Anda di halaman 1dari 28

FLUIDA, ISOTOP DAN GAS

Kelompok 5
Fariz Dwi Prayogi 111.140.084
Wike Rosalina 111.140.092
Zoraida Hamdani 111.140.100
Zaenuri Umam 111.140.110
Javier Jayastu B . 111.140.114
POKOK BAHASAN
Fluida Geotermal
Geokimia Geotermal (isotop)

Gas Geotermal
PENDAHULUAN
Panas bumi merupakan sumber energi panas yang terbentuk
secara alami di bawah permukaan bumi. Sumber energi tersebut
berasal dari pemanasan batuan dan air bersama unsur unsur lain
yang berasal dari aktivitas magmatisme dalam kerak bumi.

Thermal activity

Secondary
Not always present

fluids water gas


Condensation
zone
steam gas water
2 - 5km

Boiling upflow
water gas
Convective

zone
outflow
Lateral present)
ays
(not alw

magmatic
Re

volatiles
ch

X
arg

X X
X X
e

X X X
X X
X
Host rocks: anything X
X X
X
X X X
X
Intrusive X
Intrusive

Figure 1
The basic hydrothermal system
FLUIDA GEOTERMAL
Definisi
Fluida geotermal adalah seluruh uap, air, dan uap air,
dan campuran dari seluruh atau beberapa komponen fluida
geotermal tersebut (dimana campuran tersebut bisa mengandung
gas), yang telah dipanaskan di dalam bumi oleh fenomena ala
pada temperatur 70C atau lebih. Karakteristik fluida panasbumi
yang terpenting untuk mengetahui karakteristik reservoir
panasbumi antara lain tentang komposisi kimia fluida reservoir
panasbumi dan sifat fisik fluida reservoir

Fluida panasbumi tersebut dianalisis dengan tujuan untuk :


- mengetahui distribusi berbagai jenis air
- mempelajari efek boiling dan mixing
- menafsirkan suhu dan pH reservoir
- memonitor perubahan reservoir terhadap waktu
Komposisi Fluida Termal

Komposisi kimia fluida reservoir panasbumi

Yang umum dijumpai antara lain berdasarkan kation dan


anion serta parameter kimiawi yang sederhana yang sering hadir
sebagai penciri dari fluida geotermal adalah:
1. Total Dissolved Solids (TDS) dalam ppm atau dalam milligrams
per liter.
2. pH
Ion-ion dalam fluida reservoir dapat dikelompokkan menjadi dua bagian
yaitu:

1. Kation terdiri dari :

Alkali, antara lain K+, Na+, Li+ yang membentuk basa kuat.
Metal alkali tanah, antara lain Br2+, Mg2+, Ca2+, Sr2+, Ba2+, Ra2+ yang
membentuk basa lemah.
Ion Hidrogen.
Metal berat, antara lain Fe2+, Mn2+ membentuk basa yang terdisosiasi.

2. Anion yang terdiri dari :

Asam kuat, antara lain Cl-, SO4-, NO3-


Basa lemah, antara lain CO3-, HCO3-, S-
Sifat Fisik Fluida Reservoir Panasbumi
Adapun sifatsifat fisik fluida reservoir panasbumi
tersebut akan diuraikan sebagai berikut :
Densitas fluida () didefinisikan sebagai perbandingan antara
berat dari suatu massa per satuan volume.
Viskositas (), secara umum viskositas fasa cair dan fasa uap
dipengaruhi oleh temperatur, selain itu juga dipengaruhi unsur-
unsur kimia terlarut dan hanya sedikit bervariasi terhadap tekanan.
Tegangan permukaan (), tegangan permukaan air formasi
panasbumi dipengaruhi oleh keadaan reservoir seperti tekanan dan
temperatur.
Energi dalam spesifik (internal energi) (U) adalah ukuran
banyaknya panas yang terkandung di dalam suatu material per
satuan massa.
BEBERAPA JENIS FLUIDA PANASBUMI IALAH :

Jenis pH range Principal anion

Ground water 6 7.5 Trace HCO3 -

Chloride water 49 Cl, minor HCO3 -

Cholride-bicarbonate 7-8.5 Cl, HCO3 -

Steam heated water 4.5 7 SO4 -2, HCO3 --, trace Cl-

Acid-sulphate 1-3 SO4 2, trace Cl -

Acid-sulphate-Chloride 1-5 Cl, So 2

Bicarbonate 57 HCO3 -

Dilute choloride 6.5 7.5 Cl, minor HCO3 -


1. Air Klorida
Jenis air ini merupakan tipe fluida panasbumi yang ditemukan
pada kebanyakan area dengan sistem temperatur tinggi. Air klorida bersifat
netral atau bisa sedikit asam atau sedikit basa. Merupakan indikasi dari
zona permeabel, namun area ini bisa tidak terletak di atas zona upflow
utama, karena ada beberapa kemungkinan lain seperti pengaruh topografi
yang juga dapat memberikan dampak besar dalam mengontrol hidrologi.
Mataair klorida juga dapat mengidentifikasi daerah permeabel zona tinggi
(contoh: patahan, erupsi breksi atau konduit). Air klorida, anion yang
dominan adalah Cl dan biasanya memiliki konsentrasi ribuan sampai
10.000 mg/kg, dan pada air asin kandungan atau konsentrasi Cl dapat
mencapai 100.000 mg/kg.
(contoh: Laut Salton, USA).
2. Asam Sulfat
Jenis air panasbumi ini dikenal juga dengan Air Asam Sulfat (Acid
Sulphate Water), merupakan fluida yang terbentuk pada kedalaman dangkal
dan terbentuk sebagai akibat dari proses kondensasi gas panasbumi yang
menuju dekat permukaan. Gas panasbumi, dengan kandungan gas dan
volatilnya, pada dasarnya larut dalam kandungan fluida yang terletak pada
zona yang dalam tetapi terpisah dari air klorida. Air sulfat biasanya
ditemukan pada batas daerah dan berjarak tidak jauh dari area upflow
utama. Jika dilihat dari topografi, maka lokasi pastinya terletak jauh di atas
water table dan di sekeliling boiling zone.

3. Air Meteorik
Airtanah biasanya mengandung Ca, Mg, Na, K, SO4, HCO3 dan
Cl selain itu terdapat pula Fe, SiO2 dan Al. Selain itu airtanah juga biasanya
mengandung gas terlarut berupa O2 dan N2. Air sungai mempunyai anion
utama HCO3 dan kation utama adalah Ca sedangkan air hujan mempunyai
anion utama Cl dan kation utama Na.
4. Air Bikarbonat
Air tipe ini banyak mengandung CO2. Jenis tipe fluida ini disebut
juga dengan netral bicarbonatesulphate waters, merupakan produk dari
proses kondensasi gas dan uap menjadi mataair bawah tanah yang miskin
oksigen. Air bikarbonat banyak ditemukan pada area non volcanogenic
dengan temperatur yang tinggi, dengan pH yang mendekati netral sebagai
akibat reaksi dengan batuan lokal (baik pada reservoir dangkal atau selama
proses mengalir ke permukaan) (Mahon, 1980 dalam Nicholson, 1993). Air
tipe ini cendeung mudah bereaksi dan sangat korosif (Hedenquist dan
Stewart, 1985 dalam Nicholson, 1993).
Proses interaksi fluida panasbumi dengan batuan yang dilaluinya menjadi
indikator sangat penting untuk menentukan temperatur dari reservoir
panasbumi. Konsep ini dikenal dengan Geotermometer yaitu pendekatan yang
dilakukan untuk menentukan temperature reservoir panasbumi berdasarkan
kelarutan unsur-unsur yang berada di fluida panasbumi dengan konsentrasi
unsur-unsur tersebut merupakan fungsi dari suhu.
Metode metode Geotermomeker yang digunakan ialah:
1. Geotermometer Silika (Fournier, 1977)
Geotermometer silika dibuat berdasarkan kelarutan berbagai jenis silika dalam
airsebagai fungsi dari temperatur yang ditentukan dengan percobaan atau
eksperimen.Reaksi yang menjadi dasar pelarutan silika dalam air adalah
SiO2(s) + 2H2O H4SiO4.

Pada kebanyakan sistem panasbumi fluida di kedalaman mengalami


ekuilibrium dengan kuarsa. Geotermometer kuarsa umumnya baik
digunakan untuk reservoir bertemperatur > 150 C, karena untuk suhu di
bawah 150 C kandungan silika dikontrol oleh kalsedon.
2. Geotermometer Na-K (Fournier,1979,Giggenbach,1988 )
Geotermometer Na-K dapat diterapkan untuk reservoir air klorida dengan suhu
> 180C. Geotermometer ini punya keunggulan yaitu tidak banyak terpengaruh
oleh dilution ataupun steam loss. Geotermometer ini kurang bagus untuk suhu
< 100 C juga untuk air yang kaya Ca atau banyak berasosiasi dengan endapan
travertine.

Gambar 3. diagram geotermometer Na-K terhadap temperatur


3. Geotermometer Na K Mg
Dengan menggunakan perbandingan unsur-unsur Na, Mg, dan K kita dapat
mengetahui temperature dari reservoir berdasarkan unsur-unsur tersebut yang
larut dalam fluida geothermal. Na/K mewakili proses kesetimbangan reaksi di
dalam reservoir yang bersifat lambat, K-Mg mewakili proses kesetimbangan
yang cepat pada daerah yang mendekati permukaan. Keduanya dapat
digunakan untuk mengevaluasi di dalam reservoir maupun di level dekat
permukaan.

Gambar 4. diagram geotermometer Na K - Mg


4. Geotermometer Na-K-Ca ( Fournier & Truesdel,1979)
Geotermometer ini diterapkan untuk air yang memiliki konsentrasi Ca tinggi.
Geotermometer ini bersifat empiris dengan landasan teori yang belum
dipahami secara sempurna ( Giggenbach,1988 ). Geotermometer Na-K-Ca
memerlukan koreksi Mg untuk suhu di atas 180C ( Fournier,1981 ). Berikut
ini koreksi koreksi Mg yang perlu dilakukan :
- Jika T hasil perhitungan geotermometer < 70C, tidak perlu koreksi karena
fluida pada suhu tersebut tidak mengalami ekuilibrium.
- Hitung R = [ Mg/(Mg + 0.61 Ca + 0.31 K ) ] x 100
- Jika R > 50 dianggap bahwa air berasal dari kesetimbangan pada suhu yang
lebih rendah ( T hamper sama dengan suhu terukur )
- - Jika T > 70C dan R < 50 gunakan R untuk mencari TMg dari grafik
koreksi Mg.
- - Hitung T Na K Ca terkoreksi dengan cara : T Na-K-Ca terhitung
TMg
Koreksi Mg biasanya diterpkan untuk sistem panasbumi yang relatif dingin,
cocok dipakai untuk mataair mataair pada kondisi sub boiling dengan
discharge rate tinggi.
5. Geotermometer Na-Li ( Fouliac & Michard,1981)
Geotermometer empiris ini didasarkan pada rasio Na/Li ada dua persamaan
masing masing untuk fluida dengan kandungan Cl < 11.000 ppm dan Cl >
11.000 ppm yaitu :
- Untuk Cl < 11.000 ppm TC = ( )

- Untuk Cl > 11.000 ppm TC = ( )

Teori yang mendasari adalah adanya reaksi pertukaran kation pada lempung
yang tergantung temperatur : Lempung Li + H+ Lempung H + Li+

6. Geotermometer K-Mg ( Giggenbach,1988)


Geotermometer ini hanya dapat memberikan hasil yag dapat dipercaya untuk
air klorida, terutama air klorida asal reservoir dengan konsentrasi Mg < 1 ppm.
Geotermometer ini sangat sensitif terhadap rasio K/Mg, sehingga dengan
sedikit saja penambahan Mg dari percampuran dengan air tanah dangkal akan
menghasilkan TK-Mg yang lebih rendah.
ISOTOP GEOTERMAL
Geokimia isotop merupakan suatu aspek geologi yang berdasarkan
penelitian kandungan relative dan absolut dari elemen serta isotopnya
di Bumi. Secara umum, bidang ini dibagi menjadi dua cabang geokimia
isotop stabil dan radiogenic. Variasi isotop dapat dibedakan menjadi
dua kelompok utama yaitu:
a. Variasi isotop yang diakibatkan karena adanya pelepasan radioaktif
dari nuklida tidak stabil, yang menyebabkan variasi komposisi
isotop
b. variasi isotop yang diakibatkan karena adanya variasi dalam isotop
non radiogenik yang biasanya dihasilkan oleh reaksi pertukaran,
reaksi kinetika dalam sistem biologi, atau proses-proses kimia-
fisika, seperti penguapan atau difusi.
Variasi isotop disebabkan adanya perbedaan massa antara isotop yang
memiliki perbedaan kecil dalam frekuensi getaran dari atom pada
molekul atau kristal.
Pembagian geokimia isotop yaitu:
a. Isotop stabil, unsurnya H, C, O, dan S.
b. Isotop oksigen, memiliki tiga isotop stabil, 16O,17O,dan 18O.
c. Isotop sulfur, memiliki empat isotop stabil , dengan kelimpahan : 32S
(0.9502), 33S (0.0075), 34S (0.0421) dan 36S (0.0002).
d. Isotop karbon, memiliki dua isotop stabil, 12C, dan 13C, dan satu isotope
radioaktif, 14C.
e. Isotop hidrogen.
f. Isotop lain, penelitian tentang isotop H, C, O, dan S memperlihatkan
bahwa unsur-unsur ini banyak berguna untuk pemisahan sistem geokimia.
Penerapan aplikasi metode isotop dan geokimia dalam panasbumi, yaitu:
Metode geokimia menyediakan berbagai informasi penting antara lain sifat
kimia fluida reservoir, temperatur reservoir, rasio uap air (fraksi uap) dalam
reservoir, kesetimbangan mineral serta potensi korosi dan scaling.
Dalam tahap eksplorasi energi panasbumi, metode isotop dan geokimia dapat
dimanfaatkan untuk:
a. Memperkirakan temperatur bawah permukaan (reservoir) dengan
penggunaan geotermometer kimia dan isotop.
b. Mengidentifikasi sumber fluida panasbumi dengan penggunaan metode
isotop alam.
Dalam tahap pengeboran sumur produksi, metode geokimia dan isotop
bermanfaat untuk memperoleh informasi :
a. Level (kedalaman) akuifer yang produktif dan temperaturnya.
b. Perbandingan air dan uap air (steam fraction) dalam reservoir.
c. Menilai kualitas air dan uap air dalam hubungannya dengan produksi dan
lingkungan.
d. Memperkirakan kecenderungan deposisi (scaling), baik dalam sumur
produksi, sumur reinjeksi, maupun peralatan produksi di permukaan.
Dalam tahapan eksploitasi dan produksi, studi geokimia difokuskan
pada komposisi fluida sumur produksi yang telah mengalami berbagai proses
seperti pendidihan dan pencampuran dalam reservoir. Secara prinsip, studi
tersebut digunakan untuk:
a. Mengidentifikasi masukan fluida dari air tanah dangkal yang dingin
maupun dari masukan fluida panas dari sumber yang lebih dalam.
b. Memantau proses pendidihan dalam akuifer produktif.
c. Mengidentifikasi perubahan kontribusi akuifer produktif terhadap
keluaran sumur.
d. Mengkuantifikasi perubahan dalam kecenderungan scaling.
e. Mengkuantifikasi perubahan kualitas air dan uap.
f. Merevisi model konseptual reservoir.
GAS GEOTERMAL
Gas dalam fluida panas bumi berada pada kesetimbangan
kimia dan kesetimbangan gas dengan larutan, batuan dan gas
yang dikontrol oleh parameter fisik seperti temperatur,tekanan
parsial CO2 dan kondisi reduks.
Gas dalam sistem panas bumi hadir sebagai:
Uap (H2O)
Non condensible gases (gas-gas yang tidak mudah
terkondensasi) atau gas reaktif: CO2, H2S, NH3, H2, N2, CH4)
kondisi bawah permukaan
Gas-gas inert atau konservatif: gas-gas mulia, hidrokarbon selain
metana) sumber gas
Konsentrasi gas bersama rasio gas/uap dan uap/air dapat
memberikan informasi mengenai kondisi bawah permukaan
dan perilaku reservoir.
KELUARAN GAS PANAS BUMI
Fumarol
Kaipohan
Solfatara :
Fumarol dengan SO2 dan/atau H2S
Daerah steam discharge yang mengandung steaming
ground dan fumarol
Steaming ground
Hot pools
DAFTAR PUSTAKA
Apriansyah, Egi. 2013. Fluida Panas Bumi. Diundur dari
https://www.scribd.com/document/125878378/104829693-Sergergminar-
Fluida-Panas-Bumi
Barbier, E, dkk. Isotopes in geothermal energy exploration. IAEA Buletin
vol.25 no.2
Geothermal systems and technologies. Geothermal communities.
Her, Lina. 2014. Geokimia Isotop. diunduh dari
https://www.academia.edu/10211260/Geokimia_Isotop
Health and Safety in Employment (Mining Administration) Regulations
1996, SR 1996/220, New Zealand, as of January 2011.
Surmayadi, Mamay. 2014. GEOKIMIA PANAS BUMI GUNUNGAPI
SLAMET JAWA TENGAH. Seminar Nasional Fakultas Teknik Geologi,
Bandung.