Anda di halaman 1dari 50

Presentasi Kasus

GENERAL ANESTESI PADA EKSTIRPASI


STT PINGGANG
Adelina Annisa Permata 1102013006
Dharmaning Estu Wirastyo 1102013081
Hirari Fattah Yasfi 1102013128

KEPANITERAAN ILMU ANESTESIOLOGI


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CILEGON
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
2017
IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. A.S.


Umur : 52 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Buruh
Alamat : Teg. Buntu RT 11 RW 06 Teg Ratu Ciwandan Cilegon
Masuk RS : 15 Agustus 2017
ANAMNESIS

Autoanamnesis (16 Agustus 2017)

Pasien datang ke Poliklinik Bedah Umum RSUD Cilegon dengan keluhan adanya
benjolan yang semakin membesar pada pinggang kiri sejak 3 bulan SMRS. Awalnya
sebesar kelereng namun semakin membesar hingga saat ini menjadi sekitar
seukuran bola tenis. Benjolan tidak terasa sakit namun mengganjal. 5 tahun yang
lalu pasien memiliki riwayat operasi pengangkatan benjolan pada tempat yang
sama.
ANAMNESIS

Pasien memiliki riwayat anestesi dan tindakan operasi sebelumnya. Pasien tidak memiliki
riwayat alergi pada makanan maupun obat-obatan. Pasien menyangkal memiliki riwayat
penyakit sistemik seperti diabetes mellitus, hipertensi, penyakit jantung, penyakit ginjal,
riwayat asma, dan pengobatan paru 6 bulan. Pasien juga tidak memakai gigi palsu dan tidak
ada gigi goyang. Pasien sudah puasa sejak pukul 24.00 malam untuk persiapan operasi.
PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum : Terlihat Sakit Ringan


Kesadaran : Composmentis
Tekanan Darah : 130 / 80 mmHg
Nadi : 84 x/ menit
Pernapasan : 22 x/ menit
Suhu : 36,5 oC
BB : 70 kg
TB : 161 cm
PEMERIKSAAN FISIK

Kepala

Bentuk : Normocephal
Rambut : Warna hitam, tidak rontok
Wajah : Simetris, edema (-)
Mata : Conjungtiva Anemis (-/-), Sklera Ikterik (-/-), Pupil Isokor RCL (+/+), RCTL (+/+)
Telinga : Bentuk normal, hiperemis (-), liang lapang, sekret (-/-), serumen (-/-), nyeri tekan tragus (-/-)
Hidung : Bentuk normal, septum deviasi (-), sekret (-/-), napas cuping hidung (-), mukosa hiperemis
(-)
Mulut : Bibir lembab, cyanosis (-), mukosa hiperemis (-), oral hygine baik, uvula di tengah,
dinding, posterior faring dan palatum molle terlihat (Mallampati I), tonsil tenang T1 T1
PEMERIKSAAN FISIK
Thorax

Paru-paru
Inspeksi : Bentuk normal, massa -, sikatrik -, hematom -, pergerakan napas kanan kiri simetris
Palpasi : Nyeri tekan -, krepitasi -, fremitus taktil dan vocal kanan kiri simetris
Perkusi : sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi: Vesiculer Basal Sound +/+, Wheezing -/-, Rhonki -/-
Jantung
Inspeksi : Pulsasi iktus kordis samar terlihat
Palpasi : Pulsasi iktus kordis teraba, thrill
Perkusi : Batas jantung normal
STATUS LOKALIS & FISIK

Status Lokalis
Regio Flank / Pinggang lateral Sinistra
Sikatrik bekas operasi (+), Massa (+), ukuran 10x3x3cm, kenyal, Mobile (+), batas jelas, permulaan rata,
hiperemis (-), nyeri tekan (-)

Status Fisik
Pasien normal (dengan penyakit yang akan dioperasi) sehingga dapat dikategorikan pasien memiliki
status fisik ASA I.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Pemeriksaan Hasil Nilai Normal

DARAH RUTIN KIMIA KLINIK


Hemoglobin 13,6 g/dL 13 17
SGOT 32 U/L < 37
Hematokrit 39,8 % (low) 40 48
SGPT 21 U/L < 41
Eritrosit 4,44 x 10^6/ uL (low) 4,5 5,5 x 10^6
Ureum 18 mg/dL 10 50
Leukosit 8,5 x 10^3/ uL 5 10 x 10^3
Kreatinin 1,17 mg/dL 0,70 1,3
Trombosit 246 x 10^3/uL 150 450 x 10^3
GDS 145 mg/dL < 200
HEMOSTASIS
Masa 2 menit 16 Albumin 4 g/dL 3.5 5.2
Pendarahan
Asam Urat 5,4 mg/dL 3.4 7.0
Masa 10 menit 5 15 menit
Pembekuan Natrium 142 mEq/L 135 147
IMUNOSEROLOGI
Anti HCV Non reaktif Non reaktif Kalium 3,6 mEq/L 3.3 5.4
HBsAG Non reaktif Non reaktif
Klorida 112,1 mEq/L (high) 94 111
Anti HIV Non reaktif Non reaktif
Penyaring Rapid
KESAN ANESTESI

Pasien seorang laki-laki berusia 52 tahun dengan diagnosis STT (soft tissue tumor) di regio
pinggang kiri, klasifikasi ASA I.

Penatalaksanaan meliputi :
Informed Consent mengenai tindakan ekstirpasi
Konsul bagian anestesi
Informed Consent mengenai pembiusan (anestesi) : dilakukan operasi ekstirpasi dengan
general anestesi dengan klasifikasi ASA I.
Persiapan Operasi (cek lab, puasa)
Intravena fluid drip (IVFD) RL 1000 cc (selama puasa sampai mulai tindakan)
KESIMPULAN

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, maka disimpulkan:


Diagnosis preoperasi : STT Pinggang Sinistra
Status Operatif : ASA I
Jenis Operasi : Ekstirpasi
Jenis Anestesi : General Anestesi (Laringeal Mask Airway / LMA)
LAPORAN ANESTESI
PREOPERATIF

Informed consent rencana tindakan Keadaan Umum: Tampak sakit ringan


pengangkatan massa (ekstirpasi) dengan Kesadaran : Composmentis
GA.
Tinggi badan : 161 Cm
Dari anamnesis pasien tidak memiliki
Berat badan: 70 Kg
riwayat yang akan mempengaruhi atau
mempersulit anestesi.
Pasien dipuasakan selama kurang lebih 6
Tanda vital
- 8 jam. Tekanan darah : 125/80 mmHg
Pemasangan intravena fluid drip pada Nadi : 87 x/menit
tangan kanan dengan cairan Ringer Pernapasan : 22 x/menit
Laktat (RL) 500 cc, mengalir dengan baik. Suhu : 36.7 oC
PREMEDIKASI

Granon (Granisetron) 1 mg Bolus intravena


TINDAKAN ANESTESI

11.30 WIB Pasien masuk ruang OK, diposisikan supine, pasang manset dan oksimetri,
memastikan IV line, dan medikasi anestesi.
11. 40 WIB Induksi Anestesi dengan fentanyl 150 microgram dan propofol 150 mg secara bolus
intravena.
Reflek bulu mata (-) pasnag sungkup wajah dialiri gas O2 3 lpm, N2O 3 lpm dan isofluran 2 vol %
selama beberapa waktu
Pemasangan LMA ukuran no 4 yang sudah diberi gel dan dikembangkan balon pada LMA lalu
difiksasi dengan micropore
LMA dihubungkan dengan mesin anestesi melalui selang.
Pompa ambubag hingga terjadi pernapasan spontan
Memperhatikan monitor tanda-tanda vital, vital sign diset otomatis dan dicatat setiap 5 menit
selama operasi
PEMANTAUAN SELAMA ANESTESI
Jam Tindakan Tekanan Darah Nadi Saturasi O2
11.30 Pasien masuk kamar operasi, 125/80 87 100%
dibaringkan pada meja
operasi dan dilakukan
pemasangan manset di
lengan kiri atas dan oksimetri
di jari telunjuk kanan.
Injeksi granisetron 1 mg
secara IV bolus.

11.40 Dilakukan induksi anestesi 98/59 76 100%


secara bolus. (fentanyl 150
mikrogram, propofol 150 mg)
Pasang sungkup dan
dilanjutkan pemasangan LMA
no.4 dengan okigen 2 lpm,
N2O 2 lpm, dan isoflurane
volume 2%

11.45 Operasi dimulai 88/56 73 99%


Kondisi terkontrol

11.50 Kondisi Terkontrol 122/72 72 100%


11.55 Kondisi Terkontrol 130/81 70 100%
12.00 Kondisi Terkontrol 143/78 79 100%
PEMANTAUAN SELAMA ANESTESI

Jam Tindakan Tekanan Darah Nadi Saturasi O2


12.05 Kondisi Terkontrol 132/77 73 100%
12.10 Kondisi Terkontrol 118/68 70 100%
12.15 Kondisi Terkontrol 98/66 67 100%
12.20 Kondisi Terkontrol 111/56 70 100%
12.25 Kondisi Terkontrol 125/53 74 100%
12.30 Tramadol 100 mg 94/59 68 100%
diberikan secara drip
Kondisi Terkontrol
12.35 Operasi Selesai 117/65 73 100%
Pronalges supp
diberikan 100 mg
POST-OPERATIF

Operasi berakhir pada jam 12.35 WIB.


Tindakan pembedahan selesai isoflurane diturunkan bertahap sampai mencapai 0% vol, N2O
diturunkan hingga 0L/menit, dan O2 dinaikan hingga 6L/menit.
Ekstubasi LMA lalu dipasang orofaringeal tube / guedel
Pasien dipindahkan ke ruang pemulihan
bantuan oksigenasi canule O2 3 liter/menit melalui guedel
pemantauan keadaan umum, tingkat kesadaran, dan tanda vital hingga stabil 126/78mmHg,
SpO2 99% dan pasien sadar beberapa saat di ruang pemulihan
Saat berada di ruang pemulihan dilakukan penilaian aldrete score, hasil 10 pasien
dipindahkan ke ruang perawatan (bangsal).
ANALISA KASUS
Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang ASA I
Persiapan sebelum operasi memastikan keadaan pasien baik, mumpuni untuk
dilakukan anestesi, melihat apakah ada penyulit dalam anestesi atau mempertahankan
jalan napas, dan memasang akses intravena dan infus, serta mempuasakan pasien 6-8 jam
sebelum operasi.
Memastikan infus berjalan dengan baik dan lancer saat operasi dan anestesi sebagian
besar obat dimasukkan secara intravena.
Pemasangan alat-alat pemantauan tanda vital untuk memantau tekanan darah, denyut
nadi, dan saturasi oksigen beberapa obat anestesi dapat mempengaruhi perubahan
tekanan darah (hipertensi atau hipotensi) & depresi pernapasan yang keduanya dapat
mempengaruhi saturasi atau kandungan oksigen dalam tubuh pasien.
Premedikasi : granon (granisetron) 1 mg bolus intravena.
Mencegah rangsangan muntah pada pasien dan memperkecil risiko aspirasi muntah ke dalam
jalan napas.
Granisetron adalah antagonis selektif reseptor 5-HT3 baik pada sistem saraf pusat maupun saraf
tepi yang memiliki efek terhadap saluran pencernaan. Hambat rangsangan saraf vagus untuk
menyampaikan rangsang ke chemoreseptor trigger zone.
Induksi anestesi : Fentanyl dan Propofol bolus intravena.
Propofol berkerja sebagai sedasi atau hipnotik. Dosis induksi (2mg/kgBB) menyebabkan pasien
tidak sadar secara cepat tanpa menimbulkan efek analgesik, namun pemulihan kesadaran
berlangsung secara cepat juga karena memiliki masa kerja yang singkat.
Fentanyl bekerja sebagai analgesik, memiliki sifat analgesik narkotik yang poten. Dapat digunakan
sebagai tambahan dalam general anestesi maupun sebagai induksi anestesi. Fentanyl memiliki
kerja cepat dan efek durasi kerja kurang lebih 30 menit setelah dosis tunggal IV 100 mcg.
Intubasi / Airway : Laryngeal Airway Mask (LMA)
Pemasangan LMA jalan napas dapat terjaga dengan bebas, anestesi inhalan dapat
dikontrol dengan mudah, dan tidak sesulit pemasangan ETT. Saturasi oksigen bisa
ditingkatkan, jalan napas terjaga bebas, dosis obat anestesi dapat dikontrol dengan
mudah.
LMA digunakan dalam operasi yang memiliki durasi yang tidak telalu lama dan tidak
memerlukan banyak perubahan posisi pasien.
Maintenance anestesi = N2O : O2 50:50 (N2O 2L/menit, O2 2 L/menit) & isoflurane
vol 2%.
Anestesi Ideal Bekerja secara cepat dan dapat mengembalikan kesadaran
dengan segera setelah pemberian dihentikan serta mempunyai batas keamanan
yang cukup besar dan efek samping minimal.
Hal ini tidak dapat dicapai bila diberikan obat anestesi tunggal, oleh karena itu
perlu anestesi dalam bentuk kombinasi.
Post-Operasi :Tramadol 100 mg intravena drip
Tramadol adalah analgesik kuat yang bekerja pada reseptor opiate, tramadol
mengikat secara stereospesifik pada reseptor di sistem saraf pusat sehingga
menghentikan sensasi dan respon terhadap nyeri. Selain itu juga menghambat
pelepasan neurotransmitter dari saraf aferen.
TINJAUAN PUSTAKA
GENERAL ANESTESI

Anestesi (Bahasa Yunani)


An tidak, tanpa aesthesos persepsi, kemampuan untuk merasa
Tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai
prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh.

Anastesi umum meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesdaran yang
bersifat reversible.
Komponen anestesi yang ideal terdiri dari: hipnotik, analgesia, dan relaksasi otot.
(TRIAS ANESTESI)
PILIHAN CARA ANESTESI

Pemilihan prosedur anestesi berdasarkan :


Usia
Status Fisik
Posisi pembedahan
Keterampilan dan kebutuhan dokter bedah
Keterampilandan pengalam dokter anestesi
Keinginan pasien
METODE ANESTESI GENERAL

Parenteral (Intravena atau Intramuskular) tindakan singkat atau induksi


anestesi
Perektal
Perinhalasi menggunakan gas / cairan anestetika yang mudah menguap
(volatile agent) sebagai zat anestetika melalui udara pernapasan. Biasanya
kombinasi obat anastesia inhalasi.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ANESTESI

Faktor respirasi (untuk obat inhalasi)


Makin tinggi konsentrasi zat yang dihirup tekanan parsial akan tinggi tekanan alveoli >>
tekanan sirkulasi difusi
Proses difusi akan terganggu bila ada penghalang antara alveoli dan sirkulasi darah (edem paru
dan fibrosis paru).

Faktor sirkulasi
Aliran darah paru menentukkan pengangkutan gas anastesi dari paru kejaringan dan sebaliknya.
Blood gas partition coefisien (risiko konsentrasi zat anastesi dalam darah dan dalam gas bila
keduanya dalam keadaan keseimbangan)
Semakin kelarutan zat rendah pasien mudah tertidur dan mudah bangun
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ANESTESI

Faktor obat anastesi


Mengukur potensi obat anastesi inhalasi MAC (minimal alveolar concentration)
Konsentrasi obat anastesi inhalasi minimal pada 1 atm yang dapat mencegah
gerakan otot skelet sebagai respon rangsang sakit supra maksimal pada 50% pasien
MAC <<< >>> potensi obat
STADIUM ANESTESI

Menurut Guedel dibagi dalam 4 stadium berdasarkan pernafasan, gerakan bola mata, tanda pada
pupil, tonus otot.
Stadium 1 (analgesia/disorientasi) : anestesia hilang kesadaran
Stadium 2 (delirium /eksitasi) : hilang kesadaran hilangnya reflex menelan dan kelopak mata
dan akhirnya napas spontan teratur
Stadium 3 (operasi) : napas teratur paralisis otot napas
Plana I : napas teratur henti gerak bola mata
Plana II : henti gerak bola mata permulaan paralisis otot interkostal
Plana III : paralisis otot intercostal sehingga napas abdominal lebih dominan
Plana IV : paralisis semua otot intercostal paralisis diafragma
Stadium 4 (overdosis/paralisis) : paralisis diafragma apneu / kematian
TAHAPAN TINDAKAN ANESTESI UMUM

1) Penilaian dan Persiapan Pra-Anestesia


Kunjungan pasien sebelum tindakan pembedahan.
Tujuan untuk mengurangi angka kesakitan operasi, mengurangi biaya operasi dan
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
2) Penilaian Prabedah
Anamnesis (Alergi, Asma, Penyakit sistemik, riwayat operasi, dll)
Pemeriksaan Fisik (terutama gigi gerigi dan jalan napas tindakan intubasi laringoskopi)
Pemeriksaan Laboratorium (darah rutin, masa perdarahan dan pembekuan, faal ginjal,
hati)
Klasifikasi status kebugaran fisik The American Society of Anesthesiologists (ASA)
The American Society of Anesthesiologists (ASA)
ASA kelas 1 : tidak ada gangguan organic, fisiologis, biokimia, dan psikiatri
ASA kelas 2 : gangguan sistemik rimgan hingga sedang. Bisa/tidak berpengaruh terhadap alasan
dilakukannya operasi.
ASA kelas 3 : gangguan sistemik berat yang bisa/tidak berpengaruh terhadap alasan dilakukannya operasi.
ASA kelas 4 : gangguan sistemik berat yang membahayakan nyawa dengan/tanpa operasi.
ASA kelas 5 : pasien dengan kemungkinan hidup yang kecil namun tetap dioperasi sebagai upaya terakhir
(usaha resusitasi)
ASA kelas 6 : pasien yang sudah dinyatakan mati batang otak (tujuan donor)
E : huruf E ditambahkan pada nomor status pada operasi gawat darurat
3. Masukan Oral
Refleks laring menurun Regurgitasi isi lambung dan kotoran yang terdapat dalam
jalan napas Aspirasi (RISIKO UTAMA!!)
Meminimalisir : dipantangkan dari masukan oral (puasa) selama periode tertentu
sebelum induksi anestesia.
Dewasa 6-8 jam
Anak kecil 4-6 jam
Bayi 3-4 jam
4. Premedikasi
Pemberian obat sebelum induksi anestesia diberi dengan tujuan untuk
melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anestesi.
Analgesik narkotik (Petidin, morfin, fentanyl)
Analgesik non narkotik (Ponstan, Tramol, Toradon)
Hipnotik (Ketamin, pentotal)
Sedatif (Diazepam, Propofol, Dehydrobenzperidon)
Anti emetic (Sulfas atropine (anti kolinergik), Ondancentron, Granon)
5. Induksi Anestesi
Membuat pasien dari sadar menjadi tidak sadar, sehingga memungkinkan
dimulainya anestesi dan pembedahan.
Cara pemberian Induksi
Induksi Intravena (Bolus dalam rentang 30-60 detik) Tiopental, Propofol,
Ketamin, Opioid (morfin, petidin, fentanil, sufentanil).
Induksi Intramuskular Ketamin
Induksi Inhalasi N2O, Halotan, Enfluran, Isofluran, Sevofluran
Induksi Perektal anak / bayi dengan thiopental / midazolam
Persiapan Induksi STATICS
Scope
Tubes
Airway
Tape
Introducer
Connector
Suction
6. Rumatan Anestesi (Maintenance)
Dapat dipakai obat inhalasi atau intravena. Gabungan dosis obat dapat
diperkecil.
Untuk operasi tertentu diperlukan anastesi umum sampai tingkat kedalamannya
mencapai trias anastesi, diatasi dengan mendalamkan anastesi dengan cara
menambah dosis obat.
Bila hanya menggunakan satu macam obat, keadaan relaksasi dapat tercapai
setelah dosis obat anastesi yang sedemikian tinggi gangguan pada organ vital
mengancam jiwa penderita
Solusi trias anestesi dengan kedalaman ringan
BALANCE ANESTESI : obat hipnotik + obat analgetik kuat + obat muscle relaxant
7. Pemulihan Anestesi
Penghentian obat anestesi + Oksigenasi
Respirasi spontan tanpa intubasi tunggu pasien sadar
Dengan intubasi ekstubasi

Skor Pemulihan Pasca Anestesi Aldrete Score (> 8, dapat kembali ke ruangan)
Nilai Warna Kulit

Merah Muda 2

Pucat 1

Aldrete Score Sianosis 0

Pernapasan

Bernapas dalam, batuk 2

Bernapas dangkal, dipneu 1

Apneu / obstruksi 0

Sirkulasi

Perbedaan TD < 20% TD awal 2

Perbedaan TD 20 50% dari awal 1

Perbedaan TD > 50% dari TD awal 0

Kesadaran

Sadar penuh 2

Bangun namun cepat kembali tertidur 1

Tidak ada respon 0

Aktivitas

Seluruh ekstrimitas dapat digerakkan 2

2 ekstrimitas dapat digerakkan 1

Tidak dapat digerakkan 0


LARYNGEAL MASK AIRWAY

LMA memberikan ahli anestesi alat


baru penanganan airway yaitu jalan
nafas supraglotik.
Didesain untuk memberikan dan
menjamin tertutupnya bagian dalam
laring untuk ventilasi spontan dan
memungkinkan ventilasi kendali pada
mode level (< 15 cm H2O) tekanan
positif.
UKURAN LMA

Ukuran Masker Berat Badan (Kg) Volume Balon (mL)

1 <5 2-4
1 5 10 7
2 10 20 10
2 20 30 14
3 30 - 50 20
4 50 - 70 30
5 > 70 40
KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN LMA vs FACE MASK

KEUNTUNGAN KERUGIAN
Tangan operator bebas Lebih invasive
Lebih leluasa pada operasi THT Resiko trauma pada jalan nafas lebih besar
Lebih mudah untuk mempertahankan jalan Membutuhkan keterampilan baru
nafas Membutuhkan tingkat anastesi lebih dalam
Terlindung dari sekresi jalan nafas Lebih membutuhkan kelenturan TMJ
Trauma pada mata dan saraf wajah lebih (temporo-mandibular joint)
sedikit Difusi N2O pada balon
Polusi ruangan lebih sedikit Ada beberapa kontraindikasi
KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN LMA vs ETT

KEUNTUNGAN KERUGIAN
Kurang invasive Meningkatkan resiko aspirasi gastrointestinal
Anestesi yang dibutuhkan lebih dangkal Tidak aman pada pasien obisitas berat
Berguna pada intubasi sulit Maksimum PPV (positive pressure ventilation)
Trauma pada gigi dan laryngx rendah terbatas
Mengurangi kejadian bronkhospasme dan Keamanan jalan nafas kurang terjaga
laryngospasme Resiko kebocoran gas dan polusi ruangan lebih
Tidak membutuhkan relaksasi otot tinggi
Tidak membutuhkan mobilitas leher Dapat menyebabkan distensi lambung
Mengurangi efek pada tekanan introkular
Mengurangi resiko intubasi ke esofagus atau
endobronchial
INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI LMA

Indikasi
alternatif dari ventilasi face mask atau intubasi ET
penatalaksanaan difficult airway yang diketahui atau yang tidak diperkirakan
airway management selama resusitasi pada pasien yang tidak sadarkan diri
Kontraindikasi
Risiko meningkatnya regurgitasi isi lambung
Terbatasnya membuka mulut atau ekstensi leher (misalnya artitis rematoid yang berat atau ankilosing spondilitis)
Compliance paru yang rendah atau tahanan jalan nafas yang besar, karena seal yang bertekanan rendah pada
cuff LMA akan mengalami kebocoran pada tekanan inspirasi tinggi dan akan terjadi pengembangan lambung.
Tekanan inspirasi puncak harus dijaga kurang dari 20 cm H2O untuk meminimalisir kebocoron cuff dan
pengembangan lambung.
Obstruksi jalan nafas setinggi level larynx atau dibawahnya
Kelainan pada oropharynx (misalnya hematoma, dan kerusakan jaringan)
Ventilasi paru tunggal.
Pasien-pasien yang membutuhkan dukungan ventilasi mekanik jangka waktu lama.
TEKNIK INSERSI LMA

Macam-macam teknik insersi LMA :


Teknik Klasik/standard (Brains original
technique) Paling lazim dan terbaik
Inverted/reserve/rotation approach

Lateral apporoach inflated atau deflated


cuf

Konsep insersi LMA mirip dengan mekanisme


menelan.

Balon LMA yang belum terkembang dilekatkan


menyusuri langit-langit dengan jari telunjuk Gambar Teknik Insersi LMA
menekan LMA menyusuri sepanjang langit-
langit keras dan langit-langit lunak terus
sampai ke hipofaring.
MALPOSISI LMA
KOMPLIKASI LMA

Komplikasi Mekanikal (kinerja LMA sebagai alat) :


Gagal insersi (0,3 4%)
Ineffective seal (<5%)
Malposisi (20 35%)

Komplikasi Traumatik (kerusakan jaringan sekitar) :


Tenggorokan lecet (0 70%)
Disfagia (4 24%)
Disartria (4 47%)

Komplikasi Patofisiologi (efek penggunaan LMA pada tubuh) :


Batuk (<2%)
Muntah (0,02 5%)
Regurgitasi yang terdeteksi (0-80%)
Regurgitasi klinik (0,1%)
KESIMPULAN