Anda di halaman 1dari 16

HIPERTENSI

OLEH : BRIAN. M.KEP


1. DEFINISI
2. ETIOLOGI
3. KLASIFIKASI
4. KOMPLIKASI
5. TERAPI
6. DIAGNOSA KEPERAWATAN
DEFINISI HIPERTENSI
DEFINISI HIPERTENSI
ATAU TEKANAN DARAH TINGGI ADALAH PENINGKATAN
TEKANAN DARAH SISTOLIK LEBIH DARI 140 MMHG DAN TEKANAN DARAH
DIASTOLIK LEBIH DARI 90 MMHG PADA DUA KALI PENGUKURAN DENGAN
SELANG WAKTU LIMA MENIT DALAM KEADAAN CUKUP ISTIRAHAT/TENANG.

PENINGKATAN TEKANAN DARAH YANG BERLANGSUNG DALAM JANGKA


WAKTU LAMA (PERSISTEN) DAPAT MENIMBULKAN KERUSAKAN PADA GINJAL
(GAGAL GINJAL), JANTUNG (PENYAKIT JANTUNG KORONER) DAN OTAK
(MENYEBABKAN STROKE) BILA TIDAK DIDETEKSI SECARA DINI DAN MENDAPAT
PENGOBATAN YANG MEMADAI.
ETIOLOGI

FAKTOR PEMICU HIPERTENSI DIBEDAKAN MENJADI


YANG TIDAK DAPAT DIKONTROL SEPERTI RIWAYAT KELUARGA,
JENIS KELAMIN, DAN UMUR.

FAKTOR YANG DAPAT DIKONTROL SEPERTI OBESITAS, KURANGNYA


AKTIVITAS FISIK, PERILAKU MEROKOK, POLA KONSUMSI MAKANAN
YANG MENGANDUNG NATRIUM DAN LEMAK JENUH.
KLASIFIKASI

HIPERTENSI DAPAT DIBEDAKAN MENJADI TIGA GOLONGAN YAITU HIPERTENSI SISTOLIK,


HIPERTENSI DIASTOLIK, DAN HIPERTENSI CAMPURAN.

1. HIPERTENSI SISTOLIK (ISOLATED SYSTOLIC HYPERTENSION) MERUPAKAN PENINGKATAN


TEKANAN SISTOLIK TANPA DIIKUTI PENINGKATAN TEKANAN DIASTOLIK DAN UMUMNYA
DITEMUKAN PADA USIA LANJUT. TEKANAN SISTOLIK BERKAITAN DENGAN TINGGINYA TEKANAN
PADA ARTERI APABILA JANTUNG BERKONTRAKSI (DENYUT JANTUNG).

2. HIPERTENSI DIASTOLIK (DIASTOLIC HYPERTENSION) MERUPAKAN PENINGKATAN TEKANAN


DIASTOLIK TANPA DIIKUTI PENINGKATAN TEKANAN SISTOLIK, BIASANYA DITEMUKAN PADA
ANAK- ANAK DAN DEWASA MUDA. HIPERTENSI DIASTOLIK TERJADI APABILA PEMBULUH
DARAH KECIL MENYEMPIT SECARA TIDAK NORMAL, SEHINGGA MEMPERBESAR TAHANAN
TERHADAP ALIRAN DARAH YANG MELALUINYA DAN MENINGKATKAN TEKANAN
DIASTOLIKNYA.

3. HIPERTENSI CAMPURAN MERUPAKAN PENINGKATAN PADA TEKANAN SISTOLIK DAN DIASTOLIK.


KLASIFIKASI TEKANAN DARAH

Klasifikasi Tekanan Tekanan Darah Tekanan Darah


Darah Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)

Normal < 120 < 80

80 89
Prehipertensi 120 139

Hipertensi derajat I 140 159 90 99

Hipertensi derajat II 160 100


FAKTOR-FAKTOR RISIKO HIPERTENSI

1) USIA
TEKANAN DARAH CENDERUNG MENINGKAT DENGAN BERTAMBAHNYA USIA. PADA LAKI-LAKI
MENINGKAT PADA USIA LEBIH DARI 45 TAHUN SEDANGKAN PADA WANITA MENINGKAT PADA
USIA LEBIH DARI 55 TAHUN.
2) RAS/ETNIK
HIPERTENSI BISA MENGENAI SIAPA SAJA. BAGAIMANAPUN, BIASA SERING MUNCUL PADA
ETNIK AFRIKA AMERIKA DEWASA DARIPADA KAUKASIA ATAU AMERIKA HISPANIK.
3) JENIS KELAMIN
PRIA LEBIH BANYAK MENGALAMI KEMUNGKINAN MENDERITA HIPERTENSI DARIPADA WANITA.
4) KEBIASAAN GAYA HIDUP TIDAK SEHAT
GAYA HIDUP TIDAK SEHAT YANG DAPAT MENINGKATKAN HIPERTENSI, ANTARA LAIN MINUM
MINUMAN BERALKOHOL, KURANG BEROLAHRAGA, DAN MEROKOK.
EFEK MEROKOK
1. MEROKOK MERUPAKAN SALAH SATU FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN HIPERTENSI, SEBAB
ROKOK MENGANDUNG NIKOTIN. MENGHISAP ROKOK MENYEBABKAN NIKOTIN TERSERAP OLEH
PEMBULUH DARAH KECIL DALAM PARU-PARU DAN KEMUDIAN AKAN DIEDARKAN HINGGA KE
OTAK. DI OTAK, NIKOTIN AKAN MEMBERIKAN SINYAL PADA KELENJAR ADRENAL UNTUK MELEPAS
EPINEFRIN ATAU ADRENALIN YANG AKAN MENYEMPITKAN PEMBULUH DARAH DAN MEMAKSA
JANTUNG UNTUK BEKERJA LEBIH BERAT KARENA TEKANAN DARAH YANG LEBIH TINGGI.
2. TEMBAKAU MEMILIKI EFEK CUKUP BESAR DALAM PENINGKATAN TEKANAN DARAH KARENA DAPAT
MENYEBABKAN PENYEMPITAN PEMBULUH DARAH. KANDUNGAN BAHAN KIMIA DALAM TEMBAKAU
JUGA DAPAT MERUSAK DINDING PEMBULUH DARAH.
3. KARBON MONOKSIDA DALAM ASAP ROKOK AKAN MENGGANTIKAN IKATAN OKSIGEN DALAM
DARAH. HAL TERSEBUT MENGAKIBATKAN TEKANAN DARAH MENINGKAT KARENA JANTUNG
DIPAKSA MEMOMPA UNTUK MEMASUKKAN OKSIGEN YANG CUKUP KE DALAM ORGAN DAN
JARINGAN TUBUH LAINNYA.
4. KARBON MONOKSIDA DALAM ASAP ROKOK AKAN MENGGANTIKAN IKATAN OKSIGEN DALAM
DARAH. HAL TERSEBUT MENGAKIBATKAN TEKANAN DARAH MENINGKAT KARENA JANTUNG
DIPAKSA MEMOMPA UNTUK MEMASUKKAN OKSIGEN YANG CUKUP KE DALAM ORGAN DAN
JARINGAN TUBUH LAINNYA.
EFEK KURANGNYA AKTIFITAS FISIK

AKTIVITAS FISIK SANGAT MEMPENGARUHI STABILITAS TEKANAN DARAH. PADA ORANG YANG
TIDAK AKTIF MELAKUKAN KEGIATAN FISIK CENDERUNG MEMPUNYAI FREKUENSI DENYUT JANTUNG
YANG LEBIH TINGGI. HAL TERSEBUT MENGAKIBATKAN OTOT JANTUNG BEKERJA LEBIH KERAS PADA
SETIAP KONTRAKSI. MAKIN KERAS USAHA OTOT JANTUNG DALAM MEMOMPA DARAH, MAKIN
BESAR PULA TEKANAN YANG DIBEBANKAN PADA DINDING ARTERI SEHINGGA MENINGKATKAN
TAHANAN PERIFER YANG MENYEBABKAN KENAIKKAN TEKANAN DARAH. KURANGNYA AKTIFITAS
FISIK JUGA DAPAT MENINGKATKAN RISIKO KELEBIHAN BERAT BADAN YANG AKAN MENYEBABKAN
RISIKO HIPERTENSI MENINGKAT. STUDI EPIDEMIOLOGI MEMBUKTIKAN BAHWA OLAHRAGA SECARA
TERATUR MEMILIKI EFEK ANTIHIPERTENSI DENGAN MENURUNKAN TEKANAN DARAH SEKITAR 6-15
MMHG PADA PENDERITA HIPERTENSI.
KOMPLIKASI HIPERTENSI

TEKANAN DARAH TINGGI DALAM JANGKA WAKTU LAMA AKAN MERUSAK ENDOTEL ARTERI DAN
MEMPERCEPAT ATEROSKLEROSIS. KOMPLIKASI DARI HIPERTENSI TERMASUK RUSAKNYA ORGAN
TUBUH SEPERTI JANTUNG, MATA, GINJAL, OTAK, DAN PEMBULUH DARAH BESAR. HIPERTENSI
ADALAH FAKTOR RESIKO UTAMA UNTUK PENYAKIT SEREBROVASKULAR (STROKE, TRANSIENT
ISCHEMIC ATTACK), PENYAKIT ARTERI KORONER (INFARK MIOKARD, ANGINA), GAGAL GINJAL,
DEMENSIA, DAN ATRIAL FIBRILASI. APABILA PENDERITA HIPERTENSI MEMILIKI FAKTOR-FAKTOR
RESIKO PENYAKIT KARDIOVASKULAR, MAKA TERDAPAT PENINGKATAN MORTALITAS DAN
MORBIDITAS AKIBAT GANGGUAN KARDIOVASKULAR TERSEBUT. PASIEN DENGAN HIPERTENSI
MEMPUNYAI PENINGKATAN RESIKO YANG BERMAKNA UNTUK PENYAKIT KORONER, STROKE,
PENYAKIT ARTERI PERIFER, DAN GAGAL JANTUNG
TERAPI HIPERTENSI

1. TERAPI NON FARMAKOLOGIS


PENDERITA PREHIPERTENSI DAN HIPERTENSI SEBAIKNYA MELAKUKAN MODIFIKASI GAYA HIDUP
SEPERTI MENURUNKAN BERAT BADAN JIKA KELEBIHAN BERAT BADAN DENGAN MENJAGANYA
PADA KISAR BODY MASS INDEX (BMI) 18,5-24,9; MENGADOPSI POLA MAKAN DIETARY
YAITU
APPROACHES TO STOP HYPERTENSION (DASH) YANG KAYA DENGAN BUAH, SAYUR, DAN
PRODUK SUSU RENDAH LEMAK; MENGURANGI KONSUMSI GARAM YAITU TIDAK LEBIH DARI 100
MEQ/L; MELAKUKAN AKTIVITAS FISIK DENGAN TERATUR SEPERTI JALAN KAKI 30 MENIT/HARI; SERTA
MEMBATASI KONSUMSI ALKOHOL TIDAK LEBIH DARI 2 KALI/HARI PADA PRIA DAN 1 KALI/HARI
PADA WANITA (CHOBANIAN DKK., 2004). SELAIN ITU, PASIEN JUGA DISARANKAN UNTUK
MENGHENTIKAN KEBIASAAN MEROKOK (WEBER DKK., 2014).
TERAPI HIPERTENSI
2. TERAPI FARMAKOLOGIS
PEMILIHAN OBAT PADA PENATALAKSANAAN HIPERTENSI TERGANTUNG PADA TINGKAT TEKANAN DARAH
DAN KEBERADAAN PENYAKIT PENYULIT. OBAT-OBAT ANTIHIPERTENSI SEPERTI DIURETIK, BETA BLOCKER
(BB), ANGIOTENSIN CONVERTING ENZYME INHIBITOR (ACEI), ANGIOTENSIN RECEPTOR BLOCKER
(ARB), DAN CALCIUM CHANNEL BLOCKER (CCB) MERUPAKAN AGEN PRIMER YANG DAPAT
MENGURANGI MORBIDITAS DAN MORTALITAS.

a. ANGIOTENSIN CONVERTING ENZYME INHIBITOR (ACEI)


ANGIOTENSIN CONVERTING ENZYME INHIBITOR (ACEI) MENGHAMBAT SECARA LANGSUNG
ANGIOTENSIN CONVERTING ENZYME (ACE) DAN MENGHALANGI KONVERSI ANGIOTENSIN-1 MENJADI
ANGIOTENSIN-2. CONTOH OBAT GOLONGAN ACEI ADALAH KAPTOPRIL, ENALAPRIL, DAN LISINOPRIL.

b. BETA BLOCKER (PENYEKAT BETA)


RESEPTOR BETA TERDIRI DARI RESEPTOR BETA-1 DAN RESEPTOR BETA-2. RESEPTOR BETA-1 YANG
TERDAPAT DI JANTUNG DAN GINJAL BERFUNGSI DALAM MENGATUR DENYUT JANTUNG, PELEPASAN
RENIN, DAN KONTRAKTILITAS JANTUNG. OBAT-OBAT YANG TERMASUK DALAM PENYEKAT BETA-1
SEPERTI METOPROLOL, BETAKSOLOL, ATENOLOL, ASEBUTOLOL, DAN BISOPROLOL
DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.PERFUSI JARINGAN CEREBRAL TIDAK EFEKTIF B/D GANGGUAN AFINITAS HB OKSIGEN,


PENURUNAN KONSENTRASI HB, HIPERVOLEMIA, HIPOVENTILASI, GANGGUAN TRANSPORT O2,
GANGGUAN ALIRAN ARTERI DAN VENA

2.NYERI (AKUT), SAKIT KEPALA B/D PENINGKATAN TEKANAN VASKULER SELEBRAL D/D
MELAPORKAN TENTANG NYERI BERDENYUT YANG TERLETAK PADA REGIU SUBOKSIPITAL.
TERJADI PADA SAAT BANGUN DAN HILANG SECARA SPONTAN SETELAH BEBERAPA WAKTU
3.INTOLERAN AKTIVITAS B/D KELEMAHAN UMUM D/D LAPORAN VERBAL TENTANG KELEBIHAN
ATAU KELEMAHAN
INTERVENSI KEPERAWATAN

1.Perfusi jaringan cerebral tidak efektif b/d gangguan afinitas Hb oksigen,


penurunan konsentrasi Hb, Hipervolemia, Hipoventilasi, gangguan transport O2,
gangguan aliran arteri dan vena

1. MONITOR TTV
2. MONITOR AGD, UKURAN PUPIL, KETAJAMAN, KESIMETRISAN DAN REAKSI
3. MONITOR ADANYA PANDANGAN KABUR, NYERI KEPALA
4. MONITOR LEVEL KEBINGUNGAN DAN ORIENTASI

5. MONITOR TONUS OTOT PERGERAKAN

6. MONITOR TEKANAN INTRKRANIAL DAN RESPON NEROLOGIS


7. CATAT PERUBAHAN PASIEN DALAM MERESPON STIMULUS
8. MONITOR STATUS CAIRAN

9. TINGGIKAN KEPALA 0-45O TERGANTUNG PADA KONSISI PASIEN DAN ORDER MEDIS
2. NYERI (AKUT), SAKIT KEPALA B/D PENINGKATAN TEKANAN VASKULER SELEBRAL D/D
MELAPORKAN TENTANG NYERI BERDENYUT YANG TERLETAK PADA REGIU
SUBOKSIPITAL. TERJADI PADA SAAT BANGUN DAN HILANG SECARA SPONTAN SETELAH
BEBERAPA WAKTU

1. LAKUKAN PENGKAJIAN NYERI SECARA KOMPREHENSIF TERMASUK LOKASI, KARAKTERISTIK, DURASI, FREKUENSI,
KUALITAS DAN FAKTOR PRESIPITASI

2. OBSERVASI REAKSI NONVERBAL DARI KETIDAKNYAMANAN


3. BANTU PASIEN DAN KELUARGA UNTUK MENCARI DAN MENEMUKAN DUKUNGAN
4. KONTROL LINGKUNGAN YANG DAPAT MEMPENGARUHI NYERI SEPERTI SUHU RUANGAN, PENCAHAYAAN DAN
KEBISINGAN

5. KURANGI FAKTOR PRESIPITASI NYERI


6. KAJI TIPE DAN SUMBER NYERI UNTUK MENENTUKAN INTERVENSI
7. AJARKAN TENTANG TEKNIK NON FARMAKOLOGI: NAPAS DALA, RELAKSASI, DISTRAKSI, KOMPRES HANGAT/ DINGIN
8. BERIKAN ANALGETIK UNTUK MENGURANGI NYERI: ...
9. TINGKATKAN ISTIRAHAT
10. BERIKAN INFORMASI TENTANG NYERI SEPERTI PENYEBAB NYERI, BERAPA LAMA NYERI AKAN BERKURANG DAN
ANTISIPASI KETIDAKNYAMANAN DARI PROSEDUR

11. MONITOR VITAL SIGN SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN ANALGESIK PERTAMA KALI