Anda di halaman 1dari 45

SKENARIO I I

BLOK CARDIORESPI

Arina Muti Amaliah


1518011043
Fakultas Kedokteran-UniversitasLampung
Learning Object
Mengapa pasien TB Bagaimana tatalaksana
berkeringat malam hari farmako non farmako
1 ? 4 pada TB?

Anemia Penyakit Kronis Jelaskan komlikasi TB !


2 5

Jelaskan klasifikasi TB !
Jelaskan MDR TB !
3 6
Mengapa pasien TB berkeringat malam hari ?

berkeringat pada malam hari yang diakibatkan oleh irama


temperatur sirkadian normal yang berlebihan.

Suhu tubuh normal manusia memiliki irama sirkadian di mana


paling rendah pada pagi hari sebelum fajar yaitu 36.1C dan
meningkat menjadi 37.4 C atau lebih tinggi pada sore hari sekitar
pukul 18.00

sehingga kejadian demam/ keringat malam mungkin dihubungkan


dengan irama sirkadian ini. Variasi antara suhu tubuh terendah dan
tertinggi dari setiap orang berbeda-beda tetapi konsisten pada
setiap orang. Belum diketahui dengan jelas mengapa tuberkulosis
menyebabkan demam pada malam hari.
keringat malam pada pasien tuberkulosis aktif terjadi sebagai
respon salah satu molekul sinyal peptida yaitu tumour necrosis
factor alpha (TNF-) yang dikeluarkan oleh sel-sel sistem imun di
mana mereka bereaksi terhadap bakteri infeksius (M.tuberculosis).

Monosit merupakan sumber TNF- akan meninggalkan aliran


darah menuju kumpulan kuman M.tuberculosis dan menjadi
makrofag migrasi.
Walaupun makrofag ini tidak dapat mengeradikasi bakteri secara
keseluruhan, tetapi pada orang imunokompeten makrofag dan sel-
sel sitokin lainnya akan mengelilingi kompleks bakteri tersebut
untuk mencegah penyebaran bakteri lebih lanjut ke jaringan
sekitarnya. TNF- yang dikeluarkan secara berlebihan sebagai
respon imun ini akan menyebabkan demam, keringat malam,
nekrosis, dan penurunan berat badan di mana semua ini
merupakan karakteristik dari tuberkulosis
Demam timbul sebagai akibat respon sinyal kimia yang bersirkulasi
yang menyebabkan hipotalamus mengatur ulang suhu tubuh ke
temperatur yang lebih tinggi untuk sesaat. Selanjutnya suhu tubuh
akan kembali normal dan panas yang berlebihan akan dikeluarkan
melalui keringat.

fase demam

Pertama fase inisiasi di mana vasokonstriksi kutaneus akan


menyebabkan retensi panas dan menggigil untuk menghasilkan panas
tambahan.
Ketika set point baru tercapai maka menggigil akan berhenti.
Dengan menurunnya set point menjadi normal, vasodilatasi kutaneus
menyebabkan hilangnya panas ke lingkungan dalam bentuk
berkeringat
Anemia Penyakit Kronis
Anemia penyakit kronik adalah anemia normokrom atau
hipokrom ringan yang terdapat pada pasien dengan penyakit
sistemik seperti infeksi kronik, inflamasi kronik, keganasan,
atau penyakit lain (PJK, PJI,atau AIDS)
Bukan karena perdarahan, hemolisis, atau pergantian
sumsum tulang oleh sel tumor
Ditandai dengan:
Penurunan SI
Penurunan TIBC
Kadar feritin normal atau meningkat
Anemia pada insufisiensi ginjal, penyakit hati, atau
endokrinopati bukan anemia penyakit kronik
PENYAKIT YANG BERHUBUNGAN DENGAN
ANEMIA KARENA PENYAKIT MENAHUN

Infeksi kronik
Especially osteomyelitis, bacterial endocarditis,
tuberculosis, abscess, bronchiectasis, chronic
urinarytract infections.
Kelainan inflamasi kronik yang lain:
Rheumatoid artritis, juvenille rheumatoid artritis,
polymyalgia rheumatica, SLE, scleroderma, IBD,
thromboplebitis
Keganasan:
Carcinoma, lymphoma, myeloma
Lain2
Congestive heart failure, ischemic heart disease, AIDS
PATOGENESIS ACD
Mikroorganisme, sel ganas, gangguan autoimun

Mekanisme efektor imun Lipopolisakarida

Aktivasi monosit, sel T CD 3 Hati

Pengeluaran sitokin

Hati (B) Makrofag (C) Ginjal (D) Sumsum tulang (E)


(B) Hati
Monosit Sel T CD 3

Lipopolisakarida
TNF IL-1 IL-6 IL-10 IFN

ekspresi hepsidin di hati

Hambat absorbsi Fe di duodenum Hambat ferroportin 1

pengeluaran Fe dari makrofag


(C) Makrofag
IFN ekspresi DMT 1 pd makrofag & menstimulasi ambilan
Fe2+

ekspresi feroportin 1 pengeluaran Fe dari makrofag

Merangsang aktivasi makrofag utk fagositosis & degradasi


TNF
eritrosit utk daur ulang Fe.

IL-1, IL-6, IL-10 Merangsang ekspresi ferritin & cadangan Fe dlm


makrofag.

IL-10 ekspresi reseptor transferin & ambilan ikatan transferin dgn


Fe msk ke monosit.

Di makrofag tjd penumpukan Fe SI


(D) Ginjal

IFN , TNF , IL-1

Hambatan produksi EPO di ginjal

Hambatan eritropoiesis di sumsum tulang


(E) Sumsum tulang

TNF , IFN , IL-1

Hambatan eritropoiesis

Hambat proliferasi & diferensiasi sel progenitor eritroid


Jelaskan MDR TB !
RESISTEN GANDA (Multi Drug Resistance/ MDR)
Definisi
Resistensi ganda menunjukkan M.tuberculosis resisten
terhadap rifampisin dan INH dengan atau tanpa OAT lainnya

Secara umum resistensi terhadap obat tuberkulosis dibagi


menjadi :
apabila penderita apabila kita tidak apabila penderita telah
sebelumnya tidak tahu pasti apakah punya riwayat
pernah mendapat penderitanya sudah pengobatan
pengobatan TB pernah ada riwayat sebelumnya.
pengobatan
sebelumnya atau tidak

Resistensi Resistensi Resistensi


primer inisial sekunder
Etiologi

Faktor Konsumsi satu jenis obat basil mengalami mutasi gen


Konsumsi obat kombinasi tetapi hanya satu yang sensitif terhadap
mikrobiologi kuman basil.

Pengobatan tidak adekuat (ex: hanya dimakan 2-3 mgg lalu


berhenti)
Faktor klinik Pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan yang tidak
adekuat (ex: penyediaan obat TB kosong sampai berbulan-bulan)
serta tidak berdasarkan panduan

Faktor Kurang motivasi


Merasa bosan mengonsumsi obat dalam waktu yang lama
ketidakpatuhan Kurangnya informasi mengenai TB

pasien Rendahnya pengawasan minum obat


beberapa Pemakaian obat tunggal dalam pengobatan tuberkulosis
penyebab
terjadinya Penggunaan paduan obat yang tidak adekuat, baik karena jenis
resitensi
obatnya yang tidak tepat misalnya hanya memberikan INH dan
terhadap
etambutol pada awal pengobatan, maupun karena di
obat
tuberkulo lingkungan tersebut telah terdapat resistensi yang tinggi
sis, yaitu : terhadap obat yang digunakan, misalnya memberikan
rifampisin dan INH saja pada daerah dengan resistensi terhadap
kedua obat tersebut sudah cukup tinggi

Pemberian obat yang tidak teratur, misalnya hanya dimakan dua


atau tiga minggu lalu stop, setelah dua bulan berhenti
kemudian berpindah dokter dan mendapat obat kembali
selama dua atau tiga bulan lalu stop lagi, demikian seterusnya
Fenomena addition syndrome (Crofton, 1987), yaitu suatu
obat ditambahkan dalam suatu paduan pengobatan yang tidak
berhasil. Bila kegagalan itu terjadi karena kuman TB telah
resisten pada paduan yang pertama, maka penambahan
(addition) satu macam obat hanya akan menambah panjang nya
daftar obat yang resisten
beberapa Penggunaan obat kombinasi yang pencampurannya
penyebab tidak dilakukan secara baik, sehingga mengganggu
terjadinya bioavailabiliti obat
resitensi
terhadap
Penyediaan obat yang tidak reguler, kadang obat datang ke
obat
tuberkulo suatu daerah kadang terhenti pengirimannya sampai berbulan-
sis, yaitu : bulan

Pemakaian obat antituberkulosis cukup lama, sehingga


kadang menimbulkan kebosanan

Pengetahuan penderita kurang tentang penyakit TB

Belum menggunakan strategi DOTS

Kasus MDR-TB rujuk ke ahli paru


Ti
Koloni M.tubeculosi

Mutasi alamiah

Mutan resisten
Strain resisten akibat terapi
yang tidak adekuat

Resisten obat TB sekunder


(multiple)
Transmisi secara droplet

Resisten obat TB primer Infeksi HIV


(multiple) Kontrol infeksi
Transmisi yang lebih
yang tidak adekuat
jauh
Diagnostik yang
terlambat
Resisten obat TB primer yang
lebih banyak (multiple)

Tiga tahap perkembangan dan penyebaran MDR TB


Terdapat lima jenis kategori resistensi terhadap OAT, yaitu :

Mono- Poly-resistance Multidrug- Extensive drug- Total Drug


resistance resistance resistance Resistance
(MDR) (XDR) (TDR)
kekebalan kekebalan kekebalan TB MDR resisten baik
terhadap salah terhadap lebih terhadap ditambah dengan lini
satu OAT. dari satu OAT, sekurang- kekebalan pertama
selain kurangnya terhadap salah maupun lini
kombinasi isoniazid dan satu obat kedua. Pada
isoniazid dan rifampisin. golongan kondisi ini tidak
rifampisin. fluorokuinolon, ada lagi obat
dan sedikitnya yang bisa
salah satu dari dipakai.
OAT injeksi lini
kedua
(kapreomisin,
kanamisin, dan
amikasin)
Kriteria Suspek MDR:
1. Gagal Kategori 2
2. Tidak konversi pada kategori 2
3. Pasien dgn riwayat OAT non standar serta menggunakan
quinolon dan injeksi lini 2 lebih dari 1 bulan
4. Pasien yang gagal kategori 1
5. Pasien yang tidak konversi pada kategori 1
6. Pasien dengan TB Kambuh (kat 1 dan 2)
7. Pasien yang kembali setelah DO
8. Suspek TB yang kontak erat dengan pasien MDR ( baik
keluarga maupun petugas)
9. Koinfeksi TB-HIV yg tidak respons dengan pengobatan
Alur diagnosis TB resisten obat
Strategi Pengobatan TB MDR/XDR: WHO
Tiga pendekatan pengobatan:
Paduan obat standar
Paduan empirik
Paduan yang disesuaikan masing-masing pasien
(Ideal, tapi tergantung sumber daya sarana)

Pilihan seharusnya berdasarkan:


Kesediaan OAT lini kedua (second-line)
Pola resistensi setempat dan riwayat penggunaan OAT lini kedua
Uji sensitivitas obat lini pertama dan kedua
Merancang Pengobatan TB MDR/XDR

Prinsip Umum (WHO)


Penggunaan paling tidak 4 obat-obatan sangat mungkin akan
efektif.
Jangan menggunakan obat yang ada resistensi silang (cross-
resistance).
Singkirkan obat yg tidak aman untuk pasien.
Gunakan obat dari grup 1-5 dgn urutan yg berdasarkan
kekuatannya.
Harus siap mencegah, memantau dan menanggulangkan efek
samping dari obat yg dipilih.
Merancang Pengobatan TB MDR/XDR

Prinsip Umum (WHO)


Penggunaan paling tidak 4 obat-obatan sangat mungkin akan
efektif.
Jangan menggunakan obat yang ada resistensi silang (cross-
resistance).
Singkirkan obat yg tidak aman untuk pasien.
Gunakan obat dari grup 1-5 dgn urutan yg berdasarkan
kekuatannya.
Harus siap mencegah, memantau dan menanggulangkan efek
samping dari obat yg dipilih.
Cara Pemberian Obat
Pada tahap awal dengan suntikan diberikan 5 kali seminggu baik selama rawat
inap maupun rawat jalan. Dan untuk obat oral diminum/ditelan setiap hari di
depan petugas kesehatan. Untuk tahap lanjutan obat oral diberikan maksimum
1 minggu dan diminum di depan PMO (Petugas Kesehatan).
Bagaimana tatalaksana farmako non farmako pada TB?

a. Pada tahap awal pasien a. Pada tahap lanjutan pasien


rifampisin, isoniazid, pirazinamid dan etambutol.
1. Tahap awal menggunakan paduan obat

2. Tahap lanjutan menggunakan paduan obat


rifampisin dan isoniazid
mendapat pasien yang terdiri mendapat 2 jenis obat
dari 4 jenis obat (rifampisin, (rifampisin dan isoniazid),
isoniazid, pirazinamid dan namun dalam jangka waktu yg
etambutol), diminum setiap hari lebih lama (minimal 4 bulan).
dan diawasi secara langsung b. Obat dapat diminum secara
untuk menjamin kepatuhan intermitten yaitu 3x/minggu
minum obat dan mencegah (obat program)
terjadinya kekebalan obat.
atau tiap hari (obat non
b. Bila pengobatan tahap awal program).
diberikan secara adekuat, daya
penularan menurun dalam kurun c. Tahap lanjutan penting
waktu 2 minggu. untuk membunuh kuman
persisten sehingga mencegah
c. Pasien TB paru BTA terjadinya kekambuhan.
positif sebagian besar menjadi
BTA negatif (konversi) setelah
menyelesaikan pengobatan
Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap awal dan lanjutan

Tahap awal
-dimaksudkan untuk menurunkan jumlah kuman yang ada dalam
tubuh pasien dan meminimalisir pengaruh dari sebagian kecil kuman
yang sudah resisten sejak sebelum pasien mendapatkan pengobatan

Tahap Lanjutan
-tahap yang penting untuk membunuh sisa kuman yang masih ada
dalam tubuh khususnya kuman persiter sehingga pasien dapat sembuh
dan mencegah terjadinya kekambuhan
1. Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3

Artinya pengobatan tahap awal selama 2 bulan diberikan tiap hari dan
tahap lanjutan selama 4 bulan diberikan 3 kali dalam seminggu. Jadi
lama pengobatan seluruhnya 6 bulan.
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
Pasien TB paru terkonfirmasi bakteriologis.
Pasien TB paru terdiagnosis klinis
Pasien TB ekstra paru
Tabel Dosis Paduan OAT KDT Kategori 1: 2(HRZE)/4(HR)3
Tahap Intensif Tahap Lanjutan
Berat Badan tiap hari selama 56 hari 3 kali seminggu selama 16 minggu
RHZE (150/75/400/275) RH (150/150)

30 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT

38 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT

55 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT

71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT


Tabel Dosis Paduan OAT Kombipak Kategori 1: 2HRZE/4H3R3

Dosis per hari / kali Jumlah


Tahap Lama hari/
Pengobatan Pengobatan Tablet
Kaplet Tablet Tablet kali
Isoniasid
@ 300 Rifampisin Pirazinamid Etambutol menela
mgr @ 450 mgr @ 500 mgr @ 250 n obat
mgr
2 Bulan
Intensif 1 1 3 3 56

Lanjutan 4 Bulan 2 1 - - 48
2. Kategori 2 : 2HRZES/HRZE/5H3R3E3

Diberikan pada TB paru pengobatan ulang (TB kambuh, gagal


pengobatan, putus berobat/default). Pada kategori 2, tahap awal
pengobatan selama 3 bulan terdiri dari 2 bulan RHZE ditambah
suntikan streptomisin, dan 1 bulan HRZE. Pengobatan tahap awal
diberikan setiap hari. Tahap lanjutan diberikan HRE selama 5 bulan, 3
kali seminggu. Jadi lama pengobatan 8 bulan.
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang pernah diobati
sebelumnya (pengobatan ulang):
Pasien kambuh
Pasien gagal pada pengobatan dengan paduan OAT kategori 1
sebelumnya
Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat (lost to follow-up)
Tabel . Dosis Paduan OAT KDT Kategori 2:
2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3
Tahap Intensif Tahap Lanjutan
Berat tiap hari 3 kali seminggu
Badan RHZE (150/75/400/275) + S RH (150/150) + E(400)

Selama 56 hari Selama 28 hari selama 20 minggu


30-37 kg 2 tab 4KDT 2 tab 4KDT 2 tab 2KDT
+ 500 mg Streptomisin inj. + 2 tab Etambutol

38-54 kg 3 tab 4KDT 3 tab 4KDT 3 tab 2KDT


+ 750 mg Streptomisin inj. + 3 tab Etambutol

55-70 kg 4 tab 4KDT 4 tab 4KDT 4 tab 2KDT


+ 1000 mg Streptomisin inj. + 4 tab Etambutol

71 kg 5 tab 4KDT 5 tab 4KDT 5 tab 2KDT


+ 1000mg Streptomisin inj. ( > do maks ) + 5 tab Etambutol
Tabel . Dosis Paduan OAT Kombipak Kategori 2: 2HRZES/HRZE/
5H3R3E3
Etambutol Jumlah
Tahap Lama Tablet Kaplet Tablet hari/kal
Strepto
mi
Pengobata Pengobat Isoniasi Rifampisi Pirazinami Tablet Tablet @ sin i
n an d n d @ 400 mgr
@ 300 @ 450 @ 500 250 mgr injeksi menela
n obat
mgr mgr mgr
Tahap
Awal 2 bulan 1 1 3 3 - 0,75 gr 56
1 bulan 1 1 3 3 - - 28
(dosis
harian)
Tahap
Lanjutan 5 bulan 2 1 - 1 2 - 60
(dosis 3x
semggu)
3. OAT sisipan : HRZE
Apabila pemeriksaan dahak masih positif (belum konversi) pada akhir pengobatan
tahap awal kategori 1 maupun kategori 2, maka diberikan pengobatan sisipan
selama 1 bulan dengan HRZE.

Konseling dan Edukasi


1. Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang penyakit
tuberkulosis
2. Pengawasan ketaatan minum obat dan kontrol secara teratur.
3. Pola hidup sehat dan sanitasi lingkungan
Strategi DIRECTLY OBSERVED TREATMENT SHORT COURSE
(DOTS)

DOTS mengandung lima komponen, yaitu :

1. Komitmen pemerintah untuk menjalankan program TB


nasional
2. Penemuan kasus TB dengan pemeriksaan BTA mikroskopik
3. Pemberian obat jangka pendek yang diawasi secara
langsung,
dikenal dengan istilah DOT (Directly Observed Therapy)
4. Pengadaan OAT secara berkesinambungan
5. Monitoring serta pencatatan dan pelaporan yang
(baku/standar) baik
DOTS mengandung lima komponen, yaitu :
1. Komitmen pemerintah untuk menjalankan program TB
nasional
2. Penemuan kasus TB dengan pemeriksaan BTA mikroskopik
3. Pemberian obat jangka pendek yang diawasi secara
langsung,
dikenal dengan istilah DOT (Directly Observed Therapy)
4. Pengadaan OAT secara berkesinambungan
5. Monitoring serta pencatatan dan pelaporan yang
(baku/standar) baik
Istilah DOT diartikan sebagai pengawasan
langsung menelan obat jangka pendek setiap
hari oleh Pengawas Menelan Obat (PMO)

Tujuan :
Pengawasan dilakukan oleh :
Mencegah putus berobat
Penderita berobat jalan
Mengatasi efek samping
1. Langsung di depan dokter
obat
2. Petugas kesehatan
Mencegah resistensi
3. Orang lain (kader, tokoh masyarakat dll)
capai angka kesembuhan
4. Suami/Istri/Keluarga/Orang serumah
yang tinggi
Dalam melaksanakan DOT, sebelum pengobatan pertama kali dimulai harus
diingat:
Tentukan seorang PMO
DOTS PLUS
Persyaratan PMO Merupakan strategi pengobatan dengan
Tugas PMO menggunakan 5
Petugas PPTI atau Petugas Sosial komponen DOTS
Plus adalah menggunakan obat
Petugas sosial antituberkulosis lini 2
Peroranga/Individu DOTS Plus tidak mungkin dilakukan pada
daerah yang tidak
menggunakan strategi DOTS
Strategi DOTS Plus merupakan inovasi
pada pengobatan MDRTB
Non farmako
Macam diet untuk penyakit TBC:
a) Diet Tinggi Energi Tinggi
TERAPI DIET TBC Protein I (TETP 1)
Tujuan Diet: Energi: 2600 kkal, protein 100 gr
Memberikan makanan secukupnyauntuk memenuhi (2/kg BB).
kebutuhan zatgizi yang bertambah gunamencegah
dan mengurangikerusakan jaringan tubuh. b) Diet Tinggi Energi Tinggi
Protein II (TETP II)
Terapi untuk penderita kasus Tuberkulosis Paru Energi 3000 kkal, protein 125 gr
menurut (Almatsier Sunita, 2006) adalah: (2,5 gr/kg BB)
a. Energi diberikan sesuai dengan keadaan penderita Penderita dapat diberikan salah
untuk mencapai berat badan normal. satu dari dua macam diit Tinggi
b. Protein tinggi untuk mengganti sel-sel yang rusak Energi Tinggi Protein (TETP)
meningkatkan kadar albumin serum yang sesuai tingkat penyakit
rendah (75-100 gr).
penderita.
c. Lemak cukup 15-25 % dari kebutuhan energi total.
Dapat dilihat dibawah ini bahan
d. Karbohidrat cukup sisa dari kebutuhan energi total.
makanan yang dianjurkan dan
e. Vitamin dan mineral cukup sesuai kebutuhan total.
tidak dianjurkan pada penderita
tuberculosis
Jelaskan komplikasi TB !

Komplikasi-komplikasi yang sering terjadi


pada penderita stadium lanjut adalah:
a.Hemoptisis masif (pendarahan dari
saluran nafas bawah) yang dapat
Komplikasi dini: mengakibatkan kematian karena sumbatan
jalan nafas atau syok hipovolemik
pleuritis,
efusi pleura, b. Kolaps lobus akibat sumbatan duktus
empiema,
c.Bronkietaksis (pelebaran bronkus
laryngitis, setempat) dan fibrosis (pembentukan
Usus jaringan ikat pada proses pemulihan atau
dll. reaktif) pada paru

d.Pnemotoraks spontan, yaitu kolaps


spontan karena bula/blep yang pecah

e.Penyebaran infeksi ke organ lain seperti


otak, tulang, sendi, ginjal, dan sebagainya
Jelaskan klasifikasi TB !
A. TUBERKULOSIS PARU
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak termasuk
pleura (selaput paru)
1. Berdasar hasil pemeriksaan dahak (BTA)
a. Tuberkulosis Paru BTA (+) b. Tuberkulosis Paru BTA (-)
Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen Hasil pemeriksaan dahak 3 kali
dahak menunjukkan hasil BTA positif menunjukkan
Hasil pemeriksaan satu spesimen BTA negatif, gambaran klinik dan kelainan
dahak menunjukkan BTA positif dan radiologik menunjukkan tuberkulosis aktif
kelainan radiologik menunjukkan serta
gambaran tuberkulosis aktif tidak respons dengan pemberian
Hasil pemeriksaan satu spesimen antibiotik
dahak menunjukkan BTA positif dan spektrum luas
biakan positif Hasil pemeriksaan dahak 3 kali
menunjukkan
BTA negatif dan biakan M.tuberculosis
positif
Jika belum ada hasil pemeriksaan
dahak, tulis
BTA belum diperiksa
2. Berdasarkan Tipe a. Kasus baru
Penderita
Adalah penderita yang belum pernah mendapat
pengobatan dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang
dari satu bulan (30 dosis harian)
b. Kasus kambuh (relaps)

Adalah penderita tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat


pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau
pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil
pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan positif.
Bila hanya menunjukkan perubahan pada gambaran radiologik
sehingga dicurigai lesi aktif kembali, harus dipikirkan beberapa
kemungkinan :
Infeksi sekunder
Infeksi jamur
TB paru kambuh
c. Kasus pindahan (Transfer In)
Adalah penderita yang sedang mendapatkan pengobatan disuatu
kabupaten dan kemudian pindah berobat ke kabupaten lain.
Penderita pindahan tersebut harus membawa surat rujukan/
pindah
2. Berdasarkan d. Kasus lalai berobat
Tipe Penderita Adalah penderita yang sudah berobat paling kurang 1 bulan, dan
berhenti 2 minggu atau lebih, kemudian datang kembali berobat.
Umumnya penderita tersebut kembali dengan hasil pemeriksaan
dahak BTA positif.

e. Kasus Gagal
Adalah penderita BTA positif yang masih tetap positif atau
kembali menjadi positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan
sebelum akhir pengobatan)
Adalah penderita dengan hasil BTA negatif gambaran radiologik
positif menjadi BTA positif pada akhir bulan ke-2 pengobatan dan
atau gambaran radiologik ulang hasilnya perburukan
f. Kasus kronik
Adalah penderita dengan hasil pemeriksaan dahak BTA masih
positif setelah selesai pengobatan ulang kategori 2 dengan
pengawasan yang baik
g. Kasus bekas TB
Hasil pemeriksaan dahak mikroskopik (biakan jika ada fasilitas)
negatif dan gambaran radiologik paru menunjukkan lesi TB
inaktif, terlebih gambaran radiologik serial menunjukkan
gambaran yang menetap. Riwayat pengobatan OAT yang adekuat
akan lebihmendukung
B. TUBERKULOSIS EKSTRA PARU

Batasan : Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura,
selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar limfe, tulang, persendian, kulit,
usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dll. Diagnosis sebaiknya didasarkan atas
kultur spesimen positif, atau histologi, atau bukti klinis kuat konsisten dengan TB
ekstraparu aktif, yang selanjutnya dipertimbangkan oleh klinisi untuk diberikan obat
anti tuberkulosis siklus penuh. TB di luar paru dibagi berdasarkan pada tingkat
keparahan penyakit, yaitu :

1. TB di luar paru ringan 2. TB diluar paru berat

Misalnya : TB kelenjar limfe, pleuritis Misalnya : meningitis, millier, perikarditis,


eksudativa unilateral, tulang (kecuali peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral,
tulang belakang), sendi dan kelenjar TB tulang belakang, TB usus, TB saluran
adrenal. kencing dan alat kelamin.
Bakti Husada. 2014 . Pedoman Nasional penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta.
Kementerian Republik Indonesia
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.2011. Tuberkulosis Masalah
Kesehatan Dunia. Jakarta
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007 . Pedoman Nasional
Penanggulangan Tuberkulosis . Jakarta
Guidelines for the programmatic management of drug-resistant tuberculosis
(WHO/HTM/TB/2006.361)]
Kementerian Kesehatan RI . 2011. Strategi Nasional Pengendalian TB di Indonesia
2010-2014.Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit
dan Penyehatan Lingkungan
PDPI . 2011 .Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Tuberkulosis. Jakarta.
(Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2011)
Siti Setiati. 2014. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I .Edisi VI. Jakarta. Interna Publishing