Anda di halaman 1dari 69

by

Deri Mulyadi ,MD


Etika
Aristoteles Yunani, ethos ; adat istiadat atau
kebiasaan
English ,Ethics ; budi pekerti ilmu mengenai
kesusilaan
Veronica Komalawati ; pedoman,patokan,ukuran
untuk menilai perilaku manusia yang baik dan buruk
yang berlaku secara umum dalam kehidupan bersama
Latin,etika ; moral
Fokus etika ; benar dan salah,kebaikan dan
keburukan,kebajikan dan kejahatan,dikehendaki dan
ditolak
Etika,etiket,dan moral
Etika ; perbuatan boleh atau tidak,tidak tergantung
kehadiran oran lain,absolut,lahir dan batin
Etiket/sopan santun ; cara sikap/perbuatan yang harus
dilakukan,pergaulan hidup,relatif,lahir
Moral dan etika ; landasan atau pijakan didalam
melahirkan sikap tertentu
Etika normatif ;
Etika umum ; aturan tingkah laku dalam masyarakat
Etika khusus ; aturan tingkah laku kelompok manusia atau
kelompok masyarakat yang khas/spesifik profesi
Manfaat Etika
Menentukan apa yang harus dianggap sebagai
kewajiban dalam menghadapi keadaan yang
pluralistik
Kita dapat menghadapi perubahan yang terjadi
dibawah kekuatan hantaman modernisasi
Menghadapi pelbagai pihak yang memancing di air
keruh
Memantapkan keimanan terhadap agama kita
Profesi
bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan
keahlian(keterampilan,kejujuran,dan sebagainya) tertentu
Bernard barber ;
1.membutuhkan ilmu pengetahuan yang tinggi yang hanya
dapat dipelajari secara sistematik
2.orientasi primernya lebih ditujukan untuk kepentingan
masyarakat
3.memiliki mekanisme kontrol terhadap perilaku
pemegang profesi
4.memiliki sistim reward
Etika Profesi
Kedokteranprofesi tertuakode etik
Hippocrates :
agar dokter mengutamakan kepentingan penderita
agar dokter menjaga martabat dan kehormatan
profesi
agar dokter menjaga pengetahuan dan
ketrampilannya,selalu bersikap ilmiah dan tahu batas-
batas kemampuannya
agar dokter menghormati guru-gurunya dan menjaga
rasa persaudaraan antar a sesama teman sejawatnya
Etika Profesi
Etika kedokteran etika kesehatan
pedoman-pedoman yang berkaitan dengan bidang
kedokteran sebagai suatu profesi.
Kode etik kedokteran ;
Medical ethics ; sikap para dokter terhadap
sejawatnya,para pembantunya,masyarakat dan
pemerintah
Ethics of the medical care ; etik kedokteran dalam
kehidupan sehari-hari mengenai sikap dan tindakan
seorang dokter terhadap penderita yang menjadi
tanggungjawabnya
Kode Etik Profesi
Organisasi atau wadah yang membina profesiIDI
Bertens ; norma yang ditetapkan dan diterima oleh
kelompok profesi,yang mengarahkan atau memberi
petunjuk kepada anggotanya bagaimana seharusnya
berbuat dan sekaligus menjamin mutu moral profesi
di mata masyarakat
Kode Etik Kedokteran Indonesia
4 kewajiban ;
Kewajiban umum
Kewajiban dokter terhadap pasien
Kewajiban terhadap teman sejawat
Kewajiban dokter terhadap diri sendiri
Kewajiban Umum
Pasal 1 ; setiap dokter harus menjunjung
tinggi,menghayati dan mengamalkan sumpah dokter
Pasal 2 ; seorang dokter harus senantiasa berupaya
melaksanakan profesinya sesuai dengan standar
profesi yang tertinggi
Pasal 3 ; dalam melakukan pekerjaan
kedokterannya,seorang dokter tidak boleh
dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan
hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi
Kewajiban Umum
Pasal 4 ; setiap dokter harus menghindarkan diri dari
perbuatan yang bersifat memuji diri
Pasal 5 ; tiap perbuatan atau nasihat yang
melemahkan daya tahan psikis maupun fisik hanya
diberikan untuk kepentingan dan kebaikan
pasien,setelah memperoleh persetujuan pasien
Pasal 6 ; setiap dokter senantiasa berhati-hati dalam
mengumumkan dan menerapkan setiap penemuan
teknik atau pengobatan baru yang belum diuji
kebenarannya dan hal-hal yang dapat menimbulkan
keresahan masyarakat
Kewajiban Umum
Pasal 7 ; seorang dokter hanya memberi surat
keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri
kebenarannya
Pasal 7a ; seorang dokter harus,dalam setiap praktik
medisnya,memberikan pelayanan medis yang
kompeten dengan kebebasan teknis dan moral
sepenuhnya,disertai kasih sayang (compassion) dan
penghormatan atas martabat manusia
Kewajiban Umum
Pasal 7b ; seorang dokter harus bersikap jujur dalam
berhubungan dengan pasien dan sejawatnya,dan
berupaya untuk meningkatkan sejawatnya yang dia
ketahui memiliki kek urangan dalam karakter atau
kompetensi,atau yang melakukan penipuan atau
penggelapan,dalam menangani pasien
Pasal 7c ; seorang dokter harus menghormati hak-hak
pasien,hak-hak sejawatnya,dan hak tenaga kesehatan
lainnya,dan harus menjaga kepercayaan pasien
Kewajiban Umum
Pasal 7d ; setiap dokter harus senantiasa mengingat
akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani
Pasal 8 ; dalam melakukan pekerjaannya seorang
dokter memperhatikan kepentingan masyarakat dan
memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan
yang menyeluruh (promotif,preventif,kuratif,dan
rehabilitatif),baik fisik maupun psiko-sosial,serta
berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarkat
yang sebenar-benarnya
Kewajiban Umum
Pasal 9 ; setiap dokter dalam bekerja sama dengan para
pejabat di bidang kesehatan dan bidang lainnya serta
masyarakat,harus saling menghormati
Kewajiban Dokter Terhadap Pasien
Pasal 10 ; setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan
mempergunakan segala ilmu dan keterampilannya
untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak
mampu melakukan suatu pemeriksaan atau
pengobatan,maka atas persetujuan pasien,ia wajib
merujuk pasien kepada dokter yang mempunyai
keahlian dalam penyakit tersebut
Pasal 11 ; setiap dokter harus memberikan kesempatan
kepada pasien agar senantiasa dapat berhubungan
dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat
dan atau dalam masalah lainnya
Kewajiban Dokter Terhadap Pasien
Pasal 12 ; setiap dokter wajib merahasiakan segala
sesuatu yang diketahuinya tentang seorang
pasien,bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia
Pasal 13 ; setiap dokter wajib melakukan pertolongan
darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan,kecuali
bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu
memberikannya
Kewajiban Dokter Terhadap
Teman Sejawat
Pasal 14 ; setiap dokter memperlakukan teman
sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan
Pasal 15 ; setiap dokter tidak boleh mengambil alih
pasien dari teman sejawatnya,kecuali dengan
persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis
Kewajiban Dokter Terhadap Diri
Sendiri
Pasal 16 ; setiap dokter harus memelihara
kesehatannya,supaya dapat bekerja dengan baik
Pasal 17 ; setiap dokter harus senantiasi mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
kedokteran
Tujuan Kode Etik Profesi
Menjunjung tinggi martabat profesi
Menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota
profesi
Meningkatkan mutu profesi
Meningkatkan mutu organisasi profesi
Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi
Mempunyai organisasi professional yang kuat dan
terjalin erat
Arti Penting Etika Profesi
KODEKI ; Konsolidasi dan Revitalisasi
Mekanisme self control pembinaan
Kredibilitas ; eksistensi dan profesional
Preventive ; etik hukum
Fungsi Kode Etik Profesi
Kontrol moral
Integritas moral
Menjaga kepentingan negar
Acuan supaya anggota profesi tetap bermartabat
dalam profesinya
Pelanggaran Kodeki
Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI
Pengaduan ;
langsung ; pasien,teman sejawat,tenaga kesehatan
lainya,institusi kesehatan,dan organisasi profesi
rujukan/banding dari MKEK cabang untuk MKEK
wilayah atau rujukan /banding dari MKEK wilayah
untuk MKEK pusat
temuan IDI setingkat
Pelanggaran Kodeki
temuan dan atau permintaan divisi pembinaan etika
profesi MKEK setingkat
hasil verifikasi MKDKI atau lembaga disiplin profesi
atau lembaga pembinaan etika yang menemukan
adanya dugaan etika sesuai ketentuan yang berlaku
hal-hal lain yang ditentukan kemudian oleh MKEK
pusat sesuai dengan asas keadilan dan pencapaian
tujuan pembinaan etika profesi
Sanksi
Penasehatan
Peringatan lisan
Peringatan tertulis
Pembinaan perilaku
Reschooling
Pemecatan sementara
Etika dan Hukum
Upaya kesehatan keberadaan manusia
berkembang sejalan dengan perkembangan
kehidupan manusia dalam masyarakat
Semula etika atau kode etik para pelaksana
pelayanan kesehatan perkembangan ilmu dan
teknologi kesehatan serta dinamika masyarakat,
ketentuan hukum yang mengaturnya
perubahan masyarakat bersifat pasif - aktif
kewajiban hak2 dalam proses pelayanan kesehatan
Hubungan Hukum dan Etika
Dua sisi mata uang
Hukum; manusia sebagai individu
Hukum memberikan batasan-batasan untuk
bertindak yang ditentukan sendiri oleh masyarakat
Pelanggaran hukum ; sanksi eksternal
Disiplin ilmu saling menutupi
(overlapping),namun masing-masing disiplin
mempunyai parameter yang berlainan disamping
fokusnya juga berbeda
Definisi Hukum
Pendapat beberapa ahli ;
Drs E Utrecht, SH ;
Himpunan peraturan-peraturan (perintah-perintah dan
larangan-larangan) yang mengurus tata tertib suatu
masyarakat dan karena itu harus ditaati oleh masyarakat
itu
Rudolf von jhering ;
Keseluruhan peraturan yang memaksa yang berlaku
dalam suatu negara
Etika dan Hukum
Etika ; pergaulan hidup (sumber), sifat sanksi
disingkiri/kurang disukai,penegak kaidah ; anggota
masyarakat
Hukum ; penguasa/negara,ril/tegas,penguasa
masyarakat/penegak hukum
Tanggungjawab Hukum Dokter
Tanggungjawab terhadap ketentuan-ketentuan hukum
yang tercantum dalam undang-undang ;
Kitab undang-undang hukum pidana (KUHP),
Kitab undang-undang hukum perdata(KUHPerdata),
UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan,UU No.29
tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran,dll
Tanggungjawab Hukum Dokter
Hukum pidana ; KUHP pasal 48-
51,224,267,268,322,344-361,531
Hukum perdata ;
Melakukan wanprestasi,pasal 1239 KUHper/bw
Melakukan perbuatan melawan hukum,pasal1365
KUHper.
Melalaikan pekerjaan sebagai penanggungjawab,
pasal 1367 ayat (3) KUHPer
PERUBAHAN
MASYARAKAT
1. Semakin materialistis & hedonistis.
2. Semakin memahami haknya, namun sayangnya,
tidak diimbangi oleh upaya peningkatan
pemahaman tentang logika medik dan logika
hukum.
3. Semakin gemar menuntut dokter & RS (litigious).
4. Semakin melihat dokter bukan sebagai partnership
dalam mengatasi masalah kesehatannya.
5. Semakin menerima konsep HAM sebagai acuan bagi
penentuan kebijakan sosial dan hukum.
4. Semakin tinggi penghargaannya terhadap prinsip-
prinsip konsumerisme, antara lain prinsip he who
pays the piper calls the tune. 32
PERUBAHAN
DUNIA KEDOKTERAN
1. Kemajuan ilmu & teknologi
2. Terjadi pergeseran nilai argument alasan
pembenar bagi tindakan medis yang legally or
ethically questionable.
3. Sifat paternalistik degradasi
4. Intervensi konsep-konsep hukum kedalam praktek
kedokteran.
5. Intervensi konsep HAM semakin kuat.
6. Prinsip-prinsip konsumerisme otonomi profesi

33
PERUBAHAN PASIEN

More educated.
Easy access to information through
internet.
Lifestyle change.
Looking for value.
Demands and expectations different.
(Timothy Low, 2004)

34
WHAT IS
ADVERSE EVENT ?
&
WHAT IS
MEDICAL MALPRACTICE ?

35
MANIFESTASI
ADVERSE EVENT

3,7 % mengalami perpanjangan hospitalisasi,


kelainan ketika keluar rumah sakit atau
kedua-duanya.
2,6 % mengalami kelainan permanen
(permanently disabling injuries).
13, 6 % menyebabkan kematian.
19 % mengalami komplikasi obat.
14 % mengalami infeksi luka.
(Institute of Medicine)
36
Study di Amerika menunjukkan per tahun:
43.458 orang mati karena KecelakaanLalu Lintas
42.397 orang mati karena Cancer payudara.
16.516 orang mati karena AIDS.

44.000 - 98.000 orang mati karena medical erro


(preventable error).
(Institute of Medicine)

2700 orang mati dalam tragedi WTC

37
Jumlah pasien
Rawat Inap

Adverse Event
2,9 3,7 %

Adverse Event
karena Error
2,03 2,59 %
Adverse Event
karena Error yang
mungkin dapat
dikatagorikan sbg
Negligence
0,56 0,71 %
38
WHAT IS
MEDICAL MALPRACTICE ?

39
MALAPRAKTEK
Merupakan istilah yang:
Sifatnya umum.
Tidak selalu berkonotasi hukum (bisa juga etik).
Tidak dikenal dalam merundang-undangan di
Ind.
Berasal dari kata mal (yang berarti salah) dan
Kata praktek (yang berarti pelaksanaan atau
tindakan) sehingga makna harfiyahnya adalah
pelaksanaan atau tindakan yang salah.
Hanya digunakan di bidang profesi sehingga
makna terminologinya adalah tindakan yang
salah dalam rangka melaksanakan suatu profesi.
Oleh sebab itu sering disebut PROFESSIONAL
MISCONDUCT
. 40
Definisi
J Guwandi ;
1.Melakukan sesuatu hal yang seharusnya tidak
dilakukan oleh tenaga kesehatan
2.Tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan
atau melalaikan kewajiban (negligence)
3.Melanggar sesuatu ketentuan menurut atau
berdasarkan peraturan perundang-undangan
Kriteria Kelalaian Medik
(Negligence)
DUTY
- KEWAJIBAN PROFESI
- KEWAJIBAN DENGAN PASIEN
BREACH OF DUTY
(PENYIMPANGAN KEWAJIBAN)
- PELANGGARAN KEWAJIBAN TERSEBUT
DAMAGES (KERUGIAN)
- CEDERA, MATI ATAU KERUGIAN
DIRECT CAUSIALSHIP
- HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT/CAUSALITAS
- 4D
ADVERSE EVENT

STANDAR LAYANAN STANDAR LAYANAN


TERPENUHI TIDAK TERPENUHI

DIRECT CAUSATION
RISIKO
MEDIK DAMAGES

MALPRAKTEK
UNFORESEEN FORESEEN
RISK RISK
DAMAGES
BUKAN
MAL - Melakukan Tanpa DIRECT CAUSATION
PRAKTEK ANTISIPASI ANTISIPASI
43
Fraud (blacks law dictionary)
Kesengajaan melakukan kesalahan terhadap
kebenaran untuk tujuan mendapatkan sesuatu yang
bernilai atas kerugian orrang lain
Pelayanan kesehatansegala bentuk kecurangan dan
ketidawajaran yang dilakukan berbagai pihak dalam
mata rantai pelayanan kesehatan untuk memperoleh
keuntungan sendiri dari praktek normal
peserta,provider,insurance
Fraud Provider
UPCODING ; memasukkan kalim penagihan atas dasar kode yang tidak
akurat,yaitu diagnosa atau prosedur yang lebih kompleks atau lebih banyak
menggunakan sumberdayanya,sehingga menghasilkan nilai kalim lebih tinggi
dari yang seharusnya
CLONING ; menggunakan sistem rekam medik elektronik dan membuat
model spesifikasi profil pasien yang terbentuk secara otomatis dengan
mengkopi profil pasien lain dengan gejala serupa untuk menampilkan kesan
bahwa semua pasien dilakukan pemeriksaan lengkap
PHANTOM BILLING ; tagihan untuk layanan yang tidak pernah diberikan
INFLATED BILLS ; menaikkan tagihan global untuk prosedur dan perawatan
yang digunakan pasien khususnya untuk alat implany dan obat-obatan
SERVICE UNBUILDING OR FRAGMENTATION ; menagihkan beberapa
prosedur secara terpisah yang seharusnya dapat ditagihkan bersama dalam
bentuk paket pelayanan,untuk mendapatkan nilai klain lebih besa pada satu
episode perawatan pasien
Fraud Provider
SELF REFERRAL ; penyedia layanan kesehatan yang
merujuk kepada dirinya sendiri atau rekan kerjanya untuk
memberikan layanan,umumnya disertai insentif uang atau
komisi
REPEAT BILLING ; menagihkan lebih dari satu kali untuk
prosedur,obat-obatan dan alkes yang sama padahal hanya
diberikan satu kali
LENGTH OF STAY ; menagihkan biaya perawatan pada
saat pasien tidak berada di rumah sakit atau menaikkan
jumlah hari rawat untuk meningkatkan nilai kalim
TYPE OF ROOM CHANGER ; menagihkan biaya
perawatan untuk ruangan yang kelas perawatannya lebih
tinggi daripada yang sebenarnya digunakan pasien
Fraud Provider
TIME IN ERROR ; menagihkan prosedur menggunakan waktu rata-rata
maksimal operasi,bukan durasi operasi yang sebenarnya,khususnya jika durasi
operasi tersebut lebih singkat daripada reratanya
KEYSTOKE MISTAKE ; kesalahan dalam mengetikkan kode diagnosa dan atau
prosedur,yang dapat mengakibatkan klaim besar atau lebih kecil
CANCELLED SERVICES ; penagihan terhadap obat,prosedur atau layanan yang
sebelumnya sudah direncanakan namun kemudian dibatalkan
NO MEDICAL VALUE ; penagihan untuk layanan yang tidak meningkatkan
derajat kesembuhan pasien atau malah memperparah kondisi
pasien,khususnya yang tidak disertai bukti efikasi secara ilmiah
STANDARD OF CARE ; penagihan layanan yang tidak sesuai standar kualitas
dan keselamatan pasien yang berlaku
UNNECESSARY TREATMENT ; penagihan atas pemeriksaan atau terapi yang
tidak terindikasi untuk pasien
Risiko Medik
Definisi ; tidak dirumuskan secara eksplisit dalam
peraturan
Inplisit ;
IDI ; informed consent (lampiran SKB IDI No
319/P/BA/88 ; setiap tindakan medis yang
mengandung risiko cukup besar mengharuskan
adanya persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh
pasien,setelah sebelumnya pasien itu memperoleh
informasi yang adekuat tentang perlunya tindakan
medis yang bersangkutan serta risiko yang berkaitan
dengannya
Risiko Medik
Pasal 2 ayat 3, pasal 3 ayat 1 dan pasal 7 ayat 2
Permenkes RI nomor 585/Men Kes Per/IX/1989
tentang Persetujuan Tindakan Medik
Risiko medik ;
Bahwa di dalam tindakan medik ada kemungkinan
(risiko ) yang dapat terjadi yang mungkin tidak sesuai
dengan harapan
Dalam tindakan medik ada tindakan yang
mengandung risiko tinggi
Risiko tinggi tersebut berkaitan dengan keselamatan
jiwa
Risiko Medik
Definisi ; tidak dirumuskan secara implisit
Risiko pada tindakan medik ;
Risiko yang melekat
Reaksi hipersensitivitas
Komplikasi (penyulit)
Syarat tindakan medik ;
Tindakan medis yang dilakukan oleh tenaga kesehatan
telah sesuai dengan standar profesi dan melakukannya
dengan menghormati hak pasien
Tidak ditemukan adanya kesalahan atau kelalaian yang
ditentukan oleh majelis disiplin tenaga kesehatan
Sengketa Medik
Definisi
Sengketa conflict/dispute ; perbedaan
kepentingan dua belah pihak/lebih
conflict situasi dimana dua pihak atau lebih
dihadapkan pada perbedaaan kepentingan
dispute perasaan tidak puas pada salah satu pihak
yang merasa dirugikan oleh pihak lain dengan
memunculkan persoalan tersebut ke permukaan
untuk dicari pemecahannya
Medik bidang kedokteran
Proses Terjadinya Sengketa Medik
Rasa tidak puas pasien pelayanan,pengobatan
atau perawatan dari dokter/rumah sakit
Gap complain sengketa medik
Tahapan ;
Prakonflik;tidak puaspredisposing factor
Konflik ;mengeluarkan keluhan
(LOKALISIRKOMUNIKASI!!!)
Sengketa; area public
Penyebab Sengketa Medik
Dickens, pasien
1.Tidak menerima informasi yang dapat dimengerti atau
diterima olehnya
2.Tindakan yang dilakukan dokter tidak memenuhi
standar(nyata/dugaannya)
3.Tidak ditangani dengan pertimbangan rasa simpati
ataupun rasa hormat
4.Menginginkan informasi tetapi tidak pernah didapat atau
didapat tetapi tidak seperti yang diharapkan
5.Dipulangkan sebelum benar-benar sembuh tanpa diberi
penjelasan,saran atau follow up selanjutnya
6.Chronic complaines
Alternatif Penyelesaian
1.lumping it (menerima atau tidak menuntut)
2.avoidence (menghindar)
3.coersion (memakai pihak ketiga)
4.negotiation (musyawarah)
5.mediation (musyawarah dibantu mediator)
6.arbritation (menyerahkan kepada pihak ketiga
sebagai pemutus masalah)
7.adjudication (jalur hukum)
Pengaduan pidana,perdata,etik/disiplin,hak
konsumen
Dasar Hukum Penyelesaian Sengketa Medik
Surat edaran petunjuk rahasia dari kejaksaan agung
no; B 006/R-31/I/1982 tentang perkara profesi
kesehatan,bahwa agar tidak meneruskan perkara sebelum
konsultasi dengan pejabat dinas kesehatan setempat atau
Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang
Kesehatan Pasal 54 ayat 1 : terhadap tenaga kesehatan
yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam
melaksanakan profesinya dapat dikenakan tindakan
disiplin.
Pasal 54 ayat 2 ; penentuan ada tidaknya kesalahan atau
kelalaian sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 ditentukan
oleh Majelis Tinggi Disiplin Tenaga Kesehatan.
Dasar Hukum Penyelesaian
Sengketa Medik
Keputusan Presiden nomor 56 tahun 1995 tentang
Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan
Undang-undang nomor 30 tahun 1999 tentang
Arbritase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa
Undang-undang no.29 tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran
Pasal 1 poin 14 yang berbunyi ; Majelis Kehormatan
Disiplin Kedokteran Indonesia adalah lembaga yang
berwenang untuk menentukan ada tidaknya kesalahan
yang dilakukan dokter dan dokter gigi dalam
penerapan disiplin ilmu kedokteran dan kedokteran
gigi,dan menetapkan sanksi.
Pasal 66 ayat 1 ; setiap orang yang mengetahui atau
kepentingannya dirugikan atas tindakan dokter atau
dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran
dapat mengadukan secara tertulis kepada Ketua
Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia.
Undang-undang no.29 tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran
Pasal 66 ayat 3 ; pengaduan sebagaimana yang
dimaksud ayat 1 dan ayat 2 tidak menghilangkan hak
semua orang untuk melaporkan adanya dugaan tindak
pidana kepada pihak yang berwenang dan/atau
menggugat kerugian perdata ke pengadilan.
Pasal 68 ; apabila dalam pemeriksaan ditemukan
pelanggaran etika, Majelis Kehormatan Disiplin
Kedokteran Indonesia meneruskan pengaduan pada
organisasi profesi.
Dasar Hukum Penyelesaian Sengketa Medik
Undang-undang nomor 8 tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen : Badan Penyelesaian
Sengketa Konsumen
KUHPidana dan KUHPerdata
Putusan Mahkamah Konstitusi nomor
4/PVV/2007 bahwa sengketa medik diselesaikan
terlebih dahulu melalui peradilan profesi
Dasar Hukum Penyelesaian
Sengketa Medik
Pasal 29 UU nomor 36 tahun 2009 tentang
kesehatan ; dalam hal tenaga kesehatan diduga
melakukan kelalaian dalam menjalankan
profesinya,kelalaian tersebut harus diselesaikan
terlebih dahulu melalui mediasi.
litigasi dan nonlitigasi
lex spesialis
Litigasi ; memenangkan salah satu pihak,waktu
dan biaya
Mediasi
Latin mediare tengah-tengah
penyelesaian sengketa bantuan seorang
penengah/mediator yang netral,adil,keahlian tentang
hal yang dipersengketakan (jikalau dimungkinkan)
sebagai fasilitator keputusan yang dibuat
sukarela dan damai
Jenis Mediasi
1.Mediasi hukum
PERMA nomor 01 tahun 2008 tentang Prosedur
Mediasi di Pengadilan
mediasi dalam pengadilan
A.Mediasi sebelum proses persidangan
B.Mediasi dalam proses persidangan
2.Mediasi Pribadi
diatur para pihak
Mediasi Nonlitigasi
Pasal 29 Undang-undang nomor 36 tahun 2009
tentang Kesehatan
menjaga hubungan baik dokter dan pasien.
menghindari terjadinya defensive medicine
1.Mediator tanpa sertifikat
2.Mediator sertifikat (PERMA nomor 01 tahun
2008 pasal 5)
Mediator Sertifikat vs Tidak Bersertifikat
Mediator bersertifikat hasil kesepakatan akta
perdamaian dengan (gugatan) eksekusi
Mediator tidak bersertifikat ; hasil kesepakatan
akta otentik oleh notaries/akta bawah tangan tidak
tunduk pada upaya hukum biasa maupun
luarbiasaupaya eksekusi sulit
Keuntungan Mediasi
1.proses cepat
2.biaya murah
3.sifatnya informal
4.kerahasiaan terjamin
5.adanya kebebasan memilih pihak ketiga
6.dapat menjaga hubungan baik
7.lebih mudah mengadakan perbaikan-perbaikan
8.sifatnya final
9.pelaksanaan tatap muka yang pasti
10.tatacara penyelesaian sengketa diatur oleh para pihak.
TO ERR IS HUMAN

HOW TO BUILD
A SAFER HEALTH SYSTEM

66
UNDERSTANDING SAFETY
PERROW s NORMAL ACCIDENT THEORY :
Dalam sistem tertentu kecelakaan tak bisa dihindari.
Dalam industri yg komplek & berteknologi tinggi maka
kecelakaan merupakan hal yang normal.
HIGH RELIABILITY THEORY :
Kecelakaan dapat dicegah dengan desain organisasi
dan manajemen yang baik.
THE NATIONAL PATIENT SAFETY FOUNDATION :
Mendefinisikan patient safety sbg upaya menghindari
dan mencegah adverse outcome yang disebabkan oleh
proses layanan serta meningkatkan outcome.
Keselamatan (keamanan) pasien tidak hanya tertumpu
pada person, peralatan atau departemen saja, tetapi
juga pada interaksi komponen dan sistem. 67
PRINSIP-PRINSIP
MERANCANG SISTEM YANG AMAN
(SAFETY SYSTEM IN HEALTH CARE
ORGANIZATIONS)

1. Provide Leadership.
2. Respect Human Limits in Process Design.
3. Promote Effective Team Functioning.
4. Anticipate the Unexpected.
5. Creating a Learning Environment.

68
TQ,