Anda di halaman 1dari 64

HIPERPLASIA

PROSTAT

Preceptor : dr. Dimas Arya Kusuma Sp.B


ANATOMI PROSTAT
Kelenjar prostat adalah salah satu organ
genitalia pria yang terletak di sebelah inferior
buli-buli dan membungkus uretra posterior.
Prostat berbentuk seperti pyramid terbalik dan
merupakan organ kelenjar fibromuskuler yang
mengelilingi uretra pars prostatica.
Prostat merupakan kelenjar
aksesori terbesar pada pria; tebalnya 2 cm dan
panjangnya 3 cm dengan lebarnya 4 cm, dan
berat 20 gram. Prostat mengelilingi uretra pars
prostatika dan ditembus di bagian posterior oleh
dua buah duktus ejakulatorius.
BATAS BATAS
PROSTAT
Batas superior : collum vesica urinaria,

Batas inferior : diafragma urogenitalis.

Anterior : permukaan anterior prostat berbatasan


dengan simphisis pubis, dipisahkan dari simphisis
oleh lemak ekstraperitoneal yang terdapat pada
cavum retropubica(cavum retziuz).

Posterior :permukaan posterior prostat


berhubungan erat dengan permukaan anterior
ampula recti dan dipisahkan darinya oleh septum
retovesicalis (vascia Denonvillier)..

Lateral : permukaan lateral prostat terselubung


oleh serabut anterior m. levator ani waktu serabut
ini berjalan ke posterior dari os pubis. Ductus
ejaculatorius menembus bagian atas permukaan
prostat untuk bermuara pada uretra pars
prostatica pada pinggir lateral orificium utriculus
prostaticus.
LOBUS PROSTAT
Lobus
medius

Lobus
Lateralis

Lobus
anterior

Lobus
Posterior
Zona Sesuai dengan lobus anterior, tidak
punya kelenjar, terdiri atas stroma
Anterior atau fibromuskular. Zona ini meliputi
sepertiga kelenjar prostat.
Ventral .
Sesuai dengan lobus lateral dan
posterior, meliputi 70% massa kelenjar
Zona Perifer prostat. Zona ini rentan terhadap
inflamasi dan merupakan tempat asal
karsinoma terbanyak.

Lokasi : antara kedua duktus


Zona ejakulatorius, sesuai dengan lobus
tengah meliputi 25% massa glandular
Sentralis. prostat.Zona ini resisten terhadap
inflamasi.

Zona ini bersama-sama dengan kelenjar periuretra

Zona disebut juga sebagai kelenjar preprostatik.


Merupakan bagian terkecil dari prostat, yaitu kurang
lebih 5% tetapi dapat

Transisional. melebar bersama jaringan stroma fibromuskular


anterior menjadi benign prostatic hyperpiasia (BPH).
VASKULARISASI

ARTERI Aliran darah prostat Merupakan


percabangan dari arteri vesikalis
inferior dan arteri rektalis media..
VENA membentuk plexus venosus prostatica
( antara capsula prostaticadan selubung
fibrosa ). Plexus venosus prostaticus
menampung darah dari vena dorsalis
profunda penis dan sejumlah vena vesicales,
selanjutnya bermuara ke vena iliaca interna.
LIMFAPembuluh limfe mulai sebagai
kapiler dalam stroma dan mengikuti
pembuluh darah dan mengikuti pembuluh
darah. Limfe terutama dicurahkan ke
nodus iliaka interna
SARAF prostat berasal dari
pleksus hipogastrikus
inferior dan membentuk
pleksus prostatikus. Prostat
mendapat persarafan terutama
dari serabut saraf tidak
bermielin. Beberapa serat ini
berasal dari sel ganglion otonom
yang terletak di kapsula dan di
stroma. Serabut motoris,
mungkin terutama simpatis,
tampak mempersarafi sel- sel otot
polos di stroma dan kapsula sama
seperti dinding pembuluh darah.
FISIOLOGI
MIKSI
IDENTITAS

Nama : Tn.
Umur : 88 tahun
Sutarsono

Statur pernikahan
Alamat : Singkir
: Menikah

Tanggal Kontrol :
No RM : 608152
25 Oktober 2016
KELUHAN UTAMA

SULIT BUANG
AIR KECIL
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG (RPS)

Seorang laki laki usia 88 tahun datang kontrol ke Poli Bedah RSUD Wonosobo
dengan keluhan susah BAK dan telah dipasang kateter sejak 1 tahun yang lalu. Pasien
mengaku sulit untuk memulai BAK dan membutuhkan waktu sekitar 3 5 menit. Selain
itu, ketika kencing pasien harus mengedan agar air kencing keluar namun pancaran air
kencingnya lemah dan terputus-putus lalu menetes. Selain itu pasien juga merasa tidak
puas ketika BAK dan merasa masih ada sisa air kencing dikandung kemihnya. Pasien
mengeluhkan rasa ingin kencing yang tidak tertahankan dan merasa nyeri saat BAK.
Nyeri dirasakan seperti ditusuk tusuk pada daerah perut bagian bawah dan
menghilang setelah BAK. Selain itu pasien juga sering terbangun pada malam hari
karena merasa ingin BAK. Riwayat kencing berdarah, kencing berpasir dan bernanah
disangkal. Riwayat trauma pada saluran kencing disangkal. Demam disangkal.
4W
susah BAK
telah dipasang kateter
sulit untuk memulai BAK dan membutuhkan waktu sekitar 3 5 menit.

what
mengedan agar air kencing pasien keluar,
pancaran air kencingnya melemah dan terputus-putus dan lalu menetes.
tidak puas ketika BAK dan merasa masih ada sisa air kencing dikandung kemih pasien.
rasa ingin kencing yang tidak tertahankan dan
Nyeri saat BAK
Terbangun pada malam hari karena merasa ingin BAK.

Nyeri perut bagian


Where
bawah
Suspek obstruksi saluran kemih
Why Suspek infeksi saluran kemih

When 1 tahun
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU (RPD)

Riwayat
hipertensi Riwayat
tidak Diabetes
terkontrol Mellitus
sejak 10 tahun disangkal
yang lalu
Riwayat CHF
sejak 2 tahun
yang lalu

Riwayat
pasang kateter
sejak 1 tahun
lalu
RIWAYAT PENGOBATAN

POLI DALAM ( 8
SEPTEMBER 2016)
- Furosemid 2x1
POLI BEDAH
- Spironolakton 2x1
- Ganti DC tiap bulan
- Codein 2x1
- Urinter 2x1
- Antasid 2x1
- Clopidogrel 1x1
- Levofloxasin 1x1
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA (RPK)

Tidak ada keluarga dengan keluhan yang sama

Riwayat keluarga dengan kanker dan tumor disangkal

RIWAYAT PERSONAL SOSIAL

Pasiem merokok sejak usia remaja 5 tahun


belakangan pasien sudah berhenti merokok
PEMERIKSAAN IPSS SKOR INTERNASIONAL PROSTAT
Dalam 1 bulan terakhir ini berapa seringkah anda :
1. Merasakan masih terdapat sisa urin sehabis kencing? Skor 5
2. Harus kencing lagi padahal belum ada setengah jam yang lalu Anda kencing? Skor 3
3. Harus berhenti pada saat kencing dan segera mulai kencing lagi dan hal ini dilakukan berkali-kali? Skor 5
4. Tidak dapat menahan keinginan untuk kencing? Skor 2
5. Merasakan pancaran urin yang lemah? Skor 5
6. Harus mengejan dalam memulai kencing? Skor 5
Dalam satu bulan terakhir ini berapa kali anda terbangun dari tidur malam untuk kencing? Skor 5
Pertanyaan penilaian tentang kualitas hidup :
Bagaimana anda menikmati hidup? SKOR 4
Kesimpulan : S 27 , L 4 ,Q ,R ,V
(S : skor, L: kualitas hidup, Q: pancaran urin ml/det, V:vol.prostat )

Derajat LUTS : BERAT ( 20 -35 )


PEMERIKSAAN FISIK

STATUS
GENERALIS
Kesadaran : Compos mentis
Keadaan umum : Baik
Tekanan darah : 140/80 mmHg
Nadi : 81 kali/ menit
Suhu :37
Pernapasan : 20 kali / menit
Normosefali, Konjungtiva JVP meningkat,
tidak ditemukan tidak anemis, kelenjar getah
deformitas dan sklera tidak bening tidak
nyeri tekan ikterik teraba
membesar,

Kepala Mata Leher


PULMO
INSPEKSI PARU DEPAN PARU PERKUSI PARU DEPAN PARU
BELAKANG BELAKANG

Simetris Simetris KANAN Sonor di semua Sonor di semua


STATIS
Barrel chest (+) Barrel chest (+) lapangan thorax lapangan thorax
ICS melebar (+ ) ICS melebar (-+)

KIRI Sonor di semua Sonor di semua


Tidak ada napas Tidak ada napas lapangan thorax lapangan thorax
DINAMIS
yang tertingga yang tertingga

PALPASI PARU DEPAN PARU


BELAKANG AUSKULTASI PARU DEPAN PARU
BELAKANG
Simetris (+/+), Simetris (+/+),
Nyeri tekan (-/-), Nyeri tekan (-/-), Ronchi Ronchi
taktil taktil
fremitus simetris fremitus simetris
meningkat meningkat
COR
Inspeksi

ictus cordis tidak tampak

Palpasi

ictus cordis teraba pada ICS IV 1-2 cm ke arah medial linea midclavikula sinistra,

Perkusi :

Batas atas jantung : ICS II parasternalis sinistra


Batas pinggang jantung : ICS III parasternalis sinistra
Batas kanan bawah jantung : ICS V sternalis dextr
Batas kiri bawah jantung : ICS IV 1-2 cm ke arah medial midclavicula kiri

Auskultasi :

Suara jantung murni: SI, SII (normal) reguler


Suara jantung tambahan bising diastolik (+)
Abdomen :
Inspeksi : datar/sejajar dinding dada, venektasi (-), massa (-),
Palpasi : supel, nyeri Hipogastrium (+), hepar dan lien tdk
teraba, turgor baik, massa (-), asites (-)

Perkusi : timpani seluruh lapangan perut

Auskultasi : peristaltik (+) normal

Ekstremitas : palmar eritem (-), odem (-), akral dingin (-)


RECTAL TOUCHER

- TSA (Tonus Sfingter Ani) baik


- Ampulla tidak collapse
-Protat
-Benjolan pada arah jam 12 dengan
pembesaran dari arah jam 1 dan jam 11,
permukaan licin, konsistensi kenyal , lobus
kanan kiri simetris
-Sarung tangan
- Darah _
- Feses +
- Lendir -
WORKING DIAGNOSIS
Retensi Urin et causa
Suspek BENIGNA HIPERPLASIA PROSTAT
DD
Cystitis dan Ca Prostat

Pemeriksaan Laboratorium
SARAN

Darah rutin
Pemeriksaan Urin rutin
Fungsi Ginjal
Tumor marker PSA ( prostate spesific antigen )
USG Abdomen
LABORATORIUM
Gula darah sewaktu : 150 mg/dl (
70-160)
Pemeriksaan Penanda Tumor
Asam Urat : 3.6 mg/dl ( 2.0-7.0 ) PSA : 3.90 ( <4.0 )
Kolesterol total : 134 mg/dl ( <220 )
Trigliserid : 83 mg/dl (70-140)

PENCITRAAN
USG Abdomen :
Ro. Thorax :
Kesan :
Kesan :
- Vesicolytiasis
-Cor : Cardiomegali
- Pembesaran Kelenjar Prostat
-pulmo : Gbr. Bronchitis , Efusi pleura Dx minimal
- Cystitis Chronic
DIAGNOSIS UTAMA

RETENSI URINE ET CAUSA BENIGNA HIPERPLASIA


PROSTAT KOMPLIKASI CYSTITIS DAN VESYCOLITIASIS
DENGAN RIWAYAT CHF
PEMBAHASAN

H I P E R P L A S I A P R O S TAT
D Penyakit pembesaran
prostat yang menyebabkan
E obstruksi leher kandung
kemih, menghambt
pengosongan kandung
F kemih dan menyebabkan
gangguan perkemihan.
I
N
I
S
I
E

Teori dihidrotestorsteron (DHT)
Teori Hormon
Tidak diketahui
Faktor interaksi stroma dan sel epitel
T penyebabnya
Teori berkurangnya apoptosis
Teori stem sel
I Prevalensi
Penambahan Usia < 50 tahun 20% (Asymptomatik)
O Usia Usia 50 tahun 50 %
Usia 80 tahun 80%
L
O
G
I
TEORI HORMON
( Ketidakseimbangan
Testosteron dan estrogen )
Kadar testosteron sedangkan kadar estrogen
relative tetap sehingga terjadi perbandingan
antara kadar estrogen dan testosterone
relative meningkat. Hormon estrogen
didalam prostat memiliki peranan dalam
terjadinya :
- Poliferasi sel-sel kelenjar prostat dengan
cara meningkatkan jumlah reseptor
androgen,
- Menurunkan jumlah kematian sel-sel
prostat (apoptosis)
TEORI DHT

pada BPH, aktivitas enzim


5alfa reduktase dan
jumlah reseptor androgen
Dehidrotestosteron/ DHT lebih banyak pada BPH.
adalah metabolit androgen Hal ini menyebabkan sel-
yang sangat penting pada sel prostat pada BPH lebih
pertumbuhan sel-sel sensitive terhadap DHT
kelenjar prostat. sehingga replikasi sel lebih
banyak terjadi
dibandingkan dengan
prostat normal.

DHT Inskripsi RNA


sintesis protein
stimulus pertumbuhan sel
HIPERPLASIA PROSTAT

Penyempitan Lumen Uretra posterior

Peningkatan Tekanan Intravesikal

GINJAL dan URETER


BULI BULI
- Refleks vesiko ureter
- Hipertrofi otot detrusor
- Hidroureter
- Trabekulasi
- Hidronefrosis
- Selula
- Pionefrosis
- Divertikel buli buli
- Gagal ginjal
D
I
A
G
N
PEMERIKSAAN PEMERIKSAAN
ANAMNESIS LABORATORIUM PENCITRAAN
O FISIK LAIN

S
I
S
Gejala pada saluran kemih bagian bawah
M
A Retensi urin
(urin tertahan
dikandung
N kemih sehingga
urin tidak bisa Frekuensi,
K keluar), nokturia, urgensi
(perasaan ingin
I miksi yang sangat
L hesitansi (sulit mendesak)

F memulai miksi)

I Gejala
E
N Gejala Iritasi
S Obstruksi
I disuria (nyeri
T miksi tidak puas
pada saat miksi).
K (menetes setelah
pancaran miksi
lemah,
A miksi)

S Intermiten
(kencing
I terputus-putus),
DERAJAT LUTS
Derajat 1 ( Ringan ) : skor 0 7
Derajat 2 ( Sedang ) : skor 8 19
Derajat 3 ( Berat ) : skor 20 - 35
M Gejala Pada Saluran Kemih Atas
A
N
K
I
L
F
I Benjolan
E Nyeri
N Demam di
S pinggang
I pinggang
T
K
A
S
I
Gejala di Luar Saluran Kemih M
A
N
Pasien datang diawali dengan keluhan penyakit hernia K
inguinalis atau hemoroid. Timbulnya penyakit ini dikarenakan I
L
sering mengejan pada saan miksi sehingga mengakibatkan tekanan F
intraabdominal. Adapun gejala dan tanda lain yang tampak pada I
E
pasien BPH, pada pemeriksaan prostat didapati membesar, N
kemerahan, dan tidak nyeri tekan, keletihan, anoreksia, mual dan S
I
muntah, rasa tidak nyaman pada epigastrik, dan gagal ginjal dapat T
K
terjadi dengan retensi kronis dan volume residual yang besar. A
S
I
Pemeriksaan Fisik
Colok dubur atau digital rectal examina-tion (DRE) merupakan
pemeriksaan yang penting pada pasien BPH, disamping pemerik-saan fisik pada
regio suprapubik untuk mencari kemungkinan adanya distensi buli-buli. Dari
pemeriksaan colok dubur ini dapat diperkirakan adanya pembesaran prostat,
konsistensi prostat, dan adanya nodul yang merupakan salah satu tanda dari
keganasan prostat. Mengukur volume prostat dengan DRE cenderung
underestimate daripada pengukuran dengan metode lain, sehingga jika prostat
teraba besar, hampir pasti bahwa ukuran sebenarnya memang besar. Kecurigaan
suatu keganasan pada pemeriksaan colok dubur, ternyata hanya 26-34% yang
positif kanker prostat pada pemeriksaan biopsi. Sensitifitas pemeriksaan ini
dalam menentukan adanya karsinoma prostat sebesar 33%
Laboratorium

Pemeriksaan
Tes Fungsi PSA ( Prostat
Urinalisis
Ginjal Spesific
Antigen)
PENCITRAAN
Pencitraan traktus urinarius pada BPH meliputi pemeriksaan terhadap traktus urinarius bagian atas maupun bawah
dan pemeriksaan prostat. Pemeriksaan pencitraan terhadap pasien BPH dengan memakai IVP atau USG, ternyata
bahwa 70-75% tidak menunjukkan adanya kelainan pada saluran kemih bagian atas; sedangkan yang menunjukkan
kelainan, hanya sebagian kecil saja (10%) yang membutuhkan penanganan berbeda dari yang lain9 . Oleh karena itu
pencitraan saluran kemih bagian atas tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan pada BPH, kecuali jika pada
pemeriksaan awal diketemukan adanya:
(a) hematuria,
(b) infeksi saluran kemih,
(c) insufisiensi renal (dengan melakukan pemeriksaan USG),
(d) riwayat urolitiasis, dan
(e) riwayat pernah menjalani pembedahan pada saluran urogenitalia

Pemeriksaan sistografi maupun uretrografi retrograd guna memperkirakan besarnya prostat atau mencari kelainan
pada buli-buli saat ini tidak direkomendasikan. Namun pemeriksaan itu masih berguna jika dicurigai adanya
striktura uretra.
Pemeriksaan USG prostat bertujuan untuk
menilai bentuk, besar prostat, dan mencari
kemungkinan adanya karsinoma prostat.
Pemeriksaan ultrasonografi prostat tidak
direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin,
kecuali hendak menjalani terapi:
(a) inhibitor 5- reduktase,
(b) termoterapi,
(c) pemasangan stent,
(d) TUIP atau
(e) prostatektomi terbuka.

Menilai bentuk dan ukuran kelenjar prostat


dapat dilakukan melalui pemeriksaan
transabdominal (TAUS) ataupun transrektal
(TRUS). Jika terdapat peningkatan kadar PSA,
pemeriksaan USG melalui transrektal (TRUS)
sangat dibutuhkan guna menilai kemungkinan
adanya karsinoma prostat.
PEMERIKSAAN LAIN

Jumlah sisa urin setelah miksi,


dengan cara melakukan Residual
kateterisasi/USG setelah miksi urine

Pancaran Dengan menghitung jumlah


Urine urine dibagi dengan lamanya

(flow miksi berlangsung (ml/detik)


atau dengan alat uroflometri
rate) yang menyajikan gambaran
grafik pancaran urin.
PENATALAKSANAAN

memperbaiki keluhan miksi,


meningkatkan kualitas
hidup,
mengurangi obstruksi
Tujuan intravesika,
mengembalikan fungsi ginjal
terapi jika terjadi gagal ginjal,
hyperplasia mengurangi volume residu
urine setelah miksi dan
prostat mencegah progrefitas
penyakit. Hal ini dapat
adalah dicegah dengan
medikamentosa,
pembedahan atau tindakan
endourologi yang kurang
invasif
Pilihan Terapi pada Hiperplasia Prostat Benigna

Observasi Medikamentosa Operasi Invasive


minimal
Watchful Penghambat Prostatektomi TUMT
waiting adrenergik terbuka TUBD
Penghambat Endourologi Stent uretra
reduktese TUNA
Fisioterapi 1. TURP
Hormonal 2. TUIP
3. TULP
Elektovaporasi
Penatalaksanaan
Benigna Prostat Hiperplasia
Penatalaksaan Berdasarkan
Nilai Indeks Gejala Benigna Prostat Hiperplasia

Penatalaksanaan Nilai indeks gejala BPH Efek samping


Wactfull waiting Gejala hilang/timbul Risiko kecil , dapat terjadi retensi urinaria

Penatalaksanaan medis
Alpha-blockers Sedang 6-8 Gaster/usus halus-11%
Hidung berair-11%
Sakit kepala-12%
Menggigil-15%
5 alpha-reductase inhibitors Ringan 3-4 Masalah ereksi-8%
Kehilangan hasrat sex-5%
Berkurangnya semen-4%
Terapi kombinasi Sedang 6-7 Kombinasi
Terapi invasi minimal
Transuretral microwave heat Sedang-berat 9-11 Urgensi/frekuensi-28-74%
Infeksi-9%
Prosedur kedua dibutuhkan-10-16%

TUNA Sedang 9 Urgensi/frekuensi-31%


Infeksi-17%
Prosedur kedua dibutuhkan-23%

Operasi
TURP, laser & operasi sejenis Berat 14-20 Retensi urinaria-1-21%
Urgensi&frekuensi-6-99%
Gangguan ereksi-3-13%
Operasi terbuka Berat Inkontinensia 6%
WATCHFUL WAITING
Pilihan tanpa terapi ini ditujukan untuk pasien BPH dengan
skor IPSS dibawah 7, yaitu keluhan ringan yang tidak mengganggu
aktivitas sehari-hari. Pasien tidak mendapat etrapi namun hanya
diberi penjelasan mengenai sesuatu hal yang mungkin dapat
memperburuk keluhannya, misalnya
(1) jangan mengkonsumsi kopi atau alcohol setelah makan malam,
(2) kurangi konsumsi makanan atau minuman yang mengiritasi
buli-buli (kopi/cokelat),
(3) batasi penggunaan obat-obat influenza yang mengandung
fenilpropanolamin,
(4)kurangi makanan pedasadan asin, dan
(5) jangan menahan kencing terlalu lama
MEDIKAMENTOSA
Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk :
(1) mengurangi resistansi otot polos prostat sebagai komponen dinamik
penyebab obstruksi infravesika dengan obat-obatan penghambat adrenergic
alfa (adrenergic alfa blocker ) dan
(2) mengurangi volume prostat sebagai komponen static dengan cara
menurunkan kadar hormone testosterone/dihidrotestosteron (DHT) melalui
penghambat 5-reduktase.
Penghambat reseptor adrenergik
Penghambat 5 reduktase
Fitofarmaka
Penghambat reseptor
adrenergik
Mengendurkan otot polos prostat dan
leher kandung kemih, yang membantu untuk
meringankan obstruksi kemih disebabkan oleh
pembesaran prostat di BPH.
Efek samping dapat termasuk sakit
kepala, kelelahan, atau ringan.
Umumnya digunakan alpha blocker BPH
termasuk tamsulosin (Flomax), alfuzosin
(Uroxatral), dan obat-obatan yang lebih tua
seperti terazosin (Hytrin) atau doxazosin
(Cardura). Obat-obatan ini akan meningkatkan
pancaran urin dan mengakibatkan perbaikan
gejala dalam beberapa minggu dan tidak
berpengaruh pada ukuran prostat.
Penghambat 5 reduktase
Obat ini bekerja dengan cara menghambat
pembentukan dihidrotestosteron (DHT) dari
testosterone yang dikatalisis oleh enzim 5
reduktase di dalam sel prostat. Menurunnya kadar
DHT menyebabkan sintesis protein dan replikasi sel- OH OH

sel prostat menurun. Pembesaran prostat di BPH 5 -reductase type 1 and 2

secara langsung tergantung pada DHT, sehingga O


NADPH NADP
O
H

obat ini menyebabkan pengurangan 25% perkiraan Testosterone Dihydrotestosterone

ukuran prostat lebih dari 6 sampai 12 bulan.


Gambar 15. Model Aksi Penghambat 5 reduktase
Contoh obat penghambat 5 reduktase Gambar . Model Aksi Penghambat 5 reduktase
berdasarkan tipenya :
Avodart (dutasteride) - pada tipe 1 dan 2 5ARI
Proscar(finasteride) - hanya pada tipe 2 5ARI
FITORARMAKA
Beberapa ekstrak tumbuh-tumbuhan tertentu dapat dipakai untuk
memperbaiki gejala akibat obstruksi parsial, tetapi data-data farmakologik
tentang kandungan zat aktif yang mendukung mekanisme kerja obat
fisioterapi sampai sata ini belum diketahui dengan pasti. Kemungkinan
fitofarmaka bekerja sebagai : antiestrogen, antiandrogen, menurunkan
kadar sex hormone binding globulin (SHBG), inhibisi basic fibroblast
growth factos (bFGF) dan epidermal growth factor (EGF), mengacaukan
metabolism prostaglandin, efek anti inflamasi, menuruknan outflow
resistance dan memperkecil volume prostat. Diantara fitofarmaka yang
banyak dipasarkan adalah: Pyegeum africanum, Serenoa repens, Hypoxis
rooperi, Radix urtica dan masih banyak lainnya
TERAPI INVASIVE MINIMAL

Microwave Transurethral
transurethral. jarum ablasi

Thermotherapy Intra-Prostatic
dengan air Stent
BEDAH
Open
Surgery

Operasi
transurethral

Operasi
Laser
Kontrol Berkala
Kontrol setelah 6 bulan, kemudian setiap tahun
Watchfull waiting
untuk mengetahui apakah terdapat perbaikan klinis
Dikontrol pada minggu ke-12 dan bulan ke-6
Pengobatan Pengobatan penghambat 5-adrenegik
penghambat 5- Setelah 6 minggu untuk menilai respon terhadap
reduktase terapi dengan melakukan pemeriksaan IPSS
uroflometri dan residu urin pasca miksi
Setelah 6 minggu, 3 bulan dan setiap tahun. Selain
Terapi invasive
dilakukan penilaian skor miksi, juga diperiksa kultur
minimal
urin
Paling lambat 6 minggu pasca operasi untuk
Pembedahan
mengetahui kemungkinan penyulit.
KOMPLIKASI

Infeksi
traktus Batu Buli Hidroureter Hidronefrosis
urinaria
KESIMPULAN
Anamnesis
Obstruksi
Iritasi
- sulit memulai BAK
- Kencing malam
- Pancaran BAK melemah hari
Usia 88 thn - Kencing terputus- putus - Perasaan
- BAK tidak puas mendesak untuk
- Menetes setelah miksi BAK
- Nyeri saat BAK

LOWER URINARY TRACK


FAKTOR RESIKO SKOR LUTS derajat Berat
SYMPTOM (LUTS)
Pemeriksaan Fisik

Benigna Prostat
Hiperplasia
Rectal Toucher RT
Benjolan pada arah jam 12 dengan Konsistensi kenyal
pembesaran dari arah jam 1 dan jam Lobus kanan kiri
11, permukaan licin, konsistensi
kenyal , lobus kanan kiri simetris simetris
Tidak benodul
Laboratorium
Teori
Curiga
keganasan
jika PSA > 4
PSA
( Prostat
Spesific
Antigen ) < 4
Penatalaksanaan Derajat LUTS Berat > 24

Pasang
DC Terapi
operatif
Urinter
2x1
DAFTAR PUSTAKA

https://www.auanet.org/common/pdf/education/clinical-guidance/Benign-Prostatic-
Hyperplasia.pdf

https://www.niddk.nih.gov/health-information/health-topics/urologic-disease/benign-
prostatic-hyperplasia-bph/Documents/ProstateEnlargement_508.pdf

http://www.iaui.or.id/ast/file/bph.pdf

Basuki. Dasar dasar urologi edisi ketiga.2011

Sjamsuhidayat, Jong WD.1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisis 4. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC