Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS SEMANTIS-SEMIOTIS NAMA GUNUNGAN

PADA UPACARA SEKATEN TAHUN DAL


DI KARATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT

Muflihana Dwi Faiqoh


17/419269/PSA/08231
LATAR BELAKANG
Simbol/lambang
/tanda ide

makna
Perumusan Masalah
Bagaimana medan makna gunungan pada
upacara Sekaten tahun Dal di Karaton Kasultanan
Ngayogyakarta Hadiningrat?
Bagaimana makna leksikal yang membentuk
nama gunungan pada upacara Sekaten tahun Dal
di Karaton Kasultanan Ngayogyakarta
Hadiningrat?
Bagaimana hubungan semiotik makna yang
terkandung dalam nama gunungan pada upacara
Sekaten tahun Dal di Karaton Kasultanan
Ngayogyakarta Hadiningrat?
Tujuan Penelitian
Mendeskripsikan medan makna gunugan pada
upacara Sekaten tahun Dal di Karaton Kasultanan
Ngayogyakarta Hadiningrat.
Mendeskripsikan makna leksikal yang
membentuk nama gunugan pada upacara
Sekaten tahun Dal di Karaton Kasultanan
Ngayogyakarta Hadiningrat.
Mendeskripsikan hubungan semiotik makna yang
terkandung dalam nama gunungan pada upacara
Sekaten tahun Dal di Karaton Kasultanan
Ngayogyakarta Hadiningrat.
Kerangka Teori
Latar belakang sosio kultural masyarakat Jawa
Sejarah dan prosesi upacara Sekaten
Semantik : medan makna, makna leksikal
semiotik Roland Barthes
Metode Penelitian
Penyediaan data
Wawancara, transkrip catatan lapangan, telaah
pustaka
Analisis data
(i) Klasifikasi data nama-nama gunungan
menggunakan teori medan makna, (ii) makna
leksikal masing-masing leksem nama gunungan, (iii)
hubungan makna antar nama gunungan
Penyajian hasil analisis data
jahfkj
DAFTAR PUSTAKA
Andriansyah. 2012. Festival Wauw!: Aneh, Unik, Fantastik, dan Kontroversial. Depok: Pacu Minat Baca.
Chandler, Daniel. 2007. Semiotics: The Basics. Edisi Kedua. New York: Routledge.
Fiske, John. 1990. Introduction to Communication Studies. Edisi Kedua. London: Routledge.
Koentjaraningrat. 1985. Pengantar Ilmu Antropologi. Cetakan V. Jakarta: Aksara Baru.
Kridalaksana, Harimurti. 2009. Kamus Linguistik. Edisi IV cetakan II. Jakarta: Gramedia.
____________________. 2005 Mongin-Ferdinand de Saussure (1857-1913): Peletak Dasar Strukturalisme
dan Linguistik Modern. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
_____________ . 1994. Kebudayaan Jawa. Cetakan II. Jakarta: Balai Pustaka.
Meilawati, Avi. 2009. Analisis Nama Tumpeng Sesaji dalam Upacara Ruwatan Murwakala: Analisis
Semantis-Semiotis. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Muhammad. 2016. Metode Penelitian Bahasa. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Pateda, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal (Edisi Kedua). Jakarta: Rineka Cipta.
Santika, Miranti Aprida. 2016. Penggunaan Nasi Tumpeng pada Acara, Variasi, Lauk-Pauk, serta Transfer
Budaya oleh Masyarakat di Kota Semarang. Skripsi. Semarang: Universitas Katolik Soegijapranata.
De Saussure, Ferdinand. 1993. Pengantar Linguistik Umum. Cetakan II. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Suwito, Yuwono Sri dll. 2010. Nilai Budaya dan Filosofi Upacara Sekaten di Yogyakarta. Yogyakarta: Dinas
Pariwisata dan Kebudayaan.
Widjaja, Fanny Owela. 2015. Persepsi Masyarakat terhadap Nasi Tumpeng pada Tradisi Tumpengan di
Kota Semarang. Skripsi. Semarang: Universitas Katolik Soegijapranata.
Wijana, I Dewa Putu. 2015. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Cetakan II.Yogyakarta: Program Studi S2
Linguistik FIB UGM dan Pustaka Belajar.