Anda di halaman 1dari 64

Laporan Penelitian

8-12 Agustus 2016

Oleh:
Dokter Muda Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas

BIRO SHE PTSP


BAGIAN IKM FKUA PADANG
Di Amerika Serikat lebih dari 30 juta pekerja terpapar
kebisingan

Kebisingan di lingkungan kerja dapat menyebabkan


gangguan kesehatan pendengaran.

Bising yang intensitasnya 85 desibel ( dB ) atau lebih

Faktor yang berperan: intensitas bising, frekwensi,


lebih lama terpapar , kepekaan individu

Bising industri sudah lama merupakan masalah yang sampai


sekarang belum bisa ditanggulangi secara baik
Bagaimana gambaran
tingkat kebisingan dan
hasil tes audiometri pada
karyawan departemen
produksi di Indarung IV PT.
Semen padang?
Mengetahui gambaran tingkat kebisingan dan hasil
Umum tes audiometri pada karyawan departemen produksi
di Indarung IV PT. Semen padang.

Mengetahui tingkat kebisingan di pabrik Indarung IV


PT. Semen Padang
Khusus
Mengetahui hasil tes audiometri di pabrik Indarung
IV PT. Semen Padang
Sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil
kebijakan terkait keselamat kerja di PT. Semen Padang

Sebagai bahan evaluai terkait penggunaan APD


(earbuff/earplug) di tempat dengan kebisingan diatas
85dB di PT. Semen Padang.

Mengetahui keluhan pendengaran karena bising pabrik di


PT. Semen Padang.
DEFINISI

Kebisingan adalah terjadinya bunyi yang


tidak dikehendaki sehingga mengganggu
atau membahayakan kesehatan
Menurut National Institute of Occupational
Safety and Health (NIOSH) kebisingan dapat
menjadi polutan apabila lebih besar dari 104
dBA atau dengan tingat kebisingan lebih dari
85 dBA selama lebih dari 8 jam kerja
Kebisingan tetap
Kebisingan Tidak Tetap
Kebisingan Fluktuatif
Intermitten Noise
Impulsive Noise
Peruntukan Kawasan/Lingkungan Tingkat
Kegiatan kebisingan dB (A)
a. Peruntukan Kawasan

- Perumahan dan pemukiman 55

- Perdagangan dan jasa 70

- Perkantoran dan perdagangan 65

- Ruang terbuka hijau 50

- Industri 70

- Pemerintahan dan fasilitas umum 60

- Rekreasi 70

- Bandara dan stasiun 70

- Pelabuhan laut dan cagar budaya 60

b. Lingkungan Kegiatan

- Rumah sakit atau sejenisnya 55

- Sekolah atau sejenisnya 55

- Tempat ibadah atau sejenisnya 55


Waktu Satuan waktu Intensitas
Pemaparan Kebisingan (dB)
Perhari
8 Jam 85

4 88

2 91

1 94

30 Menit 97

15 100

7,5 103

3,75 106

1,88 109

0,94 112
28,12 Detik 115

14,06 118

7,03 121

3,52 124

1,76 127

0,88 130

0,44 133

0,22 136

0,11 139
Gelombang Gendang Telinga
Suara Telinga Tengah

Otak Sel Rambut Koklea


Gambar 2.1 Anatomi Telinga
Sumber: http://www.bidandesa.tk/archive/struktur-telinga
Gangguan Kesehatan Gangguan Kesehatan
Auditori Non Auditori
ketulian peningkatan tekanan
trauma akustik darah
tinitus peningkatan denyut nadi
kehilangan keseimbangan
gangguan psikologis
berupa rasa tidak nyaman
kurang konsentrasi
susah tidur
Emosi
Psikosomati
Gastritis
Gangguan Psikologis
Alat yang digunakan
Sound Level Meter
Noise Dosimeter

Cara Pengukuran
Sederhana
Cara Tidak Langsung
Perawatan mesin : mengganti komponen mesin
yang sudah tua, aus dan mengeras
Pelumasan pada mesin yang bergesekan
Penggantian proses kerja
Mengurangi intensitas gaya yang mengenai
bidang getar
Mengurangi radiasi suara yang dihasilkan oleh
permukaan yang bergetar
penambahan luas penampang pipa terutama di
wilayah pencampuran atau pertemuan lebih dari
satu aliran
Pengendalian adminstratif
Menetapkan peraturan tentang rotasi
pekerjaan
Keharusan untuk beristirahat di temat yang
tidak bising
Mewajibkan untuk menggunakan APD saat
berada di lokasi kerja
Peraturan dikuatkan dengan sangsi
Gangguan pendengaran atau ketulian
merupakan suatu penyakit berkurangnya
atau hilangnya fungsi pendengaran disalah
satu atau kedua telinga
Gangguan pendengaran konduktif
Gangguan pendengaran
sensorineural
Gangguan pendegaran saraf
Gangguan pendengaran campuran
Gambar 2.1 Anatomi Telinga
Sumber: http://www.bidandesa.tk/archive/struktur-telinga
Kebisingan merupakan salah satu faktor
utama yang menyebabkan gangguan
pendengaran
Sifat ketulian yang dihasilkan dari pajanan
bising adalah tuli sensorineural dan
umumnya terjadi pada kedua telinga.
Bising dengan intensitas lebih dari 85 dB
dapat merusak reseptor pendengaran
pendengaran corti di telinga dalam.
Masa Kerja
Jika dilhat berdasarkan masa kerja, pekerja akan
mulai terkena gangguan pendengaran setelah
bekerja selama lima tahun atau lebih.
Intensitas Kerja
jika dilihat berdasarkan intensitas kerja, pekerja
berisiko terkena gangguan pendengaran jika
bekerja lebih dari 8 jam/hari dengan intensitas
bising yang melebihi 85 dB.
Kurang pendengaran
Tinitus
Sulit mendengar percakapan
Reaksi adaptasi
ANAMNESIS
PEMERIKSAAN FISIK
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Beberapa data yang dibutuhkan antara lain
riwayat kesehatan pendengaran pada pekerja
rekaman medis kesehatan pendengaran pekerja
kondisi kebisingan yang tidak berhubungan dengan
kerja yang ada disekitar keseharian pekerja
kondisi kebisingan serta pencegahan yang dialami
oleh pekerja saat bekerja ditempat lain.
.
Otoscopy adalah proses pemeriksaan visual
kondisi saluran/kanal pendengaran dan
selaput gendang telinga.
Alat yang digunakan dalam proses ini
bernama otoscope. Otoscope terdiri dari
kaca pembesar dan lampu.
Selanjutnya proses tes audiometrik dapat
dilakukan ditempat yang sangat tenang,
dengan penerangan yang memadai dan
terdapat ventilasi.
TERDIRI DARI 3 FASE:
Fase pengujian dasar
Fase pengujian tahunan
Fase pengujian pasca kerja
Pengujian dasar diperoleh dalam kurun waktu
tidak lebih dari tiga bulan pertama semenjak
bekerja di tempat kebisingan sama dengan atau
lebih dari 85 dB selama 8 jam.
Audiogram adalah hasil baseline audiometric.
Audiogram dibentuk oleh dua buah sumbu, yaitu
sumbu vertikal untuk menunjukan rentang
pembagian kuat suara. Sedangkan sumbu
horizontal menunjukan rentang pembagian
frekuensi yang sering disebut dengan pitch.
fase pengujian tahunan dilaksanakan untuk
mengetahui pengaruh tingkat kebisingan
yang melebihi ambang batas di tempat kerja.
Pada fase ini setiap pekerja pada akhirnya
memiliki sebuah audiogram tahunan
Fase ini merupakan tahap hasil pengujian
audiometrik terhadap seorang pekerja yang
sudah tidak lagi bekerja di tempat yang
memiliki tingkat kebisingan melebihi nilai
ambang batas.
Cara membaca audiogram hasil pemeriksaan
audiometrik adalah dengan melihat grafik
yang dihasilkan.
Grafik Air Conductor (AC) untuk
menunjukkan hantaran udara sedangkan
garis Bone Conductor (BC) digunakan untuk
melihat hantaran tulang.
Telinga kiri ditandai dengan warna biru,
sedangkan telinga kanan ditandai dengan
warna merah.
Jenis gangguan pendengaran serta derajat
ketulian dihitung menggunakan indeks Fletcher
yaitu :

Ambang Dengar (AD) = AD 500 Hz + AD 1000


Hz + AD 2000 Hz + AD 4000 Hz
Normal: 0 sampai 25 dB
Gangguan ringan: 25 dB sampai 40 dB
Gangguan sedang: 40 dB sampai 55 dB
Gangguan berat: 70 dB sampai 90 dB
Gangguan Sangat berat: lebih dari 90 Db
Gambar 2.2 Gangguan Pendengaran Sensorineural (Kiri) dan
Konduktif (Kanan)
tes rinne
tes weber,
tes schwabach
Tes Rinne Tes Weber Tes Diagnosis
Scwabach
Positif Tidak ada Sama dengan Normal
lateralisasi pemeriksa

Negatif Lateralisasi Memanjang Tuli


ke telinga konduktif
yang sakit

Positif Lateralisasi Memendek Tuli


ke telinga sensorineural
yang sehat
Gangguan serius: pindah tempat kerja
Gangguan baru dan/atau tinnitus: istirahat di
ruang khusus
Gangguan sedang: alat bantu dengar
Gangguan total: pertimbangkan implant
koklea
Rancangan Penelitian

Penelitian deskriptif Untuk melihat


gambaran hasil tes audiometri Karyawan
Departemen Produksi Indarung IV PT.
Semen Padang.

Lokasi dan Waktu


Lokasi : Area Produksi Indarung IV PT.
Semen Padang

Waktu : 8 Agsutus 12 Agustus 2016


Populasi dan Sampel

Karyawan
Sampel
Departemen Karyawan yang
Produksi Indarung IV melakukan
PT. Semen Padang pemeriksaan
sebanyak 68 orang. audiometri pada
Populasi medical check
up sebanyak 50
orang.

Teknik Pengambilan sampel Total Sampling


Definisi Operasional
Kebisingan
Definisi
Terjadinya bunyi yang tidak dikehendaki sehingga
mengganggu atau membahayakan kesehatan.
Alat Ukur : Sound Level Meter
Skala : numerik
GangguanPendengaran
Definisi
Suatu penyakit berkurangnya atau hilangnya fungsi
pendengaran di salah satu atau kedua telinga.
Alat Ukur : Audimoetri
Skala : Ordinal
Instrumen
Data sekunder dari hasil pemeriksaan
audiometri yang dilakukan oleh PT. Semen
Padang.

Prosedur Pengambilan Sampel

Data sekunder dari hasil medical check up


Karyawan PT. Semen Padang dan observasi
lapangan yang dilakukan pada area Produksi
Indarung IV PT. Semen Padang.
Frekuensi
Karakteristik
N %

Jenis kelamin

Laki-laki 50 100

Perempuan 0 0

Usia

20-29 14 28

30-39 19 38

40-49 12 24

>50 5 10
50 karyawan
Semuanya Tertinggi
pemeriksaan berjenis berusia 30-
audiometri kelamin 39 tahun
Januari-Juni laki-laki 38%
2016
Titik Pengukuran Hasil (dB) Keterangan

Vertical Coal Mill (4 K3) Ind. IV A 88.1 Belum Memenuhi Syarat

Vertical Coal Mill (4 K3) Ind. IV B 82 Memenuhi Syarat

Vertical Coal Mill (4 K3) Ind. IV C 79.1 Memenuhi Syarat

Vertical Coal Mill (4 K3) Ind. IV D 82.4 Memenuhi Syarat

Vertical Coal Mill (4 K3) Ind. IV E 77.2 Memenuhi Syarat

Vertical Coal Mill (4 K3) Ind. IV F 79.1 Memenuhi Syarat

Vertical Coal Mill (4 K3) Ind. IV G 77.1 Memenuhi Syarat


Titik Pengukuran Hasil (dB) Keterangan

Raw Mill III B Ind. IV A 97.4 Belum Memenuhi Syarat

Raw Mill III B Ind. IV B 95 Belum Memenuhi Syarat

Raw Mill III B Ind. IV C 82.5 Memenuhi Syarat

Raw Mill III B Ind. IV D 82.1 Memenuhi Syarat

Raw Mill III B Ind. IV E 86.9 Belum Memenuhi Syarat

Raw Mill III B Ind. IV F 90.6 Belum Memenuhi Syarat

Raw Mill III B Ind. IV G 81.2 Memenuhi Syarat

Raw Mill III B Ind. IV H 88.8 Belum Memenuhi Syarat


Titik Pengukuran Hasil (dB) Keterangan

Kantor Shift Prod. Kiln Coal Mill 79 Memenuhi Syarat

R. Shift Prod. Kiln Coal Mill 83.1 Memenuhi Syarat

R. PM KCM IV 83.7 Memenuhi Syarat

R. PLI Kiln IV 55.2 Memenuhi Syarat

R. PM Cement Mill IV 68.2 Memenuhi Syarat

R. PLI Cement Mill IV 57.2 Memenuhi Syarat

R. PLI Raw Mill IV 61.3 Memenuhi Syarat

Lab. Kimia 57.4 Memenuhi Syarat

Lab. Fisika 56.5 Memenuhi Syarat

Lab. Beton 59 Memenuhi Syarat


Beberapa titik Berdampak buruk
melebihi nilai terhadap fungsi
ambang batas (NAB) pendengaran

Dipengaruhi
Dibutuhkan langkah
frekuensi dan
pencegahan
lamanya paparan
Hasil Audiometri Jumah Persentase (%)

Normal 28 56

Gangguan Pendengaran 22 44

Total 50 100
12

10
10

7
JUMLAH

2
2

0
Tuli Konduktif Tuli Sensorineural Tuli Campuran Gangguan Pendengaran Ringan
JENIS GANGGUAN PENDENGARAN
22 karyawan gangguan
pendengaran

7 orang tuli konduktif


2 orang tuli sensorineural
3 orang tuli campuran
10 orang gangguan pendengaran
ringan
Didapatkan dari 14
Observasi pada orang yang
tanggal 10 diwawancara,
Agustus 2016 di sebanyak 5 orang
merupakan karyawan
Departemen
PT Semen Padang dan
produksi 9 orang merupakan
Indarung IV PTSP karyawan
outsourching
Dari 9 orang
Dari 5 orang
karyawan
karyawan PTSP
outsourching
1 orang selalu
tidak ada yang
memakai alat
memakai alat
pelindung diri
pelindung diri
berupa earplug
berupa earplug
Masih terdapat area yang belum
memenuhi syarat NAB
Kesimpulan
Terdapat karyawan yang mengalami
gangguanpendengaran

PT Semen Padang perlu mencari solusi agar


kebisingan dapat diminimalisir
PT Seman Padang perlu melakukan
pengawasan dan edukasi tetang
Saran penggunaan APD
Perlu evaluasi dari pihak PT Semen Padang
terhadapa hasil MCU karyawan sehingga
masalah gangguan pendengaran dapat
berkurang