Anda di halaman 1dari 22

Referat

OKSIURIASIS

Oleh :
Hidayat Bazeher, S.Ked

Pembimbing :
dr. Woro Indri Padmosiwi, Sp.A
1
dr. Samuel Nalley, Sp.A
Definisi

Enterobius vermicularis atau lebih


dikenal dengan Oxyuris vermicularis
atau cacing kremi, pinworm, seatworm
merupakan salah satu cacing usus
pada manusia yang paling sering
ditemukan dan dapat menyebabkan
oksiuriasis.

2
Epidemiolo
gi

Berdasarkan penelitian di Jakarta, dilaporkan terdapat 54,1% kasus pada anak usia
sekolah. Di Sumatra Barat didapatkan 33% kasus pada anak-anak Panti Asuhan. 3
Di NTT sendiri belum ada data pasti.
Morfologi
Enterobius vermicularis dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Phylum : Nematoda
Kelas : Plasmidia
Ordo : Rabtidia
Super famili : Oxyuroidea
Family : Oxyuridea
Genus : Enterobius
Species : Enterobius vermicularis

4
Enterobius vermicularis cacing
yang berukuran kecil berbentuk
seperti benang berwarna putih,
hidup di sekum, apendiks, dan di
daerah yang berbatasan dengan
ileum dan kolon asendens.
Cacing betina dewasa berukuran
8-13 mm x 0,3-0,5 mm dengan
ekor yang runcing. Cacing jantan
berukuran 2-5 mm x 0,1-0,2 mm,
ekornya melingkar sehingga
bentuknya seperti tanda tanya.
5
Ciri-ciri telur : berbentuk oval asimetris, dengan salah satu
sisinya datar ukuran, panjang 50 60 m dan lebar 20 32 m
dinding 2 lapis tipis dan transparan. Dinding luar merupakan
lapisan albumin yang bersifat mechanical protection,
sedangkan dinding dalam merupakan lapisan lemak yang
bersifat chemical protection telur selalu berisi larva. 6
Faktor
Risiko
Faktor kelembapan; Faktor kebersihan Faktor mekanik
pribadi Kebiasaan menggaruk daerah
Enterobiasis Vermicularis
anus sewaktu timbul gejala
banyak ditemukan pada Telur tersebut dapat gatal dapat menimbulkan
penderita yang di rumah tersangkut dibawah jari penyebaran telur infektif yang
dengan ruang yang tangan, dapat pula tetap akan mempengaruhi penularan.
lembab terutama dengan berada di perianal akibat Faktor lingkungan
ruang tidur yang jarang kurang bersih saat Perabot rumah, alat alat
terkena sinar matahari membersihkan anus mandi, pakaian mudah
langsung. setelah buang air besar. ditempeli telur infektif yang
Telur dapat tetap di badan juga tercampur dalam debu
rumah. Semua ini memudahkan
bila pakaian jarang diganti
penularan secara inhalasi.
dalam beberapa hari.

7
Patofisiologi
Terdapat 4 cara terjadinya infeksi, yaitu :
Langsung dari anus ke mulut, melalui tangan
yang terkontaminasi oleh telur cacing.
Penularan pada orang yang setempat tidur
dengan pasien.
Melalui udara, telur cacing yang berada di
udara terhirup oleh orang lain (misalnya pada
saat membersihkan tempat tidur).
Retroinfection, pada keadaan yang
memungkinkan telur cacing segera menetas
di kulit sekitar anus, dan larva yang keluar
masuk kembali ke dalam usus melalui anus.

8
9
Gejala Klinik
Enterobiasis relatif tidak berbahaya asimtomatik.
Pada infeksi yang simtomatik, pruritus lokal
disebabkan iritasi di sekitar anus, perineum, dan vagina
oleh cacing betina gravid yang bermigrasi ke daerah
anus dan vagina, anak menggaruk kulit di sekitar anus
infeksi bakteria sekunder.
Perasaan gatal sering terjadi pada malam hari sehingga
pasien terganggu tidurnya, anak menjadi lemah, dan
iritabel sehingga kelopak mata bawah tampak bayangan
kulit gelap. 10
Cacing juga sering ditemukan di apendiks tetapi
jarang menyebabkan apendisitis. Cacing betina gravid
mengembara dan dapat bersarang di vagina dan tuba
fallopii sehingga menyebabkan radang di saluran telur
dan vulvovaginitis pada anak perempuan prapubertas.
Gangguan tidur pada anak dan menyebabkan anak
menjadi lemah dan susah konsentrasi.
Berkurangnya nafsu makan, menyebabkan berat
badan anak menurun dan akan mempengaruhi status
gizi anak. 11
Diagnosis
Anamnesis Sesuai gejala klinik
Pemeriksaan
Diagnosis melihat anus si anak pada malam hari dan
menemukan cacing dewasa yang sedang keluar untuk bertelur.
Anal swab merupakan metode terbaik dalam mendiagnosis
enterobiasis. Telur cacing diambil dengan metode anal swab atau
cellophane swab yang ditempelkan di sekitar anus pada pagi
hari sebelum anak buang air besar.
Feses rutin mendeteksi telur berkisar 10%-15%
12
Cellophane tape ditempelkan di daerah sekitar anus, maka telur cacing akan
menempel pada perekatnya. Kemudian cellophane tape diratakan pada
bahan kaca dan dibubuhi sedikit toluol lalu diperiksa di bawah mikroskop,
untuk mencari telur cacing E. vermicularis

13
Pemeriksaan ulangan
dapat meningkatkan
deteksi telur, satu kali
pemeriksaan dapat
mendeteksi 50% infeksi,
tiga kali pemeriksaan
90%, dan lima kali
pemeriksaan 99%.
Hasil pemeriksaan anal
swab yang negatif 14

sebanyak enam kali


Penatalaksanaan
1. Albendazole
Albendazole dosis 400 mg per oral,
tunggal pada anak >2 tahun. Anak
yang berumur <2 tahun diberikan
100 mg.
albendazole tidak hanya membunuh
cacing dewasa yang hidup di usus
tetapi juga membunuh telur dan
larva. diserap dengan cepat oleh
usus, waktu paruh 8-9 jam, metabolit
terutama dikeluarkan lewat urin dan
hanya sedikit lewat feses. 15
2. Mebendazole
dosis tunggal 100 mg per
oral dosis cukup efektif,
namun albendazole
lebih. Mebendazole obat
cacing yang digunakan,
dimana umumnya efektif
terhadap askariasis
16
3. Pirantel
dosis 10 mg/kgBB, bekerja
dengan cara menghambat
depolarisasi neuromuskular,
menghambat kolinesterase, dan
menyebabkan paralisis spastik
pada cacing. Diulang setelah
interval waktu 2 minggu tidak
efektif terhadap stadium muda
cacing
17
Prognosis
Pengobatan secara periodik memberikan prognosis yang
baik. Tapi, Reinfeksi sering terjadi pada kasus enterobiasis
setelah mendapat pengobatan. Sering dilaporkan
terjadinya infeksi enterobiasis kembali setelah diberikan
pengobatan meskipun dengan dua dosis obat. Penting bagi
para klinisi untuk melakukan pemeriksaan diagnostik
ulangan setelah memberikan terapi. Oleh karena itu,
dianjurkan untuk memberikan terapi pada seluruh anggota
keluarga pada saat yang besamaan untuk mencegah
terjadinya reinfeksi.
18
Pencegahan
Penyuluhan mengenai kebersihan pribadi sangat
menunjang keberhasilan pengobatan.
Anak yang terinfeksi sebaiknya tidur memakai
celana panjang supaya alas kasur tidak
terkontaminasi dan tangan tidak dapat menggaruk
daerah perianal.
Makanan hendaknya dihindarkan dari debu dan
tangan yang mengandung parasit.
Pakaian dan alas kasur hendaknya dicuci bersih
setiap hari. 19

Meningkat sanitasi pribadi (perilaku hidup bersih


Kesimpulan
Enterobiasis merupakan penyebab tersering kecacingan
pada anak-anak di negara berkembang. Secara umum
prognosa dari infeksi kecacingan ini adalah baik, jikalau
anak tidak mendapatkan suatu komplikasi yang lain dan
diobati secara tepat. Penyakit infeksi cacing sering
diabaikan karena tidak selalu memberikan gejala klinis
pada awal infeksi, namun dampak jangka panjangnya
selalu merugikan. Untuk mencegah penularan dari
infeksi cacing ini sendiri, diperlukan peran serta seluruh
masyarakat untuk memutuskan rantai penularan cacing 20

yaitu melalui pola hidup yang bersih dan sehat.


Diagnosis pasti adalah dengan melihat anus si anak
pada malam hari dan menemukan cacing dewasa
yang sedang bertelur atau dengan menggunakan
metode anal swab. Hal yang paling penting dalam
pengobatan yakni harus dilakukan pada seluruh
anggota keluarga pada saat yang bersamaan untuk
mencegah terjadinya reinfeksi. Penting bagi para
klinisi untuk melakukan pemeriksaan diagnostik
ulangan setelah memberikan terapi untuk
mengkonfirmasi kejadian reinfeksi. Penyuluhan
21

mengenai kebersihan pribadi sangat berarti dalam


menunjang keberhasilan pengobatan
22