Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN KEDOKTERAN KELUARGA

SKABI ES DENGAN I NFEKSI SEKUNDER

Oleh :
Sani Solihatul Fitri
H1A012053

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
PUSKESMAS GUNUNGSARI
Outline
Identitas keluarga
Genogram
Masalah kesehatan keluarga
Denah rumah pasien
Foto rumah pasien
Determinan kesehatan
Apgar score
Evaluasi
Kesimpulan
Identitas keluarga
Genogram
Riwayat penyakit pasien
Keluhan utama: bintik-bintik kemerahan disertai nanah

Riwayat penyakit sekarang


Pasien datang ke balai pengobatan Puskesmas Gunungsari (Rabu, 11
Oktober 2017) dengan keluhan bintik-bintik kemerahan disertai nanah yang
terasa gatal di tangan, kaki serta badan pasien. Gatal terutama dirasakan
saat malam hari dan berkurang saat siang hari. Keluhan gatal dirasakan
terus menerus sejak 5 hari sebelum datang ke Puskesmas Gunungsari.
Pasien merasa sangat terganggu dengan gatal tersebut. Pasien juga
merasa malu akibat bintik kemerahan dan gatal sering diejek oleh
temannya. Pasien menyangkal adanya demam, lemas, mual-muntah,
penurunan nafsu makan, ataupun nyeri perut .
Riwayat penyakit dahulu
Pasien pernah mengalami keluhan serupa pada bulan agustus 2017. Pasien
mengatakan tidak ada riwayat penyakit lain seperti asma, diare ataupun demam yang
berkepanjangan sebelumnya.

Riwayat penyakit keluarga


Keluarga pasien ada yang menderita penyakit yang serupa saat ini, yaitu adik pasien.
Seluruh anggota keluarga yang terdiri dari 4 orang tinggal bersama dalam satu
rumah. Pasien tidur bersama adiknya dalam satu kasur. Untuk riwayat penyakit
lainnya, di keluarga tidak ada yang menderita penyakit hipertensi, diabetes melitus
maupun asma. Namun ayah pasien sering mengeluh nyeri ulu hati berulang dan ibu
pasien sedang mengalami flu saat kunjungan pertama.
Riwayat pengobatan
Pasien pernah mengobati keluhan serupa sebelumnya pada bulan
agustus dan diberikan salep dan obat minum.

Riwayat alergi
Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat alergi terhadap makanan
ataupun obat obatan tertentu.
Pemeriksaan status dermatologis
Tampak multiple vesikel serta pustul di
area tangan, kaki dan badan pasien.
Tampak gambaran terowongan di bawah
kulit antara dua vesikel
KONDISI FAKTOR RESIKO LINGKUNGAN,
SOSIAL, EKONOMI, DAN BUDAYA KELUARGA
Keadaan lingkungan
Keluarga An. M tinggal di Desa Kekait, Gunungsari, Lombok Barat. Tempat
tinggalnya tersebut merupakan tempat tinggal sendiri. Luas rumah kira-kira
45 m2, dimana panjangnya 7,5 m dan lebarnya 6 m, dan menghadap ke
Utara. Rumah An. M berlantai keramik, beratap genteng dan terdiri dari 2
kamar tidur dan 1 ruang tamu, 1 dapur, 1 ruang keluarga, 1 kamar mandi
dan jamban. Letak pembuangan sampah di samping rumah.
Rumah An.M mempunyai halaman 2x1 meter. Sebelah timur dan barat
rumah An. M adalah rumah tetangga yang temboknya hanya berjarak 1
meter dengan rumah An. M. Di selatan rumah An. M terdapat jalan lorong
kecil yang menjadi jalan kecil yang menghubungkan dengan rumah
tetangga di belakang rumah An. M.
Dinding rumah An. M terbuat dari batu bata ada yang diplester dan di cat. Rumah
tersebut memiliki 8 buah jendela, 2 diruang keluarga, 2 di ruang tamu, dan masing-
masing 2 lagi di kamar tidur, namun jendela tersebut jarang dibuka.
An. M tidur bersama dengan adiknya beralas dengan kasur. Ayah An. M dan ibu
tidur di kamar yang satunya dengan beralas kasur. Akses masuk ke dalam rumah
melalui 1 pintu depan dan 1 melalui pintu di belakang rumah.
Kondisi pencahayaan di dalam rumah An. M cukup melalui pintu belakang, namun di
dalam kamar agak gelap pada siang hari karena sinar matahari lebih banyak
terhalang oleh bangunan dan jendela pun sering tertutup. Di rumah An. M tidak ada
tempat khusus untuk menyimpan barang bekas, dan biasanya barang barang
ditempatkan di depan rumah dan samping rumah.
Denah rumah pasien

U
Foto rumah pasien
Sosial Ekonomi
An. M adalah anak pertama dari keluarga Tn. M dan Ny. H. An. M lebih sering
menghabiskan waktu bersama ayah, ibu dan adiknya. An. M sering berkumpul
bersama anggota keluarga yang lain di ruang keluarga untuk menonton TV,
bermain, atau sekedar beristirahat bersama. Tn. M merupakan tulang punggung
keluarga dan bekerja sebagai guru honorer dan bertani serta berkebun. Rerata
penghasilan orang tua adalah Rp.1.500.000-2.000.000 perbulan.
Budaya
Budaya dan adat istiadat setempat masih mengikuti daerah-daerah di
Lombok pada umumnya. Tn. M dan Ny. H mengatakan bahwa di
lingkungan tempat tinggal mereka masih terdapat beberapa budaya yang
dianut oleh masyarakat sekitar kepercayaan bahwa bila anak-anak sakit
maka akan di tangani terlebih dahulu dengan memakai bahan-bahan alami
di rumah. Bila penyakitnya tambah berat baru anak di bawa berobat ke
mantri atau ke puskesmas.
IDENTIFIKASI MASALAH KESEHATAN
KELUARGA
Rencana Upaya Intervensi yang Akan Dilakukan
APGAR
Skor
Kategori Keterangan
0 1 2
Adaptation X Seluruh anggota keluarga dapat beradaptasi dengan anggota keluarga lain,
serta penerimaan, dukungan dan saran dari anggota keluarga lain

Partnership X Seluruh anggota keluarga menjalin komunikasi yang baik, saling mengisi
antara anggota keluarga dalam segala masalah yang dialami keluarga

Growth X Anggota keluarga jarang melakukan hal-hal baru sehingga jarang memberi
dukungan mengenai hal-hal baru

Affection X Hubungan kasih sayang dan interaksi antar anggota terjalin dengan baik

Resolve X Anggota keluarga kadang-kadang puas mengenai kebersamaan dan waktu


yang dihabiskan antar anggota
Diagnosis Holistik
Aspek Personal (aksis 1)
Pasien datang ke balai pengobatan Puskesmas Gunungsari (Rabu, 11 Oktober 2017)
dengan keluhan gatal di seluruh tubuh sejak 5 hari yang lalu. Pasien mengeluh gatal
terutama di sela-sela jari tangan dan kaki dan semakin memberat pada malam hari
dan ketika pasien bersekolah.
Aspek Klinik (aksis 2)
Scabies dengan infeksi sekunder dengan diagnosis banding impetigo bulosa
Aspek Resiko Internal/ perilaku individu atau gaya hidup (aksis 3)
faktor kebersihan diri yang kurang baik ( jarang mandi dan mengganti
pakaian) sangat mempermudah pasien terkena penyakit ini.
Aspek risiko eksternal/ aspek biopsikososial & lingkungan (aksis 4)
Teman sebangku pasien memiliki keluhan yang sama dengan pasien,
pasien kadang bermain dengan tetangga yang memiliki keluhan yang sama
dengan pasien.
Kurangnya pengetahuan keluarga mengenai penyakit scabies, mulai dari
penyebab, cara penularan serta cara pencegahannya.
Rumah yang pengap dikarenakan ventilasi dan pencahayaan yang kurang.
Skala fungsional (aksis 5)
Skala fungsional pasien yaitu kelas V karena pasien dapat melakukan
kegiatan dengan baik sehari-hari
Penatalaksanaan holistik dan
komprehensif
Kedatangan pertama Kegiatan:
(Jumat, 13 Okt 2017) -Pada kedatangan pertama ini, dilakukan penelaahan masalah kesehatan dari setiap anggota keluarga.
-Menelaah lingkungan rumah dan perilaku dari pasien dan setiap anggota keluarga
-mengevaluasi apakah terdapat perbaikan gejala klinis dari pasien sepulang dari puskesmas
Hasil :
-Keluhan utama pasien gatal di seluruh tubuh terutama di malam hari. Keluhan tersebut masih dirasakan, adik pasien juga masih
mengeluhkan hal yang serupa, namun keluhan ini sudah berkurang.
-Pasien menggunakan salep permetrine 5%, salep antibiotik oksitetrsiklin 3% dan antihistamin cetirizin yang diperoleh dari puskesmas.
-Adik pasien memiliki keluhan yang serupa dengan pasien
-Ayah pasien memiliki gastritis kronis
-Mengenai PHBS keluarga pasien:
-Keluarga dan pasien menggunakan handuk secara bergantian
-Tidak ada tempat pembuangan sampah sendiri dan keluarga membuang sampah yang berjarak 15 meter dari rumahnya (yang merupakan
tempat pembuangan sampah masyarakat sekitar)
-Luas rumah pasien 7x6,5 m, dengan dihuni 4 orang anggota keluarga
-Keluarga dan pasien belum mengetahui mengenai penyakit scabies sepenuhnya, penyebabnya, bagaimana penularan dan pencegahannya,
serta terapinya yang benar.
Intervensi :
-Memberikan penyuluhan langsung terkait penyakit yang dialami pasien, penyebabnya,menjelaskan penggunaan salep permetrine 5%,
bagaimana penularan dan pencegahannya, selain itu menjelaskan bahwa penyakit pasien ini bisa menular ke orang lain terutama yang
sering kontak dengan pasien
-Menjelaskan cara pengobatan yang tepat, penggunaan obat, cara mencuci pakaian, handuk, sarung bantal, sarung guling dan seprai.
Menjemur kasur, bantal dan guling.
-Menjelaskan tentang PHBS yang baik, seperti rajin mandi 2 kali sehari, mengganti pakaian, memotong kuku, mencuci tangan sebelum
makan dan sesudah BAB
-Menjaga selalu kebersihan makanan
-Menjelaskan pentingnya cuci tangan pakai sabun dan mengajarkan bagaimana cuci tangan yang baik dan benar
Kedatangan Kedua Kegiatan :
(Kamis, 19 Okt Mengevaluasi kondisi klinis pasien
2017) Evaluasi kondisi kesehatan anggota keluarga yang lain
Evaluasi dari intervensi sebelumnya
Hasil :
- salep permetrine 5% telah digunakan sesuai petunjuk yang sudah diajarkan.
- Saat kunjungan kedua, kondisi klinis pasien membaik, gatal di seluruh tubuh sudah tidak dialami
- Kondisi adik juga sudah membaik, gatal-gatal sudah tidak dialami, namun luka bekas garukan masih.
- Pasien dan keluarga sudah mengerti mengenai penyakit scabies dan juga bisa memberi informasimengenai
penyakit tersebut kepada tetangga sekitar
- Evaluasi PHBS :
Keluarga pasien sudah mulai menjaga kebersihan diri dengan rajin mandi, mengganti pakaian, dan memotong
kuku
Ibu pasien sudah menjemur kasur setiap siang di bawah sinar matahari
Ibu pasien mencuci baju setiap 2 hari sekali namun belum menggunakan air hangat
Pasien dan keluarga sudah menggunakan handuk masing-masing
Kondisi kamar masih gelap dan kurang pencahayaan
Ibu pasien mengatakanmulai membiasakan mencuci tangan sebelum masak
Mencuci tangan pakai sabun belum sepenuhnya dilakukan, terkadang masih tidak menggunakan sabun setelah
buang air besar
Ayah pasien menghentikan kebiasaan nya yang tidak sarapan, mengurangi konsumsi kopi dan makanan pedas.
Intervensi:
Melakukan edukasi mengenai :
- Edukasi kepada keluarga tentang PHBS untuk tetap dibiasakan dan lebih ditingkatkan, terutama kebersihan diri
- Memicu keluarga untuk membuat tempat pembuangan air limbah rumah tangga di belakang rumah pasien
Kedatangan ketiga Evaluasi Kondisi pasien dan keluarga:
(Rabu, 25 Okt Saat kunjungan ketiga, keluhan gatal-gatal di seluruh tubuh sudah tidak di alami.
2017) PHBS walapun belum maksimal dilakukan, namun pasien sudah muai mencoba perlahan-lahan
Evaluasi PHBS :
- Keluarga pasien sudah memiliki handuk masing-masing sehingga tidak bergantian
- Kebersihan rumah tetap dijaga oleh keluarga
- Ventilasi di kamar sudah dibuka dan pada siang hari pintu kamar selalu dibuka agar cahaya dapat masuk
- Mulai membiasakan mencuci tangan pakai sabun.
Kesimpulan
Faktor pendukung terselesaikannya masalah kesehatan pasien
Faktor internal
Pasien terbuka terhadap edukasi dan motivasi yang diberikan Pembina dan
mencoba untuk mengikuti nasehat yang diberikan pembina
Kesadaran pasien akan pentingnya kesehatan dan ada niat untuk berubah ke
arah hidup yang lebih sehat dengan mulai meningkatkan PHBS
Faktor eksternal
Dukungan dan perhatian keluarga terhadap kesehatan pasien dan setiap
anggota keluarga
Kepala keluarga dalam hal ini Tn.M merasa memiliki tanggung jawab untuk
menjamin kesehatan dalam keluarganya sekaligus sebagai pengambil
keputusan untuk membawa keluarganya yang sakit segera berobat
Faktor penghambat terselesaikannya masalah pasien
Pembuangan sampah cukup jauh dari rumah sehingga kadang sampah tetap dibiarkan di
belakang rumah jika anggota keluarga sibuk atau tidak bisa keluar rumah karena hujan
Kebiasaan tidak mencuci tangan memakai sabun belum dilakukan dengan baik sebelum
makan maupun sesudah buang air besar.

Rencana penatalaksanaan pasien selanjutnya


Edukasi kepada pasien dan keluarga untuk mulai menerapkan PHBS khusunya di rumah
tangga, dan dilakukan secara perlahan-lahan namun berkelanjutan.
Mengajak keluarga pasien untuk terus bergaya hidup sehat dengan memperhatikan
kebersihan diri dan lingkungan.

TERIMA KASIH