Anda di halaman 1dari 10

PRODUK ALAMI

TOKSIN DINOFLAGELLATA

Dosen: Dr. Tiah Rachmatiah, M.si, Apt.


Anggota Kelompok:
Galista Rasyid 12334001
Agenda Apriana 12334006
Ambarini Juniawati 12334019
Yohana Basaria 12334021
Listya Cindy 12334030
Citra Yuditha F. 12334032
BAB I : PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Dinoflagellata ditemukan hidup sebagai organisme planktonik dan organisme
epibentik. Dinoflagellata epibentik dapat bersifat epifitik (yang berasosiasi dengan
lamun dan makroalga) atau bentik (menempel di pecahan atau puing karang, pasir
dan detritus) (Vila dkk.,2001). Dinoflagellata epibentik umumnya memiliki kemampuan
untuk memproduksi senyawa bioaktif, termasuk senyawa yang dapat mengontaminasi
berbagai biota laut (Graham and Wilcox, 2000). Dinoflagellata epibentik yang bersifat
toksik dapat hidup di berbagai macam substrat seperti makroalga, lamun, pecahan
karang dan sedimen.
Toksin yang dihasilkan oleh Dinoflagellata epibentik adalah Ciguatoxin, yang dapat
menyebabkan Ciguatera Fish Poisoning (CFP) atau ciguatera. Toksin tersebut masuk
melalui rantai makanan dimana Dinoflagellata epibentik toksik yang menempel pada
substrat makroalga atau lamun akan dikonsumsi oleh ikan herbivora yang memakan
substrat tersebut, kemudian ikan herbivore dikonsumsi oleh ikan karnivora. Toksin
tersebut kemudian akan terakumulasi pada ikan karnivora .
Telah ditemukan 7 spesies Dinoflagellata bentik toksik penyebab CFP di Pulau
Harapan, Kepulauan Seribu, yaitu Amphidinium sp., Ostreopsis ovata, O. siamensis,
Gambierdiscus toxicus, Prorocentrum concavum, P. lima,dan P. Rhatymum
BAB II : PEMBAHASAN
A. Dinoflagellata
Tahun 1753, para dinoflagellata modern pertama kali dijelaskan oleh Henry Baker
sebagai "animalcules yang menyebabkan Cahaya di dalam Air Laut", dan dinamai oleh
Otto Friedrich Mller pada 1773.
Pada tahun 1830-an, para microscopist Jerman Christian Gottfried Ehrenberg
memeriksa banyak air dan sampel plankton dan dinoflagellata yang diusulkan
beberapa masih digunakan saat ini termasuk Peridinium, Prorocentrum dan Dinophysis.
Dinoflagellata yang sama pertama kali didefinisikan oleh Otto Btschli pada 1885
sebagai urutan Dinoflagellida flagellata.
Pyrrophyta atau lebih dikenal sebagai Dinophyceae atau Dinoflagellata, termasuk
organisme uniselular biflagellata, yang membentuk komponen penting di perairan laut,
air payau, dan air tawar.
Warna kemerahan pada dinoflagellata disebabkan pigmen yang benama piridinin,
selain itu divisi ini mempunyai klorofil a dan klorofil c, karoten, xantofil, neoperidinin,
dinoxantin, neodinoxantin, dan diatoxanthin.
Seperti organisme bersel tunggal lainnya, dinnoflagellata menunjukan sifat
prokariotik dan eukariotik, terkadang dinnoflagellata dikelompokkan zoologist sebagai
protozoa, dan terkadang dimasukkan para botanist ke dalam alga, dinnoflagellata
menggabungkan kedua sifat tersebut dan menjadi organism paling sukses bertahan
hidup di bumi.
BAB II : PEMBAHASAN
B. Klasifikasi Dinoflagellata
Pyrrophyta (Alga Api)
Name : Dinoflagellates
Class : Dinoflagellata, Dinophyceae
Phylum : Dinophyta
Order : Gonyaulacales
Species : Gonyaulax balechii

Gonyaulax menyebabkan kerusakan pada industri utama. Gonyaulax merupakan salah satu
dinoflagellata bertanggung jawab untuk munculnya pasang merah. Selama pasang merah, banyak
ikan, ikan paus, manatee, dan pantai burung telah mati dalam jumlah besar karena kondisi anoxic
dihasilkan oleh dinoflagellata mekar. Gonyaulax racun dari hewan laut juga dapat langsung beracun
di bagian atas piramida makanan. Gonyaulax merupakan produsen utama dalam jaringan makanan.
BAB II : PEMBAHASAN
C. Toksisitas Dinoflagellata
Mayoritas dari dinoflagellata berasal dari lautan, tetapi ada beberapa ratus spesies
yang lain yang berada di air segar.
Dinoflagelata adalah komponen yang penting dari plankton, khususnya pada kondisi
hangat sebagai penambahan, beberapa spesies adalah benthic atau terjadi dalam peristiwa
simbiotik, dinoflagellata memiliki variasi nutrisi yang besar, dari ragenututropik ke bentuk
heterotropik yang mana terdapat juga intevertebrata parasit dan ikan atau alga phagocytiza
yang lain.
Dinoflagelata yang memiliki sistem fotosintesis dan membutuhkan vitamin disebut
autotropi dan yang membutuhkan energi disebut heterotrop.
Pertumbuhan yang cepat dari plankton dinoflagelata mungkin akan menghasilkan
warna coklat atau merah perubahan wama air disebut red tides. Red tides biasanya terjadi
pada air pesisir pantai dan muara.
Beberapa dinoflagelata menghasilkan red tides adalah luminescent Spesics lain
mungkin mengandung racun yang dapat dilepaskan ke dalam air atau terakumulasi dalam
rantai makanan.
BAB II : PEMBAHASAN
Lanjutan :
Dari 20 jenis algae penyebab ikan mati, 17 di antaranya pernah ditemukan di Teluk
Jakarta. Tiga di antaranya yang ditemukan di perairan di utara Jakarta adalah jenis
Dinophysis spp, Alexandrium spp, dan Pseudonitschia spp.
Seseorang yang mengonsumsi kerang yang mengandung algae jenis Alexandrium spp,
dapat terkena kanker hati paralytic shellfish poisoning (PSP). Jenis racunnya disebut
saxitoxin.
Hanya sedikit dinoflagellata (diperkirakan 20 spesies) adalah racun (Steiding r, 1983;
Steidinger and Baden 1984; Taylor, 1985). Biasanya masing-masing spesies membentuk
campuran racun yang berbeda.
Racun yung utama adalah saxitoxin dan itu dihasilkan oleh Alexandrium, brevetoxin
dihasilkan oleh Ptychodiscus, dan ciguatoxin dihasilkan oleh Gauabierdiscus. Keracunan
manusia biasanya terjadi setelah memakan Ikan atau moluska yang mengakumulasi racun
yang memakan dinoflagelata.
BAB II : PEMBAHASAN
D. Macam-Macam Toksin Dinoflagellata
1. Jenis-jenis ganggang api penghasil racun antara lain sebagai berikuPfiesteria
menghasilkan racun yang menyebabkan kerusakan sistem saraf (neurotoksin).
Neurotoksin dapat menyebabkan kematian ikan, udang, kepiting, dan burung. Manusia
akan mengalami gangguan kesehatan apabila mengonsumsi produk laut yang
terkontaminasi neurotoksin.
2. Gymnodinium breve menghasilkan racun brevetoksin atau gymnocyn A yang
menyebabkan keracunan A yang menyebabkan keracunan dengan gejala pusing, mual,
muntah, dan ataksia (gangguan koordinasi gerakan otot).
3. Lingulodium polyedrum dan Gonyaulax menghasilkan racun saksitoksin yang dapat
menyebabkan muntah, diare, hingga hilangnya koordinasi tubuh jika dikonsumsi
manusia.
4. Gambierdiscus toxicus menghasilkan ciguatoksin.

Namun ada spesies ganggang api yang tidak meng hasilkan racun, misalnya Noctiluca
scintillans dan Ceratium hirundinella.
BAB II : PEMBAHASAN
E. Fenomena Dinoflagellata
Dinoflagellata dalam jumlah yang kecil sebagai penyusun komunitas plankton laut,
tetapi lebih melimpah di perairan tawar.
Fenonema menarik yang dihasilkan oleh Pyrrophyta adalah kemampuan
bioluminescence (emisi cahaya oleh organisme), seperti yang dihasilkan oleh Noctilua,
Gonyaulax, Pyrrocytis, Pyrodinium dan Peridinium sehingga menyebabkan laut tampak
bercahaya pada malam hari.
Fenomena lainnya adalah pasang merah (red tide) yaitu blooming Pyrrophyta dengan
1- 20 juta sel per liter. Red tide dapat menyebabkan:
1. Kematian ikan dan invertebrata, jika yang blooming adalah Ptychodiscus brevis,
Prorocentrum dan Gymnodinium breve.
2. Kematian invertebrata jika yang blooming adalah Gonyaulax, Ceratium dan
Cochlodinium.
3. Kematian organisme laut, yang lebih dikenal sebagai paralytic shellfish poisoning, jika
yang blooming adalah Gonyaulax.
KESIMPULAN
Dinoflagellata yang sama pertama kali didefinisikan oleh Otto Btschli pada 1885 sebagai urutan
Dinoflagellida flagellata. Botani memperlakukan mereka sebagai sebuah divisi dari ganggang, bernama
Pyrrophyta Dinoflagellata adalah protista yang telah diklasifikasikan menggunakan kedua Kode Internasional
Nomenklatur Botani (ICBN) dan Kode Internasional Nomenklatur Zoological (ICZN).

Dari 20 jenis algae penyebab ikan mati, 17 di antaranya pernah ditemukan di Teluk Jakarta. Tiga di
antaranya yang ditemukan di perairan di utara Jakarta adalah jenis Dinophysis spp, Alexandrium spp, dan
Pseudonitschia spp. Seseorang yang mengonsumsi kerang yang mengandung algae jenis Alexandrium spp, dapat
terkena kanker hati paralytic shellfish poisoning (PSP).

Jenis racunnya disebut saxitoxin. Berdasarkan penelitian yang pernah diterapkan pada tikus, racun
saxitoxin berdaya bunuh 1.100 kali dibandingkan sianida, sedangkan bisa ular kobra "hanya" berdaya bunuh 500
kali. Sedangkan daya bunuh tertinggi terdapat pada algae Gambierdiscus toxicus dengan meitotoxin-nya yang
berdaya bunuh 22.000 kali.
TERIMA KASIH