Anda di halaman 1dari 12

MODEL & DIMENSI PERENCANAAN

MODEL PERENCANAAN
Ernest Alexander (1998)
1. Model Substantif (Perencanaan Fisik, Transportasi, Sosial-Ekonomi)
2. Model Instrumental (Allcocative, Indikative Planning)
3. Model Kontekstual (Prosedural, Komunikatif, Partisipatif,
Kolaboratif)
MODEL-MODEL dan DIMENSI PLANNING
(Sumber : Faludi 1973:131-186 dan Kleffmann 1976:27-35)

Dimensi-dimensi Planning Model-model Planning


(Planning Dimension) (Modes of Planning)
1.Reliabilitas dan Adaptabilitas 1.Cetak biru vs Perencanaan Proses
(Reliablility and Adaptability) (Blue-print vs Process Planning)
2.Keterpaduan 2.Terpadu-rasional vs Bertahap- sepotong
(Comprehensiveness) (the Rational-comprehensive vs Disjointed-
incrementalist)

3.Lingkup 3.Normatif vs Fungsional


(Scope) (Normative vs Functional Planning)
4.Waktu 4.Tingkatan rencana vs Model Planning
(Time) (Levels of Planning vs modes of Planning)

Sumber: Sudaryono, Modul Teori Perencanaan, MPKD UGM, akhir 90-an dan awal 2000-an
BLUE PRINT PLANNING
Prinsip Perencanaan Kelemahan/Kritik
1. Memiliki citra pasti 1. Kaku dan tidak fleksibel

2. Merupakan cetak biru dari suatu badan 2. Hanya cocok untuk keadaan dimana
perencanaan yang berisi perumusan- mekanisme kontrol dapat dilaksanakan
perumusan program untuk mencapai secara ketat
tujuan-tujuan yang sudah ditetapkan
3. Bersifat mekanistik dan tidak peka terhadap
3. Program-program pasti dilaksanakan di perubahan
lapangan tanpa perubahan
4. Hanya dapat diterapkan secara berhasil
4. Lebih kearah pekerjaan keteknikan pada kasus-kasus dengan problem-problem
(engineering): menerapkan standard- yang sederhana dengan tindakan-tindakan
standard teknis, pendekatan master plan, spesifik
dan pedoman land use
5. Kurang memahami jaringan-jaringan sosial
yang sangat kompleks di dalam masyarakat

6. Tidak cocok untuk perencanaan jangka


panjang

7. Tidak memberikan tempat bagi partisipasi


individu dan masyarakat

Sumber: Sudaryono, Modul Teori Perencanaan, MPKD UGM, akhir 90-an dan awal 2000-an
PROCESS PLANNING

Prinsip Perencanaan Kelemahan/Kritik


1. Memiliki citra fleksibel dan adaptif terhadap 1. Tenggang waktu antara informasi yang
perubahan-perubahan atas dasar informasi yang masuk dan tindakan yang diambil pada
didapat selama pelaksanaan. umumnya relatif sehingga kemenerusan
proses planning menjadi terhambat (misal:
2. Mengakomodasi/memberi kan tempat bagi problem waktu pelaksanaan survei pada
informasi strategis dan mekanisme feedback untuk umumnya lama)
menanggapi dinamisme lingkungan perencanaan.
2. Terdapat kesenjangan waktu antara
3. Tindakan-tindakan yang dilakukan didalam proses perencanaan dan pelaksanaan (contoh:
penyesuaian/perubahan dikoordinasikan di dalam perencanaan pembangunan jalan dapat
kerangka pelaksanaan secara menyeluruh. bersenjang 10 thn dengan pelaksanaannya,
dan selama tenggang waktu 10 thn tersebut
4. Diterapkan/digunakan di dalam situasi yang tidak
situasi dan opini masyarakat tidak
berkepastian/tidak menentu
terwadahi)
5. Peka terhadap jaringan-jaringan sosial yang sangat
3.Dengan adanya limit waktu maka
kompleks yang hidup di dalam masyarakat
kelonggaran untuk memberikan tempat
6. Cocok untuk perencanaan jangka panjang. adaptasi perencanaan menjadi dikurangi.
Semakin banyak kelonggaran adaptasi
7. Memberikan tempat bagi partisipasi individu dan dikurangi, maka pada akhirnya proses
masyarakat planning terjebak kedalam cara kerja blue
print planning.

Sumber: Sudaryono, Modul Teori Perencanaan, MPKD UGM, akhir 90-an dan awal 2000-an
RATIONAL-COMPREHENSIVE PLANNING
(akan didetilkan pada pertemuan berikutnya)
Prinsip Perencanaan Kelemahan/Kritik
1. Memiliki citra holistik (menyeluruh) atas Tidak adaptif (poor adaption terhadap
kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam hal-hal berikut:
rangka memilih kemungkinan-kemungkinan
1.keterbatasan kapasitas intelektual
yang paling optimal manusia
2.Program-program disusun untuk dievaluasi 2.ketidaktersediaan informasi
dan memberikan peluang bagi adanya
tindakan-tindakan pemecahan masalah 3.proses analisis yang mahal
3.Pemerintah merupakan suatu organisasi 4.kewenangan kontrol terhadap
dengan pengambilan keputusan ditingkat pelaksanaan rencana kecil
pusat dan melayani kepentingan-
kepentingan umum masyarakat
4. Populer untuk para planner
5. Menuntut adanya lembaga perencanaan
yang serba tahu dan serba bisa
6. Menuntut SDM berkualitas tinggi dan
berpandangan luas yang mampu menangani
permasalahan-permasalahan detail
7. Cocok untuk perencanaan jangka panjang

Sumber: Sudaryono, Modul Teori Perencanaan, MPKD UGM, akhir 90-an dan awal 2000-an
DISJOINTED INCREMENTALIST PLANNING
Prinsip Perencanaan Kelemahan/Kritik
1. Filosofi perencanaan 1. SDM yang disyaratkan
a. arah dari suatu perkembangan masyarakat secara keseluruhan /tersedia pada umumnya
bukanlah disebabkan oleh pilihan yang disengaja (direncanakan) para spesialis
melainkan oleh berperannya bermacam-macam kekuatan
b. basis model planning adalah market 2. Sulit untuk dilakukan
koordinasi dengan
2. Merupakan suatu model planning dimana program-progam lembaga-lembaga lain.
disusun oleh suatu badan perencanaan dan secara terbatas
(merupakan model perencanaan untuk kehidupan nyata)

3. Membatasi jumlah alternatif program disesuaikan dengan


ketersediaan informasi

4. Evaluasi dilakukan atas dasar beberapa hasil/produk yang jelas


dan nyata

5. Sifatnya atomistik karena tidak ada macro decision-makers

6. Kedudukan pemerintah kumpulan dari lembaga-lembaga dimana


masing-masing memiliki lingkup pelayanannya sendiri dan
mewakili kepentingannya sendiri

7. Kewenangan terhadap kontrol besar

Sumber: Sudaryono, Modul Teori Perencanaan, MPKD UGM, akhir 90-an dan awal 2000-an
NORMATIVE PLANNING

Prinsip Perencanaan Kelemahan/Kritik

1. Otonomi/kontrol terhadap pelaksanaan besar 1. Cenderung menjadi instrumen


dan instansi/lembaga yang lebih
2. Tujuan dan sasaran menjadi bagian yang tinggi (sistem hierarki)
amat penting
2. Keputusan-keputusan besar tetap
3. Memperlihatkan keseimbangan antar sistem berada ditangan instansi atas

4. Pada umumnya digunakan oleh para birokrat

5. Contoh: developmental planning, allocative


planning

Sumber: Sudaryono, Modul Teori Perencanaan, MPKD UGM, akhir 90-an dan awal 2000-an
FUNCTIONAL PLANNING

Prinsip Perencanaan Kelemahan/Kritik

1. Menekankan pada cara-cara yang rasional 1. Otonomi/kewenangan terhadap


untuk mencapai tujuan dan sasaran pelaksanaan rencana kecil

2. Peka terhadap perubahan dan kritik ilmiah 2. Pada situasi-situasi tertentu


bergeser kearah normative
3. Pada umumnya dipraktekkan oleh para planning untuk mendapatkan
politisi (DPR) power

Sumber: Sudaryono, Modul Teori Perencanaan, MPKD UGM, akhir 90-an dan awal 2000-an
ADVOCACY PLANNING

1. Advocacy = pembelaan/anjuran/saran

2. Muncul pertama kali di Amerika

3. Suatu perencanaan yang dilakukan oleh planner profesional atas nama kelompok
masyarakat tertentu, sebagai alternatif atau oposisi (lawan) terhadap rencana yang
dibuat oleh pemerintah

4. Digunakan dalam konteks plural planning

5. Ketika suatu kelompok masyarakat merasa tidak diperdulikan/tidak diajak bicara atau
kepentingannya hanya sedikit yang diabaikan/diperhatikan, maka planner dapat
memberikan anjurannya (advocacy) selain juga membuatkan rencana untuk mereka

6. Isi rencana berupa kritik dan pengajuan alternatif atas rencana yang telah dibuat oleh
pemerintah

7. Mungkinkah diterapkan di Indonesia?


(Kedung Ombo,Teluk Naga, Samirono,Jenggawah, Cimacan, dll?)

Sumber: Sudaryono, Modul Teori Perencanaan, MPKD UGM, akhir 90-an dan awal 2000-an
HUBUNGAN ANTARA SKALA WAKTU DAN
MODEL-MODEL PERENCANAAN

TINGKATAN
RENCANA

MAKRO

MESSO

MIKRO

WAKTU JANGKA PENDEK WAKTU JANGKA PANJANG

BLUE PRINT PLANNING PROCESS PLANNING


DISJOINED-INCREMENTALIST RATIONAL COMPREHENSIVE
FUNCTIONAL PLANNING NORMATIVE PLANNING

Sumber: Sudaryono, Modul Teori Perencanaan, MPKD UGM, akhir 90-an dan awal 2000-an