Anda di halaman 1dari 15

BEHAVIOUR

Tindakan fisik
Dibuat oleh seorang individu
Respon terhadap persepsi individu terhadap stimulus lingkungan dan/atau
keinginan internal
Konteks: masa lalu, personality, gender, budaya, gangguan mental
komorbid, keterbatasan fisik, kemampuan fisik
BPSD

neuroanatomi

neurokimia

variasi tipe dementia


BPSD (2)

Defisit Kognitif
Coping Mechanism
Stimulus Lingkungan
gangguan berpikir abstrak
Mengingat masa Lalu
ETIOLOGI BPSD

perubahan
Multifaktorial penyakit lain
otak

non
farmakologik
farmokologik
EFEK BPSD
time
consuming

kekerasan frustasi

masalah perilaku
dengan seksual
sekitar tidak tepat
Gejala BPSD
Wandering
Yaitu pola perjalanan dengan tujuan yang tidak jelas.
Pasien akan mondar-mandir menunjukkan pola berulang
dari perjalanan tanpa tujuan.Pertimbangkan dampak,
dengan siapa, keselamatan dan kesadaran akan
konsekuensi yang di terima dari wandering.

Combativeness
Dimana pasien sangat iritatif dan melawan apa yang di
katakan kepadanya
Gejala BPSD (2)

Repetition vocalization
Mengulang-ulang kata dan kalimat yang sama
akibat demensianya

Sexually inappropriate behavioral


Tindakan seksual yang salah kepada anggota
keluarga maupun caregiver akibat demensia
yang dideritanya
Gejala BPSD (3)

Gejala gejala tersebut umumnya sulit untuk


dikategorikan akibat etiologi dan dan faktor
yang mempengaruhinya yang tidak dapat
dikategorikan pada penyakit psikiatri manapun,
unik dan bersifat individual pada masing-
masing individu
Farmakologi vs Non Farmakologi

Menurut Drs. Cohen-Mansfield dan Jensen : Segala intervensi


baik farmakologis atau non farmakologis jarang
mengeliminasi gejala perilaku namun dapat menurunkan
gejala-gejala tersebut pada level yang dapat diterima.

Namun diperlukan survei yang baik mengenai intervensi


yang diharapkan lebih ke arah yang tidak melibatkankan
terlalu banyak intervensi farmakologis melainkan lebih ke
arah non farmakologis pada pasien dengan BPSD.
Farmakologi vs Non Farmakologi

Dari hasil survei yang di lakukan :


80% responden menggunakan obat psikotik
75 % menggunakan intervensi non farmakologis
dan 61% menggunakan keduanya

Namun hasil tersebut tidak sepenuhnya benar karena


responden dapat saja menggunakan obat psikotik
sebagai pengobatan darurat sambil menunggu
penilaian yang mendalam mengenai kondisi dan
etiologi yang jelas bagi gejala-gejala tersebut.
Farmakologi vs Non Farmakologi

Responden dalam survey sangat setuju bahwa intervensi


nonfarmakologis harus digunakan lebih sering (94%) dan
mereka setuju dengan guidelines yang merekomendasikan
bahwa intervensi non farmakologis harus digunakan sebagai
intervensi lini pertama (91%)

Namun pada kenyataannya penggunaan intervensi non


farmakologis lebih jarang akibat :
kurangnya pemahaman , dan
aplikasi yang tidak konsisten dari teknik antara shift .
Farmakologi vs Non Farmakologi

Teori bahwa BPSD disebabkan oleh kelainan neuro - kimia dan


neuro - anatomi membuat penggunaan intervensi farmakologis
lebih baik digunakan untuk komorbiditas penyakit mental pada
pasien demensia , misalnya , psikosis benar, penyakit depresi ,
gangguan bipolar , gangguan kecemasan , dan seterusnya

Diantaranya adalah :
monoterapi pada depresi dan gangguan kecemasan pada
membantu memperkuat mekanisme koping , meningkatkan
self- understanding dan kontrol diri sehingga berpotensi
melindungi terhadap kekambuhan
Farmakologi vs Non Farmakologi

Dan didukung oleh fakta di mana pengobatan BPSD


secara farmakologis dengan menggunakan
cholinesterase inhibitor, NMDA agonist dapat efektif,
yang bekerja dengan meningkatkan fungsi kognitif
yang buruk yang diharapkan dapat memperbaiki
gangguan perilaku yang dimiliki oleh pasien.
Saran penelitian

Diharapkan untuk penelitian yang selanjutnya


digunakan model penelitian yang dapat lebih
mendalami sifat multi- etiologi dan individualisasi dari
pengobatan .

Serta evaluasi efektivitas intervensi farmakoterapi dan


nonfarmakoterapi, dimana keduanya dikombinasi
sehingga tidak membanding-bandingkan mana terapi
yang lebih efektif dan lebih baik digunakan pada
pasien.
THANK YOU