Anda di halaman 1dari 39

Presentasi Kasus

Kejang Demam Kompleks

dr. Audra Firthi Dea Noorafiatty


Agustus 2015
RS Tk. IV Kesdam Cijantung
Ilustrasi Kasus
Identitas
Nama : An. Nayla Siti Fathanah
No. RM : 048504
Nama Ortu : Tn. Wawas
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/Tgl Lahir : Bandung, 4 November 2010

Usia : 4 tahun 7 bulan


Pembiayaan : BPJS Anggota
Alamat : Jl. Makmur RT/RW 09/02 kel. Susukan
Tanggal Masuk : 9 Agustus 2015 Pukul 14.40 WIB
Keluhan Utama

Kejang 1 kali
dialami 2 jam
sebelum
masuk rumah
sakit
Riwayat Penyakit Sekarang
batuk berdahak demam muncul Kejang 1x, <5 menit Pasien kejang kembali

1 hari SMRS

2 jam SMRS

Saat di RS
2 hari SMRS

pilek mendadak pada sore Seluruh badan kaku, 1x, < 5 menit, seluruh
hari matanya mendelik badan pasien kaku
Mencret 2x/hari, BAB keatas, busa keluar dan matanya
cair disertai ampas dari mulut (-), setelah mendelik keatas,
dan berbusa, tidak kejang langsung setelah itu pasien
ada lendir atau sadar dan menangis langsung sadar
darah. kembali.
kejang baru pertama
Mual, muntah (-) kali dan terjadi tiba-
Nafsu makan tiba saat pasien
menurun istirahat
Badan teraba panas,
namun tidak diukur
dan tidak diberi obat.
Riwayat Pengobatan

Pasien sudah dibawa berobat ke klinik sebelum timbul kejang


dan diberikan obat penurun panas, obat diare, dan obat batuk
pilek, namun belum ada perubahan malahan suhu badan
pasien makin tinggi hingga akhirnya timbul kejang
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat
Alergi obat
penyakit
disangkal
yang sama (-)

Riwayat sakit
jantung dan
paru (-)
Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat penyakit yang sama

Di keluarga tidak pernah ada yang mengalami


hal yang sama

Riwayat hipertensi, penyakit jantung


dan DM
Disangkal
Riwayat kehamilan & kelahiran
G2P1A0
Riwayat Kontrol kehamilan ke RS sesuai jadwal
Ibu pasien tidak pernah sakit sewaktu hamil dan
Kehamilan tidak mengonsumsi obat-obatan di luar resep
dokter

Riwayat Pasien lahir spontan cukup bulan di rumah sakit


ditolong oleh dokter.

Kelahiran BB: 3500 gr, PB: 49 cm.


Langsung menangis, kulitnya kemerahan
Riwayat imunisasi dasar lengkap dan sesuai jadwal.

Imunisasi

Pasien makan 3x/hari, porsi sedang


Riwayat
Nutrisi Menu nasi, lauk pauk cukup beragam (ayam, daging, ikan telur)

Tidak sering makan sayur namun sering memakan buah-buahan

Mengonsumsi cemilan seperti biskuit dan susu

Pasien duduk dan berjalan pada usia 8 dan 11 bulan


Riwayat
Tumbuh Tinggi dan BB pasien sesuai dengan usianya

Kemban Pasien cukup aktif dan daya tangkapnya dalam memperlajari hal baru cukup baik

g Pasien belum mengalami menarche


Pemeriksaan Fisik
RR: 20 Suhu:
x/mnt 39,1oC

Nadi: 110 Sat. O2 :


x/mnt 98%

KU/Kes/G
CS: Tanda BB: 16 kg
TSS/CM/1
5 Vital
Status Generalis
Kepala
Normocephal, rambut hitam, merata, tidak mudah dicabut

Mata
Konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik

THT
Normotia, liang telinga lapang
Kavum nasi lapang, deviasi septum (-), ada sekret kehijauan
arkus faring simetris, hiperemis, uvula di tengah, Tonsil T1-T1
Mulut
Mukosa bibir sedikit kering

Leher
Tidak ada pembesaran KGB
Status Generalis

Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus kordis tidak teraba
Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : BJ I dan II normal, murmur (-), gallop (-)
Paru
Inspeksi : Simetris, tidak ada penggunaan otot bantu napas
Palpasi : Fremitus simetris. Pergerakan dada simetris
Perkusi : Sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : Vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
Status Generalis

Abdomen
Inspeksi : Perut datar dan lemas
Auskultasi : Bising usus meningkat
Palpasi : NT epi, turgor kulit baik
Perkusi : Timpani
Ekstremitas
Akral hangat, CRT < 2 detik, tidak sianosis
Pemeriksaan Penunjang
22/5/2015 Pukul 09.30

Hemoglobin : 13,1 g

Hematokrit : 39%

Leukosit : 10.600/mm3

Trombosit : 297.000/mm3
Diagnosis

Kejang demam Diare akut Faringitis


kompleks dehidrasi ringan akut
Tatalaksana
Tatalaksana Awal
Oksigen 3L/mnt
Stesolid supp 10 mg
Propiretik supp 160 mg
Observasi 5 menit kejang berhenti dan suhu mulai turun
Tatalaksana lanjutan
Infus RL 12 tpm
Cefotaxim injeksi 2x500 mg i.v skin test
Paracetamol syr 3 x 1 cth
Ambroxol syrup 3 x 1 cth
Lacto B 2x1 sachet
Zink tab 1 x 20 mg
Bila kejang Diazepam IV 8mg
Bila suhu >39oC Propiretik supp 160 mg
Prognosis

Quo ad vitam
Bonam

Quo ad functionam
Dubia ad bonam

Quo ad sanactionam
Dubia ad bonam
10 Agustus 2015 11 Agustus 2015 12 Agustus 2015 13 Agustus 2015

S: kejang (-), mencret 6x, S: kejang (-), mencret 2x, S: mual, demam naik turun S: mencret 3x berlendir,
muntah 2x, demam, batuk muntah (-), demam naik O: S= 36,8oC, NTE (+), mual, perut perih, demam
membaik turun, batuk (-) BU normal, turgor baik. naik turun
O: S= 38,2oC, mata cekung O: S= 36,5oC, NTE (+), A: Kejang demam O: S= 36,4oC, NTE (+),
+/+, faring sedikit BU meningkat, turgor kompleks BU meningkat, turgor
hiperemis NTE (+), BU baik. Diare akut dehidrasi baik.
meningkat, turgor baik. A: Kejang demam ringan-sedang A: Kejang demam
FL: leu 1-2/LPB, eritrosit kompleks P: Lanjutkan terapi kompleks
0-1/LPB Diare akut dehidrasi Diare akut dehidrasi
A: KDK, Diare akut ringan-sedang ringan-sedang (susp.
dehidrasi ringan-sedang, Faringitis akut perbaikan Disentri)
faringitis akut P: KaEn 3B 12 tpm, terapi P: Metronidazol 3x250,
P: lanjutkan terapi lain lanjutkan antasida syr 3x3/4 cth,
14 Agustus 2015 15 Agustus 2015 16 Agustus 2015 17 Agustus 2015

S: mencret 1x, lendir S: mules S: mencret (-), demam (-) S: tidak ada keluhan
O: S=37oC, NTE(+), BU O: S= 36oC, NTE(-), BU O: S=36,2oC, NTE(-), BU O: DBN
normal, turgor baik. normal, turgor baik. normal, turgor baik. A: Kejang demam
A: Kejang demam A: Kejang demam A: Kejang demam kompleks
kompleks kompleks kompleks Diare akut dehidrasi
Diare akut dehidrasi Diare akut dehidrasi Diare akut dehidrasi ringan-sedang (susp.
ringan-sedang (susp. ringan-sedang (susp. ringan-sedang (susp. Disentri) dengan perbaikan
Disentri) Disentri) Disentri) dengan perbaikan P: Pasien rawat jalan
P: Cefotaxime stop , P: lanjutkan terapi Lanjutkan terapi
Ceftriaxone 1x750 mg,
Ranitidin 2x1cc, terapi lain
lanjutkan
Tinjauan Pustaka
Kejang Demam
DEFINISI

Bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan


suhu tubuh (suhu rektal lebih dari 38C) yang
disebabkan oleh suatu proses ekstra kranium.
Biasanya terjadi antara umur 3 bulan dan 5
tahun
EPIDEMIOLOGI

Anak umur 6 bl - 5 th angka


Insiden kejang demam
kejadian sekitar 2-4%
simpleks lebih banyak dari
(kebanyakan antara umur 6
kejang demam kompleks
dan 18 bulan)

Kejang demam jarang


(sekitar 1-2,4%) menjadi
Penyakit pernafasan akut epilepsi atau kejang non
merupakan penyebab febril pada umur dewasa.
utama kejang demam. Kemungkinan untuk menjadi
epilepsi lebih besar jika
kejang demam kompleks
FAKTOR RESIKO

Demam karena suatu proses infeksi

riwayat kejang demam pada keluarga

perkembangan terlambat

problem pada masa neonatus


FAKTOR TERJADI REKURENSI
usia dini saat terkena
kejang demam
cepatnya anak kejang
setelah demam timbul
temperatur yang rendah
saat kejang
riwayat keluarga kejang
demam atau epilepsi
PATOFISIOLOGI
Kenaikan suhu 1C kenaikan metabolisme basal 10%-15% dan
kebutuhan oksigen 20%

perubahan keseimbangan membran sel neuron

Terjadi difusi ion kalium & ion natrium melalui membran sel
neuron

Terjadi lepas muatan listrik yang dapat meluas keseluruh sel


maupun membran sel sekitar dengan bantuan neurotransmitter

Kejang
KLASIFIKASI

Kejang kejang menyeluruh

demam berlangsung <15 menit


dan tidak berulang
simpleks dalam 24 jam.

kejang fokal (hanya


Kejang melibatkan salah satu
bagian tubuh)
demam berlangsung >15 menit
kompleks dan atau berulang 24
jam.
MANIFESTASI KLINIS

Durasi, frekuensi dan


jenis kejang harus
Saat kejang mata Kekakuan atau
jelas untuk
terbalik ke atas kelemahan badan
membedakan KDS
dan KDK

Demam dan proses


Setelah kejang IQ lebih rendah
infeksi di luar
biasanya langsung kejang demam
susunan saraf pusat
sadar tanpa defisit yang lama dan ada
(tonsilitis, otitis media
neurologis komplikasi
akuta, bronkitis, dll)
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan darah tepi lengkap dan elektrolit


Tidak diindikasikan hanya untuk mencari penyebab demam.
Penilaian elektrolit menyingkirkan kejang karena defisiensi elektrolit.

Pungsi lumbal
u/ menyingkirkan menigitis (pada kejang demam pertama, bayi <6
bulan)
Anak >18 bulan dilakukan jika:
Tanda peradangan selaput otak
Riwayat infeksi sistem saraf pusat
Telah menerima terapi antibiotik gejala meningitis dapat
tertutupi
PEMERIKSAAN PENUNJANG

EEG
Tidak dianjurkan sebagai evaluasi rutin pada KDS pertama kali.
Dilakukan pada kejang demam yang tidak khas atau dengan
faktor risiko menjadi epilepsi.
Pemeriksaan Imaging
diindikasikan jika ada riwayat dan tanda klinis trauma kepala,
ada lesi struktural di otak (mikrosefali, spastik) dan ada tanda
peningkatan TIK (kesadaran menurun, muntah berulang,
fontanel anterior membonjol, paresis saraf otak VI, edema
papil)
sangat rendah, sekitar 0,64-0,74%
Mortalitas

Biasanya terjadi gangguan pada kejang


perkembangan lama atau kejang berulang (umum atau
fokal)
mental &
evaluasi neurologis
lebih sering bila serangan pertama terjadi
Rekurensi pada umur <1 tahun

lebih sering pada anak dgn perkembangan


abnormal, ada riwayat epilepsi di keluarga

Angka kejadian epilepsi pada pasien kejang


Risiko Epilepsi demam > 2-3 kali dari populasi umum

kejang demam berulang > 2 kali dari KDS


TATALAKSANA
FASE AKUT
TATALAKSANA
PROFILAKSIS
Profilaksis intermiten
Diberikan saat anak demam untuk mencegah kejang demam

Antipiretik:
Paracetamol atau asetaminofen 10 - 15 mg/kg BB/kali diberikan
4 kali.
Ibuprofen 10 mg/kg BB/kali, diberikan 3 kali.

Antikonvulsan:
Diazepam oral 0,3 - 0,5 mg/kg tiap 8 jam menurunkan risiko
berulangnya kejang
Diazepam rektal 0,5 mg/kg BB/kali (4X/hari)
Profilaksis Remiten

Diberikan 1 tahun u/ menurunkan risiko berulangnya kejang demam

diberikan pada:
KDK, ada kelainan neurologis, ada riw. keluarga epilepsi, terjadi pada bayi < 12
bulan
Asam valproate 15 - 40 mg/kg BB/hari dibagi 2 - 3 dosis
ES: gangguan hati Cek fungsi hepar

Fenobarbital 3 - 5 mg/kg BB/hari dibagi 2 dosis.


ES: gangguan perilaku dan kesulitan belajar
KOMPLIKASI

Kejang demam berulang

Epilepsi

Todds paresis

Gangguan intelegensia

Hemiparesis
DAFTAR PUSTAKA
Short, Jhon R; Gray, J.P; Dodge, J.A. Ikhtisar Penyakit Anak. Edisi Keenam. Jilid Dua. Binarupa Aksara. Jakarta: 1994; hal 62-3.

S, Soetomenggolo; Taslim; Ismail,S. Buku Ajar Neurologis Anak. Cetakan Kedua. BP. IDAI. Jakarta: 2000; hal 244-51.

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. Buku Kuliah 2. Ilmu Kesehatan Anak. Bagian IKA FK UI. Jakarta: 1985; hal 847-55.

Mansjoer, A; Suprohaita; Wardhan, W.I; Setiowulan, W. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi Ketiga. Media Aesculapius. FK UI. Jakarta:
2000; hal 434-7.

ILAE, Commission on Epidemiology and Prognosis. Epilepsia. 1993;34;592-8

Pusponegoro, H.D, dkk. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Edisi I. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: 2004; hal 210-1.

Febrile Sizure. 2002. Pada laman http://aappolicy.aappublication.org/cgi/content/abstract/pediatrics. Diakses pada tanggal 9 April
2013

Behrman, Kliegman, Arvinka. Nelson. Ilmu Kesehatan Anak. Vol 3. Edisi 15. EGC. Jakarta: 1999; hal 575-8

Infants and children: Acute Management of Seizures. Edisi kedua. 2004. Pada laman
www.health.nsw.gov.au/fcsd/rmc/cib/circulars/2004/cir2004-66.pdf. Diakses pada tanggal 8 April 2013

Prodigy Guidance Convulsion. 2001. Pada Laman http://www.prodigy.nhs.uk/guidance.asp?gt=febrile%20convulsion. Diakses pada


tanggal 8 April 2013

Sastroasmoro, S, dkk, Panduan Pelayanan Medis Departmen Ilmu Penyakit Anak. Cetakan Pertama. RSUP Nasional Dr
Ciptomangunkusumo. Jakarta: 2007; hal 252
Thank you