Anda di halaman 1dari 76

MODUL

PENGELOLAAN SAMPAH
RUMAH TANGGA

PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN PERBATASAN

ENTIKONG, KABUPATEN SANGGAU


SEKAPUR SIRIH

Ir. Manaek Sihombing, M.Si


Kepala Satuan Kerja Pengembangan Kawasan Permukiman
Strategis

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salah satu dari sembilan Program Kerja Prioritas Pemerintah yang


disebut Nawa Cita adalah Membangun Indonesia dari pinggiran
dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka
negara kesatuan. Program ini digagas untuk menunjukkan
prioritas jalan perubahan menuju Indonesia yang berdaulat
secara politik, serta mandiri dalam bidang ekonomi dan
berkepribadian dalam kebudayaan.

Pembangunan Kawasan Perbatasan adalah bertujuan untuk


menjadikan kawasan perbatasan sebagai halaman depan negara,
dimana di dalamnya terdapat kebijakan pemerintah untuk
mengatasi berbagai macam masalah yaitu untuk meningkatkan
kesejahteraan, keamanan, dan pelestarian lingkungan yang
dilakukan secara bersama-sama.

Berdasarkan amanah dari Undang-Undang No. 18 Tahun 2008


Tentang Pengelolaan Sampah dimana salah satunya mewajibkan
setiap orang dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan
sampah sejenis sampah rumah tangga, untuk mengurangi dan
menangani sampah dengan cara yang berwawasan lingkungan,
maka upaya pengurangan sampah melalui program 3R yang
meliputi mengurangi timbulan sampah (Reduce), pemanfaatan
kembali sampah (Reuse) dan daur ulang sampah (Recycle) di
kawasan perbatasan akan diprioritaskan pada program
penanganan persampahan melalui pemilahan untuk daur ulang
sampah, komposting dan menerapkan kegiatan bank sampah.

i
Inti keberhasilan pengelolaan sampah harus dibangun mulai dari
sumber sampah yaitu dengan cara memilah sampah dari
sumbernya dengan membedakan wadah sampah minimal
dibedakan antara sampah basah (organik) dan sampah kering
(anorganik) sehingga sampah yang dihasilkan lebih berkualitas
karena lebih bersih sehingga terwujud upaya merubah barang
sampah menjadi barang berharga.

Terima kasih, dan semoga modul ini bisa memberikan


sumbangsih positif bagi kita semua

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

ii
SEKAPUR SIRIH

M. Bayu Moelyantono, ST, MM


Pejabat Pembuat Komitmen Pengembangan Kawasan
Permukiman Perbatasan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Modul Pengelolaan Sampah Rumah Tangga ini dibuat untuk


memberikan sumbangsih kepada masyarakat di Kawasan
Perbatasan Negara agar mulai dapat melaksanakan pengelolaan
sampah dengan baik.

Sampah saat ini dimana-mana merajalela, alih-alih terbuang di


tempat sampah yang seharusnya, sampah-sampah tersebut
justru berserakan dimana-mana, entah di pekarangan, di sungai,
di lingkungan sekolah, jalanan, atau fasilitas-fasilitas umum
lainnya. Bahkan yang lebih parah lagi, masih banyak masyarakat
yang membakar sampah dan tentunya berdampak pada
pencemaran lingkungan yang lebih serius.

Volume sampah semakin meningkat dari waktu ke waktu, seiring


meningkatnya kebutuhan manusia untuk hidup sehingga sampah
yang dihasilkan makin meningkat pula. Sampah pun tidak
terkelola dengan baik, sampah masih dibuang sembarangan dan
tidak dibedakan sesuai jenis sampahnya. Selain itu sedikit saja
yang didaur ulang kembali menjadi barang-barang yang lebih
bermanfaat, selebihnya dibiarkan begitu saja.

Yang paling penting adalah memulai untuk membangun


kesadaran dari diri sendiri untuk mengelola sampah-sampah
yang ada di sekitar kita, lalu tumbuhkan kesadaran keluarga, dan
selanjutnya adalah lingkungan sekitar tempat kita tinggal.

iii
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 3
Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana
Persampahan dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga dan
Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, menekankan bahwa
pengurangan sampah mulai dari sumber merupakan tanggung
jawab dari semua pihak baik Pemerintah maupun masyarakat.

Dengan kondisi yang ada saat ini, pemilahan dan


pengurangan sampah sejak dari sumbernya (antara lain rumah
tangga) masih kurang memadai, sehingga berbagai gerakan
masih perlu dilakukan, baik di tingkat masyarakat melalui
peranan tokoh masyarakat, LSM ataupun pemerintah
kota/kabupaten. Namun demikian dengan telah banyaknya
praktek-praktek unggulan (best practice) 3R yang cukup sukses
dan dapat direplikasikan di tempat lain, target pengurangan
sampah sampai dengan tahun 2019 sebesar 20% (Standar
Pelayanan Minimal) diharapkan akan dapat tercapai.

Terima kasih, dan semoga makalah ini bisa memberikan manfaat


yang baik positif bagi kita semua khususnya masyarakat di
kawasan perbatasan.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

iv
SEKAPUR SIRIH

Budiyanto Setiawan, ST.


Manager Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan
Entikong, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat
PT. Wijaya Karya (Persero)

Terima kasih yang tidak terhingga atas kesempatan untuk peran


serta yang diberikan kepada kami sebagai pelaku Pembangunan
Kawasan Perbatasan Negara, kepada Kementerian Pekerjaan
Umum Direktorat Jenderal Cipta Karya, khususnya Satuan Kerja
Pengembangan Kawasan Permukiman Strategis.

Pelatihan pengelolaan sampah rumah tangga yang ditujukan


kepada masyarakat di kawasan perbatasan adalah merupakan
upaya yang bukan hanya untuk meningkatkan pengetahuan dan
pemahaman tentang bagaimana mengelola sampah dengan baik
saja, namun juga memberikan perubahan paradigma pengelolaan
sampah yang lebih ramah lingkungan.

Sumbangsih kecil dari PT. Wijaya Karya (Persero) untuk


memberikan pelatihan pengelolaan sampah rumah tangga adalah
jauh dari sempurna, kritik dan saran membangun sangat kami
harapkan untuk penyempurnaan di masa mendatang.

Terima kasih.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

v
DAFTAR ISI
Halaman

Cover i
Sekapur Sirih dari Ir. Manaek Sihombing, M.Si. Kepala ii
Satuan Kerja Pengembangan Kawasan Permukiman
Strategis
Sekapur Sirih dari M. Bayu Moelyantono, ST. MM. iii
Pejabat Pembuat Komitmen Pengembangan Kawasan
Permukiman Perbatasan
Sekapur Sirih dari Budiyanto Setiawan,ST. Project v
Manager Pengembangan Kawasan Permukiman
Perbatasan - Entikong, Kabupaten Sanggau, Provinsi
Kalimantan Barat. PT. Wijaya Karya (Persero)
Daftar Isi vi
Anjuran Agama untuk Menjaga Lingkungan x

Bab 1 Sampah
A. Pendahuluan . 1
B. Dari Mana Sampah Berasal 2
C. Rumah Tangga Penghasil Terbesar Sampah 3
D. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah .. 4
1. Penimbunan Terbuka (Open Dumping) 4
2. Lahan Urug Saniter (Sanitary Landfill) . 5
E. Jenis-jenis Sampah . 6
1. Organik .. 6
2. Non Organik . 7
3. Gelas / Kaca . 7
4. Kaleng . 8
5. Plastik .. 8
6. Kertas .. 9
7. Styrofoam .. 9
8. Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) .. 10
F. Lama Waktu Penguraian Sampah ... 11

vi
Halaman
Bab 2 Pergeseran Paradigma Pengelolaan Sampah
A. Paradigma Lama vs Paradigma Baru ... 12
B. Reduce, Reuse dan Recycle (3R) 14
1. Pemilahan . 14
2. Pengolahan... 16
a) Pencacahan .. 16
b) Pemadatan 17
c) Pengomposan / Komposting .. 17
d) Daur Ulang Sampah Non Organik 17
e) Pembakaran . 17

Bab 3 Serba Serbi Kompos


A. Prinsip Dasar Pengomposan . 19
1. Mikroorganisma ...... 19
2. Nutrisi .... 19
3. Udara .. 20
4. Suhu ... 20
5. Kelembaban ... 20
6. Faktor Lain .. 20
B. Berbagai Metode Pengomposan ...... 21
1. Takakura ........ 21
2. Gentong Tanah ...... 26
3. Tong Plastik .... 27
4. Galian Tanah ..... 31
5. Windrow Komposting .... 32

vii
Halaman

C. Pemantauan Proses Komposting ... 34


1. Parameter yang Dipantau ... 34
a) Suhu ... 34
b) Kelembaban . 34
c) Larva dan Bau ... 34
d) Daur Ulang Sampah Non Organik 34
2. Standar Kualitas Kompos Rumah Tangga .. 35

Bab 4 Daur Ulang Sampah Non Organik


A. Manfaat Daur Ulang .. 36
B. Kebiasaan Hidup Ramah Lingkungan .. 36
C. Pusat Daur Ulang 39
D. Cara Melakukan Daur Ulang . 40
1. Daur Ulang Kertas ..... 40
2. Daur Ulang Plastik ..... 44

Bab 5 Membuat Briket Arang Dari Sampah


A. Pengertian dan Tujuan ... 46
B. Prinsip Dasar Membuat Briket Arang .. 48
C. Cara Membuat Briket Arang . 49

viii
Halaman
Bab 5 Bank Sampah
A. Apa Itu Bank Sampah .. 51
B. Tujuan dan Manfaat Bank Sampah .. 53
C. Konsep Dasar Pengelolaan Bank Sampah . 54
1. Pelaku Bank Sampah..... 54
2. Langkah Teknis Pengelolaan .... 54
3. Mekanisme Kerja Bank Sampah .. 56
D. Instrumen Bank Sampah ........ 57
1. Buku Rekening Tabungan Sampah ..... 57
2. Slip Setoran atau Penarikan ..... 57
3. Timbangan .. 57
4. Buku Induk Tabungan Sampah 57

Bab 6 Pengembangan Jejaring Bisnis


Daur Ulang Sampah
A. Jejaring Bisnis Sampah .. 59
B. Pelaku Usaha / Bisnis Sampah ... 60

ix
ANJURAN AGAMA UNTUK
MENJAGA LINGKUNGAN

ISLAM:
Janganlah merusak di muka bumi sesudah Allah
memperbaikinya. Tapi serulah Ia dengan ketakutan dan
kerinduan. Sungguh rahmat Allah dekat kepada orang
yang berbuat kebaikan (QS Al Araf, 56)

KRISTEN:
Tumbuhlah dan berkembang biaklah, dan isilah serta
taklukkanlah bumi ini, dan kuasaialah ikan di laut, dan
arus udara, dan segenap makhlup hidup yang bergerak di
bumi (Genesis, Bab awal Perjanjian Lama, ayat 28)

HINDU:
Agama Hindu menerima konsep bahwa alam adalah Ibu
Pertiwi, ibu dari semua ibu. Hindu memandang alam
sebagai guru, yang memperkaya manusia dengan
kearifannya

BUDHA:
Sang Budha mengajarkan untuk hidup di jalan yang
benar dalam keselarasan dengan alam. Pelestarian alam
adalah tugas yang harus dilaksanakan oleh semua orang.
Apabila manusia/masyarakat bertindak tidak bermoral
termasuk merusak alam, pasti akan terjadi akibat yang
menyebabkan bencana alam
x
BAB SATU
SAMPAH
A. Pendahuluan
Sampah adalah material yang
dihasilkan dari aktivitas manusia
dan proses alam yang nilai
gunanya sudah berbeda akibat
kerusakan atau perubahan
komposisinya
Sejalan dengan perkembangan
peradaban dan populasi
manusia, sampah yang dibuang
ke lingkungan jumlah, jenis dan
komposisinya pun semakin
meningkat.

Ketika sampah jumlahnya masih relatif sedikit, lingkungan masih


mampu menetralkannya. Akan tetapi, ketika jumlah sampah dan
karakteristiknya sudah melebihi daya dukung lingkungan, maka
sampah tersebut menjadi pencemar dan membahayakan seluruh
kehidupan.

1
B. Dari Mana Sampah Berasal
Jenis sampah terbagi berdasarkan sumber penghasil sampah,
terdapat 3 bagian jenis sampah, yaitu:
1. Sampah rumah tangga; berasal dari kegiatan sehari-hari dalam
rumah tangga, tidak termasuk tinja dan sampah spesifik;
2. Sampah sejenis sampah rumah tangga; berasal dari kawasan
komersil, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial,
fasilitas umum, dan atau fasilitas lainnya;
3. Sampah spesifik; yaitu sampah yang mengandung bahan
berbahaya & beracun, sampah yang mengandung limbah bahan
berbahaya & beracun, sampah yang timbul akibat bencana,
puing bongkaran bangunan, sampah yang secara teknologi
belum dapat diolah dan sampah yang timbul secara tidak
periodik.

Gambar 1. Contoh Kondisi Lingkungan yang Tercemar oleh Sampah

2
C. Rumah Tangga Penghasil Terbesar Sampah
Pernahkah kita memikirkan bagaimana perjalanan sampah yang kita
buang, mulai dari rumah hingga lokasi pembuangan akhir (TPA)?
Diperkirakan setiap harinya rata-rata setiap
penduduk DKI Jakarta menghasilkan 2-3
liter sampah, sehingga jumlah sampah
yang dihasilkan mencapai sekitar 50.000
ton setahunnya. Percayakan Anda bahwa
jumlah ini setara dengan tumpukan sampah
setinggi gedung-gedung perkantoran di
Jalan Sudirman Jakarta.
Penghasil sampah terbesar (lebih dari 50%) adalah rumah tangga,
jika setiap anggota masyarakat secara aktif mengelola sampah
rumah tangga sebagai wujud tanggung jawabnya, maka jumlah
beban sampah di TPA akan jauh berkurang.
Tumpukan sampah bukan hanya
mengganggu kesehatan, namun
juga mengancam nyawa manusia!
Seperti yang terjadi di Bandung
tahun 2005 lalu di TPA Leuwigajah
yang menyebabkan meninggalnya
lebih dari 140 nyawa akibat
tertimbun longsoran sampah
sejumlah jutaan meter kubik
Setahun kemudian di 2006 kejadian
serupa pun terjadi di TPA
Bantargebang, Bekasi, yang
menewaskan sejumlah pemulung.
Kejadian menyedihkan ini tentunya
dapat dicegah jika sampah dapat
Gambar 2. Contoh Kondisi Tempat kita kurangi mulai dari sumbernya,
Pembuangan Akhir (TPA) Sampah yaitu rumah tangga kita sendiri.

3
D. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah
Secara umum, di Indonesia terdapat dua jenis pembuangan akhir
sampah, yaitu:

1. Penimbunan Terbuka (Open Dumping)


Umumnya TPA yang ada di kota-kota besar di Indonesia
menggunakan metoda penimbunan terbuka (open dumping).
Sampah yang ditimbun dibiarkan terbuka atau tidak ditutup
secara harian dengan tanah, pada sistem ini pengumpulan dan
pengolahan lindi (air sampah) tidak optimal. Gas metana yang
timbul akibat reaksi biokimia sampah tidak dikendalikan
sehingga sering terjadi kebakaran di TPA. TPA jenis ini sangat
merusak lingkungan dan menjadi sumber berbagai penyakit dan
masalah lainnya seperti longsor. Pada gambar di bawah ini
disajikan salah satu contoh TPA yang menggunakan sistim open
dumping

Gambar 3. Contoh Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Open Dumping

4
2. Lahan Urug Saniter (Sanitary Landfill)
TPA jenis ini menerapkan sistem pengendalian pencemaran
akibat sampah yang sangat ketat. Setiap hari, sampah yang
ditimbun harus dipadatkan dan ditutup kembali dengan
lapisan tanah menggunakan alat berat seperti buldozer.
Lapisan dasar TPA menggunakan bahan tertentu sehingga air
sampah / lindi (leachate) tidak meresap ke air tanah,
melainkan dialirkan ke instalasi pengolahan lindi yang telah
disiapkan. Sanitary Landfill juga dilengkapi dengan jaringan
pipa gas untuk mengendalikan gas metana (gas berbahaya
yang dapat menyebabkan kebakaran) yang timbul akibat
proses biokimia yang terjadi pada sampah di TPA.
Biaya operasional TPA jenis ini tidak murah, minimal
dibutuhkan Rp. 100.000,- per-ton sampah. Jika total 50.000
ton sampah Jakarta ditimbun menggunakan sanitary landfill,
maka setiap harinya dibutuhkan biaya minimal 5 milyar rupiah!

Gambar 4. Contoh Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Sanitary


Landfill di Kuala Lumpur, Malaysia

5
E. Jenis-jenis Sampah
Setiap hari setiap rumah tangga menghasilkan sampah yang
jenisnya tergantung pada aktivitasnya. Setiap jenis memiliki metode
pengolahan yang berbeda.
Sampah yang tercampur menyebabkan biaya pengolahan menjadi
mahal. Oleh karena itu, kunci dari pengelolaan sampah adalah
pemilahan atau pemisahan antara jenis sampah yang satu dengan
jenis sampah yang lain.
Marilah kita memahami lebih lanjut apa saja jenis sampah dan
bagaimana pengolahan masing-masing.

1. Organik

Sampah organik atau


sering disebut sampah
basah adalah jenis sampah
yang berasal dari jasad
hidup sehingga mudah
membusuk dan dapat
hancur secara alami.
Contohnya adalah sayuran,
daging, ikan, nasi, dan
potongan rumput / daun /
ranting dari kebun.

Kehidupan manusia tidak dapat lepas dari sampah organik setiap


harinya. Pembusukan sampah organik terjadi karena proses
biokimia akibat penguraian materi organik sampah itu sendiri
oleh mikroorganime (makhluk hidup yang sangat kecil) dengan
dukungan faktor lain yang terdapat di lingkungan.
Metoda pengolahan sampah organik yang paling tepat tentunya
adalah melalui pembusukan yang dikendalikan, yang dikenal
dengan pengomposan atau komposting.

6
2. Non Organik
Sampah non-organik atau
sampah kering atau sampah
yang tidak mudah busuk
adalah sampah yang
tersusun dari senyawa non-
organik yang berasal dari
sumber daya alam tidak
terbaharui seperti mineral
dan minyak bumi, atau dari
proses industri.
Contohnya adalah botol gelas, plastik, tas plastik, kaleng, dan
logam. Sebagian sampah non-organik tidak dapat diuraikan oleh
alam sama sekali, dan sebagian lain dapat diuraikan dalam waktu
yang sangat lama.
Mengolah sampah non-organik erat hubungannya dengan
penghematan sumber daya alam yang digunakan untuk
membuat bahan-bahan tersebut dan pengurangan polusi akibat
proses produksinya di dalam pabrik.
3. Gelas / Kaca
Sampah gelas dapat didaur
ulang dengan menghancurkan,
melelehkan, dan memproses
kembali sebagai bahan baku
dengan temperatur tinggi
sampai menjadi cairan gelas
dan kemudian dicetak.
Jika dibuang, sampah gelas
membutuhkan ribuan tahun
bahkan sampai 1 juta tahun untuk bisa hancur dan menyatu
dengan tanah.

7
4. Kaleng
Sebagian besar kaleng
dibuat dari aluminium
melalui proses yang
membutuhkan banyak
energi. Sampah kaleng
dapat didaur ulang
dengan melelehkan dan
menjadikan batang
aluminium sebagai bahan
dasar produk baru.
Dengan demikian, sumber energi dapat dihemat, polusi dapat
dikurangi, dan sumber daya bauksit, kapur dan soda abu sebagai
bahan dasar aluminium dapat dihemat.
5. Plastik
Sampah plastik termasuk
sampah yang tidak dapat
hancur dan menyatu
dengan tanah. Plastik yang
bahan dasarnya minyak
bumi, sudah menjadi gaya
hidup sehari-hari, sebagai
bahan bungkus maupun
pengganti alat dan
perabotan seperti gelas /
sendok / piring plastik, dan
kemasan makanan.
Daur ulang plastik dilakukan dengan melelehkan dan menjadikan
bijih plastik sebagai bahan dasar produk baru, ini membutuhkan
mesin yang cukup mahal dan dapat mengganggu permukiman
sehingga tidak dianjurkan bagi rumah tangga.

8
6. Kertas
Menghemat penggunaan
kertas adalah cara terbaik.
Selain mengurangi jumlah
sampah, kita juga dapat
sekaligus menghemat
jumlah pohon yang
ditebang karena bahan
baku membuat kertas
adalah kayu.
Daur ulang kertas dapat dilakukan dengan menghancurkan dan
membuat bubur kertas sebagai bahan dasar produk baru. Hal ini
dapat juga dilakukan oleh rumah tangga, namun tidak
dianjurkan untuk kertas koran karena banyak mengandung
logam berat.

7. Styrofoam
Penduduk perkotaan saat
ini cukup akrab dengan
styrofoam yang sering
digunakan sebagai
pembungkus barang. Bahan
ini dibuat dari zat kimia
yang berbahaya, yang
apabila dibakar akan
menimbulkan gas beracun.

Pemakaian styrofoam sebisa mungkin perlu dihindari, karena


selain berbahaya bagi kesehatan, sampahnya TIDAK DAPAT
HANCUR secara alami.

9
8. Bahan Berbahaya & Beracun (B3)
Sampah B3 adalah sampah
yang mengandung bahan
berbahaya dan beracun.
Sampah B3 yang sering
terdapat di rumah tangga
misalnya adalah baterei,
pestisida (obat serangga),
botol aerosol, cairan
pembersih (karbol), dan
lampu neon.
Jika dibuang ke lingkungan
atau dibakar, sampah-
sampah ini dapat
mencemari tanah dan
membahayakan kesehatan.
Pengolahan sampah B3 ini
dilakukan secara khusus di
lokasi khusus yang
membutuhkan pengawasan
ketat dari pemerintah.

Pemerintah Indonesia telah menentukan lokasi khusus di


Cileungsi, Jawa Barat sebagai instalasi pengolahan limbah B3.

10
F. Lama Waktu Penguraian Sampah
Setiap orang pernah membuang sampah, namun tidak semua orang
tahu atau mencoba tahu berapa lama masa waktu penguraian
sampah yang dibuang setiap orang. Bermacam jenis sampah
bermacam pula lama waktu penguraiannya.
Berikut adalah data lama waktu penguraian dari jenis-jenis sampah
yang mungkin pernah kita buang.

1. Kertas 2-5 bulan


2. Kulit jeruk 6 bulan
3. Kardus / Karton 5 bulan
4. Filter rokok 10 - 12 tahun
5. Kantong plastik 10 - 12 tahun
6. Benda-benda kulit 25 - 43 tahun
7. Kain Nilon 30 - 40 tahun
8. Plastik Keras (botol plastik) 50 - 80 tahun
9. Jaring ikan 30 - 40 tahun
10. Alumunium 80 - 100 tahun
11. Baterai bekas 100 tahun
12. Kaleng Timah 200 400 tahun
13. Botol kaca perlu 1 juta tahun untuk hancur tanpa
bekas
14. Styrofoam tidak dapat hancur

11
BAB DUA
PERGESERAN PARADIGMA
PENGELOLAAN SAMPAH
A. Paradigma Lama vs Paradigma Baru
Sampai saat ini paradigma yang
dipakai oleh masyarakat dalam
hal pengelolaan sampah,
umumnya masih sangat
konvensional / kuno
yaitu KUMPUL ANGKUT
BUANG. Paradigma pengelolaan
sampah yang bertumpu metode
tersebut sudah saatnya
ditinggalkan dan diganti dengan
Gambar 5. paradigma baru yaitu PILAH
Membakar Sampah, sebuah Paradigma KUMPUL JUAL.
Lama

Paradigma baru sesuai Undang Undang No 18/2008 adalah


memandang sampah sebagai sumber daya yang mempunyai nilai
ekonomi dan dapat dimanfaatkan, misalnya, untuk energi, kompos,
pupuk ataupun untuk bahan baku industri dan sebagainya,
sedangkan yang dibuang adalah sampah yang benar-benar sudah
tidak dapat dimanfaatkan, karena tidak mempunyai nilai ekonomi .
Melihat adanya kebutuhan untuk menemukan solusi berbagai
masalah pengelolaan sampah, muncul sebuah gagasan baru yang
dikenalkan dengan METODA 3 R, yaitu REDUCE (mengurangi
timbulan sampah), REUSE (menggunakan kembali)
dan RECYCLE (mendaur ulang).

12
Konsep pengelolaan sampah menggunakan metoda 3R ini
dimaksudkan tidak untuk merubah secara total metode konvensional
yang telah dilakukan oleh masyarakat selama bertahun-tahun silam,
namun bisa saling melengkapi sehingga memperoleh hasil
pengelolaan sampah yang lebih optimal.
Karena dengan pengelolaan sampah yang dilakukan secara
terintegrasi, menggabungkan pengelolaan sampah konvensional
dengan pengelolaan sampah pilah 3R ini, maka paradigma
pengelolaan sampah akan semakin maju dan berkembang.

Kebiasaan Kebiasaan
Masyarakat Perlu Masyarakat
Terhadap Sampah Perubahan Terhadap Sampah
Selama Ini Mindset Yang Diharapkan
Mindset Lama Mindset Baru

Menyia-nyiakan Mendayagunakan
Sampah Sampah
(Membuang & (Memanfaatkan/
Membakar) Mendaur Ulang)

Membenci Menyayangi
Sampah Sampah
Suka Menghemat
Menyampah Sampah

Pendidikan Budi Pekerti


Mengelola Sampah dengan Baik dan Benar
Sejak Dini Di Sekolah & Keluarga

Gambar 6. Pergeseran Paradigma Pengelolaan Sampah


13
B. Reduce Reuse dan Recycle (3R)
3R adalah singkatan dari Reduce, Reuse dan Recycle. 3R adalah
prinsip utama mengelola sampah mulai dari sumbernya, melalui
berbagai langkah yang mampu mengurangi jumlah sampah yang
dibuang ke TPA, langkah utama adalah pemilahan sejak dari sumber.
Reduce artinya mengurangi. Kurangilah jumlah sampah dan
hematlah pemakaian barang. Misalnya dengan membawa tas belanja
saat ke pasar sehingga dapat mengurangi sampah plastik dan
mencegah pemakaian styrofoam.
Reuse artinya pakai ulang. Barang yang masih dapat digunakan
jangan langsung dibuang, tetapi sebisa mungkin gunakanlah kembali
berulang-ulang. Misalnya menulis pada kedua sisi kertas dan
menggunakan botol isi ulang.
Recycle artinya daur ulang. Sampah kertas dapat dibuat hasta
karya atau kerajinan kreatif, demikian pula dengan sampah kemasan
plastik mie instan, sabun, minyak, dan lain-lain. Sampah organik
dapat dibuat kompos dan digunakan sebagai penyubur tanaman
maupun penghijauan.
1. Pemilahan
Kunci keberhasilan program
pengelolaan sampah terletak pada
pemilahan. Tanpa itu, pengolahan
sampah menjadi sulit, mahal,
berisiko tinggi mencemari
lingkungan dan membahayakan
kesehatan. Pemilahan adalah
memisahkan antara jenis sampah
yang satu dengan jenis yang
lainnya.
Minimal pemilahan menjadi dua jenis, yaitu sampah organik dan
non organik. Sebab sampah organik yang menginap satu hari saja
sudah dapat menimbulkan bau, namun tidak demikian halnya
dengan sampah non organik.
14
Pemilahan paling baik dilakukan mulai dari sumbernya, yaitu
rumah tangga. Setiap anggota keluarga baik ayah, ibu, anak
dan anggota keluarga lainnya memiliki tanggung jawab yang
sama dalam pemilahan di rumahnya masing-masing.
Berbagai bentuk dan bahan wadah pemilahan dapat
digunakan, dimana setiap pilihan memiliki kelebihan dan
kekurangan. Prinsipnya adalah disesuaikan dengan kondisi
lingkungan dan kemampuan masyarakat yang akan memilah.
Umumnya pemilahan di lokasi yang telah melakukan program
pengelolaan sampah adalah sebagai berikut

RUMAH TANGGA

Wadah 1 Wadah 2 Wadah 3

Dapat didaur Lainnya Organik


ulang (umum) (untuk
(plastik,
kompos)
kertas, gelas,
kaleng, dll)

Pusat Kompos
Komposting rumah
Bank (komunal) tangga
Sampah

Pengumpulan
baterai bekas
dan B3

Gambar 6. Diagram 3R

15
Contoh-contoh wadah pemilahan dapat dilihat pada foto dan gambar
berikut ini.

Gambar 8. Gambar 9.
Wadah pemilahan dengan tong yang Wadah pemilahan dengan tong plastik
dihiasi gambar menarik (lokasi: berbeda warna (lokasi: Rawajati,
Sukunan, Sleman, Yogyakarta) Jakarta).

2. Pengolahan
Pengolahan sampah adalah upaya yang sangat penting untuk
mengurangi volume sampah dan mengubah sampah menjadi
material yang tidak berbahaya dan berguna. Pengolahan dapat
dilakukan di sumber, di TPS, maupun di TPA. Prinsipnya adalah
dilakukan setelah pemilahan sampah dan sebelum penimbunan
akhir, sehingga sering juga disebut pengolahan antara.
Beberapa jenis pengolahan yang sering dilakukan untuk
pengelolaan sampah adalah sebagai berikut
a) Pencacahan
Adalah pengolahan fisik
dengan memotong /
mengurangi ukuran sampah
menjadi lebih kecil agar lebih
mudah diolah, misalnya
untuk proses pengomposan
rumah tangga.

16
b) Pemadatan
Adalah pengolahan fisik dengan
menambah kepadatan sampah
agar volumenya berkurang,
berguna untuk menghemat
penggunaan truk
pengangkutan sampah ke TPA.
Contohnya di DKI Jakarta
dilakukan di stasiun peralihan
antara (transfer station) di
Cakung.
c) Pengomposan / komposting
Adalah pengolahan sampah organik melalui pembusukan (proses
biologis) yang terkendali. Hasil yang diperoleh disebut kompos.
Contoh komposting dapat dilihat di bab selanjutnya.
d) Daur ulang sampah non organik
Adalah pengolahan fisik dan kimia untuk mengubah sampah non
organik menjadi material baru yang dapat dimanfaatkan kembali.
Contoh: melelehkan plastik dan mencacahnya menjadi bijih
plastik, membuat bubur kertas untuk menjadikan kertas daur
ulang, dan membuat kerajinan atau hasta karya.
e) Pembakaran
Adalah pengolahan fisik dengan membakar sampah pada
temperatur tinggi (diatas 1.000 derajat celcius).
Pembakaran atau insinerasi diperbolehkan, namun memerlukan
teknologi tinggi sehingga sangat mahal agar tidak berbahaya
bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Karena itu, insinerasi
kurang cocok digunakan untuk tingkat rumah tangga.

17
Gambar 10. Jenis-jenis alat pembakar sampah (incinerator)

18
BAB TIGA
SERBA SERBI KOMPOS
Komposting adalah upaya mengolah sampah organik melalui proses
pembusukan yang terkontrol atau terkendali. Produk utama
komposting adalah kebersihan lingkungan, karena jumlah sampah
organik yang dibuang ke lingkungan sudah tidak ada.

A. Prinsip Dasar Pengomposan


Proses perubahan sampah organik menjadi kompos merupakan
proses metabolisme alami dengan bantuan makhluk hidup
(mikroorganisma). Untuk itu, ada beberapa faktor yang wajib
dipenuhi.
1. Mikroorganisma

Mikroba (bakteri dan jamur) inilah yang memakan sampah dan


hasil pencernaannya adalah kompos. Semakin banyak jumlah
mikroba maka semakin baik proses komposting. Mikroba ini
dapat diperoleh dari kompos yang sudah jadi ataupun dari
lapisan atas tanah yang gembur (humus).
2. Nutrisi
Seperti manusia, mikroba juga membutuhkan makanan atau
nutrisi. Kandungan karbon dan nitrogen yang ada dalam
sampah organik merupakan sumber makanan mikroba.

19
3. Udara
Komposting adalah proses yang bersifat aerob (membutuhkan
udara). Aliran udara yang kurang baik selama komposting akan
menyebabkan mikroba jenis lain (yang tidak baik untuk
komposting) yang lebih banyak hidup, sehingga timbul bau
menyengat dan pembentukan kompos tidak terjadi. Oleh karena
itu, wadah yang berlubang ataupun, pembalikan dan
pengadukan secara teratur sangat penting dalam komposting.
4. Suhu
Proses penguraian materi organik oleh mikroba menyebabkan
suhu yang cukup tinggi (fase aktif). Suhu akan turun secara
bertahap yang menandakan fase pematangan kompos. Kisaran
suhu yang ideal untuk komposting adalah 45 70 derajat
celcius.
5. Kelembaban
Komposting berlangsung optimal dalam kelembaban antara 50
70%. Jika terlalu lembab maka udara akan terhambat masuk ke
dalam materi organik sehingga bakteri mati karena kekurangan
udara. Maka simpanlah di tempat yang cukup kering. Namun
juga jangan terlalu kering karena mikroba membutuhkan air
sebagai media hidupnya. Lakukan penyiraman dengan
memercikan air jika terlalu kering.
6. Faktor Lain
Faktor lainnya seperti waktu, pH (derajat keasaman), dan
ukuran partikel sampah organik. Rata-rata proses komposting
membutuhkan waktu sekitar 6 8 minggu. Variasi waktu
tergantung pada jenis sampah organik dan ada tidaknya unsur
tambahan yang mempercepat proses komposting seperti
biostarter. Ukuran partikel sampah juga perlu diperhatikan
dalam pengomposan rumah tangga adalah sampah perlu
dicacah terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam
komposter.

20
B. Berbagai Metode Pengomposan
Beberapa metode pengomposan yang dapat dilakukan dalam skala
rumah tangga adalah sebagai berikut.
1. Takakura
Metode kompos takakura pertamakali
diperkenalkan di Surabaya pada tahun
2004 oleh seorang Jepang bernama Mr.
Koji Takakura. Waktu itu, beliau mencoba
mencari solusi terhadap penumpukan
sampah organik di kota itu sehingga
muncul ide untuk mendaur ulang
sebagian sampah rumah tangga sejak di
dapur.

Maka, dirancanglah sebuah metode pembuatan kompos yang


bisa dilakukan di dapur. Syaratnya harus higienis tidak berbau
dan tidak jorok, mengingat dapur merupakan tempat mengolah
makanan.
Proses pembuatan kompos takakura sangatlah mudah, hanya
saja kita harus menyiapkan starter mikroorganisme dan
pembuatan bibit kompos terlebih dahulu. Langkah persiapan ini
cukup dilakukan sekali saja. Selanjutnya tinggal melakukan
pengomposan secara terus menerus. Apabila tidak sempat
membuat starter dan bibit kompos, saat ini sudah banyak yang
menjual paket kompos takakura siap pakai.

Gambar 11.
Contoh
Keranjang
Takakura

21
a) Menyiapkan Starter Mikroorganisma
Larutan starter dibuat dengan cara
mengisolasi mikroorganisme dari bahan
makanan seperti tempe, youghurt,
tauco, sayuran dan buah-buahan.
Mikroorganisme dipilih dari bahan-
bahan tersebut karena sifatnya yang
tidak berbau busuk. Starter ini akan
dipakai sebagai dekomposer dalam
pembuatan bibit kompos takakura.

Starter dengan larutan gula


1) Siapkan stoples kaca ukuran lima liter, pilih yang kedap
udara.
2) Tambahkan kedalam toples 200 gram gula merah, encerkan
dengan 3 liter air bersih aduk sampai merata.
3) Masukkan 5 butir ragi atau ragi tempe. Apabila tidak ada
bisa diganti dengan sepotong tempe atau tape.
4) Tutup rapat dalam toples, diamkan hingga 3-5 hari. Warna
akhir larutan coklat pekat baunya wangi tape. Larutan siap
untuk digunakan.
Starter dengan larutan garam
1) Siapkan stoples kaca ukuran 5liter, pilih yang kedap udara.
2) Tambahkan ke dalam toples 1 sendok makan garam dapur,
encerkan dengan 3 liter air bersih aduk sampai merata.
3) Pilih beberapa potong sayuran hijau seperti kangkung,
bayam, atau kulit buah-buahan seperti pepaya, pisang.
Lumat material tersebut dengan blender, masukkan ke
dalam toples.
4) Tutup toples dengan rapat, diamkan 3 - 5 hari. Apabila
baunya enak, seperti bau tape atau alkohol artinya larutan
sudah siap digunakan.
22
b) Membuat Bibit Kompos Takakura
Langkah-langkah untuk membuat bibit kompos takakura adalah
sebagai berikut
1) Siapkan 100 kg dedak, 100 kg
sekam, starter mikroorganisme,
air bersih dan terpal plastik;
2) Cari tempat yang terlindung
panas dan hujan dengan dasar
lantai plester atau permukaan
keras lainnya;
3) Aduk dedak dan sekam
sampai merata, kemudian
tambahkan larutan starter
mikroorganisma yang telah
dibuat sebelumnya kemudian
aduk sampai merata;

4) Siram dengan air bersih


secukupnya hingga mencapai
kelembaban 40-60%. Untuk
memperkirakan kelembaban
dengan cara genggam material
dengan kepalan tangan. Apabila
material sudah bisa membentuk
dan solid, itu tandanya
kelembaban sudah tercapai;
5) Tutup rapat tumpukan material tersebut dengan terpal plastik
dan diamkan selama 5 - 7 hari;
6) Tanda bibit kompos sudah matang apabila permukaan
tumpukan diselimuti lapisan mould putih, warna bibit kompos
coklat gembur dan tidak berbau. Bibit kompos yang dihasilkan
cukup untuk 40-50 rumah tangga.
23
c) Cara Pengomposan Takakura

Siapkan keranjang ukuran kira-kira


60 liter, bisa terbuat dari plastik,
anyaman bambu atau anyaman
rotan. Karena proses pembuatan
kompos takakura bersifat aerobik,
dinding keranjang harus memiliki
pori-pori udara. Selanjutnya lapisi
dinding keranjang dengan kardus,
tujuannya agar material yang ada
dalam keranjang tidak berceceran
keluar, serangga tidak bisa masuk
kedalam, kelebihan air bisa terserap
kardus dan tidak membasahi
tempat.

Berikut langkah-langkah membuat kompos takakura:


1) Masukkan sekitar 2-3 kg
bibit kompos takakura atau
kira-kira serempat
keranjang;
2) Masukkan sampah organik
(sisa sayuran, buah-
buahan, nasi, roti, mie,
kue, dll) yang sudah
dicacah halus ke dalam
keranjang takakura.
Kemudian aduk dengan
bibit kompos takakura yang
terdapat dalam keranjang;

24
3) Tutup keranjang rapat-rapat agar
serangga dan lalat tidak masuk.
Keranjang tidak usah diisi langsung
penuh, masukkan sampah organik
seadanya. Lakukan secara rutin
setiap hari sampai keranjang
penuh. Sampah yang baru
dimasukkan akan difermentasi
dalam 1-2 hari;

4) Apabila keranjang sudah penuh, kira-kira 90% sudah terisi,


ambil dua pertiganya. Pindahkan kompos tersebut ke dalam
karung, biarkan selama 2 minggu sebelum digunakan.
Kompos yang dihasilkan kering tidak terdapat cairan;

5) Kompos takakura sudah


terbentuk sempurna
apabila teksturnya sudah
seperti tanah, warna
coklat kehitaman dan
tidak berbau;

6) Untuk menguji kualitas kompos larutkan dalam air bersih.


Kompos yang baik akan tenggelam, apabila ada yang
terapung berarti material tersebut belum menjadi kompos.
Air akan tetap bersih, apabila air berubah warnanya jadi
kecoklatan artinya dalam kompos terdapat cairan hasil
fermentasi anaerobik.

25
2. Gentong Tanah
Gentong yang terbuat dari tanah liat (tembikar) atau gentong
keramik dapat pula digunakan sebagi wadah bagi pembuatan
kompos rumah tangga.
Proses pembuatan kompos menggunakan wadah ini tidak berbeda
dengan metode takakura, sampah organik yang akan djadikan
kompos adalah sisa sayuran, buah-buahan, nasi, roti, mie, kue, dll.
Adapun yang tidak diperkenankan adalah daging, tulang, telur,
susu, dan sampah hewani lain.
Perlu diingat, sebelum dimasukkan ke dalam gentong buang
terlebih dahulu air yang ada dalam sampah.

Gambar 12. Gambar 13.


Salah satu rumah tangga yang Proses pembuatan kompos di dalam
memanfaatkan gentong sebagai gentong
wadah pembuatan kompos

26
3. Tong Plastik

Gambar 14.
Komposter Tong Plastik

Langkah-langkah untuk membuat kompos dengan tong plastik


adalah sebagai berikut

a. Alat-alat
1) Komposter tong plastik besar
2) Alat pencacah sampah organik
3) Karung goni
4) Paving block
5) Ayakan
b. Bahan
1) Sampah organik hijau;
2) Sampah organik coklat;
3) Tanah;
4) Bahan tambahan, bio starter / EM4

27
c. Cara membuat
1) Cacah sampah organik dengan
alat pencacah, agar berukuran
kecil, seragam dan lebih mudah
untuk dikomposkan;
2) Campurkan satu bagian sampah
hijau dengan satu bagian sampah
coklat ke dalam tong plastik besar
yang di bawahnya telah ditutupi
dengan tanah dan diberi lubang
sebagai jalan mengeluarkan
kelebihan air;
Gambar 15
Contoh Alat Pencacah Sampah

3) Tambahkan satu lapisan tanah dan biarkan bikroba aktif dalam


tanah bekerja menguraikan sampah;
4) Ulangi proses tersebut untuk lapisan-lapisan berikutnya,
sampai tong penuh lalu tutup tong dengan karung goni;
5) Setelah satu minggu, buka dan aduk rata seluruh bahan dalam
tong, kemudian tutup kembali;
6) Lakukan pengadukan yang sama setiap seminggu sekali;
7) Untuk mempercepat proses pengomposan, dapat ditambahkan
bio aktovator (EM4) yang dapat dibeli di toko pertanian;
8) Setelah kurang lebih satu bulan, cek akhir pupuk kompos, jika
sudah berwarna kehitaman dan tidak berbau berarti proses
pengomposan sudah selesai;
9) Langkah terakhir adalah memisahkan bagian yang kasar
dengan ayakan, ambil kompos yang halus;
10)Pupuk kompos yang kasar dicampurkan kembali ke dalam tong
untuk berperan sebagai bio aktivator

28
d. Masalah dan Solusi
1) Muncul serangga atau belatung
para proses komposting
Penyebab :
terdapat bahan seperti daging,
ikan, susu, lemak dan santan,
atau tong tidak tertutup rapat

Solusi :

Tutup bahan kompos dengan selapis tanah atau kompos lain


yang sudah jadi. Sebaiknya bahan tersebut tidak dikomposkan
2) Muncul bau busuk (amoniak)
Penyebab : Terdapat banyak unsur nitrogen atau jumlah
sampah hijau terlalu banyak
Solusi : Menambahkan sampah coklat dan mengaduk
bahan untuk menambahkan oksigen sampai
bau hilang
3) Muncul bau busuk (tengik / telur busuk))
Penyebab : Kurang oksigen / terlalu lembab
Solusi : Menambahkan sampah coklat dan mengaduk
bahan untuk menambahkan oksigen sampai
bau hilang
4) Pupuk mengempal
Penyebab : Terlalu lembab
Solusi : Menambahkan sekam dan diaduk merata

5) Pupuk terlalu kering


Penyebab : Kurang air
Solusi : Percik-percik dengan air sambil diaduk merata

29
6) Tidak terjadi reaksi atau perubahan
Penyebab : Nitrogen dan oksigen terlalu rendah serta kurang
lembab
Solusi : Menambahkan sampah hijau untuk meningkatkan
kadar nitrogen sambal bahan dibolak-baik untuk
menambahkan oksigen

Gambar 16
Contoh Sampah hijau

Gambar 17
Contoh Sampah coklat, terdiri dari
daun-daun kering

30
4. Galian Tanah
Jika rumah tangga memiliki lahan kosong yang cukup luas, maka
metode pengomposan menggunakan galian tanah juga dapat
diterapkan.
Adapun cara pembuatan kompos menggunakan metode ini adalah
sebagai berikut.

1) Lahan kosong terlebih dahulu digali sedalam 50 cm sampai 1


meter, jika di sekitar lahan tersebut terdapat sumur maka
berikan jarak sekurang-kurangnya sekitar 10 meter dari tempat
galian tadi;
2) Masukkan sampah organik ke dalam lobang;
3) Tutuplajh permukaan sampah organik dengan bibit kompos
(pembuatannya sudah dijelaskan pada motode takakura)
hingga merata;
4) Selanjutnya tutup dengan tanah hingga penih, tekan-tekan
hingga benar tertutup lubang galiannya;
5) Diamkan selama 3 bulan, setelah itu bisa langsung digunakan
sebagai media penyubur tanah.

Gambar 18.

Contoh proses
pembuatan
kompos di dalam
tanah galian

31
5. Windrow Komposting
Untuk lahan yang cukup luas, metode ini sangat efektif karena
mudah dan murah untuk diterapkan. Sampah ditumpuk sesuai
umur prosesnya dalam bentuk gundukan atau pile, dan dibalik
secara berkala untuk memungkinkan proses aerob

Gambar 19. Gundukan kompos dengan metode windrow

Metode pembuatan kompos ini cocok untuk skala komunal,


karena sampah yang akan dijadikan kompos cukup banyak.
Adapun tahapan pembuatannya adalah sebagai berikut.

1) Sampah yang masuk ke lokasi dari gerobak/truk sebaiknya


masih segar dan didominasi oleh sampah organik, agar lebih
cepat pemilahannya;
2) Agar lebih homogen (merata), beberapa jenis sampah organik
(sampah dapur/taman, kotoran ternak dll) perlu dicampur
terlebih dahulu. Kemudian ditumpuk berbentuk trapesium
(windrow) memanjang atau dalam bak;
3) Secara teratur tumpukan dibalik 1 2 kali seminggu secara
manual dengan memindahkan tumpukan atau digulirkan;

32
4) Tumpukan perlu disiram secara rutin untuk menjaga
kelembaban proses, gunakan selang spray agar Merata.
Hentikan penyiraman untuk tumpukan yang telah berumur 5
minggu atau dua minggu sebelum panen;
5) Agar masalah yang timbul dapat diantisipasi sedini mungkin,
pemantauan sangat penting. Terutama terhadap suhu, tekstur,
warna, bau, dan populasi lalat;
6) Produk kompos matang kemudian diayak agar berukuran halus
sesuai kemudahan penggunaan;
7) Jika ingin dijual, kompos halus dapat dikemas sesuai volume
yang diinginkan dan diberi informasi tentang nama kompos,
bahan baku, produsen kompos, dan kegunaannya untuk
tanaman. Setelah dikemas dapat disimpan dalam gudang yang
terlindung dari panas matahari dan hujan.

Gambar 20.
Proses awal pembuatan kompos dengan metode windrow

33
C. Pemantauan Proses Komposting
Pemantauan atau monitoring penting dilakukan untuk memastikan
proses komposting berjalan dengan baik, terutama pada 6 minggu
pertama. Perlengkapan yang diperlukan diantaranya termometer
yang mampu mengukur hingga 100 derajat Celcius, sekop dan lain-
lain. Pemantauan ini sangat mudah dan dapat dilakukan oleh
masyarakat, baik ibu-ibu, bapak, maupun pemuda/pemudi. Semakin
banyak yang terlibat dalam pemantauan akan semakin baik.
1. Parameter yang dipantau
a) Suhu
Proses komposting ditandai dengan peningkatan suhu yang
mampu mencapai 70C. Untuk memastikannya, gunakan
termometer untuk mengukur suhu sampah organik dalam
komposter. Pengukuran sebaiknya dilakukan sejak minggu
pertama dan dilanjutkan paling tidak dua kali seminggu
hingga minggu ke-6. Jika suhu tidak lebih dari 30 derajat
celcius, kemungkinan besar proses komposting tidak terjadi.
Hal ini dapat disebabkan kelembaban yang berlebihan, atau
jumlah sampah organik yang terlalu sedikit.
b) Kelembaban
Memantau kelembaban dilakukan dengan mengambil
segenggam sampah organik dalam komposter yang sedang
diproses lalu diremas, jika keluar air dari sela-sela jari maka
kadar airnya berlebih. Jika yang digenggam menjadi hancur
berarti kompos terlalu kering.
c) Larva dan bau
Perhatikan, apakah terdapat larva atau belatung yang disertai
bau yang tidak enak atau tidak. Jika ya, maka mungkin
kondisi terlalu lembab atau sampah yang masuk sudah
dihinggapi lalat. Bau yang timbul bisa disebabkan kurangnya
aerasi atau pengadukan sehingga proses biologis yang terjadi
menghasilkan gas yang berbau.
34
2. Standar kualitas kompos rumah tangga

Pemantauan juga sebaiknya dilakukan terhadap kompos yang telah


dihasilkan, baik kualitasnya maupun kuantitas atau jumlahnya.
Kualitas kompos dari sampah rumah tangga telah dibuat standard,
yaitu Standar Nasional Indonesia atau SNI No. 19-7030-2004.
Untuk mengetahui kualitas kompos apakah sudah sesuai standar
atau belum, perlu dilakukan uji laboratorium.

PARAMETER STANDAR
Kadar air Max 50%
pH 6.8 7.49
Nitrogen Min 0.4%
Karbon 9.8 32%
Kalium (K2O) Min 0.2%
Fosfor (P2O5) Min 0.1%
Besi (Fe) Max 2%
Tembaga (Cu) Max 100 ppm
Seng (Zn) Max 500 ppm
Timbal (Pb) Max 150 ppm
Kromium (Cr) Max 210 ppm
Tabel 1.
Parameter Kualitas Kompos

35
BAB EMPAT
DAUR ULANG SAMPAH
NON ORGANIK
Daur ulang adalah proses memanfaatkan barang bekas atau sampah
non organik untuk menghasilkan produk yang dapat digunakan
kembali.
A. Manfaat Daur Ulang
Beberapa manfaat daur ulang sampah, adalah sebagai berikut
1. Mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA (Tempat
Pembuangan Akhir);
2. Mengurangi dampak lingkungan yang terjadi akibat
menumpuknya sampah di lingkungan;
3. Dapat menambah penghasilan melalui penjualan produk daur
ulang yang dihasilkan;
4. Mengurangi penggunaan bahan alam untuk kebutuhan industri
plastik, kertas, logam, dan lain-lain

B. Kebiasaan Hidup Ramah Lingkungan


Setiap rumah tangga
dan anggota keluarga
dapat melakukan
banyak hal kecil tetapi
berarti bagi lingkungan.
Diantaranya adalah

1. Saat berbelanja, biasakan membawa tas belanja sendiri agar


tidak memerlukan tas plastik lagi;

36
Gambar 21.
Contoh wadah berbahan plastic dan Styrofoam
yang harus dihindari pemakaiannya

2. Usahakan untuk tidak menggunakan plastik/styrofoam untuk


menempatkan makanan dan minuman. Gunakan gelas, piring
atau cangkir yang dapat dipakai berulangkali dan jika mungkin
gunakan daun untuk membungkus kue. Makan dengan
prasmanan lebih cocok dibandingkan dengan nasi di box untuk
menghindari pemakaian kertas/kardus, atau pakailah piring dari
anyaman lidi daun lontar yang diberi alas kertas atau daun,
sehinga dapat dipakai berulang kali
3. Saat di kantor Saat di kantor, hematlah kertas, dengan
membiasakan memakai kertas atau fotokopi secara bolak balik.
Dengan menghemat kertas, berarti kita membantu mengurangi
jumlah pohon yang harus ditebang
4. Saat kenaikan kelas anak, buku-buku lama yang tidak diminati
dapat diserahkan ke perpustakaan, barangkali masih dapat
dipakai. Buku petunjuk telepon lama dapat diberikan kepada
tukang sayur untuk membungkus dagangannya. Kumpulkan sisa
halaman dari buku tulis yang masih bersih, beri lubang, ikat dan
beri sampul sehingga menjadi buku tulis yang baru,

37
Di tingkat masyarakat, para ibu kader, ketua RT, ketua RW dan
pemuda/pemudi perlu bekerjasama membiasakan warga hidup
secara ramah lingkungan. Misalnya:
1. Adakanlah acara dari
warga untuk warga
yaitu mengumpulkan
barang yang tidak
terpakai dan biarkan
orang yang
membutuhkan untuk
mengambil dan
menggunakannya secara
gratis atau dengan
harga murah.

2. Pemilahan sampah mulai dari rumah, dilanjutkan dengan pusat


daur-ulang sederhana. Usulkanlah di lingkungan tempat tinggal
agar diadakan suatu pusat daur ulang

3. Kerja bakti secara


berkala untuk
mengumpulkan
sampah dan
bersihkan selokan.
Demi kesehatan,
gunakan sarung
tangan, atau
kantung plastik yang
diikat di
pergelangan tangan.

38
C. Pusat Daur Ulang
Kegiatan pengomposan dan daur ulang sampah non-organik dapat
dilakukan baik di rumah tangga maupun komunal (tingkat RT, RW
atau Kelurahan). Pada umumnya, tindak lanjut dari kegiatan ini
adalah adanya Pusat Daur Ulang sebagai suatu kebutuhan untuk
mata rantai sampah yang dikelola secara terpadu.
Tips untuk pusat daur ulang skala rumah tangga
1. Mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA (Tempat
Pembuangan Akhir); Untuk sampah organik, lakukanlah
pengomposan dan tempatkan komposter (alat pembuat kompos)
tidak jauh dari jangkauan;
2. Untuk sampah non organik dan barang bekas lainnya,
sediakanlah ruangan di suatu pojok di rumah yang tidak
mengganggu kegiatan lainnya, namun diketahui dan mudah
dicapai oleh semua anggota keluarga;
3. Gunakan kardus, keranjang, ember bekas atau apa saja sebagai
wadah, dan tempatkan wadah-wadah tersebut di tempat yang
kering;
4. Tulislah secara jelas fungsi masih-masing wadah, misalnya:
wadah 1 untuk pecahan atau wadah gelas/botol, wadah 2 untuk
plastik, wadah 3 untuk kertas, dll;
5. Pada akhir bulan, barang-barang tersebut dapat ditabung di
Bank Sampah.
Tips untuk pusat daur ulang skala komunal
1. Seperti skala rumah tangga, buatlah sistem pemilahan namun
gunakan wadah yang lebih besar dan perhatikan kebersihan
serta kerapihan agar tidak menjadi tempat kumuh yang dijauhi
masyarakat;

39
2. Sampaikan informasi seluasnya kepada masyarakat tentang
bagaimana melakukan kegiatan di pusat daur ulang: tata tertib,
jam buka, dsb. Penyebaran info ini sangat efektif jika dikerjakan
bersama-sama baik oleh ibu PKK, para ketua RT, maupun
pemuda/pemudi;
3. Jika perlu, libatkan perangkat di tingkat Kelurahan dan
Kecamatan untuk mendampingi kegiatan ini

D. Cara Melakukan Daur Ulang


Beberapa sampah non organik, misalnya kertas dan plastik dapat
dilakukan daur ulang menjadi barang-barang yang menarik dan
mempunyai nilai jual yang cukup tinggi.
1. Daur Ulang Kertas
Berikut ini adalah cara sederhana membuat kertas daur ulang
yang dapat dilakukan di rumah tangga atau masyarakat

Gambar 22.
Hasil kreasi daur ulang kertas
40
a) Alat-alat
Blender
Screen (cetak saring)
Rekel (dapat dibeli di toko kertas)
Papan kayu yang dilapisi kain tipis (disebut sebagai kain
hero)
Bak besar
b) Bahan
Kertas bekas (sewarna dan sejenis lebih baik)
Lem kertas
Air
c) Cara membuat

Kertas bekas dipotong kecil-


kecil dengan ukuran sekitar
3 x 3 cm., lalu direndam di
dalam bak air selama
sekitar tiga jam (tergantung
jenis kertasnya);

Gambar 23.
Contoh hasil rendaman kertas

41
Selanjutnya kertas yang sudah direndam tadi digiling dengan
blender hingga halus menyerupai bubur kertas (pulp);

Gambar 24. Contoh proses membuat bubur kertas dengan blender

Masukkan bubur kertas (pulp) ke


dalam bak besar lagi yang berisi
air, dicampur dengan lem dengan
perbandingan antara air, bubur
kertas dan lem adalah: 15 liter air
: 3 liter bubur kertas : 1 sendok
makan lem;

Gambar 25.
Contoh proses bubur kertas
dalam bak yang sudah dicampur
lem kanji 42
Masukkan screen ke dalam bak, lalu angkat screen hingga
pulp tinggal di atas screen;
Basahi papan yang telah dilapisi dengan kain hero, kemudian
tempelkan screen ke papan lalu dirakel sehingga airnya
turun selanjutnya angkat screen hingga kertas menempel di
atas papan;
Ulangi langkah berkali-kali hingga papan dipenuhi oleh
kertas secara merata. Jemur papan di tempat panas hingga
kertas menjadi kering;
Setelah kering, cabut kertas dengan perlahan-lahan.

Gambar 26.
Contoh proses membuat kertas daur ulang
Gambar 26. Contoh proses akhir membuat daur ulang kertas

43
2. Daur Ulang Plastik (kemasan mie instan)
Berikut ini adalah cara sederhana membuat kreasi daur ulang
plastik kemasan mie instan yang dapat dilakukan di rumah tangga
atau masyarakat
a) Alat
Gunting kecil;
Benang;
Jarum jahit strimin (sulaman).
b) Bahan
Kemasan mie instan

Gambar 27.
Cara membuat kreasi daur ulang dari kemasan mie instan

44
c) Cara membuat
Bagian dalam dan luar bekas kemasan mi instant
dibersihkan;
Masing-masing ujung atas dan bawah kemasan digunting
agar kemasan lebih rapi dan mudah untuk dilipat;
Bekas kemasan mi instant yang sudah dibersihkan dan
dirapikan, dilipat menjadi tiga bagian dengan bentuk lipatan
disesuaikan dengan bagian kemasan yang ingin ditampilkan;
Lipatan ditipiskan dan dirapikan dengan menggunakan ujung
gunting;
Lipatan-lipatan kemasan mi instant yang sudah terbentuk,
dirangkaikan satu sama lain membentuk anyaman tas;
Anyaman tas yang telah terbentuk diperkuat dengan cara
dijahit menggunakan benang dan jarum jahit;
Bentuk anyaman sesuai yang diinginkan, misalnya tas dan
lain-lain;
Tas anyaman siap untuk digunakan.

Gambar 28.
Contoh hasil kreasi daur ulang plastik

45
BAB EMPAT
MEMBUAT BRIKET ARANG
DARI SAMPAH
Briket merupakan bahan
bakar padat yang menjadi
bahan bakar alternatif
pengganti minyak tanah dan
arang kayu. Saat ini bahan
untuk membuat briket tak
hanya dari batu bara saja.
Sampah organik pun juga
bisa dimanfaatkan.
Gambar 29. Briket Arang Sampah

A. Pengertian dan Tujuan


Kayu adalah sumber bahan bakar yang paling banyak dipakai
karena mudah didapat dan sederhana penggunaannya. Namun
tekanan terhadap hutan sangat berat dan mengurangi persediaan
kayu sebagai bahan bakar, untuk itu diperlukan alternatif
penggantiannya yang salah satunya adalah membuat briket arang.
Dalam upaya pemanfaatan sampah organik, sampah organik
merupakan bahan yang masih mengikat energi, oleh karena itu
rantai pelepasan energi diperpanjang dengan cara
memanfaatkannya sebagai bahan briket arang.
Briket arang adalah arang yang dirubah dalam bentuk, ukuran dan
kerapatan dengan cara mengepress campuran serbuk arang
dengan perekat. Keuntungan arang yang diubah bentuk menjadi
briket adalah memiliki kalor pembakaran yang lebih tinggi dan
asap yang sedikit. Selain itu juga dapat memudahkan dalam
pengemasan, pengangkutan, pemasaran dan penggunaannya.

46
Salah satu contoh pemanfaatn sampah sebagai briket arang sudah
dilakukan oleh warga kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, khususnya di
Kecamatan Kretek dan Bambanglipuro. Mereka mengolah sampah
menjadi produk yang bermanfaat dan mendatangkan keuntungan
ekonomi. Salah satu produk "daur ulang" sampah itu adalah briket
sampah.

Briket yang satu ini terbuat


dari sampah organik, yaitu
dedaunan, tempurung kelapa,
rating pohon, kulit kacang,
serbuk gergaji, dan lain-lain.
Sebutan briket sampah, selain
mengacu pada bahan baku,
juga untuk membedakan
dengan briket batu bara yang
sudah ada dikenal masyarakat
Gambar 30. sebelumnya.
Briket arang berbahan sampah organik

Edi Gunarto (35), salah seorang pemilik sentra pembuatan briket


sampah menyebutkan bahwa kegiatan membuat briket ini mulai
marak sejak beberapa tahun lalu. Pengetahuan dan keterampilan
membuat bahan bakar alternatif tersebut mereka dapat dari
pelatihan yang diselenggarakan pemerintah desa setempat. Edi
sendiri menggunakan bahan baku kulit kacang dan serutan kayu sisa
gergajian kayu untuk pembuatan briket. Penggunaan bahan baku
kulit kacang dan sisa gergajian kayu itu lantaran bahan tersebut
melimpah di rumahnya. Maklum, di rumahnya Edi juga memiliki
usaha penggilingan pengupasan kacang dan penggergajian kayu
sehingga tak perlu susah-susah membeli bahan baku. "Sebenarnya
tak harus kulit kacang, tapi semua sampah organik bisa untuk bahan
baku. Daun-daunan misalnya, bisa dibuat briket," ujarnya saat
ditemui dirumahnya yang terletak di Dusun Plebengan, sidomulyo,
Bambanglipuro, Bantul.

47
B. Prinsip Dasar Membuat Briket Arang
Menurut Nisandi (2007), limbah padat organik adalah limbah yang
dapat diubah menjadi briket arang dengan metode pirolisis
(pengarangan).
Limbah organik dapat mencapai 4,114 % dari total sampah
perkotaan, karenanya pengubahan limbah padat menjadi briket
arang akan mengurangi timbunan. Penelitian Nisandi dengan
mengambil sampel dari daun kering di sabuk hijau kota, yaitu daun
mahoni, felicium, glodogan, ranting dan sekam padi.
Pirolisis dilaksanakan pada kiln dan retort dengan bahan bakar pada
kiln adalah sampah organik. Rasio bahan bakar yang digunakan
adalah 2 kg daun dan 0,5 kg ranting untuk 1 kg sampah yang akan
dipirolisis. Suhu mencapai 3100C selama 53,3 73,2 menit.
Setelah dipirolisis arang dihaluskan dan disaring dengan 20-40 mesh
filter. Briket dibuat dengan mencampur arang dan air serta tepung
tapioka dengan perbandingan 50:24:1. Campuran ini ditekan dengan
kekuatan 159,09 kg/cm2 selama setengah menit. Setelah dikeringkan
di udara bebas selama sekitar 3 hari briket diuji kualitasnya.
Indonesia
Paramater Uji Jepang Amerika Inggris
(SNI)
Kadar Air (%) 6-8 6,2 3,6 7,57
Kadar Abu (%) 3-6 8,3 5,9 5,51
Kadar Zat menguap (%) 15 - 30 19 - 28 16,4 16,14
Kadar karbon terikat (%) 60 - 80 60 75,3 78,35
Kerapatan (g/cm3) 1 1,2 1 0,48 0,4407
Kekuatan tekan (kg/cm2) 60 - 65 62 12,7 -
Nilai kalor (kal/g) 6000 - 7000 6230 7289 6914,11

Tabel 2. Standar Kualitas Briket Arang

48
C. Cara Membuat Briket Arang
Berikut ini adalah cara membuat briket arang berbahan sampah
organik yang dapat dilakukan di rumah tangga atau masyarakat
1. Alat
a. Drum (untuk pembakaran)
b. Wadah (baskom/panci)
c. Sekop
d. Mesin pencetak briket
e. Ember
f. Lesung (penumbuk)
g. Tongkat kayu(pengaduk)
h. Anglo (cetakan briket)
2. Bahan
a. Sampah organik kering (daun, ranting, sisa sampah dapur
kering, tempurung kelapa, serbuk gergaji, dll)
b. Perekat alami atau buatan (kanji)
3. Cara membuat
a. Membuat arang sampah organik
1) Siapkan drum (untuk proses
pembakaran/pengarangan sampah
organik);
2) Sampah organik (misal daun kering)
dicacah dahulu, kemudian masukkan
ke dalam drum dan dibakar. Sampah
dapat dimasukkan ke dalam drum
Gambar 31. pembakaran sedikit demi sedikit agar
Contoh proses pengarangan nyala api tidak padam;

3) Selama proses pembakaran harus dijaga agar tidak ada


udara yang keluar masuk drum secara leluasa. Jika udara
dapat keluar masuk drum maka pembakaran tidak akan
menghasilkan arang melainkan abu;
4) Bila proses pengarangan sudah selesai, matikan api.

49
b. Membuat briket sampah organik
1) Siapkan penumbuk, misalnya lesung, kemudian arang yang
tersedia ditumbuk halus hingga menjadi bubuk arang.
Selanjunya kumpulkan bubuk arang tersebut pada suatu
tempat misalnya ember.
2) Siapkan lem kanji dan encerkan
dengan air panas. Campurkan
kanji tersebut dengan bubuk
arang sehingga menjadi adonan
yang lengket. Selanjutnya,
adonan diaduk agar semua
bahan tercampur rata dan cukup
lengket
Gambar 32. Contoh proses pencampuran bubuk arang dengan lem kanji

3) Siapkan cetakan briket. Bisa


dibuat dari pipa PVC / bambu /
dikepal dengan tangan. Agar
hasilnya lebih optimal bisa
dengan menggunakan mesin
pencetak briket;
4) Setelah cetakan siap,
masukkan adonan yang ke
Gambar 33. dalamnya dengan cara
Contoh proses pengepresan dipadatkan, setelah padat dan
berbentuk, keluarkan dari
cetakan.

5) Jemur briket yang masih basah di


bawah sinar matahari sampai benar-
benar kering
6) Briket sampah siap digunakan.
Gambar 34. Contoh briket sampah yang siap
digunakan
50
BAB LIMA
BANK SAMPAH
A. Apa Itu Bank Sampah
Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup nomor 12 tahun 2013
tentang Bank Sampah, definisi bank sampah adalah tempat
pemilahan dan pengumpulan sampah yang dapat didaur ulang
dan/atau diguna ulang yang memiliki nilai ekonomi.
Hasil dari pengumpulan sampah yang sudah dipilah akan diteruskan
ke tempat pembuatan kerajinan dari sampah atau ke tempat
pengepul sampah.

Menciptakan Merubah Mengedukasi Meningkat


Lingkungan Perilaku Masyarakat kan
Sehat, Bersih, Masyarakat Peduli Kreatifitas
Hijau dan Asri Lingkungan dan
Berorganisasi

Memberikan Mengurangi
Keuntungan Bagi Jumlah Sampah
Penghasil ke Tempat
Sampah Pembuangan

Gambar 35. Diagram manfaat Bank Sampah


51
Bank Sampah merupakan konsep pengumpulan sampah kering dan
dipilah serta memiliki manajemen layaknya perbankan, tapi yang
ditabung bukan uang melainkan sampah.

52
Warga yang menabung yang juga disebut nasabah memiliki buku
tabungan dan dapat meminjam uang yang nantinya dikembalikan
dengan sampah seharga uang yang dipinjam.
Sampah yang ditabung ditimbang dan dihargai dengan sejumlah
uang nantinya akan dijual kepada pihak yang sudah bekerja sama
dengan bank sampah, misalnya pelapak atau pusat kerajinan
barang bekas dan sebagainya.

Gambar 36. Contoh buku tabungan Bank Sampah

B. Tujuan dan Manfaat Bank Sampah


Tujuan dibangunnya bank sampah sebenarnya bukan bank sampah
itu sendiri, yaitu adalah strategi untuk membangun kepedulian
masyarakat agar dapat berkawan dengan sampah dan
mendapatkan manfaat ekonomi langsung dari sampah. Jadi, bank
sampah tidak dapat berdiri sendiri melainkan harus diintegrasikan
dengan gerakan 3R sehingga manfaat langsung yang dirasakan
tidak hanya ekonomi, namun lingkungan yang bersih, hijau dan
sehat. Bank sampah juga dapat dijadikan solusi untuk mencapai
pemukiman yang bersih dan nyaman bagi warganya. Dengan pola
ini maka warga selain menjadi disiplin dalam mengelola sampah
juga mendapatkan tambahan pemasukan dari sampah-sampah
yang mereka kumpulkan.

53
C. Konsep Dasar Pengelolaan Bank Sampah
Dalam pengelolaan bank sampah, beberapa konsep dasar yang perlu
diperhatikan adalah sebagai berikut
1. Pelaku Bank Sampah
Sebelum mendirikan bank sampah, hal yang harus diperhatikan
adalah tersedianya 3 komponen pokok sebagai pelaku bank
sampah. Ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut
a. Penabung (nasabah), yaitu masyarakat penghasil sampah
yang menabungkan sampahnya secara rutin;
b. Pengelola, yaitu beberapa orang yang melaksanakan
pengelolaan secara langsung dan bertugas sebagai direktur,
wakil direktur, kasir dan lain-lain sesuai kebutuhan;
c. Pembeli sampah, adalah kelompok pembeli sampah yang
dihasilkan dari bank sampah biasanya dari kelompok pelapak,
pengepul rosok, pusat kerajinan atau pabrik pengolah yang
menerima langsung produk dari bank sampah.
2. Langkah Teknis Pengelolaan
a. Melakukan sosialisasi keberadaan bank sampah kepada
masyarakat yang sekaligus memberikan pemahaman
mengenai pengelolaan sampah sejak sumbernya dengan
melaksanakan pemilahan di rumah masing-masing;
b. Membentuk pengelola bank sampah yang berasal dari
kelompok peduli masyarakat;
c. Memberikan pelatihan kepada pengelola bank sampah;
d. Menyiapkan kelengkapan bank sampah;
e. Mencari dan menjalin kemitraan dengan pihak-pihak pembeli
sampah, untuk membeli produk bank sampah secara
kontinyu;
f. Mempromosikan berdirinya bank sampah;
g. Melaksanakan pelayanan tabungan;
h. Melakukan koordinasi dengan instansi terkait, seperti
pemerintah desa, Dinas Kebersihan, dan sebagainya;
i. Melakukan monitoring dan evaluasi.
54
Gambar 37.
Contoh pelaksanaan sosialisasi kepada masyarakat
mengenai Bank Sampah

55
3. Mekanisme Kerja Bank Sampah
Mekanisme kerja bank sampah, adalah
a. Pemilahan sampah;
b. Penyerahan sampah ke bank sampah;
c. Penimbangan sampah;
d. pencatatan;
e. Hasil penjualan sampah yang diserahkan dimasukkan ke
dalam buku tabungan;
f. Bagi hasil penjualan sampah antara penabung dan pengelola
bank sampah

Gambar 38.
Contoh mekanisme kerja di salah satu Bank Sampah

56
D. Instrumen Bank Sampah
Instrumen di dalam pengelolaan bank sampah adalah sebagai
berikut
1. Buku rekening tabungan sampah
Fungsi buku rekening adalah buku yang wajib dimiliki oleh setiap
nasabah bank sampah, fungsi utamanya adalah melakukan
pencatatab kegiatan menabung yaitu setor sampah dan tarik
tabungan. Setoran sampah akan dinilai berdasarkan tarif/harga
kategori sampah, yang nantinya setoran tersebut akan
terakumulasi. Selanjutnya, setelah saldo tabungan mencukupi,
nasabah diperbolehkan untuk mengambil jumlah uang sesuai
saldo yang dimiliki.
2. Slip setoran atau penarikan
Fungsnya tidak jauh berbeda dengan slip yang berlaku di
perbankan. Slip setoran adalah untuk menuliskan jenis sampah
dan berat sampah yang disetorkan yang selanjutnya dituliskan
dalam buku tabungan, slip penarikan adalah untuk mengambil
uang dari buku tabungan
3. Timbangan
Adalah untuk mengukur seberapa berat sampah nasabah yang
akan disetorkan pada bank sampah saat nasabah menabung,
Setelah berat sampah terukur, selanjutnya dikonfersikan dengan
nilai harga berdasarkan tarif/harga kategori sampah yang
disetorkan.
4. Buku induk tabungan sampah
Adalah adalah buku yang dikelola oleh bendahara atau orang
yang melaksanakan pengelolaan keuangan. Fungsinya adalah
untuk mencatat semua transaksi, yaitu penyetoran dan
penarikan juga transaksi penjualan sampah kepada pihak
pembeli sampah.

57
BAB ENAM
PENGEMBANGAN JEJARING
BISNIS DAUR ULANG SAMPAH
Berwirausaha daur ulang sampah tidak berbeda dengan jenis
wirausaha lainnya, pengelolaannya pun sama halnya seperti
mengelola sebuah perusahaan yang harus dikelola dengan baik.
Dengan pengelolaan yang baik maka perusahaan akan berkembang
dengan baik juga.
Beberapa pola pikir yang dapat diterapkan untuk memperluas
jejaring bisnis
1. Menganggap setiap orang yang ditemui adalah penting
Mulai saat ini ubahlah mindset kita, anggaplah orang-orang di
sekitar kita adalah orang-orang yang penting dan harus
diperlakukan dengan baik dan rasa hormat.
2. Aktif berinteraksi
Pengelola jangan hanya fokus berinteraksi pada satu kelompok
tertentu saja. Bersikap terbuka dengan bergabung dengan
beberapa komunitas yang bukan mainstream Anda akan
membuka peluang yang lebar dalam membangun jaringan.
3. Setiap orang memiliki kebutuhan
Setiap orang mempunyai kebutuhan yang berbeda tentunya,
dengan menyadari hal tersebut maka ini merupakan kesempatan
yang harus dianfaatkan sebaik mungkin untuk menangkap
peluang yang ada. Kita bisa mengetahui kebutuhan orang yang
kita kenal atau mungkin menghubungkan mereka dengan pihak
lain yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Dengan
demikian kita bisa memperluas jejaring bisnis kita

58
4. Setiap orang memiliki orang terdekat
Jangan pernah memandang remeh seseorang, bisa saja orang
tersebut memiliki teman atau keluarga yang mungkin dapat
membantu kita dalam mengembangkan usaha. Tanamkan pada
diri bahwa orang yang kita kenal memiliki potensi untuk
mengembangkan bisnis.
5. Menjalin komunikasi
Lakukan pendekatan pada mereka dengan menjalin komunikasi
yang saling menghormati, maka akan membuat orang yang kita
temui merasa nyaman dan dihargai. Komunikasi yang seperti itu
akan membentuk hubungan yang kita bangun menjadi lebih
awet dan memungkinkan jaringan bisnis kita semakin
berkembang.

A. Jejaring Bisnis Sampah


Pelaku usaha atau bisnis daur ulang sampah, adalah pahlawan
lingkungan dalam arti yang sesungguhnya. Karena mereka
berkiprah untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan
melalui pemanfaatan sampah.
Untuk dapat berkiprah sebagai pelaku usaha / bisnis daur ulang
sampah, tidak bias dilakukan sendiri namun harus
mengembangkan jaringan untuk kepentingan menambah
pengetahuan & informasi, inovasi produk, pemasaran dan
sebagainya.

59
B. Pelaku Usaha / Bisnis Sampah
Dalam menggembangkan bisnis atau usaha daur ulang sampah,
sangat diharapkan unutuk melakukan hubungan dengan pelaku
usaha ataupun pemerhati di bidang persampahan.
Tabel di bawah ini disajikan beberapa pelaku usaha / bisnis sampah
yang memungkinkan untuk mengembangkan jaringan usaha

No Kegiatan Nama Alamat Keterangan

1. Pengepul Rohim Dusun Batan, Desa 0813 4890


Bungkang, kec. 5692
Sekayam, kab.
Sanggau
2. Pengepul Siswanto Depan RS Pratama Jl, 0823 5303
besar Malindo, desa Balai 0442
Karangan, kec.
Sekayan. Kab.
Sanggau
3. Pembuat Absalom Rumah: 0821 9828
pupuk Kampung Skouw Sae, 5380
organik RT 01/01
dari Tempat usaha:
kotoran Jl. Perbatasan RT
ternak 06/02
4. Inovasi Koko Jl. Jeruk RT 02/06, 0813 4448
membuat Koya Timur, Jayapura 9722
kompos,
tetapi
belum
berhasil
5. Pelaku Kris Motaain 0812 4690
daur 6055
ulang

60
No Kegiatan Nama Alamat Keterangan

6. Pengepul Robert Motaain 0813 3942


8339
7. Kabid Yohannes Dinas Kebersihan 0812 3952
Kebersihan Kabupaten Belu 2422
8. Ketua Etha Badan Lingkungan 0821 4415
BPLHD Hidup Daerah 9777
Kabupaten Belu
9. Pemerhati Kades Desa Silawan 0812 8712
Sampah 0083
10. Sekcam / Aris Kantor Kecamatan 0853 8787
tokoh Sebatik Tengah 7207
penggerak
11. Pemerhati Mardin Sebatik Tengah 0813 4711
lingkungan 4440
/ PHBS
12. Warung Agus Sebatk Tengah 0821 5078
teknologi 4083
desa
13. Produsen Achmad Jalan AMD Sungai Sudah
aneka Iskandar Ampal Nomor 68, membuat
kerajinan Kelurahan Sumberejo, firma dengan
daur ulang Kota Balikpapan nama CV
plastik Prima
Executive
14. Produsen Selviana Kelurahan Oeba, Memiliki
aneka Manisa Kecamatan Kota ketrampilan
kerajinan Poy Lama, Kota Kupang khusus
daur ulang sebagai
plastik tenaga teknis

61
No Kegiatan Nama Alamat Keterangan

15. Asosiasi Ketua: Saut Memiliki


Pengusaha Marpaung anggota yang
Daur Ulang Sekjen : tersebar di 22
Plastik Edy provinsi di
Indonesia Supriyanto Indonesia
(APDUPI)
16. Produsen Bob Jalan Jeruk Manis Sejak 17
aneka Novandy VI, No 59, Rt 1/10 Agustus
kerajinan Pejuangan, Kebon 2003,
daur ulang Jeruk, Jakarta Barat menggeluti
plastik bisnis dari
daur ulang
botol bekas
ini, hasil dari
olahan botol
bekasnya bisa
sampai pasar
Hong Kong
17. Pelaku Hijrah Jl. Sukoharjo No. http://www.b
daur ulang Purnama 132 Condongcatur, utikdaurulang
sampah Putra Sleman, Yogyakarta .com
dan Pemilik 0822 2724 3232
Butik Daur
Ulang
18. KSM Sandi Kelurahan Rangga Bank
Rangga Adam Mekar, kec. Bogor Sampah,
Mekar 0878 7080 Selatan, Kota Bogor Kreasi Daur
7808 Ulang,
Pelatihan,
dan lain-lain

62
63
TIM PENYUSUN MODUL

1. Ir. Sanggul Hendra Purba


2. Herdi Sutanto, ST.
3. Fero Agustian, ST.
4. Surtimah, ST.
5. Joko Yuwono, ST.M.Eng
6. KSM Rangga Mekar
7. PT Cipta Visi Sinar Kencana
(Kencana Online)