Anda di halaman 1dari 58

TOKSIN BAHARI

Senyawa Toksin dari Fitoplankton


1. Paralytic Shellfish Poisoning
Paralytic shellfish poisoning (PSP) merupakan sindrom
keracunan dari mengkonsumsi sejumlah kerang.
Pada kerang tersebut terakumulasi racun dari rantai
makanan yang dikonsumsinya. Kelompok racun
tersebut dihasilkan oleh sejumlah fitoplankton
tertentu. Kasus PSP pertama kali dilaporkan pada
tahun 1927 didekat San Fransisco, USA, yang
disebabkan mengkonsumsi Alaskan butter clam
(sejenis kerang) yang terakumulasi oleh racun yang
dihasilkan oleh dinoflagelat Alexandrium catenella
atau Gonyaulax catenella,
menyebabkan 120 orang sakit dan 6 orang meninggal.
Setelah itu, dilaporkan tiga kelompok dinoflagelat yang
merupakan penghasil utama racun PSP, yaitu
Alexandrium, Gymnodinium dan Pyrodinium.
Struktur dasar dari racun PSP merupakan 3,4-
propinoperhidropurin trisiklik (saksitoksin).
Saksitoksin dan neosaksitoksin juga dihasilkan oleh
sianobakteri Alphanizomenen flos-aquae.
Saksitoksin dan analognya dibagi menjadi 3 kategori
yaitu:
Senyawa Carbamate, meliputi saksitoksin (saxitoxin),
neosaxitoxin dan gonyautoxin 1 hingga 4.
Senyawa N-sulfocarbamoyl, meliputi toksin B1, B2
dan C1, C2, C3 serta C4.
Senyawa Decarbamoyl, meliputi
decarbamoylsaxitoxin, decarbamoyl-neosaxitoxin,
decarbamoylgonyautoxin 1 hingga 4,
deoxydecarbamoylsaxitoxin, serta
deoxydecarbamoylgonyautoxin 2 dan 3.
Saksitoksin bekerja dengan menghambat transfer
ion natrium pada membran sel (dalam voltage-
gated ion chanel 1), yang berpengaruh terhadap
sel saraf, karena sel saraf sangat tergantung pada
perbedaan potensial yang dibentuk oleh ion
natrium dan kalsium di luar dan di dalam sel.
Gejala keracunan meliputi mati rasa pada bibir,
mulut, lidah dan kaki, gangguan gastrointestinal,
kesulitan pernafasan dan diikuti dengan
kelumpuhan. Kematian banyak disebabkan oleh
gagalnya kerja sistem pernafasan dan kerja
jantung.
2. Neurotoxic Shellfish Poisoning
Neurotoxic shellfish poisoning (NSP) merupakan
kelompok racun yang terdapat pada kerang
yang terakumulasi oleh senyawa yang
dihasilkan oleh ledakan populasi dari beberapa
jenis dinoflagelat antara lain Karenia brevis.
Racun ini dikenal dengan Brevetoksin.
Senyawa Brevetoksin terdiri atas 2 tipe berdasarkan
struktur rangka utamanya:
Tipe 1: Brevetoksin B backbone ( PbTx-2,
3,5.6,8,9)
Tipe 2: Brevetoksin A backbone (PbTx-1, 7, 10)
Pb-Tx-2 merupakan brevetoksin utama yang
dihasilkan K. brevis.
Gejala keracunan meliputi mual, mati rasa , dan
nyeri pada otot. Brevetoksin menghambat ion
natrium yang akan masuk kedalam voltage-
gated ion chanel 5
3. Ciguatera Fish Poisoning
Ciguatera fish poisoning (CFP) merupakan
kelompok racun yang terpapar pada ikan
terumbu karang seperti ikan barakuda,
kerapu dan kakap. Racun ini dihasilkan
antara lain oleh dinoflagelat Gambierdiscus
toxicus. Ledakan populasi dinoflagelat
tersebut akan menyebabkan air laut
berwarna merah (red tide) dan menghasilkan
siguatoksin (ciguatoxin) dan maitotoksin
(maitotoxin).
Struktur Maitotoksin
(Sumber: Da-zhi Wang, 2008)
Keracunanan siguatoksin memiliki gejala yang
bervariasi, yang umumnya dibagi atas empat
kategori yaitu gangguan gastrointestinal,
neurologikal, kardiovaskuler dan umum.
Gejala yang timbul umumnya berbeda
berdasarkan wilayah, misalnya gejala
gangguan neurological lebih dominan timbul
di derah pantai Pasifik sedangkan gejala
gangguan gastrointestinal lebih dominan di
daerah Laut Karibia. Hal ini disebabkan
perbedaan komposisi dari racun siguatoksin.
Racun siguatoksin bekerja menghambat
transfer ion natrium pada membran sel
(voltage-gated ion chanel 5), sedangkan
maitotoksin bekerja menghambat ion
kalsium pada membran sel.
4. Azaspiracid Shellfish Poisoning
Azaspiracid shellfish poisoning (ASP) pertama
kali dilaporkan di Belanda, kemudian menjadi
masalah disemua negara Eropa. Racun
azaspiracid ini terdapat pada kerang yang
terakumulasi oleh racun yang dihasilkan oleh
dinoflagelat Protoperidinium crassipes.
Gejala keracunan meliputi mual, muntah, diare
dan kram perut serta gejala neurotoksik.
Racun azaspiracid bekerja dengan
menghambat transfer kalsium pada
membran sel.
Struktur Azaspiracid
(Sumber: Wang, D., 2008)
5. Diarrhetic Shellfish Poisoning
Diarrhetic shellfish poisoning (DSP) merupakan
kelompok racun yang merugikan meskipun
tidak mematikan. Gejala keracunan meliputi
mual hingga diare (2-7 hari), dan rasa
terbakar pada perut. Racun DSP meliputi
okadaic acid dan analognya.
Okadaic acid pertama kali diisolasi dari spons
hitam Holichondria okadai di pantai Pasifik
Jepang dan spons Karibia H. melonodocia.
Kedua spons tersebut terpapar oleh racun
okadaic acid yang dihasilkan oleh dinoflagelat
Prorocentrum lima dan Dinophysis spp.
Dinophysistoxin-1 (DTX1) diisolasi dari kelenjar
pencernaan kerang yang sama yang juga
mengandung okadaic acid. Dinophysistoxin-2
(DTX2) diisolasi dari kerang Irlandia, sedangkan
Dinophysistoxin-3 (DTX3) diisolasi dari kerang
yang ada di timur laut Jepang.
R1=H, R2=H (Okadaic acid)
R1=H, R2=CH3 (DTX1)
R1=ester asam lemak, R2=CH3 (DTX3)
Pectenotoxin (PTX) merupakan kelompok racun
dari DSP. Racun ini, yaitu pectenotoxin-1
hingga Pectenotoxin-5 (PTX1, PTX2, PTX3,
PTX4, dan PTX5) diisolasi dari kelenjar
pencernaan kerang Patinopecten yessoensis di
timur laut Jepang. PTX1 juga dihasilkan oleh
dinoflagelat Dinophysisi fortii bersama dengan
Dinophysistoxin-1.
Yessotoxin (YTX) juga merupakan kelompok
racun dari DSP. Racun ini diisolasi dari kelenjar
pencernaan kerang Patinopecten yessoensis, di
Teluk Mutsu, Jepang .
6. Amnestic Shellfish Poisoning
Amnestic shellfish poisoning (ASP) meliputi
asam domoat (domoic acid) dan analognya.
Racun ini pertama kali diisolasi dari alga
merah Chondria armata. Racun ini
dihasilkan oleh diatom Pseudo-nitzschia spp.
Gejala keracunan meliputi gangguan
pencernaan seperti mual, muntah, kram
perut, diikuti gangguan neurologik dalam 24
jam yaitu hilang ingatan, disorientasi, dan
bahkan dapat menyebabkan koma atau
kematian.
Asam domoat
Pemanfaatan Seny. Toksin Fitoplankton
Senyawa saksitoksin dan analognya digunakan
sebagai zat anestetik terutama untuk long-
acting anestetik local.
Okadaic acid telah banyak digunakan dalam
penelitian yang mempelajari proses atau
mekanisme sel. Okadaic acid dan senyawa
toksik fitoplakton lainnya seperti yessotoksin,
pectenotoksin dapat mematikan pertumbuhan
sel tumor sehinggga memiliki potensi sebagai
antitumor atau antikanker.
TOKSIN PADA HOLOTHURIDA
Cooper (1880) melaporkan beberapa holothurida
yang memiliki struktur filament putih yang
disebut tubulus Cuverian. Jika kulit menyentuh
tubulus Cuverian ini akan menyebabkan iritasi,
karena kandungan saponin tertinggi terkandung
pada bagian tubuh tersebut. Pada holothurida
yang tidak memiliki filament tersebut maka
saponin terdistribusi pada dinding tubuhnya.
Penelitian senyawa aktif dan toksik
echinodermata diawali oleh Yamanouchi
pada tahun 1940an. Nigrelli dan Zahl (1952)
menamakan senyawa racun yang diisolasi
dari tubula Cuverian Actinpya agassizi
sebagai holuthurin dan senyawa ini bersifat
toksik terhadap beberapa organisme antara
lain protozoa, cnidaria, nematoda, moluska
dan amfibi.
Holothurin A Holothurin B
TOKSIN PADA CNIDARIA
TOKSIN PADA UBUR-UBUR
TOKSIN PADA IKAN
Toksin kulit: pengeluaran melalui kulit
Suku ikan yang anggota spesiesnya mengandung toksin kulit
antara lain: Ostraciontidae, Tetraodontidae, Grammistidae,
Gobiidae, Soleidae

Guna toksin pada ikan: mempertahankan diri terhadap predator


dan mikroorganisme
Ikan kotak (Boxfish)-
Ostraciontidae

Ostracion lentiginosus, O. meleagris: ostrasitoksin-diduga


saponin steroid (memenuhi sifat saponin).
Dari O. immaculatus diisolasi homopahutoksin
Ikan buntal/puffer fish-tetraodontidae
Berhasil diisolasi: tetrodotoksin (neurotoksin)
Tetrodotoxin adalah toksin yang ditemukan pada
beberapa spesies ikan buntal puffer. Lebih dari 100
spesies puffer fish (famili Tetraodontidae)
menyebar dari perairan sedang hingga tropis, tetapi
hanya sekitar 10 spesies yang dikonsumsi, khususnya
di Jepang
Jenis ikan buntal beracun yang terdapat di
Indonesia, antara lain:
Buntal Duren (Diodon hytrix) dari famili Diodontidae
bergigi lempeng dan kuat. Buntal Landak (Diodon
holacanthus) bersirip 14, berduri lemah pada
punggung, dada, pada sirip dubur terdapat 23 duri
lemah.
Buntal Kotak (Rhynchostrcion nasus) dan Buntal
Tanduk (Tetronomus gibbosus) berduri di
kepalanya termasuk famili Ostraciontidae
Buntal Kelapa (Arothron reticularis), berciri duri lemah
antara 10 - 11 pada sirip punggung, 9 - 10 pada sirip
dubur dan 18 pada sirip dada.
Buntal Pasir (Arthron immaculatus), Buntal Tutul (A.
aerostaticus) dan Buntal Pisang (Gastrophysus lunaris).
Semua jenis ikan buntal tersebut beracun, akan tetapi
tingkat toksisitas diantara spesies tersebut berbeda.
Ikan buntal biasanya hidup di daerah terumbu karang.
Daging segar dan beberapa bagian dari tubuh ikan
buntal mungkin aman dimakan dalam keadaan mentah
atau dimasak. Tetapi bagian lainnya seperti kandung
telur (ovari) (tertinggi, sebagai alat perlindungan diri
dari pemangsa) dan hati sangat beracun, juga mata,
kulit, saluran pencernaan dan jeroan lainnya.
Spesies dari tetraodontidae yg mengandung
tetrodotoksin dari marga Chelondon, Fugu,
Lagochepalus, Monotreta, Sphaeroides,
Kemopterus
Suku lain yg beberapa spesiesnya mengandung
tetrodotoksin adalah Canthigasteridae,
Diadonthidae, Triodontidae, Moliae
Gejala keracunan, diawali rasa mual, muntah,
mati rasa dalam rongga mulut, selanjutnya
muncul gangguan fungsi saraf yang ditandai
dengan rasa gatal di bibir, kaki, tangan. Gejala
selanjutnya, terjadi kelumpuhan dan kematian
akibat sulit bernapas dan serangan jantung.
Gejala tersebut timbul selama 10 menit hingga
3 jam setelah mengkonsumsinya.
Isolasi tetrodotoksin skala besar (Tsuda)
1000 kg ovari ikan , disayat2, diekstraksi dg air panas
80-90 derajat C selama 30-40 menit. Filtrat
dipekatkan (suhu 40 derajat C) terdapat 2 lapisan.
Lapisan air dan lemak. Lapisan air ditambah
metanol akan terjadi endapan, saring lalu lapisan
air-metanol dipekatkan, terdapat toksin kasar,
dikromatografi kolom dg karbon aktif : hyflo-
supersel (2:3) dielusi dg air dan asam asetat-
metanol.
Akan dihasilkan toksin amorf, dikristalisasi dg asam
asetat-metanol-eter menghasilkan tetrodotoksin
sebanyak 10 gram
Ikan sabun /Soap fish
Dari suku Grammistidae
Toksin kulit berupa peptida, dan ada bagian yang
positif terhadap dragendorf
Spesies Grammistidae yg mempunyai toksin kulit:
Grammistes sexlineatus, Pagonoperca punetata
(Grammistin A1, A2, B dan C: hemolitik),
Aulacocephalus temmineki,
Diploprion bifasciatum (selain Grammistin A,B.C, juga
C35H64.N4O4), Rypticus saponaceus (riptisin), R.
bicolor, R. randalli, R. Subbifenatus dan Grammistops
ocellatus
Gobiodon sp antara lain: G. guiguestrigatus, G. rixilatus
TOKSIN PADA GASTROPODA
Surugatoxin
1965, keracunan setelah
mengkonsumsi carnivorous
gastropod,
Babylonia japonica.
Keluhan pasien: gangguan
penglihatan,amblyopia, midriatik,
haus, kebal pada bibir, speech
disorders,konstipasi, disuria
TOKSIN MAKROALGA
Polycavernoside-A, diisolasi dari
makroalga merah Polycaverosa
tsudai