Anda di halaman 1dari 256

HUKUM HARTA KELUARGA

& PERKAWINAN
Dr. UDIN NARSUDIN, SH., M.Hum., SpN
-Matakuliah ini memberikan dasar pemahaman dan
pengetahuan mengenai aspek keperdataan bidang hukum
keluarga termasuk harta benda perkawinan.
Pemahaman ini dimaksudkan agar mahasiswa mampu
menganalisis persoalan hukum kenotariatan.
Pokok bahasannya terdiri dari perkawinan dan harta benda
perkawinan, perjanjian kawin, perceraian dan akibat
hukumnya, hubungan antara anak dengan orang tua atau
wali, adopsi dan akibat hukumnya.
Materi yang akan disampaikan :
1. Pengantar
2. Perkawinan, Putusnya Perkawinan
3. Harta Bersama dalam Perkawinan
4. Pengampuan, anak sah , anak zina , anak luar kawin
dan anak yang lahir selama perkawinan
5. Anak dibawah umur, perwalian dan pendewasaan
6. pengangkatan anak (adopsi) dan akibat hukum
pengangkatan anak
7. pengangkatan anak dalam hukum Islam
Pengertian hukum keluarga
Istilah hukum keluarga berasal dari terjemahan Familierecht (Belanda)
atau law of familie (Inggris). Menurut Ali Afandi, hukum keluarga
diartikan sebagai keseluruhan ketentuan yang mengenai hubungan
hukum yang bersangkutan dengan kekeluargaan sedarah, dan
kekeluargan karena perkawinan (perkawinan, kekuasaan orang tua,
perwalian, pengampuan, keadaan tak hadir).
Ada dua hal penting dari konsep Ali Afandi tersebut, bahwa hukum
keluarga mengatur hubungan yang berkaitan dengan kekeluargaan
sedarah dan kekeluargaan karena perkawinan. Kekeluargaan sedarah
adalah pertalian keluarga yang terdapat antara beberapa orang yang
mempunyai leluhur yang sama. Sedangkan kekeluargaan karena
perkawinan adalah pertalian keluarga yang terdapat karena perkawinan
antara seorang dengan keluarga sedarah dengan istri (suaminya).
Tahir Mahmud, mengartikan hukum keluarga sebagai
prinsip-prinsip hukum yang diterangkan berdasarkan
ketaatan beragama berkaitan dengan hal-hal yang
secara umum diyakini memiliki aspek religius
menyangkut peraturan keluarga, perkawinan, perceraian,
hubungan dalam keluarga, kewajiban dalam rumah
tangga, warisan, pemberian mas kawin, perwalian, dan
lain-lain.
Definisi Tahir Mahmud tersebut, pada dasarnya mengkaji
dua sisi, yaitu tentang prinsip hukum dan ruang lingkup
hukum. Sedangkan ruang lingkup kajian hukum keluarga
meliputi peraturan keluarga, kewajiban dalam rumah
tangga, warisan, pemberian mas kawin, perwalian, dan
lain-lain. Apabila diperhatikan, definisi ini terlalu luas,
karena menyangkut warisan, yang dalam hukum perdata
BW merupakan bagian dari hukum benda.
Dalam definisi ini setidaknya memuat dua hal penting
yaitu, kaidah hukum dan substansi (ruang lingkup)
hukum. Kaidah hukum meliputi hukum keluarga tertulis
dan hukum keluarga tidak tertulis. Hukum keluarga
tertulis adalah kaidah-kaidah hukum yang bersumber
dari undang-undang, traktat, dan yurisprudensi. Hukum
keluarga tidak tertulis merupakan kaidah-kaidah hukum
keluarga yang timbul, tumbuh, dan berkembang dalam
kehidupan masyarakat. Adapun ruang lingkup yang
menjadi kajian hukum keluarga meliputi perkawinan,
perceraian, harta benda dalam perkawinan, kekuasaan
orang tua, pengampuan, dan perwalian.
Berdasarkan definisi tersebut diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa hukum keluarga pada dasarnya
merupakan keseluruhan kaidah hukum baik tertulis
maupun tidak tertulis yang mengatur hubungan hukum
yang timbul dari ikatan keluarga yang meliputi:
a. Peraturan perkawinan dengan segala hal yang lahir
dari perkawinan
b. Peraturan perceraian
c). Peraturan kekuasaan orang tua
d. Peraturan kedudukan anak
e. Peraturan pengampuan (curatele) dan
f. Peraturan perwalian (voogdij).
Hukum perdata barat mengandung prinsip bahwa hukum
keluarga pada berbagai ketentuannya pada hakikatnya erat
hubungannya dengan tata tertib umum. Dengan demikian
maka segala tindakan yang bertentangan dengan ketentuan
itu adalah batal demi hukum.
Dalam konsepsi hukum perdata Indonesia telah diadakan
pernyataan bahwa Hukum Perdata Barat (BW) tidak lagi
dianggap sebagai undang-undang yang mutlak berlaku. Ada
beberapa pertimbangan yang melandasi ketentuan tersebut
antara lain:
1) Ada tendensi bahwa BW mengacu pada alam liberalisme,
sehingga perlu ditinggalkan dan menuju alam sosialisme
Indonesia.
2) Maklumat Mahkamah Agung tentang tidak berlakunya
sementara ketentuan karena tidak sesuai lagi dengan
perubahan zaman dan bersifat diskriminatif.
3) Menjadikan jati diri bangsa Indonesia yang pluralitis,
sehingga berbeda jauh dengan kondisi alam barat. Misalnya,
dengan keberlakuan hukum Islam dan hukum adat.
Pada dasanya sumber hukum keluarga dapat dibedakan menjadi
dua macam, yaitu sumber hukum keluarga tertulis dan sumber
hukum Keluarga tidak tertulis. Sumber hukum keluarga tidak
tertulis merupakan norma-norma hukum yang tumbuh dan
berkembang serta ditaati oleh sebagian besar masyarakat atau
suku bangsa yang hidup di wilayah Indonesia. Sedangkan sumber
hukum keluarga tertulis berasal dari berbagai peraturan perundang-
udangan, yurisprudensi, dan perjanjian (traktat).
Sumber hukum keluarga tertulis yang menjadi rujukan di Indonesia
meliputi: (1) Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlijk
Wetboek); (2) Peraturan Perkawinan Campuran (Regelijk op de
Gemengdebuwelijk), Stb. 1898 158; (3) Ordonansi Perkawinan
Indonesia Kristen Jawa, Minahasa, dan Ambon (Huwelijke
Ordonnnantie Christen Indonesiers), Stb. 1933 -74; (4) Undang-
Undang Nomor 32 Tahun 1954 tentang Pencatatan Nikah,
Talak,dan Rujuk (beragama Islam); (5) Undang-Undang No 1 Tahun
1974 tentang Perkawinan; (6) Peraturan Pemerintah Nomor 9
Tahun 1975 tentang Perturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor
1 Tahun 1974 tentang Perkawinan; (7) Peraturan Pemeritah Nomor
10 Tahun 1983 jo. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990
tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri
Sipil; dan (8) Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang
Kompilasi Hukum Islam di Indonesia yang berlaku bagi orang-
orang yang beragama Islam.
UU Perkawinan dan peraturan pelaksanaannya yaitu PP
No 9 tahun 1975 sebagai bagian dari hukum keluarga
tidak mengatur masalah warisan.
Didalamnya mengatur masalah harta perkawinan,
pengaturan masalah ini akan dipengaruhi oleh hukum
yang berlaku pada waktu suami dan istri menikah.
Oleh karena itu bidang ini sangat erat kaitannya dengan
muatan hukum perselisihannya. Hukum perselisihan itu
sendiri merupakan kumpulan norma, ketentuan, atau
aturan yang mengatur hubungan orang perorangan
menyangkut hak dan kewajibannya.
Prof. Sudiman menyatakan bahwa hukum perselisihan
adalah semua kaidah hukum yang menentukan hukum
apakah atau hukum manakah yang berlaku manakala
dalam suatu peristiwa hukum tersangkut dua atau lebih
sistem hukum yang berlaku.
Peristiwa hukum itu sendiri suatu peristiwa yang diberi
akibat oleh hukum, seperti kelahiran, kematian,
perkawinan dsb. Dapat terjadi suatu perkawinan diatur
oleh satu sistem atau diatur oleh dua sistem.
Suatu perkawinan akan melahirkan persoalan tentang
harta kekayaan yaitu mengenai harta benda bersama
suami istri maupun garta benda pribadi atau harta
bawaan. Pengaturan harta benda perkawinan tersebut
merupakan salah satu akibat perkawinan, oleh karena itu
diatur dalam hukum tentang orang bukan dalam
lapangan harta kekayaan, meskipun menyangkut harta
benda dan hak-hak atas benda.
Pengaturan harta benda perkawinan tidak dimasukkan
dalam ruang lingkup hukum harta kekayaan disebabkan
karena anggapan bahwa perkawinan bukanlah salah
satu cara untuk mendapatkan/memperoleh
harta/kekayaan, meskipun diakui bahwa perkawinan
akan berakibat kepada kedudukan seseorang terhadap
harta kekayaan.
Sebagaimana diketahui bahwa sistematika KUHPerdata
sangat dipengaruhi oleh code civil, karena keduanya
sama-sama bersumber pada ajaran subjek hukum dan
objek hukum didalam hukum Romawi. Meskipun
KUHPerdata dan Code Civil dasarnya sama tetapi ada
perbedaan diantara keduanya, yaitu pengaturan hukum
waris dengan harta kekayaan perkawinan.
Dalam Code Civil hukum waris dianggap sebagai salah
satu cara untuk memperoleh hak demikian juga dengan
hukum harta kekayaan perkawinan sehingga keduanya
diatur dalam buku ketiga.
Sedangkan dalam KUHPerdata, hukum waris
ditempatkan dalam buku ketiga karena hak waris
merupakan hak kebendaan yaitu salah satu cara untuk
memperoleh hak milik, harta perkawinan diatur dalam
buku pertama oleh karena lahirnya harta perkawinan
merupakan salah satu akibat dari perkawinan.
Dikuatirkan jika harta benda perkawinan dimasukkan
dalam lapangan hukum harta kekayaan yang dianut oleh
sistem KUHPerdata, maka makna perkawinan akan
bergeser menjadi perkawinan yang bertujuan
mendapatkan harta kekayaan atau dianggap sebagai
perikatan.
Status hukum perkawinan menurut KUHPerdata terdiri
dari 3 kategori :
1. perkawinan yang dilangsungkan dengan perjanjian
kawin bahwa antara suami istri yang bersangkutan tidak
ada percampuran harta kekayaan
2. perkawinan yang dilangsungkan tidak dengan
perjanjian kawin, maka sejak terjadinya perkawinan,
maka demi hukum antara suami istri terjadi persatuan
harta kekayaan
3. perkawinan dilangsungkan dengan perjanjian kawin
ada pengecualian yaitu perkawinan yang dilangsungkan
akan menimbulkan percampuran harta yang dikehendaki
saja.
Definisi Perkawinan
Pasal 1 UU Perkawinan : Perkawinan ialah ikatan lahir
bathin antara seorang pria dengan seorang wanita
sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga
(rumah tangga) yang berbahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa.
KUHPerdata, Perkawinan adalah pertalian yang sah
antara seorang lelaki dengan seorang perempuan untuk
waktu yang lama.
Kalau dibandingkan maka dari definisi tersebut, definisi
menurut UU perkawinan unsur religius lebih ditekankan,
sedangkan KUHPerdata, perkawinan hanya dilihat dari
sudut sosialnya saja, atau dilihat dari segi perbuatan
hukum melangsungkan perkawinan.
Perkawinan yang dilakukan sebelum diberlakukannya UU
Perkawinan tetap sah sepanjang dilakukan menurut
perundang-undangan yang berlaku pada waktu itu.
Secara umum tujuan yang paling mendasar dari
perkawinan adalah untuk mewujudkan kehidupan rumah
tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.
Yang terkandung dalam UU Perkawinan menganut asas
monogami, akan tetapi asas monogami tersebut tidak
berlaku secara mutlak, oleh karena kita lihat dalam Pasal 3
(2) ditentukan bahwa pengadilan dapat memberi ijin
kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang
apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan.
Yang dimaksud dengan dikehendaki oleh pihak-pihak
yang bersangkutan adalah :
-adanya persetujuan dari istri/istri-istri;
-adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin
keperluan hidup istri-istri dan anak-anak mereka ;
-adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap
istri-istri dan anak-anak mereka.
Tujuan Perkawinan
Perkawinan bertujuan mewujudkan kehidupan rumah
tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.
Dengan perkawinan yang sah, pergaulan laki-laki dan
perempuan terjadi secara terhormat sesuai kedudukan
manusia sebagai makhluk Tuhan yang berkehormatan.
Makna yang terkandung dalam perkawinan itu sendiri,
antara lain :
1.mendapatkan dan melangsungkan keturunan.
2.memenuhi hajat manusia dalam menyalurkan
syahwatnya dan menumpahkan kasih sayang.
3.memenuhi panggilan agama, memelihara diri dan
keluarga dari kejahatan dan kerusakan.
4.menumbuhkan kesungguhan untuk bertanggung
jawab.
Makna lain atau hikmah lain dari perikatan pernikahan
antara pria dan wanita antara lain adalah :
1. hidup tentram dan sejahtera ;
2. menghindari perzinahan ;
3. memelihara keturunan ;
4. berhubungan dengan kewarisan ;
5. merupakan suatu bentuk ibadah yaitu pengabdian
kepada Allah mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
Dalam sebuah perkawinan kita akan melihat 2 aspek
yaitu :
a. Aspek formil (hukum), hal itu dinyatakan dalam
kalimat ikatan lahir bathin, artinya bahwa perkawinan
disamping mempunyai nilai ikatan secara lahir tampak,
juga mempunyai ikatan bathin yang dapat dirasakan
terutama oleh yang bersangkutan dan ikatan bathin ini
dari perkawinan.
b. Aspek Sosial Keagamaan
Dengan disebutkannya membentuk keluarga dan
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, artinya
perkawinan mempunyai hubungan yang erat sekali
dengan kerohanian, sehingga bukan saja unsur jasmani
akan tetapi unsur bathin berperan penting.
Sebagai bentuk perikatan dalam sebuah perkawinan
menunjukkan adanya kerelaan dari pihak yang berakad,
dan akibatnya adalah kewajiban dan hak yang mereka
tentukan.
Oleh karena suatu perkawinan hanya sah apabila
dilakukan menurut ajaran agamanya masing-masing,
yang mana dalam Islam sahnya suatu perkawinan
apabila telah terpenuhinya syarat dan rukunnya (lihat
Pasal 2 (1) UU Perkawinan dan Bab IV KHI tentang
Rukun dan Syarat Perkawinan.
Disamping itu bila definisi perkawinan tersebut diatas
ditelaah, terdapat 5 unsur perkawinan didalamnya yaitu :
1. ikatan lahir dan bathin
Dalam suatu perkawinan tidak hanya cukup dengan
ikatan lahir saja atau ikatan bathin saja, akan tetapi
kedua-duanya secara sinergis dan terpadu erat.
Ikatan lahir merupakan ikatan yang dapat dilihat dan
mengungkapkan hubungan hukum antara seorang pria
dan seorang wanita untuk hidup bersama sebagai suami
istri (hubungan formal).
Sedangkan ikatan bathin merupakan hubungan yang non
formal, suatu ikatan yang tidak tampak, tidak nyata, yang
hanya dapat dirasakan oleh pihak-pihak yang
mengikatkan dirinya.
Ikatan bathin ini merupakan dasar ikatan lahir, sehingga
dijadikan fondasi dalam membentuk dan membina
keluarga yang kekal dan bahagia.
2. Antara seorang pria dengan seorang wanita.
Ikatan perkawinan hanya boleh terjadi antara seorang
pria dan seorang wanita. Dengan demikian UU
Perkawinan tidak membolehkan/melegalkan hubungan
perkawinan antara pria dengan pria, wanita dengan
wanita atau waria dengan waria.
3. sebagai suami istri
Menurut UU Perkawinan, persekutuan seorang pria
dengan wanita dipandang sebagai suami istri apabila
ikatan mereka didasarkan pada suatu perkawinan yang
sah.
Suatu perkawinan dianggap sah bila memenuhi syarat-
syarat yang ditentukan oleh UU, baik syarat-syarat intern
maupun syarat-syarat ekstern.
Syarat intern adalah syarat yang menyangkut pihak-pihak
yang melakukan perkawinan, yaitu kesepakatan mereka,
kecakapan dan juga adanya ijin dari pihak lain yang harus
diberikan untu melangsungkan perkawinan.
Sedangkan syarat ekstern adalah syarat yang
menyangkut formalitas-formalitas pelangsungan
perkawinan.
4. membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia
dan kekal.
Keluarga adalah satu kesatuan yang terdiri dari ayah, ibu
dan anak-anak yang merupakan sendi dasar susunan
masyarakat Indonesia.
Membentuk keluarga yang bahagia erat hubungannya
dengan keturunan yang merupakan tujuan perkawinan,
sedangkan pemeliharaan dan pendidikan anak-anak
menjadi hak dan kewajiban orang tua.
Untuk dapat mencapai hal itu, maka diharapkan
kekekalan dalam perkawinan, yaitu bahwa sekali orang
melakukan perkawinan, tidak akan bercerai untuk
selama-lamanya, kecuali cerai karena kematian.
5.Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa
Berbeda dengan konsepsi perkawinan menurut
KUHPerdata yang memandang perkawinan hanya
sebagai hubungan keperdataan saja (lahiriah), UU
Perkawinan mendasarkan hubungan perkawinan atas
dasar kerohanian. Suatu konsekuensi logis dari negara
yang berdasarkan Pancasila terutama Sila Ketuhanan
Yang Maha Esa, maka perkawinan mempunyai hubungan
erat dengan agama (kerohanian), sehingga perkawinan
bukan saja mempunyai unsur lahir (jasmani), akan tetapi
unsur bathin (rohani) juga mempunyai peranan penting.
Syarat-syarat Perkawinan
1.perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua
calon mempelai.
2.untuk melangsungkan perkawinan, bagi yang belum
berumur 21 tahun harus mendapat ijin dari kedua orang
tua.
3.apabila seorang dari kedua orang tua telah meninggal
dunia atau dalam keadaan tidak mampu menyatakan
kehendaknya, maka ijin tersebut diatas cukup diperoleh
dari orang tua yang masih hidup atau dari orang tua yang
mampu menyatakan kehendaknya
4. apabila kedua orang tuanya telah meninggal atau
dalam keadaan tidak mampu menyatakan kehendaknya,
maka ijin diperoleh dari wali, orang yang memelihara atau
keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis
keturunan lurus keatas selama mereka masih hidup dan
dalam keadaan dapat menyatakan kehendaknya.
5. apabila ada pertentangan diantara orang-orang
sebagaimana tersebut diatas maka harus terlebih dahulu
meminta penetapan pengadilan dalam daerah hukum
dimana orang yang akan melangsungkan perkawinan
tinggal.
6. perkawinan juga hanya diijinkan jika pihak pria berumur
19 tahun dan pihak wanita berumur 16 tahun
Disamping itu utk melakukan perkawinan harus ada :
-calon suami
-calon istri
-wali nikah
-dua orang saksi
-ijab dan kabul
Pencegahan/penundaan perkawinan
Pasal 13 UU Perkawinan : Perkawinan dapat dicegah,
apabila ada pihak yang tidak memenuhi syarat-syarat
untuk melangsungkan perkawinan.
Menurut KHI, pencegahan perkawinan bertujuan untuk
menghindari suatu perkawinan yang dilarang hukum
Islam dan peraturan perundang-undangan, dan
pencegahan perkawinan dapat dilakukan bila calon
suami atau istri yang akan melangsungkan perkawinan
menurut hukum Islam dan peraturan perundang-
undangan, akan tetapi tidak setuju tidak dapat dijadikan
alasan untuk mencegah perkawinan, kecuali tidak setuju
karena perbedaan agama.
Menurut pasal 14 UU Perkawinan :
1. yang dapat mencegah perkawinan adalah para
keluarga dalam garis lurus keatas dan kebawah, saudara,
wali nikah, wali, pengampu dari salah seorang calon
mempelai dan pihak-pihak yang berkepentingan.
2. mereka yang disebutkan diatas berhak juga mencegah
berlangsungnya perkawinan apabila salah seorang dari
calon mempelai berada dibawah pengampuan, sehingga
dengan perkawinan tersebut nyata-nyata mengakibatkan
kesengsaraan bagi calon mempelai lainnya, yang
mempunyai hubungan dengan orang-orang tersebut
diatas.
Menurut KHI :
a. Yang dapat mencegah perkawinan ialah para keluarga
dalam garis keturunan lurus keatas dan kebawah,
saudara wali nikah, wali pengampu dari salah seorang
calon mempelai dan pihak-pihak yang bersangkutan.
b. Ayah kandung yang tidak pernah melaksanakan
fungsinya sebagai kepala keluarga tidak gugur hak
perwaliannya untuk mencegah perkawinan yang akan
dilakukan oleh wali yang lain.
Pencegahan perkawinan dapat dilakukn oleh suami atau
istri yang masih terikat dalam perkawinan dengan salah
seorang calon suami yang akan melangsungkan
perkawinan.
Pejabat yang ditunjuk untuk mengawasi perkawinan
berkewajian mencegah perkawinan bila rukun dan syarat
perkawinan tidak dipenuhi.
Contoh :
1. seorang yang tidak setuju anak perempuannya
melangsungkan perkawinan, karena anak perempuannya
baru berumur 15 tahun (Pasal 7 UU Perkawinan, salah
satu syaratnya untuk perempuan adalah mencapai 16
tahun, maka ayahnya tersebut mencegah
dilangsungkannya perkawinan atas anak perempuannya
tersebut).
2. seorang ayah yang mencegah perkawinan anak laki-
lakinya melangsungkan perkawinan karena anak laki-
lakinya tersebut akan menikah dengan perempuan yang
beda agama.
3. seorang kakak laki-laki dari calon mempelai wanita
mencegah perkawinan adiknya tersebut karena ternyata
calon mempelai laki-lakinya sudah mempunyai istri dan
belum mendapatkan ijin dari pengadilan setempat untuk
melakukan perkawinan kedua-nya tersebut.
Pasal 76 KHI
Batalnya suatu perkawinan tidak akan memutuskan
hubungan hukum antara anak dan orang tua.
Gugurnya hak pembatalan perkawinan
Pasal 26 (2) UU Perkawinan, hak utk membatalkan oleh
suami atau istri berdasarkan alasan dalam ayat (1) ini
gugur apabila mereka telah hidup bersama sebagai
suami istri dan dapat memperlihatkan.
Pasal 27 ayat (3) UU Perkawinan, apabila ancaman telah
berhenti, atau yang bersalah sangka itu menyadari
keadaannya, dan dalam jangka waktu 6 (enam) bulan
setelah masih tetap hidup sebagai suami istri, dan tidak
mempergunakan haknya untuk mengajukan permohonan
pembatalan, maka hak gugur.
Perjanjian perkawinan
Pasal 29 UU Perkawinan
1. pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan,
kedua pihak atas persetujuan bersama dapat
mengadakan perjanjian tertulis yang disahkan oleh
pegawai pencatat perkawinan, setelah mana isinya
berlaku terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga
tersangkut.
2. Perjanjian tersebut tidak dapat disahkan bilamana
melanggar batas-batas hukum, agama dan kesusilaan.
3. perjanjian tersebut mulai berlaku sejak perkawinan
dilangsungkan.
4. selama perkawinan berlangsung perjanjian tersebut
tidak dapat dirubah, kecuali bila dari kedua belah pihak
ada persetujuan untuk merubah dan perubahan tidak
merugikan pihak ketiga.
Komentar tentang hal tersebut :
Tidak disebutkan perjanjian tersebut mengenai apa,
misalnya mengenai harta benda. Karena tidak ada
pembatasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa
perjanjian tersebut luas sekali dapat mengenai beberapa
hal. Dalam penjelasan pasal 29 tersebut hanya
dikatakan bahwa yang dimaksud dengan perjanjian,
dalam pasal ini tidak termasuk talik talak.
Subekti menyatakan bahwa baik KUHPerdata maupun
UU Perkawinan mengenal apa yang dinamakan
perjanjian perkawinan. Ini adalah suatu perjanjian
mengenai harta benda suami-istri selama perkawinan
mereka, yang menyimpang dari asas atau pola yang
ditetapkan oleh UU.
Peraturan pelaksanaan tidak mengatur lebih lanjut
bagaimana tentang perjanjian perkawinan dimaksud,
hanya disebutkan bahwa kalau ada perjanjian perkawinan
harus dimuat didalam akta perkawinan (Pasal 12 h PP
9/1975).
Perjanjian perkawinan adalah penyimpangan dari asas
perkawinan pada umumnya.
Dalam praktek, perjanjian perkawinan biasa dilakukan
dengan akta otentik, yang dibuat dihadapan notaris.
Langkah-langkah yang dilakukan adalah :
1. pembuatan akta perjanjian perkawinan dihadapan
notaris, antara calon suami dan calon istri.
2. akta perjanjian perkawinan salinannya disampaikan
kepada para pihak.
3. pada saat pelaksanaan perkawinan, disebutkan bahwa
mereka menikah dengan perjanjian perkawinan dan
dicatat dalam buku nikah atau akta perkawinan.
Macam-macam akta perjanjian perkawinan :
1. persatuan harta lengkap, tetapi kekuasaan suami atas
harta tertentu dibatasi.
2. istri mengurus harta pribadinya.
3. hibahan dari orang ketiga kepada calon istri.
4. pisah harta sama sekali
Pembatalan Perkawinan
Perkawinan Batal Demi Hukum
Perkawinan Batal apabila :
a. Suami melakukan perkawinan, sedang ia tidak berhak
melakukan akad nikah karena sudah mempunyai empat
orang istri, sekalipun dari keempat istrinya itu dalam
iddah talak raji
b. Seseorang menikahi istrinya yang telah diliannya
(karena zinah)
c. Seseorang menikahi bekas istrinya yang telah dijatuhi
tiga kali talak olehnya, kecuali jika bekas istrinya tersebut
pernah menikah dengan pria lain yang kemudian
bercerai lagi bada dukhul dari pria tersebut dan telah
habis masa iddahnya
d.Perkawinan dilakukan antara dua orang yang
mempunyai hubungan darah, semenda dan sesusuan
sampai derajat tertentu yang menghalangi perkawinan
menurut pasal 8 UU Perkawinan, yaitu :
1.berhubungan darah dalam garis lurus kebawah atau
keatas
2.berhubungan darah dalam garis keturunan
menyamping yaitu antara saudara, antara seorang
dengan saudara orang tua dan antara seorang dengan
saudara neneknya
3.berhubungan seemenda, yaitu mertua, anak tiri,
menantu, dan ibu atau ayah tir
4. berhubungan sesusuan, yaitu orang tua sesusuan,
saudara sesusuan dan bibi atau paman sesusuan
e. Istri adalah saudara kandung atau sebagai bibi atau
kemenakan dari istri atau istri-istrinya

Perkawinan Yang Dapat Dibatalkan


a. Menurut UU Perkawinan
Pasal 22
Perkawinan dapat dibatalkan, apabila para pihak tidak
memenuhi syarat-syarat untuk melakukan perkawinan.
Pasal 24
Barangsiapa karena perkawinan masih terikat dirinya
dengan salah satu dari kedua belah pihak dan atas dasar
masih adanya perkawinan dapat mengajukan pembatalan
perkawinan yang baru, dengan tidak mengurangi
ketentuan pasal 3 ayat (2) dan pasal 4 UU ini.
Pasal 26
1. perkawinan yang dilangsungkan dimuka pegawai
pencatat perkawinan yang tidak berwenang, wali nikah
yang tidak sah atau yang dilangsungkan tanpa dihadiri
oleh 2 (dua) orang saksi dapat dimintakan pembatalannya
oleh para keluarga dalam garis lurus keatas dari suami
atau istri, jaksa dan suami atau istri.
2. hak untuk membatalkan untuk suami dan istri
berdasarkan alasan dalam ayat (1) pasal ini gugur
apabila mereka telah hidup bersama sebagai suami istri
dan dapat memperlihatkan akta perkawinan yang dibuat
pegawai pencatat perkawinan yang tidak berwenang dan
perkawinan harus diperbaharui supaya sah.
Pasal 27
1. seorang suami atau istri dapat mengajukan
permohonan pembatalan perkawinan apabila perkawinan
dilangsungkan dibawah ancaman yang melanggar
hukum
2. seorang suami atau istri dapat mengajukan pembatalan
perkawinan apabila pada waktu berlangsungnya
perkawinan terjadi salah sangka mengenai diri suami atau
istri.

b. Kompilasi Hukum Islam


Pasal 71
Suatu Perkawinan dapat dibatalkan apabila :
a. Seorang suami melakukan poligami tanpa izin
Pengadilan Agama
b. Perempuan yang dikawini ternyata kemudian diketahui
masih menjadi istri pria yang mufqud
c. Perempuan yang dikawini ternyata masih dalam iddah
dari suami lain
d. Perkawinan yang melanggar batas umur perkawinan
sebagaimana ditetapkan pasal 7 UU Perkawinan
e. Perkawinan dilangsungkan tanpa wali atau
dilaksanakan oleh wali yang tidak berhak
f. Perkawinan yang dilaksanakan denga paksaan
Pasal 72
1. seorang suami atau istri dapat mengajukan
permohonan pembatalan perkawinan apabila perkawinan
dilangsungkan dibawah ancaman yang melanggar
hukum.
2. seorang suami atau istri dapat mengajukan
permohonan pembatalan perkawinan apabila pada waktu
berlangsungnya perkawinan terjadi penipuan atau salah
sangka mengenai diri suami atau istri.

Pihak-pihak yang berkualitas sebagai penggugat dalam


perkara perkawinan
A. UU Perkawinan
Pasal 23
Yang dapat mengajukan pembatalan perkawinan yaitu :
a. Para keluarga dalam garis keturunan lurus keatas dari
suami atau istri
b. Suami atau istri
c. Pejabat yang berwenang hanya selama perkawinan
belum diputuskan
d. Pejabat yang ditunjuk tersebut ayat (2) pasal 16 UU ini
dan setiap orang yang mempunyai kepentingan hukum
secara langsung terhadap perkawinan tersebut, tetapi
hanya setelah perkawinan ini putus.
B. Kompilasi Hukum Islam
Pasal 73
Yang dapat mengajukan permohonan pembatalan
perkawinan adalah :
A. Para keluarga dalam garis keturunan lurus keatas dan
kebawah dari suami atau istri
B. Suami atau istri
C. Pejabat yang berwenang mengawasi pelaksanaan
perkawinan menurut UU
D. Para pihak yang berkepentingan yang mengetahui
adanya cacat dalam rukun dan syarat perkawinan
menurut hukum Islam dan peraturan Perundangan
sebagaimana tersebut dalam pasal 67.
Tempat mengajukan gugatan pembatalan perkawinan
A. UU Perkawinan
Pasal 25
Permohonan pembatalan perkawinan diajukan kepada
pengadilan dalam daerah hukum dimana perkawinan
dilangsungkan atau di tempat tinggal kedua suami istri,
suami atau istri
B. PP No. 9/1975
Pasal 37
Batalnya perkawinan hanya dapat diputuskan oleh
pengadilan.
1. permohonan pembatalan perkawinan diajukan oleh
pihak-pihak yang berhak mengajukannya kepada
pengadilan yang daerah hukumnya yang meliputi tempat
berlangsungnya perkawinan atau ditempat tinggal kedua
suami atau istri
2. tata cara pengajuan permohonan pembatalan
perkawinan dilakukan sesuai dengan tata cara pengajuan
gugatan perceraian
3. hal-hal yang berhub dengan panggilan pemeriksaan
pembatalan perkawinan dan putusan pengadilan
dilakukan sesuai dengan tata cara tsb dalam pasal 20
sampai dengan pasal 36 PP ini.
C. Kompilasi Hukum Islam
Pasal 74 ayat (1)
Permohonan pembatalan perkawinan dapat diajukan
kepada PA yang mewilayahi tempat tinggal suami atau
istri atau tempat perkawinan dilangsungkan.

Saat mulai berlaku batalnya suatu perkawinan


A. UU Perkawinan
Pasal 28 ayat (1)
Batalnya suatu perkawinan dimulai setelah keputusan
pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap dan
berlaku sejak saat berlangsungnya perkawinan.
B. Kompilasi Hukum Islam
Pasal 74 ayat (2)
Batalnya suatu perkawinan dimulai setelah putusan PA
mempunyai kekuatan hukum tetap dan berlaku sejak saat
berlangsungnya perkawinan
Keputusan pembatalan perkawinan tidak berlaku surut
terhadap beberapa hal
A. UU perkawinan
Pasal 28 ayat (2)
Keputusan yang tidak berlaku surut terhadap
A. Anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut
B. Suami atau istri yang beritikad baik, kecuali terhadap
harta bersama, bila pembatalan perkawinan didasarkan
adanya perkawinan lain yang lebih dahulu
C. Orang-orang ketiga lainnya tidak termasuk dalam a
dan b sepanjang mereka memperoleh hak-hak dengan
itikad baik sebelum keputusan pembatalan mempunyai
kekuatan hukum tetap
B. Kompilasi Hukum Islam
Pasal 75
Keputusan pembatalan perkawinan tidak berlaku
terhadap :
A. Perkawinan yang batal karena salah satu dari suami
atau istri murtad
B. Anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut
C. Pihak ketiga sepanjang mereka memperoleh hak-hak
dengan beritikad baik, sebelum keputusan pembatalan
perkawinan mempunyai kekuatan hukum tetap.
PERCERAIAN
Istilah perceraian terdapat dalam Pasal 38 UUP yang memuat
ketentuan fakultatif bahwa perkawinan dapat putus karena
kematian, perceraian dan atas putusan pengadilan.
Jadi istilah perceraian secara yuridis berarti putusnya
perkawinan, yang mengakibatkan putusnya hubungan sebagai
suami istri atau berhenti sebagai suami istri.
Istilah perceraian menurut UUP sebagai aturan hukum positif
tentang perceraian menunjukkan adanya :
-tindakan hukum yang dapat dilakukan oleh suami atau istri
untuk memutus hubungan perkawinan diantara mereka
-peristiwa hukum yang memutuskan hubungan suami dan istri,
yaitu kematian suami atau istri yang bersangkutan, yang
merupakan ketentuan yang pasti dan langsung ditetapkan
oleh Tuhan Yang Maha Kuasa
-putusan hukum yang dinyatakan oleh pengadilan yang
berakibat hukum putusnya hubungan perkawinan antara
suami dan istri.
Perkawinan berakibat hukum putusnya perkawinan. Putusnya
perkawinan berarti berakhirnya hubungan suami istri. Putusnya
perkawinan itu ada alam benuk tergantung dari segi siapa yang
berkehendak untuk putusnya perkawinan itu, dalam hal ini ada 4
kemungkinan:
1. putusnya perkawinan karena kehendak Allah sendiri melalui
matinya salah seorang suami istri. Adanya kematian ini menyebabkan
dengan sendirinya berakhir hubungan perkawinan.
2. putusnya perkawinan atas kehendak suami karena alasan tertentu
dan dinyatakan kehendaknya itu dengan ucapan tertentu. Perceraian
dalam bentuk itu disebut talak.
3. putusnya perkawinan atas kehendak istri karena istri melihat
sesuatu yang mengendaki putusnya perkawinan, sedangkan suami
tidak berkehendak untuk itu. Kehendak untuk putusnya perkawinan
yang disampaikan istri dengan cara tertentu ini diterima suami dan
dialnjukan dengan ucapannya memutuskan perkawinan itu. Putusnya
perkawinan dengan cara itu disebut khulu.
4. putusnya perkawinan atas kehendak hakim sebagai pihak ketiga
setelah melihat adanya sesuatu pada suami dan/atau istri yang
menandakan tidak dapatnya hubungan perkawinan it dijalankan.
Putusnya perkawinan dalam bentuk itu disebut fasakh.
Pengertian perceraian dapat dijelaskan dari beberapa
persfektif hukum berikut :
a. Perceraian menurut hukum Islam yang dipositifkan dalam
Pasal 38 dan 39 UUP yang dijabarkan dalam PP No. 9 tahun
1975, yang mencakup :
1. perceraian dalam pengertian cerai talak, yaitu perceraian
yang diajukan permohonan cerainya oleh dan atas inisiatif
suami kepada PA, yan dianggap terjadi dan berlaku beserta
segala akibat hukunya sejak saat perceraian itu dinyatakan
(diikrarkan) di depan sidang pengadilan agama (vide pasal 14
sd pasl 18 PP No. 9 tahun 1975.
2. perceraian dalam pengertian cerai gugat, yaitu perceraian
yang diajukan gugatan cerainya oleh dan atas inisiatif istri
kepada PA, yang dianggap terjadi dan berlaku beserta segala
akibat hukumnya sejak jatuhnya putusan PA yang telah
mempunyai keuatan hukum tetap (vide Pasal 20 sd Pasl 36).
b. Percerai menurut hukum agama selain hukum
Islam,yang telah pua dipositifkan dala UUP dan
dijabarkan dalamPP No. 9 tahun 1975 yaitu percerai
yang gugatan cerainya diajukan atas inisiatif suami atau
istri kepada PN, yang dianggap terjadi berserta segala
akibat hukumnya terhitung sejak saat pendaftarannya
pada daftar pencatatan oleh Pegawai Pencatat di Kantor
Catat Sipil (vide Pasal 20 dan Paal 34 ayat (2) PP Nomor
9 tahun 1975).
Asas Hukum Perceraian
1. Asas Mempersukar Proses Hukum Perceraian
Asas ini dapat dilihat pada Pasal 39 ayat (1) UUP yang
mengharuskan hakim di depan sidang pengadilan untuk
mendamaikan suami istri sehingga menandakan bahwa
UU ini memandang bahwa suatu perkawinan harus
dipertahankan. Alasannya :
-perkawinan itu tujuannya suci dan mulia, sedangkan
perceraian adalah perbuatan yang dibenci Tuhan
-untuk membatasi kesewenang-wenangan suami
terhadap istri
-untuk mengangkat derajat dan martabat istri (wanita),
sehingga setaraf dengan derajat dan martabat suami.
2. Asas Kepastian Pranata dan Kelembagaan Hukum
Perceraian.
Artinya UUP meletakkan peraturan perUUan sebagai
pranata hukum dan pengadilan sebagai lembaga hukum
yang dilibatkan dalam proses hukum perceraian, tujuan
paling hakiki adalah untuk menciptakan kepastian hukum.
3. Asas Perlindungan Hukum yang Seimbang Selama
dan Setelah Proses Hukum Perceraian
Asas ini untuk melindungi istri (wanita) dan kesewenang-
wenangan suami (pria dan mengangkat marwah (harkat
dan martabat kemanusiaan) istri (wanita) sebagai
makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Akibat Hukum Perceraian
Pasal 41 UUP menyatakan :
a. Baik bapak atau ibu tetap berkewajiban memelihara
dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan
kepentingan anak, bilamana ada perselisihan mengenai
penguasaan anak-anak, pengadilan memberi
keputusannya.
b. Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya
pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu,
bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memberi
kewajiban tersebut, pengadilan dapat menentukan bahwa
ibu ikut memikul biaya tersebut.
c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami
untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau
menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas istri.
HARTA BERSAMA DALAM PERKAWINAN
Harta bersama merupakan salah satu macam dari sekian
banyak harta yang dimiliki seseorang. Dalam kehidupan
sehari-hari, harta mempunyai arti penting bagi seseorang
karena dengan memiliki harta dia dapat memenuhi
kebutuhan secara wajar dan memperoleh status sosial
yang baik dalam masyarakat.
Arti penting tersebut tidak hanya dari segi kegunaannya
(aspek ekonomi) melainkan juga dari segi keteraturannya
(aspek hukum). Secara ekonomi orang sudah biasa
bergelut dengan harta yang dimilikinya, tetapi secara
hukum orang mungkin belum banyak memahami aturan
hukum yang mengatur tentang harta, apalagi harta yang
didapat suami istri selama masa perkawinan.
Ketidakpahaman mengenai ketentuan hukum yang
mengatur tentang harta bersama dapat menyulitkan
untuk memfungsikan harta bersama tersebut secara
benar. Oleh karena itu terlebih dahulu perlu dikemukakan
beberapa definisi harta bersama.
Sayuti Thalib, harta bersama adalah harta kekayaan
yang diperoleh selama perkawinan diluar hadiah atau
warisan. Maksudnya adalah harta yang didapat atas
usaha mereka atau sendiri-sendiri selama masa ikatan
perkawinan.
Pengertian tersebut sejalan dengan Bab VII tentang
harta benda dalam perkawinan pasal 35 UUP.
Abdul Kadir Muhamad, konsep harta bersama merupakan
harta kekayaan dapat ditinjau dari segi ekonomi dan dari
segi hukum, walaupun kedua segi tinjauan itu berbeda,
keduanya ada hubungan satu sama lain.
Tinjauan dari segi ekonomi menitikberatkan pada nilai
kegunaan, sebaliknya tinjauan dari segi hukum
menitikberatkan pada aturan hukum yang mengatur.
Abdul Manan, harta bersama adalah harta yang diperoleh
selama ikatan perkawinan berlangsung dan tanpa
mempersoalkan terdaftar atas nama siapa.
Memperhatikan beberapa pendapat tersebut yang
menyatakan bahwa harta bersama adalah harta yang
didapat/diperoleh selama perkawinan. Masalahnya
adalah, apakah semua harta yang didapat/diperoleh
selama perkawinan dinamakan sebagai harta bersama?
Harta tersebut akan menjadi harta bersama jika tidak ada
perjanjian mengenai status harta tersebut sebelum ada
pada saat dilangsungkan pernikahan, kecuali harta yang
didapat itu diperoleh dari hadiah atau warisan atau
bawaan masing-masing suami istri yang dimiliki sebelum
dilangsungkan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 35
ayat (2) UUP.
Soerjono Soekanto membagi harta benda perkawinan ke
dalam 4 unsur yaitu :
1. harta kekayaan yang diperoleh dari suami atau istri,
yang merupakan warisan atau hibah/pemberian dari
kerabat yang dibawa ke dalam keluarga.
2. harta kekayaan yang diperoleh dari usaha suami atau
istri yang diperoleh sebelum dan selama perkawinan
3. harta kekayaan yang diperoleh dari hadiah kepada
suami istri pada waktu perkawinan
4. harta kekayaan yang diperoleh dari usaha suami istri
dalam masa perkawinan
Menurut Hilman Hadikusumah harta perkawinan
dikelompokkan menjadi :
1. Harta bawaan, yaitu harta yang dibawa oleh suami/istri
ke dalam ikatan perkawinan, baik yang berupa hasil jerih
payah masing-masing ataupun yang berasal dari hadiah
atau warisan yang diperoleh sebelum atau sesudah
perkawinan mereka berlangsung.
2. harta pencarian, yaitu harta yang diperoleh sebagai
hasil karya suami/istri selama ikatan perkawinan
berlangsung
3. harta peninggalan
4. harta pemberian seperti hadiah, hibah dan lain-lain.
Secara ringkas dari kedua pandangan tersebut, harta
perkawinan terdiri dari harta bawaan dan harta bersama.
Jenis-Jenis Harta Bersama
Mengenai jenis harta bersama, muncul pertanyaan,
apakah benar semua harta yang didapat dalam
perkawinan antara suami istri selama berumah tangga
adalah merupakan harta bersama?
Kalau memperhatikan asal-usul harta yang didapat suami
istri dapat disimpulkan dalam 4 sumber yaitu :
1. harta hibah dan harta warisan yang diperoleh salah
seorang dari suami atau istri.
2. harta hasil usaha sendiri sebelum mereka menikah.
3. harta yang diperoleh pada saat perkawinan atau
karena perkawinan.
4. harta yang diperoleh selama perkawinan selain dari
hibah khusus untuk salah seorang dari suami istri dan
selain dari harta warisan.
HARTA BENDA PERKAWINAN MENURUT UU No.
1/1974 Tentang Perkawinan
Menurut Pasal 35 UUP disebutkan :
1. harta yang diperoleh selama perkawinan menjadi
harta bersama.
2. harta bawaan dari masig-masing suami dan istri dan
harta benda yang diperoleh masing-masin sebagai
hadiah atau warisan adalah dibawah pengusaan masing-
msaing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.
Pasal 36 UUP menyebutkan bahwa :
1. mengenai harta bersama suami atau istri apat bertindak
atas perjanjian kedua belah pihak
2. mengenai harta bawaan masing-masing suami dan istri
mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan
hukum mengenai harta bendanya.
Menurut UUP, harta benda perkawinan sebenarnya
secara otomatis terbagi atas harta bersama dan harta
bawaan. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan bagi
pasangan suami istri yang ingin membuat perjanjian
perkawinan mengenai pemisahan atau pengurusan harta,
selain itu bisa juga memperjanjikan apa saja sepanjang
tidak bertentangan dengan batasan hukum, agama, dan
kesusilaan, sebagaimana diatur dalam Pasal 29 UUP.
Pasal 37 UUP menyebutkan bahwa apabila perkawinan
putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut
hukumnya masing-masing.
Menurut penjelasan Pasal 37 yang dimaksud dengan
hukumnya masing-masing adalah hukum agama, hukum
adat dan hukum-hukum lainnya, misalnya KUHPerdata.
Harta bersama adalah harta benda yang diperoleh
selama ikatan perkawinan berlangsung dan oleh
karenanya menjadi milik bersama suami istri. Terhadap
harta bersama suami atau istri hanya dapat bertindak jika
ada persetujuan bersama. Sedangkan harta bawaan
adalah harta yang diperoleh masing-masing suami atau
istri sebagai hadiah atau warisan selama dalam ikatan
perkawinan, oleh karena itu menjadi milik masing-masing
suami istri dan berhak untuk melakukan apa saja
terhadap harta bawaan tersebut tanpa harus ada
persetujuan dari pasangannya.
Pada asasnya bahwa semua harta yang diperoleh
selama dalam ikatan perkawinan menjadi yurisdiksi harta
bersama. Asas ini kemudian dikembangkan dalam
praktek peradilan seperti dikemukakan oleh Yahya
Harahap, sehingga daya jangkaunya menjadi semakin
luas. Berdasarkan pengembangan tersebut, maka harta
perkawinan yang termasuk yurusdiksi harta bersama
adalah :
a. harta yang dibeli selama dalam ikatan perkawinan
berlangsung. Setiap barang yang dibeli selama dalam
ikatan perkawinan menjadi yurisdiksi harta bersama.
Siapa yang membeli, atas nama siapa terdaftar, dan
dimana letaknya tidak menjadi persoalan.
b. harta yang dibeli dan dibangun pasca perceraian yang
dibiayai dari harta bersama. Suatu barang termasuk
yurisdiksi harta bersama atau tidak ditentukan oleh asal-
usul biaya pembelian atau pembangunan barang yang
bersangkutan, meskipun barang itu dibeli atau dibangun
pasca terjadinya perceraian.
c. harta yang dapat dibuktikan diperoleh selama ikatan
perkawinan. Semua harta yang diperoleh selama ikatan
perkawinan dengan sendirinya menjadi harta bersama.
d. penghasilan harta bersama dan harta bawaan
Penghasilan yang berasal dari harta bersama menjadi
yurusdiksi harta bersama. Tapi bukan hanya barang yang
berasal dari harta bersama saja yang menjadi yurusdiksi
harta bersama, melainkan juga penghasilan dari harta
pribadi suami atau istri.
e. segala penghasilan pribadi suami/istri. sepanjang
mengenai penghasilan pribadi suami/istri tidak terjadi
pemisahan, bahkan dengan sendirinya terjadi
penggabungan sebagai harta bersama. Penggabungan
penghasilan pribadi suami/istri ini terjadi demi hukum
sepanjang suami/istri tidak menentukan lain dalam
perjanjian perkawinan.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa
yang menjadi ruang lingkup dari harta bersama adalah
segala harta benda yang diperoleh selama perkawinan,
tidak peduli siapa yang menghasilkan dan terdaftar atas
nama siapa. Selain itu yang menjadi yurisdiksi harta
bersama adalah setiah harta benda yang cara
perolehannya dibiayai oleh harta bersama baik itu harta
tetap yang dibeli selama perkawinan atau pasca
perceraian.
Pengelolaan harta kekayaan dalam perkawinan meliputi
langkah-langkah sebagai berikut:
Wujud Harta Kekayaan Perkawinan
1. Menurut KUH Perdata
Keperluan hidup dalam perkawinan itu membutuhkan
kekayaan duniawi yang dapat diperlukan oleh suami istri
untuk membiayai kehidupan mereka sehari-harinya,
beserta anak-anaknya. Kekayaan duniawi inilah yang
disebut: "Harta Perkawinan", "Benda Perkawinan", "Harta
keluarga", ataupun "Harta Benda Keluarga". Yang
dimaksud dengan harta kekayaan perkawinan dalam hal
ini baik harta kekayaan yang dibawa oleh masing-masing
pihak ke dalam perkawinan maupun yang diperoleh
selama dalam ikatan perkawinan.
Adapun wujud harta kekayaan perkawinan itu berasal
antara lain:
a. Dari harta warisan
Berdasarkan undang-undang terdapat dua macam cara
untuk memperoleh warisan yaitu;
1. sebagai ahli waris menurut ketentuan undang undang
atau ab in-testato dan,
2. Karena ditunjuk dalam surat wasiat (testamentair).
Adapun yang dimaksud ahli waris menurut ketentuan
undang-undang atau abintestato, berdasarkan pasal 832
yang berhak mewaris ialah: "Keluarga sedarah dan istri
(suami) yang hidup, dan jika ini semuanya tidak ada.
Maka yang berhak mewaris ialah negara.
Mengenai ahli waris menurut Undang-undang atau atau
ab intestato, berdasarkan hubungan darah terdapat
empat golongan yaitu;
a. golongan pertama, yaitu sekalian anak-anak beserta
keturunannya dalam garis lurus ke bawah, serta suami
istri yang ditinggalkan atau hidup terlama. suami atau istri
yang hidup terlama baru diakui sebagai ahli waris sejak
tahun 1923 di negeri Belanda dan tahun 1935 di
lndonesia. Hak mewaris suami istri yang hidup terlama,
berdasarkan pasal 852 a KUH perdata disamakan
dengan seorang anak yang sah.
b. Golongan ke dua, yaitu keluarga dalam garis lurus ke
atas, meliputi orang tua dan saudara pewaris. pada
asasnya bagian orang tua sama dengan bagian saudara
pewaris, tetapi ada peraturan khusus yang menjamin
bahwa bagian orang tua tidak boleh kurang dari
seperempat harta peninggalan.
c. Golongan ke tiga, meliputi kakek, nenek, garis lurus ke
atas baik itu dari pihak ibu maupun dari pihak ayah.
Apabila tidak ada ahli waris dari golongan pertama dan
ke dua. Bagian kakek, nenek ini berdasarkan Pasal 853
dan 854 KUH perdata adalah masing-masing mendapat
setengah bagian dari harta peninggalan (kloving).
d. Golongan ke empat, meliputi anggota keluarga dalam
garis ke samping dan sanak keluarga lainnya sampai
derajat keenam.
Sudiman Katohadiprojo dalam buku Pengantar Tata
Hukum tndonesia menerangkan bahwa: Yang dipanggil
pertama-tama untuk menerima warisan ialah ahli waris
dari golongan pertama, dan ahli waris dari lain-lain
golongan belum dapat giliran. Ahli waris dari golongan
ke dua harus muncul dan dapat melaksanakan haknya
kalau nyata tidak ada ahli waris lagi dari golongan
pertama, dan begitu seterusnya.
Pendeknya golongan rendah baru dipanggil setelah
tidak ada ahli waris lagi darigolongan yang lebih tinggi,
jadi golongan ke empat baru muncul kalau tidak ada dari
golongan pertama, ke dua dan ke tiga".
Pada dasarnya proses peralihan harta kekayaan
seseorang kepada ahli warisnya yang dinamakan
pewarisan dan hanya terjadi jika terpenuh i unsur-unsur
sebagai berikut;
a. Adanya seseorang meninggal dunia.
b. Adanya ahli waris
c. Adanya sejumlah kekayaan yang ditinggalkan pewaris.
Hal ini kemudian secara tegas dinyatakan dalam Pasal
833 KUH Perdata Yaitu: "Sekalian ahli waris dengan
sendirinya dalam hukum memperoleh hak milik atas
segala hak dan piutang dari yang meninggal". Sedangkan
pewarisan karena ditunjuk dalam surat wasiat
(testament). Testament ialah;"Suatu pernyataan dari
seorang tentang apa yang dikehendaki setelah ia
meninggal".
Pewarisan berdasarkan wasiat atau testament itu ada
dua macam:
1. Apa yang dinamakan "ERFSTELLlNG",yaitu seorang
tertentu ditunjuk oleh sipeninggal warisan untuk
menerima seluruh harta warisan atau sebagian tertentu,
misal seperdua, sepertiga dan sebagainya (Pasal 954
KUH Perdata).
2. Legaat, yaitu seorang peninggal warisan dalam
testarment menunjuk seorang tertentu untuk mewaris
barang tertentu atau sekumpulan barang tertentu,
misalnya suatu rumah tertentu, atau suatu mobil tertentu
atau semua barang-barang bergerak milik sipeninggal
warisan, atau hak memetik hasil atau seluruh harta
warisan atau sebagian (Pasal 952 KUH perdata).
selanjutnya dalam pasar 955 dan pasal 958 KUH per
data (BW) dapat diambil kesimpulan bahwa orang yang
mendapat "ERFSSTELLING" yaitu mempunyai
kedudukan sebagai seorang ahli waris ab intestato,
dalam arti bahwa dua-duanya ahli waris itu tidak hanya
menerima hak-hak yang melekat pada harta warisan,
melainkan juga kewajiban-kewajiban, antara lain untuk
membayar hutang dari sipeninggal warisan. Kemudian
seorang mendapat legaat, tidak berkedudukan sebagai
ahli waris ab intestato dalam arti bahwa seorang legataris
oleh si peninggal warisan diberi hak untuk menerima
barang tertentu dari harta warisan, bahkan legataris itu
dapat menuntut dari ahli waris supaya barang tertentu itu
diserahkan kepadanya (pasal 959 ayat (1)) KUH Perdata.
Dengan demikian kedudukan seorang legataris adalah
sebagai seorang berpiutang (kreditur) dari si pewaris, oleh
karena itu legataris tidak ikut bertanggung jawab atas
hutang-hutang si pewaris. suatu testament setiap waktu
dapat ditarik kembali (heroepen). Kecuali pemberian
warisan yang telah dicantumkan dalam perjanjian
perkawinan, karena perjanjian perkawinan itu hanya
dibuat dihadapan pejabat yang berwenang dan tidak
dapat dirubah.
sehubungan dengan masalah waris, maka ahli waris baik
yang berdasarkan undang-undang maupun ahli waris
yang ditunjuk berdasarkan surat wasiat (testament), kedua
ahli waris ini berkaitan erat dengan apa yang dinamakan
"Legitime portie". Para ahli waris dalam garis lancang
baik ke atas maupun ke bawah berhak atas suatu
Legitieme Portie", yaitu suatu bagian warisan yang tidak
dapat dikurangi dengan suatu ketentuan dari pewaris.
Adapun tujuan dari legitieme portie adalah untuk melindungi
kepentingan para ahli waris yang mempunyai hubungan darah
langsung dengan pewaris, sesuai dengan ketentuan Pasal 881
ayat (2) KUH perdata: "Dengan Suatu pengangkatan waris atau
pemberian hibah pihak yang mewariskan tak boleh merugikan
para ahli waris yang berhak atas suatu bagian mutlak".
Pasal 913 KUH Perdata;
"Bagian mutlak atau legitieme portie, adalah suatu bagian dari
harta peninggalan yang harus diberikan kepada para waris
dalam garis lurus menurut undang-undang, terhadap bagian
mana si yang meninggal tak diperbolehkan menetapkan
sesuatu, baik selaku pemberian antara yang masih hidup
maupun selaku wasiat oleh karena itu peraturan perundang-
undang tersebut mempunyai sifat memaksa, sedangkan untuk
seorang istri atau suami akan mendapatkan harta kekayaan
dengan melalui pewarisan baik itu secara langsung maupun
dalam bentuk testament.
b. Dari Hadiah
Hadiah merupakan suatu pemberian yang timbul karena
rasa simpatik terhadap seseorang yang berprestasi atau
menghargai seseorang yang disebabkan hal-hal tertentu,
misalnya dalam suatu perkawinan biasanya orang
memberi hadiah berupa kado kepada mempelai berdua,
oleh karenanya barang-barang tersebut, menjadi harta
milik bersama suami istri. Jika pada saat pernikahan istri
atau mempelai perempuan memperoleh hadiah dari
calon suami atau dari anggota keluarga lainnya, maka itu
akan menjadi milik istri sendiri dan orang lain harus
menghargainya. Harta tersebut akan menjadi harta
bersama, yang merupakan percampuran antara
kekayaan suami dan kekayaan istri, jika tidak ada
perjanjian apapun sebelumnya. Hal ini tidak dapat
dirubah sepanjang perkawinan.
Dengan percampuran harta kekayaan suami istri itu
merupakan kekuasaan suami secara penuh, meskipun
harta kekayaan itu merupakan harta bawaan istri ke
dalam perkawinan yang tidak ditentukan lain dalam
perkawinan, maka suami mempunyai hak untuk
pengurusannya dan suamipun tidak diwajibkan untuk
memberikan pertanggung jawaban. Tapi apabila salah
satu pihak menentukan lain atau mengadakan perjanjian
perkawinan (huweliikse voorwaarden), maka perjanjian itu
harus dilakukan sebelum pernikahan ditutup/dilaksanakan
dan dinyatakan dalam suatu akte notaris.
Untuk memperkuat kedudukan istri itu, maka kepada istri
undang-undang memberikan tiga buah upaya hukum,
yaitu;
1. Wewenang untuk minta pemisahan harta Pasal 186
BW, dengan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan.
2. Wewenang untk minta agar suaminya diletakkan di
bawah pengampuan (curatele) Pasal 434 ayat (3) BW,
dengan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan;
3. Wewenang untuk minta pelepasan atas persatuan
harta kekayaan (ashtand van gemenschap) Pasal 132
ayat (1) BW.
Selain dari itu perlu diingat bahwa: Walaupun Pasal 124
BW Menyatakan bahwa suami mempunyai wewenang
pengurusan atas persatuan harta kekayaan, namun
dalam beberapa hal istripun berwenang pula untuk
mengurusi persatuan harta kekayaan itu, terutama dalam:
1. Mengadakan pengeluaran-pengeluaran untuk
keperluan rumah tangganya Pasal 109 BW.
2. Mengadakan perjanjian (umpama membuat hutang)
dalam menjalankan suatu pekerjaan yang berhubungan
dengan mata pencahariannya (berep) Pasal 113 BW.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berakhirnya
kesatuan atau persatuan harta kekayaan itu dengan:
1. Karena kematian;
2. Karena berlangsungnya suatu perkawinan baru atas
seizin hakim berhubung dengan keadaaan tak hadir
(afwezigheid);
3. Karena perpisahan meja dan tempat tidur (scheiding
van tefel en bed);
4. Karena perceraian;
5. Karena perpisahan harta kekayaan (scheiding van
goederen)".
Oleh karena itu baik harta suami maupun harta istri yang
diperolehnya dari warisan, hadiah dan sebagainya, hal ini
terserah kepada ke dua belah pihak yang bersangkutan.
Apakah akan diadakan percampuran harta kekayaan atau
tidak.
c. Dari Usaha Sendiri
Kehidupan manusia didunia ini mempunyai kebutuhan,
kebutuhan itu selalu mendorong manusia untuk lebih giat
bekerja dengan mengharapkan hasil yang maksimal atau
sesuai dengan usahanya itu, hasil dari usaha manusia itu
sendiri terdiri dari berbagai macam, baik hasil yang
abstrak artinya yang tidak nampak misalnya
mendapatkan kegembiraan, kenikmatan dan lain-lainnya,
maupun hasil yang bersifat konkrit atau bisa dilihat bentuk
dan jenisnya. Suami maupun istri masing-masing
mempunyai kemungkinan selama dalam perkawinan itu
memiliki atau mendapatkan barang-barang atas jasa-
jasanya sendiri.
Dalam KUH Perdata (BW), Meskipun istri memiliki
kedudukan sehagai ibu rumah tangga, namun usaha
melaksanakan kehidupan rumah tangga tersebut dibatasi,
demikian juga dalam segala kegiatan kehidupan
bermasyarakat memiliki batas-batas tertentu untuk
melakukan perbuatan hukum. Karena KUH Perdata (BW),
beranggapan bahwa perempuan yang menikah itu tidak
cakap (onbekwaam) untuk melakukan perbuatan hukum,
misalnya apabila sang istri akan melakukan perbuatan
hukum harus mendapatkan persetujuan dan izin dari
suaminya, baik izin itu dibuat secara tertulis dalam akta
maupun izin lisan secara tidak tertulis.
sejak tahun 1963 Mahkamah Agung mengeluarkan Surat
Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 tahun 1963",yang
menganggap tidak berlaku lagi delapan buah pasal dalam
BW, antara lain pasal 108, 110, 284 ayat (3) dan lai-lain;
Tentang wewenang seorang istri untuk melakukan perbuatan
hukum dan untuk menghadap dimuka pengadilan tanpa
bantuan dari suami, dengan demikian maka tidaklah ada lagi
perbedaan antara suami dan istri, karenanya sejak saat itu
wanita/istri dapat bertindak sebagai subyek hukum dan segala
apa yang dilakukan nya dapat dipertanggungjawabkan
Harta benda yang diperoleh baik oleh suami maupun oleh istri
dari hasil usahanya sendiri merupakan hak miliknya masing-
masing yang patut dihargai dan dihormati. Pada asasnya KUH
perdata menganut "Azas percampuran kekayaan dalam suatu
perkawinan, oleh karena itu harta kekayaan yang diperoleh
dari hasil usaha suami atau istri selama tidak ditentukan lain,
maka harta kekayaan itu termasuk harta percampuran
perkawinan
Dalam suatu perkawinan suami adalah kepala keluarga,
jadi dengan sendirinya suami mempunyai
tanggungjawab penuh terhadap keluarga dan berhak
mengurus serta menjaga harta kekayaan bersama
disamping itu juga ia berhak untuk mengurus harta
kekayaan milik istrinya. Sebagaimana dijelaskan dalarir
pasal 124 ayat (1) BW; "Milik bersama dari suami istri
diurus oleh suami". walaupun pasal 124 tersebut
menyatakan bahwa suami mempunyai wewenang
pengurusan atas persatuan harta kekayaan, tapi dalam
beberapa ha istripun mempunyai wewenang untuk
mengurusi persatuan harta kekayaan itu, terutama dalam
hal;
1. Mengadakan pengeluaran-pengeluaran untuk
keperluan rumah tangganya Pasal 109 BW.
2. Mengadakan perjanjian (umpama, membuat hutang)
dalam menjalankan suatu pekerjaan yang berhubungan
dengan mata pencaharian (bereep) Pasal 113 BW.
Selanjutnya dijelaskan dalam Pasal 124 ayat (3);
"Hak mengurus kekayaan bersama (gemeenschap)
berada di tangan suami, yang dalam hal ini mempunyai
kekuasaan yang sangat luas. Selanjutnya bahwa ia
tentang pengurusan itu tak bertanggungjawab kepada
siapapun juga, pembatasan terhadap kekuasaannya
hanya terletak dalam larangan untuk memberikan dengan
percuma benda-benda yang bergerak atau seluruh atau
sebagian dari semua benda-benda yang bergerak kepada
lain orang selainnya kepada anaknya sendiri, yang lahir
dari perkawinan itu.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa segala
macam harta benda yang didapat oleh suami atau istri
setelah perkawinan berlangsung, manjadi harta
kekayaan bersama, jika tidak diadakan perjanjian
pemisahan harta kekayaan atau scheiding van
gooderen sebelumnya, kecuali harta yang didapat
dengan jalan warisan, wasiat, hibah.

2. Menurut Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974


Tentang Perkawinan
Dalam suatu kehidupan rumah tangga itu selalu
membutuhkan harta kakayaan untuk keperluan hidup
bersama baik untuk kepentingan keluarga maupun
kepentingan bermasyarakat dalam perikatan
kekeluargaan. Guna keperluan hidup bersama-sama
inilah istri maupun suami dapat menggunakan harta
benda atau suatu kekayaan untuk keperluan hidup dalam
rumah tangganya.
Adapun wujud harta kekayaan suami istri itu, Undang-
undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan,
menyebutkan tiga macam harta kekayaan yaitu antara
lain;
a. Dari harta bawaan
Dalam perkawinan baik suami maupun istri, masing-
masing mempunyai kemungkinan untuk memiliki barang-
barang atas jasa-jasanya sendiri. Apabila suami yang
memperoleh barang itu, lalu dibawa ke dalam
perkawinannya, maka ia sendiri menjadi pemiliknya dan
istrinya menurut Undang-undang Nomor 1 tahun 1974
tentang perkawinan tidak ikut memilikinya, tetapi wajar
katau istri itu sebagai anggota keluarga, turut menikmati
manfaat dari hasil barang-barang itu.
Demikian juga sebaliknya apabila istri yang memperoleh
barangnya serta yang menjadi pemiliknya. Apabila
melakukan transaksi dengan barang-barang ini
diperlukan lebih dahulu permufakatan ke dua belah
suami dan istri. Berdasarkan pasal 35 ayat (2) Undang-
undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan,
berbunyi sebagai berikut; "Harta bawaan dari masing-
masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh
masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah di
bawah penguasaan masing-masing sepanjang para
pihak tidak menentukan lain".
Dengan demikian harta bawaan ini tetap menjadi milik suami
atau istrinya bersangkutan, demikian juga hutang. Masing-
masing suami istri mempunyai hak sepenuhnya untuk
melakukan perbuatan hukum terhadap harta bawaan tersebut.
Sesuai dengan isi pasal 36 ayat (2) undang-undang Nomor 1
tahun 1974 tentang perkawinan, yang menyebutkan:"Mengenai
harta bawaan masing-masing suami dan istri mempunyai hak
sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai
harta bendanya.
b. Dari Harta bersama
Harta bersama adalah harta benda yang diperoleh baik oleh
suami atau istri selama dalam ikatan perkawinan untuk
kepentingan keluarganya, sehingga barang-barang yang
diperoleh dalam perkawinan itu menjadi harta kekayaan
bersama, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 35 ayat (1)
Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan
berbunyi sebagai berikut: "Harta benda yang diperoleh selama
perkawinan menjadi harta bersama'.
Dalam hal harta bersama ini, baik suami atau istri dapat
mempergunakannyadengan persetujuan salah satu
pihak. Sesuai dengan isi Pasal 39 ayat (1), Undang-
undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perawinan sebagai
berikut: "Mengenai harta bersama, suami atau istri dapat
bertindak atas persetujuan kedua belah pihak".
Apabila suami istri mempunyai hutang selama
perkawinan suami istri tersebut, bertanggungjawab
dengan harta bersama mereka, maupun dengan harta
bawaan mereka. Jika hutang tersebut adalah hutang
suami, maka suami yang bertanggungjawab dengan
harta bawaannya dan dengan harta bersama. Harta
bawaan istri tidak dipertanggungjawabkan untuk hutang
suami. Adapun yang menyangkut hutang suami atau
istri, setelah perceraian suami atau istri
bertanggungjawab sendiri dengan hartanya.
c. Dari Hadiah atau Warisan
Azas yang berlaku umum di lndonesia sehubungan
dengan harta yang diperoleh secara hadiah atau
warisan, maka yang menjadi pemiliknya adalah suami
atau istri yang menerima hadiah atau warisan itu Sesuai
dengan apa yang tercantum dalam Pasal 35 ayat (2)
Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang
Perkawinan, berbunyi sebagai berikut: Harta bawaan
dari masing-masing suami dan istri dan harta benda
yang diperoreh masing-masing sebagai hadiah atau
warisan adalah di bawah penguasaan masing-masing
sepanjang para pihak tidak menentukan lain".
Khusus mengenai harta bawaan dan harta yang
diperoleh selama dalam ikatan perkawinan sebagai
hadiah atau warisan, untuk penguasaannya suami dan
istri dapat mengadakan perjanjian misalnya dalam
penguasaannya akan diserahkan kepada suami. Dengan
demikian baik harta yang diperoleh suami maupun harta
yang diperoleh istri dari hadiah atau warisan terserah
kepada kesepakatan kedua belah pihak (suami istri)
untuk kepengurusan hartanya.
3. Menurut Hukum Islam
Dalam kehidupan keluarga atau kehidupan rumah
tangga yang terdiri dari suami istri dan anak-anak harus
ada saling pengertian dan tolong menolong untuk
mencari penghidupan atau harta kekayaan, karena harta
kekayaan itu mempunyai peranan yang penting dalam
mendukung kehidupan keluarga baik itu harta suami
maupun harta istri, sesuai dengan firman Allah dalam
surat Al Qoshas ayat 77, sebagai berikut:
"Dan carilah apa yang telah dianugrahkan Allah
kepadamu kampung akhirat, dan janganlah kamu
melupakan bagimu dari (kenikmatan) duniawi, dan
berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah
telah berbuat baik kepadamu.
Adapun wujud harta kekayaan perkawinan suami/istri itu
didapat dengan bermacam cara antara lain:
a. Dari Harta Warisan
Agama lslam merupakan agama yang sangat sempurna,
di
dalamnya telah mengatur segala persoalan-persoalan
yang timbul dari berbagai segi, hal ini dijelaskan Allah swt
dalam surat Al Maidah ayat 3 sebagai berikut: Pada hari
ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan
telah Ku cukupkan nikmatKu kepadamu, dan telah Ku
ridhoi lslam itu jadi agamamu.
Bertitik tolak dari kesempurnaan agama Islam itu,
masalah harta kekayaanpun diaturnya sedemikian rupa,
dan telah meletakkan dasar-dasar yang layak tentang
hak-hak kaum wanita, baik ditinjau dari segi moril maupun
dari segi materil
Dari sudut moril, Islam memberikan persamaan hak kepada laki-laki
maupun perempuan mengenai kenikmatan hidup dan kebahagiaan,
sebagai balasan tentang perbuatan-perbuatan kebajikan yang
mereka lakukan masing-masing. Tidak berlebih untuk laki-laki dan
tidak berkurang untuk perempuan, kedua-duanya mendapat hak
yang sama dan serupa. sedangkan dari sudut materil, Islam
memandang dan menilai kaum perempuan sama-sama mempunyai
hak dengan kaum laki-laki. Mereka berhak memiliki dan sama-sama
mendapat kebahagiaan laki-laki tentang harta pusaka, Dalam
pembagian harta pusaka itu, baik laki-laki maupun perempuan
mempunyai hak yang sama yaitu sama-sama berhak untuk
mendapatkan bagian, seperti yang dijelaskan dalam Al Qur an surat
An Nisa'ayat 7:
Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu
bapak dan karabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian pula
dari harta peninggalan ibu bapak dan karabatnya, baik sedikit atau
banyak menurut bagian yang telah ditetapkan".
Demikian juga harta yang diusahakan atau yang diperoleh
baik oleh kaum pria maupun kaum wanita sama-sama
mendapat bagian masing-masing, sebagaimana dijelaskan
dalam Al Qur an surat An Nisa ayat 32;
"Bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka
usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa
yang mereka usahakan".
Berdasarkan ajaran agama Islam bahwa kaum laki-laki itu
mempunyai tanggung jawab lebih berat dari kaum perempuan,
oleh karena itu wajar kalau pembagian harta warisan itu kaum
laki-laki lebih besar dari kaum wanita, sebagaimana Allah
berfirman dalam surat An Nisa ayat 11 yaitu:
"Allah mensyari,atkan bagimu tentang (pembagian pusaka
untuk) anak-anakmu, yaitu bagian seorang anak-anak laki-laki
sama dengan dua orang anak perempuan
Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Agama lslam
tidak membedakan antara laki-laki dengan perempuan baik dalam hal
kenikmatan hidup maupun kebahagiaan, mereka sama-sama
mempunyai hak untuk mendapatkan bagian dari harta warisan.

b. Dari maskawin
Dengan melakukan pernikahan maka suami diwajibkan untuk
memberikan sesuatu pemberian kepada istri, baik itu berupa uang
atau berupa barang (harta benda). Berdasarkan ketentuan Pasal 30
Kompilasi Hukum Islam menyebutkan bahwa; Calon mempelai pria
wajib membayar mahar kepada calon mempelai wanita yang jumlah,
bentuk dan jenisnya disepakati oleh kedua belah pihak. Sedangkan
dalam Al Quran surat An Nisa' ayat 4 yang artinya menyebutkan;
"Berikanlah mas kawin kepada wanita (kamu nikahi) sebagai
pemberian yang wajib kemudian jika mereka menyerahkan kepada
kamu sebagian dari pemberian itu/maskawin itu dengan suami
dengan senang hati, maka makanlah (ambilah) pemberian itu
(sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya".
Surat An-Nisa ayat 25:
"Maka istri-istri yang telah kamu campuri, berikanlah
kepada mereka mahar yang sempurna, sebagai suatu
kewajiban, dan tidak ada halangannya kamu perlakukan
mahar itu sesuai dengan kerelaanmu (suami istri), setelah
ditentukan wujud dan kadarnya".
Dari ke dua ayat tersebut di atas dapat disimpulkan
bahwa mahar adalah merupakan Pemberian wajib dari
suami kepada istrinya, mengenai jumlah besar kecilnya
maupun wujudnya itu diserahkan kepada kesepakatan
keduabelah pihak. Dalam Kompilasi Hukum lslam Pasal
31 menyebutkan bahwa; "Penentuan mahar berdasarkan
asas kesederhanaan dan kemudahan yang dianjurkan
oleh ajaran lslam".
Sedangkan mahar diberikan langsung kepada calon
mempelai wanita, dan sejak itu menjadi hak pribadinya.
(pasal 32 Kompilasi).
Dengan demikian pengertian mahar ialah pemberian
wajib yang diberikan dan dinyatakan oleh calon suami
kepada calon istrinya di dalam shighat akad nikah yang
merupakan tanda persetujuan dan kerelaan dari mereka
untuk hidup sebagai suami istri. Yang penting bagi calon
suami wajib memberi mahar kepada istrinya dalam
bentuk atau wujud apapun asal mempunyai nilai dan
halal.
a. Mahar Musamma
Mahar Musamma ialah Mahar yang telah ditetapkan
jumlahnya dalam shighat akad, ini dapat dibedakan
menjadi dua yaitu;
1. Mahar yang segera diberikan.
2. Mahar yang pemberiannya ditangguhkan, jadi tidak
seketika dibayarkan sesuai dengan persetujuan ke dua
belah pihak.
b. Mahar Mitsil
Mahar Mitsil ialah Mahar yang jumlahnya ditetapkan
menurut jumlah yang diterima keluarga pihak istri, karena
pada waktu akad nikah jumlah mahar dan bentuknya
belum ditetapkan.
Berdasarkan Kompilasi hukum lslam ketentuan
pemberian mahar itu
diatur dalam Pasal 33 sampai dengan pasal 38.
(1) Penyerahan mahar dilakukan dengan tunai.
(2) Apabila calon mempelai wanita setuju, penyerahan
mahar boleh ditangguhkan baik untuk seluruh atau untuk
sebagian.
Mahar yang belum di tunaikan penyerahannya menjadi
hutang calon mempelai pria.

Pasal 34:
(1) Kewajiban menyerahkan mahar bukan merupakan rukun
dalam perkawinan
(2) Kelalaian menyebutkan jenis dan jumlah mahar pada waktu
akad nikah, tidak menyebabkan batalnya perkawinan. begitu
pula halnya dalam keadaan masih terhutang tidak mengurangi
sahnya perkawinan
Pasal 35:
(1) suami yang mentalak istrinya gobla ar dukhul wajib
membayar setengah mahar yang telah ditentukan dalam akad
nikah.
(2) Apabila suami meninggal dunia gobla ar dukhul seluruh
mahar yang ditetapkan menjadi hak penuh istrinya.
(3) Apabila perceraian terjadi gobla ar dukhul tetapi besarnya
mahar belum ditetapkan, maka suami wajib membayar mahar
mitsil.
Pasal 36;
"Apabila mahar hilang sebelum diserahkan, mahar itu dapat diganti
dengan barang lain yang sama bentuk dan jenisnya atau dengan
barang lain yang sama nilainya atau dengan uang yang senilai
dengan harga barang mahar yang hilang.
Pasal 37:
"Apabiia terjadi selisih pendapat mengenai jenis dan nilai mahar yang
ditetapkan, penyelesaiannya diajukan ke pengadilan Agama".
Pasal 38:
(l) Apabila mahar yang diserahkan mengandung cacat atau kurang,
tetapi calon mempelai wanita tetap bersedia menerimanya tanpa
syarat, penyerahan mahar dianggap lunas
(2) Apabila istri menolak untuk menerima mahar karena cacat,
suami harus menggantinya dengan mahar lain yang tidak cacat.
Selama penggantinya belum diserahkan, mahar dianggap masih
belum dibayar.
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa mahar (mas
kawin) adalah merupakan kewajiban yang harus dibayar oleh suami
terhadap istrinya, karena maskawin itu adalah hak mutlak bagi
seorang istri. Dan juga merupakan salah satu dari harta kekayaan
milik istri.
c. Dari hibah dan hadiah
I. Hibah
Hibah ialah memberikan zat dengan tidak ada tukarannya dan tidak
ada karenanya. Dengan memperhatikan definisi tersebut di atas
maka dapat diambil kesimpulan bahwa hibah ialah suatu pemberian
terhadap orang lain baik berupa barang atau benda maupun berupa
surat-surat berharga tanpa imbalan sesuatu apapun dan diberikan
dengan sukarela. Sebagai dasar hukum hibah ini ialah Sabda
Rasulultrah SAW sebagai berikut;
Dari ibnu Umar dan lbnu Abbas; telah bersabda Nabi besar SAW
Tidak halal bagi seorang laki-laki yang muslim bila ia memberikan
sesuatu pemberian kemudian dicabutnya kembali. Kecuali
pemberian bapak kepada anaknya"" Riwayat Ahmad dan disahkan
oleh Tirmidzi dn lbnu Hibban.
Rukun Hibah
1. Yang memberi (wahib), dengan syarat-syarat sebagai
berikut;
a. Orang yang berhak memperedarkan hartanya. Dengan
demikian orang yang kurang sehat akal pikirannya atau anak-
anak di bawah umur tertentu tidak berhak memberikan
hartanya kepada orang lain.
b. Harta/benda/barang yang diberikan kepada orang lain
adalah milik sendiri.
2. Orang yang diberi (mauhubah) dengan syarat-syarat
bahwa orang yang menerima hibah itu menggunakannya.
Olah karena itu tidak sah pemberian hibah itu di arahkan
kepada anak yang dalam kandungan ibunya.
3. Barang/harta/benda yang diberikan (mauhub); adalah
dengan syarat bahwa harta/benda/barang itu boleh diperjual
belikan.
4. Shighat qabut antara pemberi dan penerima hibah.
II. Hadiah
Arti kata hadiah menurut bahasa yaitu; "Hadiah jama'nya
hadya, dan hadawa serta hadawin, muannas hadiyi
yaitu:"Apa-apa yang menimbulkan atau membangkitkan
dengannya kemuliaan atau kecintaan". Dalam istilah
syara' hadiah yaitu; "Pemberian/Penyerahan sesuatu
benda/barang kepada orang lain yang disebabkan ada
sesuatu hal yang patut dihargai.
Dengan demikian hadiah merupakan hak milik penuh
bagi orang yang diberi, dan dapat pula disatukan menjadi
harta bersama sepanjang adanya persetujuan dari kedua
belah pihak (suami istri).
d. Dari hasil Usaha sendiri
Harta perkawinan lazimnya dapat dipisah-pisahkan
dalam 4 golongan sebagai berikut;
a. Barang-barang yang diperoleh suami atau istri secara
warisan atau penghibahan dari kerabat (famili) masing-
masing dan dibawa ke dalam perkawinan.
b. Barang-barang yang dalam masa perkawinan
diperoleh suami dan istri sebagai milik bersama.
c. Barang-barang yang dipeoleh suami atau istri untuk
diri sendiri serta atas jasa diri sendiri sebelum
perkawinan atau dalam masa perkawinan
d. Barang-barang yang dihadiahkan kepada suami dan
istri bersama pada waktu pernikahan.
Pada dasarnya menurut Hukum lslam harta suami istri itu
terpisah, jadi masing-masing mempunyai hak untuk
menggunakan atau membelanjakan hartanya dengan
sepenuhnya, tanpa boleh diganggu oleh pihak lain. Harta
benda yang menjadi hak sepenuhnya masing-masing
pihak ialah harta bawaan masing-masing sebelum terjadi
ikatan perkawinan ataupun harta yang diperoleh masing-
masing pihak dalam suatu ikatan perkawinan yang bukan
merupakan usaha bersama, misalnya; menerima warisan,
hibah, hadiah dan lain sebagainya. Sebagai dasar
hukumnya, firman AIlah dalam surat An nisa' ayat 32 yang
artinya; "(Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari
apa yang mereka usahakan, dan bagi wanita (pun), ada
bagian dari apa yang mereka usahakan".
Dan dijelaskan juga dalam surat An Nisa' ayat 29;
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu makan
harta sesamamu dengan jalan yang bathil kecuali
dengan perniagaan yang berlaku dengan suka sama
suka diantara kamu".
Menurut Sayuti Thalib dalam buku "Hukum
Kekeluargaan lndonesia bahwa terpisahnya harta suami
istri itu memberikan hak yang sama bagi istri dan suami
mengatur hartanya sesuai dengan kebijaksanaannya
masing-masing. Sedangkan untuk mencari nafkah dan
membelanjai rumah tangga adalah kewajiban suami.
Suami tidak boleh menggunakan harta kekayaan istri
meski bagaimanapun keadaannya, kecuali dengan seizin
istrinya. Untuk menjaga dan memelihara serta menjamin
keutuhan harta kekayaan istri yang seringkali menyangkut
pihak ke tiga, suami mempunyai hak untuk mengontrol
dan mengawasi peredaran dan penanganan dari harta
kekayaan tersebut. Oleh karena itu suami berhak atas
harta kekayaan istri untuk mengurusnya, serta
berkewjiban memelihara dan menjaga keutuhan harta
kekayaan istri, demi kepentingan pihak ketiga.
Bentuk-bentuk pengelolaan harta kekayaan perkawinan
(Harta Bersama dan Harta dalam Perjanjian Perkawinan)
Seorang sarjana sosiologi Polak menerangkan dan
menggambarkan rumah tangga itu sebagai berikut:
"Rumah tangga adalah markas atau pusat dari mana
denyut-denyut pergaulan hidup itu menggetar. Dia adalah
susunan yang hidup yang dapat rnengekalkan keturunan.
Sebenarnya rumah tangga itu adalah alam pergaulan
manusia yang sudah diperkecil. Bukankah dirumah
tangga itu lahir dan tumbuh apa yang disebut kekuasaan,
agama, pendidikan, hukum dan perusahaan. Famili
adalah jama'ah yang bulat, teratur, dan sempurna. Dari
situ bergelora perasaan halus (wujdan) dan sukma yang
hidup yang sebagai mata air prikemanusiaan, dan telaga
persaudaraan jagat yang tidak akan kering.
Dalam kehidupan berumah tangga yang terdiri dari suami,
istri dan anak-anak yang senantiasa memerlukan
bimbingan dan tuntunan untuk menuju kejalan yang benar,
dan keridhoan Allah, Suami sebagai kepala keluarga
dituntut untuk memberikan bimbingan dan pengarahan
bahkan mempunyai tanggung jawab penuh dalam
kehidupan rumah tangga, sebagaimana firman Allah dalam
Surat Anisa' ayat3.4.
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita,
oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-
laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka
(laki-laki) telah menafkahkan harta mereka".

Seorang suami sebagai kepala keluarga seharusnyalah


bersikap baik dan menghormati hak-hak istri dan anak-
anaknya dengan cara menjalankan kewajiban-kewajibannya
dengan sebaik-baiknya. Hak dan kewajiban suami istri
dibedakan dalam 2 hal yaitu;
1. Akibat-akibat yang timbul dari hubungan suami istri itu
sendiri.
2. Akibat-akibat yang timbul dari kekuasaan sumi (maritale
macht).
Akibat yang timbul dari hubungan suami istri sendiri adalah
kewajiban suami untuk saling setia, saling tolong menolong
dan bantu membantu. Kemudian akibat-akibat yang timbul
dan kekuasaan suami (maritale macht), yaitu suami
diperkenankan mengurus dan menentukan;
a. Harta kekayaan bersama.
b. Sebagian besar harta kekayaan milik istrinya.
c. Menentukan tempat kediaman bersama, dan
d. Persoalan-persoalan yang menyangkut kekuasaan orang
tua.
1. Menurut KUH Perdata
a. Secara percampuran harta kekayaan
Pada prinsipnya KUHPerdata menganut azas
percampuran harta kekayaan suami istri. Subekti
menyatakan; "Sejak mulainya perkawinan terjadi suatu
percampuran harta kekayaan suami dan kekayaan istri
(algehele gemeenschap van goederen), jikalau tidak
diadakan perjanjian apa-apa. Keadaan yang demikian itu
berlangsung seterusnya dan tak dapat di ubah lagi
selama perkawinan. Jikalau orang ingin dari peraturan
umum itu ia harus meletakkan keinginan itu dalam suatu
perjanjian yang demikian ini harus diadakan sebelumnya
pernikahan ditutup dan harus diletakkan dalam suatu akte
notaris".
Sebagai dasar prinsip ini ialah Pasal 119 KUH Perdata
(BW) sebagai berikut;
"Mulai saat perkawinan dilangsungkan, demi hukum
berlakulah persatuan bulat antara harta kekayaan suami
dan istri, sekedar mengenai itu dengan perjanjian kawin
tidak diadakan ketentuan lain. Persatuan itu sepanjang
perkawinan tak boleh ditiadakan atau di ubah dengan
sesuatu persetujuan antara suami dan istri'.
Sedangkan Pasal 120, Pasal 121.Pasal 122KUH Perdata
(BW), mengatur tentang luasnya persatuan harta
kekayaan, yang pada dasarnya mengatakan bahwa
luasnya persatuan harta kekayaan itu meliputi semua
aktiva dan passiva, baik yang diperoleh suami istri itu
sebelum maupun selama perkawinannya, termasuk
modal, bunga, bahkan juga hutang yang diakibatkan oleh
suatu perbuatan melawan hukum.

Dengan demikian yang tergolong dalam harta benda suami


istri
adalah harta yang dihasilkan oleh mereka (suami istri) sebagai
hasil usaha yang didapat oleh masing-masing pihak setelah
perkawinan dilangsungkan, baik hasil dari suami maupun hasil
istri, sedangkan harta yang diperoleh oleh masing-masing
pihak sebelum perkawinan dilangsungkan,tetap menjadi hak
milik mutlak bagi yang memperoleh harta tersebut, baik harta
itu diperoleh merupakan hasil ketentuan undang-undang
umpamanya harta warisan atau harta hibah, atau harta itu
diperoleh dari hasil usahanya sendiri. Apabila sebelum
perkawinan berlangsung mereka (suami istri) mengadakan
perjanjian untuk pemisahan harta kekayaan (scheiding van
gooderen), maka harta kekayaan yang diperoleh masing-
masing menjadi hak milik sendiri-sendiri.
Namun demikian dalam suatu perkawinan undang-undang
menetapkan suami adalah kepala keluarga atau sebagai
pengurusnya. Dengan kata lain suami berhak untuk mengurus
kekayaan mereka bersama, disamping itu ia berhak mengurus
kekayaan milik istrinya.
Lebih lanjut Subekti menjelaskan bahwa Pasal 124 KUH Perdata
menyebutkan;
"Hak mengurus kekayaan bersama (gemenschap) berada ditangan
suami yang dalam hal ini mempunyai kekuasaan yang sangat luas.
selanjutnya bahwa ia tentang pengurusan itu tak bertanggung jawab
kepada siapapun juga, pembatasan terhadap kekuasaannya hanya
terletak dalam larangan untuk memberikan dengan percuma benda-
benda yang bergerak atau seluruh atau sebagian dari semua benda
yang bergerak kepada lain orang selainnya kepada anaknya sendiri,
yang lahir dari perkawinan itu.
Kekuasaan suami itu didasarkan azas maritalemacht, yaitu suami
diperbolehkan mengurus dan menentukan;
a. Harta kekayaan bersama;
b. Sebagian besar harta kekayaan milik istrinya.
c. Menentukan tempat kediaman bersama; dan
d. Persoalan-persoalan yang menyangkut kekuasaan orang tua.
sedangkan kewajibannya ialah memberi nafkah,
pakaian, pendidikan anak dan sebagainya. sebelum
adanya atau dikeluarkannya Surat Edaran Mahkamah
Agung Nomor 3 tahun 1963, yang berhak untuk
mengurus harta kekayaan bersama itu berada ditangan
suami sepenuhnya, sedangkan istri dianggap tidak
cakap untuk bertindak sebagai subyek hukum.
Kemudian setelah di keluarkannya SEMA Nomor 3
tahun 1963 tersebut, baik suami maupun istri berhak
untuk mengurus dan menjaga harta kekayaan bersama
itu, karena sejak saat itu wanita/istri dapat bertindak
sebagai subyek hukum serta segala apa yang
dilakukannya dapat di pertanggung jawabkan.
b. Dengan perjanjian perkawinan
Perjanjian perkawinan adalah perjanjian yang dibuat
oleh dua orang suami istri untuk mengatur akibat-akibat
mengenai harta kekayaan dan perjanjian perkawinan ini
lebih bercorak hukum kekeluargaan (Familie Rechtelijk).
Adapun Perjanjian perkawinan ini berdasarkan ketentuan
undang-undang harus dilakukan sebelum pernikahan itu
dilangsungkan dan harus dicatatkan dalam suatu akte
notaris. pada umumnya perjanjian perkawinan dibuat
manakala salah satu pihak mempunyai harta yang lebih
banyak dibandingkan dengan pihak yang lainnya.
Maksud pembuatan perjanjian perkawinan ini adalah
untuk mengadakan penyimpangan terhadap ketentuan-
ketentun tentang persatuan harta kekayaan seperti yang
ditetapkan dalam Pasal 109 KUHPerdata.

Di dalam perjanjian perkawinan terdapat dua buah


bentuk perjanjian perkawinan atas persatuan harta
kekayaan yang terbatas yang sering kita jumpai dalam
Hukum Perkawinan, yaitu;
a. Percampuran laba rugi (gemenschap van winst en
verlies).
Pokok pikiran dari perjanjian percampuran laba rugi
ialah bahwa masing-masing pihak tetap akan memiliki
bendanya bawaan beserta benda-benda yang jatuh
padanya dengan percuma selama perkawinan
(pemberian atau warisan), sedangkan semua
penghasilan dari tenaga atau modal selama perkawinan
akan menjadi kekayaan bersama, begitu pula semua
kerugian atau biaya-biaya yang telah mereka keluarkan
selama perkawinan akan dipikul bersama-sama.
b. Percampuran penghasilan (gemeenschap van vruchten
en inkomsten).
Mengenai gemeenschap van vruchten en inkomsten,
orang sekarang lazimnya berpendapat bahwa isi
perkataan "Winst" di dalam gemeenschap van winst en
verlies. Maksudnya orang mengadakan perjanjian ini
ialah supaya si istri mengingat bahwa hutang-hutang itu
biasanya diperbuat oleh suami, juga sampai menderita
Rugi.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa; dalam
gemeenschap van winst en verlies suami istri memikul
kerugian bersama-sama, sedangkan dalam
gemeenschap van vruchten en inkomsten tak usah
mengganti kekurangan-kekurangan dan tak dapat ia
dituntut hutang-hutang yang diperbuat oleh suaminya.

A. lsi Perjanjian kawin


Pada dasarnya KUHPerdata menganut azas bahwa, ke dua
belah pihak suami istri itu bebas menentukan isi dalam
perjanjian kawin sebagai berikut;
1. Perjanjian yang dibuat tidak bertentangan dengan
Kesusilaan dan ketertiban umum (Openbare orde)
2. Tidak di buat janji yang menyimpang dari:
a. Hak-hak yang timbul dari kekuasaan suami sebagai suami,
misalnya hak suami untuk menentukan kebersamaan atau
persatuan harta perkawinan/kekayaan.
b. Hak-hak yang timbul dari kekuasaan orang tua (Oudelijke
macht), misalnya hak untuk mengurus kekayaan anak-anak
dan mengambil keputusan-keputusan mengenai pendidikan
atau asuhan anak-anak.
c. Hak-hak yang ditentukan oleh undang-undang bagi
langstlevende echtgenoot (mempelai yang hidup terlama),
misalnya untuk menjadi wali dan wewenang untuk menunjuk
wali dengan testament (2 a,b,c, diatur dalam Pasal 140 KUH
perdata).
Tidak dibuat janji yang mengandung-pelepasan Hak
atas harta peninggalan orang-orang yang menurunkan
nya (afkom lingen).
Tidak dibuat janji, bahwa sebuah pihak akan memikul
hutang lebih dari pada bagiannya dalam aktiva (Pasal
142 KUHPerdata).
Tidak dibuat janji dengan kata-kata umum, yang
mengatakan bahwa kedudukan mereka akan di atur
oleh undang-undang Negara Asing dan peraturan yang
pernah berlaku di lndonesia atau di Nederland;
Kemudian dilarang pula jika janji itu dibuat dengan
kata-kata umum, bahwa kedudukan mereka akan diatur
oleh hukum Adat dan sebagainya. (Pasal 143 KUH
Perdata).

B. Proses pembuatan perjanjian kawin


Dalam proses pembuatan perjanjian kawin dapat disimpulkan
sebagai berikut;
1. Kedua calon suami istri bersama-sama pergi menghadap
ke notaris untuk membuat perjanjian tersebut adapun syarat-
syaratnya sebagaimana telah dituliskan dimuka;
2. Dihadapan notaris keduanya mengatakan kehendaknya
untuk membuat perjanjian kawin mengenai harta kekayaan,
yang selanjutnya dikuatkan oleh akte notaris;
3. Perjanjian yang dibuat dengan akte notaris itu baru berlaku
efektif antara suami istri setelah perkawinan, Pasal 152 KUH
Perdata;
4. Perjanjian itu baru berlaku efektif terhadap pihak ketiga bila
telah didaftarkan pada panitera pengadilan negeri, Pasal 152
KUH Perdata.

2. Menurut Undang-undang Perkawinan Nomor 1 tahun


1974
Di antara ketentuan-ketentuan yang telah diatur oleh
undang-undang Nomor 1 tahun 1974 ialah mengenai
harta benda dalam perkawinan. Pada prinsipnya
pemilikan harta kekayaan baik suami maupun istri dapat
menggunakannya sesuai dengan kehendaknya masing-
masing seperti menjual, memperbaikinya, memberikan
kepada orang lain dan sebagainya, selama itu tidak
bertentangan dengan undang-undang atau peraturan
umum lainya. Dan juga tidak diperkenankan mengganggu
hak orang lain, yang menjadi masalah mengenai harta
kekayaan suami istri ini ialah mana yang dapat
dimasukkan kedalam harta persatuan suami istri dan
yang merupakan harta kekayaan pribadi dari masing-
masing pihak (suami istri) tersebut.
Undang-undang Perkawinan mengatur harta kekayaan dalam
perkawinan di dalam pasal-pasal sebagai berikut:
Pasal 35:
(1). Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta
bersama.
(2). Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan harta
benda yang diperoleh masing masing sebagai hadiah atau warisan,
adalah di bawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak
tidak menentukan lain.
Pasal 36;
(1). Mengenai harta bersama suami atau istri dapat bertindak atas
persetujuan kedua belah pihak
(2). Mengenai harta bawaan masing-masing suami dan istri
mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum
mengenai harta bendanya.
Pasat 37;
Bila perkawinan putus karena perceraian, Harta bersama diatur
menurut hukumnya masing-masing.

Dengan melihat isi dari pasal 35, 36 dan 37 UUP, dapat


diambil kesimpulan bahwa harta yang diperoleh selama
dalam ikatan perkawinan baik karena usaha suami atau
istri atau suami istri bersama-sama otomatis menjadi
harta bersama. Mengenai harta suami atau istri yang
telah diperoleh sebelum perkawinan, tetap menjadi hak
masing-masing seperti warisan atau pemberian hadiah
dan sebagainya, tetapi dapat juga dicampurkan menjadi
milik bersama tentunya dengan persetujuan kedua
belah pihak.
Adapun terjadinya percampuran harta kekayaan suami istri itu
dapat dilaksanakan sebagai berikut:
1. Dengan mengadakan perjanjian secara nyata tertulis atau
diucapkan sebelum atau sesudah berlangsungnya akad nikah
dalam suatu perkawinan, baik untuk harta bawaan masing-
masing atau harta yang diperoleh selama dalam perkawinan
tetapi bukan atas usaha mereka sendiri ataupun harta
pencaharian.
2. Dapat pula ditetapkan dengan undang-undang atau
peraturan peraturan perundangan, bahwa harta yang diperoreh
atas usaha salah seorang suami atau istri atau kedua-duanya
dalam masa adanya hubungan perkawinan yaitu-harta
pencaharian adalah harta bersama suami istri tersebut.
3. Di samping dengan dua cara tersebut di atas, percampuran
harta kekayaan suami istri dapat pula terjadi dengan
kenyataan kehidupan pasangan suami istri itu.
Dalam UUP, tidak ditentukan mengenai perjanjian harta
kekayaan. Hanya dapat diambil kesimpulan dari isi Pasal
29 yang berbunyi sebagai berikut:
1. Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan
ke dua pihak atas persetujuan bersama dapat
mengadakan perjanjian tertulis yang disahkan oleh
pegawai pencatat perkawinan, setelah mana isinya
berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ke
tiga tersangkut.
2. Perjanjian tersebut tidak dapat disahkan bilamana
melanggar batas-batas hukum, agama dan kesusilaan.
3. Perjanjian tersebut mulai berlaku sejak perkawinan
dilangsungkan .
4. selama perkawinan berlangsung perjanjian ke dua
belah pihak ada persetujuan untuk merubah dan
perubahan tidak merugikan pihak ke tiga.
Dalam penjelasan Pasal 29 tersebut hanya dikatakan
bahwa yang dimaksud dengan "Perjanjian", itu tidak
termasuk "Ta'lik talak". Sebagai contoh;
Calon suami istri mengadakan perjanjian tertulis yang
disahkan Pegawai Pencatat Pernikahan bahwa apabila
mereka kawin, maka harta ke dua suami istri tidak
tercampur dan diurus masing-masing, sehingga apabila
suami jatuh pailit maka harta istri tidak dapat
dilibatkan/disita.
Adapun tujuan dari perjanjian perkawinan ini adalah
untuk mencegah terjadinya tindakan yang sewenang-
wenang baik oleh suami maupun oleh istri.
3. Menurut Hukum lslam
Pada dasarnya menurut Hukum lslam harta suami dan
istri terpisah, baik harta bawaan masing-masing suami
istri atas usahanya sendiri-sendiri maupun harta
diperoleh oleh salah seorang mereka karena hadiah atau
hibah atau warisan sesudah mereka terikat dalam
hubungan perkawinan. sebagai dasar atas pendirian
tersebut dapat dilihat dalam surat An Nisa' ayat 32 yang
artinya sebagai berikut;
"Bagi laki-laki ada harta kekayaan perolehan dari hasil
usahanya sendiri dan wanita ada harta kekayaan
perolehan dari hasil usahanya sendiri."
Kemudian dijelaskan dalam surat An Nisa'ayat 29
disebutkan sebagai berikut; "Hai orang-orang beriman,
janganlah kamu makan harta sesamamu dengan jalan
yang bathil kecuali dengan jalan perniagaan yang
berlaku dengan suka sama suka di antara kamu."
Dari ayat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
kekuasan terhadap harta kekayaan itu tetap berada
dipihak siapa yang mempunyai barang tersebut. Dalam
ketentuan Hukum lslam bahwa seorang perempuan yang
bersuami dapat melakukan segala perbuatan hukum
tanpa diketahui atau bantuan dari suaminya, demikian
juga mengenai harta kekayaannya. Hal ini tidak berarti
suami tidak boleh menggunakan barang milik si istri,
demikian juga sebaliknya, telapi penggunaannya harus
mendapat persetujuan baik itu dari suami atau istri.
Persetujuan ini tidak perlu tegas, tetapi bisa dilakukan
dengan cara diam-diam.
Dilihat dari asalnya harta kekayaan dalam perkawinan
itu dapat digolongkan menjadi tiga golongan;
1. Harta masing-masing suami istri yang dimilikinya
sesudah mereka kawin baik berasal dari warisan, hibah
atau usaha mereka sendiri-sendiri atau dapat disebut
sebagai harta bawaan.
2. Harta masing-masing suami istri yang dimilikinya
sesudah mereka berada dalam hubungan perkawinan,
tetapi diperoleh bukan dari usaha mereka baik seorang
atau bersama-sama, tetapi merupakan hibah, wasiat
atau warisan untuk masing-masing.
3. Harta yang diperoleh sesudah mereka berada dalam
hubungan perkawinan atas usaha mereka berdua atau
usaha salah seorang mereka atau disebut harta
pencaharian.
Sayuti Thalib, menyebutkan bahwa;
walaupun demikian telah dibuka kemungkinan syirkah
atas harta kekayaan suami istri itu secara resmi dan
menurut cara-cara tertentu. Suami istri dapat mengadakan
syirkah yaitu percampuran harta kekayaan yang diperoleh
suami dan/atau istri selama masa adanya perkawinan
atas usaha suami atau istri sendiri-sendiri, atau atas
usaha mereka bersarna-sama" Begitupun mengenai harta
kekayaan usaha sendiri-sendiri, sebelum perkawinan dan
harta -harta yang berasal bukan dani usaha salah seorang
mereka atau bukan dari usaha mereka berdua, tetapi
berasar dari pemberian atau warisan atau lainnya yang
khusus teruntuk rnereka masing-masing, dapat tetap
menjadi milik masing-masing. Baik yang diperolehnya
sesudah mereka berada dalam ikatan suami istri tetapi
dapat pula mereka syirkahkan.
Mengenai cara terjadinya syirkah untuk masing-masing
jenis harta itu dapat pula terjadi dengan bentuk yang
berlainan pula. Untuk masyarakat tertentu seperti
masyarakat lndonesia dirasa sangat baik adanya syirkah
antara suami istri sejauh mengenai harta yang akan
diperoleh atas usaha selama dalam ikatan perkawinan
itu, berdasarkan keadaan masyarakat itu sendiri seperti
adanya kenyataan;
1. Kesempatan si istri mencari kekayaan dan berusaha
sendiri sangat terbatas dibandingkan dengan
kesempatan seorang suami.
2. Terselenggaranya dengan baik bagian pekerjaan yang
dipegang oleh si istri dalam suatu rumah tangga yang
merupakan pekerjaan yang cukup berat, merupakan
sebab langsung bagi suami untuk dapat menguruskan
pekerjaan dan usahanya jauh dari rumah mereka dengan
perasaan tenang dan sungguh-sungguh.
Didalam Hukum lslam syirkah itu terdiri dari beberapa macam,
antara
lain;
1. Syirkah Inan yaitu perkongsian terbatas,
2. syirkah Abdan yaitu perkongsian tenaga,
3. syirkah Mufawadlah atau disebut perkongsian tak terbatas.
4. syirkah Al Wujuh atau perkongsian kepercayaan dan rain-lain.
Namun dalam masalah ini saya tidak akan menguraikan dari
berbagai macam syirkah itu, tapi hanya mengenai syirkah Abdan
dan syirkah Mufawadlah saja, karena menurut pemikiran saya
hanya dua macam syirkah ini saja yang mempunyai hubungan yang
erat dengan masalah yang dihadapi.
Adapun yang dimaksud dengan Syirkah Abdan ialah perkongsian
dua orang tukang atau lebih untuk sama-sama bekerja, dan upah
yang mereka peroleh dari pekerjaan itu, akan dibagi di antara
mereka. Sedangkan Syirkah Mufawadlah ialah perkongsian dalam
menjalankan modal dengan ketentuan hak penuh pada anggota
lainnya untuk bertindak membeli barang-barang, menjualnya,
memberi kuasa, berdua laba, menjual dengan kridit, menggadaikan,
menerima gadai dan sebagainya.
Dari definisi syirkah tersebut di atas, kalau melihat praktik
gono gini di masyarakat lndonesia, maka dapat dikatakan
bahwa syirkah dalam hal harta benda suami istri dapat
dimasukkan dalam golongan syirkah Abdan dan syirkah
Mufawadlah.
Dikatakan syirkah Abdan karena kenyataannya suami istri di
masyarakat lndonesia pada umumnya sama-sama bekerja
saling bantu membantu untuk mendapatkan kebutuhan
sehari-hari dan menyisihkan penghasilannya untuk disimpan
sebagai jaminan dihari tua mereka, bahkan untuk harta
peninggalan anak-anaknya kelak setelah ia meninggaldunia.
Sedangkan dikatakan syirkah Mufawalah karena memang
perkongsian suami istri terhadap harta gono gini itu tidak
terbatas, apa saja yang dihasilkan mereka selama dalam
ikatan perkawinan. Termasuk di dalamnya harta warisan dan
pemberian yang dengan te gas dinyatakan untuk salah
seorang di antara mereka.
Dengan memperhatikan ke dua syirkah tersebut di atas, maka
dapat diketahui kedudukan atau status hukumnya, menurut
pendapat para ulama yang terkenal yaitu;
Menurut pendapat lmam Syafii tidak membolehkan
perkongsian tenaga, dengan alasan bahwa pengertian syirkah
menghendaki percampuran, dan percampuran hanya dapat
terjadi pada modal, sedangkan pada perkongsian tenaga tidak
ada modal oleh karena itu perkongsian itu tidak boleh. Lagi
pula maksud diadakan perkongsian itu ialah untuk menambah
kekayaan dengan jalan berdagang, karena dengan berdagang
sajalah orang dapat menambah kekayaannya, sedangkan
orang yang tidak sama pintarnya untuk berdagang, lalu
diadakan perkongsian untuk memberi jalan kepada orang yang
kurang pintar akan mengembangkan kekayaan yang berupa
harta, tentu saja harta itu dapat dikembangkan kalau sudah
ada pokoknya, sedangkan pada perkongsian tenaga sama
sekali tidak ada pokoknya.
Kemudian lmam Hanafiah menolak alasan-alasan lmam
Syafi,i dengan tiga alasan yaitu;
1. Perkongsian tenaga sudah umum dikerjakan orang
dalam beberapa generasi dengan tidak ada seorangpun
yang membantahnya.
2. Perkongsian tenaga pengandung pemberian kuasa
(wikalah) sedangkan pemberian kuasa dan wikalah itu
boleh hukumnya, maka apa yang mengandung sesuatu
yang boleh, tentulah boleh hukumnya, dan mengenai
kebolehan wikalah ini disebut dalam salah satu Hadits
Nabi Muhammada s a w. yang artinya: Dari Abi
Hurairaoh ra, ia berkata Rasulullah s a w kirim Umar
buat pungut zakat. (Mutafaqun alaihi).
3. Alasan lmam syafii yang mengatakan. bahwa
perkongsian itu diadakan untuk mengembangkan harta,
oleh sebab itu harus ada modal, yang berupa harta yang
akan dikembangkan itu dapat dijawab bahwa diadakan
perkongsian itu untuk mengembangkan harta, hanya
dapat diterima dengan perkongsian dengan modal.
Adapun perkongsian tenaga diadakan bukan untuk
mengembangkan modal atau harta, akan tetapi untuk
menghasilkan harta, adalah lebih besar dari pada
kebutuhan mengembangkan harta, maka disyariatkan
bahwa perkongsian untuk menghasirkan harta itu lebih
utama lagi.
Dari pendapat dan keterangan di atas dapatlah diambil
kesimpulan bahwa di antara empat mazhab yang mashur,
tiga mazhab yaitu; mazhab Hanafi, mazhab Maliki,
mazhab Hanbali dan satu mazhab yang tidak
membolehkan yaitu mazhab Syafi'i, sudah barang tentu
perbandingan tiga dengan satu belumlah menjadi jaminan
secara ilmiah, bahwa yang tiga itulah yang benar, tapi kita
harus menganalisa lebih jauh lagi alasan-alasan yang
dikemukakan, sepanjang penyelidikan yang dilakukan
para ulama telah ijma' tentang bolehnya syirkah atau
perkongsian pada umumnya.
Berdasarkan Hadits Nabi Muhammad s a w yang
artinya;
"Berkata Allah ta'ala, aku yang menilai dua orang yang
berkongsi atau bersekutu, selama salah seorang di
antara mereka tidak menghianati yang lainnya, maka
apabila ia berhianat akan keluar dari antara mereka.
(Hadits riwayat Abu Daud dan Hakim dan sanad yang
shoheh).
Dengan dernikian perkongsian itu dibenarkan atau
dibolehkan karena merupakan salah satu jalan atau
usaha manusia untuk memperoleh rizki dari Allah Swt.
Sebagaimana firman AIlah Swt yang artinya;
"Maka apabila telah selesai shalat, maka bertebaranlah
kamu dibumi Allah dan carilah karunia (rizki Allah)". (QS
Al Jum"ah ayat 10)
Bertitik tolak dari uraian di atas dapatdisimpulkan bahwa
perkongsian Abdan dan perkongsian Nufawadlah itu boleh
hukumnya, oleh karena itu perkongsian suami istri dalam bentuk
harta pencaharian bersama itupun dibenarkan dan sah menurut
hukum lslam.
Perkongsian Abdan dan Mufawadlah yang termasuk di
dalamnya perkongsian harta benda suami istri atau harta gono
gini itu boleh hukumnya, hal ini bukan dilandasi oleh
perbandingan pendapat para ulama' yaitu antara tiga dan satu
saja, tetapi juga berdasarkan alasan lain yakni hadits Nabi
Muhammad saw, yang artinya berbunyi sebagai berikut:
"Berkata Allah Ta' ala, aku yang menilai dua orang yang
bersekutu selama salah seorang di antara mereka tidak
menghianati yang lainnya, maka apabila ia berhianat, aku keluar
dari antara mereka, (Hadits riwayat Abu Daud dan Hakirn dan
sanad yang shoheh).
Dari pengertian hadits ini dapatlah disimpulkan yaitu antara lain;
1. Perkongsian (bersyarikah) hukumnya boleh.
2. Anggota syarikah (syirkah) diperintahkan untuk berlaku jujur
dalam syarikah itu dan dilarang menghianati anggota syarikah
lainnya.
3. Di dalam perkongsian harta benda pencaharian bersama
suami istri tidak ada penipuan, walaupun mungkin
perkongsian tenaga dan syirkah Mufawadlah lainnya masih
ada kemungkinan terdapatnya penipuan itu, tapi perkongsian
suami istri jauh berbeda dengan perkongsian lainnya yang
sering terjadi dalam masyarakat, walaupun kadang-kadang
antara suami istri sering terjadi percekcokan, namun pada
saat dilakukan akad nikah dahulu, baik suami atau istri
bermaksud bahwa perkawinan itu akan kekal dan tidak akan
bercerai sampai meninggal dunia, dengan demikian berarti
perkongsian suami istri itu jauh dalam maknanya dari
perkongsian biasa, sebab perkongsian suami ini meliputi
segala-galanya yakni lahir dan bathin, dan bukan pada harta
benda saja, di samping juga bermaksud untuk memberikan
belanja pada anak-anak mereka, dan sebagai warisan pada
anak-anak setelah mereka meninggal kelak.
4. Tiada satu nash pun yang menunjukkan bahwa
perkongsian yang semacam itu tidak boleh, satu-satunya
alasan lmam Syafi,i ialah terdapatnya unsur penipuan,
tapi alasan ini dibantah dengan keterangan di atas.
Adapun cara terjadinya syirkah antara lain yaitu;
a. syirkah dapat diadakan dengan mengadakan
perjanjian syirkah secara nyata-nyata tertulis atau
diucapkan sebelum atau sesudah langsungnya akad
nikah dalam suatu perkawinan, baik untuk harta dari
macam pertama yaitu harta bawaan atau macam kedua
yaitu harta yang diperoleh sesudah kawin tapi bukan atas
usaha mereka maupun dari harta macam ke tiga atau
harta pencaharian
b. Disamping itu syirkah itu dapat pula ditetapkan dengan
undang-undang/peraturan-peraturan, bahwa harta yang
diperoleh atas usaha salah seorang suami istri atau oleh
ke dua-duanya dalam masa adanya hubungan perkawinan
yaitu harta macam ke tiga, adalah harta bersama atau
harta syirkah suami istri tersebut.
c. Disamping terjadinya syirkah dengan cara tertulis atau
ucapan nyata-nyata serta dengan penentuan undang-
undang tersebut, syirkah antara suami istri itu dapat pula
terjadi dengan kenyataan dalam kehidupan pasangan
suami istri itu. Cara ke tiga ini memang hanya khusus
untuk harta bersama atau syirkah pada harta kekayaan
yang diperoleh atas usaha selama masa perkawinan.
Diam-diam telah terjadi syirkah itu, apabila kenyataan
suami istri itu bersatu dalam mencari hidup dan
membiayai hidup. Mencari hidup janganlah selalu
diartikan mereka yang bergerak keluar rumah berusaha
dengan nyata. Memang hal itu adalah yang pertama dan
yang terutama. Tetapi di samping itu pembagian
pekerjaan yang menyebabkan seseorang dapat bergerak
maju, dalam hal ini dalam soal kebendaan dan harta
kekayaan, banyak pula tergantung kepada pembagian
pekerjaan yang baik antara suami istri. Syirkah yang
demikian dapat digolongkan kepada syirkah Abdan.
Dalam Inpres Nomor 1 tahun 1991 tentang Kompilasi
Hukum lslam, sejauh mengenai harta dalam suatu
perkawinan terdapat bentuk-bentuk pikiran yang diatur
dalam;
Pasal 85;
Adanya harta bersama dalam perkawinan itu tidak
menutup kemungkinan adanya harta milik masing-masing
suami atau istri.
Pasal 86;
(1) Pada dasarnya tidak ada percampuran antara harta
suami dan harta istri karena perkawinan.
(2) Harta istri tetap menjadi hak istri dan dikuasai penuh
olehnya, demikian juga harta suami tetap rnenjadi hak
suami dan dikuasai penuh olehnya.
Pasal 87;
(1) Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan harta
yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan
adalah di bawah penguasaan masing-masing, sepanjang para
pihak tidak menentukan lain dalarn perjanjian perkawinan
(2) Suami dan istri mempunyai hak sepenuhnya untuk
melakukan perbuatan hukum atas harta masing-masing
berupa hibah, sadaqah atau lainnya.
Pasal 88
Apabila terjadi perselisihan antara suami istri tentang harta
bersama, maka penyelesaian perselisihan itu diajukan kepada
Pengadilan Agama.
Pasal 89
Suami bertanggungjawab menjaga harta bersama, harta istri
maupun hartanya senidiri.
Pasal 90;
Istri turut bertanggungjawab menjaga harta bersama, maupun
harta suami yang ada padanya.
Pasal 91;
(1). Harta bersama sebagaimana tersebut dalam Pasal 85 di atas
dapat berupa benda berwujud atau tidak tidak berwujud.
(2). Harta bersama yang tidak berwujud dapat meliputi benda tidak
bergerak, benda bergerak dan surat-surat berharga.
(3). Harta bersama tidak berwujud dapat berupa hak maupun
kewajiban.
(4). Harta bersama dapat dijadikan sebagai barang jaminan oleh
salah satu pihak atas persetujuan pihak lainnya.
Pasal 92;
Suami atau istri tanpa persetujuan pihak lain tidak diperbolehkan
Pasal 93;
(1). Pertanggungjawaban terhidap hutang suami atau istri dibebankan
pada hartanya masing-masing
(2). Pertanggungjawaban terhadap hutang yang dilakukan untuk
kepentingan keluarga dibebankan pada harta bersama.
(3) Bila harta bersama tidak mencukupi, dibebankan pada harta
suami.
(4). Bila harta suami tidak ada atau tidak mencukupi dibebankan
kepada harta istri.
Pasat 94;
(1). Harta bersama dari perkawinan seorang suami yang mempunyai
istri lebih dari seorang masing-masing terpisah dan berdiri sendiri;
(2). Pemilikan harta bersama dari perkawinan seorang suami yang
mempunyai istri lebih dari seorang sebagaimana tersebut ayat (1),
dihitung pada saat bertangsungnya akad perkawinan yang ke dua,
ketiga atau yang ke empat.
Pasal 95;
(1). Dengan tidak mengurangi ketentuan Pasat 24 ayat (2) huruf c
Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 dan Pasal 136 ayat
(2), suami atau istri dapat meminta Pengadilan Agama untuk
meletakkan sita jaminan atas harta bersama tanpa adanya
permohonan gugatan cerai, apabila salah satu melakukan perbuatan
yang merugikan dan membahayakan harta bersama seperti
judi,mabuk boros dan sebagainya.
(2). Selama masa sita dapat dilakukan penjualan atas harta bersama
unuk kepentingan keluarga dengan izin Pengadilan Agama.

Pasal 96;
(1). Apabila terjadi cerai mati, maka separoh harta
bersama menjadi hak pasangan yang hidup lebih lama.
(2). Pembagian harta bersama bagi seorang suami atau
istri yang istri atau suaminya hilang harus ditangguhkan
sampai adanya kepastian matinya yang hakiki atau
matinya secara hukum atas dasar keputusan Pengadilan
Agama.
Pasal 97;
Janda atau duda cerai hidup masing-masing berhak
seperdua dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan
lain dalam perjaniian perkawinan.
Hak dan Kewajiban Suami Istri Terhadap Harta
Kekayaan Perkawinan
Dengan adanya ikatan perkawinan, baik suami maupun
istri mempunyai hak dan kewajiban masing-masing
dalam kehidupan berumah tangga. Hak dan kewajiban
tersebut merupakan konsekwensi yang harus
dilaksanakan dan harus dihormati oleh masing-masing
pihak, kalau masalah tersebut dapat dilaksanakan
dengan baik, maka keluarga sakinah, mawaddah,
warahmah dan penuh keharmonisan akan terwujud.
1. Menurut KUH Perdata
Hak dan kewajiban suami istri dibedakan dalam dua hal,
yaitu;
1. Akibat-akibat yang timbul dari kekuasaan suami istri itu
sendiri;
2. Akibat-akibat yang timbul dari kekuasaan suami
(maritale macht).
Akibat-akibat yang timbul dari hubungan suami istri itu
sendiri adalah kewajiban suami istri untuk saling setia,
tolong menolong dan bantu membantu, saling setia
berarti setia dalam perkawinan itu sendiri, sedangkan
peristiwa-peristiwa yang konkrit sehingga tidak dapat
dikatakan apakah isi yang sebenarnya dan sanksi
merupakan sanksi tidak langsung.
Dalam kesetiaan ini dikatakan bahwa 'Bilamana kesetiaan
dalam perkawinan dilanggar oleh salah satu pihak, maka
sanksinya yang indirect dapat timbul dengan permintaan
pembatalan atau pemisahan meja dan tempat tidur atas
perkawinan yang ada oleh pihak yang lain.
Berdasarkan ketentuan Pasal 106 KUH perdata (B W), yang
mengandung azas, tentang suami istri wajib tinggal bersama.
Suami harus menerima istrinya di rumah kediamannya
sedangkan si istri wajib mengikuti suaminya ke mana
suaminya memandang baik untuk bertempat tinggal. lstri tidak
diwajibkan mengikuti suaminya, kalau suaminya hanya untuk
sementara waktu saja diam pada sebuah tempat atau jika
rumah kediamannya merupakan tempat yang tidak layak atau
tidak senonoh. Dan disebutkan juga dalam pasal 102 KUH
perdata (BW),menyatakan bahwa suami wajib memberikan
kepada istrinya segala sesuatu yang diperlukan dan
berpatutan sesuai dengan kedudukan dan kemampuannya.
Demikian juga yang terdapat daram pasal 104 KUH Perdata,
menyebutkan bahwa dengan adanya perkawinan suami istri itu
saling mengikatkan diri secara timbal balik untuk memelihara
dan mendidik anak-anaknya.
Adapun akibat-akibat yang timbul dari kekuasaan suami
(maritale macht). Dasar hukumnya dapat kita lihat dalam
pasal 105 dan Pasal 106 KUH Perdata (BW). Dalam
pasal 105 KUH perdata, terlihat azas maritale macht yang
menentukan bahwa suami adalah kepala keluarga
sedangkan istri harus taat dan patuh kepada suaminya.
Dengan demikian suami diperkenankan untuk mengurus
dan menentukan:
1. Harta kekayaan bersama.
2. Sebagian besar kekayaan milik istrinya.
3. menentukan tempat kediaman bersama.
4. persoalan-persoalan yang menyangkut kekuasaan
orang tua.

Sehubungan dengan hak dan kewajiban suarni istri terhadap harta


kekayaan perkawinan, dibagi dua bentuk harta kekayaan dalam
perkawinan, yaitu:
a. Adanya kesamaan atau percampuran harta kekayaan,
b. Perpisahan harta kekayaan baik dengan perjanjian perkawinan
maupun dengan pemisahan harta dan tempat tidur (scheiding van
tafel en bed).
Terhadap masalah pertama yakni hak dan kewajiban suami terhadap
percampuran harta kekayaan (gemeenschap) adalah bahwa suami
mempunyai hak penuh baik beheren maupun beclikken, hal ini
karena akibat kekuasaan suami (maritale macht) yang berhubungan
dengan harta kekayaan istri/harta kekayaan bersama meliputi antara
lain:
1. "Beheren; yaitu pemeliharaan, pengeroraan, atau pengurusan.
Artinya suamilah yang menyerenggarakan agar harta kekayaan itu
tetap utuh dan tetap mendapatkan hasil sesuai dengan tujuannya,
seperti mengerjakan tanah, reperasi dan sebagainya;
2. Bechikken, yaitu penguasaan, maksudnya mengadakan
perubahan atas harta kekayaan yang tidak diperlukan oleh
keadaannya, dan suami berhak memindah tangankan harta
kekayaan istri, menjual dan menghibahkannya.
selanjutnya dijelaskan bahwa, "pemeliharaan atas harta
kekayaan seorang istri ada ditangan suaminya, yang
merupakan hak yang tersendiri; artinya; suami tidak
terikat kepada perintah istrinya, karena haltersebut
merupakan bagian dari kekuasaan suami (maritale
macht),
Akan tetapi terhadap pihak ketiga suami harus bertindak
sebagai wakil atau kuasa istrinya. Kalau demikian maka
kekuasaan suami atas harta kekayaan istrinya
mempunyai dua macam corak;
1. Interen (antara suami istri); merupakan hak suami
yang tersendiri;
2. Eksteren (terhadap pihak ketiga)" suami merupakan
kuasa atau perwaki lan (Vertegenwoordiging) "
Dengan pengurusan atau beheer suami atas persatuan
harta kekayaan merupakan kekuasaan suami
sepenuhnya, waiaupun sermula harta kekayaan itu
merupakan milik atau barang bawaan istrinya dengan
kekuasaan suami yang sepenuhnya ini, maka kedudukan
istri menjadi lemah. oleh karena itu untuk memperkuat
kedudukan istri itu undang-undang memberikan 3 (tiga)
macam upaya hukum, yaitu;
1. wewenang untuk minta pemisahan harta Pasal l 86
KUHPerdata, dengan memenuh i syarat-syarat yang
ditentukan;
2. wewenang untuk minta agar suaminya diletakkan di
bawah pengampuan (curatele) Pasal 434 ayat (3) KUH
Perdata dengan memenuhi syarat-syarat yang
ditentukan.
3. Wewenang untuk minta pelepasan atas persatuan
harta kekayaan (ahstand van gemenschap) Pasal 132
ayat (1) KUH perdata.
Kemudian perlu diingat bahwa;
"Walaupun Pasal 124 KUH Perdata, menyatakan bahwa,
suami mempunyai wewenang pengurusan atas
persatuan harta kekayaan, namun dalam beberapa hal
istripun berwenang pula untuk mengurusi persatuan
harta kekayaan itu, terutama dalam;
1. Mengadakan pengeluaran-pengeluaran untuk
keperluan rumah tangganya Pasal 109 KUH Perdata;
2. mengadakan perjanjian (misalkan, membuat hutang)
dalam menjalankan suatu pekerjaan yang berhubungan
dengan mata pencahariannya (bereep) Pasal 113 KUH
perdata.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, berakhirnya
kesatuan atau persatuan harta kekayaan itu dengan;
1. "karena kematian;
2. Karena berlangsungnya suatu perkawinan baru atas seizin
hakim berhubungan dengan keadaan tak hadir (afwezigheid);
3. karena perpisahan meja dan tempat tidur (scheiding van
tafel en bed);
4.karena perceraian;
5. karen a perp i sa han harta kekayaan (schejdintg van
goederen),
Dalam pemeliharaan harta kekayaan istri, maka seorang suami
harus dapat mengurusnya sebagai seorang bapak yang baik
(al seen goed trouw), sedang pada saat pengurusan atau
pemeliharaan itu berakhir, maka suami itu diwajibkan untuk
memberikan perhitungan dan pertanggungjawabannya Pasal
105 ayat (4) KUH perdata.

Subekti mengatakan, bahwa;


"Pengurusan kekayaan si istri itu oleh suami harus dilakukan
sebaik-baiknya (als enngoed huisvader), dan si istri dapat
minta pertanggungan jawab tentang pengurusan itu, kekayaan
suami untuk ini menjadi jaminan apabila ia sampai dihukum
mengganti kekurangan-kekurangan atau kemerosotan
kekayaan si istri yang terjadi karena kesalahannya.
Pembatasan yang terang dari kekuasaan suami dalam hal
mengurus kekayaan istrinya tidak terdapat di dalam undang-
undang, melainkan suatu pasal yang menyatakan bahwa
suami tak diperbolehkan menjual, menggadaikan benda-benda
yang bergerak kepunyaan si istri dengan tiada memakai izin
dari istri (Pasal 105 ayat (5) KUH perdata. Meskipun begitu
sekarang ini menurut pendapat kebanyakan ahli hukum juga
menjual atau menggadaikan barang-barang yang bergerak
dengan tidak seizin si istri tak diperkenankan apabila
melampaui batas

Dari pasal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa suami


tidak boleh sewenang-wenang menggunakan, menjual,
menggadaikan dan sebagainya yang mengakibatkan
kerugian, kerusakan dan berkurangnya harta kekayaan
istri yang tidak bergerak tanpa seizin dari si istri.
Mengenai Persoalan ke dua yaitu perpisahan harta
kekayaan baik dengan perjanjian perkawinan maupun
dengan pemisahan harta dan tempat tidur. Hal ini sejak
perkawinan dilangsungkan dan berlaku efektif antara
suami istri, suami tidak bertanggung jawab terhadap harta
kekayaan istrinya yang dibawa sebelum perkawinan
dilangsungkan atau harta yang didapat selama
perkawinan berlangsung, kecuali harta yang
diperjanjikan, juga tidak berkewajiban apa-apa
seandainya harta istri itu terjadi kemerosotan, bahkan
suami tidak wajib mengganti bila harta istri di belanjakan
untuk keperluan rumah tangga dengan kehendaknya
sendiri.
Adapun harta kekayaan dalam perjanjian perkawinan,
sebagai berikut:
"Perjanjian kawin dengan persatuan atau kebersamaan
keuntungan dan kerugian terjadi, bilamana bakal suami
istri menyatakan dengan tegas-tegas, bahwa mereka
menghendaki bentuk perjanjian kawin itu dalam akta
yang menyatakan bahwa di dalamnya kebersamaan
harta perkawinan, sehingga dalam hal ini dengan
sendirinya ada kebersamaan keuntungan dan kerugian.
Kalau dalam akta perjanjian kawin itu juga dikatakan
bahwa tidak ada kebersamaan keuntungan dan kerugian
dari akta perjanjian kawin itu tidak dapat kita simpulkan
lain, maka dianggap telah terjadi perjanjian kawin tanpa
ada kebersamaan sama sekali.
Dengan terjadinya pemisahan harta kekayaan ini, maka istri
memperoleh kekuasan penuh terhadap harta kekayaannya
baik itu beheren maupun bechikken. Dengan denrikian
suamitidak mempunyai kekuasaan dan kewajiban terhadap
harta kekayaan istri untuk mengurus maupun untuk
menjaganya"
Adapun pertanggungjawahan suami pada harta kekayaan istri
tanpa kesatuan hanta kekayaan haik dengan perjanjian
maupun dengan scheiding van goederen dan scheiding van
tafel en bed, setelah adanya SEMA Nomor 3 tahun 1963, yang
rnenyatakan bahwa seorang istri cakap untuk bertindak atas
harta kekayaannya sendiri, dengan sendirinya seorang suami
tidak dapat dimintai pertanggungjawabannya, karena sejak
semula ia tidak bertanggungjawab terhadap harta kekayaan
milik istri atau sejak pemisahan kekayaan, meja dan tempat
tidur. Tanggung jawab antara suami istri hanyalah ada selama
terdapat persatuan harta kekayaan antara mereka berdua.

Suami sebagai kepala keluarga tentunya mempunyai tanggung


jawab, karena berkaitan erat dengan azas bahwa dalam suatu
perkawinan suami mendapat hak " marital macht", yang memberikan
kekuasaan bagi suami untuk mengurus dan menentukan:
1. Harta kekayaan bersama,
2. Sebagian besar harta milik istrinya,
3. Menentukan tempat kediaman bersama, dan
4. Persoalan-persoalan yang menyangkut kekuasaan orang tua
(ouderlijke macht).
Lebih lanjut dikatakan bahwa; Tentang pertanggung jawaban atas
hutang-hutang dapat dibedakan 2 macam:
a. Pertangungjawaban suami istri kepada orang ke tiga (obligation).
Dalam hal ini, maka yang bertanggung jawab adalah suami dan ahli
warisnya, pertanggungjawabannya meliputi semua hutang-hutang;
b. Pertanggungjawaban antara suami sendiri satu sama lain
(contribution), yaitu mengingat adanya syarat-syarat perkawinan
tentang harta bersama terbatas serta asalnya hutang itu terjadi
kepada salah seorang suami atau istri pada waktu sebelum ada
ikatan perkawinan, istri bertanggungjawab hanya atas sebagian
(setengah)dari hutang-hutang bersama, tetapi atas seluruh hutang-
hutangnya sendiri yang sudah ada sebelum perkawinan.
Dalam hal ini kita harus membedakan 2 hal yaitu:
1. Kewajiban memikul (dragplicht), dan
2. Tanggung jawab (aansprakelijkheid).
Kewajiban memikul merupakan sesuatu yang mengenai
hubungan interen antara suami istri yang mengarah
kepada harta siapakah yang harus memikul pelunasan
hutang itu atau bagian siapakah yang harus dikurangi
untuk melunasi hutang itu. Tentunya yang harus memikul
ialah orang yang menikmati manfaatnya. Soal kewajiban
memikul ini baru akan muncul, manakala akan diadakan
pembagian harta kekayaan antara suami istri. Pada
hakekatnya kewajiban memikul itu merupakan soal
pembagian (contribution), sedang tanggung jawab lebih
sukar dari pada kewajiban memikul.
Selama dalam ikatan perkawinan kemungkinan bisa terjadi atau
terdapat tiga rnacam harta kekayaan yaitu;
1. Harta kekayaan istri pribadi/harta bawaan,
2. Harta kekayaan suami pribadi,
3. Harta kekayaan antara suami istri/harta bersama.
Sehubungan dengan harta kekayaan dalam ikatan perkawinan
tersebut, maka timbul suatu pertanyaan "Harta manakah yang harus
digugat, seandainya dalam suatu perkawinan itu tejadi hutang;
Dalam hal ini terlebih dahulu kita lihat hutang siapa di antara suami
istri itu, karena hutang pribadi (prive schuld) tidak dapat dibebani
atas separoh dari persatuan harta kekayaan, sebab persatuan harta
kekayaan itu adalah milik bersama antara suami istri, yang bersifat
mengikat. Oleh karena itu setiap pemiliknya (mede eigenaar) baik
suami maupun istri tidak dapat mengatakan, bahwa ia mempunyai
semacam andil atas persatuan harta kekayaan/harta bersama itu,
tapi bukan berarti persatuan harta kekayaan itu tidak dapat
dimintakan kewajiban pembebanan, artinya persatuan harta
kekayaan itu dapat juga dibebani kewajiban oleh hutang pribadi,
sehingga kriditur dapat menggugat seluruh persatuan harta
kekayaan itu, sekalipun debitur hanya mempunyai hak atas separoh
dari persatuan harta kekayaan itu.
Kalau itu merupakan hutang bersama (gemenschap)
yang dilakukan oleh suami istri, maka yang dapat digugat
pertama kali adalah persatuan harta kekayaan, jika
belum memadai maka harta pribadi para pihak (suami
istri), harus dibebani kewajiban atas hutang yang
dibuatnya.
Adapun pembebanan atas harta pribadi pihak yang tidak
membuat hutang ada dua pendapat. Pihak yang satu
mengatakan, bahwa harta pribadi yang tidak berhutang
dapat saja dibebani hutang bersama atau hutang
persatuan itu.
Sedangkan yang lain diantaranya Pitlo, mengatakan
sebaliknya dengan dua alasan;
1. "Ketentuan-ketentuan yang diatur dalam undang-undang
Kepailitan (FV) mengatur, bahwa dalam hal suami jatuh pailit,
maka istrinya dapat mengajukan gugatan berdasarkan hak
pribadinya (persoonlijke recht);
2. apa perlunya pasal yang mengatur tentang peraturan harta
kekayaan, apabila harta pribadi istri akan juga dibebani
hutang persatuan yang dibuat oleh seorang suami.
Sebagai kesimpulan pendapat Pitlo di atas dapat dimengerti,
tapi dalam praktik dapat kita lihat, bahwa hutang bersama
yang dibuat oleh seorang istri guna keperluan rumah tangga
atau untuk menjalankan pekerjaannya dapat membebani juga
harta pribadi suaminya. Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa suami harus ikut bertanggung jawab atas hutang
persatuan yang dibuat oleh istrinya, sedangkan seorang istri
tidaklah ikut di pertanggung jawabkdn atas hutang yang
dibuat oleh suaminya.
Oleh karena itu kita harus berpijak pada beberapa azas,
yaitu;
1. "Suami atau istri tetap harus bertanggung jawab atas
hutang yang dibuatnya sendiri;
2. Suamipun harus pula bertanggung jawab atas hutang
yang dibuat oleh istrinya;
3. lstripun harus pula bertanggung jawab atas hutang
yang dibuat oleh suaminya sebesar 50 %;
4. sesudah diadakan pemisahan dan pembagian harta
kekayaan (scheiding en deling), maka baik suami,
maupun istri tidak lagi dapat dipertanggungjawabkan
atas hutang yang dibuat oleh pihak yang lainnya
sebelum adanya perkawinan, artinya hutang itu tetap
membebani pihak yang membuat hutang itu sendiri, atau
para ahli warisnya".
2. Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang
Perkawinan
Dengan ikatan perkawinan seorang pria dan seorang wanita,
maka berubahlah statusnya menjadi suami istri, dengan
berubahnya
status tersebut membawa akibat timbulnya hak dan kewajiban. Hak
dan kewajiban suami istri dalam UUP diatur dalam Pasal 30 sampai
dengan Pasal 34.
Ketentuan Pasal 30 menyebutkan:
"Suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan
rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat".
Dengan demikian keluarga adalah lingkungan masyarakat
oleh karena itu suami istri tidak dapat menghindari untuk sanakan
kewajibannya dalam hal membina rumah tangganya. Suami istri
dalam membina kehidupan rumah tangga dan dalam pergaulan
bermasyarakat mempunyai hak dan kedudukan yang sama,
bahkan untuk melakukan perbuatan hukum baik suami maupun istri
dapat melakukannya dengan bertindak sendiri tanpa bantuan orang
lain.
Meskipun hak dan kedudukan suami istri itu sama, tetapi
dalam
hal pemegang pimpinan keluarga tetap berada pada pihak
suami dan istri sebagai ibu rumah tangga. Hal ini dapat kita
lihat dalam ketentuan Pasal 31 UUP
(1). Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan
kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan
pergaulan hidup bersama dalam masyarakat.
(2). Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan
hukum.
(3). Suami adalah kepala keluarga dan istri ibu rumah tangga.
Untuk membentuk suatu rumah tangga yang bahagia dan
kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa seperti yang
dirumuskan dalam Pasal 1 UUP, maka sudah merupakan
keharusan bagi suami istri untuk mempunyai tempat tinggal
yang tetap untuk tempat mereka hidup bersama dalam
melaksanakan tugasnya sehari-hari sesuai dengan fungsinya
masing-masing.
Masalah tersebut diatur dalam Pasal 32 UUP, yang
menyebutkan sebagai berikut:
(1). Suami istri harus mempunyai tempat kediaman
yang tetap.
(2). Rumah tempat kediaman yang dimaksud dalam ayat
(1) pasal ini ditentukan oleh suami istri.
Dengan demikian perbedaan mengenai tempat
kediaman suami istri menurut UUP dengan KUH
Perdata, yakni kalau menurut KUH perdata, hak untuk
menentukan tempat kediaman berada pada pihak
suami, sedangkan istri berkewajiban untuk mengikuti
saja.

Dalam kehidupan dan membina rumah tangga antara


suamidan istri itu diperlukan saling setia, saling
mencintai, saling menghormati dan saling memberi
bantuan baik lahir maupun bathin, bahkan karena
kodratnya suami yang kemampuan phisiknya melebihi
istri sudah sewajarnya melindungi istrinya serta
memberikan segala keperluan untuk kepentingan rumah
tangga sesuai dengan kemampuannya. sedangkan istri
mempunyai kewajiban mengatur segala urusan yang ada
hubungan dengan rumah tangga. Hal ini diatur dalam
ketentuan pasal 33 dan Pasal 34 UUP Pasal 33
berbunyi; "Suami istri wajib saling mencintai, hormat
menghormati, setia dan memberi bantuan lahir bathin
yang satu kepada yang lain".
Pasa 34 berbunyi:
(1). suami wajib melindungi istrinya dan memberikan
segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai
dengan kemampuannya.
(2). lstri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-
baiknya.
Sehubungan dengan hak dan kewajiban dalam
kehidupan rumah tangga, ada lagi yang tidak kalah
pentingnya yaitu yang berkaitan dengan harta kekayaan
dalam rumah tangga. UUP, menyebutkan 3 (tiga) macam
harta, yaitu harta bawaan, harta bersama dan hadiah
atau warisan yang diperoleh masing-masing selama
dalam ikatan perkawinan'
Mengenai harta bawaan masing-masing suaml istri
mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan
hukum, sedangkan harta bersama ialah harta yang diperoleh
selama dalam ikatan perkawinan, suami atau istri dapat
bertindak atas persetujuan kedua belah pihak. Khusus
mengenai harta bawaan dan harta yang diperoleh selama
dalam ikatan perkawinan sebagai hadiah atau warisan,
perihal penguasaannya suami dan istri dapat mengadakan
perjanjian, Misalnya untuk penguasaannya akan diserahkan
kepada suami.
Hal ini dijelaskan dalam Pasal 35 dan Pasal 36 UUP, sebagai
berikut:
Pasal 35 berbunyi;
(1). Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi
harta bersama.
(2). Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan
harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah
atau warisan, adalah di bawah pengawasan masing-masing
sepanjang para pihak tidak menentukan lain.
Pasal 36 berbunyi:
(1). Mengenai harta bersama, suami atau istri dapat
bertindak atas persetujuan ke dua belah pihak.
(2). Mengenai harta bawaan masing-masing suami dan
istri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan
perbuatan hukum mengenai harta bendanya.
Dengan demikian pasal ini menyatakan bahwa harta
bawaan masing-masing sebelumnya perkawinan
dilangsungkan atau harta sesudah kawin jika tidak ada
ketentuan lain merupakan tanggung jawab sepenuhnya
bagi para pihak (suami istri).
Adapun hutang piutang suami istri selama perkawinan,
suami istri tersebut bertanggung jawab dengan harta
bersama mereka, maupun dengan harta bawaan
mereka. Apabila hutang tersebut adalah hutang suami,
maka suami yang bertanggung jawab degan harta
bawaannya dan dengan harta bersama. Harta bawaan
istri tidak ikut dipertanggung jawabkan untuk hutang
suami. Yang menyangkut hutang suami istri setelah
perceraian suami istri bertanggung jawab sendiri dengan
hartanya.
Sehubungan dengan hutang suami istri selama dalam
perkawinan, dapatlah disimpulkan bahwa baik menurut
KUH Perdata maupun Undang-undang Nomor 1 Tahun
1974Tentang Perkawinan tidak ada suatu perbedaan.

3. Menurut Hukum lslam


Perkawinan adalah hubungan hukum antara seorang pria dan
seorang wanita sebagai suami istri, yang sudah barang tentu
mengakibatkan timbulnya hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi
kedua belah pihak. Adapun hak dan kewajiban suami istri, secara
umum terdapat dalam kompilasi Hukum lslam bagian ke satu Pasal
77 dan Pasal 78.
(1). Suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menengakkan
rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah yang menjadi
sendi dari susunan masyarakat.
(2). Suami istri wajib saling mencintai, hormat menghormati, setia
dan memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain.
(3). Suami istri memikul kewajiban untuk mengasuh dan memelihara
anak-anak mereka, baik mengenai pertumbuhan jasmani, rohani
maupun kecerdasannya dan pendidikan agamanya.
(4). Suami istri wajib memelihara kehormatannya.
(5). Jika suami atau istri melalaikan kewajibannya masing-masing
dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama.
Pasal 78:
(1). Suami istri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap.
(2). Rumah kediaman yang dimaksud dalam ayat (1), ditentukan oleh
suami istri bersama.
Oleh karena itu Agama lslam mempunyai prinsip bahwa setiap manusia
itu mempunyai kedudukan yang sama, hanya yang membedakan
manusia itu adalah ketaqwaannya kepada Allah, sebagaimana firman
Allah dalam surat Al Hujurat ayat 13, artinya;
"sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu, disisi Allah ialah
orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Waspada".
Demikian juga kedudukan suami dalam suatu rumah tangga, meskipun
lslam sendiri telah menentukan bahwa suami mempunyai suatu
kelebihan dari istri, tapi semua itu terjadi karena kewajiban dan tanggung
jawab suami lebih berat dibandingkan dengan istrinya. Hal ini dapat
dilihat dalam surat Al Baqarah ayat 228 yang artinya:
"Perempuan-perempuan itu mempunyai hak seimbang dengan
kewajiban yaitu secara patut.'Tetapi kaum laki-laki mempunyai satu
tingkatan kelebihan dari orang-orang perempuan. Tuhan itu Maha Kuasa
dan Bijaksana".
sedangkan kedudukan suami istri dalam Kompilasi Hukum
lslam diatur dalam Pasal 79;
(1).Suami adalah kepala keluarga dan istri, ibu rumah tangga.
(2).Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan
kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan
pergaulan hidup bersama dalam masyarakat
(3). Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan
hukum.
Baik istri maupun suami sama-sama mempunyai hak-hak dan
kewajibannya masing-masing, kecuali dalam suatu urusan
yaitu menjadi pemimpin, melindungi, dan menjaga keluar.ga
maka urusan ini ada ditangan suami. seperti dijelaskan dalam
Kompilasi Hukum lslam, Bagian Ketiga.
Pasal 80 menyebutkan sebagai berikut:
(1). suami adalah pembimbing terhadap istri dan rumah
tangganya, akan tetapi mengenai hal-hal urusan rumah tangga
yang penting-penting diputuskan oleh suami istri bersama.
suami melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu
keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan
kemampuannya. Suami wajib memberkan pendidikan agama
kepada istrinya dan memberikan kesempatan belajar
pengetahuan yang berguna dan bermanfaat bagi agama, nusa
dan bangsa.
Sesuai dengan penghasilannya, suami menanggung:
a. nafkah, kiswah dan tempat kediaman bagi istri;
b. biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan
bagi istri dan anak;
c. biaya pendidikan bagi anak.
(5). Kewajiban suami terhadap istrinya seperti tersebut
pada ayat (4) huruf a dan b diatas mulai berlaku
sesudah ada tamkin sempurna dari istrinya
(6). lstri dapat membebaskan suaminya dari kewajiban
terhadap dirinya sebagaimana tersebut pada ayat (4)
huruf a dan b.
(7). Kewajiban suami sebagaimana yang dimaksud ayat
(5) gugur apabila istri nusyuz.
Sedangkan kewajiban istri dijelaskan dalam Pasal 83
dan Pasal 84 Kompilasi Hukum lslam, Bagian keenam ;
Pasal 83:
(1). Kewajiban utama bagi seorang istri ialah berbakti lahir dan batin
kepada suami di dalam batas-batas yang dibenarkan oleh hukum
lslam.
(2). lstri menyelenggarakan dan mengatur keperluan rumah tangga
sehari-hari dengan sebaik-baiknya.
Pasal 84:
(1). lstri dapat dianggap nusyuz jika tidak mau melaksanakan
kewajiban-kewajiban sebagaimana dimaksud dalam pasal 83 ayat
(1) kecuali dengan alasan yang sah
(2). Selama istri dalam nusyuz, kewajiban suami terhadap istrinya
tersebut pada pasal 80 ayat (4) huruf a dan b tidak berlaku kecuali
hal-hal untuk kepentiggan anaknya.
(3). Kewajiban suami tersebut pada ayat (2) di atas berlaku kembali
sesudah istri tidak nusyuz.
(4). Ketentuan tentang ada atau tidak adanya nusyuz dari istri harus
didasarkan atas bukti yang sah.
Dalam hal kelebihan suami atas istri tidak boleh dijadikan
alasan untuk bertindak sekehendak hatinya bahkan tidak boleh
merampas hak dan martabat istri, juga tidak dapat dibenarkan
menggunakan harta kekayaan milik istri untuk kepentingan
dirinya sendiri apalagi digunakan untuk membelanjai
kebutuhan atau keperluan rumah tangga yang menjadi
tanggungjawab suami. Namun demikian lslam tetap
memberikan kesempatan kepada suami untuk menggunakan
dan menikmati harta kekayaan istri dengan syarat ada
persetujuan dari istri.
Hal ini ditegaskan dalam surat An Nisa' ayat 4 yang artinya
sebagai berikut:
"Berikanlah maskawin kepada wanita (yang kamu nikahi
sebagai pemberian yang wajib, kemudian jika mereka
menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu
dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu
sebagai makanan yang sedap lagi baik akibatnya".
Dalam memelihara dan menjamin keutuhan harta kekayaan
istri yang seringkali menyangkut pihak ketiga, suami
mempunyai hak dan tanggung jawab untuk mengawasi dan
menjaga harta kekayaan istri agar tidak terjadi apa yang tidak
diinginkan (disalah gunakan yang bukan pada tempatnya).
OIeh karena itu untuk menjaga kepentingan pihak ketiga,
maka suami berhak atas harta kekayaan istri untuk mengurus,
serta berkewajiban memelihara dan menjaga keutuhan harta
kekayaan Istri, suami diberi tanggung jawab terhadap harta
kekayaan istri mengingat kelebihan-kelebihan yang ada
padanya sebagai kepala keluarga.
Harta perkawinan dalam Kompilasi Hukum lslam diatur dalam
pasal 85 sampai dengan Pasal 97 yaitu sebagai berikut:
Pasal 85:
Adanya harta bersama dalam perkawinin itu. Tidak menutup
kemungkinan adanya harta milik masing-masing suami atau
istri.
Pasal 86:
(1). Pada dasarnya tidak ada percampuran antara harta
suami dan harta istri karena perkawinan.
(2). Harta istri tetap menjadi hak istri dan dikuasai penuh
olehnya,demikian juga harta suami tetap menjadi hak suami
dan dikuasai penuh olehnya.
Pasal 87;
(1). Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan
harta yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau
warisan adalah di bawah penguasaan masing-masing,
sepanjang para pihak tidak menentukan lain dalam perjanjian
perkawinan.
(2). Suami dan istri mempunyai hak sepenuhnya untuk
melakukan perbuatan hukum atas harta masing-masing
berupa hibah, sadaqah atau lainnya.

Pasal 88 :
Apabila terjadi perselisihan antara suami istri tentang harta bersama, maka
penyelesaian perselisihan itu diajukan kepada Pengadilan Agama.
Pasal 89;
Suami bertanggungjawab menjaga harta ber:sama, harta istri maupun hartanya
sendiri.
Pasal 90:
Istri turut bertanggungjawab menjaga harta bersama, maupun harta suami
yang ada padanya.
Pasal 91:
(1). Harta bersama sebagaimana tersebut dalam pasal 85 di atas dapat berupa
benda berwujud atau tidak berwujud.
(2). Harta bersama yang tidak berwujud dapat meliputi benda tidak bergerak,
benda bergerak dan surat-surat berharga.
(3). Harta bersama tidak berwujud dapat berupa hak maupun kewajiban.
(4). Harta bersama dapat dijadikan sebagai barang jaminan oleh salah satu
pihak atas persetujuan pihak lainnya.
Pasal 92:
Suami atau istri tanpa persetujuan pihak lain tidak diperbolehkan menjual atau
memindahkan harta bersama.
Pasal 93:
(1). Pertanggungjawaban terhadap hutang suami atau istri
dibebankan pada hartanya masing-masing.
(2). Pertanggungjawaban terhadap hutang yang di lakukan untuk
kepentingan keluarga, dibebankan pada harta bersama.
(3). Bila harta bersama tidak mencukupi, dibebankan pada harta
suami.
(a). Bila harta suami tidak ada atau tidak mencukupi dibebankan
kepada harta istri.
Pasal 94;
(1). Harta bersama dari perkawinan seorang suami yang
mempunyai istri lebih dari seorang masing-masing terpisah dan
berdiri sendiri;
(2). Pemilikan harta bersama dari perkawinan seorang suami yang
mempunyai istri lebih dari seorang sebagaimana tersebut ayat (1),
dihitung pada saat berlangsungnya akad perkawinan yang ke dua,
ke tiga atau yang keempat.

Pasal 95;
(1). Dengan tidak mengurangi ketentuan Pasal 24 ayat (2)
huruf c Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975 dan pasal 136
ayat (2), suami Atau istri dapat meminta Pangadilan Agama
untuk meletakkan sita jaminan atas harta bersama tanpa
adanya permohonan gugatan cerai, apabila salah satu
melakukan perbuatan yang merugikan dan membahayakan
harta bersama seperti judi, mabuk, boros dan sebagainya.
(2). Selama masa sita dapat dilakukan penjualan atas harta
bersama untuk kepentingan keluarga dengan izin pengadilan
Agama.
Pasat 96:
(1). Apabila cerai mati, maka separoh harta bersama menjadi
hak pasangan yang hidup lebih lama.
(2). Pembagian harta bersama bagi seorang suami atau istri
yang istri atau suaminya hilang harus ditangguhkan sampai
adanya kepastian matinya yang hakiki atau matinya secara
hukum atas dasar keputusan Pengadilan Agama.
Pasal 97:
Janda atau duda cerai hidup masing-masing berhak seperdua
dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam
perjanjian perkawinan.
Adapun pertanggungjawaban suami terhadap harta kekayaan
istri dalam perjanjian perkawinan dikenal dengan istilah taklik
talak atau sebagian orang mengatakan Tolak taklik. saya
berpendapat kata-kata Talik talak atau tolak taklik dalam
pengertian yang lebih luas dapat diartikan dengan "perjanjian
dalam perkawinan", hal ini berdasarkan Al Qur'an surat An
Nisa' ayat 128 yang artinya sebagai berikut;
"Dan jikatau seorang istri khawatir akan nusuz atau sikap tidak
acuh dari suaminya, tidak mengapa bagi keduanya
mengadakan perjanjian yang sebenar-benarnya, dan
perjanjian itu lebih baik bagi mereka".
Sedangkan dalam Kompilasi Hukum lslam, perjanjian
perkawinan itu diatur dalam BAB Vll dari Pasal 45 sampai
dengan Pasal 52;

Pasal 45;
Kedua calon mempelai dapat mengadakan perjanjian
perkawinan dalam bentuk;
1. Taklik talak dan
2. Perjanjian lain yang tidak bertentangan dengan hukum
lslam.
Pasal 46;
(1). lsi taklik talak boleh bertentangan dengan hukum lslam.
(2). Apabila keadaan yang disyaratkan dalam taklik talak betul-
betul terjadi kemudian, tidak dengan sendirinya talak jatuh.
Supaya talak sungguh-sungguh jatuh, istri harus mengajukan
persoalannya ke Pengadilan Agama.
(3). Perjanjian taklik talak bukan suatu perjanjian yang wajib
diadakan pada setiap perkawinan, akan tetapi sekali taklik
talak sudah diperjanjikan tidak dapat dicabut kembali.

Pasal 47;
(1). Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan ke dua calon
mempelai dapat membuat perjanjian tertulis yang disahkan Pegawai
Pencatat Nikah mengenai kedudukan harta dalam perkawinan.
(2). Perjanjian tersebut pada ayat (1) dapat meliputi percampuran
harta pribadi dan pemisahan harta pencaharian masing-masing
sepanjang hal itu tidak bertentangan dengan hukum lslam.
(3). Di samping ketentuan dalam ayat (1) dan (2) di atas, boleh juga isi
perjanjian itu menetapkan kewenangan masing-masing untuk
mengadakan ikatan hipotik atas harta pribadi dan harta bersama atau
harta syarikat.
Pasal 48;
(1). Apabila dibuat perjanjian perkawinan mengenai pemisahan harta
bersama atau harta syarikat, maka perjanjian tersebut tidak boleh
menghilangkan kewajiban suami untuk memenuhi kebutuhan rumah
tangga.
(2). Apabila dibuat perjanjian perkawinan tidak memenuhi ketentuan
tersebut pada ayat (1) dianggap tetap terjadi pemisahan harta
bersama atau harta syarikat dengan kewajiban suami menanggung
biaya kebutuhan rumah tangga.

Pasal 49:
(1). Perjanjian percampuran harta pribadi dapat meliputi semua harta, baik yang
dibawa masing-masing ke dalam perkawinan maupun yang diperoleh masing-
masing selama perkawinan.
(2). Dengan tidak mengurangi ketentuan tersebut pada ayat (1) dapat juga
diperjanjikan bahwa percampuran harta pribadi hanya terbatas pada harta
pribadi yang dibawa pada saat perkawinan dilangsungkan, sehingga
percampuran ini tidak meliputi harta pribadi yang diperoleh selama perkawinan
atau sebaliknya.
Pasal 50;
(1). Perjanjian perkawinan mengenai harta, pengikat kepada para pihak dan
pihak ke tiga terhitung mulai tanggal dilangsungkan perkawinan dihadapan
Pegawai Pencatat Nikah
(2). Perjanjian mengenai harta,dapatdicabut atas persetujuan bersama suami
istri dan wajib mendaftarkannya di Kantor Pegawai Nikah tempat perkawinan
dilangsungkan.
(3). Sejak pendaftaran tersebut, pencabutan telah mengikat kepada suami istri
tetapi terhadap pihak ketiga pencabutan baru mengikat sejak tanggal
pendaftaran itu diumumkan oleh suami istri dalam surat kabar sbtempat.
(4). Apabila dalam tempo 6 (enam) bulan pengumuman tidak dilakukan yang
bersangkutan, pendaftaran pencabutan dengan sendirinya gugur dan tidak
mengikat kepada pihak ketiga.
(5). Pencabutan perjanjian perkawinan mengenai harta tidak boleh merugikan
perjanjian yang telah diperbuat sebelumnya dengan pihak ketiga.
Pasal 51
Pelanggaran atas perjanjian perkawinan memberi hak
kepada istri untuk meminta pembatalan nikah atau
mengajukan sebagai alasan gugatan perceraian ke
Pengadilan Agama.
Pasal 52;
Pada saat dilangsungkan perkawinan dengan istri ke dua,
ke tiga atau ke empat, boleh diperjanjikan mengenai
tempat kediaman, waktu giliran dan biaya rumah tangga
bagi istri yang akan dinikahinya itu.
PENGAMPUAN (CURATELE)
Untuk memohon agar seseorang ditempatkan dibawah
pengampuan haruslah ada alasan yang cukup. Alasan
yang disebut dalam UU (Pasal 433) adalah :
1. sakit ingatan (gila), dungu, dan gelap mata ;
2. lemah kekuatan jiwa (pikiran) ;
3. boros
UU menyebutkan tiga kata sebagai alasan untuk
meminta seseorang ditempatkan dibawah pengampuan.
Secara yuridis tidak ada perbedaan dalam hal proses,
prosedur dan akibatnya. Hanya dalam hal ada orang
gelap mata dan keluarganya tidak bertindak atau tinggal
diam, maka jaksa dapat menuntut ditempatkannya
seseorang dibawah pengampuan.
-lemah kekuatan jiwa(Pasal 434 ayat 3), menurut Subekti
arti sebenarnya, terlalu lanjut umur, sakit keras, dan
cacat.
-pemborosan adalah pengeluaran luar biasa serta
menghabiskan kekayaan secara tidak bertanggung
jawab.
Hanya orang dewasa dapat ditempatkan dibawah
pengampuan (Pasal 433). Seorang dibawah umur tidak
dapat ditempatkan dibawah pengampuan karena ia
mempunyai seorang wakil dalam urusan hukum, yaitu
orang tua yang menjalankan kekuasaan orang tua (Pasal
462).
Permohonan untuk sitempatkan dibawah pengampuan
diajukan kepada pengadilan yang meliputi daerah tempat
tinggal orang yang akan dimintakannya pengampuannya
(calon kurandus).
Orang yang dapat mengajukan permohonan agar seseorang
ditempatkan dibawah pengampuan dalam hal :
1. peyakit gila, setiap keluarga sedarah dan suami/istri
2. pemorosan, setiap anggota keluarga sedarah garis lurus dan
samping sampai derajat ke empat, suami dan istri
3. lemah pikiran, oleh orangnya sendiri.
Pengampuan dilakukan dengan prosedur:
a. Pengajuan permohonan dengan menyebut fakta yang
membuktikan perlunya pengampuan ;
b. Pertimbangan hakim dan mendengar keluarga sedarah atau
semenda
c. Pemberitahuan resmi kepada calon kurandus ;
d. Tanya jawab dengan calon kurandus ;
e. Keputusan hakim dalam rapat terbuka ; dan
f. Pengangkatan seorang kurator (pengampu) setelah keputusan
hakim mempunyai kekuatan hukum.(lihat Pasal 437-445).
Permulaan pengampuan adalah tanggal keputusan hakim dan
keputusan ini harus diumumkan dalam BN (Pasal 444).
Akibat Pengampuan
Kedudukan seorang kurandus dianggap oleh uu sama
dengan seorang dibawah umur, jadi tidak cakap (Pasal
452). Walaupun pasal 446 ayat 2 mengatakan bahwa
segala tindak perdata yang dilakukan oleh seorang
kurandus setelah permulaan pengampuan adalah batal
demi UU (nietig), namun dalam kenyataan kebatalan
harus dimintakan kepada hakim (vernietigbaar).
Kalau ditinjau beberapa tindakan hukum :
1. menikah
Seorang penderita sakit gila tidak dapat menikah karena
ia tidak ada kemauan sadar. Pemboros dapat menikah,
tetapi dengan ijin kurator dan kurator-pengawas/BHP
(Pasal 452 ayat 2 jo 38 dan perjanjian nikah Pasal 151).
2. membuat wasiat, kurandus penderita sakit gila tidak dapat
membuat wasiat. Kurandus pemboros dapat membuatnya (Pasal
446 ayat 3).
Tindakan hukum yang dibuat oleh kurandus sebelum keputusan
pengampuan karena gila, dungu, atau mata gelap, dapat diputuskan
batal hakim jika dapat dibuktikan bahwa dasar (alasan) untuk
pengampuan telah nyata pada saat tindakan hukum itu dilakukan
(Pasal 447).
Tetapi jika seorang kurandus telah meninggal dunia, semua
tindakan yang telah dilakukannya sebelum pengampuan tidak dapat
digugat berdasarkan sakit gila, dungu, atau mata gelap, dari
ketentuan ini dikecualikan :
-jika pengampuan sudah diputuskan atau diminta sebelum ia
meninggal dunia
-jika bukti tentang adanya penyakit itu ternyata dari tindakan itu
sendiri, ini berarti bahwa orang harus membuktikan bahwa kurandus
telah gila pada saat tindakan itu dilakukan
-surat wasiat selalu dapat ditentang berdasarkan penyakit gila
(Pasal 448).
Pengangkatan pengampu (kurator)
Pengangkatan ini baru dapat dilakukan jika keputusan
pengampuan telah mempunyai kekuatan hukum (Pasal
449 ayat 1). Pengampu diangkat oleh hakim, hal ini
diberitahukan kepada BHP, instansi inilah yang
diperintahkan untuk menjadi pengampu-pengawas (Pasal
449 ayat 1 dan 2). Dalam kejadian ini pengurus khusus
sementara provisionele bewindvoerder) berhenti dan ia
diwajibkan memberi pertanggungjawaban kepada
pengampu, pertanggungjawaban diberikan kepada BHP
(pasal 449 ayat 4). Kecuali ada alasan yang berbobot
untuk mengangkat orang lain sebagai pengampu, suami
atau istri diangkat sebagai pengampu bagi istri atau
suaminya (pasal 451).
Seorang pengampu demi UU menjadi wali anak-anak sah di
kurandus, jika kurandus, yang sebelumnya ditempatkan
dibawah pengampuan, menjalankan kekuasaan orang tua atau
perwalian dan orang tua yang lain (jika ia tidak diangkat
sebagai pengampu) dipecat atau dibebaskan sebagai wali atau
kekuasaan orang tua.
Jika pengampuan dihentikan oleh hakim dan bekas kurandus
memperoleh kembali kekuasaan orang tua atau perwalian,
atau orang tua yang lain memperoleh kembali kekuasaan
orang tua atau perwalian, maka perwalian pengampu juga
berhenti (Pasal 453).
Seorang anak dibawah umur seorang kurandus dapat menikah
dan membuat perjanjian nikah dengan memperhatikan pasal
38 dan 151 (ijin/bantuan orang tua yang lain, atau kakek/nenek
atau kurator ditambah BHP, pasal 458).
Setiap orang berkewajiban memegang jabatan sebagai kurator
sedikitnya 8 tahun, setelah masa itu ia boleh meminta berhenti
dan akan dikabulkan. Ketentuan ini tidak berlaku bagi suami
atau istri kurandus, keluarga sedarag garis lurus keatas dan
kebawah, semua orang tersebut tidak dapat membebaskan diri
setelah lewat kurun waktu 8 tahun itu (Pasal 459).
Pengawasan suatu pengampuan diperintahkan oleh hakim
kepada BHP (pasal 449 ayat 3)
Pengampuan berakhir selain karena kematian kurandus juga
karena pengampuan dihentikan. Permohonan penghentian
pengampuan atas seorang kurandus dapat dilakukan oleh
pengampu, namun para ahli hukum berpendapat bahwa
permohonan itu juga dapat dilakukan oleh kurandus sendiri.
Penghentian dilakukan dengan keputusan hakim, keputusan
tersebut harus mempunyai kekuatan hukum dahlu, kemudian
diumumkan (Pasal 461 jo 444).
Dalam hal kekuarangan daya berfikir dan keborosan,
maka permohonannya harus secara jelas menyebutkan
fakta-fakta yang menyatakan adanya hal tersebut.
Permohonan tersebut harus disertai alat-alat bukti dan
bila ada harus menampilkan saksi-saksinya. Bila fakta-
fakta yang dibutuhkan cukup penting untuk menetapkan
adanya pengampuan, maka pengadilan wajib mendengar
keluarga sedarah dan semenda. Setelah itu pengadilan
akan mendengar orang yang dimintakan pengampuan itu.
Bila orang yang bersangkutan tidak mampu berpindah
tempat, maka pemeriksaan dilakukan dirumahnya oleh
seorang atau lebih hakim yang diangkat untuk keperluan
itu, disertai oleh panitera dan harus dihadiri pula oleh
jaksa.
Setelah permohonan diajukan, bilamana memang ada
alasan untuk pengampuan tersebut, pengadilan akan
mengangkat seorang pengurus sementara untuk
mengurus pribadi dan harta kekayaan curandus (orang
yang diampu) itu.
Kemudian, pengadilan memberikan keputusan yangharus
diucapkan dalam sidang terbuka setelah mendengar atau
memanggil dengan sah semua pihak dan setelah ada
konklusi dari jaksa.
Atas keputusan pengadilan, yang berkepentingan
diperkenankan naik banding. Pengadilan Tinggi
berwenang untuk mendengar sendiri orang yang
dimintakan pengamuan tersebut, bila ada alasan.
Dalam Hal Lemah Akal Budinya, acara dapat dikatakan
sama dengan yang diuraikan diatas dengan beberapa
perkecualian. Dalam acara ini tidak diperlukan fakta-fakta
yang menunjukkan adanya kelemahan akal budinya dan
tidak perlu diajukan bukti-buktinya. Suami atau istri
pemohon harus didengar, demikian pula anak-anaknya.
Keterangan saksi-saksi, demikian pula pemanggilan
pihak-pihak, tidak dilakukan danpengadlan segera
setelah mendengar konklusi dari jaksa.
Pengampuan ini mulai berlaku sejak hari putusan atau
ketetapan pengadilan yang diucapkan. Dengan
diletakkannya seseorang dibawah curatele, maka orang
tersebut mempunyai kedudukan yang sama dengan
orang yang minderjarig, dalam arti dinyatakan menjadin
tidak cakap berbuat hukum dan semua perbuatan yang
dilakukannya dapat dinyatakan batal, bila yang menjadi
curandus itu, oleh karena ia krankzinnig.
Perbuatan-perbuatan curandus dalam bidang harta
benda.
Semua perbuatan hukum, baik yang bilateral maupun
yang multilateral, yang dilakukan oleh seorang curandus
dapat dinyatakan batal (vernitiegbaar). Sedangkan
perbuatan-perbuatan hukum yang sifatnya sepihak pada
umumnya karena hukum batal.
Berakhirnya Pengampuan
Tentang berakhirnya pengampuan, literatur membedakan
antara berakhirnya pengampuan secara absolut dengan
secara relatif.
1. secara absolut
a. Curandus meninggal dunia
b. Adanya putusan pengadilan yang menyatakan bahwa
sebab-sebab dan alasan-alasan dibawah pengampuan telah
hapus
2. secara relatif
a. Curator meninggal dunia
b. Curator dipecat atau dibebastugaskan, dan
c. Suami diangkat secagai curator yang dahulunya berstatus
sebagai curandus.
Pasal 141 KUHPerdata mengatakan bahwa pengampuan
harus diumumkan sesuai dengan formalitas-formalitas yang
harus dipenuhi seperti pada waktu permulaan pengampuan.
ANAK SAH
Keturunan (afstamming) adalah hubungan darah antara
anak dan orang tuanya, UU mengenal anak sah dan anak
tidak sah (wettige en onwettige kinderen) anak luar kawin
disebut (natuurljke kinderen) atau anak-anak alam.
Hukum membedakan antara keturunan yang sah dan
keturunan yang tidak sah. Keturunan yang sah didasarkan
atas adanya perkawinan yang sah, dalam arti bahwa yang
satu adalah keturunan yang lain berdasarkan kelahiran
dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah. Anak-
anak demikian disebut anak sah.
Keturunan yang tidak sah adalah keturunan yang tidak
didasarkan atas suatu perkawinan (yang sah), orang menyebut
anak-anak demikian juga sebagai ANAK LUAR KAWIN.
Dalam prinsip menurut KUHPerdata seorang anak adalah sah
jika dilahirkan atau dibenihkan dalam suatu pekawinan (Pasal
250).
Bukti yang dapat dipakai adanya keturunan sah seorang anak
adalah :
1. akta kelahiran yang dibukukan dalam register Kantor
Catatan Sipil (Pasal 261 ayat 1)
2. anak yang berkenaan terus menerus menikmati suatu
kedudukan sebagai anak sah (pasal 261 ayat 2)
3. saksi-saksi, asal saja ada bukti permulaan yang tertulis atau
dugaan atau petunjuk yang tersimpul dari peristiwa yang
kebenarannya tidak dapat disangkal lagi (Pasal 264).
PERKAWINAN
Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria
dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan
tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang
bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa (Pasal 1 UU Perkawinan)
Perkawinan adalah ikatan lahir dan bathin antara
seorang pria dan wanita sebagai suami istri sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan (Penjelasan
Pasal 34 ayat (1) UU No. 23/2006 tentang Administrasi
Kependudukan).
Sahnya perkawinan dilakukan menurut hukum masing-
masing agamanya dan kepercayaannya (Pasal 2 ayat (1)
UU Perkawinan.
Perkawinan dilaporkan ke Pejabat Pencatatan Sipil
mencatat pada Register Akta Perkawinan dan
menerbitkan Kutipan Akta Perkawinan (Pasal 34 ayat (2)
UU No. 23/2006 Tentang Administrasi Kependudukan).
Pelaporan bagi penduduk yang beragama Islam
dilakukan oleh KUA, Pasal 34 ayat (4) UU No. 23/2006
Tentang Administrasi Kependudukan.
Asas Monogami, Kecuali bagi mereka yang menurut
hukum dan agamanya mengijinkan seorang suami boleh
beristri lebih dari seorang.
HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTRI
Pasal 30-34 UU Perkawinan, antara suami dan istri diberikan
hak dan kedudukan seimbang baik dalam kehidupan rumah
tangga maupun pergaulan hidup bersama dalam masyarakat.
Pasal 30 : suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk
menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar
susunan masyarakat.
Pasal 31
1. Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan
kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan
pergaulan hidup bersama dalam masyarakat.
2. Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan
hukum.
3. Suami adalah kepala keluarga dan istri ibu rumah tangga.
Pasal 32
1. Suami-Istri harus mempunyai kediaman yang tetap.
2. Rumah tempat kediaman yang dimaksudkan dalam ayat (1)
Pasal ini ditentukan oleh suami-istri bersama.
Pasal 33
Suami Istri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati,
setia dan memberi bantuan lahir dan bathin yang satu kepada
yang lain.
Pasal 34
1. Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala
sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai
kemampuannya
2. Istri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya.
3. Jika suami atau istri melakukan kewajibannya masing-
masing dapat mengajukan gugatan kepada pengadilan.

MASALAH ORANG TUA DAN ANAK/KEKUASAAN ORANG TUA


Pasalb 42-49 UU Perkawinan
-bahwa orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-
baiknya, sampai anak tersebut kawin atau dapat berdiri sendiri dan terus
walaupun perkawinan antara orang tua putus.
-bahwa orang tua wajib menguasai/memelihara pula anaknya sampai anak
berumur 18 tahun atau belum pernah kawin. Kekuasaan tersebut meliputi untuk
mewakili anak tersebut mengenai segala perbuatan hukum didalam dan diluar
pengadilan.
-kekuasaan orang tua dapat dicabut atas permintaan orang tua yang lain,
keluarga anak dalam garis lurus ke atas dan saudara kandung yang telah dewasa
atau pejabat yang berwenang, dengan alas an kalau orang tua tersebut sangat
melalaikan kewajibannya atau berkelakuan buruk sekali.
Pasal 48 UU Perkawinan, bahwa orang tua dilarang untuk memindahkan atau
menggadaikan barang-barang tetap yang dimiliki anaknya kecuali apabila
kepentingan anak tersebut menghendaki.
Kekuasaan orang tua dalam KUHPerdata :
Kekuasaan orang tua terhadap pribadi anak (Pasal 298-306)
Kekuasaan orang tua terhadap kekayaan anak (Pasal 307-319)
Hubungan orang tua dengan anak tanpa memandang umur anak dan tidak
terbatas pada orang tua itu saja (dari pihak ayah dan ibu) Pasal 320-329.

KEBAPAKAN DAN KETURUNAN ANAK-ANAKNYA


a. anak sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau
sebagai akibat perkawinan yang sah (Pasal 42
UUPerkawinan)
b. pengangkatan anak : adalah perbuatan hukum untuk
mengalihkn hak anak dari lingkungan kekuasaan
keluarga orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang
bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan dan
membesarkan anak tersebut ke dalam lingkungan
keluarga orang tua angkatnya berdasarkan putusan atau
penetapan pengadilan (Penjelasan Pasal 47 ayat 1 UU
No. 23/2006 tentang Administrasi Kependudukan).
c. Pengakuan anak : adalah pengakuan seorang ayah
terhadap anaknya yang lahir diluar ikatan perkawinan sah
atas persetujuan ibu kandung anak tersebut (Penjelasan
Pasal 49 ayat 1 UU No. 23/2006 tentang Administrasi
Kependudukan).
d. Pengesahan anak : adalah pengesahan status anak
yang lahir diluar ikatan perkawinan sah pada saat
pencatatan perkawinan kedua orang tua anak tersebut
(Penjelasan Pasal 50 ayat (1) UU No. 23/2006 tentang
Administrasi Kependudukan).
e. Adopsi (S-1917 No. 129 Jo 1924 No. 557) bahwa orang
tua dari anak yang hendak diadopsi tersebut harus
memberikan pernyataan yang berhubungan dengan
masalah kewarisan di dalam akta adopsi. Pernyataan
harus menegaskan bahwa mereka :
1. melepaskan haknya atas warisan anaknya.
Orang tua dari sang anak tidak akan menjadi ahli waris
dari anaknya. Sedangkan bagi orang tua yang
mengadopsi anak tersebut sebagai anaknya, apabila
mereka meninggal terlebih dahulu dari anak adoptifnya,
maka keturunannya akan menjadi ahli waris sang anak
adoptif, jika ia meninggal tanpa meninggalkan keturunan.
2. masih harus dianggap sebagai orang tua sang anak .
Berbeda dengan hal tersebut diatas, sang anak akan tetap menjadi ahli
waris dari orang tuanya yang asli dari orang tua yang mengangkatnya,
kecuali bila ditentukan lain dalam akta adopsinya.
Adopsi hanya dapat dilakukan dengan akta otentik.
Hubungan kebapakan dengan anak yang dilahirkan diluar perkawinan
yang sah, bahwa aka tetap mempunyai hubungan keperdataan dengan
bapaknya jika dapat dibuktikan secara genetic (DNA), demikian
berdasarkan Putusan MK RI Nomor 46/PUU-VIII/2010, bahwa Pasal 43
ayat (1) UU Perkawinan yang menyatakan, anak yang dilahirkan diluar
perkawinan hnya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan
keluarga ibunya, tidak memiliki kekuatan hukum mengikat sepanjang
dimaknai menghilangkan hubungan perdata dengan laki-laki yang dapat
dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat
bukti lain menurut hukum ternyata mempunyai hubungan darah sebagai
ayahnya, sehingga ayat tersebut harus dibaca, anak yang dilahirkan
diluar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan
keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat
dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat
bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk
hubungan perdata dengan keluarga ayahnya.

PENGANGKATAN ANAK
Adalah perbuatan hukum untuk mengalihkan hak anak dari
lingkungan kekuasaan orang tua, wali yang sah, atau orang lain
yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan dan
membesarkan anak tersebut ke dalam lingkungan keluarga
orang tua angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan
pengadilan (Penjelasan Pasal 47 ayat (1) UU No. 23/2006
tentang Administrasi Kependudukan)
PP No. 54 tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan
anak :
1. anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari
lingkungan kekuasaan orang tua, wali yang sah, atau orang lain
yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan, dan
membesarkan anak tersebut ke dalam lingkungan keluarga
orang tua angkatnya berdasarkan keputusan atau penetapan
pegadilan;
2. pengangkatan anak adalah suatu perbuatan hukum
yang mengalihkan seorang anak dari lingkungan
kekuasaan orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang
bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan dan
membesarkan anak tersebut, ke dalam lingkungan
keluarga orang tua angkat.
PERATURAN MENTERI SOSIAL RI Nomor
116/HUK/2009 TENTANG PERSYARATAN
PENGANGKATAN ANAK
Pasal 1 angka 2 :
Pengangkatan anak adalah suatu perbuatan hukum yang
mengalihkan seorang anak dari lingkungan kekuasaan
orang tua, wali yang sah atau orang lain yang
bertanggung jawab atas perawatan pendidikan dan
membesarkan anak tersebut ke dalam lingkungan
keluarga orang tua angkat.
Pasal 39 UUPA
1. pengangkatan anak hanya dapat dilakukan untuk
kepentingan terbaik bagi anak yang dilakukan
berdasarkan adat kebiasaan setempat dan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku ;
2. pengangkatan anak sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1), tidak memutuskan hubungan darah antara anak yang
diangkat dan orangtua kandungnya.
3. Calon orang tua angkat harus seagama dengan agama
yang dianut oleh calon anak angkat.
4. Pengangkatan anak oleh warga Negara asing hanya
dapat dilakukan sebagai upaya terakhir.
5. Dalam hal asal-usul anak tidak diketahui, maka agama
ank disesuaikan dengan agama mayoritas penduduk
setempat.
Pasal 40 UUPA :
1. Orang tua nagkat wajib memberitahukan kepada anak
angkatnya mengeni asl usulnya dan orang tua
kandungnya ;
2. Pemberitahuan asal-usul dan orag tua kandungnya
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan
memperhatikan kesiapan anak yang bersangkutan ;
Pasal 19 PP 54/2007 :
Pengangkatan anak secara adat kebiasaan dilakukan sesuai
dengan tata cara yang berlaku di dalam masyarakat yang
bersangkutan.
Pasal 22 PP 54/2007 :
permohonan pengangkatan anak WNI oleh WNA yang telah
memenuhi persyaratan diajukan ke pengadilan untuk
mendapatkan putusan pengadilan ;
pengadilan menyampaikan salinan putusan pengangkatan
anak ke instansi terkait
Kesimpulannya :
berdasarkan Stb. 1927-129 Jis 1919-81, 1924-557 , 1925-92,
notaris bewenang membuat akta adopsi ;
Notaris diperbolehkan untuk membuat Berita Acara
Penyerahan anak sebelum dilakukan permohonan penetapan
ke Pengadilan Negeri.

HUBUNGAN DARAH DAN PERIPARAN/SEMENDA


Hubungan darah diartikan sebagai hubungan antar orang
yang mempunyai leluhur yang sama (stamvader) (Pasal
292 ayat (1) KUHPerdata). Hubungan antara orang-orang
dalam system ini, dihitung dari jumlah kelahiran. Setiap
kelahiran dinamakan satu derajat (graad) (Pasal 292
ayat (2) KUHPerdata).
Rangkaian derajat dinamakan garis (line) (Pasal 291
KUHPerdata).
Periparan/semenda ialah hubungan antara salah seorang
suami-istri dengan anggota keluarga sedarah dari pihak
lain (Pasal 295 KUHPerdata), demikian sebaliknya.
Hubungan periparan tidak disebabkan oleh kelahiran,
tetapi karena perkawinan, maka dalam hal hubungan ini
tidak dapat diadakan perhitungan derajat seperti dalam
menghitung hubungan antara anggota-anggota keluarga
sedarah.
Catatan :
Hubungan darah/periparan dan semenda ini perlu
diketahui oleh notaris, karena pasal 52 UUJN melarang
notaris untuk membuat akta dalam hubungan darah
derajat (linie) tertentu, yaitu :
1. notaris tidak diperkenankan membuat akta untuk
dirinya sendiri, suami/istri, atau orang lain yang
mempunyai hubungan kekeluargaan dengan notaris baik
karena perkawinan maupun hubungan darah dalam garis
keturunan lurus kebawah dan/atau ke atas tanpa
pembatasan derajat, serta dalam garis ke samping
sampai dengan derajat ketiga, serta menjadi pihak untuk
diri sendiri, maupun dalam suatu kedudukan ataupun
dengan perantaraan kuasa.
2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidk
berlaku apabila orang tersebut pada ayat (1) kecuali
notaris, menjadi penghadap dalam penjualan di muka
umum, sepanjang penjualan itu dapat dilakukan
dihadapan notaris, persewaan umum, atau pemborongan
umum, atau menjadi anggota rapat yang risalahnya
dibuat oleh notaris.
3. Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) berakibat akta hanya mempunyai
kekuatan pembuktian sebagai akta , dibawah tangan
apabila akta itu ditanda-tangani oleh penghadap, tanpa
mengurangi kewajiban notaris yang membuat akta itu
untuk membayar biaya, gangti rugi, dan bunga kepada
yang bersangkutan.

Sub 2, kedudukan sebagai anak sah yang dinikmati anak


dapat dibuktikan, umpamanya dengan selalu memakai
nama ayah, diperlakukan sebagai anak dalamhal
pendidikan dan pemeliharaan, dan diakui oleh
masyarakat sebagai anak sah ayahnya (Pasal 261).
Dalam KUHPerdata dan UUP berlaku prinsip bahwa
keturunan yangsah didasarkan atas suatu perkawinan
yang sah, keturunan adalah anak, termasuk anak dari
anak dan seterusnya ke bawah.
Pasal 250 KUHPerdata mengatakan bahwa Tiap anak
yang dilahirkan atau ditumbuhkan sepanjang perkawinan
memperoleh si suami sebagai bapaknya.
Menurut ketentuan pasal 251 KUHPerdata keabsahan seorang
anak yang dilahirkan sebelum hari ke 180 setelah perkawinan
dilangsungkan, maka sebagai suami, ia boleh menyangkal
keabsahan anak tersebut.
Dari ketentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa masa
kehamilan yang dianggap paling pendek, yaitu 180 hari,
sedangkan Pasal 255 ayat 1 KUHPerdata menyatakan bahwa
anak yang dilahirkan 300 hari setelah perkawinan dibubarkan,
adalah tidak sah.
Menurut ilmu kedokteran sejak jaman Romawi, masa
kehamilan paling panjang adalah 300 hari, sehingga logikanya
anak tersebut ditumbuhkan setelah perkawinan bubar.
Jadi menurut ketentuan perundang-undangan suami dianggap
sebagai ayah sah dari anak-anak yang dilahirkan oleh istrinya
diantara hari dilangsungkannya perkawinan sampai dengan
hari ke-300, atau terhitung dari bubarnya perkawinan (299
hari).
Hak Mengingkari anak
-Pasal 251 KUHPerdata, keabsahan seorang anak yang
dilahirkan sebelum hari yang ke 180 dalam perkawinan
suami istri dapat diingkari oleh si suami...
Secara a contrario berarti, bahwa pada asasnya anak
yang dilahirkan leih dari 179 hari sesudah perkawinan
tidak bisa diingkari keabsahannya, paling tidak
berdasarkan pasal 251 KUHPerdata karena sebagaimana
nanti ternyata masaih ada sarana lain untuk mengingkari
keabsahan seorang anak.
Pada asasnya untuk pengingkaran berdasarkan pasal
251 tersebut tidak dituntut syarat lain, kecuali dibuktika
bahwa anak itu lahir sebelum 180 hari sejak perkawinan.
Untuk pengingkaran tersebut ada pembatasan yaitu :
...namun pengingkaran ini tidak boleh dilakukan dalam
hal-hal sebagai berikut :
1e. Jika suami sebelum perkawinan telah mengetahui
akan mengandungnya si istri
2e. Jika ia telah ikut hadir tatkala akta kelahirannya dibuat
dan akta itupun telah ditanda-tanganinya atau memuat
suatu pernyataan darinya, bahwa ia tidak dapat
menanda-tanganinya
3e. Jika si anak tak hidup tatkala dilahirkannya
-Pasal 252KUHPerdata, suami boleh mengingkari
keabsahan si anak apabila dapat membuktikan, bahwa ia
sejak 300 sampai 180 hari sebelum lahirnya anak itu,
baik karena perpisahan maupun sebagai akibat dari
suatu kebetulan, berada dalam ketidakmungkinan yang
nyata, untuk mengadakan hubungan dengan istrinya.
-Pasal 253 KUHPerdata, berdasar atas pebuatan zina,
suami tidak daat mengingkari keabsahan seorang anak,
kecuali bila kelahiran anak itu pun disembunyikan
baginya, dalam hal mana ia harus diperkenankan
membuktikan dengan sempurna, bahwa ia buka bapak
anak itu.
Seorang suami boleh mengingkari keabsahan seorang
anak yang dilahirka oleh istrinya, atas dasar zina, kalau
anak itu kelahirannya disembunyikan dari
pengetahuannya, dalam pasal tersebut ada 2 faktor
penting yaitu :
- adanya zina dan
- penyembunyian kelahiran
Bahwa pada asasnya adanya zina saja yang dilakukan
seorang istri belum cukup untuk menjadi dasar bagi sang
suami, untuk megingkari keabsahan anak yang dilahirkan
oleh istrinya tersebut sebagai anaknya, tetapi faktor
penyembunyian, menjadi sesuatu faktor yang lain.
Pihak-Pihak Dalam Perkara Penyangkalan Anak
- Pihak Penggugat
1. suami dari ibu anak itu (Pasal 251-254 dan Pasal 256-
258). Bila suami berada dibawah pengampuan (curatele),
maka pengampunya (curator) yang akan mewakilinya.
2. ahli waris suami, yang tinggal melanjutkan perkara
yang sudah dimulai oleh suami (Pasal 257) atau
melaksanakan kehendak yang sudah dinyatakan (dengan
akta seperti yang dimaksud dalam Pasal 256) atau
mengajukan gugat sendiri setelah suami meninggal dunia
(Pasal 258).
- Pihak Tergugat
Gugatan penyangkalan keabsahan anak, harus diajukan
terhadap seorang wai khusus yang diangkat untuk anak
itu. Sementara itu si ibu harus dipanggil menghadap
secara sah dalam rangka perkara penyangkalan terseut
(Pasal 260).
UU tidak menentukan siapakah yang mengangkat wali
khusus itu. Didalam prakteknya, pengangkatan wali
berdasarkan permohonan suami yang hendak
mengajukan gugatan dilakukan oleh pengadilan.
Seorang wali yang mewakili anak tersebut dapat diangkat
sebagai wali khusus. Wali khusus akan bertindak
mewakili anak dalam perkara penyangkalan dan
membela kepentingan-kepentingan anak yang berada
dibwah kekuasannya.
Cara Penyangkalan Keabsahan Anak
1. Tenggang waktu penyangkalan keabsahan anak yang
dilakukan suami adalah :
-dalam waktu 1 bulan bila suami bertempat tinggal di
tempat kelahiran anak itu atau disekitar itu (Pasal 256 ayat
1)
-dalam waktu 2 bulan setelah suami kembali dari
bepergian, bila suami itu dalam keadaan tidak hadir
(afwezig) Pasal 256 ayat 2 ; dan
-dalam waktu 2 bulan setelah diketahui bahwa kelahiran
anak itu disembunyikan oleh istrinya (Pasal 256 ayat 2)
2. penyangkalan yang dilakukan oleh ahli waris suami
dapat dilakukan :
-dalam waktu 2 bulan setelah meninggalnya sang suami,
bila penyangkalan tersebut merupakan hak suami yang
telah mengajukan gugat atau setidak-tidaknya telah
melakukan penyangkalan dengan suatu akta yang dibuat
diluar pengadilan (Pasal 256 ayat 5 Jo pasal 257), dan
-dalam waktu 2 bulan sesudah anak tersebut menguasai
harta warisan suami atau merasa mempunyai hak atas
warisan suami (Pasal 258 ayat 2).