Anda di halaman 1dari 27

LOGO

Auditing Syariah
Dr. M. Nur A. Birton, Ak. M.Si
Daftar Isi
1. Ruang lingkup auditing syariah
2. Tujuan auditing syariah
3. Perspektif auditing syariah
4. Prosedur auditing syariah
1.1. Pengertian Auditing Syariah
Secara umum auditing berarti upaya sistematis,
dan terencana untuk memastikan bahwa seluruh
tujuan, prosedur dan pelaksanaan berbagai objek
audit telah dilaksanakan sesuai dengan standar
syariah dan dilakukan oleh pihak yang ditunjuk
dan berkompeten melaksanakannya.
1.2. Landasan Ontologi
Landasan ontologi menggambarkan objek-objek penting
terkait dengan auditing syariah, yaitu menyangkut:
1. Bidang pekerjaan auditing syariah: Objek yang
menyangkut aspek keagamaan, sosial, ekonomi, dan
lingkungan.
2. Pelaku: pihak-pihak yang bertanggung jawab untuk
melaksanakan pekerjaan auditing syariah (Dewan
Pengawas Syariah, Auditor di entitas syariah, auditor
yang memberi jasa untuk entitas syariah, auditor
jaminan halal).
3. Prinsip dan pedoman pelaksanaan pekerjaan auditing
syariah
4. Etika pelaksanaan pekerjaan auditor syariah
1.3. Landasan Epistemologi
Landasan epistemologi auditing syariah:
1. Al-Quran dan Hadits
2. Atsar para sahabat
3. Fatwa-fatwa syariah
4. Hasil-hasil kajian lembaga syariah
5. Hasil-hasil kajian lembaga konvensional
6. Praktik terbaik berbagai lembaga audit yang
tidak bertentangan dengan syariah
1.4. Landasan Etik (1)
A. Landasar-landasan yang bersumber dari Nilai-nilai islam, seperti
1. Integritas : Islam menempatkan integritas sebagai nilai tertinggi yang memandu
seluruh perilakunya. Islam juga menilai perlunya kemampuan, kompetensi dan
kualifikasi tertentu untuk melaksanakan suatu pekerjaan;
2. Keikhlasan : Landasan ini berarti bahwa akuntan harus mencari keridhaan Allah
berarti akuntan tidak perlu tunduk pada pengaruh atau tekanan luar tetapi harus
berdasarkan komitmen agama, ibadah dalam melaksanakan fungsi profesinya.
Tugas profesi harus bisa dikonversi menjadi tugas ibadah;
3. Ketakwaan : Takwa merupakan sikap hati-hati (takut kepada Allah dalam segala
hal) baik dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan sebagai salah satu
cara untuk melindungi seseorang dari akibat negatif dari perilaku yang
bertentangan dari syariah. Sikap ini ditegaskan dalam firman Allah Surat An Nisa
ayat 1 :sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu Dan dalam
Surat Ar Rad Ayat 33 Allah berfirman : Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap
diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya).
Sikap pengawasan diri berasal dari motivasi diri berasal dari motivasi diri sehingga
diduga sukar untuk dicapai hanya dengan kode etik profesi rasional tanpa
diperkuat oleh ikatan keyakinan dan kepercayaan akan keberadaan Allah yang
selalu memperhatikan dan melihat pekerjaan kita. Sebagaimana firman Allah
dalam Surat Thaha ayat 7 :Sesungguhnya dia mengetahui rahasia dan apa yang
lebih tersembunyi;
1.4. Landasan Etik (Lanjt)
4. Kebenaran dan Bekerja Secara Sempurna : Akuntan tidak harus
membatasi dirinya hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan profesi dan
jabatannya tetapi juga harus berjuang untuk mencari dan mnenegakkan
kebenaran dan kesempurnaan tugas profesinya dengan melaksanakan
semua tugas yang dibebankan kepadanya dengan sebaik-baik dan
sesempurna mungkin. firman Allah dalam Surat An Nahl ayat 90
:Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berbuat adil dan berbuat kebajikan,
dan dalam Surat Al Baqarah ayat 195 :Dan berbuat baiklah, karena
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik;
5. Manusia bertanggungjawab dihadapan Allah : Akuntan Muslim harus
meyakini bahwa Allah selalu mengamati semua perilakunya dan dia akan
mempertanggung-jawabkan semua tingkah lakunya kepada Allah nanti di
hari akhirat baik tingkah laku yang kecil maupun yang besar. Sebagaimana
firman Allah dalam Surat Al Zalzalah ayat 7-8 : Barang siapa yang
mengerjakan kebaikan seberat zarrah niscaya dia akan melihat (balasan)
nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrahpun
niscaya dia akan melihat balasnya pula.

B. Prinsip-prinsip etik konvensional yang tidak bertentangan dengan syariah


2. Tujuan auditing syariah (1)
1. Amar Maruf Nahyi Munkar
Firman Allah:






Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli
Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman,
dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. Qs.3:110

2. Tabayyun (klarifikasi) untuk menghindari fitnah

Allah Subhanahu wataala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu
berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan menyesal atas
perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurot[49]:6)
3. Ruang Lingkup Auditing Syariah
Mengacu pada praktik Hisbah:
Hisbah (Arab: Hisb (ah), "verifikasi") adalah doktrin Islam menjaga
segala sesuatu dalam hukum Allah . Doktrin ini didasarkan pada
ekspresi Alquran yang memerintahkan apa yang baik dan melarang
apa yang salah. Doktrin ini memiliki aspek-aspek utama berikut :
1. Kewajiban seorang Muslim
2. Sebuah kewajiban negara untuk memastikan warganya mengikuti
hisbah, khususnya, hukum Syariah.
3. Dalam arti lebih luas, hisbah juga mengacu pada praktek
pengawasan komersial, serikat, dan urusan sekuler lainnya.
Secara tradisional, muhtasib ( al-Muhtasib ) diangkat oleh Khalifah
untuk mengawasi urusan pasar, dalam bisnis, dalam pekerjaan
medis, dll. Posisi muhtasib dapat kira-kira diterjemahkan sebagai "
Inspektur ". Lihat Hisbah (akuntabilitas bisnis) untuk aspek ini.
4. Prosedur Auditing Syariah (1)
Prosedur auditing syariah merupakan cara-cara yang harus
ditempuh seseorang/lembaga dalam melaksanakan
tugasnya. Prosedur sangat bergantung pedoman dan objek
auditnya:
1. Kewajiban seorang Muslim, misalnya bagaimana
individu muslim menilai diri sendiri (self audit).
2. Sebuah kewajiban negara untuk memastikan warganya
mengikuti hisbah, khususnya, hukum Syariah. Misalnya
audit atas pelaksanaan shalat, puasa dan zakat.
3. Dalam arti lebih luas, hisbah juga mengacu pada
praktek pengawasan komersial, serikat, dan urusan
sekuler lainnya.
Hubungan auditor syariah dan objek auditnya
Apabila auditor syariah hanya terkait dengan pekerjaan
komersial, maka hubungannya sebagai berikut:
1. DPS Memastikan pelaksanaan prinsip syariah
dilaksanakan
2. Auditor eksternal entitas syariah memastikan laporan
keuangan disusun sesuai dengan prinsip akuntansi
syariah
3. Auditor internal entitas syariah memastikan
tercapainya tujuan-tujuan organisasi, baik tujuan syariah,
sosial dan komersial
4. Auditor jaminan halal memastikan bahwa produk-
produk yang masuk ke pasar sudah terjamin kehalalan
dan kebaikannya
1. Tantangan Mutakhir Auditing Syariah

Dr. M. Nur A. Birton, Bahan Kuliah Maksi Auditing Syariah


1. Bidang Pekerjaan Auditor Syariah
Bidang pekerjaan auditor syariah dapat dibedakan
dalam dua bidang penting.
a. Auditor untuk entitas bisnis/non bisnis syariah
b. Auditor untuk entitas pemerintahan/publik

Dr. M. Nur A. Birton, Bahan Kuliah


Maksi Auditing Syariah
2. Peranan Auditor Syariah
Entitas Bisnis/Non Bisnis Syariah
a. DPS Memastikan pelaksanaan prinsip syariah
dilaksanakan
b. Auditor eksternal entitas syariah memastikan laporan
keuangan disusun sesuai dengan prinsip akuntansi
syariah
c. Auditor internal entitas syariah memastikan
tercapainya tujuan-tujuan organisasi, baik tujuan
syariah, sosial dan komersial.

Dr. M. Nur A. Birton, Bahan Kuliah


Maksi Auditing Syariah
2. Peranan Auditor Syariah (Lanjt)
Pekerjaan auditor syariah yang mungkin
menjadi domain sektor publik saat ini adalah
d. Auditor jaminan halal memastikan bahwa
produk-produk yang masuk ke pasar sudah
terjamin kehalalan dan kebaikannya
sebagaimana diklaim oleh produsen
e. Auditor fasilitas wisata syariah
memastikan bahwa fasilitas wisata syariah
sesuai yang dijanjikan oleh penyedia jasa.

Dr. M. Nur A. Birton, Bahan Kuliah


Maksi Auditing Syariah
3. Internal audit entitas syariah

Dr. M. Nur A. Birton, Bahan Kuliah Maksi Auditing Syariah


3. Internal audit entitas syariah
Internal audit entitas syariah dapat dibagi dalam
dua pekerjaan utama:
a. Internal audit nonsyariah
b. Internal audit syariah (Dewan Pengawas
Syariah). Pengaturan untuk AAOIFI tidak
menyebutnya sebagai audit akan tetapi
Governance. Di Indonesia fungsi pembuatan
fatwa syariah ada pada DSN dan
pelaksanaannya ada pada DPS.

Dr. M. Nur A. Birton, Bahan Kuliah


Maksi Auditing Syariah
3.b. Substansi SK MUI Kep-98./MUIIII/2001 ttg Susunan Pengurus Dewan
Syariah Nasional MUI Masa Bakti Th.2000-2005 Tgl. 30 Maret 2001

KEDUDUKAN, STATUS DAN ANGGOTA DSN:


1. DSN merupakan bagian dari MUI
2. DSN membantu pihak terkait seperti kemenkeu,
Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan dalam
menyusun peraturan/ketentuan untuk LKS
3. Anggota DSN terdiri dari para ulama, praktisi dan
pakar dlm bidang terkait dg muamalah syariah
4. Anggota DSN ditunjuk dan diangkat oleh MUI
selama 5 tahun masa bakti

Dr. M. Nur A. Birton, Bahan Kuliah Maksi Auditing Syariah


3.b. Regulator-DSN-Fatwa-DPS

MUI
BI/OJK

DSN

Regulasi
Fatwa

DPS
Entitas
Syariah

Dr. M. Nur A. Birton, Bahan Kuliah Maksi Auditing Syariah


3.b. Dewan Pengawas Syariah

1. Badan independen yang ditempatkan oleh


Dewan Syariah Nasional (DSN)
2. Terdiri dari pakar di bidang syariah muamalah dan
memiliki pengetahuan bidang perbankan
3. Persyaratan anggota ditetapkan DSN
4. Dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, DPS wajib
mengikuti fatwa DSN yang merupakan otoritas
tertinggi dalam mengeluarkan fatwa produk dan
jasa.

Dr. M. Nur A. Birton, Bahan Kuliah Maksi Auditing Syariah


3.b. Dewan Pengawas Syariah (Lanjt)

Tugas, wewenang dan tanggung jawab Dewan


Pengawas Syariah al meliputi (psl 27- PBI 6/24/PBI/2004):
memastikan dan mengawasi kesesuaian kegiatan operasional
Bank terhadap fatwa yang dikeluarkan oleh DSN
menilai aspek syariah terhadap pedoman operasional, dan
produk yang dikeluarkan Bank;
memberikan opini dari aspek syariah terhadap pelaksanaan
operasional Bank secara keseluruhan dalam laporan publikasi
Bank;
mengkaji produk dan jasa baru yang belum ada fatwa untuk
dimintakan fatwa kepada DSN;
menyampaikan laporan hasil pengawasan syariah sekurang-
kurangnya setiap 6 (enam) bulan kepada Direksi, Komisaris,
Dewan Syariah Nasional dan Bank Indonesia.
Dr. M. Nur A. Birton, Bahan Kuliah Maksi Auditing Syariah
3.b. Dewan Pengawas Syariah
1) Dewan Pengawas Syariah wajib dibentuk di Bank
Syariah dan Bank Umum Konvensional yang memiliki
UUS.
2) Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diangkat oleh Rapat Umum Pemegang
Saham atas rekomendasi Majelis Ulama Indonesia.
3) Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) bertugas memberikan nasihat dan saran
kepada direksi serta mengawasi kegiatan Bank agar
sesuai dengan Prinsip Syariah (UU Perbankan Syariah
No 21/2008, Pasal 32).

Dr. M. Nur A. Birton, Bahan Kuliah Maksi Auditing Syariah


3.b. Contoh Bagan Organisasi Bank Umum Syariah

RUPS / Rapat Anggota

Dewan Komisaris Dewan Pengawas Syariah

Dewan Audit Dewan Direksi

Divisi / Urusan Divisi / Urusan Divisi / Urusan Divisi / Urusan

Kantor Cabang Kantor Cabang Kantor Cabang

Dr. M. Nur A. Birton, Bahan Kuliah Maksi Auditing Syariah


3.b. Shariah Complience dan Audit Entitas Syariah

Implementasi sharia compliance di LKS menjadi


keniscayaan yang tak terbantahkan.
Pelanggaran sharia compliance yang terjadi,
jelas akan merusak citra dan kredibilitas LKS di
mata masyarakat, sehingga dapat menurunkan
kepercayaan masyarakat kepada LKS.
Untuk itulah peran auditor eksternal di LKS
harus benar-benar dioptimalkan (Azizah, 2011).

Dr. M. Nur A. Birton, Bahan Kuliah Maksi Auditing Syariah


4.a. Tujuan Audit Eksternal LKS
Menurut ASIFI No. 01 (AAOIFI, 2001) tujuan audit atas
laporan keuangan LKS adalah untuk memberikan keyakinan
kepada auditor dalam menyatakan pendapat atau opini
bahwa laporan keuangan LKS telah disusun dalam semua
hal yang material sesuai dengan aturan dan prinsip syariah,
standar akuntansi AAOIFI dan standar akuntansi yang
relevan dengan praktik dimana LKS beroperasi.
Sebab, Ketidakpatuhan LKS terhadap prinsip syariah akan
menghadapkan LKS pada risiko operasional. Untuk itu
auditor eksternal harus memiliki pengetahuan yang baik di
bidang akuntansi dan juga dalam syari'at untuk dapat
memahami dan mengaudit laporan keuangan dalam LKS
(Yaacob, 2012).

Dr. M. Nur A. Birton, Bahan Kuliah Maksi Auditing Syariah


4.b. Audit Laporan Keuangan Entitas Syariah

1.Bank Syariah dan UUS wajib menyampaikan kepada Bank Indonesia


laporan keuangan berupa neraca tahunan dan perhitungan laba rugi
tahunan serta penjelasannya yang disusun berdasarkan prinsip
akuntansi syariah yang berlaku umum, serta laporan berkala lainnya,
dalam waktu dan bentuk yang diatur dengan Peraturan Bank
Indonesia.
2.Neraca dan perhitungan laba rugi tahunan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) wajib terlebih dahulu diaudit oleh kantor
akuntan publik.
3.Bank Indonesia dapat menetapkan pengecualian terhadap kewajiban
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bagi Bank Pembiayaan Rakyat
Syariah.
4.Bank Syariah wajib mengumumkan neraca dan laporan laba rugi
kepada publik dalam waktu dan bentuk yang ditentukan oleh Bank
Indonesia (UU Perbankan Syariah No 21/2008, Pasal 35, ayat 2 5)
.
Dr. M. Nur A. Birton, Bahan Kuliah Maksi Auditing Syariah
LOGO

Referensi:
Azizah Noor, 2011, Analisis Kinerja DPS dalam Penerapan Sharia Compliance pada Bank BRI Syariah, Tangerang
Selatan
UU No 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah
Yaacob H ,2012, Issues and Challenges of Shariah Audit in Islamic Financial Institutions : A Contemporary View,
International Conference on Business and Economic.
Haniffa, n.a. Auditing Financial Institution, Qfinance
Yazkhiruni Yahya and Nurmazilah Mahzan, 2012, The Role of Internal Auditing in Ensuring Governance in Islamic
Financial Institution (IFI), 3rd International Conference On Business And Economics Research (3rd ICBER 2012 )
Proceeding, 12 - 13 MARCH 2012. Golden Flower Hotel, Bandung, Indonesia.

Dr. M. Nur A. Birton, Bahan Kuliah Maksi Auditing Syariah