Anda di halaman 1dari 15

Pendahuluan

A. Sejarah Hukum Perburuhan


Lahirnya hukum perburuhan terkait erat dengan Revolusi Industri yang
terjadi di Eropa, khususnya di Inggris pada abad ke-19. Undang-undang
perburuhan pertama kali muncul di Inggris tahun 1802, substansi undang-
undang ini mengenai jaminan perlindungan terhadap kesehatan kerja dan
keselamatan kerja.
Sedangkan di Indonesia, riwayat hukum perburuhan diawali pada
zaman perbudakan, rodi dan poenale sanksi. Dalam hukum perburuhan dikenal
adanya Pancakrida Hukum Perburuhan yang harus dicapai sebagai berikut :
Membebaskan manusia Indonesia dari perbudakan atau perhambaan.
Pembebasan manusia indonesia dari rodi atau kerja paksa.
Pembebasan buruh/pekerja dari poenale sanksi.
Pembebasan buruh/pekerja dari ketakutan kehilangan pekerjaan.
Memberikan posisi yang seimbang antara buruh/pekerja dan pengusaha.
B. Landasan Normatif Intervensi Pemerintah
dalam Bidang Perburuhan/Ketenaga Kerjaan

UUD 1945 yang menjamin hak setiap warga negara untuk memperoleh
pekerjaan. ( Pasal 27 ayat 2 )

UUD 1945 ( amandemen kedua ) Bab XA tentang Hak Asasi Manusia. ( Pasal
28A-28J )

setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan
yang adil dan layak dalam hubungan kerja. ( pasal 28D )

UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia ( HAM ).

Setiap orang berhak dengan bebas memilih pekerjaan yang disukainya dan
berhak pula atas syarat-syarat ketenagakerjaan yang adil. ( Pasal 38 ayat 2 )
C. Landasan Teoretis Intervensi Pemerintah dalam
Bidang Perburuhan atau Ketenagakerjaan
Pembukaan UUD 1945 alinea ke empat menetapkan tujuan republik indonesia
yaitu :
Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Dari ketentuan diatas setidaknya ada empat tujuan bernegara, yaitu :


Protection function, negara melindungi seluruh tumpah darah indonesia.
Welfare function, negara wajib mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh
rakyatnya.
Educational function, negara memiliki kewajiban mencerdaskan kehidupan
bangsa
Peacefulness function, wajib menciptakan perdamaian dalam kehidupan
bernegara dan bermasyrakat, baik kedalam maupun keluar.
Lanjutan......
Sehubungan dengan tujuan bernegara bangsa Indonesia tersebut, para pakar
menyebutkan bahwa tujuan negara seperti itu mencerminkan tipe negara
hukum kesejahteraan ( welfare State ).
Teori negara hukum kesejahteraan merupakan perpaduan antara konsep
negara hukum dan negara kesejahteraan yaitu :
Konsep negara hukum merupakan negara yang menempatkan hukum
sebagai dasar kekuasaannya dan penyelenggaraan kekuasaan tersebut
dalam segala bentuknya dilakukan di bawah kekuasaan hukum.
Sedangkan konsep negara kesejahteraan adalah negara atau pemerintah
yang tidak semata-mata sebagai penjaga keamanan atau ketertiban
masyarakat tetapi pemikul utama tanggung jawab mewujudkan
keadilan sosial, kesejahteraan umum dan sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.
Ciri-ciri negara hukum kesejahteraan adalah sebagai berikut ( Abrar Saleng: 2004 ) :

Mengutamakan terjaminnya hak-hak asasi sosial-ekonomi rakyat.


Pertimbangan-pertimbangan efisiensi dan manajemen lebih diutamakan
dibanding pembagian kekuasaan yang berorientasi politis, sehingga peranan
eksekutif lebih besar dibandingkan legislatif.
Hak milik tidak bersifat mutlak.
Negara tidak hanya menjaga ketertiban dan keamanan atau sekedar penjaga
malam, melainkan negara turut serta dalam usaha usaha sosial maupun
ekonomi.
Kaidah-kaidah hukum administrasi semakin banyak mengatur sosial
ekonomi dan membebankan kewajiban tertentu pada warga negara.
Peranan hukum publik condong mendesak hukum privat, sebagai
konsekuensi semakin luasnya peranan negara.
Lebih bersifat negara hukum materiil yang mengutamakan keadilan sosial
yang materiil pula.

Berdasarkan ciri-ciri diatas, peranan negara ada pada posisi yang kuat dan besar
dalam menciptakan kesejahteraan umum dan keadilan sosial. Konsepsi ini dalam
berbagai istilah disebut negara sebagai alat pelayanan.
Dalam kajian ini aspek yang paling relevan adalah aspek sosial ekonomi
dari konsep negara hukum kesejahteraan. Secara teoretik, Wolfgang
Friedman (1971:3) mengemukakan empat fungsi negara di dalam bidang
ekonomi yaitu :
Fungsi negara sebagai penjamin kesejahteraan rakyat.
Fungsi negara sebagai pengatur.
Fungsi negara sebagai enterpreneur atau menjalankan sektor-sektor
tertentu melalui state owned corporation.
Fungsi negara sebagai umpier untuk merumuskan standar yang adil
mengenai kinerja sektor ekonomi termasuk perusahaan negara.
D. Intervensi Pemerintah dan Sifat Hukum Perburuhan atau
Ketenagakerjaan.
Tujuan intervensi pemerintah dalam bidang perburuhan ini adalah untuk mewujudkan
perburuhan yang adil, karena dalam peraturan perundang-undangan perburuhan
memberikan hak-hak bagi buruh/pekerja sebagai manusia yang utuh, baik menyangkut
keselamatannya, kesehatannya, upah yang layak dan sebagainya.

Kehadiran undang-undang no. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan telah


memberikan nuansa baru dalam hukum perburuhan/ketenagakerjaan yakni :

Mensejajarkan istilah buruh/pekerja, istilah majikan, pengusaha dan pemberi


kerja.
Menggantikan istilah perjanjian perburuhan ( Kesepakatan Kerja Bersama
(KKB)) dengan istilah Perjanjian Kerja Bersama (PKB).
Memberikan kesetaraan antara pekerja pria dan wanita, khususnya untuk
bekerja pada malam hari.
Memberikan sanksi yang memadai serta menggunakan batasan minimum dan
maksimum, sehingga lebih menjamin kepastian hukum dalam penegakannya.
Mengatur mengenai sanksi administratif mulai dari teguran, peringatan tertulis,
pembatasan kegiatan usaha dll, yang pada peraturan perundang-undangan
sebelumnya sanksi ini tidak diatur.
E. Tenaga Kerja dan Angkatan Kerja.
Dalam pasal 1 angka 2 undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang
ketenagakerjaan disebutkan bahwa, setiap orang yang mampu melakukan
pekerjaan guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan
sendiri maupun masyarakat.

Menurut Payaman J. Simanjuntak ( 1985: 2), pengertian tenaga kerja adalah


mencakup penduduk yang sudah atau sedang bekerja, yang sedang mencari
kerja dan yang melakukan pekerjaan lain seperti sekolah dan mengurus rumah
tangga.
2. Buruh atau Pekerja
Pasal 1 angka 3 undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan
menyebutkan bahwa pekerja atau buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan
menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Dari pengertian pekerja tersebut
jelas bahwa tenaga kerja yang sudah bekerja yang dapat disebut pekerja/buruh.
F. Konsep Hukum pada Umumnya dan Hukum
Ketenagakerjaan.
Menurut ahli hukum berkebangsaan Belanda, J. van Kan (1983:13)
mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan
yang bersifat memaksa, yang melindungi kepentingan orang dalam
masyarakat.
Menurut Wirjono Prajadikoro (1992:9) yang menyatakan bahwa hukum
adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai
anggota masyarakat, sedangkan satu-satunya tujuan hukum adalah
menjamin kebahagiaan dan ketertiban dalam masyarakat.
Menurut Molennar dalam bukunya, Imam Soepomo (1983: 2)
mendefinisikan hukum perburuhan sebagai bagian hukum yang berlaku,
yang pada pokonya mengatur hubungan antara buruh dengan majikan,
antara buruh dengan buruh dan antara buruh dengan pengusaha.
Mr. M.G. Levenbach menyebutkan bahwa hukum perburuhan adalah
hukum yang berkenaan dengan keadaan kehidupan yang langsung
bersangkut paut dengan hubungan kerja.
Lanjutan......
Imam Soepomo memberikan pengertian hukum perburuhan sebagai
himpunan peraturan, baik tertulis maupun tidak tertulis yang berkenaan
dengan kejadian dimana seseorang bekerja pada orang lain dengan
menerima upah.

Dalam Pasal 1 Angka 1 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang


ketenagakerjaan menyebutkan bahwa ketenagakerjaan adalah hal yang
berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama dan
sesudah masa kerja. Berdasarkan uraian dalam Pasal 1 Angka 1
Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 ini dapat dirumuskan bahwa
hukum ketenagakerjaan adalah semua peraturan hukum yang berkaitan
dengan tenaga kerja baik sebelum berkerja, selama atau dalam
hubungan kerja dan sesudah hubungan kerja.
G. Kaidah Hukum dan Asas Hukum.
Kaidah berasal dari bahasa arab qaaidah atau al-qaaidah. Kaidah berarti prinsip,
asas, dasar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia makna kaidah adalah rumusan
asas-asas yang menjadi hukum, aturan yang sudah pasti, patokan, dalil ( KBBI,
1997: 430 ). Sedangkan hukum adalah suatu aturan yang dibuat oleh pejabat yang
memiliki otoritas, dalam rangka mengatur kehidupan bermasyarakat yang apabila
dilanggar akan dikenakan sanksi yang tegas.

Agar peraturan perundang-undangan dapat berlaku efektif, maka secara substansial


harus memperhatikan beberapa asas, yaitu :
Undang undang tidak boleh berlaku surut
Undang undang yang di buat oleh penguasa yang lebih tinggi mempunyai kedudukan yang
lebih tinggi pula.
Undang-undang yang baru mengalahkan undang-undang yang lama.
undang undang tidak dapat di ganggu gugat.
Undang undang merupakan sarana untuk mencapai kesejahteraan spiritual dan material bagi
masyarakat maupun pribadi melalui pelestarian atau pembaruan.
Eikema Hommes & Noto amijoyo (1975:4 ) mengatakan bahwa asas
hukumtidak boleh dianggap sebagai norma hukum yang konkret akan tetapi
perlu dipandang sebagai suatu dasar dasar hukum atau petunjuk bagi
hukum yang berlaku. Pembentukan asas hukum praktis perlu berorientasi
pada asas asas hukum tersebut. Dengan kata lain, asas hukum ialah
dasasr-dasar atau penunjuk arah dalam pembentukan hukum positif.

Menurut Scholten & Sudikno Mertokusumo (1996:5) menyebutkan bahwa


asas hukum adalah kecenderungan kecendrungan yang disyaratkan oleh
pandangan kesusilaan kita terhadap hukum yang merupakan sifat-sifat
umum dengan segala keterbatasannya sebagai pembawaanya yang umum
tersebut akan tetapi yang tidak boleh tidak harus ada.

Asas hukum menurut Klanderman yang terdapat pada buku tulisan sudikno
merto kusumo ( 1996:6) menyebutkan bahwa asas hukum berfungsi untuk
mengesahkan dan memiliki pengaruh yang normatif dan mengikat para
pihak.