Anda di halaman 1dari 35

PERAN DAN FUNGSI AGAMA

DALAM KEHIDUPAN

Oleh :
A. Fungsi Agama
Agama merupakan salah satu
prinsip yang (harus) dimiliki Namun, kalau dilihat
oleh setiap manusia untuk dari secara kelompok
mempercayai Tuhan dalam
kehidupan mereka. Tidak atau masyarakat,
hanya itu, secara individu bagaimana kita
agama bisa digunakan untuk memahami agama
menuntun kehidupan manusia
dalam mengarungi tersebut dalam
kehidupannya sehari-hari. kehidupan masyarakat?
Beberapa fungsi agama dalam masyarakat, antara
lain:

Ajaran agama secara yuridis (hukum) berfungsi


menyuruh/mengajak dan melarang yang harus
Fungsi
dipatuhi agar pribagi penganutnya menjadi
Edukatif baik dan benar, dan terbiasa dengan yang baik
(Pendidikan) dan yang benar menurut ajaran agama
masing-masing.
Dimanapun manusia berada, dia selalu
Fungsi menginginkan dirinya selamat. Keselamatan
Penyelamat yang diberikan oleh agama meliputi kehidupan
dunia dan akhirat.
Fungsi
Pemupuk Bila fungsi ini dibangun secara serius dan tulus,
Rasa maka persaudaraan yang kokoh akan berdiri
Solidaritas. tegak menjadi pilar "Civil Society" (kehidupan
masyarakat) yang memukau.
Ajaran agama dapat mengubah kehidupan
pribadi seseorang atau kelompok menjadi
Fungsi kehidupan baru. Dengan fungsi ini seharusnya
Pembaharuan agama terus-menerus menjadi agen perubahan
basis-basis nilai dan moral bagi kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
Melalui tuntunan agama
seorang/sekelompok orang yang bersalah
Fungsi atau berdosa mencapai kedamaian batin dan
Perdamaian perdamaian dengan diri sendiri, sesama,
semesta dan Alloh. Tentu dia/mereka harus
bertaubat dan mengubah cara hidup.

Ajaran agama membentuk penganutnya


Fungsi Kontrol makin peka terhadap masalah-masalah
Sosial sosial seperti, kemaksiatan, kemiskinan,
keadilan, kesejahteraan dan kemanusiaan
Fungsi ini menopang dan mendorong fungsi
Fungsi pembaharuan untuk mengajak umat beragama
Kreatif bekerja produktif dan inovatif bukan hanya bagi
diri sendiri tetapi juga bagi orang lain.

(bersifat perubahan emosi). Ajaran agama


mensucikan segala usaha manusia, bukan saja
Fungsi yang bersifat agamawi, melainkan juga bersifat
duniawi. Usaha manusia selama tidak
Sublimatif bertentangan dengan norma-norma agama, bila
dilakukan atas niat yang tulus, karena untuk Alloh,
itu adalah ibadah.
Fungsi Agama bagi Kehidupan

Ada beberapa alasan tentang mengapa


agama itu sangat penting dalam
kehidupan manusia, antara lain adalah :
Karena agama merupakan sumber moral
Karena agama merupakan petunjuk kebenaran
Karena agama merupakan sumber informasi
tentang masalah metafisika.
Karena agama memberikan bimbingan rohani
bagi manusia baik di kala suka, maupun di kala
duka.
Manusia sejak dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan lemah
dan tidak berdaya, serta tidak mengetahui apa-apa
sebagaimana firman Allah dalam Q. S. al-Nahl (16) : 78

Artinya :
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak
tahu apa-apa. Dia menjadikan untukmu pendengaran, penglihatan
dan hati, tetapi sedikit di antara mereka yang mensyukurinya.

Disinilah letak fungsi agama dalam kehidupan manusia, yaitu


membimbing manusia kejalan yang baik dan menghindarkan
manusia dari kejahatan atau kemungkaran.
Fungsi Agama Kepada Manusia
Dari segi pragmatisme, seseorang itu
menganut sesuatu agama adalah disebabkan
oleh fungsinya. Bagi kebanyakan orang, agama
itu berfungsi untuk menjaga kebahagiaan
hidup.
Fungsi Sosial Agama
Secara sosiologis, pengaruh agama bisa dilihat
dari dua sisi, yaitu pengaruh yang bersifat
positif atau pengaruh yang menyatukan
(integrative factor) dan pengaruh yang bersifat
negatif atau pengaruh yang bersifat destruktif
dan memecah-belah (desintegrative factor).
Fungsi Integratif Agama
Peranan sosial agama sebagai faktor integratif bagi
masyarakat berarti peran agama dalam
menciptakan suatu ikatan bersama, baik diantara
anggota-anggota beberapa masyarakat maupun
dalam kewajiban-kewajiban sosial yang membantu
mempersatukan mereka.
Hal ini dikarenakan nilai-nilai yang mendasari
sistem-sistem kewajiban sosial didukung bersama
oleh kelompok-kelompok keagamaan sehingga
agama menjamin adanya konsensus dalam
masyarakat
Fungsi Disintegratif Agama
Meskipun agama memiliki peranan sebagai
kekuatan yang mempersatukan, mengikat, dan
memelihara eksistensi suatu masyarakat, pada
saat yang sama agama juga dapat memainkan
peranan sebagai kekuatan yang mencerai-
beraikan, memecah-belah bahkan menghancurkan
eksistensi suatu masyarakat.
Hal ini merupakan konsekuensi dari begitu kuatnya
agama dalam mengikat kelompok pemeluknya
sendiri sehingga seringkali mengabaikan bahkan
menyalahkan eksistensi pemeluk agama lain
B. Hikmah
b. Hikmah Beragama
beragama
Tujuan seorang Rasul diutus kepada umat
manusia antara lain untuk mengajarkan
Kitab Suci dan hikmah kepada mereka.
"hikmah" selalu mengandung kemurahan dan
rahmat Ilahi yang maha luas dan mendalam, yang
tidak seluruhnya kita mampu menangkapnya.
Maka disebutkan bahwa siapa dikaruniai hikmah,
ia sungguh telah mendapatkan kebajikan yang
berlimpah-ruah
Sikap hidup Beragama
Terdapat lima tipologi sikap keberagamaan, yakni
eksklusivisme, inklusivisme, pluralisme,
eklektivisme, dan universalisme.
Kelima tipologi ini tidak berarti masing-masing
lepas dan terputus dari yang lain dan tidak pula
permanen, tetapi lebih tepat dikatakan sebagai
sebuah kecenderungan menonjol, mengingat
setiap agama maupun sikap keberagamaan
senantiasa memiliki potensi untuk melahirkan
kelima sikap di atas
1. Eksklusivisme
Sikap eksklusivisme akan melahirkan pandangan ajaran
yang paling benar hanyalah agama yang dipeluknya,
sedangkan agama lain sesat dan wajib dikikis, atau
pemeluknya dikonversi, sebab agama dan penganutnya
terkutuk dalam pandangan Tuhan.
Sikap ini merupakan pandangan yang dominan dari
zaman ke zaman, dan terus dianut hingga dewasa ini.
Tuntutan kebenaran yang dipeluknya mempunyai ikatan
langsung dengan tuntutan eksklusivitas. Artinya,kalau
suatu pernyataan dinyatakan, maka pernyataan lain
yang berlawanan tidak bisa benar.
Bagi agama Kristen, inti pandangan eksklusivisme adalah
bahwa Yesus adalah satu-satu jalan yang sah untuk
keselamatan.
Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada
seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak
melalui Aku (Yohanes 14:6).
Juga, dalam ayat lain (Kisah Para Rasul 4,12) disebutkan,
Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga
selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini
tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia
yang olehnya kita dapat diselamatkan.
Beberapa ayat yang biasa dipakai sebagai ungkapan
eksklusifitas Islam itu antara lain : Q.S. Al-Maidah ayat :
3 dan Q.S. Ali-Imran ayat 85.

Artinya : Hari ini orang kafir sudah putus asa untuk mengalahkan
agamamu. Janganlah kamu takut kepada mereka; takutlah kepada-Ku.
Hari ini Ku-sempurnakan agamamu bagimu dan Ku-cukupkan karunia-Ku
untukmu dan Ku-pilihkan Islam menjadi agamamu ((Q.S.5:3).
Artinya : Barangsiapa menerima agama selain Islam
(tunduk kepada Allah) maka tidaklah akan diterima dan
Sikap ini menimbulkan pada hari akhirat ia termasuk golongan yang rugi
kesukaran-kesukaran. (Q.S.3:85).
Pertama, sikap ini membawa bahaya yang nyata akan
intoleransi, kesombongan, dan penghinaan bagi yang lain.
Kedua, sikap ini pun mengandung kelemahan intrinsik karena
mengandaikan konsepsi kebenaran yang seolah logis secara
murni dan sikap yang tidak kritis dari kenaifan epistimologis.
2. Inklusivisme
Sikap inklusivisme berpandangan bahwa di luar
agama yang dipeluknya juga terdapat kebenaran,
meskipun tidak seutuh atau sesempurna agama
yang dianutnya. Di sini masih didapatkan toleransi
teologis dan iman.
Sikap inklusivitas memuat kualitas keluhuran budi
dan kemuliaan tertentu. Anda dapat mengikuti
jalan anda sendiri tanpa perlu mengutuk yang lain.
Tetapi, pada sisi lain, sikap inklusivitas pun
membawa beberapa kesulitan dan menimbulkan
bahaya kesombongan,.
3. Pluralisme Atau Paralelisme
Sikap teologis paralelisme adalah bisa terekspresi
dalam macam-macam rumusan, misalnya :
agama-agama lain adalah jalan yang sama-sama
sah untuk mencapai Kebenaran yang Sama;
agama-agama lain berbicara secara berbeda,
tetapi merupakan Kebenaran-kebenaran yang
sama sah; atau setiap agama mengekspresikan
bagian penting sebuah kebenaran.
Paradigma itu percaya bahwa setiap agama
mempunyai jalan keselamatan sendiri.
4. Eklektivisme
Eklektivisme adalah suatu sikap keberagamaan
yang berusaha memilih dan mempertemukan
berbagai segi ajaran agama yang dipandang
baik dan cocok untuk dirinya sehingga format
akhir dari sebuah agama menjadi semacam
mosaik yang bersipat eklektik.
5. Universalisme
Universalisme beranggapan bahwa pada
dasarnya semua agama adalah satu dan sama.
Hanya saja, karena faktor historis-antropologis,
agama lalu tampil dalam format plural.
Hikmah hidup keberagamaan haruslah
bermuara pada komitmen untuk menjunjung
tinggi nilai-nilai kemanusiaan tanpa harus
dihambat oleh sentimen kelompok keagamaan.
C. Agama dalam kehidupan manusia
Pengertian Agama secara Umum
Bahasa sanksekerta : a (tidak), gama (kacau)
Bahasa barat : religion yang berakar pada bahasa latin
yakni- relegere (membaca ulang)- religere (mengikat
erat-erat)(pengikat kehidupan manusia yang diwariskan
secara berulang dari generasi ke generasi)
Soedjadmoko- Suatu jalan menuju keselamatan.Suatu
pedoman dan penilaian atas perbuatan manusia.Suatu
petunjuk wahyu yang membawa manusia menuju
suatu kebenaran yang mutlak.
Faktor yang membawa keharmonisan dalam kehidupan
bermasyarakat antara lain :
Cinta kasih diwujudkan dalam perbuatan,
Cinta kasih diwujudkan dalam tutur kata,
Cinta kasih diwujudkan dalam pikiran dan pemikiran dan etikad baik
terhadap orang lain,
Memberi kesempatan yang wajar kepada sesamanya untuk ikut
menikmati apa yang diperoleh secara halal,
Didepan umum ataupun pribadi, ia menjalankan kehidupan bermoral,
tidak berbuat sesuatu yang melukai perasaan orang lain,
Didepan umum ataupun pribadi, memiliki pandangan yang sama, yang
bersifat membebaskan dari penderitaan dan membawanya berbuat
sesuai dengan pandangan tersebut, hidup harmonis, tidak bertengkar
karena perbedaan pendapat.
Motivasi dan Tujuan Hidup Beragama antara
lain :
Penghormatan pada diri sendiri dan orang lain
disetiap agama, ajaran tentang penghormatan pada
diri sendiri dan orag lain telah diatur.
Jalan menuju kehidupan yang layak agama tidak
mengajarkan kepada kaumnya untuk lemah, baik
dalam kehidupan duniawi maupun ukhrowi.
Toleransi Beragama
Dalam beragama atau Pengakuan adanya kekuatan Yang
Maha Tinggi, yaitu Tuhan, Allah, God, Yahweh, Elohim, yang
disertai ketundukan itu, merupakan fitrah (naluri) yang
dimiliki oleh setiap manusia.
Kendati demikian, manusia tetap memerlukan adanya
pemberi peringatan agar tidak menyeleweng dari fitrahnya,
mereka adalah para nabi dan rasul.
Perasaan tunduk kepada Yang Maha Tinggi, yang disebut
iman, atau itikad, yang kemudian berdampak pada adanya
rasa suka (rughbah), takut (ruhbah), hormat (tadzim) dan
lain-lain, itulah unsur dasar al-din (agama). Al-din (agama)
adalah aturan-aturan atau tata-cara hidup manusia yang
dipercayainya bersumber dari Yang Maha Kuasa untuk
kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Kembali kepada Fitrah Beragama
Toleransi/toleran dalam pengertian seperti itu
terkadang menjadi sesuatu yang sangat berat bagi
pribadi-pribadi yang belum menyadarinya. Padahal
perkara tersebut bukan mengakibatkan kerugian
pribadi, bahkan sebaliknya akan membawa makna
besar dalam kehidupan bersama dalam segala
bidang, apalagi dalam domain kehidupan
beragama.
Toleran dalam kehidupan beragama menjadi
sangat mutlak adanya, dengan eksisnya berbagai
agama samawi maupun agama ardli dalam
kehidupan umat manusia ini.
Dalam kaitan ini Tuhan telah mengingatkan kepada umat manusia
dengan pesan yang bersifat universal, dalam Q.S. 42 A. 13:

Artinya : Dia telah


mensyariatkan bagi kamu
tentang agama, apa yang telah
diwasiatkan kepada Nuh, dan
apa yang telah diwahyukan
kepadamu (Muhammad) dan
apa yang telah diwahyukan
kepada Ibrahim, Musa, dan Isa
yaitu: Tegakkanlah agama dan
janganlah kamu berpecah-
belah dalam urusan agama.
Pesan lainnya terkandung dalam Q.S. 3 A. 103:
Artinya : Dan berpegang
teguhlah kamu kepada agama
Allah dan janganlah kamu
bercerai-berai.
Pesan universal ini merupakan pesan kepada
segenap umat manusia tidak terkecuali, yang
intinya dalam menjalankan agama harus menjauhi
perpecahan antarumat beragama maupun sesama
umat beragama.
Pesan dari langit ini menghendaki umat manusia
itu memeluk dan menegakkan agama, karena
Tuhan sang Pencipta alam semesta ini telah
menciptakan agama-agama untuk umat manusia,
kehendak-Nya hanyalah jangan berpecah-belah
dalam beragama maupun atas nama agama.
Jangan Berpecah
Tegakkan agama dan jangan berpecah belah dalam
beragama. Perintah ini juga merupakan standar yang bersifat
partikularistik, yang ruang lingkupnya berlaku bagi kelompok
pemeluk agama tertentu di tempat mereka berada.
Dalam menjalankan agama hendaknya menjauhi perpecahan
sesama agama, terlebih perpecahan itu dibungkus oleh
orientasi motivasional maupun orientasi nilai keagamaan.
Sedangkan elemen lainnya adalah orientasi nilai. Orientasi
ini menunjuk kepada standar-standar normatif yang
mempengaruhi dan mengendalikan pilihan-pilihan individu
terhadap tujuan yang dicapai dan alat yang dipergunakan
untuk mencapai tujuan itu.
Toleransi sebagai Nilai dan Norma
Toleransi dalam pengertian yang telah disampaikan,
yang merupakan keyakinan pokok (akidah) dalam
beragama, dapat kita jadikan sebagai nilai dan norma.
Kita katakan sebagai nilai karena toleransi merupakan
gambaran mengenai apa yang kita inginkan, yang
pantas, yang berharga, yang dapat mempengaruhi
perilaku sosial dari orang yang memiliki nilai itu.
Hidup beragama yang toleran sekaligus menjadi sikap
dasar dalam kehidupan sosial masyarakat, yang selalu
disosialisasikan dalam tingkat rumah tangga, merupakan
sosialisasi primer, dan sosialisasi sekunder terjadi
sesudah sosialisasi primer itu terjadi.
Toleran dan Prinsip Hidup
Berinteraksi dengan jiwa toleran dalam setiap bentuk
aktivitas, tidak harus membuang prinsip hidup
(beragama) yang kita yakini. Kehidupan yang toleran
justru akan menguatkan prinsip hidup (keagamaan) yang
kita yakini.
Segalanya menjadi jelas dan tegas tatkala kita
meletakkan sikap mengerti dan memahami terhadap
apapun yang nyata berbeda dengan prinsip yang kita
yakini. Kita bebas dengan keyakinan kita, sedangkan
pihak yang berbeda (yang memusuhi sekalipun) kita
bebaskan terhadap sikap dan keyakinannya.
Perkembangan Agama Dunia Kini dan
Mendatang
Jika umat manusia dengan agamanya, kemudian
mengembangkannya, itu sudah menjadi fitrah manusia.
Sebab semua orang beragama merasa wajib untuk
mengembangkan dan menyampaikan keyakinannya kepada
siapapun di dunia ini. Di sinilah letaknya sebuah toleransi,
siapapun umat beragama bebas untuk mendakwahkan
agamanya dan siapapun manusia bebas menerima maupun
menolak ajakan itu.
Rambu-rambu untuk itu dalam tatanan hidup antarbangsa
dan agama telah dimiliki oleh umat dan bangsa sedunia.
Sikap toleran akan dapat meminimalkan segala konsekuensi
negatif penyebaran agama.
Posisi Umat Islam Bangsa Indonesia
Dalam menegakkan kehidupan keagamaan yang
toleran dan damai di muka bumi ini peranan
Muslim Asia dimotori oleh Indonesia, mestinya
dapat lebih mewarnai Dunia Islam kontemporer.
Berbagai syarat untuk itu ada dalam lingkungan
wilayah ini baik berupa bahasa, budaya dan adat
kebiasaan yang dimiliki oleh Muslim di wilayah ini.
Pengembangan dan pembentukan diri bagi
Muslim di wilayah ini tidak lagi harus tergantung
pada wilayah tempat asal mula munculnya agama
Islam (Timur Tengah).
Kemampuan untuk berkembang membentuk diri untuk tampil
sebagai umat beragama yang toleran dapat ditunjang oleh
kemampuan Muslim di wilayah ini, sejalan dengan perkembangan
peradaban umat manusia yang semakin maju yang dapat diakses
oleh setiap Muslim di Asia Tenggara, khususnya Indonesia.
Untuk menuju ke arah itu, kita sebagai masyarakat/kelompok sosial
ini harus menanamkan visi pada diri kita masing-masing, kiranya
dengan aktivitas yang selama ini kita tekuni sebagai
masyarakat terus bergerak ke arah kehidupan beragama atau
kegiatan lainnya selalu mengedepankan sikap toleran.
Ini maknanya, lingkungan kita ini harus sangup menjadi wahana
pengkaderan bangsa dan umat yang orientasinya adalah terciptanya
sikap toleran dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.