Anda di halaman 1dari 25

STERILISASI SECARA

FISIKA

Vina Hidayana, M.Farm, Apt


A. STERILISASI PANAS

Pemijaran
Caranya adalah dengan membakar
alat-alat tersebut di atas api lampu
spiritus. Seluruh permukaan alat harus
berhubungan langsung dengan api
selama 20 menit.

FARMASETIKA II
Cara ini sangat sederhana, cepat dan
menjamin sterilitas bahan/alat yang
disterilkan. Hanya saja dalam proses
pembakaran langsung ini, alat-alat tersebut
lama kelamaan menjadi rusak.

Dapat digunakan untuk mensterilkan


benda-benda yang terbuat dari logam
(pinset, penjepit krus, spatel, kawat ose)
mulut wadah. Mortir dan stamfer disiram
dengan alkohol, kemudian dibakar
FARMASETIKA II
Sterilisasi Panas Kering
Sterilisasi panas kering sering digunakan untuk
alat/bahan tahan panas, misalnya logam, gelas,
minyak, lemak dan serbuk termostabil.
Panas kering tidak hanya merusak
mikroorganisme tetapi juga merusak pirogen.
Mekanisme pembunuhan mikroorganisme
dengan panas kering adalah proses oksidasi.
Waktu dan temperatur sterilisasi panas kering
menjadi lebih lama dan tinggi daripada metode
sterilisasi lainnya.

FARMASETIKA II
Tingkat pembunuhan mikroorganisme dan
penetrasinya tergantung pada energi yang
digunakan.
Jika energi panasnya cukup, maka panas kering
dapat berpenetrasi dengan baik dan membunuh
semua mikroorganisme.
Untuk alat logam dan alat gelas, sterilisasi
ditetapkan pada temperatur 160C selama 1 jam
Sedangkan minyak atau parafin atau salep
ditetapkan sterilisasi pada suhu 150C selama 1
jam.

FARMASETIKA II
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
sterilisasi panas kering :

Temperatur dalam oven pada semua


daerah harus sama
Proses sterilisasi powder ( bolus, kalsium,
amilum ) harus dalam kondisi tipis.
untuk cairan seperti : minyak, gliserol,
parafin harus dalam jumlah kecil sehingga
diperoleh temperatur yang sama dalam
waktu yang singkat
FARMASETIKA II
Sterilisasi panas basah

a. Sterilisasi Uap
Pada sterilisasi uap ini, terjadi pemaparan
uap jenuh pada tekanan tertentu selama
waktu dan suhu tertentu pada suatu objek
sehingga terjadi pelepasan energi uap
yang mengakibatkan pembunuhan
mikroorganisme secara irreversibel akibat
denaturasi atau koagulasi protein sel.
FARMASETIKA II
Sterilisasi uap merupakan metode
yang paling efektif dan ideal
karena :

a. Uap merupakan pembawa energi


termal paling efektif dan semua
lapisan pelindung luar M.O dapat
dilunakkan sehingga memungkinkan
terjadinya koagulasi.
b. Bersifat nontoksik, mudah diperoleh
dan relatif mudah dikontrol

FARMASETIKA II
Suhu jenuh uap (100C) pada tekanan 1
atmosfir ternyata masih kurang untuk
membunuh kuman yang resisten.

Agar suhu uap jenuh meningkat, maka


tekanan juga ditingkatkan, dapat dilakukan
dalam wadah tertutup rapat agar tercapai
suhu sterilisasi yaitu 121 C atau lebih.

FARMASETIKA II
Sterilisasi ini biasa digunakan untuk
mensterilkan :

a. Sediaan injeksi dan suspensi : 121C ,


15 menit
b. Baju operasi : 134C , 3 menit
c. Plastik dan karet

FARMASETIKA II
Siklus Sterilisasi Uap

Fase pemanasan ( conditioning)


Pemaparan Uap ( exposure )
Pembuangan ( exhaust)
Pengeringan

FARMASETIKA II
b. Direbus dengan air mendidih

Proses sterilisasi dihitung sejak air mulai


mendidih. Spora tidak dapat mati dengan cara
ini, penambahan bakterisida ( fenol 5%, lisol 2-
3% dapat mempercepat waktu sterilisasi.
Beberapa alat kedokteran dapat disterilkan
dengan cara ini.

FARMASETIKA II
c. Tyndalisasi / Pasteurisasi

Digunakan pada bahan obat yang tidak tahan


pemanasan tinggi dan tidak dapat disaring dengan
penyaring bakteri( emulsi/suspensi).
Caranya : panaskan pada suhu 70 80C selama
40 60 menit, untuk mematikan mikroba bentuk
vegetatifnya. Diamkan pada suhu 30 selama 24 jam,
untuk membiarkan mikroba bentuk spora berubah
menjadi bentuk vegetatif. Ulangi pemanasan selama 3
5 hari berturut-turut.

FARMASETIKA II
B. STERILISASI RADIASI

Sterilisasi dengan sinar UV


Sterilisasi dengan radiasi Ion
Sterilisasi dengan sinar gamma

FARMASETIKA II
Radiasi adalah tenaga dalam bentuk sinar
atau partikel yang dipancarkan dari zat
radioaktif.

Radiasi elektromagnetik : menggunakan


sinar gamma, sinar UV, sinar x untuk
menghancurkan mikroba

Radiasi partikel : menggunakan sinar beta


untuk menghancurkan mikroba

FARMASETIKA II
Keunggulan Sterilisasi Radiasi
Sudah digunakan untuk mensterilkan jaringan
transplantasi (transplanted/implanted tissues)
Sterilisasi dingin sehingga tidak merusak jaringan
(Cold sterilization)
Penetrasi sinar dalam sehingga dapat mensterilkan
jaringan dalam kemasan akhir
Membunuh mikroba dan virus tertentu

FARMASETIKA II
Dosis sterilisasi bergantung kepada
jumlah kontaminasimikroba (bioburden
load)
Sterilisasi radiasi juga dapat dilakukan
pada kemasan akhir
Aktivitas pembunuhannya tinggi sehingga
tingkat kepercayaannya tinggi.

FARMASETIKA II
Sterilisasi dengan sinar UV
UV merupakan gelombang elektromagnetik
dengan panjang gelombang 200 400 nm.
Dengan efek optimal pada 254 nm. Sumbernya
adalah lampu uap merkuri .
Sinar UV diserap sebagian besar bagian sel
mikroba, sehingga akan terjadi gangguan sintesa
protein, maka mikroba akan mati.
Digunakan untuk mensterilkan ruangan pada
penggunaan aseptik.
FARMASETIKA II
Sterilisasi dengan radiasi Ion
Mekanismenya :
Teori tumbukan/benturan :
partikel atau radiasi elektromagnetik langsung
mengenai bagian yang sensitif ( kromosom)

Teori reaksi
secara tidak langsung dengan sinar terlebih dahulu
membentur molekul air dan mengubahnya menjadi
bentuk radikal yang menyebabkan terjadinya reaksi
sekunder pada bagian molekul DNA mikroba,
sehingga terjadi kelainan fungsi sel yang
menyebabkan mikroba mati .

FARMASETIKA II
Sterilisasi dengan sinar gamma
Sinar gamma bersumber dari Co 60 dan Cs137 dengan
aktivitas sebesar 50 500 kiloCurie dan memiliki daya
tembus sangat tinggi
Dosis efektifnya adalah 2,5 Mrad
Sinar gamma digunakan untuk mensterilkan alat
kedokteran dan alat yang terbuat dari logam, karet, dan
bahan sintetis seperti polietilen.
Dengan mengatur dosis sterilisasi radiasi, teknologi
inidapat mengeliminasikan semua jenis mikroba dan
beberapa jenis virus tertentu yangmengkontaminasi
jaringan
FARMASETIKA II
C. STERILISASI FILTRASI

Filtrasi/penyaringan dapat
digunakan untuk memisahkan
partikel-partikel, termasuk M.O dari
larutan dan gas tanpa menggunakan
panas.

FARMASETIKA II
KEUNTUNGAN :
Dapat mensterilkan larutan obat suntik yang tidak
tahan panas.
Untuk proses pembuatan dalam jumlah kecil, dapat
menghilangkan semua mikroba
Peralatan yang digunakan relatif tidak mahal.

FARMASETIKA II
KERUGIAN :
Ada beberapa penyaring yang sukar dicuci,
menyerap obat, bersifat alkalis karena
membebaskan namun hal tersebut dapat
ditiadakan dengan menggunakan penyaring
membran.
Satu kerugian yang paling serius adalah
kemungkinan kerusakan bentuk penyaring
sehingga hasil steril penyaringan tidak pasti.

FARMASETIKA II
Menyaring mikroba/ filtrasi melalui
prinsip :
Filter ayakan, didasari perbedaan ukurannya
dengan pori-pori. Ukuran pori-porinya
seragam sebesar 0,22 m dengan ketebalan 80
159 m. Filter ayakan tidak dapat
membebaskan pirogen dan virus (0,02 m)
Filter adsorpsi, dalam hal ini filternya terbuat
dari selulosa, asbes, gelas sinter, keramik, dan
kieselguhr serta karbon aktif. Filter ini dapat
membebaskan pirogen dan virus.
FARMASETIKA II
Jika menggunakan tekanan tertentu, maka
dapat disesuaikan menggunakan ukuran
pori-pori penyaring sebagai berikut:

Tekanan ( Bar) Ukuran pori-pori


penyaring(m)
3,15 0,22
2,45 0,3
1,96 0,45
0,35 1,2

FARMASETIKA II