Anda di halaman 1dari 14

Pengaruh Densitas Lumpur

Pemboran Terhadap Laju


Penetrasi
Pra responsi ALP 2017
ABSTRACT

WOB, kecepatan putar (RPM), tipe drill bit,


karakteristik formasi dan kandungan lumpur
adalah faktor-faktor dasar yang mempengaruhi
laju penetrasi pada bit. Fokus penilitian ini
adalah pada densitas yang mana adalah sebuah
sifat rheological dari fluida pemboran. Data
diperoleh dari 8 sumur dianalisa untuk
memastikan pengaruh densitas pada laju
penetrasi. Pada formasi sandstone/shale dibor
dengan water dan oil based mud lalu di plot
antara ROP dengan berat lumpur.
Key Words

Lumpur pemboran, laju penetrasi


(ROP), water based mud, oil based
mud, densitas
Dasar Teori
1. Densitas lumpur dan solid content
Berat lumpur yang mana ditentukan sebagai
densitas ( massa per volume ), dengan satuan ppg.
Banyak macam variasi lumpur dengan solid content.
Walaupun padatan memperlambat laju pemboran
namun kondisimengharuskan penambahan
bentonite dan material pemberat seperti barite,
ilmenite dll. Untuk menaikkan densitas lumpur dan
menjamin kestabilan lumpur untuk
mentransportasikan cutting ke permukaan. Padatan
dikontrol dengan alat removal di rig dan juga
dengan penambahan bahan polimer, seperti CMC.
Data-data Sumur

Data 8 sumur diambil dari pengeboran di Niger


Delta of Nigeria.
Tipe bit yg digunakan PCD (Poly Cristaline
Diamond) bit
Plastic viscosity dan yield poit konstan
Laju aliran pompa bervariasi kedalam range 2
gpm
Wob dijaga konstan
Variasi pemberat lumpur terutama pada
kedalaman 4.500ft-10.000ft
Data-data Sumur

Digunakan dua tipe lumpur (OBM & WBM) yg


mengandung 50000-75000 ppm klorida.
Fluida loss dari lumpur dikontrol dengan
modifite lignite
Ditambahkan pre-hydrated bentonite untuk
mengontrol viskositas
Data-data Sumur
Data-data Sumur
Grafik ROP vs pada WBM
Grafik ROP vs pada OBM
Analisis dan diskusi
Pada grafik 1 ditampilkan hasil dari penggunaan water
base mud dengan densitas berkisar dari 8.9 ppg sampai
- 11.8 ppg
Tabel 1 berisi tentang properti dari water base mud.
Dari hasil pengamatan untuk densitas rata- rata 9.7 ppg,
saat densitas lumpur meningkat, ROP-nya turun,
berbanding terbalik.
Penurunan tajam pada kurva menunjukan ROP menurun
drastis, seiring dengan variasi densitas lumpur.
Viskositas fluida dan parameter lumpur dan pemboran
lainnya memiliki dampak kecil ataupun tidak berdampak
sama sekali pada performan keseluruhan dari aktivitas
lumpur pemboran.
Analisis dan diskusi
Analisa dari data sumur yang didapatkan dari sebuah
formasi batuan pasir yang dibor dengan densitas lumpur
rata- rata 10.3 ppg dan 25 lbs BOW juga ditunjukan pada
grafik 1.
Dapat diamati hasil dari variasi densitas lumpur
pemboran memiliki dampak yang sama pada ROP sesuai
dengan hasil yang didapatkan pada densitas lumpur
rata- rata 9.7 ppg.
Lubang sedalam 4297 ft dibor selama 155 jam dengan
densitas rata-rata 10.3 ppg.
Dari hasil yang didapatkan, bisa dilihat penurunan ROP
sangat jelas dipengaruhi oleh kenaikan densitas lumpur.
ROP diawal sebesar 33ft/hr berubah menjadi 18ft/hr.
Analisis dan diskusi

Hasil dari densitas lumpur rata-rata 11.5 ppg dan


11.8 ppg , saat WOB dan RPM tetap,
menunjukan bahwa peningkatan densitas
lumpur berpengaruh besar pada laju penetrasi
Dari hasil keseluruhan tersebut yang mengikuti
pola yang sama yaitu semakin ringan densitas
lumpur, semakin cepat ROPnya, saat variabel
lainnya dijaga konstan.
Kesimpulan

Pemilihan lumpur pemboran yang tepat


merupakan faktor kunci untuk tercapainya
pemboran yang yang efektif dan mengindari
masalah lubang bor. Densitas lumpur yang
terlalu kecil dapat menyebabkan collapse dan fill
problems, dan densitas yang terlalu besar dapat
menyebabkan loss ataupun pipe sticking.
Namun, terlalu banyak variasi pada densitas
lumpur dapat menyebabkan borehole failure,
jadi densitas lumpur yang lebih konstan harus
diutamakan.