Anda di halaman 1dari 23

Daya listrik

Pelanggan listrik dalam pemakain beban disesuaikan


menurut kebutuhannya.
Pesawat-pesawat pemakai energi listrik itu antara lain:
a. lampu bolam mempunyai hambat,

b. lampu tabung juga mempunyai hambat dan juga


memakai trafo-ballast ada belitannya,

c. seterika mempunyai hambat pembangkit panas,


d. referigerator mempunyai belitan,
e. motor/kompressor mempunyai belitan,

f. pompa air mempunyai belitan dan juga dipasang


kapasitor,
g. kipas angin mempunyai belitan dan kapasitor,
h. pesawat TV memunyai tabung elektron, belitan
medan pengarah elektron dan perangkat
elektronik lain.
i. radio mempunyai resistor, belitan induktor dan
kapasitor
Secara garis besar pesawat-pesawat pemakai
energi listrik mempunyai:
1. R= resistor sebagai hambat listrik;

2. L= induktor berupa belitan kawat;

3. C=kapasitor atau kondensator sebagai tandon


muatan listrik.
Gambar 1 Beban R;L; C dihubung paralel
Gambar 1 Beban R;L; C dihubung paralel
a. R,L,C hubung parallel dengan sumber;

b. Bentuk gelombang listrik bolak-balik dalam beban

c. Tegangan e sefasa dengan arus iR ;


d. Arus iL tertinggal 900 terhadap iR (juga e);

e. Arus iC mendahului 900 terhadap arus iR (juga e);


f. (f) Arus iL dan iC berbeda fasa 1800 (berlawanan arah)
Resistor, induktor dan kapasitor ini dalam pesawat-
pesawat pemakai energi listrik tidak berdiri sendiri-
sendiri, tetapi tersambung secara serie atau parallel,
bahkan campuran serie-paralel.

Resistor, induktor maupun kapasitor jika


mengkonsumsi energi listrik bolak-balik akan
mempunyai karakter sendiri-sendiri akibat adanya
frekuensi listrik, sehingga daya listrik yang diserap
olehnya akan mempunyai efektivitas yang berlainan.
Secara umum beban pelanggan disambung sejajar
atau parallel terhadap sumber tegangan dan juga satu
pesawat terhadap pesawat yang lain, ini dilakukan untuk
memperoleh tegangan yang sama pada terminal beban
dengan sumber listriknya.

Gambar 1(a) menunjukkan hubungan parallel antara R


(resistor), L (induktor) dan C (kapasitor) yang
dihubungkan sumber tegangan E alternator satu fasa.
Masing-masing beban R dialiri arus listrik iR, beban L
dialiri arus listrik iL dan beban C dialiri arus iC.
Gambar 1(b) menunjukkan bentuk gelombang
listrik pada masing-masing beban:

iR = Im sin t

iL = Im sin (t 900)

iC = Im sin (t + 900)
Untuk beban R, gambar 2(a), gelombang
tegangan e sefasa dengan arus ir , gambar
2(b) dan gambar 2(c) bentuk phasor

Gambar 2. Beban resistor


Gambar 3(a) menunjukkan beban induktor, gambar
3(b) gelombang tegangan mendahului 900 arus induktor
iL, gambar 3(c ) menunjukkan phasor tegangan e
dengan arus iL
Gambar 4(a) menunjukkan beban kapasitor, gambar
4(b) gelombang tegangan tertinggal 900 terhadap
gelombang arus, gambar 4(c) secara fasor bahwa iC
mendahului 900 terhadap e.

Gambar 4 : Beban kapasitor


Gambar 1(f) menunjukkan secara fasor bahwa iL
tertinggal 1800 terhadap arus iC , atau dapat dikatakan
keduanya berlawanan arah atau saling meniadakan,
bentuk gelombang berlawanan arah terjadi mulai saat
awal dan pada waktu t = 0; ; 2 dan seterusnya seperti
gambar 1(b). Karena sifat saling meniadakan ini dapat
dipergunakan sebagai resonansi, menyamakan besaran
yang saling berlawanan itu.

Dalam kondisi resonansi ini arus beban I akan sama


dengan arus iR., terjadi sefasa antar arus beban I
dengan tegangan E.
Bila besaran yang saling tidak berlawanan itu tidak
sama besar, maka tidak akan terjadi saling meniadakan,
tetapi hanya memper-lemah, lebih besar akan lebih
dominan, besaran arusnya.

Jika kuat arus induktif lebih besar, arus beban


akan tertinggal dari e, ini disebut kondisi lagging (
arus beban I tertinggal terhadap tegangan E),
gambar 5
Jika arus kapasitif lebih kuat dari arus induktif, arus
beban akan mendahului dari e, ini disebut kondisi
leading (arus beban I mendahului tegangan E).
Lihat gambar 6.

Arus beban lagging akan tertinggal sebesar sudut


terhadap tegangan E, gambar 5. Pada gambar 6, saat
leading arus beban akan mendahului sebesar sudut
thd. tegangan E.
Daya listrik pada listrik searah :
P = V x I Watt
Pada listrik searah cos = 1

Dalam listrik bolak-balik karena adanya pergeseran


sudut antara tegangan dan arus sebesar sudut , maka:

P = V x I cos Watt
Dalam listrik bolak-balik dikenal adanya daya semu,
daya nyata dan daya reaktif. Daya ini disebabkan oleh
sifat beban, resistif atau reaktif. Beban reaktif terjadi
oleh adanya beban reaktif induktif atau reaktif
kapasitif.
Daya semu dinyatakan dengan:
S=VxI VA (volt-ampere)

Daya nyata dinyatakan seperti persamaan


P = V x I x Cos Watt
Daya reaktif dinyatakan oleh:

Q = V x I sin VAR (volt-ampere-reaktif)


Untuk lebih memudahkan pengertian daya semu, daya
nyata dan daya reaktif ini dapat digambarkan sebagai
segitiga-daya, gambar 7.

S P Q2 2
= (W ) (VAR)
2 2

P = S cos = (VA) cos

Q = S sin = (VA) sin


cos =
P =
dayanyata
S dayasemu

sin = Q =
dayareaktif
S dayasemu

tan = Q = dayareaktif
P dayanyata
Pembangkit tenaga listrik yang disalurkan kepada
pelanggan listrik oleh PLN tidak berupa daya nyata,
tetapi daya semu (VA). Pelanggan listrik yang dicatat
sebagai energi listrik, adalah satuan Wh atau kWh, yaitu
usaha listrik: U = P x t. Jika sudut pergeseran fasa
semakin besar, perputaran piringan, disc, alat ukur
pencatat kWh akan semakin cepat, ini tidak efektif dan
efisien bagi pelanggan.

Efisiensi pemakaian energi listrik yaitu perbandingan


antara daya yang dipakai secara efektif dibanding
dengan daya masuk, daya semu:
= dayaefektif (nyata)

Watt (W )
dayamasukkan(dayasemu ) VoltAmpere(VA)
x100%

Pelanggan-pelanggan listrik pada umumnya


mempunyai beban bersifat induktif, maka untuk
memperbaiki sudut daya biasa dipasang kapasitor,
contohnya pada lampu tabung (TL), atau juga pada
motor-motor pompa dipasang kapasitor, sehingga biasa
disebut motor kapasitor.