Anda di halaman 1dari 16

Kelompok II

Depresi pada lansia

Abu Fikri M M. Syaud Faisal


Annisa Aryati Nor Diana
Arlita Meilinda C.L Reza Januar Permana
Devi Agustin Tri Agustina
Devi Kharismawati Wahdatur Rahmi Annisa
Hariyati M. Syarifansah
Maulidya Rahmah
Muhammad Nasrullah
M. Rizki Alfian
Depresi merupakan suatu gangguan keadaan
tonus perasaan yang secara umum ditandai
oleh rasa

Kesedihan Apatis Pesimis Kesepian


Kesepian

Yang mengganggu aktivitas sosial dalam sehari-hari


Apa penyebab lansia bisa depresi?
Faktor Biologis Faktor Psikologis Faktor Sosial
1. Faktor Genetik 1. Menurunnya 1. Sosial lingkungan
2. Gangguan pada perasaan berguna 2. Kurangnya
Otak 2. Ketakutan kematian hubungan sosial
3. Gangguan 3. Kepribadian 3. Kemiskinan
Neurotransmitter premorbid
4. Perubahan Endokrin 4. Psiko-Analitik
5. Masalah Kesehatan
6. Pengobatan
Tanda Gejalanya
1. Kurang aktif
2. Perubahan nafsu makan
3. Pola tidur
4. Kurang berkosentrasi
5. Putus asa
6. Cemas
7. Merasa tidak berharga
8. Tidak mampu mengambil keputusan
(Depkes, 1999)
Pemeriksaan Pasien Depresi
Geriatrik Depression Scale (GDS)
Ada 4 pertanyaan atau 4 butir skala yang harus diajukan dalam memeriksa pasien

depresi yaitu:

Pertanyaan Skor Skor


1 0
Apakah pada dasarnya Anda merasa puas dengan Tidak Ya
kehidupan Anda ?

Apakah hidup Anda terasa kosong ? Ya Tidak

Apakah Anda takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada Ya Tidak
diri Anda ?

Apakah Anda merasa bahagia pada sebagian besar waktu Tidak Ya


Anda ?
Lanjutan...
Pertanyaan tersebut dapat dilengkapi dengan mengekplorasi hal-hal berikut
ini yang merupakan faktor kerentenanan:
Pertanyaan Skor Skor
1 0
Apakah pasien mempunyai riwayat depresi ? Ya Tidak

Apakah pasien terisolasi secara sosial ? Ya Tidak

Apakah pasien menderita penyakit kronik ? Ya Tidak

Apakah pasien baru saja berkabung ? Ya Tidak

Jika skor lebih dari 1 pada 4 butir skala dan lebih dari 1 pada
faktor kerentanan harus segera dilaksanakan penilaian yang
lebih rinci.
Geriatric Depression Scale:
1. Apakah anda pada dasarnya puas dengan kehidupan anda?
2. Apakah anda mengalami penurunan banyak kegiatan dan
minat?
3. Apakah anda merasa hidup anda kosong?
4. Apakah anda merasa sering bosan?
5. Apakah anda mersa semangat terus pada sebagian besar
kehidupan anda?
6. Apakah anda takut kalau hal-hal jelek menimpa kehidupan
anda?
7. Apakah anda sering merasa tidak berdaya?
8. Apakah anda lebih suka di rumah daripada pergi keluar
dan melakukan hal-hal yang baru?
9. Apakah anda merasa mempunyai banyak masalah daya
ingat pada sebagian besar waktu anda?
10. Apakah anda berfikir sangat indah kehidupan sekarang?
Lanjutan...
11. Apakah anda merasa bahwa yang menarik bagi anda tidak
berguna lagi?
12. Apakah anda merasa senang dengan mengambil cara yang
tidak berharga seperti sekarang ini?
13. Apakah anda merasa penuh energI?
14. Apakah anda merasa situasi anda tidak ada harapan?
15. Apakah anda merasa kebanyakan orang-orang lebih baik
daripada anda?
Penilaian : Dari 15 pertanyaan masing-masing memiliki skor
1, di mana masing-masing jawaban terdiri dari ya dan tidak,
Jika skor lebih besar daripada 5 menunjukkan kemungkinan
gejala depresi(Bongsoe, 2007).
Terapi
1. Terapi fisik
a. Obat
Secara umum, semua obat antidepresan sama efektivitasnya. Pemilihan jenis antidepresan ditentukan
oleh pengalaman klinikus dan pengenalan terhadap berbagai jenis antidepresan. Biasanya
pengobatan dimulai dengan dosis separuh dosis dewasa, lalu dinaikkan perlahan-lahan sampai ada
perbaikan gejala.
b. Terapi Elektrokonvulsif (ECT)
Untuk pasien depresi yang tidak bisa makan dan minum, berniat bunuh diri atau retardasi hebat
maka ECT merupakan pilihan terapi yang efektif dan aman. ECT diberikan 1- 2 kali seminggu pada
pasien rawat nginap, unilateral untuk mengurangi confusion/memory problem.Terapi ECT diberikan
sampai ada perbaikan mood (sekitar 5 - 10 kali), dilanjutkan dengan anti depresan untuk mencegah
kekambuhan.
2. Terapi Psikologik
a. Psikoterapi
Psikoterapi individual maupun kelompok paling efektif jika dilakukan bersama-sama dengan
pemberian antidepresan. Baik pendekatan psikodinamik maupun kognitif behavioursama
keberhasilannya. Meskipun mekanisme psikoterapi tidak sepenuhnya dimengerti, namun
kecocokan antara pasien dan terapis dalam proses terapeutik akan meredakan gejala dan membuat
pasien lebih nyaman, lebih mampu mengatasi persoalannya serta lebih percaya diri.
b. Terapi kognitif
Terapi kognitif - perilaku bertujuan mengubah pola pikir pasien yang selalu negatif (persepsi diri,
masa depan, dunia, diri tak berguna, tak mampu dan sebagainya) ke arah pola pikir yang netral atau
positif. Ternyata pasien usia lanjut dengan depresi dapat menerima metode ini meskipun
penjelasan harus diberikan secara singkat dan terfokus. Melalui latihan-latihan, tugas-tugas dan
aktivitas tertentu terapi kognitif bertujuan mengubah perilaku dan pola pikir.
bahwa banyak masalah depresi berkisar di seputar kesulitan dalam cara anggota keluarga saling
berkomunikasi dan saling berhubungan.
b. Terapi kognitif
Terapi kognitif - perilaku bertujuan mengubah pola pikir pasien yang selalu negatif (persepsi diri, masa depan, dunia, diri tak berguna, tak mampu dan
sebagainya) ke arah pola pikir yang netral atau positif. Ternyata pasien usia lanjut dengan depresi dapat menerima metode ini meskipun penjelasan
harus diberikan secara singkat dan terfokus. Melalui latihan-latihan, tugas-tugas dan aktivitas tertentu terapi kognitif bertujuan mengubah perilaku
dan pola pikir.
c. Terapi keluarga
Problem keluarga dapat berperan dalam perkembangan penyakit depresi, sehingga dukungan terhadap keluarga pasien sangat penting. Proses
penuaan mengubah dinamika keluarga, ada perubahan posisi dari dominan menjadi dependen pada orang usia lanjut. Tujuan terapi terhadap
keluarga pasien yang depresi adalah untuk meredakan perasaan frustasi dan putus asa, mengubah dan memperbaiki sikap / struktur dalam keluarga
yang menghambat proses penyembuhan pasien.
d. Penanganan Ansietas (Relaksasi)
Teknik yang umum dipergunakan adalah program relaksasi progresif baik secara langsung dengan instruktur (psikolog atau terapis okupasional) atau
melalui tape recorder.Teknik ini dapat dilakukan dalam praktek umum sehari-hari. Untuk menguasai teknik ini diperlukan kursus singkat terapi
relaksasi.

7. Dukungan Keluarga dalam Kaitannya dengan Depresi Pada Lansia


Keluarga memainkan suatu peranan yang signifikan dalam kehidupan pada hampir semua orang lanjut usia (lansia). Ketika keluarga tidak menjadi
bagian kehidupan seseorang yang telah lansia, umumnya menyebabkan orang tersebut tidak mempunyai tempat tinggal, atau ada masalah-masalah
yang telah berlangsung lama dan keterasingan. Sebaliknya, kepercayaan yang umum, ketika orang lansia akan membutuhkan bantuan keluarga
menyediakan sekurang-kurangnya 80% dukungan / bantuan. Dibandingkan dengan "kenyamanan di hari tua", keluarga saat ini menyediakan
kepedulian yang lebih luas selama periode waktu yang lama (Schmall, Pratt, 1993).
Walaupun anak yang telah dewasa adalah suatu sumber utama yang memberi bantuan terhadap orangtua yang lansia, beberapa trend demografi
dan sosial mempunyai akibat / impak yang signifikan pada kemampuan anggota keluarga dalam menyediakan dukungan. Hal ini tidak berarti bahwa
keluarga bertanggung jawab atas timbulnya depresi pada seseorang namun sudah jelas bahwa banyak masalah depresi berkisar di seputar kesulitan
dalam cara anggota keluarga saling berkomunikasi dan saling berhubungan.
Pengkajian Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas diri pasien
b.Struktur keluarga: Genogram
c. Riwayat keluarga
d.Riwayat penyakit pasien
Diagnosa Keperawatan
Intervensi Keperawatan