Anda di halaman 1dari 38

CASE PRESENTATION

BAGIAN ILMU BEDAH SUBDIVISI BEDAH TUMOR


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITA S HASANUDDIN
MAKASSAR
IDENTITAS PASIEN

Nama : Ibu.N
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 39 tahun 8 bulan
Rekam Medis : 694162
MRS : 11 / 3 / 2015
Ruangan : lontara 2 atas
belakang
ANAMNESIS

KELUHAN UTAMA: Benjolan di leher


ANAMNESIS TERPIMPIN:
Dialami sejak +/- 5 tahun yang lalu muncul di leher sebelah kiri,
Pada awalnya benjolan itu sebesar biji kelereng, ukurannya
bertambah besar dari tahun ke tahun hingga ke saat ini. Benjolan
tidak dirasakan nyeri, penurunan berat badan tidak ada, keluhan lain
tidak ada, riwayat terpapar radiasi tidak ada, riwayat keluarga
dengan penyakit yang sama tidak ada.
PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalisata : sakit sedang / gizi cukup /compos mentis


Status Vitalis
Tekanan darah : 120 / 70 mmHg
Nadi : 80 x/ menit; regular
Pernapasan :16x/menit;thoracoabdominal
Suhu : 36,9C
PEMERIKSAAN FISIS

Status Lokalis :
Kepala
Ukuran : Normocephal
Konjungtiva : Anemis tidak ada
Sklera : Ikterus tidak ada
Bibir : Tidak ada Sianosis
Gusi : Perdarahan tidak ada
Mata
Pupil bulat, isokor diameter 2,5mm/2,5mm. Reflex cahaya +/+
PEMERIKSAAN FISIS

Thorax
Inspeksi : Pengembangan dada simetris kiri=kanan, tidak ada hematom,
tidak ada retraksi dinding dada.
Palpasi : Pergerakan dada simetris, krepitasi tidak ada, nyeri tekan tidak
ada. Massa tidak ada.
Perkusi : Sonor, simetris pada kedua lapangan paru.
Auskultasi : Bunyi pernafasan vesikuler, Ronchi dan wheezing tidak
ditemukan.
PEMERIKSAAN FISIS

Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS V midclavicularis sinistra.
Perkusi : Pekak
batas atas jantung ICS II linea parasternalis sinistra
batas kanan jantung ICS III linea parasternalis dextra
batas kiri jantung ICS V linea midclavicularis sinistra
Auskultasi : S1/S2 murni, reguler, tidak ada murmur
PEMERIKSAAN FISIS

Abdomen :
Inspeksi : datar, supel, ikut gerak napas, tidak tampak massa tumor,
Auscultasi : peristaltik (+) kesan normal
Perkusi : timpani
Palpasi : Nyeri tekan tidak ada, massa tumor tidak teraba, hepar
dan lien tidak teraba
PEMERIKSAAN FISIS

STATUS LOKALIS: Leher


Inspeksi: Tampak benjolan sebesar 2 biji bola tenis, warna kulit sama
dengan warna kulit sekitarnya.
Palpasi:
Nyeri tekan tidak ada, mobile, benjolan ikut menelan,konsistensi
kenyal, permukaan berbenjol, kistik, ukuran 10x15x6 cm
Foto klinis
17-3-2015 normal unit

WBC 10.4 4.0-10.0 10/mm


RBC 4.24 4.50-6.50 10^6/mm
Hb 12.8 13.0-17.0 gr/dL
HCT 37.0 40.0-54.0 %
PLT 312 150-400 10/mm
GDS 253 140 mg/dL
Ureum 24 10-50 mg/dL
Kreatinin 0.60 <1.3 mg/dL
SGOT 19 <38 U/L
SGPT 23 <41 U/L
BT 300 1-7 menit
CT 700 4-10 menit
PT 11.1 10-14 detik
INR 1.07 --
APTT 30.1 22.0-30.0 detik
24-2-2015 Hasil Normal
FT4 0.83 0.932-1.71
TSHs 0.57 0.27-4.2
Na 144 136-145
K 3.8 3.5-5.1
Cl- 107 97-111
HbA1c 5.9 4-6
Fine Needle Aspiration(FNA)

Mikroskopik:
Saat FNA teraspirasi cairan coklat 6 cc
Sedian apuasan terdiri dari sebaran cyst
Makrofag latar belakang massa koloid tebal
Kesimpulan:
LESI JINAK CYSTIC, SUSPECT STRUMA COLOIDES CYSTIC
FOTO THORAX

KESAN:
Soft tissue desity region colli
Tidak tampak tanda-tanda
metastasis pada foto thorax ini
CT SCAN THYROID/LEHER

KESAN:
Massa thyroid lobus kiri
Resume

Seorang wanita berumur 39 tahun masuk ke rumah sakit


Wahidin Sudirohusodo dengan benjolan pada leher kiri
dialami sejak +/- 5 tahun yang lalu muncul di leher
sebelah kiri,Pada awalnya benjolan itu sebesar biji
kelereng, ukurannya bertambah besar dari tahun ke
tahun hingga ke saat ini. Benjolan tidak dirasakan nyeri,
penurunan berat badan tidak ada, keluhan lain tidak
ada, riwayat terpapar radiasi tidak ada, riwayat
keluarga dengan penyakit yang sama tidak ada.
Status generalisata : sakit sedang/gizi
cukup/compos mentis. Status vitalis : tekanan
darah : 120 / 70 mmHg, nadi : 80 x/ menit;
regular; pernapasan : 16x/menit;
thoracoabdominal; suhu : 36,9C. status lokalis
tampak benjolan sebesar 2 biji bola tenis, warna
kulit sama dengan warna kulit sekitarnya. Pada
palpasi, tidak ada nyeri tekan, mobile, benjolan
ikut menelan, permukaan berbenjol, kistik.
Pada pemerikssan laboratorium di dapatkan
adanya peningkatan FT4 0.83 sedangkan TSHs
dalam batas normal. Pada pemeriksaan foto
thorax di dapatkan adanya soft tissue density
pada region colli. Pemeriksaan CT-Scan thyroid
didaptkan massa thyroid lobus sinistra, lobus
dextra dalam batas normal
Diagnosis

Nodul Thyroid sinistra


Rencana Kerja

Total Thyroidectomy
Terapi

Tunggu Jadwal Operasi


DAFTAR PUSTAKA
NODUL TIROID

Pembesaran tiroid atau yang sering


disebut goiter merupakan suatu
permasalahan klinik yang sering
ditemukan, 5- 10% dari kasus tersebut
dapat berkembang menjadi nodul tiroid
dan dari hasil survei di Inggris dilaporkan
prevalensi dari goiter maupun nodul tiroid
mencapai 15%.
Anatomy Thyroid
FUNGSI THYROID

Efek metabolisme Hormon Tyroid : (Djokomoeljanto, 2001)


Kalorigenik
Termoregulasi
Metabolisme protein. Dalam dosis fisiologis kerjanya bersifat
anabolik, tetapi dalam dosis besar bersifat katabolik
Metabolisme karbohidrat. Bersifat diabetogenik, karena resorbsi
intestinal meningkat, cadangan glikogen hati menipis, demikian
pula glikogen otot menipis pada dosis farmakologis tinggi dan
degenarasi insulin meningkat.
Metabolisme lipid. T4 mempercepat sintesis kolesterol, tetapi proses
degradasi kolesterol dan ekspresinya lewat empedu ternyata jauh
lebih cepat, sehingga pada hiperfungsi tiroid kadar kolesterol
rendah. Sebaliknya pada hipotiroidisme kolesterol total, kolesterol
ester dan fosfolipid meningkat.
Vitamin A. Konversi provitamin A menjadi vitamin A di hati
memerlukan hormon tiroid. Sehingga pada hipotiroidisme dapat
dijumpai karotenemia.
Lain-lain : gangguan metabolisme kreatin fosfat menyebabkan
miopati, tonus traktus gastrointestinal meninggi, hiperperistaltik
sehingga terjadi diare, gangguan faal hati, anemia defesiensi besi
dan hipotiroidisme
Epidemiologi

Risiko untuk mengalami nodul tiroid diperkirakan sebesar


5-50% bergantung pada sensitivitas metode yang
digunakan dan populasi yang diteliti.
Nodul tiroid lebih sering ditemukan pada wanita
dibandingkan pria.
Walaupun secara umum sering ditemukan, namun
keganasan kelenjar tiroid hanya sebesar 0.004% dari
populasi setiap tahun atau sebanyak 12.000 kasus baru
pertahun
Klasifikasi Nodul Tiroid
Faktor Resiko

Usia
pajanan sinar radiasi pengion
defisiensi iodium.
jenis kelamin,
riwayat radiasi sinar pengion yang pernah diterima pasien,
riwayat keganasan tiroid pada keluarga
Patofisiologi

Gangguan pada jalur TRH-TSH hormon tiroid ini menyebabkan


perubahan dalam struktur dan fungsi kelenjar tiroid gondok. Jika
suatu kelompok kecil sel tiroid, sel inflamasi, atau sel maligna
metastase ke kelenjar tiroid, akan menyebabkan nodul tiroid
(Mulinda, 2005)
Defisiensi dalam sintesis atau uptake hormon tiroid akan
menyebabkan peningkatan produksi TSH. Peningkatan TSH
menyebabkan peningkatan jumlah dan hiperplasi sel kelenjar tyroid
untuk menormalisir level hormon tiroid. Jika proses ini terus menerus,
akan terbentuk hipertrofi kelenjar tiroid (struma). Penyebab defisiensi
hormon tiroid termasuk inborn error sintesis hormon tiroid, defisiensi
iodida dan goitrogen (Mulinda, 2005).
Gejala Klinis

Pada umumnya nodul tiroid bersifat asimtomatik (tidak ada gejala)


ketika nodul tersebut pertama kali ditemukan. Umumnya, pasien
dengan nodul tiroid datang berobat karena keluhan kosmetik atau
ketakutan akan keganasan
Sebagian kecil pasien, khususnya yang dengan struma nodosa
besar, mengeluh adanya gejala mekanis, yaitu penekanan pada
esophagus (disfagia) atau trakea (sesak napas) (Noer, 1996)
Anamnesis dan pemfis

Anamnesis
Status Lokalis:
jumlah nodul, diffusa atau terlokalisasi
Permukaan nodul rata atau noduler
konsistensi lunak atau padat
Mobilisasi, dapat digerakkan atau terfiksasi
nyeri pada penekanan : ada atau tidak
pembesaran gelenjar getah bening
Pemeriksaan penunjang

Evaluasi laboratorium(TSH and FT4)


USG Thyroid
CT-Scan/MRI
Biopsi FNA
Algoritma diagnostik dalam
penatalaksanaan nodul tiroid
Penatalaksanaan

Terapi supresi dengan I-tiroksin


Suntikan etanol perkutan (Percutaneous Ethanol Injection)
Terapi Iodium Radioaktif (1-131)
Pembedahan
Terapi laser interstisial dengan tuntutan ultrasonografi
Jenis Keuntungan Kekurangan/Kerugian
Pengobatan
Bedah Ablasi nodul, menghilangkan keluhan, Perlu perawatan di RS, mahal, risiko bedah
specimen untuk diagnostic histologi :paralisis pita suara, hipoparatiroidis,
hipotiroidisme
Levotiroksin Tidak perlu dirawat di RS, murah, dapat Efikasi rendah, pengobatan jangka panjang,
memperlambat pertumbuhan nodul dan nodul tumbuh kembali setelah dihentikan,
menghambat pembentukan nodul baru takiaritmia jantung, penurunan densitas
tulang, tidak berguna bila TSH tersupresi
Iodium radioaktif Tidak perlu dirawat di RS, murah, efek Kontraindikasi pada wanita hamil,
samping rendah, nodul mngecil sampai 40% pengecilan nodul bertahap, hipotiroidisme
dalam satu tahun dalam 5 tahun (10% pasien), risiko tiroiditis
dan tirotoksikosis
Suntikan etanol Tidak perlu di rawat di RS, relatif murah, Pengalamanasih terbatas, efikasi rendah
tidak ada hipotiroidisme nodul mengecil 45% pada nodul besar, keberhasilan tergantung
dalam 6 bulan operator, rasa nyeri hebat, risiko
tirotoksikosis dan paralisis pita suara,
perembesan etanol, etanol mengganggu
penilaian sitologi dan histology
TERIMA KASIH