Anda di halaman 1dari 23

PENDARAHAN RETENSIO

SISA PLASENTA
Oleh : Erika Atikah S | Dewi Gita R |Novia Risti |Elya N |Ellysa A
LATAR BELAKANG
Lima penyebab kematian ibu terbesar di Indonesia yaitu
perdarahan, hipertensi dalam kehamilan (HDK), infeksi,
partus lama/macet, dan abortus. Kematian ibu di Indonesia
masih didominasi oleh tiga penyebab utama kematian
yaitu perdarahan sebanyak 30,3%, hipertensi dalam
kehamilan (HDK) sebanyak 27,1%, dan infeksisebanyak 7,3%
(Kemenkes RI, 2015).
Menurut Profil Kesehatan Kabupaten/Kota (2015),
penyebab kematian ibu yaitu Hipertensi sebanyak 26,34%,
perdarahan sebanyak 21,14%, gangguan sistem peredaran
darah sebanyak 9,27%, infeksi sebanyak 2,76% dan lain lain
sebanyak 40,49%.
Perdarahan, khususnya perdarahan post partum yang
disebabkan karena retensio sisa plasenta dimana
tertinggalnya sisa plasenta atau selaput plasenta didalam
rongga rahim yang mengakibatkan perdarahan post
partum dini atau perdarahan post partum lambat yang
biasanya terjadi dalam 6-10 hari pasca persalinan. Apabila
pada pemeriksaan USG diperoleh kesimpulan adanya sisa
plasenta tahap pertama bisa dilakukan eksplorasi digital
(jika servik terbuka) untuk mengeluarkan bekuan darah
atau jaringan. Bila servik hanya dapat dilalui oleh instrumen,
lekukan evakuasi sisa plasenta dengan kuretase. Bidan
dapat berkolaborasi dengan dokter untuk melakukan
kuretase (Sarwono,2014).
TINJAUAN TEORI MEDIS
Nifas
Masa nifas (puerperium) adalah 1 jam setelah plasenta lahir hingga 6 minggu (42
hari) setelahnya.
Menurut Suherni dkk (2009), masa nifas terbagi dalam 3 periode, yaitu:
Puerperium dini , Puerperium Intermedial , Remote Puerperium
Perdarahan Postpartum
Perdarahan post partum atau pasca persalinan (PPP) adalah perdarahan > 500 cc
dari traktus genetalia setelah bayi lahir. PPP bukan diagnosis, harus dicari
penyebabnya, seperti atonia uteri, robeknya jalan lahir, sisa plasenta, gangguan
pembekuan darah. Pasca persalinan disebut aman jika kesadaran, tanda vital,
kontrksi uterus baik, dan tidak ada perdarahan (Chris Tanto dkk, 2014).
Menurut waktu terjadinya dibagi menjadi dua,: Perdarahan post partum primer
dan sekunder
RETENSIO SISA PLASENTA
Retensio sisa plasenta adalah tertinggalnya potongan-potongan plasenta
seperti kotiledon dan selaput plasenta yang menyebabkan tegangnya
kontraksi uterus sehingga sinus-sinus darah tetap terbuka dan menimbulkan
perdarahan post partum (Sarwono, 2009)
Menurut Wiknjosastro (2008), etiologi retensio sisa plasenta adalah:
Penanganan kala III yang salah, Abnormalitas plasenta, Kelahiran bayi yang
terlalu cepat,
Komplikasi jika tidak ditangani :
Pendarahan post partum,syok,puerpueral sepsis,keganasan, dll
Manifentasi klinis :
Gejala yang selalu ada : plasenta belum lahir dalam 30 menit,perdarahan
segera,kontraksi uterus baik,plasenta atau sebagian selaput tidak lengkap
dan perdarahan segera.
Gejala yang kadang tibul : tali pusat putus,inversia uteri,perdarahan lanjutan,
kontraksi baik tetapi TFU tidak berkurang.
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN DENGAN KEGAWATDARURATAN MATERNAL
PADA NY. L USIA 24 TAHUN P2A0 1 JAM POST PARTUM
DENGAN PERDARAHAN RETENSIO SISA PLASENTA
A. PENGKAJIAN
DI RSUD Dr. R. SOETIJONO, BLORA
Tanggal : 22 Oktober 2017
Waktu : 08.00 WIB
Tempat : R. Melati A. IDENTITAS
Penanggung jawab : Suami
Nama Ibu : Ny. L Nama Suami : Tn. M
DATA Umur : 24 tahun Umur : 30 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SD Pendidikan : SD
Pekerjaan : Pedagang Pekerjaan : Pedagang
Suku Bangsa : Jawa Suku Bangsa : Jawa
Alamat : Ds. Mojowetan 5/3 Alamat : Ds. Mojowetan 5/3
A. SUBYEKTIF
1. Alasan Datang
Rujukan UPT Puskesmas Banjarejo jam 22.00 WIB dengan G2P1A0, hamil 41 minggu, air ketuban
merembes sejak tanggal 20 Oktober 2017 pada hari jumat pukul 12.00 WIB dan belum ada
pembukaan
2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan telah melahirkan anaknya yang ke dua pada tanggal 22 Oktober 2017, pukul 07.00
WIB, mengeluh lemas dan mengeluarkan darah segar dari jalan lahir yang banyak
3. Riwayat Kesehatan
a. Sekarang dan lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menurun seperti DM, asma,
hipertensi, menular seperti TBC, HIV, Hepatitis dan penyakit sistemik seperti ginjal.
a. Keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita
penyakit menurun seperti DM, asma, hipertensi, menular seperti
TBC, HIV, Hepatitis dan penyakit sistemik seperti ginjal.

1. Riwayat Obstetri
a. Riwayat Haid
Menarche : 12 tahun
Banyaknya : 3x gantipembalut
Lama : 7 hari
Warna darah : Merah kecokelatan
Siklus : 30 hari
Nyeri haid : Tidak ada
Riwayat persalinan sekarang
1) Kala I
a) Ibu merasakan sakit perut tembus belakang tanggal 20 Oktober 2017 jam 12.00 WIB
b) Masuk rumah sakit tanggal 20 Oktober 2017 jam 23.30 disertai lender darah
c) Kala 1 berlangsung 7,5 jam
1) Kala II
a) Melahirkan tanggal 21 Oktober pukul 07.00 WIB
b) Jenis persalinan normal
c) Bayi normal, jenis kelamin laki-laki, BB 3100 gram, PB 49 cm, selaput ketuban dan plasenta belum lahir

Riwayat KB
Ibu mengatakan sebelumnya menggunakan KB suntik 3 bulan selama 5 tahun

Riwayat Perkawinan
Ibu mengatakan menikah sah secara agama dan Negara pada tahun 2009. Menikah saat usia ibu 16 tahun dan suami
berusia 22 tahun. Lama pernikahan 8 tahun.
1. Status Obstetri
a. Inspeksi : muka tidak oedema, tidak terdapat cloasma
gravidarum, mammaesimetris, hiperpigmentasi areola,
A. OBYEKTIF
putting susu menonjol, vulva tidak terdapat pembengkakan,
1. Keadaan Umum : Baik
perdarahan pervaginam 300 cc
2. Kesadaran : Composmentis
b. Palpasi : TFU : Setinggi pusat
3. Tanda-tanda Vital
Kontraksi : Lemah
a. TD : 110/80 mmHg
1. Pemeriksaan Penunjang
b. Nadi : 88x/menit
HB : 10,6 gr%
c. Suhu : 36,7C
Golongan Darah :O
d. RR : 20x/menit
HbSAg : negative
Screaning B20 : negative
USG : Masih terdapat sisa jaringan plasenta
ANALISA
Ny. L usia 24 tahun P2A0 1 jam post partum dengan perdarahan retensio sisa plasenta.

PENATALAKSANAAN
Tanggal : 22 Oktober 2017
Jam : 08.00 WIB
1. Memberitahu ibu tentang kondisinya saat ini bahwa ibu telah melahirkan bayi laki-laki dengan berat 3100 gram, panjang
badan 49 cm akan tetapi plasenta hanya keluar sebagian sehinggan masih ada sisa plasenta yang tertinggal.
Hasil : Ibu mengerti dengan kondisi yang di alaminya
2. Melakukan kolaborasi dengan dr. SpOG dan dilakukan manual plasenta oleh dr. SpOG.
Hasil : Telah dilakukan manual plasenta, masih ada sisa plasenta yang tertinggal

3. Melakukan kolaborasi dengan dr. SpOG didapatkan terapi infus RL + oxytosin 10 IU dengan 30 tpm dan injeksi
oxcytosin 10 IU 1 ampul secara IM
Hasil : Terapi infus RL + oxytosin 10 IU 30 tpm dan injeksi oxytosin 10 IU 1 ampul secara IM telah diberikan
4. Melakukan pemasangan kateter no. 16 untuk mengeluarkan urin sehingga tidak mengganggu kontraksi
Hasil : Kateter telah dipasang dan urin telah dikeluarkan
5. Melakukan observasi perdarahan didapatkan perdarahan 300 cc. Advice dr. SpOG siapkan kuretase emergency
Hasil : Sudah dilakukan kuretase emergency dan didapatkan sisa jaringan
plasenta berupa kotiledon dan selaput plasenta
6. Melakukan observasi perdarahan post kuretase
Hasil : Kontraksi uterus keras, TFU 2 jari dibawah pusat, perdarahan 22 cc
7. Melakukan injeksi 1 ampul metergin secara IM
Hasil : Injeksi metergin 1 ampul secara IM telah diberikan
8. Melakukan pemeriksaan Hb ulang
Hasil : Didapatkan Hb = 9,8 gr%
9. Memberikan pendidikan kesehatan mengenai gizi kepada ibu untuk tidak pantang makan, mengkonsumsi sayur-sayuran hijau,
telur, ikan, ayam dan daging supaya Hb ibu dapat naik dan penyembuhan luka jahitan laserasi cepat kering
Hasil : Ibu bersedia untuk tidak pantang makan dan bersedian mengkonsumsi makanan yang tela dianjurkan
10. Memeberikan penddidikan kesehatan tentang personal hygiene yaitu membersihkan kemaluan dengan menggunakan air bersih
dari arah depan kebelakang tujuannya agar kuman dari anus tidak menyebar masuk kevagina yang dapat menimbulkan infeksi dan
mengelap dengan tissue sesuadah BAK dan BAB agar tidak lembab yang dapat memicu tumbuhhnya jamur
Hasil : Ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan dan bersedia untuk melakukannya

11. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan luka jahitan laserasi dengan membersihkan kemaluan setelah habis
BAK dan BAB dan menempelkan kassa steril yang telah diberi batadine
Hasil : Ibu mengerti dan bersedia untuk melakukannya
12. Memberikan pendidikan kesehatan mengenai KB yang dapat digunakan ibu setelah melahirkan
Hasil : Ibu ingin menggunakan KB suntik 3 bulan
13. Merapikan ibu dan memindahkan ibu ke ruang nifas
Hasil : Ibu telah dirapikan dan telah dipindahkan keruang nifas
14. Mencuci tangan dan melakuka dokumentasi
Hasil : Telah mencuci tangan dan dokumentasi telah ditulis
CATATAN PERKEMBANGAN
Tanggal : 23 Oktober 2017
Jam : 07.30 WIB
S : Ibu mengatakan sudah merasa sehat dan tidak ada keluhan
O: Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
TD : 110/80 mmHg BAK : Spontan
S : 37C Tanda-tanda Infeksi : Tak ada
RR : 20 x/menit Aktivitas : Ibu sudah dapat berjalan ke
Nadi : 89 x/menit kamar mandi dan dapat
Kontraksi : Baik mengendong bayinya
TFU : 2 jari dibawah pusat menyusui : ibu sudah dapat menyusui
Perdarahan : cc, lochea rubra ,Asi sudah lancar
A: Ny. L usia 24 tahun P2A0 post partum 1 hari
P:
1. Melakukan konsultasi dengan dr. SpOG dan didapatkan advice bahwa ibu diijinkan untuk bisa pulang
Hasil : Ibu senang dengan informasi yang didapat
2. Menganjurkan ibu untuk tidak pantang terhadap makanan
Hasil : Ibu mengerti dan bersedia untuk tidak pantang makanan
3. Menganjurkaan ibu untuk kontrol 1 minggu lagi atau jika ada keluhan
Hasil : Ibu bersedia melakukan kunjungan ulang 1 minggu lagi atau jika ada keluhan
4. Memberikan Terapi obat beriupa amoxillin 500 mg 3x1 tablet , asam mefenamat 500 mg 3x1 tablet, metergin 0,125 mg 3x1 tablet
PEMBAHASAN
Data Subyektif
Keluhan yang terjadi pada ibu nifas dengan perdarahan post partum karena retensio sisa plasenta adalah mengalami
perdarahan yang lebih banyak, pasien mengeluh lemah, limbung, berkeringat dingin, menggigil (Manuaba, 2007). Pengkajian
pada kasus didapatkan data subyektif yaitu ibu mengatakan mengeluh lemah dan mengeluarkan darah segar pervaginam yang
banyak. Pada tahap ini penulis tidak menemukan kesenjangan antara teori dan praktek yang ada di lapangan.

Data Obyektif
Data obyektif merupakan data yang diobservasi oleh perawat atau keluarga. Menggambarkan pendokumentasian hasil
analisis dan fisik klien, hasil lab, dan test diagnostic lain yang dirumuskan dalam data focus untuk mendukung assessment
(Reni Haryani, 2011). Menurut Manuaba (2007), gejala retensio sisa plasenta adalah: lepasnya plasenta tidak terjadi
bersamaan sehingga sebagian masih melekat pada tempat implantasi, terganggunya retraksi dan kontraksi otot uterus,
perdarahan yang berkepanjangan. Data obyektif yang didapatkan dalam kasus di lapangan yaitu KU: Baik, Kesadaran:
Composmentis, TTV: TD : 110/80 mmHg, Nadi : 88x/menit, Suhu : 36,7C, RR: 20x/menit, sisa plasenta belum lahir, dan
kontraksi lemah. Pada tahap ini penulis tidak menemukan kesenjangan antara teori dan kasus yang ada di lapangan.
Analisis
Analisis ini didapatkan dari data subyektif dan obyektif yang telah dikaji. Menurut Winknjosastro (2008), dalam penegakan
diagnosis pada retensio sisa plasenta data yang didapatkan yaitu penemuan secara dini dengan ditemukannya kelahiran plasenta
tidak lengkap, perdarahan terus menerus atau berulang, fundus uteri masih teraba lebih besar dari yang diperkirakan. Data
tersebut telah sesuai dengan data yang ditemukan di lapangan, sehingga penulis mendapatkan analisa Ny. L usia 24 tahun
P2A0 1 jam post partum dengan perdarahan retensio sisa plasenta. Pada langkah ini penulis tidak menemukan adanya
kesenjangan antara teori dan kasus.
1. Penatalaksanaan
Penanganan yang diberikan pada kasus retensio sisa plasenta untuk memberikan kenyamanan pada ibu dan bidan dapat
melakukan observasi dan pengobatan sebagai berikut: lakukan pemeriksaan kelengkapan plasenta, berikan antibiotik yang
adekuat, berikan uterotonik, oksitosin, dan atau metergin, lakukan eksplorasi digital (bila servik terbuka) dan mengeluarkan
bekuan darah dan jaringan, bila servik hanya dapat dilalui alat kuretase, lakukan evakuasi sisa plasenta dengan kuretase.
Bila kadar Hb <8 gr% beri tranfusi darah, bila kadar Hb >8gr% berikan sulfas ferosus 600 mg/hari selama 10 hari
(Sarwono, 2009).
Pada kasus penatalaksanaan yang diberikan yaitu: menjelaskan keadaan ibu dan memberikan dukungan moril, melakukan
katerisasi, observasi perdarahan, melakukan kolaborasi dengan dr. SpOG didapatkan melakukan manual plasenta, terapi
infus RL + oxytosin 10 IU dengan 30 tpm dan injeksi oxcytosin 10 IU 1 ampul secara IM dan melakukan persiapan
kuretase. Pada langkah ini penulis tidak menemukan adanya kesenjangan antara teori dan kasus.
Evaluasi
Evaluasi yang didapat dapat menurunkan dan menghilangkan keluhan dari pasien., keadaan umum dan TTV normal.
Sehingga tindakan yang diberikan telah tepat ( Reni Haryani, 2011). Pada kasus evaluasi yang diperoleh yaitu KU:
Baik, Kesadaran: Composmentis, TTV: TD: 110/80 mmHg, S: 37C, RR : 20 x/menit, Nadi : 89 x/menit, Kontraksi :
Baik, TFU : 2 jari dibawah pusat, perdarahan 300 cc, kandung kemih kosong, telah dilakukan kolaborasi denngan
dokter dan ibu telah diberikan terapi infus RL + oxytosin 10 IU dengan 30 tpm dan injeksi oxcytosin 10 IU 1 ampul
secara IM dan telah dilakukan kuretase dengan hasil sisa lasenta sudah lahir lengkap.
Pada tahap ini penulis tidak menemukan adanya kesenjangan antara teori dan kasus.
TANYA JAWAB