Anda di halaman 1dari 8

PSPA FAK FARMASI & SAINS

UHAMKA
Peraturan Perundang-
undangan & Etika
Kefarmasian
Fauzi Kasim
STUDI KASUS
Studi kasus
1. Tuliskan Kasus dibawah ini !
2. Identifikasi kata kunci yang penting terkait
kemungkinan pelanggaran
3. Apakah hal tersebut merupakan pelanggaran hukum,
disiplin atau kode etik, ketiga-tiganya, dua atau satu
diantara ketiga hal tsb ?
4. Tuliskan judul dan pasal/ayat Per-UU-an / butir
Pedoman Disiplin Apoteker / butir Kode Etik Apoteker
serta identifikasi mengapa disebut pelanggaran
5. Jika terbukti melanggar, apa sanksi yang akan
diterima Apoteker ?
6. Apa yang sebaiknya dilakukan agar dapat dicegah /
tidak pelanggaran ?
1. Apoteker Penanggung Jawab Produksi Industri manufaktur obat yang
memiliki Sertifikat CPOB untuk sediaan kapsul antibiotik, kemudian
memproduksi sediaan dengan bahan aktif yang sama dalam bentuk
injeksi
2. Apoteker Pimpinan Industri manufaktur obat memperkerjakan sarjana
kimia dan atau sarjana biologi di bagian pengawasan mutu
3. Apoteker di Industri manufaktur obat yang telah memiliki sertifikat
CPOB untuk sediaan kapsul, juga membuat cangkang kapsul keras.
4. Apoteker di Industri manufaktur obat yang telah memiliki sertifikat
CPOB untuk sediaan krim non antbiotik, juga membuat kosmetika
krim pelembut
5. Apoteker di Pabrik kosmetika yang memiliki sertifikat CPKB
memproduksi dan mengedarkan Krim pemutih mengandung
Hidrokuinon
6. Apoteker yang telah memiliki STRA dan SIP utk RS bekerja di Industri
manufaktur obat
7. Apoteker yang memiliki Surat Izin Praktik di Klinik menjadi
penanggung jawab PBF Bahan Baku
8. Apoteker Kepala Instalasi Farmasi Rumah Sakit memproduksi
sediaan farmasi tidak memiliki izin edar, tetapi hanya digunakan
untuk lingkungan rumah sakitnya saja
9. Apoteker di Industri Kosmetika Golongan A memproduksi krim
pemutih mengandung hidrokuinon
10.Apoteker yang bekerja di UKOT memproduksi jamu pegal linu dalam
bentuk sediaan effervescen
11.Apoteker penanggung jawab Industri Kosmetika Golongan B membuat
dan mengedarkan krim tabir surya dan pencerah kulit
12.Apoteker di IOT memproduksi Jamu dengan bahan Kurkumin murni
13.Apoteker pegawai negeri sipil di BPOM juga berperan sebagai
Apoteker Pengelola Apotek Swasta
14.Apoteker pegawai negeri sipil sebagai Penanggjung jawab terkait
Kefarmasian di Dinas Keshatan Kab/Kota juga berperan sebagai
Apoteker Pengelola Apotek Swasta
15.Apoteker mengganti obat paten/nama dagang yang tertulis dalam
resep dokter dan menyerahkan obat generik dengan kandungan yang
sama kepada pasien
16. Petugas Apotik bukan Apoteker, mengganti allopurinol 100 mg yang
tertulis dalam resep dokter dengan Zyloric 300 mg dan
menyerahkannya kepada pasien
17. Apoteker mengajukan izin dan membuka Apotek baru persis
disebelah Apotek yang sudah ada, tanpa berkonsultasi dengan /
sepengetahuan Apoteker Pengelola Apotek yang sudah ada tersebut
18. Apoteker yang bekerja sebagai Medical Representative di industri
farmasi diam-diam menjadi Apoteker Pengelola Apotek Swasta
19. Apoteker Penanggung Jawab Penilaian Keamanan Kosmetik (Safety
Assessor) diam diam menjadi Apoteker Pengelola Apotek
20. Apoteker Pengelola apotek menerima pesanan obat dari Dokter
didaerah terpencil , Apoteker di Apotek tersebut menyerahkan
obatnya kepada dokter dan dokter melakukan penyerahan /
dispensing langsung kepada pasien
21. Apoteker melayani pembelian diazepam injeksi oleh bidan praktik
mandiri
22. Apoteker melayani penjualan triheksipenidil kepada seorang pasien
tetangganya
23. Apoteker menyarankan dan menjual tablet Levonorgestrel-etinil
estradiol kepada seorang pasien yang telah dikenalnya dan
mengalami oedem / pembengkakan pada pergelangan kaki karena
gangguan ginjal
24. Apoteker pengelola apotek melakukan peracikan kosmetik yang
mengandung Hidrokuinon dan arbutin untuk pasien dalam rangka
pelayanan swamedikasi.
25. Apoteker berada di apotek, pelayanan resep obat keras dilayani oleh
tenaga teknis kefarmasian.
26. Apoteker yang sedang menderita flu berat datang ke Apotek, namun
mendelegasikan tugas kepada Tenaga Teknis Kefarmasian untuk
melayani resep obat keras
27. Apoteker sebagai Ketua PC IAI di suatu kab/kota, tidak mau
memberikan Rekoemndasi mengurus SIP, karena Apoteker tersebut
beradadi kab/kota yang berbeda
28. Apoteker sebagai Ketua PC IAI di suatu kab/kota, tidak mau
memberikan Rekomendasi kepada Apoteker lain untuk mengurus
SIP di suatu Apotek, karena Apoteker tersebut telah melakukan
kerja sama untuk menjadi APA dengan PSA di Apotek tersebut
29. Apoteker yang telah memiliki SIP sebagai Apoteker Pengelola
Apotek dan SIA utk satu Apotek di Kab X, mengajukan kembali
menjadi APA di Kab. tetangganya.
30. PSA suatu Apotek menulis surat kepada Dinkes KabKota dengan
tembusan kepada APA, untuk menutup Apoteknya, lalu menutup
Apotek tersebut
31. APA sekaligus PSA memperkerjakan Apoteker lain sebagai Tenaga
Teknis Kefarmasian
32. Apoteker yang bekerja di Rumah Sakit mengajukan diri sebagai
Apoteker Pengelola Apotek
33. Apoteker yang bekerja sebagai Dosen, mengajukan diri sebagai APA
di Apotek Swasta.
34. APA menghentikan kerjasama secara sepihak dengan PSA dalam
pengelolaan Apotek , dan tidak mau mencarikan APA pengganti
35. Apoteker menyerahkan obat anti diabetes tanpa resep dokter,
kepada pelanggannya yang sudah biasa dilayani dengan resep
dokter.
36. Apoteker tidak berada di Apotek yang berlokasi yang sama dengan
sebuah klinik, pelayanan resep dilakukan oleh tenaga paramedis
yang ada diklinik tersebut