Anda di halaman 1dari 15

PEMERIKSAAN RETIKULOSIT

Endang Widhiyastuti, dr
Pengertian

eritrosit muda yang sitoplasmanya masih mengandung sejumlah


besar sisa-sisa ribosom dan RNA (Ribonucleic acid) yang
berasal dari sisa inti dari bentuk penuh pendahulunya
Sel eritrosit yang belum matang/ eritrosit muda yang baru
saja mengeluarkan nukleusnya
Ukurannya sama atau lebih besar dengan eritrosit yang sudah
matang
Kadarnya dalam eritrosit manusia sekitar 1%.
Berkembang dan matang di sumsum tulang merah dan
disirkulasikan dalam pembuluh darah sebelum matang
menjadi eritrosit.
Perkembangan Sel Darah
Ciri Khas
Hasil Pewarnaan : tampak lebih kebiruan daripada eritrosit
dengan pewarnaan Romanowsky
Ukuran : 8 - 12 mm
Bentuk: bulat,
Warna sitoplasma: pucat,
Granularitas:granul tunggal atau multipel, pekat,lembayung
Bentuk inti: tidak ada
Distribusi dalam darah: 0.5 - 1.5 % dari jumlah eritrosit
Gambar Eritrosit
Pemeriksaan Jumlah Retikulosit
Hitung retikulosit : menghitung persentase dari jumlah sel
darah merah yang bersikulasi di aliran darah yang masih
dalam tingkat retikulosit
Pengukuran akurat : penghitung otomatis dengan penanda
sampel sel laser, dikombinasikan dengan larutan floresens
yang akan menandai RNA dan DNA
Untuk membedakan retikulosit, diamati dari respon larutan
terhadap cahaya laser
Metode : Cara sediaan basah dan sediaan kering
Prinsip :
Darah yang telah diambil ditambahkan larutan BCB selama
beberapa menit
Dibuat sediaan apus tipis dan dihitung sel-sel retikulosit secara
mikroskopik. Prosentase retikulosit ditentukan terhadap
sejumlah eritrosit.
Reagensia :
Larutan Brillian Cresyl Blue (BCB)
New Methylen Blue 1 gram
Larutan Citras Saline 100 ml
Larutan Citras Saline berisi campuran : Natrium Citrate 30 g/L
1 bagian dan NaCl 9 g/L 4 bagian.
Alat-alat :
Objek glass
Tabung reaksi
Pipet 100 L dan 50 L
Mikroskop
Cell counter
Spesimen : Darah EDTA
Cara kerja Sediaan Basah :
Taruhlah satu tetes larutan BCB dalam metilalkohol (metanol)
di tengah-tengah kaca obyek dan biarkan sampai kering atau
taruhlah satu tetes larutan zat warna BCB di atas kaca obyek
Taruhlah setetes kecil darah di atas bercak kering atau ke atas
tetes zat warna dan segeralah campur darah dan zat warna itu
dengan memakai sudut kaca obyek lain
Tutuplah tetes darah itu dengan kaca penutup, lapisan darah
dalam sediaan basah ini harus tipis benar
Cara Kerja Sediaan Kering :
Masukkanlah 0,5 sampai 1 mL larutan pewarna (dalam garam)
ke dalam tabung kecil.
Campurlah 5 tetes darah dengan larutan tadi dan biarkan selama
30 menit.
Mengambil 1 tetes dari campuran itu untuk membuat sediaan
apus seperti biasa yang kemudian dipulas Wright atau Giemsa.
Campuran di atas boleh juga dipakai untuk membuat sediaan
basah: setetes diletakkan ke atas kaca obyek dengan ditutup
kemudian oleh kaca penutup.
Periksalah dengan lensa imersi dan hitunglah jumlah retikulosit
yang terlihat per 1000 eritrosit
Biarkan beberapa menit atau masukkanlah ke dalam cawan
petri yang berisi kertas saring basah jika sekiranya
pemeriksaan selanjutnya terpaksa ditunda.
Periksalah memakai lensa minyak imersi dan tentukan berapa
banyak retikulosit didapat antara 1000 eritrosit
Sumber Kesalahan Pemeriksaan
Zat warna : tidak disaring mengendap pada eritrosit
mengganggu pembacaan sediaan
Waktu inkubasi campuran antara darah dan zat warna kurang
lama ( 30 menit)
Campuran darah dan zat warna tidak homogen sebelum
membuat sediaan
Menghitung di daerah yang jumlah eritrositnya terlalu padat
Jumlah eritrosit yang dihitung tidak mencapai 1000 atau
tidak mencapai 10 lapang pandang
Kesalahan dalam membedakan benda inklusi (benda Heinz
dan hemoglobin H) dan retikulosit.
Interpretasi Hasil
Peningkatan jumlah retikulosit :
kadar HB normal : adanya penghancuran atau penghilangan
eritrosit berlebihan yang diimbangi dengan peningkatan sum-
sum tulang
Penyakit yang disertai peningkatan jumlah retikulosit antara lain anemia
hemolitik, anemia sel sabit, talasemia mayor, leukimia, eritroblastik
feotalis, HBC dan D positif, kehamilan, dan kondisi paska pendarahan
berat.
kadar HB yang rendah : menunjukkan bahwa respon tuubuh
terhadap anemia tidak adekuat
anemia hemolitik kronis karena HBS, anemia pernisiosa, anemia defisiensi
asam folat, anemia aplastik, terapi radiasi, hipofungsi andenocortical,
hipofungsi hipofise anterior, dan sirosis hati.
Referensi :
Sutedjo, AY. 2006.Mengenal Penyakit Melalui Pemeriksaan
Laboratorium.Yogyakarta:Amara Books.
Atlas Hematologi Krzysztof Lewandowski, MD dan Andrzej
Hellmann, MD
Nadesul, Belinda, dr. 2007. Catatan Kuliah:Seri Eritrosit,
Maturasi, dan Nomenklatur. Jakarta:Fakultas Kedokteran Unika
Atma Jaya Jakarta.