Anda di halaman 1dari 87

TUGAS DASAR TEKNIK

ELEKTRO
MELENGKAPI TUGAS KULIAH SISIPAN SEMESTER GANJIL
TAHUN 2011

DISUSUN OLEH:
DIMAS BAGUS DWI KARTIKA
L0F009001
Resistor (Hambat)
George Simon Ohm (1787-1854), professor
matematik dan fisika, berdasarkan analisis
matematik berdasar rangkaian galvanic
dianalogikan dengan aliran listrik dan aliran
panas, pada kertas kerjanya, dipublikasikan
pada tahun 1827.
Oleh formula persamaan konduksi panas
Fouriers dan memakai intensitas medan
listrik analog perubahan gradien temperatur.
Ohm dapat menunjukkan aliran listrik dalam
rangkaian composed baterai.
Dengan rumus:

A dv AV V
I atau I
dl L R
Definisi-definisi:
perbandingan antara beda potensial yang
dipasangkan dan besarnya arus listrik yang
mengalir dalam penghantar adalah tetap.
Perbandingan tersebut dinamakan hambat kawat
penghantar itu.
Dapat dikatakan bahwa :
Sebuah hambatan listrik sebesar satu Ohm di
mana pemakaian emf sebesar satu Volt
menyebabkan arus mengalir sebesar satu
Ampere.
Definisi Hukum Ohm ialah:
Suatu gaya gerak listrik (emf) mempunyai
beda potensial 1 Volt bila mampu mengalirkan
arus listrik sebesar 1 Ampere dalam hambat 1
Ohm. Atau V = IR
Satuan hambat listrik adalah Ohm disimbolkan
huruf (huruf Yunani omega). Satuan
tahanan Ohm didefinisikan:
Tahanan yang diberikan pada arus listrik oleh
suatu pipa air raksa sepanjang 1,063 meter
dan luas penampang 1 mm2, pada suhu 00C.
Dalam penghantar dengan ujung ab, beda
potensial pada penghantar itu:
b b
Va Vb Sdl Sdl
a a
b
SA
dl
a
A
Bila S, rapat arus, tetap besarnya, maka SA = i
, sehingga:
b

Va Vb i dl
a
A
Persamaan ini lebih dikenal sebagai integrasi
Hukum Ohm, yang juga dapat dituliskan
sebagai berikut: Va Vb = I Rab

Jadi Rab
b

dl
a
A
Di mana:
- Rab adalah hambat penghantar dengan
ujung-ujungnya a dan b, Ohm.
A adalah luas penampang penghantar, mm2.
l adalah panjang penghantar dan,
adalah hambat jenis bahan penghantar,
meter.
Ada tiga macam zat dasar sebagai
penghantar:
penghantar (conductor),
semi-penghantar (semiconductor), dan
isolator (insulator).
Tabel: Daftar hambat jenis zat


10-8
perak, tembaga, besi, wolfram,
10-4 konstantan, air raksa, bismuth
penghantar
elektrolit (asam belerang, asam nitrat, d.l.l.
100 air laut, air sungai

104 air murni, asbes, gas-gas (fungsi dari tekanan)

semi-penghantar
108 marmer

1012 kayu
mica
isolator 1016 ebonit, kwarts

Tabel :Tahanan Jenis dan Koefisien


Temperatur Metal
Hambat Jenis Koevisien Temperatur Rata-
No METAL pada 200C rata
Ohm-mm2/m (dari 00 s.d. 1000C)

1 Aluminium 0,026 0,004


2 Cast iron 0,50 0,001
3 Constantan 0,44 0,000005
4 Copper 0,0172 0,004
5 German silver 0,35 0,00003
6 Manganin 0,42 0,000005
7 Nichrome 1,1 0,00013
8 Steel 0,13 0,006
9 Tungten 0,049 0,004
Tahanan jenis suatu logam diartikan tahanan
zat logam itu, pada panjang 1 meter
mempunyai penampang 1 mm2 pada suhu
00C.
Selain bergantung pada macam zat, hambat
jenis juga bergantung pada:
a) medan magnet
(misalnya bismuth).
Karena sifat ini, misalnya bismuth digunakan
untuk mengukur besarnya medan magnet.
Untuk ini bismuth dipasangkan pada sebuah
Jembatan Wheatstone.
b) tekanan udara
(misalnya bismuth).
Berdasarkan sifat ini, maka seringkali bismuth
dipergunakan di dalam manometer-
manometer tekanan tinggi.
c) cahaya,
(misalnya selenium).
Sel-sel selenium mempunyai sifat, bila kena
cahaya, hambat jenisnya akan berubah. Makin
besar intensitas cahaya yang mengenainya, makin
besar perubahan hambat jenisnya.
Sifat ini dipergunakan untuk se-sel foto listrik.
Karena hambat jenis sel-sel berubah, maka dalam
rangkaian tadi intensitas arus listrik juga akan
berubah. Perubahan intensitas arus listrik ini
dapat dipergunakan sebagai sakelar, untuk
menggerakkan sesuatu.
d) suhu.
Hambat jenis suatu zat, sebagai fungsi dari
suhu, dapat dinyatakan oleh hubungan
berikut:
Gambar Hambat jenis fungsi suhu
Logam-logam dan arang murni mempunyai
(koefisien suhu) positif,
Arang dan selenium mempunyai (koefisien suhu)
negatif.
Selain itu, ada beberapa zat, misalnya konstantan
(campuran Cu, Ni) dan manganin (campuran Mn, Cu,
Ni), mempunyai sangat kecil, lihat tabel, sehingga
dapat dianggap nihil. Jadi untuk zat-zat tadi hambat
jenisnya, juga hambatnya, adalah konstan. Karena itu
zat-zat tadi sering dipergunakan sebagai hambat-
hambat normal pada alat-alat ukur yang membutuhkan
ketepatan tinggi, sangat presisi.
Hukum Wiedemann-Franz:
Pada logam-logam yang murni, hantaran-
jenis listrik adalah sebanding dengan
hantaran jenis-panas.

Bila K adalah hantaran-jenis panas logam itu,


dan hantaran-jenis listriknya, maka Hukum
Wiedemann-Franz dapat dituliskan sebagai
berikut:
Hukum Wiedemann-Franz dapat dituliskan
sebagai berikut:

K k 2

3 T
e
Di mana: k = konstanta Boltzmann
e = muatan sebuah elektron
K = suhu Kelvin
Percobaan yang dilakukan tahun 1912 oleh Kamerling
Onnes, beberapa logam pada suhu-suhu yang sangat
rendah adalah sangat kecil hambatan jenisnya,
sehingga dapat dikatakan nihil. Ini disebut hantaran
super (super conductor) dan suhu yang rendah itu
dinamakan suhu loncat hantaran super.
Beberapa zat yang mempunyai sifat-sifat tersebut di
atas adalah:
Timah hitam, dengan suhu loncat: Tl = 7,30K
Air raksa, dengan suhu loncat: Tl = 4,10K
Timah putih, dengan suhu loncat: Tl = 3,70K
Aluminium, dengan suhu loncat: Tl = 1,10K
Seng, dengan suhu loncat: Tl = 0,80K
Dan beberapa paduan logam-logam tersebut, juga
beberapa campuran-campuran bismuth.
e) kemurnian zat
Makin kotor suatu zat makin besar hambatannya,
jadi:

kotor murni

Kekotoran zat ini dapat menyebabkan adanya


hambat-sisa pada zat-zat yang menunjukkan
gejala-gejala hantaran-super.
Kekotoran itu dapat bersifat:
kimiawi, misalnya disebabkan oleh adanya zat-
zat lain di dalam zat tadi,
fisik (karena adanya tekanan-dalam atau
karena letak kristal-kristal yang tak teratur).

dapat diperoleh juga persamaan:

(kotor) t0 (murni) t0 atau:


(kotor) 00 [1 + kotor t] (murni) 00 [1 + murni]
Bila kedua hambat-jenis itu digambarkan
sebagai fungsi suhu, maka bentuknya adalah
garis-garis lurus.

Matthiessen menyatakan bahwa kedua garis


itu selalu sejajar, jadi mempunyai tangens
yang sama.
murni (murni) 00 kotor (kotor) 00
Menurut Hukum Matthiesen, bahwa:
(i)
murni kotor 00 > 1

kotor
murni 0 0

(ii) hambat yang ditambah dengan kekotoran


zat dengan nilai yang sama, tidak
bergantung kepada suhu

Sebagai akibat dari poin (i), maka semakin kecil


koefisien suhu, , itu semakin kotorlah zat itu.
Menurut persamaan bahwa:
F = S , atau S = F

Dapat ditinjau sebuah penghantar yang terletak dalam sebuah medan


listrik, yang mempunyai kuat medan F, gambar 2-3(b).

kecepatan gerak elektron-elektron bebas akan lebih besar bila


medan listrik yang bekerja semakin besar.
Jadi:

vt F atau atau
di mana: b adalah sebuah konstanta yang menyatakan kebebasan
bergerak elektron-elektron bebas.
jadi:
= pb
f) pengaruh panas dalam hambat
Hambat suatu konduktor berbanding lurus dengan
tahanan jenis dan panjang bahan serta berbanding
terbalik dgn luas penampangnya. Menurut persamaan:
.l
R=
A
Di mana : = tahanan jenis bahan, Ohm.mm2/m
(Ohm/m/mm2)
l= panjang konduktor, m
A= luas penampang konduktor, mm2 (ada
yang menulis O, ada juga yang q)
Tabel: Tahanan jenis, daya-hantar jenis dan koefisien suhu bahan
S.Zeiruddin (penterj.) :Petunjuk-petunjuik Teknik TEHNIK LISTRIK; Penerbit
Buku Tehnik H.STAM, Jakarta, 1953; p.328.

Tahanan jenis Daya-hantar jenis Koefisien suhu


Bahan
Aluminium 0,03 33,3 0,0038

Bismut 1,2 0,85 0,0036

Konstantan 0,48 2,08 0,00042

Emas 0,022 45,45 0,0035

Tembaga (lunak) 0,0167 60,00 0,0037

Tembaga (keras) 0,0175 57,14 0,0037

Krupin 0,85 1,18 0,0007

Air rasa 0,94 1,05 0,0009


Bahan Tahanan jenis Daya-hantar jenis Koefisien suhu

Timbel (timah 0,21 4,67 0,004
hitam)
Manganin 0,42 2,38 0,00001
Loyang (kuningan) 0,07 14,28 0,0015
Nikel 0,12 8,33 0,0085
Nikelin 0,42 2,38 0,00003
Osmium 0,095 10,52 -
Platina 0,12 8,33 0,0024
Reotan 0,47 2,13 0,00023
Baja 0,10-0,25 10,00-4,00 0,0052
Timah (putih) 0,13 7,69 0,0043
Kawat besi 0,13 7,69 0,0046
Belek-besi yang 1,7 0,59 -
bercampur
Perak (lunak) 0,016 62,5 0,0036
Perak (keras) 0,018 55,55 0,0036
Seng 0,12 8,33 0,0043
Pengaruh temperatur terhadap hambatan jika
saat material mendapat panas, hambatan
akan berubah sesuai dengan koefisien
temperatur bahan:
( Rt R0 )

{R0 (t t0 )}

Rt = R0 1 (t-t0)
Di mana: = koefisien temperatur
Rt = besar hambatan setelah waktu t
R0 = besar hambatan awal
t = besar temperatur akhir
t0 = besar temperatur awal
Jika di dalam penghantar mempunyai hambat,
maka juga mempunyai daya hantar, daya hantar
jenis () , yaitu kebalikan dari nilai hambat jenis,
dapat dituliskan:
1
Mho

Induktor (kumparan)
Hukum Maxwell I

Hukum Maxwell I berbunyi sebagai berikut:


Bila sebuah bidang ditembus oleh sejumlah
arus listrik, maka pada tiap-tiap titik dalam
bidang tadi timbulah medan magnet H.

Berlaku hubungan sebagai berikut:


Gambar 2-4 Penghantar dialiri listrik menembus bidang

i adalah jumlah aljabar semua arus listrik yang menembus bidang terkait. Hl adalah
komponen tangensial medan magnet H pada garis integrasi l yang membatasi bidang
tersebut gambar 2-4.Arah arus dan arah integrasi diambil sedemikian sehingga sesuai
dengan sistem kanan.
Contoh:

i
H dl i ; atau: H.2r= I Jadi: H
l 2r
Sebuah arus i yang homogen ( S tetap
besarnya) mengalir didalam sebuah
penghantar yang berjari-jari a . Rapat arus S
dapat ditentukan dengan cara sebagai
berkut:

Gambar 2-6 Rapat arus dalam penghantar


i Sn dO SdO
0 0

karena S tetap besarnya, maka:


H i
i S dO sa 2 ; jadi: S
a 2
0

Seperti telah diperoleh dalam contoh 1, untuk tiap-tiap


titik pada jarak r dari sumbu berlaku:
0 a
Gambar 2-7 Intensitet medan H fungsi r r

H.2r = Ir = S dO
0r
2
i r
= r 2
= i
2

a 2 a2

i r
Jadi diperoleh : H 2
a 2
Untuk titik di luar penghantar berlaku :
i
H
2r
Sehingga bila gambar intensitet medan magnet H
sebagai fungsi dari r (jarak terhadap sumbu
penghantar), akan diperoleh seperti gambar 2-7.
Intensitet medan magnet merupakan kuat-medan
magnet (H) dengan satuan Oerstedt (dahulu
gauss).
Definisi:
Suatu medan magnet mempunyai kekuatan 1
oerstedt, kalau sebuah kutub dengan kekuatan
1 m di dalam medan itu mengalami gaya
sebesar 1 dyne
Satuan dari kuat kutub (m):
Definisi:
Kekuatan sebuah kutub, yang melakukan sebuah gaya
sebesar 1 dyne pada sebuah kutub yang sama kuat dalam
jarak 1 cm.

Jumlah arus gaya atau fluks () yang keluar dari sebuah


kutub magnet dinyatakan dengan Maxwell

Antara kuat medan oerstedt dan arus gaya mempunyai


hubungan bahwa kuat medan ialah 1 oerstedt kalau arus
gaya sebesar 1 maxwell melalui bidang 1 cm2. Atau: H = /A
Hukum Maxwell II

Di sekitar penghantar yang dialiri arus listrik i ,


timbulah medan magnet yang mempunyai
garis-garis gaya yang tertutup. Sebuah
penghantar yang l tertutup diletakkan dalam
medan magnet tadi. Gambar 2-8.
Bilamana adalah jumlah fluks yang
menembus bidang yang dibatasi oleh
penghantar itu. Bila arus I berubah,
maka fluks juga akan berubah.
Perubahan fluks ini menimbulkan
tegangan listrik pada tiap-tiap titik dalam
penghantar l dan dikatakan bahwa
perubahan fluks itu menginduksikan
suatu tegangan didalam penghantar tadi.
Bila medan listrik tadi mempunyai kuat
Gambar 2-8 Kuat medan listrik
medan Fi , maka Hukum Maxweel II
dapat dituliskan sbb:

d d
l F l dl dt dt 0 Bn dO

i
Atau bila dinyatakan dengan perkataan :

Integral-keliling kuat medan listrik sepanjang


garis lengkung yang tertutup, besarnya sama
dengan pengurangan tiap satuan waktu jumlah
fluks magnet yang menembus bidang yang
dibatasi oleh garis lengkung tersebut.

Selain arus i, juga aki (accumulator, generator dan


sel-sel foto elektrik) dapat juga menimbulkan
medan listrik. Untuk medan listrik ini diberikan
tanda Fu. Maka medan listrik total:

Ft = Fi + Fu atau Fi= Ft - F, ,
sehingga persamaan (2-14) menjadi:

F F d d
dl Bn dO
t u
l l
l
dt dt 0
Contoh:
Pada jepitan-jepitan 1 dan 2 sebuah elemen
dipasangkan sebuah hambat R (gambar 1-20).
Hambat-dalam elemen diabaikan. Bila i adalah
arus yang mengalir di dalam rangkaian, V
adalah tegangan antara jepitan-jepitan 1 dan
2, maka:

t
F dl iR l
V 1, 2

F dl E
u
; dan
l

d
Gambar 2-9 0
dt

sehingga: iR E = 0 atau iR = E = V1,2


Dalam rangkaian gambar 2-10, Vc adalah
tegangan antara pelat-pelat kondensator.
Untuk rangkaian ini :

F dl iR V
t
l c

F dl E ; dan
u
l

d
0
Gambar 2-10 dt
sehingga E = iR + Vc
Persamaan diatas hanya berlaku selama
mengisi kondensator saja. Selama pengisian
itu arus i makin lama berkurang dan pada
waktu kondensator sudah penuh arus i = 0
dan

E = Vc
Kapasitet Induksi

Kuat medan listrik pada sebuah medan


elektrostatika, selain bergantung kepada letak
(distribusi) muatan-muatan listrik yang menimbulkan
medan tadi, juga bergantung kepada jenis medium
terdapatnya muatan-muatan tadi.

Bila medium homogen, Hukum Coulomb


persamaan (1-3) berlaku di sini; sedang yang
ditunjukkan persamaan (1-2) hanya berlaku untuk
ruang hampa saja. Tetapi ada sebuah sifat medan-
medan listrik yang hanya bergantung kepada distribusi
dan besarnya muatan yang menimbulkan medan tadi.
Maka dapatlah sekarang dimasukkan pengertian baru,
yaitu perpindahan dielektrik, yang dinyatakan oleh D.
Untuk ruang hampa berlaku:

D = 0 F

Di mana 0 adalah suatu besaran scalar yang tetap


besarnya, sehingga teranglah bahwa pada tiap-tiap titik
dalam medium yang homogen dan isotropic, D searah
dan sebanding dengan F. Untuk medium yang
demikian, hubungan itu dapat dituliskan sebagai:

D= F
Dengan

= r 0

Di mana adalah konstanta dielektrik medium dan r adalah


konstanta dielektrik relatif medium. r adalah sebuah bilangan
belaka, jadi tidak mempunyai dimensi.

Dengan jalan yang sama, dapatlah dimasukkan juga pengertian


baru untuk medan magnet, yaitu induksi magnetis B, yang pada
tiap-tiap titik dalam medium yang homogen dan isotropic searah
dan sebanding dengan H. Untuk ruang hampa didefinisikan:

B = 0 H

Di mana 0 adalah permeabilitet ruang hampa.


Untuk medium yang homogen dan isotropic dapat dituliskan:

B=H

Dengan
= r 0

Di mana adalah permeabilitet medium dan r adalah


permeabilitet relatif tadi, r juga hanya sebuah bilangan belaka, jadi
juga tak berdimensi. Kedua konstanta 0 dan 0 dinamakan
konstanta kapasitet-induksi.
Nilai Induksi kumparan

Arus listrik yang melalui penghantar menimbulkan medan


magnet di sekitar penghantar itu. Sebuah medan magnet dapat
juga ditimbulkan oleh sebuah kondensator.
Misalkan, gambar 2-10, pada saat t = 0 kondensator C di isi.
Maka untuk t0 ada arus yang mengisi kondensator itu. Selama
kondensator belum penuh, pengisian masih terus berlangsung. Jadi
arus i menghantarkan energi listrik ke papan positif kondensator
itu. Energi ini kemudian dipindahkan oleh arus lain dari papan
positif ke papan negatif. Arus ini disebut arus perpindahan
dielektrik.

Definisi:
Arus perpindahan dielektrik adalah arus listrik yang dapat
menghantarkan energi listrik melalui zat yang bukan penghantar,
seperti penyekat (isolator).
Arus perpindahan dielektrik dapat dituliskan:

dD
i= A
dt
Jadi arus perpindahan dielektrik juga dapat
menimbulkan medan magnet di sekitarnya,
sehingga Hukum Maxwell I harus mendapat
sedikit perubahan menjadi:
dD
0 dt l
S n dA H l dl
Gambar 2-11, maka jumlah arus yang
menembus bidang itu adalah i. Untuk
menembus bidang b adalah arus perpindahan
dielektrik. Karena sebelum dan sesudah
melalui kondensator C arus tetap i tetap
besarnya. Jadi tak ada energi yang hilang,
maka:

Gambar 2-11
Dengan demikian medan magnet yang timbul
di sekitar kondensator itu besarnya sama
dengan magnet yang timbul di sekitar kawat
penghantar.
Bila jumlah lilitan kumparan induktor adalah N
buah, maka jumlah arus listrik yang
menembus bidang c adalah iN. Dalam hal ini
arus tersebut adalah arus hantaran, sehingga
untuk garis lengkung l yang membatasi
bidang c (yang seharusnya melingkupi L,
gambar 2-11) tadi berlaku hubungan:

l
H l dl iN
dan jumlah fluks yang menembusnya:
Bn dA
0

Dalam gambar 2-12 menunjukkan kumparan


kawat penghantar dengan inti udara (toroid),
setiap penampang kawat dilalui oleh arus listrik
sebesar i , sehingga masing-masing penampang
itu akan menimbulkan sebuah medan magnet di
sekitarnya. Pada gambar tersebut tampaklah fluks
itu menjadi lengkung yang tertutup. Dalam
kumparan fluks memerlukan ruangan yang lebih
sempit dari pada luarnya.
Sebuah tabung yang
dibatasi oleh garis-garis
medan magnet (dengan tak
ada yang memotongnya)
seperti tampak dalam
gambar 2-13, dinamakan
tabung induksi. Bila pada
tabung itu digunakan Hukum
Maxwell I dengan Gambar 2-12
Kumparan toroid (inti udara)

mengambil integrasi
sepanjang sumbu tabung itu
(jadi H= Hl), maka :
dl
l Hdl iN atau l HdO dO iN
H dO = B dO = d
Untuk tabung itu d : tetap besarnya,
sehingga persamaan menjadi:
dl
d iN
l
dA (2-21)

Persamaan diatas biasa disebut rumus


Roland-Hopkinson. Rumus ini sejenis dengan
rumus Hukum Ohm yang mempunyai bentuk :
iR = e
Di mana: d = sebagai arus magnet
iN =sebagai gaya-gerak-magnet
(g.g.m)
dl
d =sebagai hambat magnet dan
l
dO
1
d =sebagai hantaran magnet
d

sehingga persamaan (2-21) dapat dituliskan


sebagai: d .d = iN atau d = iN . d
setelah integrasi diperoleh:
= iN . (2-22)
Fluks () di sini adalah besarnya fluks untuk
tiap-tiap bidang lilitan dan berbeda untuk
bidang lilitan yang lain. Fluks yang menembus
bidang lilitan yang ada di tengah adalah yang
terbesar, makin ke tepi makin berkurang.
Selain bergantung kepada letaknya bidang,
miringnya bidang lilitan juga mempengaruhi
besarnya fluks yang menembusnya. Makin
miring makin kecil fluks.
Jumlah fluks-fluks yang
menembus masing-masing bidang
itu disebut fluks bergandeng, adalah:
N N
k N
k t f kt
k 1 t
Gambar 2-13 Tabung fluks
k 1 k 1

Fluks t adalah fluks bidang tengah dan fk adalah


suatu konstanta perbandingan yang bergantung
letak dan miringnya bidang-bidang lilitan.
N

N f k
t f k t k 1
.N t f .N
k 1 N

Di mana : f = adalah nilai rata-ratanya f , dan persamaan menjadi :


t f N iN f N N i f 2


Karena f adalah bilangan belaka dan (hantaran magnet untuk
bidang tengah kumparan) mempunyai dimensi hantaran
magnet, maka f juga mempunyai dimensi hantaran
magnet.
Fluks bergandeng dapat juga dituliskan sebagai :
N 2i


1
Di mana: sebagai hambat magnet,
f
dapat ditarik suatu definisi:
Koefisien induksi L pada sebuah
induktor/kumparan (dinyatakan dengan
Henry), adalah besarnya fluks bergandeng
yang ditimbulkan oleh kumparan itu, bila
arus yang mengalir melalui sebesar 1
Amper.
N2
Dituliskan sebagai : L Henry
i
Definisi : induksi sendiri (L) , Henry:
1 henry adalah nilai koefisien induksi sendiri
sebuah rangkaian yang dialiri listrik sebesar
1 Ampere tiap detik, yang dapat
menimbulkan perubahan gaya gerak listrik
sebesar 1 Volt.
Rugi-rugi dalam sebuah kumparan
1. Rugi hambat;
Rugi ini disebabkan karena kumparan dibuat
dari kawat logam. Rugi ini berupa panas
Joule.

H.dB
2. Rugi histerisis;
Rugi ini disebabkan karena adanya energi yang
dipergunakan untuk menyearahkan dipol-dipol
(=dwikutub=dwikutub =polarisasi) pada gejala
magnetisasi. Rugi ini dapat diperkecil dengan
mempergunakan besi lunak untuk teras (inti)
kumparan tersebut. Besi lunak mempunyai
lengkung histerisis yang sangat sempit, sehingga
ruginya juga menjadi sangat kecil. Besarnya
energi persatuan volume yang dipergunakan
untuk menyearahkan polarisasi itu adalah : H.dB
. Integrasi ini menyatakan luas dari bagian yang
dibatasi oleh lengkung histerisis.
3. Rugi arus-olak (eddy current);
Rugi ini disebabkan adanya energi yang
dipergunakan untuk menginduksikan arus
listrik dalam inti besi. Arus tersebut arus-
olak,eddy current, dikuasai oleh Hukum
Maxwell II. Timbulnya arus olak, atau juga arus
pusar, ini dapat dipersukar dengan membagi
inti kumparan itu menjadi pelat-pelat tipis
yang satu sama lainnya disekat isolasi, atau
juga dengan membuat inti dari serbuk yang
dipadatkan.
4. Rugi gejala-kulit;
Bila frekuensi arus bolak-balik yang dipakai dalam
kumparan ditinggikan, maka timbulah gejala baru
yang disebut gejala-kulit, yang menyebabkan arus
itu didesak ke permukaan penghantar. Jadi arus
listrik dipaksa melalui penampang yang lebih
kecil, sehingga hambat yang dialaminya menjadi
lebih besar. Semua rugi-rugi tersebut dapat
dilambangkan oleh sebuah hambat yang
dipasangkan seri atau parallel, atau juga seri
paralel terhadap sebuah kumparan.
Kumparan non linier
Pendahuluan
Cara-cara lama untuk memperbesar koefisien induksi L ialah
dengan mempergunakan teras besi (inti besi) dan sampai sekarang
logam yang paling sering dipakai untuk inti belitan kumparan adalah
logam paduan (=alloy) besi-nikel dan kadang-kadang juga besi-
selenium. Sebagai akibat pemakaian logam-logam sebagai inti
belitan timbulah rugi-rugi histerisis dan arus-olak, sehingga inti dari
logam tersebut di atas hanya baik untuk frekuensi rendah, karena
makin tinggi frekuensi yang dipergunakan makin besar pula rugi-
rugi histerisis tersebut.
Untuk pemakaian frekuensi tinggi dalam belitan-belitan, salah
satunya, dipakai ferroxcube, suatu bahan yang dibuat dari
campuran berbagai oksida-oksida ferrit. Cara membuatnya sebagai
berikut: mula-mula dicampur oksida-oksida ferrit yang dibutuhkan
dan dipilh kristal-kristalnya yang berbentuk kubus. Oksida-oksida ini
kemudian digiling sampai halus menjadi serbuk. Setelah diberi
bahan perekat, serbuk dimasukkan ke dalam cetakan untuk
dipadatkan dengan cara menekan, sehingga mempunyai bentuk
yang diinginkan. Setelah melalui proses sinter jadilah ferroxcube.
Sifat-sifat ferroxcube
1. Pada frekuensi rendah, antara 50 Hz. sampai
100.000 Hz, rugi-rugi ferrocube sedemikian
kecil, sehingga dapat diabaikan.

2. Pada frekuensi-frekuensi yang melebihi 10


MHz. rugi-rugi dari ferrocube juga masih
kecil, sehingga zat ini baik sekali
dipergunakan untuk frekuensi tinggi.
3. Permeabilitet pada ferrocube merupakan
fungsi dari pada frekuensi, sehingga L
menurut persamaan (2-24) juga merupakan
fungsi dari frekuensi. Sehingga kumparan
ketidak-linieran (non-linier) dari unsur-unsur
itu mendapat tempat yang sangat luas dalam
Teknik Elektronika: seperti spoel antena, juga
dalam Teknik Arus Kuat atau juga listrik
berdaya besar: seperti dalam belitan
transformator untuk Gardu Induk.
4. Ferrocube mempunyai hambat yang besar,
hingga sukar bagi timbulnya arus-olak (eddy
current).
Penggunaan ferroxcube
1. Permeabilitet ferrocube besar sekali, sehingga
untuk mendapatkan kumparan L yang besar tidak
perlu diperbesar jumlah lilitan N, cukuplah dengan
melilitkan kumparan itu pada ferroxcube. Karena
sifat ini juga, maka memungkinkan untuk membuat
kumparan dengan jumlah lilit yang kecil.

1 lilitan 2x1 lilitan


Gambar 2-14 Kumparan dengan inti ferroxcube
2. Berdasarkan sifat-sifat ferroxcube, terutama
sifat poin 3) di atas, maka memungkinkan
dibuat dengan impedansi yang memenuhi
syarat tertentu, misalnya: untuk suatu daerah
frekuensi yang tertentu impedansi rangkaian
itu rendah, sedang untuk daerah frekuensi
yang lain impedansinya tinggi. Kumparan
yang mempunyai sifat demikian disebut
kumparan pemadam atau choke.
Kumparan dengan inti ferroxcube untuk frekuensi
melebihi 10 MHz.

Bila mana rugi-rugi kumparan dilambangkan dalam


hambat yang dipasangkan seri. Impedansi kumparan
adalah:

Z RL jL L jL (2-25_)

Hambat RL itu terutama sekali melambangkan rugi-rugi


teras (inti). Jadi untuk kumparan yang tak berinti , RL
dianggap nihil. L dalam persamaan (2-25) itu adalah
koefisien induksi kumparan yang mempunyai inti, jadi
mempunyai permeabilitet relatif yang dinyatakan
dengan r1
Maka persamaan (2-25) akan menjadi:
L
Z L jL L0 . j r1 L0
L0
L
Misalkan r 2 , maka Z r 2 L0 jr1L0
L0

L0 adalah koefisien induksi kumparan yang tak


berinti. Impedansi dapat juga dituliskan
sebagai:
Z jL jrL0
'
hanya saja dalam hal ini sudah dimasukkan
besarnya rugi-rugi kumparan itu. Jadi:

jrL0 r 2L0 jr1L0


atau: r r1 jr 2

Persamaan (2-26) menunjukkan bahwa


permeabilitet relatif r itu suatu besaran
yang kompleks. Bagian nyatanya adalah r1
yang menyatakan pertambahan besar dari L
yang sebenarnya, sedang bagian khayalnya
adalah r2 yang menyatakan rugi-ruginya.
Dari persamaan itu akan diperoleh juga:

L0 r 2 L0
r 2
L r1 L0
r 2

r1
Persamaan diatas berlaku untuk zat-zat bahan
ferromagnetis.
Pada frekuensi kiria-kira 100 MHz, r1
mencapai harga yang terbesar. Frekuensi
tersebut f0, adalah frekuensi resonansi
ferrocube. Untuk frekuensi-frekuensi yang
melebihi f0, harga r1 makin berkurang,
sehingga seakan-akan kumparan mempunyai
inti udara saja. Resonansi tersebit di atas sama
sekali ditentukan oleh zat-zat bahan
pembentuk ferroxcube dan disebut resonansi
pribadi (self resonance).
Resonansi pribadi ini bergantung kepada
bentuk dan ukuran ferroxcube, konstanta
dielektrik ferroxcube (celah-celah antara
kristal-kristal yang menimbulkan adanya
kapasitet antara kristal-kristal tersebut),
momen magnet dan spin elektron.

Gambar 2-15 Grafik respon permeabilitet


relatif dengan frekuensi
Pemakaian inti ferroxcube
1. Gelang-gelang ferroxcube
Gelang-gelang ferroxcube dipakai secara luas
pada pesawat televisi, radio dan penguat audio
(amplifier) yang bekerja pada frekuensi tinggi.
Gelang-gelang tersebut berguna untuk
memperbesar koefisien induksi kawat (L).
Bentuknya sebagai sebuah silinder, gambar 2-16
dan di tengahnya ditembus oleh kawat yang
menghantarkan arus. Arah arus ini menimbulkan
medan magnet di sekitarnya.
Gambar 2-16 Gelang ferroxcube

Untuk kawat yang lurus dengan sebuah


gelang ferroxcube, fluks magnetis total t adalah
jumlah dari pada fluks f yang menembus
penampang memanjang gelang ferroxcube dan u
yang ada di luar gelang tersebut. Dapat dituliskan:
t = f + u
Bila kedua ruas dibagi oleh arus I yang melalui
kawat itu, maka hasilnya adalah:

Lt = Lf + Lu

Besarnya fluks yang menembus segmen luas abcd


adalah df = B d0
B adalah induksi magnetis medan magnet yang
menembus abcd.
f 1 1
Lf
i

i d f
i Bd 0
B = H dan d0 = l dr, maka

l D/2
i l D
Lf
i d / 2 2r
dr ln
2 d
0 r1l D
atau: L f ln
2 d

Ruangan yang ditempati gelang ferroxcube itu


sebelumnya adalah berisi udara yang
mempunyai permeabilitet relatif r1 = 1.