Anda di halaman 1dari 70

STRATEGI NASIONAL

SANITASI TOTAL BERBASIS


MASYARAKAT
( STBM )

Serang 25-27 januari 2011


Human Development Index di Negara-negara ASEAN, 2004 - 2007

2004 2005 2006 2007


Tahun
HDI Ranking HDI Ranking HDI Ranking HDI Ranking

Singapura 0,922 25 0,918 28 0,944 23

Brunei Darussalam 0,894 30 0,919 27 0,92 30

Malaysia 0,805 61 0,811 63 0,823 63 0,829 66

Thailand 0,784 74 0,781 78 0,786 81 0,783 87

Pilipina 0,763 84 0,771 90 0,745 102 0,751 105

Vietnam 0,709 109 0,733 105 0,718 114 0,725 116

Indonesia 0,711 108 0,728 107 0,726 109 0,734 111

Myanmar 0,583 132 0,585 135 0,568 138

Kamboja 0,583 129 0,598 131 0,575 136 0,593 137

Source : UNDP, Human Development Report 2006-2009

Catatan: Tahun 2007, hanya Singapura yang peringkat HDI-nya meningkat.


I. Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs)
1. Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan
2. Memenuhi pendidikan dasar untuk semua
3. Mendorong kesetaraan jender & pemberdayaan perempuan
4. Menurunkan angka kematian balita
5. Meningkatkan kualitas kesehatan ibu melahirkan
6. Memerangi HIV/AIDS, malaria & TBC
7. Menjamin kelestarian fungsi lingkungan hidup
8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan
Bagian dari Deklarasi Milenium yang disepakati 189 negara
anggota PBB di tahun 2000, untuk dicapai bersama di tahun 2015.
Disertai Target2 & Indikator2 yang lebih konkrit & kuantitatif
Akses Air Bersih & Sanitasi: salah satu target dari MDG 7
MDGs-BIDANG KESEHATAN

1. Menurunkan malnutrisi anak gizi buruk dan gizi


kurang Goal 1
2. Menurunkan Angka Kematian Anak (AKB dan
AKBA) Goal 4
3. Menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) Goal
5
4. Mengendalikan penyebaran penyakit menular
(HIV dan AIDS, Malaria, TB) Goal 6
5. Penyediaan air minum dan fasilitas sanitasi
dasar Goal 7
4
3 KESEHATAN
Tema Prioritas
Penitikberatan pembangunan bidang kesehatan melalui pendekatan preventif,
tidak hanya kuratif, melalui peningkatan kesehatan masyarakat dan lingkungan
diantaranya dengan perluasan penyediaan air bersih, pengurangan wilayah
kumuh sehingga secara keseluruhan dapat meningkatkan angka harapan hidup
dari 70,6 tahun pada 2009 menjadi 72,0 tahun pada 2014, dan pencapaian
keseluruhan sasaran Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015
Substansi Inti
Terpadu yang meliputi pemberian imunisasi dasar kepada 90% balita pada 2014; Penyediaan
akses sumber air bersih yang menjangkau 67% penduduk dan akses terhadap sanitasi
dasar berkualitas yang menjangkau 75% penduduk sebelum 2014; Penurunan tingkat
kematian ibu saat melahirkan dari 307 per 100.000 kelahiran pada 2008 menjadi 118 pada 2014,
serta tingkat kematian bayi dari 34 per 1.000 kelahiran pada 2008 menjadi 24 pada 2014
Program KB: Peningkatan kualitas dan jangkauan layanan KB melalui 23.500 klinik pemerintah dan
swasta selama 2010-2014
Sarana kesehatan: Ketersediaan dan peningkatan kualitas layanan rumah sakit berakreditasi
internasional di minimal 5 kota besar di Indonesia dengan target 3 kota pada 2012 dan 5 kota pada
2014
Obat: PembeProgram kesehatan masyarakat: Pelaksanaan Program Kesehatan Preventif rlakuan
Daftar Obat Esensial Nasional sebagai dasar pengadaan obat di seluruh Indonesia dan pembatasan
harga obat generik bermerek pada 2010
Asuransi Kesehatan Nasional: Penerapan Asuransi Kesehatan Nasional untuk seluruh keluarga
miskin dengan cakupan 100% pada 2011 dan diperluas secara bertahap untuk keluarga Indonesia
lainnya antara 2012-2014
Potret Sanitasi di Indonesia

efluen industri
di kawasan
pemukiman

buang air besar


MCK yang tidak sembarangan
berfungsi

selokan tersumbat
Jamban yang
asal-asalan

mencuci dan mandi di


sungai tercemar

pembuangan liar
lumpur tinja
TEMPAT BUANG AIR BESAR

Untuk apa
dibangun?????
DEFINISI (MDGs)
Akses terhadap sanitasi yang layak

Persentase penduduk dengan akses terhadap fasilitas


sanitasi yang layak (improved sanitation)

Improved sanitation:
a. jamban sendiri dan bersama
b. kloset dengan leher angsa
c. pembuangan akhir di tangki septik/SPAL
Persentase Rumahtangga Yang Akses Terhadap Sanitasi Layak
(MDGs) Menurut Provinsi, Riskesdas 2010

90.0

80.0

70.0

60.0

50.0
55.5
40.0

30.0

20.0

10.0

0.0
Beng

Indon

Lamp
Aceh
DKI

Kepri

Babel

Sulteng
Sumut

Kalteng
Jateng

Sumsel

NTT
Sulut

Papua
Sulsel
Banten

Kalsel

Sultra

Sulbar
Maluku

Papbar

Kalbar
Jambi
DIY

Malut
Jabar
Bali

Kaltim

Riau
Jatim

NTB

G'talo
Sumbar
*) Pemilikan/penggunaan sendiri & bersama, kloset latrin, pembuangan akhir tinja tangki septik/SPA
Persentase Rumahtangga Yang Akses Thd Sanitasi Layak
Menurut Karakteristik Rumahtangga, Riskesdas 2010

80.0
70.0
60.0
50.0
40.0
71.4
30.0
20.0 38.5
10.0
0.0
Perkotaan Perdesaan

*) Pemilikan/penggunaan sendiri & bersama, kloset latrin, pembuangan akhir tinja tangki septik/SPA
Persentase Rumahtangga Yang Akses
Terhadap Sanitasi Yang Layak (1993-2010)

RISKESDAS 2010

71,5
55,5
38,5
Kriteria akses penyediaan air minum dan sanitasi:
(JMP WHO/Unicef)

Akses terhadap sanitasi (JMP WHO/Unicef 2008):

a) Improved (milik sendiri, kloset latrin, tangki septik/SPAL)


b) Share (milik bersama/umum, kloset latrine, tangki
septik/SPAL)
c) Unimproved (milik sendiri/bersama/umum, kloset
plengsengan/cemplung)
d) Open defecation (tidak memiliki sarana atau tidak
menggunakan kloset)
20%
40%
60%
80%

0%
100%
DKI
Kepri
DIY
Bali
Kaltim
Sulut
Banten
Sumut
Jateng
Sulsel
Bengkulu

Improved
Babel
Riau
Jabar
Indonesia 51.1

Shared
Jatim
Aceh
Jambi
Kalsel
Maluku

unimproved
Sumsel
Malut
Lampung
Kalbar
Sulteng
Sultra
Sumbar
open defecation

Papbar
NTB
Papua
Sulbar
Kalteng
G'talo
Persentase Rumahtangga Dengan Akses Terhadap Sanitasi

NTT
(JMP WHO/Unicef 2008) Menurut Provinsi, Riskesdas 2010
Penyakit menular dan tidak menular (tertentu)
masih merupakan masalah kesehatan

Multiple Burden:
Infeksi
Martabat Bangsa
Kronis
Economic Loss
Emerging Disease
Reemerging Disease

Faktor Risiko Lingkungan:


Tradional Risk
Modern Risk
Penyebab Kematian Bayi 0-11 bulan

Tidak diketahui penyebabnya, 3.7 % Tetanus, 1.7 %

Meningtis, 4.5 %

Kelainan Kongenital, 5.7 %

Pneumonia, 12.7 % Masalah Neonatal


46,2 %

Diare, 15 %

Masalah neonatal :
-Asfiksia
-BBLR
-Infeksi, dll
Sumber : Riskesdas 2007
Penyebab Kematian Balita 0-59 bulan

Tidak diketahui penyebabnya, 5.5 % Tetanus, 1.5 %

Meningtis, 5.1 %

Kelainan Kongenital, 4.9 %

Masalah Neonatal
36 %
Pneumonia, 13.2 %

Masalah neonatal :
-Asfiksia
Diare, 17.2 % -BBLR
-Infeksi, dll
Sumber : Riskesdas 2007
20

18

16

14

12

10

9 Indonesia
10,9 Papua
12,3 Papua Barat
4,4 Malut
4,5 Maluku
7,7 Sulbar
16,5 Gorontalo
9,4 Sultra
Sulsel
Prevalensi Diare menurut Propinsi

7,9
9,9 Sulteng
5,4 Sulut
7,1 Kaltim
9,5 Kalsel
(Riskesdas 2007)

7,5 Kalteng
5,4 Kalbar
11,4 NTT
13,2 NTB
7,3 Bali
10,6 Banten
7,8 Jatim
4,2 DIY
9,2 Jateng
10,2 Jabar
8 DKI Jkt
6 Kepri
5,1 Babel
4,9 Lampung
8,3 Bengkulu
7 Sumsel
8,5 Jambi
10,3 Riau
9,2 Sumbar
8,8 Sumut
18,9 NAD
Cacingan

Angka Prevalensi : 60 %
Kerugian akibat kehilangan nutrisi,anemia,
kecerdasan akibat cacingan, (World Bank)
KERUGIAN AKIBAT CACINGAN

Satu Ekor Cacing Dapat Menghisap Darah,


Karbohidrat dan Protein Dalam Sehari :

Cacing Gelang : 0,14 gram Karbohidrat


0,035 gram Protein

Cacing Cambuk : 0,005 mL Darah

Cacing Tambang : 0,2 mL Darah


KERUGIAN AKIBAT CACING
GELANG

Kehilangan Karbohidrat:

220 000.000x 60%x6x0,14 gr = 110.880


kg/hari
4.336.200 kg/th
Bila beras Rp 5000/kg

Kerugian Rp 21,681 M/tahun


KERUGIAN AKIBAT CACING
GELANG
Kehilangan Protein

220.000x60%x6 ekorx0,035 gr
= 27.720 kg/hari
= 9.527.800 kg/th
Bila harga daging Rp 40.000/kg
Kerugian: 381 M/th
KERUGIAN AKIBAT CACING
CAMBUK

Kehilangan darah

220.000.000x 40%x0,005 ccx100 ekor =


44.000 liter/hari
KERUGIAN AKIBAT CACING
TAMBANG

Kehilangan darah

220.000.000x10%x50 ekorx 0,2 cc =


220.000 liter/hari
KERUGIAN AKIBAT CACING

Kerugian ekonomi
Rp 21,681 M + 381 M
> Rp 400 Milyar / tahun

Kerugian darah
44.000 liter + 220.000 liter
> 260.000 liter darah / hari
UNTUK DAPAT MENGENDALIKAN AKU, KENALILAH AKU DENGAN BAIK

BIONOMIC VEKTOR
HOST PARASITE

ENVIRONMENT
FILARIASIS
IR dan CFR

0
20
40
60
1968

1970

1972

1974

1976

1978

1980

1982

1984

1986

1988

1990

1992

1994

1996

1998

2000
Tahun

2002

2004
Indonesia, 1968-2007

2006
Incident and CFR Dengue

CFR(%)

2008
IR/100.000

2010
Diagram of Disease Transmission and Control

Primary Barriers Secondary Barriers


(Sanitation Facilities) (Personal hygiene)

Fingers

Fluids

Faeces Food New Host

Flies

Fields/Floors
Intervensi untuk Pencegahan Diare

HWTS
Pengelolaan Air Minum 39%

CTPS
HWWS 45%

Improved
Perbaikansanitation
Sanitasi 32%

Suplai
Improved Air Bersih
water supply 25%

Environmental Modification
Intervensi Lingkungan 94%

0% 20% 40% 60% 80% 100%


Permasalahan Strategis
Rendahnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan sanitasi
Rendahnya kesadaran dan komitmen pemerintah daerah
mengenai pentingnya pembangunan sanitasi
Belum tersedianya pendekatan pembangunan sanitasi
perdesaan yang sistematis
Terbatasnya pilihan teknologi sanitasi berbasis masyarakat,
khususnya di daerah sulit (rawa, cadas, dan pesisir pantai)
Terbatasnya akses masyarakat terhadap suplai sanitasi
Terbatasnya pendanaan pemerintah
PELAJARAN dari program-program
SANITASI masa lalu
Pendekatan tradisional ternyata GAGAL untuk:
meningkatkan kebutuhan (demand) dalam skala
besar untuk pelayanan sanitasi dan perubahan
perilaku
mendukung ekspansi sektor swasta yang dapat
menyediakan pilihan luas (supply capacity) bagi
konsumen miskin maupun tidak miskin.
Menghasilkan dampak kesehatan dan
kesejahteraan masyarakat yang diinginkan
Dibutuhkan arahan strategis baru untuk peningkatan
PERILAKU higiene dan sanitasi masyarakat
perdesaan, secara SKALA NASIONAL melalui
Gerakan Sanitasi Total Masyarakat
STBM

Pendekatan untuk mengubah


perilaku higiene dan sanitasi
melalui pemberdayaan
masyarakat dengan metode
pemicuan
LANDASAN HUKUM STBM

RPJMN 2010 - 2014


STRATEGI NASIONAL
SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT
(STBM)
KEPUTUSAN
MENTERI KESEHATAN R.I.
NOMOR: 852/MENKES/SK/IX/2008

Jakarta, 9 September 2008


Peluncuran kegiatan STBM
oleh Menteri Kesehatan RI
Tanggal 20 Agustus 2008
Kerangka Pikir STBM
Outcome: Menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan yang
berkaitan sanitasi dan perilaku melalui penciptaan kondisi sanitasi total

Output:
Meningkatnya pembangunan sanitasi higiene melalui peningkatan demand dan supply

Pilar 3:
PAM-RT
Pilar 5:
Pilar 1: (Pengelolaan Pilar 4:
Pilar 2: CTPS Pengelolaan
Stop BABS Air Minum Pengelolaan
(Buang Air Besar
(Cuci Tangan Limbah Cair
dan Sampah
Sembarangan) Pakai Sabun) Rumah
Makanan Rumah Tangga
Tangga
Rumah
Tangga)

Komponen Dasar STBM:


1. Perubahan Perilaku
2. Peningkatan akses sanitasi yang berkelanjutan
3. Pengelolaan berbasis masyarakat yang berkelanjutan
4. Dukungan institusi kepada masyarakat (enabling environment)
KOMPONEN STRATEGI
Lingk. kondusif

kebutuhan
Pemant-Eval 6 2

Institusionalisasi/
An
internalisasi

5 3
Pembiayaan Penyediaan
4

Pengetahuan
Definisi dan Batasan
STOP BABS
Pendekatan pemberdayaan masyarakat utk meng-analisa
keadaan dan resiko pencemaran lingkung-an yang
disebabkan buang air besar/ berak/modol/ ngising/Ataek
ditempat terbuka dan membangun
WC/jamban/kakus/jumbleng/cubluk tanpa subsidi/
bantuan dari luar.
SEMUA (100 %) MASY. BUANG AIR BESAR DI
JAMBAN/KAKUS/WC (YG MEMENUHI SYARAT )
HASIL YANG DIINGINKAN
ODF ( OPEN DEFECATION FREE ) ,
TIDAK ADA MASYARAKAT YANG BUANG
AIR BESAR DI TEMPAT TERBUKA /
SEMBARANG TEMPAT ( DI KEBUN,
SUNGAI, SEMAK2, PANTAI ).
JANGAN SALAH ARTI !!!
STOP BABS JANGAN DIARTIKAN
SEKEDAR MEMBANGUN JAMBAN
SEDER-HANA/SEMBARANGAN, TETAPI
MEMANG STOP BABS DAPAT DIMULAI
DARI YANG PALING SEDERHANA
SEKALIPUN

INDONESIA STOP BABS 2014


6 ALASAN MENGAPA HARUS MEMBIASAKAN
CUCI TANGAN PAKAI SABUN!

1. Melindungi kesehatan keluarga (Menurunkan kasus


Diare hingga 47%, ISPA dan Flu Burung hingga 50%,
dan direkomendasikan untuk pencegahan Flu H1N1)
2. Sederhana, mudah dan terjangkau
3. TIDAK perlu BANYAK AIR, asal jernih dari tempat
yang aman
4. Gunakan sabun apa saja
5. Mendidik anggota keluarga untuk berperilaku bersih
6. Kegiatan yang menyenangkan keluarga (Lakukan sambil
bermain dengan anak)
6 LANGKAH CTPS

Mulai mencuci tangan Gunakan sabun & Gosoklah dgn seksama


dengan air MENGALIR gosok sampai berbusa selama 20 detik

Gosoklah telapak tangan, Bilas sampai bersih Keringkan dengan


punggung tangan, antara lap bersih
jari dan bawah kuku
CTPS di 5 Tatanan

CTPS di
CTPS di
Tempat-tempat Umum
Sekolah

CTPS di
Rumah Tangga

CTPS di CTPS di
Tempat Kerja Institusi Kesehatan
Minyak tanah

Merebus air ...


Kayu bakar

Merebus air ...


Air sumur ber-bakteri
Mentah ...

Air tanpa diolah diminum


Mentah ...
Alternatif PAM RT

SODIS Merebus Air Klorinasi cair/padat


(Solar Disinfection)

Bubuk Pemurni Air (PUR) Saringan Pasir Saringan Keramik


Mengapa menerapkan
beragam alternatif teknologi
PAM-RT ?
1. Kondisi sumber air berbeda
2. Perbedaan harga
3. Perbedaan rasa
4. Isu gender
5. Prestise
6. Isu marketing
7. Untuk mendidik masyarakat untuk memilih dan
meningkatkan cara-cara pengolahan air di RT.
Cara Menghindari Makanan Dari Ham

-Menutup makanan dengan tudung saji atau tempat


tertutup lainnya.
-Tutup tempat sampah dan kosongkan secara teratur
- Perhatikan struktur tempat bangunan, jangan ada celah
- Gunakan perangkap hama yang tidak berbahaya bagi manusi
dan makanan
- Jauhkan binatang dari makanan
Pengelolaan Sampah Rumah Tangga


Sampah
Ancaman
atau
Potensi ?
TRANSFORMASI KEBIJAKAN DAN
STRATEGI PENGELOLAAN SAMPAH

Mengurangii
(Reduce) Mengurangi (Reduce)

Guna ulang
(Reuse)
Guna ulang (Reuse)

Daur ulang
Daur ulang (Recycle)
(Recycle)

Tempat
Tempat pengolahan akhir pengolahan
(Landfill) akhir
(Landfill)
PARADIGMA BARU PENGELOLAAN SAMPAH

TIMBULAN
REDUCE DI RUMAH TANGGA

REUSE SAMPAH RECYCLE

RESIDU Angkut TPA

Olah /
Layak Buang /
manfaatkan
Layak Bakar
PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA
BERBASIS MASYARAKAT ( 3 R )

Pemberdayaan Masyarakat
untuk Perubahan Perilaku
dalam Pengelolaan Sampah
Rumah Tangga dengan
Metode Pemicuan.
Pemanfaatan utk
Penghijauan

Pemilahan
Sampah RT.

Daur Ulang
Sampah RT.
(Pengomposan)
Kompos Penumpukan

Pengemasan Pemantauan
kompos Pengayakan Pembalikan suhu
Memanfaatkan Sampah Rumah Tangga
Lingkungan jadi Sehat dan Indah
PENGELOLAAN LIMBAH CAIR - RT

Genangan limbar cair selokan tersumbat

Suatu upaya untuk mencegah limbah cair rumah tangga


mencemari lingkungan, menjadi media berkembang biak
vektor penyakit bahkan diupayakan agar limbah cair ru-
mah tangga bisa dimanfaatkan kembali. (Konservasi SDA)
KAMPANYE STBM
CTPS

PAM-RT
Stop BABS STBM itu
harus terpadu
& total !!!

Pengelolaan Limbah Cair RT Pengelolaan Sampah RT


Komponen Kegiatan STBM

1. Advokasi / Sosialisasi / Fasilitasi.

2. Membangun kapasitas institusi dan masy.

3. Pengembangan Norma, Standar, Pedoman.

4. Implementasi STBM.

5. Dukungan Manajemen.
Pelaku Pembangunan STBM

Mengembangkan

Rencana Aksi Rencana Biaya

Pencapaian Sanitasi Total

Pemerintah Daerah
Menurunnya kejadian diare dan penyakit ber-
basis lingkungan lainnya yg berkaitan dengan
sanitasi dan perilaku.

Setiap individu & komunitas mempunyai akses thd sarana sanitasi


dasar shg dpt mewujudkan komunitas Stop BABS
Setiap RT telah menerapkan pengelolaan air minum dan makanan
yang aman.
Setiap RT & Sarana Pelayanan Umum dlm suatu komunitas tersedia
fasilitas cuci tangan shg semua orang mencuci tangan dengan benar
Setiap RT mengelola sampahnya dengan benar

Setiap RT mengelola limbah cairnya dengan benar

INDIKATOR STBM
Pemerintah

WSLIC-2, CWSHP, Pro-Air,


Pamsimas, ICWRMIP
Pemda
Donor

JATIM, BANGKA,Kebumen,
Sumedang, Tarakan, Unicef, ESP, WHO,
Bangka Selatan ISSDP, TSSM

NGO Mitra

Plan, Yayasan Imanuel Aman Tirta, J & J,


Produsen Sabun, CSR
Akses ke Promosi Komunikasi
Sarana Ketersediaan air Hygiene Mobilisasi sosial
Sistem sanitasi
Partisipasi masyarakat
Ketersediaan teknologi
Pemasaran sosial
& material di RT.
Pelatihan

Peningkatan Hygiene & Sanitasi


Pencegahan Penyakit Diare

Penguatan kebijakan
Lingkungan yang Penguatan institusi/lembaga
memungkinkan Pembiayaan & Pemulihan biaya
Koordinasi lintas sektor
Kemitraan
Tangga Perubahan Perilaku Menuju Sanitasi Total

Menuju ke
Semua masyarakat Sanitasi Total
telah BAB di
Semua masyarakat Jamban sehat
telah BAB hanya di
Masyarakat Jamban (Stop BABS)
masih BAB di
sembarang tempat
DUKUNGAN PUSAT
UNTUK
IMPLEMENTASI STBM
1. Memfasilitasi Provinsi dalam Penyusunan Strategi
Sanitasi Total Provinsi
2. Memberikan dukungan capacity building yang
diperlukan kepada Provinsi dan Kab/Kota (Roadshow,
Pelatihan, Fasilitasi)
3. Dukungan NSPK (norma,standar,pedoman,kriteria)
4. Memfasilitasi pertukaran pengetahuan/ pengalam-an
antar Kabupaten/Kota/Provinsi/Nasional/Inter-nasional

5. Memfasilitasi kemitraan multi pihak tingkat Provinsi

6. Pengembangan media kampanye / advokasi /


sosialisasi STBM
PERAN PROPINSI
DALAM
IMPLEMENTASI STBM
1. Menyusun Strategi Sanitasi Total Provinsi
2. Replikasi STBM di Kabupaten/Kota Non Proyek

3. Memberikan dukungan capacity building yang diperlu-


kan kepada Kab/Kota (Roadshow,Pelatihan,Fasilitasi)
4. Advokasi dan Sosialisasi
5. Membangun kemitraan multi pihak
6. Memfasilitasi pertukaran pengetahuan / pengalaman
antar Kabupaten / Kota dan Provinsi
PERAN KABUPATEN / KOTA
DALAM
IMPLEMENTASI STBM
1. Menyusun Strategi Sanitasi Total Kab./Kota
2. Replikasi STBM di Kec/Desa Non Proyek
3. Memberikan dukungan Capacity Building yang
diperlukan kepada Kec. (Pelatihan, Fasilitasi)
4. Advokasi dan Sosialisasi
5. Membangun kemitraan multi pihak
6. Memfasilitasi pertukaran pengetahuan/penga-
laman antar Kecamatan/Desa
Contoh Regulasi
Pendukung STBM