Anda di halaman 1dari 17

KELARUTAN SEBAGAI

FUNGSI TEMPERATUR

OLEH
KELOMPOK I
AYU MAULIRA : 1506103040013
CUT MULIYANA : 1506103040037
ISMATUL ISMI : 1506103040017
MERI HARDINA : 1506103040015
MUZAIMAH : 1506103040043
NURJAYA : 1506103040010
ZURAINI : 15061030400
Tujuan

Tujuan Percobaan ini adalah untuk menentukan pengaruh


temperature terhadap kelarutan suatu zat dan menghitung
panas kelarutannya.
Latar Belakang

Kelarutan suatu zat adalah jumlah zat yang melarut dalam


satu liter larutan jenuh pada suhu tertentu , dan biasanya
dinyatakan sebagai massa dalam gram yang dapat melarut
dalam 100 gram pelarut membentuk larutan jenuh pada
suhu tertentu ( Achmad, 2001:173).
Kalor yang ditambahan ke sistem pada kesetimbangan
merangsang reaksi yang menyerap kalor atau reaksi yang
endotermik , ini menyiratkan bahwa kenaikan suhu
merangsang pelarutan dan meningkatkan kelarutan zat
terlarut, sebaliknya saat reaksi eksotermik, kelarutan
menurun dengan naiknya suhu ( Petrucci, dkk., 2011:164).
Lanjutan..

Suatu larutan jenuh merupakan kesetimbangan yang dinamis,


kesetimbanag ini akan bergeser bila suhu dinaikkan, pada umumnya
kelarutan zat padat dalam larutan bertambah bila suhu dinaikkan
(syukri, 1999:124).
Alat dan Bahan

Alat Bahan
NaOH O.5 N
Termometer C2H2O4
Labu Erlenmeyer NaCl
Gelas kimia H2BO3
Timba Es Batu
Pipet volume C20H14O4
Gelas ukur
Bola hisab
Klem
Statif
Buret
Prosedur Kerja

50 ml H2C2O4
Dimasukan kedalam 100 ml
H2O hingga larut
Di ambil 10 ml pada suhu 25C
20C 10C 5C 0C
Dititrasi dengan NaOH 60 ml

25C 20C 10C 5C 0C


Sebelum Perlakuan

No Nama Bahan Bentuk Warna

1. C 2 H2 O 4 Larutan Tidak Berwarna


2. NaOH Larutan Tidak Berwarna
3. C20H14O4 Larutan Tidak Berwarna
4. NaCl Padatan Putih
5. Es batu Padatan Putih
6. H2BO3 Larutan Tidak Berwarna
Hasil & Pembahasan

Kelarutan dari suatu zat dalam pelarut adalah banyaknya suatu zat yang dapat larut
secara maksimum dalam suatu pelarut pada kondisi tertentu. Suatu larutan jenuh
merupakan kesetimbangan dinamis, kesetimbangan itu akan bergeser jika suhu
dinaikkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Syukri (1999: 56), larutan jenuh merupakan
kesetimbangan dinamis. Kesetimbangan tersebut akan bergeser bila suhu dinaikkan.
Pada umumnya zat padat dalam alrutan bertambah bila suhu dinaikkan.

Percobaan ini menggunakan asam oksalat dan asam borat di dalam gelas kimia yang
dimasukkan ke dalam wadah yang berisi air es dan garam. Fungsi penambahan garam
dapur adalah agar menurunkan titik beku air suapay tidak mudah mencair. Suhu yang
digunakan pada percobaan ini adalah 00C, 50C , 100C, 200C, 250C. Suhu yang
ditentukan digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh suhu pada penentuan
kelarutan dan panas pelarutan dari larutan asam oksalat dan asam borat.
Lanjutan

Asam oksalat dan asam borat temperaturnya berbanding lurus dengan


kelarutannya, semakin tinggi temperatur semakin besar pula
kelarutannya, semakin banyak zat yang terlarut. sedangkan semakin kecil
temperatur maka semakin kecil pula konsentrasi zat.

Titrasi asam oksalat membutuhkan lebih banyak volume NaOH untuk


mencapai titik ekivalen yang ditandai berubahnya warna asam oksalat dan
karena ditambahkan indikator fenolftalein, sedangkan pada titrasi asam
borat lebih sedikit membutuhkan volume NaOH dibanding asam oksalat.
Hal ini disebabkan karena asam oksalat adalah senyawa hidrat. Oleh
karena itu untuk menetralkan asam oksalat membutuhkan volume NaOH
yang lebih banyak.
Lanjutan
Berdasarkan percobaan didapatkan bahwa suhu berbanding lurus dengan
kelarutan dan juga volume NaOH yang dibutuhkan untuk titrasi.
Ketika suhu semakin diperkecil, semakin banyak endapan yang terbentuk pada
asam oksalat dan asam borat. Semakin banyak endapan asam oksalat semakin
besar kerapatan antar molekulnya, sehingga kelarutannya semakin kecil. Yang
digunakan untuk titrasi adalah larutan asam oksalat bukan endapannya karena
jika menggunakan endapan maka NaOH akan dipaksa bekerja 2 kali yaitu
untuk larutan dan untuk endapannya.
Lanjutan

Gambar 2. Hasil dari titrasi yang dilakukan


Gambar 1. Saat Proses Titrasi
Lanjutan
Kurva Regresi H2C2O4
X Y 4.129E-05
Kurva Regresi

298 4.122E-05
4.128E-05
293 4.123E-05
283 4.126E-05 4.127E-05

278 4.127E-05 4.126E-05

273 4.128E-05 4.125E-05

Y
4.124E-05

4.123E-05

4.122E-05 y = -2E-09x + 4E-05


R = 0.9935

4.121E-05
270 275 280 285 290 295 300
X
Lanjutan
Kurva Fungsi kelarutan terhadap suhu
Kurva Fungsi Kelarutan Terhadap Suhu
T S 1.40E-03

298 1.24E-03
y = 4E-05x - 0.0109
293 9.90E-04 1.20E-03
R = 0.982

283 5.00E-04 1.00E-03

278 3.90E-04
273 2.40E-04 8.00E-04
Kelarutan

6.00E-04

4.00E-04

2.00E-04

0.00E+00
270 275 280 285 290 295 300
Suhu
Kesimpulan
1. Larutan jenuh akan terjadi kesetimbangan antara pelarut dan zat terlarut.
2. Titrasi dilakukan untuk menetralkan asam oksalat.
3. Perbedaan suhu dalam percobaan digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh
suhu pada penentuan kelarutan dan panas pelarutan dari larutan asam oksalat dan asam
borat.
4. Semakin tinggi temperatuR semakin banyak penggunaan zat pentiter, semakin besar
pula kelarutannya maka semakin banyak zat yang terlarut. Begitu pula sebaliknya.
5. Asam oksalat menggunakan NaOH yang lebih banyak dibandingkan dengan asam borat
dikarenakan asam oksalat mengandung hidrat.
Lanjutan

6. Penggunaan garam dapur (NaCl) di dalam es batu untuk menurunkan titik


beku agar es tidak cepat mencair.
7. Penggunaan fenoftalin dalam titrasi agar mendeteksi tercapainya titik ekivalen
ditandai dengan perubahan warna.
8. Asam oksalat bersuhu rendah akan terbentuk endapan.
9. Semakin banyak endapat maka semakin besar kerapatan antar molekul
sehinggan kelarutan semakin kecil, dan sebaliknya.
10. Tidak mengambil endapan dalam asam oksalat bersuhu rendah dikarenakan
agar mengetahui kelarutan asam oksalat dan seberapa banyak NaOH yang
digunakan bentuk larutan asam oksalat.
Daftar Pustaka

Achmad, H. 2001. Kimia Larutan. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.


Petrucci, R. H., dkk. 2011. Kimia Dasar Prinsip-prinsip Dan Aplikasi Modern
Edisi Kesembilan Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Syukri, S. 1999. Kimia Dasar Jilid 2: Bandung: ITB.