Anda di halaman 1dari 15

Risiko dalam

Pandangan
Islam
Additional Material
Islam Agama yang Kaffah
Al-anam:38
Tidak ada suatu pun, urusan dunia maupun akhirat kecuali
Islam telah menjelaskan perkaranya.
Rasulullah shalallahualahi wa bersabda : tidaklah
tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke surga
dan menjauhkan dari neraka melainkan telah
dijelaskan semuanya kepada kalian.
( HR. Ath-Thabrani dan Ibnu Hibban).
Konsep ketidakpastian dalam ekonomi
islam menjadi salah satu pilar penting.
Tidak ada seorangpun yang
menginginkan usaha atau investasinya
mengalami kerugian. Bahkan dalam
tingkat makro, sebuah negara juga
mengharapkan neraca perdagangannya
yang positif.
Para ulama telah bersepakat bahwa terdapat dua kaidah
penting yang harus diperhatikan dalam menjalankan
bisnis dan setiap transaksi usaha, yaitu :
a. kaidah al-kharaj bidh dhaman (pendapatan adalah
imbalan atas tanggungan yang diambil)
b. kaidah al ghunmu bil ghurmi (keuntungan adalah
imbalan atas kesiapan menanggung kerugian)/ risiko
akan selalu menyertai setiap ekspektasi return atau
imbal hasil.
[QS. Al Hasyr : 18]
Riset
KONSEP RISIKO DALAM PERSPEKTIF ISLAM:
STUDI HERMENEUTIK TERHADAP KARYA
IBNU TAIMIYAH DAN AL-GHAZALI TENTANG
KHAUF WA RAJA (KETAKUTAN DAN
HARAPAN) (Mildaeni, 2014)
Hasil Penelitian
Konsep risiko ini berbeda dengan konsep risiko yang umum
diketahui. Risiko dalam perspektif Islam muncul karena
posisi manusia sebagai seorang hamba.
Faktor penyebab adanya risiko adalah keterbatasan
manusia. Keterbatasan ini meliputi dua hal, yaitu
ketidaktahuan dan ketidakmampuan.
Penelitian ini menegaskan bahwa manusia memiliki
kebebasan untuk memilih (freedom to choose). Penelitian
ini juga menunjukan bahwa setiap perbuatan manusia
memiliki konsekuensi. Ini artinya manusia memiliki peran
dalam menentukan hasil dari perbuatan yang
dilakukannya. Bagi seorang muslim, nilai-nilai agama
menjadi panduan dalam bersikap dan bertingkah laku
termasuk sikap dan perilaku terhadap risiko.
Hakikat Al-Khauf Dalam pandangan al-Ghazali, al-khauf (takut)
adalah ungkapan derita hati dan kegelisahan yang disebabkan
terjadinya sesuatu yang dibenci Tuhan yang mungkin terjadi pada
seseorang di masa yang akan datang

3 komponen Al-khauf :
a.ilm (mengetahui)
Mengenai ilm yang menjadi bagian dari khawf di sini maksudnya
adalah ilmu atau pengetahuan tentang upaya-upaya menghindari
sesuatu yang dibenci Tuhan.
-Perumpamaan ilmu di sini tidak ubahnya seperti seseorang yang
dititipkan sesuatu kemudian ia takut kalau-kalau titipan itu rusak.
a.hal
Kondisi ini (hal) adalah keadaan dimana seseorang telah dipenuhi dan
dikuasai oleh rasa takutnya itu

Rasa takut yang berlebihan dan melewati batas-batas pertengahan


akan menimbulkan penyesalan. Rasa takut seperti ini tercela sebab
kondisi seperti ini boleh jadi akan menghalangi amal.
c. amal
Menerapkan ilmu yang dimiliki dengan
landasan rasa takut terhadap Allah.
Noted !
Ajaran al-Ghazali tentang al-khauf yang
telah diuraikan tersebut pada dasarnya
mengajak orang untuk banyak mengingat
akan Allah Swt. serta menjalankan segala
perintahNya dan menjauhi laranganNya.
Namun itu semua tidak akan sempurna
manakala tidak diiringi dengan ilmu dan
dilandasi rasa takut pada Allah dalam
pengamalannya.
Hakikat Al-Raja(harapan)
Pengertian al-raja adalah penantian atas
sesuatu yang dicintai dengan mengerahkan
segenap upaya seorang hamba.
al-raja dapat dicapai manakala ada
kesungguhan upaya yang ada.
bila benihnya baik, tanahnya subur dan
airnya cukup, maka benarlah harapnya (al-
raja).
mengharap (al-raja) itu terpuji karena
membangun rasa optimis dan putus asa itu
tercela karena menghalangi amal.
Dengan mengutip sejumlah ayat dan
hadits, al-Ghazali menjelaskan
keutamaan al-raja. Takut kepada Tuhan
(khauf) berdampingan dengan harapan
dan penantian (raja1 ), sehingga
mengandung pengertian bahwa al-khauf
dan al-raja adalah dua perkara yang
tidak dapat dipisahkan.
-The end-