Anda di halaman 1dari 23

REFERAT

CEREBRAL PALSY

Disusun Oleh:
Isnin Mahfirotun Nisa
G4A016050

Pembimbing:
dr. Agus Fitrianto, Sp.A

SMF ILMU KESEHATAN ANAK


RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARDJO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

Masa tumbuh kembang anak Berbagai penyakit/kelainan


adalah periode yang sangat pada anak yang dapat
riskan bagi setiap anak berakibat terhadap
sehingga perlu mendapat pertumbuhan dan
perhatian dari semua aspek Cerebral palsy adalah perkembangan
serangkaian sindrom
gangguan postur dan
motorik bersifat non
progresif yang dapat
menyebabkan keterbatasan
Banyak faktor yang dapat aktivitas
Gangguan fungsi gerak
meningkatkan risiko
motorik yang timbul
cerebral palsy mulai dari
tergantung dari kerusakan
periode prenatal, perinatal
area otak yang terkena
dan postnatal.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi

Kumpulan gejala gangguan pergerakan dan postur tubuh yang disebabkan karena adanya
kelainan pada sistem saraf di otak.
Adanya kerusakan tidak progresif pada otak.
Di tetapkan sebagai static encephalopathy: kelainan otak permanen yang sulit
disembuhkan, hanya dapat dicegah agar tidak terjadi kerusakan lebih lanjut.
Golden periode terbentuknya lesi pada otak yaitu ketika masa prenatal (masa konsepsi),
perinatal (usia kehamilan 28 minggu hingga hari ke 7 setelah lahir) ataupun postnatal
(usia 2 tahun).
B. Epidemiologi

Cerebral palsy merupakan masalah umum yang terjadi di seluruh dunia.


Cerebral palsy paling banyak menyebabkan disabilitas pada anak di penduduk negara barat.
Insidensi cerebral palsy sebesar 2-2.5/1000 kelahiran hidup, dan prevalensinya sebanyak 1-
5/1000 bayi di kota yang berbeda.
Insidensi cerebral palsy sebagian besar meningkat tiap tahunnya terutama pada bayi prematur,
bayi dengan berat badan lahir rendah, serta riwayat asfiksi neonatorum.
Sekitar 70%-80% kasus cerebral palsy adalah tipe spastik.
Infeksi SSP sering ditemukan di negara berkembang, dan 30%-50% kasus di antaranya akan
mengalami kecacatan.
C. Etiologi

Kerusakan yang tidak progresif pada otak


akibat adanya lesi pada otak.
Penyebab dapat dikaitkan dengan faktor resiko
prenatal, perinatal dan post natal, namun
sebagian besar kasus tidak diketahui
penyebabnya.
Prematur dan bayi lahir dengan berat badan
rendah merupakan faktor resiko yang paling
sering terjadi.
D. Patofisiologi
E. Gejala Klinis

Klasifikasi klinis gangguan motorik yaitu spastik, diskinetik, ataxia,


dan campuran.
Spastik

Lokasi lesi di korteks


Lesi menyebabkan spastisitas terutama pada
traktus kortikospinal otot susah digerakkan.
Gejala klinis seperti sindrom kerusakan UMN
(hipereflek, hipertonus, klonus, reflek patologis
positif, primitif reflek yang tidak menghilang
pada waktunya)
Hipertonus terjadi secara permanen dan tidak
hilang selama tidur.
Tipe cerebral palsy yang sering terjadi
Spastik cerebral palsy dibagi menjadi 3
(hemiplegi, diplegi, quadriplegi)
Diskinetik

Lokasi lesi di ganglia basalis dan jaras


ekstrapiramidalis
Lesi menyebabkan gangguan pergerakan yang tidak
disadari dan sikap yang abnormal.
Distonia ditandai dengan gerakan lambat dan
memutar
Atetoid mengalami fluktuasi tonus otot yang
menyebabkan gerakan lambat, menggeliat, dan
tidak terkontrol terutama pada ekstremitas. Jika
mengenai otot-otot wajah, penderita akan terlihat
selalu menyeringai dan mengeluarkan air liur.
Ataxia

Lokasi lesi di cerebellum


Hilangnya keseimbangan, koordinasi dan kotrol
motorik.
Manifestasi klinis: gangguan koordinasi saat berjalan,
saat melakukan gerakan yang cepat dan tepat, seperti
menulis dan mengancingkan baju, sering tremor
Campuran

Manifestasi klinis dari bentuk ini berupa gabungan dari tipe


cerebral palsy spastik, diskinetik ataupun ataxia.
Kombinasi spastik dan atetoid paling sering ditemukan
Gejala spastik (umur yang lebih muda) atetoid (umur 9 bulan-3
tahun)
Gejala Penyerta

1. Gangguan intelektual
2. Epilepsi
3. Gangguan pengliatan
4. Gangguan pendengaran
5. Gangguan bicara
6. Gangguan sensorik
7. Gangguan pencernaan dan saluran kencing
8. Permasalahan psikososial
F. Penegakkan Diagnosis
Anamnesis

Manifestasi klinis: tipe spastik, diskinetik, ataxia, dan campuran.


Mengenali keterlambatan pencapaian motorik (Observasi
perkembangan gerak, tonus otot, postur tubuh.
Respon primitive automatic yang persistent seperti reflex moro,
reflex menggenggam menghilang melebihi dari usia normal
seharusnya (N: menghilang setelah umur lewat 6 bulan)
Strategi diagnosis berdasar dari gejala klinik,pola dari
perkembangan gejala, riwayat keluarga, dan faktor lain dapat
mempengaruhi dalam penegakan diagnosis yang lebih spesifik.
F. Penegakkan Diagnosis
Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksan neurologis
a. Status mentalis
- Observasi terhadap orientasi anak
- Ketertarikan terhadap suara
- Kontak mata, mengikuti objek, kewaspadaan anak dan kemampuan
dalam mengikuti perintah.
b. Penglihatan dan pendengaran
- Cara memanggil anak dan menepuk tangan atau menjatuhkan suatu
objek lihat respon
c. Kekuatan otot dan kontrol motorik
- Susah melakukan kontraksi maupun relaksasi secara simultan.
- Cara:
1) memerintahkan anak untuk mengangkat tungkai atas kemudian
lakukan tahanan dan nilai kekuatan motoriknya
2) memerintahkan anak untuk fleksi dan ekstensi tungkai bawah untuk
menilai kontrol motorik
F. Penegakkan Diagnosis
Pemeriksaan Fisik
d. Pemeriksaan tonus otot
- Cara: menjatuhkan kepala pada posisi normal maka
akan terdapat kuku pada leher

2. Pemeriksaan muskuloskeletal
- Range of motion (ROM)
- Deformitas tulang dan kontraktur sendi
3. Pemeriksaan fungsional
- Untuk mengetahui keseimbangan dan kemandirian
pasien.
- Romberg tes
F. Penegakkan Diagnosis
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
- Untuk menyingkirkan penyebab lain dari retardasi mental
- Untuk screening melihat kelainan metabolik seperti
hypoglycemia, hypothyroidism, and aminoacidurias.
2. Cerebral imaging
- menunjukkan perkembangan kerusakan dan lokasi dari infark,
kontusio, atau hemorrhage.
3. Pungsi lumbal
- Cerebral palsy cairan cerebrospinal biasanya normal.
4. Pemeriksaan EEG
- mencatat aktivitas elektrik di dalam otak, terutama pada
bagian korteks.
G. Tata Laksana
Medikamentosa
1. Diazepam
- Antikejang dan relaksan
- Dosis 0,12-0,8 mg/kgBB/hari secara peroral dibagi dalam 6-8 jam dan tidak melebihi
10 mg/dosis.
2. Baclofen
- Memblokade penerimaan sinyal dari medula spinalis yang akan menyebabkan kontraksi
otot.
- Usia 2-7 tahun
Dosis 10-40 mg/hari peroral dibagi dalam 3-4 dosis. Dosis dimulai dari 2,5-5 mg per
oral 3x/hari kemudian dosis dinaikan 5-15 mg/hari maksimal 40 mg/hari.
- Usia 8-11 tahun
Dosis 10-60 mg/hari peroral dibagi dalam 3-4 dosis. Dosis dimulai dari 2,5-5 mg per
oral 3x/hari kemudian dosis dinaikan 5-15 mg/hari maksimal 60 mg/hari.
- Usia >12 tahun
Dosis 20-80 mg/hari peroral dibagi dalam 3-4 dosis. Dosis dimulai dari 5 mg per oral
3x/hari kemudian dosis dinaikan 15 mg/hari maksimal 80 mg/hari.
G. Tata Laksana
Medikamentosa
3. Dantrolene
- Mengintervensi proses kontraksi otot relaksasi
- Diosis yang dianjurkan mulai 25 mg/hari maksimal 40 mg/hari.
4. Botulinum toxin
- Menghambat pelepasan asetilkolin dari membran presinaptik
meminimalisir kontraktur
5. Baclofen intratekal
- Merupakan GABA agonis relaksasi otot
G. Tata Laksana
Non-Medikamentosa
1. Fisioterapi
- Latihan bertahap: latihan luas gerak sendi, stretching, latihan
penguatan dan peningkatan daya tahan otot, latihan duduk, latihan
berdiri, latihan pindah, latihan jalan.
- Terapi ortotik
- Terapi Wicara
2. Tindakan Invasif
- Bedah ortopedi : untuk memperbaiki deformitas muskuloskeletal
postur tubuh yang baik kemudahan pergerakan.
- Intervensi bedah saraf Selective dorsal rhizotomy (SDR)
3. Transplantasi sel punca
- Sel punca regenerasi sel
- Tipe sel punca : neural, embrionik, hematopoietik, dan mesenkimal.
H. Prognosis

Hampir semua anak dengan serebral palsy memiliki harapan hidup


normal.
Kematian sebanyak 5%-10% selama masa anak-anak.
Prognosis penderita gejala motorik ringanbaik
Prognosis penderita gejala motorik berat buruk
Sebagian besar anak dengan cerebral palsy dapat berjalan.
III. KESIMPULAN

Cerebral palsy merupakan gangguan pergerakan dan postur tubuh


yang disebabkan karena adanya kerusakan tidak progresif pada
sistem saraf pusat.
Faktor resiko prenatal, perinatal dan post natal merupakan
penyebab tersering terjadinya cerebral palsy.
Klasifikasi klinis gangguan motorik yaitu spastik, diskinetik, ataxia,
dan campuran.
Standar terapi cerebral palsy berbeda-beda sesuai kebutuhan
setiap individu.
TERIMAKASIH