Anda di halaman 1dari 31

Kelompok 1

Angggota:
BAGUS DECAHYUNINGSIH
DINI LIANTI AZHARI
ELZA FRASI YUNI
HABIBI DELWILYAS G
RETNO AMILIA
RIZKA PRATIWI
VIVI RAMDANI
YOGA ARMELIANI
Pekerjaan Kefarmasian adalah pembuatan
termasuk pengendalian mutu Sediaan
Farmasi, pengamanan, pengadaan,
penyimpanan dan pendistribusian atau
penyaluranan obat, pengelolaan obat,
pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan
informasi obat, serta pengembangan obat,
bahan obat dan obat tradisional.
A. memberikan perlindungan kepada pasien dan masyarakat dalam memperoleh
dan/atau menetapkan sediaan farmasi dan jasa kefarmasian;

B.mempertahankan dan meningkatkan mutu penyelenggaraan Pekerjaan


Kefarmasian sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
serta peraturan perundangan-undangan, dan

C. memberikan kepastian hukum bagi pasien, masyarakat dan Tenaga


Kefarmasian.
1. Pekerjaan Kefarmasian dalam 2. Pekerjaan Kefarmasian dalam
Pengadaan Sediaan Farmasi. Produksi Sediaan Farmasi.

3. Pekerjaan Kefarmasian dalam


Pekerjaan Kefarmasian dalam
Distribusi atau Penyaluran Sediaan
Pelayanan Sediaan Farmasi.
Farmasi; dan
Pengadaan Sediaan Farmasi dilakukan pada fasilitas
produksi, fasilitas distribusi atau penyaluran dan
fasilitas pelayanan sediaan farmasi harus dilakukan
oleh Tenaga kefarmasian.
Pekerjaan Kefarmasian dalam Produksi
Sediaan Farmasi harus memiliki Apoteker
penanggung jawab yang dapat dibantu oleh
Apoteker pendamping dan/atau Tenaga
Teknis Kefarmasian.

Pekerjaan Kefarmasian dalam Produksi Sediaan


Farmasi harus memenuhi ketentuan Cara
Pembuatan yang Baik yang ditetapkan
oleh Menteri.
Setiap Fasilitas Distribusi atau Penyaluran
Sediaan Farmasi berupa obat harus
memiliki seorang Apoteker sebagai
penanggung jawab yang dapat dibantu oleh
Apoteker pendamping dan/atau Tenaga
Teknis Kefarmasian dan harus memenuhi
ketentuan Cara Distribusi yang Baik yang
ditetapkan oleh Menteri.
1. Apotek
2. Instalasi farmasi rumah sakit;
3. Puskesmas;
4. Klinik;
5. Toko Obat; atau
6. Praktek bersama
A. Mengangkat seorang Apoteker pendamping yang memiliki SIPA;

B. Mengganti obat merek dagang dengan obat generik yang sama


komponen aktifnya atau obat merek dagang lain atas persetujuan dokter
dan/atau pasien; dan

C. Menyerahkan obat keras, narkotika dan psikotropika kepada masyarakat


atas resep dari dokter sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
1. Apoteker dapat mendirikan Apotek
dengan modal sendiri dan/atau modal
dari pemilik modal baik perorangan
maupun perusahaan.
2. Dalam hal Apoteker yang mendirikan
Apotek bekerja sama dengan pemilik
modal maka pekerjaan kefarmasian harus
tetap dilakukan sepenuhnya oleh Apoteker
yang bersangkutan.
1. Tenaga Kefarmasian terdiri atas:
a. Apoteker; dan
b. Tenaga Teknis Kefarmasian
2. Tenaga Teknis kefarmasian sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b terdiri dari Sarjana Farmasi,Ahli
Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah
Farmasi/Asisten Apoteker.
2. Surat tanda registrasi
1. Setiap Tenaga Kefarmasian
sebagaimana dimaksud pada
yang melakukan Pekerjaan
ayat (1) diperuntukkan bagi:
Kefarmasian di Indonesia
a. Apoteker berupa STRA,
wajib memiliki surat tanda
b. Tenaga Teknis Kefarmasian
registrasi.
berupa STRTTK.
1. Pelayanan Kefarmasian di Apotek, puskesmas atau instalasi farmasi rumah
sakit hanya dapat dilakukan oleh Apoteker.

2. Apoteker sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memiliki STRA.

3. Dalam melaksanakan tugas Pelayanan Kefarmasian sebagaimana dimaksud


pada ayat (1), Apoteker dapat dibantu oleh Tenaga Teknis Kefarmasian yang
telah memiliki STRTTK.
1. Setiap Tenaga Kefarmasian yang melaksanakan
Pekerjaan Kefarmasian di Indonesia wajib
memiliki surat izin sesuai tempat Tenaga
Kefarmasian bekerja.
2. Surat izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat berupa:
a. SIPA bagi Apoteker yang melakukan Pekerjaan
Kefarmasian di Apotek, puskesmas atau instalasi
farmasi rumah sakit;
b. SIPA bagi Apoteker yang melakukan Pekerjaan
Kefarmasian sebagai Apoteker pendamping;
c. SIK bagi Apoteker yang melakukan Pekerjaan
Kefarmasian di fasilitas kefarmasian diluar
Apotek dan instalasi farmasi rumah sakit; atau
d. SIK bagi Tenaga Teknis Kefarmasian yang melakukan
Pekerjaan Kefarmasian pada Fasilitas Kefarmasian.
Hasil sidak dari BBPOM Padang, ditemukan
bahwa Apotek Gizi memiliki masa surat izin
apotek yang sudah habis. Diketahui ternyata
apoteker apotek tersebut sudah lama
keluar/berhenti dari apotek tersebut. Apotek
ini terancam dapat sanksi.
Berdasarkan kasus diatas maka dapat
dirumuskan bahwa masalah utama yang
dibahas adalah :
1. Tidak adanya apoteker baru yang
menggantikan apoteker yang sudah
berhenti
2. Masa berlaku Surat Izin Apotek (SIA) sudah
habis dan tidak dilakukan perpanjangan SIA
Pemilik Sarana Apotek (PSA)
Kurangnya pengetahuan dan kesadaran dari PSA
tentang pentingnya izin Apotek
PSA menganggap bahwa SIA merupakan izin
sarana apotek dan bukan izin dari apotekernya
PSA menganggap bahwa apotek masih tetap
bisa berjalan meskipun tanpa apoteker
Apoteker
Apoteker sering tidak berada ditempat
sehingga PSA menganggap bahwa keberadaan
dan peran dari apoteker tidak penting.
Regulasi
Kesulitan dalam tata cara pengurusan untuk
membuat Surat Izin Apotek (SIA)
Lemahnya sanksi yang diberikan
Lembaga Pengawas
Kurangnya sosialisasi dari lembaga terkait
Lemahnya pengawasan dan tindak lanjut yang
tegas dari Pemerintah
1. Apotek menjadi ilegal dan dapat dikenakan sanksi
2. PSA akan cenderung melakukan pelegalan
penyelenggaraan kegiatan apotek dimana yang
seharusnya hal tersebut merupakan wewenang dari
apoteker.
3. Obat tidak dilayani oleh apoteker karena apoteker
tidak berada ditempat sehingga pelayanan
kefarmasian tidak diberikan dengan maksimal.
4. Cenderung akan terjadi penyalahgunaan obat oleh
pasien.
5. Dengan mudahnya akan terjadi kesalahan
pengobatan (medication error) karena pasien tidak
mendapatkan informasi yang lengkap mengenai
pengobatannya.
6. Menurunnya derajat kesehatan masyarakat.
7. PSA merasa enggan untuk mengurus SIA
karena sulitnya pengurusan SIA tersebut.
8. Lemahnya pengawasan membuat banyaknya
apotek yang sengaja tidak mengurus surat
izin apotek.
UNDANG-UNDANG NO. 36 TAHUN 2009 TENTANG
KESEHATAN
Pasal 108
Praktik kefarmasiaan yang meliputi
pembuatan termasuk pengendalian mutu
sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan,
penyimpanan dan pendistribusian obat,
pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan
informasi obat serta pengembangan obat,
bahan obat dan obat tradisional harus
dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Sanksi yang dapat diberikan :
Pasal 198
Setiap orang yang tidak memiliki keahlian dan
kewenangan untuk melakukan praktik
kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal
108 dipidana dengan pidana denda paling banyak
Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
2. PERATURAN PEMERINTAH NO. 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN
KEFARMASIAN
Pasal 51
1. Pelayanan Kefarmasian di Apotek, puskesmas atau
instalasi farmasi rumah sakit hanya dapat dilakukan oleh
Apoteker.
2. Apoteker sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
memiliki STRA.
3. Dalam melaksanakan tugas Pelayanan Kefarmasian
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Apoteker dapat
dibantu oleh Tenaga Teknis Kefarmasian yang telah
memiliki STRTTK.

Pasal 52
1. Setiap Tenaga Kefarmasian yang melaksanakan Pekerjaan
Kefarmasian di Indonesia wajib memiliki surat izin sesuai
tempat Tenaga Kefarmasian bekerja.
2. Surat izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:
a.SIPA bagi Apoteker yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian di Apotek,
puskesmas atau instalasi farmasi rumah sakit;
b. SIPA bagi Apoteker yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian sebagai Apoteker
pendamping;
c. SIK bagi Apoteker yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian di fasilitas
kefarmasian diluar Apotek dan instalasi farmasi rumah sakit; atau
d. SIK bagi Tenaga Teknis Kefarmasian yang melakukan Pekerjaan
Kefarmasian pada Fasilitas Kefarmasian.

Pasal 55
1. Untuk mendapat surat izin sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 52, Tenaga Kefarmasian harus memiliki:
a.STRA, STRA Khusus, atau STRTTK yang masih berlaku;
b. tempat atau ada tempat untuk melakukan
c. Pekerjaan Kefarmasian atau fasilitas
d. kefarmasian atau Fasilitas Kesehatan yang
memiliki izin; dan
e. rekomendasi dari Organisasi Profesi setempat.
2. Surat Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) batal demi
hukum apabila Pekerjaan Kefarmasian dilakukan pada
tempat yang tidak sesuai dengan yang tercantum dalam
surat izin.
PERMENKES NOMOR 9 TAHUN 2017 TENTANG APOTEK
Pasal 12
1. Setiap pendirian Apotek wajib memiliki izin
dari Menteri.
2. Menteri melimpahkan kewenangan pemberian
izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
3. Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
berupa SIA. SIA berlaku 5 (lima) tahun dan
dapat diperpanjang selama memenuhi
persyaratan
Perubahan izin
Pasal 15
1. Setiap perubahan alamat di lokasi yang sama
atau perubahan alamat dan pindah lokasi,
perubahan Apoteker pemegang SIA, atau nama
Apotek harus dilakukan perubahan izin.
2. Apotek yang melakukan perubahan alamat di
lokasi yang sama atau perubahan alamat dan
pindah lokasi, perubahan Apoteker pemegang
SIA, atau nama Apotek, wajib mengajukan
permohonan perubahan izin kepada Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota.
3. Terhadap Apotek yang melakukan perubahan
alamat di lokasi yang sama atau perubahan nama
Apotek sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
tidak perlu dilakukan pemeriksaan setempat
oleh tim pemeriksa.
Sanksi yang dapat diberikan :
Pasal 31
1. Pelanggaran terhadap ketentuan dalam Peraturan
Menteri ini dapat dikenai sanksi administratif.
2. Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat berupa:
a. Peringatan tertulis;
b. Penghentian sementara kegiatan; dan
c. Pencabutan SIA.
Pasal 32
1. Pencabutan SIA sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 31 ayat (2) huruf c dilakukan oleh pemerintah
daerah kabupaten/kota berdasarkan:
a. Hasil pengawasan; dan/atau
b. Rekomendasi Kepala Balai POM.
2. Pelaksanaan pencabutan SIA sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan setelah dikeluarkan teguran
tertulis berturut-turut sebanyak 3 (tiga) kali dengan
tenggang waktu masing-masing 1 (satu) bulan dengan
menggunakan Formulir 8.
3. Dalam hal Apotek melakukan pelanggaran berat yang
membahayakan jiwa, SIA dapat dicabut tanpa
peringatan terlebih dahulu.
4. Keputusan Pencabutan SIA oleh pemerintah daerah
kabupaten/kota disampaikan langsung kepada Apoteker
dengan tembusan kepada Direktur Jenderal, kepala
dinas kesehatan provinsi, dan Kepala Badan dengan
menggunakan Formulir 9 sebagaimana terlampir.
5. Dalam hal SIA dicabut selain oleh dinas kesehatan
kabupaten/kota, selain ditembuskan kepada
sebagaimana dimaksud pada ayat (4), juga ditembuskan
kepada dinas kabupaten/kota.
Solusi yang dapat diberikan terhadap kasus
diatas yakni :
1. Pemberian edukasi kepada Pemilik Sarana
Apotek (PSA) mengenai kewajiban untuk
mengurus Surat Izin Apotek termasuk kewajiban
apotek memiliki apoteker sebagai penanggung
jawab;
2. Mencari Apoteker Penanggung Jawab Apotek
(APA) yang baru serta mengurus Surat Izin Apotek
(SIA) yang baru
3. Seperti yang tercantum pada Permenkes RI No.
9 tahun 2017, pada pasal 31 ayat (2), Apotek
tersebut dapat dikenakan sanksi administratif :
Sanksi administratif sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat berupa:
a. peringatan tertulis
b. penghentian sementara kegiatan; dan
c. Pencabutan SIA
Sedangkan untuk PSA yang tidak memiliki kompetensi
untuk menyelenggarakan pelayanan kefarmasian dapat
dikenakan sanksi seperti yang diatur dalam UU No.36
tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 198 yaitu :
Setiap orang yang tidak memiliki keahlian dan
kewenangan untuk melakukan praktik kefarmasian
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108 dipidana
dengan pidana denda paling banyak Rp100.000.000,00
(seratus juta rupiah).
4. Badan perizinan yang mengeluarkan surat izin apotek
sebaiknya dilakukan sistem satu pintu sehingga
memudahkan dalam pengurusannya
5. Pemerintah tidak mempersulit pengurusan Surat Izin
Apotek
6. Solusi terhadap Pemerintah dan lembaga pengawas,
yakni:
a. Dilakukan pengawasan yang ketat dan dilakukan
secara berkala
b. Dilakukan penegakan hukum dengan sanksi yang tegas