanjutan
Ketentuan Materiil
Hukum pajak materil mengatur tentang hal-hal substantif pemungutan pajak:
1. Subjek Pajak Dapat Dihitung
2. Objek Pajak Besarnya Pajak
Terutang
3. Tarif Pajak
Ketentuan Formil dan Materiil
Lanjutan
Ketentuan Materiil

Sumber Hukum

Ketentuan Peraturan Perundang- Persetujuan Penghindaran Pajak


undangan Tentang PPh Berganda (Tax Treaty)

1. Undang-Undang / PERPPU Perjanjian perpajakan antara dua


2. Peraturan Pemerintah negara yang dibuat dalam rangka
3. Peraturan Presiden meminimalisir pemajakan berganda
4 Peraturan Menteri Keuangan dan berbagai usaha penghindaran
5. Peraturan Direktur Jenderal Pajak pajak

Direktur Jenderal Pajak juga menerbitkan


surat edaran dan surat yang berisi tentang
petunjuk teknis tentang pemungutan pajak
UU KUP
UU No. 6/1983 Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan
UU No. 9/1994 Perubahan Pertama
UU No. 16/2000 Perubahan Kedua
UU No. 28/2007 Perubahan Ketiga
UU No. 16/2009 Penetapan Perpu No.5 tahun 2008
ttg Perubahan Keempat atas UU No.
6/1983 sebagai UU

UU No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata


Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah
terakhir dengan (stdtd) UU No. 16 Tahun 2009
Undang-Undang PPh
Setelah Reformasi Mulai berlaku
UU Nomor 7 tahun 1983
1 Januari 1984
dengan nama UU PPh 1984

Diubah dengan
1. UU Nomor 7 Tahun 1991 1 Januari 1992

2. UU Nomor 10 Tahun 1994 1 Januari 1995

3. UU Nomor 17 Tahun 2000 1 Januari 2001

4. UU Nomor 36 Tahun 2008 1 Januari 2009

Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan


sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang
Nomor 36 Tahun 2008
Sistematika Undang-Undang PPh
Latihan ya
1. Dari hal-hal berikut ini yang merupakan karakteristik dari pajak penghasilan
adalah:
a. Pajak objektif
b. Pajak subjektif
c. Pajak tidak langsung
d. Pajak daerah

2. Sebagai pajak pusat, instansi pemerintah yang bertanggung jawab atas


administrasi Pajak Penghasilan adalah:
a. Direktorat Jenderal Anggaran
b. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
c. Direktorat Jenderal Perbendaharaan
d. Direktorat Jenderal Pajak

3. Dari pernyataan berikut yang menggambarkan bahwa Pajak Penghasilan


merupakan pajak subjektif adalah:
a. Kondisi subjek pajak tidak diperhatikan dalam mengenakan besarnya pajak
b. Objek pajak adalah penghasilan yang berasal dari Indonesia dan luar Indonesia
c. Pengenaan pajak dimulai dengan menetapkan subjeknya dulu, baru dicari
objeknya
d. Beban ekonomis Pajak Penghasilan bisa dialihkan kepada subjek pajak yang lain
4. Salah satu karakteristik Pajak Penghasilan adalah pajak langsung.
Pernyataan berikut yang menggambarkan karakteristik tersebut adalah
a. Beban pajak tidak dapat dialihkan kepada pihak lain
b. Pihak yang dituju Undang-Undang untuk dikenakan pajak adalah pembayar
penghasilan
c. Dalam pengenaan Pajak Penghasilan sangat memperhatikan kondisi subjek
pajaknya.
d. Pengenaan Pajak Penghasilan dimulai dari menentukan subjek pajaknya, baru
dicari objeknya.

5. Ketentuan material Pajak Penghasilan mengatur hal-hal berikut, kecuali


a. Subjek pajak
b. Objek pajak
c. Tarif pajak
d. Cara pembayaran

6. Ketentuan formal Pajak Penghasilan mengatur hal-hal berikut


a. Menghitung pajak
b. Melaporkan pajak
c. Menentukan subjek pajak
d. Menentukan objek pajak
7. Berikut adalah sumber hukum tentang ketentuan material atas Pajak Penghasilan,
kecuali
a. Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan
b. Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda
c. Undang-Undang tentang Ketentuan Formal dan Tatacara Perpajakan
d. Peraturan Pemerintah

8. Salah satu sumber hukum yang mengatur ketentuan formal atas Pajak Penghasilan
adalah
a. Tax treaty
b. Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan
c. Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda
d. Undang-Undang tentang Ketentuan Formal dan Tatacara perpajakan

9. Yang dimaksud dengan destinataris pajak adalah


a. Pihak yang secara yuridis bertanggung jawab atas pembayaran pajak
b. Pihak yang menjadi sasaran Undang-undang untuk dikenakan pajak
c. Pihak yang bertanggung jawab atas pemenuhan kewajiban administrasi pajak
d. Pihak yang secara ekonomis menanggung beban pajak
10. Pajak Penghasilan diklasifikasikan sebagai pajak pusat.
Penggolongan ini berdasarkan
a. Otoritas yang mengadministrasikan pemungutan pajak
b. Otoritas yang mendapatkan manfaat pemungutan pajak
c. Lokasi pembayaran pajak
d. Wilayah berlakunya pajak tersebut.